Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFISIKA

“Keuntungan Mekanik dan Kaitannya dengan Kerja Otot Pada Struktur


Rangka Manusia Serta Tuas Pada Siku”

DISUSUN OLEH :
Kelompok 2 :
Laras Annisa (16312241006)
Gesti Lestari (16312241007)
Rachmanita Prihana R (16312241008)
Nur Fitriyani (16312241009)
Meiningrum (16312241010)

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019
A. Judul
Keuntungan Mekanik dan Kaitannya dengan Kerja Otot Pada Struktur Rangka
Manusia Serta Tuas Pada Siku
B. Tujuan
1. Mempelajari konsep dasar pesawat sederhana dan hubungannya dengan kerja
otot pada struktur rangka manusia
2. Menghitung nilai keuntungan mekanik tuas
3. Menghitung gaya yang dilakukan oleh otot bisep untuk menahan lengan
bawah dan beban yang disangga pada telapak tangan.
C. Dasar Teori
Pesawat Sederhana
Pesawat sederhana adalah alat yang dapat digunakan untuk
mempermudah suatu pekerjaan tanpa memperkecil usaha. Misalkan ketika
seorang ibu rumah tangga menimba air dari dalam sumur menggunakan bantuan
katrol, buruh angkut menggunakan bidang miring untuk menaikkan barang ke
atas truk, pelayan restoran membuka botol minuman dengan menggunakan
pembuka botol.
1. Pengungkit
Pengungkit atau disebut juga tuas merupakan pesawat sederhana yang paling
sederhana. Pengungkit ini terdiri dari sebuah batang kaku (misalnya logam, kayu,
atau batang bambu) yang berrotasi di sekitar titik tetap yang dinamakan titik
tumpu. Selain titik tumpu yang menjadi tumpuan bagi pengungkit, ada dua titik
lain pada pengungkit, yaitu titik beban dan titik kuasa. Titik beban merupakan
titik dimana kita meletakkan atau menempatkan beban yang hendak diangkat atau
dipindahkan, sedangkan titik kuasa merupakan titik dimana gaya kuasa diberikan
untuk mengangkan atau memindahkan beban. (Wardaya, 2003)
Gambar 1. Tuas
Sumber : terafisika.com

Jarak antara titik kuasa dengan titik tumpu disebut dengan lengan
kuasa (lk). Sedangkan jarak antara titik beban dengan titik tumpu disebut
dengan lelang beban (lb). Pada tuas berlaku prinsip momen gaya, momen
gaya akan dipelajari lebih detail pada bab dinamika rotasi sebagai berikut :

Menurut Ramlawati (2017) semakin jauh jarak kuasa dari titik tumpu,
maka semakin kecil gaya kuasa yang diperlukan untuk memindahkan atau
mengangkat sebuah beban. Demikian pula semakin dekat beban dari titik
tumpu, maka semakin kecil gaya kuasa yang diperlukan. Secara matematis,
hubungan gaya kuasa, gaya berat beban, lengan kuasa, dan lengan beban
dinyatakan oleh persamaan:

Dengan = Fb = gaya berat beban yang akan diangkat (N)


Fk = gaya kuasa yang diberikan (N)

Lk = panjang lengan kuasa/jarak antara titik kuasa dan titik


tumpu (m)

Lb = panjang lengan beban/jarak antara titik beban dan titik


tumpu (m)
1. Keuntungan mekanis

Besar keuntungan mekanis pada pengungkit merupakan perbandingan


antara berat beban (w) dan gaya kuasa (F) atau perbandingan antara lengan
kuasa (Lk) dan lengan beban (Lb). (Zubaidah, 2014)
Keterangan = KM = Keuntungan Mekanik
W = Beban
F = Kuasa
lk = Lengan Kuasa
lb = Lengan Beban

Selanjutnya berdasarkan letak titik beban, titik tumpu dan titik kuasa, tuas
dapat dibedakan menjadi tiga kelas, yaitu kelas pertama, kedua dan ketiga.

a) Tuas Jenis Pertama

Gambar 2. Tuas jenis pertama


Sumber : terafisika.com
Pada tuas jenis pertama, letak titik tumpu tuas jenis pertama berada di antara
titik beban dan titik kuasa. Makin dekat jarak titik tumpu ke beban, maka
keuntungan mekanis yang diperoleh akan makin besar. Contohnya : tang,
gunting kuku, gunting, dan jungkat jungkit. (Wardaya, 2003)

b) Tuas Jenis Kedua


Gambar 3. Tuas Jenis Kedua
Sumber : terafisika.com

Pada tuas jenis kedua, titik beban berada di antara titik tumpu dan titik kuasa.
Atau dapat dikatakan bahwa beban berada antara titik tumpu dan kuasa.
Keuntungan mekanis akan lebih besar diperoleh jika letak titik tumpu sangat
dekat dengan beban. Contohnya : pembuka tutup botol, alat pemotong kertas,
alat pemecah kemiri. (Wardaya, 2003)

c) Tuas Jenis Ketiga

Gambar 4. Tuas Jenis Ketiga


Sumber : terafisika.com
Pada tuas jenis ketiga, titik kuasa berada di antara titik tumpu dan titik beban. Tuas
jenis ketiga berfungsi untuk memperbesar perpindahan. Tuas jenis ketiga dijumpai
pada lengan tangan yang sedang digunakan untuk memegang benda. Contoh alat
yang menggunakan prinsip ini adalah stapler, sekop, dan pinset. (Wardaya, 2003)

2. Fungsi Tuas atau Pengungkit


Tuas berfungsi sebagai alat pembesar gaya sehingga keuntungan menggunakan tuas
adalah gaya yang dihasilkan lebih besar daripada gaya yang dikeluarkan. Besarnya
gaya yang dihasilkan bergantung pada panjang lengan gaya dan panjang lengan
beban. Makin besar perbandingannya, makin besar pula gaya ungkit yang dihasilkan
menggunakan tuas atau pengungkit. (Anonim)

3. Tuas dalam Tubuh Manusia

Gambar 5. Tuas Pada Tubuh Manusia


Sumber : prodiipa.com

a) Kepala antara tengkorak dan tulang leher


Gambar 6. Tuas Pada Kepala
Sumber : syarifudinrosyid.com
Merupakan pengungkit jenis pertama yang terdapat pada tengkorak
dan tulang leher. Karena, kalau dirasakan leher sebagi kuasa yang membuat
beban dalam hal ini tulang didaerah muka terangkat dan porosnya (titik
tumpu) ada ditengah hal itu juga yang menyebabkan leher sering pegal-pegal.
(Ramlawati, 2017)
b) Telapak Kaki

Gambar 7. Tuas kaki


Sumber : syarifudinrosyid.com

Pada saat berjinjit menyebabkan ujung telapak kaki manjadi titik


tumpu bagi anggota badan, kemudian pangkal telapak kaki menjadi sedikit
tegang karena disitulah kuasa yang diberikan, dan beban berada ditengah-
tengah telapak kaki. Telapak kaki pada saat berjinjit merupakan jenis
pengungkit kedua. (Ramlawati, 2017)
c) Lengan mengangkat beban
Gambar 8. Tuas lengan
Sumber : syarifudinrosyid.com

Jenis pengungkit ini paling banyak ditemui di anggota tubuh, yaitu


jenis pengungkit ketiga. Contohnya saat mengangkat suatu benda dengan
menggunakan tangan, maka tangan yang memegang beban menjadi titik
beban, lengan menjadi kuasa, dan siku menjadi titik tumpu. Titik tumpu
terletak pada salah satu ujung lengan pengungkit,titik beban berada di ujung
lain lengan pengungkit dan titik kuasa terletak di antara titik beban dan titik
tumpu. (Ramlawati, 2017)

Gambar 9. Lengan memegang buku


Sumber : Petunjuk Praktikum Biofisika
Torka yang dilakukan Fh (gaya tulang lengan atas) adalah nol karena gaya itu
bekerja pada titik sumbu, sehingga l ̝ = 0 untuk gaya ini. Nilai-nilai l̝ lainnya mudah
ditentukan karena lengan bawah adalah horisontal. Berat lengan bawah wa dan berat
buku wt menghasilkan torka searah putaran jarum jam, sedangkan gaya FB yang
dilakukan oleh bisep menghasilkan torka berlawanan arah dengan putaran jarum jam.
Berat lengan bawah dan buku menghasilkan torka searah putaran jarum jam, dan gaya
bisep menghasilkan torka berlawanan arah putaran jarum jam, tetapi gaya tulang
lengan atas atau tidak menghasilkan torka karena bekerja secara langsung pada titik
sumbu. (Tim Penyusun Praktikum Biofisika, 2019)
Berikut rumus dari perhitungan gaya yang dilakukan oleh otot bisep :

(Wt . L) + (Wa . 3/8 L) – (Fb . 0,04) = 0


(Wt . L) + (Wa . 3/8 L)
= Fb
0,04
Keterangan = Wt = Berat buku (benda)
Wa = Berat lengan
L = Panjang lengan
Fb = Gaya yang dilakukan otot bisep

Massa didefinisikan sebagai 'jumlah materi yang menyusun tubuh'. Di


setiap objek, ada titik unik yang disebut 'pusat massa (CM)' di mana massa objek
terdistribusi secara merata di semua arah. Dengan kata lain, massa seimbang di CM di
semua arah. CM suatu objek adalah titik yang secara efektif mewakili seluruh objek.
Namun karena bentuk objek tidak berubah dan tidak ada pergeseran massa pada
objek, lokasi relatif CM tidak berubah. Dengan menggantung objek dalam orientasi
yang berbeda, seseorang dapat dengan mudah menemukan lokasi CM. Tetapi tubuh
manusia adalah sistem ruas-ruas yang dihubungkan satu sama lain pada persendian.
Dengan kata lain, distribusi massa berubah secara terus-menerus ketika postur tubuh
berubah. Akibatnya, lokasi CM relatif berubah terus-menerus (Young-Hoo Kwon,
Ph.D.,).
Gambar: Metode segmental melibatkan perhitungan CM segmental
Sumber: Hamil & Knutzen, 1995, Biomechanical basis of human movement,
Baltimore, MD: Williams & Wilkins.
Tabel berikut ini dikutip dari de Leva, 1996. Mereka menggambarkan massa segmen
tubuh sebagai proporsi dari total massa tubuh dan lokasi dari pusat massa masing-
masing segmen sebagai proporsi panjang segmen.

Segment Length Percents (from proximal endpoint):

Segment Males Females Endpoints

Head & Neck 50.02 48.41 Top of Head - C7

Trunk 43.10 37.82 MidS - MidH

Upper Arm 57.72 57.54 SJC - EJC

Forearm 45.74 45.59 EJC - WJC

Hand 79.00 74.74 WJC - MCPIII


Thigh 40.95 36.12 HJC - KJC

Shank 43.95 43.52 KJC - AJC

Foot 44.15 40.14 Heel - Toe

Sumber: de Leva, 1996


Jadi dapat diketahui bahwa forearm (lengan bawah) memiliki pusat massa 45,59%
(0,4) dari panjang segmen. Maka, dalam percobaan pusat massa diketahui dari 3/8
(0,4) dari panjang segmen
Massa segmen diukur menggunakan alat yang dinamakan Anthropometri. Foream
length (panjang lengan bawah) diukur dengan subjek dalam keadaan relaksasi, blade
di letakkan di ujung distal radius dan ujung proximal/ kepala radius.

D. Metodologi Praktikum
a. Hari/Tanggal : Rabu, 20 Februari 2019
b. Tempat : Laboratorium IPA-2 FMIPA UNY
c. Alat dan bahan percobaan 1 :
1. Beban (50 gram, 100gram, 150 gram)
2. Pengaris
3. Statif
4. Neraca pegas
5. Batang statif
6. Balok pendukung
7. Benang kenur
d. Alat dan bahan percobaan 2 :
1. Beban (1000gr dan 2000gr)
2. Meteran
Langkah kerja 1

Mengambil kit mekanika yang sudah di sediakan

Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

Merangkai alat menjadi seperti timbangan

Mengambil beban 50gr lalu menimbangnya dengan


neraca pegas

Meletakkan as pada lubang sejauh Ls dari lubang pinggir


terdekat dan menggantung beban di bagian tuas yang
paling panjang

Mengkaitkan pengait neraca pegas pada lubag ujung


bagian tuas yang panjang sebagai jarak antara neraca
sampai as

Menarik neraca pegas ke bawah sehingga sistem


setimbang dan membaca harga gaya kuasa Fk dari
neraca pegas

Mengkur gaya Lb dan Lk

Mencatat hasil pengukuran dan mengulangu percobaan


untuk berbagai harga Lb dan Wb
Langkah Kerja 2

Menyiapkan alat dan bahan

Mengukur panjang lengan naracoba

Meletakkan beban pada tangan dengan variasi 1000gr dan


2000gr

Mencatat hasil pengukuran

Mengulangi percobaan hingga naracoba kelima

E. Tabulasi data
1. Keuntungan mekanik
a. Beban: 50 gram= 0,05 Kg
No. Lk (m) Lb (m) Wb (Kg. m/s2) Fk (Kg. m/s2 )
1. 0,25 0,25 0,5 N 0,5 N
2. 0,25 0,20 0,5 N 0,4 N
3. 0,25 0,15 0,5 N 0,3 N
4. 0,25 0,10 0,5 N 0,2 N
5. 0,25 0,05 0,5 N 0,1 N
b. Beban
No. Lk (m) Lb (m) Wb (Kg. m/s2) Fk (Kg. m/s2 )
1. 0,25 0,25 1N 1N
2. 0,25 0,20 1N 0,8 N
3. 0,25 0,15 1N 0,6 N
4. 0,25 0,10 1N 0,4 N
5. 0,25 0,05 1N 0,2 N
c. Beban
No. Lk (m) Lb (m) Wb (Kg. m/s2) Fk (Kg. m/s2 )
1. 0,25 0,25 1,5 N 1,5 N
2. 0,25 0,20 1,5 N 1,2 N
3. 0,25 0,15 1,5 N 0,9 N
4. 0,25 0,10 1,5 N 0,6 N
5. 0,25 0,05 1,5 N 0,3 N

2. Tuas Pada Siku


Naracoba Jenis Mt (Kg) Wt (N) Wa (N) L (m) 3/8L (m)
Benda
A Besi 1 10 25 0,32 0,12
A Besi 2 20 25 0,32 0,12
B Besi 1 10 25 0,33 0,12375
B Besi 2 20 25 0,33 0,12375
C Besi 1 10 25 0,32 0,12
C Besi 2 20 25 0,32 0,12
D Besi 1 10 25 0,33 0,12375
D Besi 2 20 25 0,33 0,12375
E Besi 1 10 25 0,30 0,1125
E Besi 2 20 25 0,30 0,1125

F. Analisis Data
a. Keuntungan Mekanik 1
𝐿𝑘
KM1 = 𝐿𝑏
Keuntungan Mekanik 2
𝑊𝑏
KM2 = 𝐹𝑘
1. Beban 50 gram = 0,05 kg
No. Lk (m) Lb (m) Wb Fk (kg.m/s2) KM1 KM2
(kg.m/s2)
1. 0,25 0,25 0,5 N 0,5 N 1 1
2. 0,25 0,20 0,5 N 0,4 N 1,25 1,25
3. 0,25 0,15 0,5 N 0,3 N 1,67 1,67
4. 0,25 0,10 0,5 N 0,2 N 2,5 2,5
5. 0,25 0,05 0,5 N 0,1 N 5 5
2. Beban 100 gram = 0,1 kg
No. Lk (m) Lb (m) Wb Fk (kg.m/s2) KM1 KM2
(kg.m/s2)
1. 0,25 0,25 1N 1,0 N 1 1
2. 0,25 0,20 1N 0,8 N 1,25 1,25
3. 0,25 0,15 1N 0,6 N 1,67 1,67
4. 0,25 0,10 1N 0,4 N 2,5 2,5
5. 0,25 0,05 1N 0,2 N 5 5

3. Beban 150 gram = 0,15 kg


No. Lk (m) Lb (m) Wb Fk (kg.m/s2) KM1 KM2
(kg.m/s2)
1. 0,25 0,25 1,5 N 1,5 N 1 1
2. 0,25 0,20 1,5 N 1,2 N 1,25 1,25
3. 0,25 0,15 1,5 N 0,9 N 1,67 1,67
4. 0,25 0,10 1,5 N 0,6 N 2,5 2,5
5. 0,25 0,05 1,5 N 0,3 N 5 5

b. Tuas pada Siku


Berikut adalah analisis data besarnya Fb atau gaya otot bisep saat naracoba
mengangkat beban menggunakan tangan dalam keadaan seimbang.
Pada saat terjadi keseimbangan maka
∑𝐹 = 0
∑𝜏 = 0
Maka,
3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿) − (𝐹𝑏 . 0,04) = 0
8
3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿)
8
= 𝐹𝑏
0,04
1. Naracoba A
a. Percobaan 1
Diketahui:
Massa beban (mt) = 1kg
Berat beban (wt) = 10N
Berat lengan (wa) = 25N
Panjang lengan (L) = 0,32m
Panjang antara pusat massa lengan dan siku (3/8L) = 0,12m

Ditanya:
Fb?

Jawaban:
3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿)
8
= 𝐹𝑏
0,04
(10𝑁. 0,32𝑚) + (25𝑁. 0,12𝑚)
= 𝐹𝑏
0,04
𝐹𝑏 = 155𝑁

b. Percobaan 2
Diketahui:
Massa beban (mt) = 2 kg
Berat beban (wt) = 20N
Berat lengan (wa) = 25N
Panjang lengan (L) = 0,32m
Panjang antara pusat massa lengan dan siku (3/8L) = 0,12m

Ditanya:
Fb?

Jawaban:
3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿)
8
= 𝐹𝑏
0,04
(20𝑁. 0,32𝑚) + (25𝑁. 0,12𝑚)
= 𝐹𝑏
0,04
𝐹𝑏 = 235𝑁
2. Naracoba B
a. Percobaan 1
Diketahui:
Massa beban (mt) = 1kg
Berat beban (wt) = 10N
Berat lengan (wa) = 25N
Panjang lengan (L) = 0,33m
Panjang antara pusat massa lengan dan siku (3/8L) = 0,12375m

Ditanya:
Fb?

Jawaban:
3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿)
8
= 𝐹𝑏
0,04
(10𝑁. 0,33𝑚) + (25𝑁. 0,12375𝑚)
= 𝐹𝑏
0,04
𝐹𝑏 = 159,8438𝑁

Percobaan 2
Diketahui:
Massa beban (mt) = 2 kg
Berat beban (wt) = 20N
Berat lengan (wa) = 25N
Panjang lengan (L) = 0,33m
Panjang antara pusat massa lengan dan siku (3/8L) = 0,12375m

Ditanya:
Fb?

Jawaban:
3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿)
8
= 𝐹𝑏
0,04
(20𝑁. 0,33𝑚) + (25𝑁. 0,12375𝑚)
= 𝐹𝑏
0,04
𝐹𝑏 = 242,3438𝑁
3. Naracoba C
a. Percobaan 1
Diketahui:
Massa beban (mt) = 1kg
Berat beban (wt) = 10N
Berat lengan (wa) = 25N
Panjang lengan (L) = 0,32m
Panjang antara pusat massa lengan dan siku (3/8L) = 0,12m

Ditanya:
Fb?

Jawaban:
3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿)
8
= 𝐹𝑏
0,04
(10𝑁. 0,32𝑚) + (25𝑁. 0,12𝑚)
= 𝐹𝑏
0,04
𝐹𝑏 = 155𝑁

b. Percobaan 2
Diketahui:
Massa beban (mt) = 2 kg
Berat beban (wt) = 20N
Berat lengan (wa) = 25N
Panjang lengan (L) = 0,32m
Panjang antara pusat massa lengan dan siku (3/8L) = 0,12m

Ditanya:
Fb?

Jawaban:
3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿)
8
= 𝐹𝑏
0,04
(20𝑁. 0,32𝑚) + (25𝑁. 0,12𝑚)
= 𝐹𝑏
0,04
𝐹𝑏 = 235𝑁

4. Naracoba D
a. Percobaan 1
Diketahui:
Massa beban (mt) = 1kg
Berat beban (wt) = 10N
Berat lengan (wa) = 25N
Panjang lengan (L) = 0,33m
Panjang antara pusat massa lengan dan siku (3/8L) = 0,12375m

Ditanya:
Fb?

Jawaban:
3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿)
8
= 𝐹𝑏
0,04
(10𝑁. 0,33𝑚) + (25𝑁. 0,12375𝑚)
= 𝐹𝑏
0,04
𝐹𝑏 = 159,8438𝑁

b. Percobaan 2
Diketahui:
Massa beban (mt) = 2 kg
Berat beban (wt) = 20N
Berat lengan (wa) = 25N
Panjang lengan (L) = 0,33m
Panjang antara pusat massa lengan dan siku (3/8L) = 0,12375m

Ditanya:
Fb?

Jawaban:
3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿)
8
= 𝐹𝑏
0,04
(20𝑁. 0,33𝑚) + (25𝑁. 0,12375𝑚)
= 𝐹𝑏
0,04
𝐹𝑏 = 242,3438𝑁

5. Naracoba E
a. Percobaan 1
Diketahui:
Massa beban (mt) = 1kg
Berat beban (wt) = 10N
Berat lengan (wa) = 25N
Panjang lengan (L) = 0,30m
Panjang antara pusat massa lengan dan siku (3/8L) = 0,1125m

Ditanya:
Fb?

Jawaban:
3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿)
8
= 𝐹𝑏
0,04
(10𝑁. 0,30𝑚) + (25𝑁. 0,1125𝑚)
= 𝐹𝑏
0,04
𝐹𝑏 = 145,3125𝑁

b. Percobaan 2
Diketahui:
Massa beban (mt) = 2 kg
Berat beban (wt) = 20N
Berat lengan (wa) = 25N
Panjang lengan (L) = 0,30m
Panjang antara pusat massa lengan dan siku (3/8L) = 0,1125m

Ditanya:
Fb?

Jawaban:
3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿)
8
= 𝐹𝑏
0,04
(20𝑁. 0,30𝑚) + (25𝑁. 0,1125𝑚)
= 𝐹𝑏
0,04
𝐹𝑏 = 220,3125𝑁

Naracoba wt wa L 3/8L (m) Fb (N)


(N) (N) (m)
A 10 25 0,32 0,12 155
A 20 25 0,32 0,12 235
B 10 25 0,33 0,12375 159,8438
B 20 25 0,33 0,12375 242,3438
C 10 25 0,32 0,12 155
C 20 25 0,32 0,12 235
D 10 25 0,33 0,12375 159,8438
D 20 25 0,33 0,12375 242,3438
E 10 25 0,3 0,1125 145,3125
E 20 25 0,3 0,1125 220,3125
G. Pembahasan
a. Keuntungan Mekanik

Percobaan yang berjudul “Keuntungan Mekanik dan Kaitannya Kerja Otot pada
Struktur Rangka Manusia serta Tuas pada Siku” memiliki tiga tujuan, yaitu
mempelajari konsep dasar pesawat sederhana dan hubungannya dengan kerja otot
pada struktur rangka manusia, menghitung nilai keuntungan mekanik pada tuas, dan
menghitung gaya yang dilakukan oleh otot bisep untuk menahan lengan bawah dan
beban yang disangga pada telapak tangan. Percobaan ini dilakukan pada hari Rabu,
tanggal 20 Februari 2019. Praktikan melakukan percobaan ini di Laboratorium IPA
FMIPA UNY.
Percobaan ini menggunakan beberapa alat dan bahan yang meliputi beban (50
gram, 100 gram, dan 150 gram), penggaris papan berlubang, statif, pegas, batang
pengait, balok pendukung serta benang kenur. Percobaan ini menggunakan prinsip
pesawat sederhana jenis tuas. Tuas memiliki tiga jenis menurut titik tumpunya,
sedangkan pada percobaan ini menggunakan prinsip tuas jenis pertama. Karena letak
titik tumpu (T) yang berada diantara titik beban (B) dan titik kuasa (K).
Langkah percobaan yang dilakukan praktikan yaitu yang pertama menyiapkan
alat dan bahan. Setelah alat dan bahan siap, praktikan menyusun alat dan bahan
seperti pada gambar berikut ini:
Titik tumpu

Lengan beban (Lb) Lengan kuasa (Lk)

Titik beban
Titik kuasa

Beban

Gambar 1: Rangkaian alat pesawat sederhana (tuas jenis pertama)


Sumber: Dokumentasi Pribadi
Setelah praktikan selesai merangkai alat seperti pada gambar di atas, selanjutnya
praktikan memulai mengukur beban dengan neraca. Pada praktikum ini, praktikan
menggunakan variasi beban dan lengan kuasa, yaitu dengan menggunakan 3 beban
diantaranya 50 gram, 100 gram dan 150 gram sehingga menghasilkan tiga gaya berat
benda yang berbeda. Serta lima variasi lengan beban diantaranya 25 cm, 20 cm, 15
cm, 10 cm dan 5 cm. Sehingga menghasilkan lima variasi gaya beban yang berbeda.
Cara melakukan pengukuran gaya kuasa terhadap beban yaitu dengan
menyeimbangkan penggaris papan berlubang (berada pada garis lurus). Setelah
seimbang, maka praktikan dapat membaca skala yang terdapat pada neraca pegas dan
mencatat hasilnya. Dan melakukan pengulangan dengan memvariasi lengan beban
(lb). Kemudian mengukur dengan cara yang sama untuk beban yang lain dan
mencatat hasil pengukurannya.
Setiap variasi lengan beban, terdapat lima variasi gaya beban hasil pengukuran.
Akan tetapi lengan kuasa untuk semua perlakuan adalah sama, yaitu sepanjang 25 cm
( 0,25 m) terhadap titik tumpu. Sehingga variabel-variabel pada percobaan ini
meliputi, varibel kontrol adalah panjang lengan kuasa (Lk), variabel bebas adalah
panjang lengan beban (Lb) dan beban, dan variabel terikat adalah keuntungan
mekanik (KM).
Percobaan ini menggunakan prinsip dari pesawat sederhana jenis
tuas/pengungkit. Pengungkit atau tuas adalah sebuah batang yang menghasilkan gaya
karena berputar di atas poros atau tumpuan (Setford, 1997: 81). Karena Menurut
Hendro Darmodjo dan Jenny R.E Kaligis (1992: 53) ada tiga titik penting yang perlu
diketahui dalam menggunakan pengungkit, yaitu titik kuasa (K), titik tumpu (T), dan
titik beban (B).
Berdasarkan hasil percobaan pada beban 50 gram (0,05 kg) dan lengan kuasa 25
cm (0,25 m) yaitu, dengan lengan beban (Lb) 0,25 m dihasilkan gaya kuasa (Fk)
sebesar 0,5 N; dengan lengan beban (Lb) 0,20 m dihasilkan gaya kuasa (Fk) sebesar
0,4 N; dengan lengan beban (Lb) 0,15 m dihasilkan gaya kuasa (Fk) sebesar 0,3 N;
dengan lengan beban (Lb) 0,10 m dihasilkan gaya kuasa (Fk) sebesar 0,2 N; dan
dengan lengan beban (Lb) 0,05 m dihasilkan gaya kuasa (Fk) sebesar 0,1 N.
Berdasarkan hasil percobaan pada beban 100 gram (0,1 kg) dan lengan kuasa 25
cm (0,25 m) yaitu, dengan lengan beban (Lb) 0,25 m dihasilkan gaya kuasa (Fk)
sebesar 1,0 N; dengan lengan beban (Lb) 0,20 m dihasilkan gaya kuasa (Fk) sebesar
0,8 N; dengan lengan beban (Lb) 0,15 m dihasilkan gaya kuasa (Fk) sebesar 0,6 N;
dengan lengan beban (Lb) 0,10 m dihasilkan gaya kuasa (Fk) sebesar 0,4 N; dan
dengan lengan beban (Lb) 0,05 m dihasilkan gaya kuasa (Fk) sebesar 0,2 N.
Berdasarkan hasil percobaan pada beban 150 gram (0,15 kg) dan lengan kuasa 25
cm (0,25 m) yaitu, dengan lengan beban (Lb) 0,25 m dihasilkan gaya kuasa (Fk)
sebesar 1,5 N; dengan lengan beban (Lb) 0,20 m dihasilkan gaya kuasa (Fk) sebesar
1,2 N; dengan lengan beban (Lb) 0,15 m dihasilkan gaya kuasa (Fk) sebesar 0,9 N;
dengan lengan beban (Lb) 0,10 m dihasilkan gaya kuasa (Fk) sebesar 0,6 N; dan
dengan lengan beban (Lb) 0,05 m dihasilkan gaya kuasa (Fk) sebesar 0,3 N.
Beban adalah titik dimana beban diletakkan. Beban pada percobaan ini adalah
anak timbangan. Melalui beban ini praktikan dapat menghitung keuntungan mekanik
(KM1) dengan mencari gaya pada beban (Wb). Gaya adalah suatu pengaruh pada
sebuah benda yang menyebabkan benda mengubah kecepatannya, artinya dipercepat.
Arah gaya adalah percepatan yang disebabkan jika gaya itu adalah satu-satunya gaya
yang bekerja pada benda tersebut, benda tersebut yang dimaksudkan adalah anak
timbangan. Besaran gaya adalah hasil kali massa benda dan besaran percepatan yang
dihasilkan gaya.
Sedangkan massa adalah sifat instrinsik sebuah benda yang mengukur
resistansinya terhadap percepatan. Dengan: F = m.a
Hukum kedua Newton menetapkan hubungan antara besaran dinamika gaya dan
massa dan kinematika percepatan, kecepatan dan perpindahan. Namun pada
percobaan ini, massa atau beban anak timbangan dipengaruhi oleh percepatan
gravitasi (g). Gravitasi adalah gaya tarik menarik yang terjadi antara semua partikel
yang mempunyai massa di alam semesta dan semua partikel akan mengarah kemassa
gravitasi yang lebih besar.
Sehingga persamaannya menjadi: (F = Wb = m.g) dengan Wb merupakan gaya
pada beban (N), m merupakan massa beban (kg), dan g merupakan percepatan
gravitasi (m/s2). Percepatan gravitasi ini bernilai 10 m/s2. Maka Wb yang dihasilkan
untuk anak timbangan 50 gram ≈ 0,05 kg sebesar 0,5 N, Wb yang dihasilkan untuk
anak timbangan 100 gram ≈ 0,1 kg sebesar 1,0 N, dan Wb yang dihasilkan untuk anak
timbangan 150 gram ≈ 0,15 kg sebesar 1,5 N.
Hasil perhitungan gaya yang diberikan atau gaya kuasa (Fk) dan gaya pada beban
(Wb) terhadap lengan kuasa (Lk) dan lengan beban (Lb) menunjukkan hubungan
bahwa semakin panjang lengan beban maka gaya yang diberikan atau gaya kuasanya
semakin besar, begitupun sebaliknya. Jika semakin pendek lengan beban, maka gaya
yang diberikan atau gaya kuasanya semakin kecil.
Hubungan antara besaran-besaran tersebut menunjukkan bahwa perkalian gaya
kuasa dan lengan kuasa (Fk.Lk) sama dengan gaya beban dikalikan dengan lengan
beban (Wb.Lb). Artinya besar usaha yang dilakukan kuasa sama dengan besarnya
usaha yang dilakukan beban. Oleh sebab itu, pada tuas berlaku persamaan sebagai
berikut: Fk.Lk = Wb.Lb
dengan:
Fk = gaya kuasa (N) Wb = gaya beban (N)
Lk = lengan kuasa (m) Lb = lengan beban (m)
Sehingga konsep pesawat sederhana yaitu untuk mempermudah pekerjaan
manusia. Menurut Hackett et. al. (2008: 628), pesawat sederhana berfungsi
mengubah besar gaya, arah gaya, atau jarak yang ditempuh oleh gaya saat dikerjakan.
Pada tubuh manusia berlaku prinsip-prinsip kerja pesawat sederhana. Prinsip-
prinsip tersebut kemudian ditiru dan dimodifikasi untuk mendesain berbagai macam
peralatan yang memudahkan kerja manusia. Ketika kerja dipermudah, artinya energi
yang dikeluarkan lebih sedikit. Berikut merupakan prinsip pesawat sederhana jenis
tuas pertama pada tubuh manusia:
1. Sistem tuas yang pertama menempatkan pengumpil (o) berada diantara gaya
berat (Wb) dengan gaya yang ditimbulkan oleh respon konraksi otot. Salah satu
contoh aplikasi sistem tuas pertama adalah kemampuan menegakan kepala dan
leher. Berat kepala (Wb) direspon oleh gaya dari sekumpulan otot penyangga
kepala dan leher.

Gambar 8. Penerapan tuas pada kepala manusia


Sumber: fk.unair.ac.id

2. Ketika tangan ditekuk (bisep berkontraksi dan trisep berelaksasi) dan membawa
beban di telapak tangan. Letak titik beban berada d ujung, titik tumpu di tengah
dan titik kuasa di ujung satunya. Pada peraga ini, telapak tangan berfungsi
sebagai titik beban, siku berfungsi sebagai titik tumpu dan pangkal lengan atau
otot bisep dan trisep berfungsi sebangai titik kuasa.
Pada percobaan ini, praktikan juga menghitung keuntungan makanis. Menurut
Hackett et. al. (2008: 629), Jumlah penggandaan gaya yang mampu dilakukan oleh
pesawat sederhana disebut dengan keuntungan mekanis. Besar keuntungan mekanis
dapat dihitung dengan membagi output force dengan kuasa. Hal ini berarti pesawat
sederhana tersebut mampu melipatgandakan gaya yang diberikan.
Apabila Lb dan Lk sudah diketahui, maka keuntungan mekanik sebagai KM1
dapat dihitung. Begitu pun melalui Wb dan Fk, maka keuntungan mekanik atau KM2
dapat pula dihitung. Keuntungan mekanik pada pengungkit bergantung pada masing-
masing lengan, yaitu sebagai berikut:
1. Ditentukan berdasarkan rasio nilai beban yang dipindahkan dengan nilai gaya
yang dikerjakan.
𝑔𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛
𝑔𝑎𝑦𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎𝑘𝑎𝑛
Berdasarkan uraian di atas, gaya pada beban dinotasikan sebagai Wb dengan
satuan N atau Newton; sedangkan gaya dikerjakan atau gaya kuasa dinotasikan
sebagai Fk dengan satuan N atau Newton.
2. Atau dapat pula ditentukan dengan mengukur jarak gaya bekerja pada
pengungkit dibandingkan dengan jarak beban dipindahkan.
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑔𝑎𝑦𝑎 𝑏𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑝𝑖𝑛𝑑𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛
Berdasarkan uraian di atas, jarak gaya yang bekerja atau jarak lengan kuasa
dinotasikan sebagai Lk dengan satuan meter (m); sedangkan jarak beban
dipindahkan atau lengan beban sebagai Lb dengan satuan meter (m).

Hasil perhitungan pada beban 50 gram dengan Lk sepanjang 25 cm, Lb


sepanjang 25 cm, Wb sebesar 0,5 N dan Fk sebesar 0,5 N didapatkan KM1 = 1
dan KM2 = 1; dengan Lk sepanjang 25 cm, Lb sepanjang 20 cm, Wb sebesar 0,5
N dan Fk sebesar 0,4 N didapatkan KM1 = 1,25 dan KM2 = 1,25; dengan Lk
sepanjang 25 cm, Lb sepanjang 15 cm, Wb sebesar 0,5 N dan Fk sebesar 0,3 N
didapatkan KM1 = 1,67 dan KM2 = 1,67; dengan Lk sepanjang 25 cm, Lb
sepanjang 10 cm, Wb sebesar 0,5 N dan Fk sebesar 0,2 N didapatkan KM1 = 2,5
dan KM2 = 2,5, dan dengan Lk sepanjang 25 cm, Lb sepanjang 5 cm, Wb sebesar
0,5 N dan Fk sebesar 0,1 N didapatkan KM1 = 5 dan KM2 = 5.
Hasil perhitungan pada beban 100 gram dengan Lk sepanjang 25 cm, Lb
sepanjang 25 cm, Wb sebesar 1 N dan Fk sebesar 1 N didapatkan KM1 = 1 dan
KM2 = 1; dengan Lk sepanjang 25 cm, Lb sepanjang 20 cm, Wb sebesar 1 N dan
Fk sebesar 0,8 N didapatkan KM1 = 1,25 dan KM2 = 1,25; dengan Lk sepanjang
25 cm, Lb sepanjang 15 cm, Wb sebesar 1 N dan Fk sebesar 0,6 N didapatkan
KM1 = 1,67 dan KM2 = 1,67; dengan Lk sepanjang 25 cm, Lb sepanjang 10 cm,
Wb sebesar 1 N dan Fk sebesar 0,4 N didapatkan KM1 = 2,5 dan KM2 = 2,5, dan
dengan Lk sepanjang 25 cm, Lb sepanjang 5 cm, Wb sebesar 1 N dan Fk sebesar
0,2 N didapatkan KM1 = 5 dan KM2 = 5.
Hasil perhitungan pada beban 150 gram dengan Lk sepanjang 25 cm, Lb
sepanjang 25 cm, Wb sebesar 1,5 N dan Fk sebesar 1,5 N didapatkan KM1 = 1
dan KM2 = 1; dengan Lk sepanjang 25 cm, Lb sepanjang 20 cm, Wb sebesar 1,5
N dan Fk sebesar 1,2 N didapatkan KM1 = 1,25 dan KM2 = 1,25; dengan Lk
sepanjang 25 cm, Lb sepanjang 15 cm, Wb sebesar 1,5 N dan Fk sebesar 0,9 N
didapatkan KM1 = 1,67 dan KM2 = 1,67; dengan Lk sepanjang 25 cm, Lb
sepanjang 10 cm, Wb sebesar 1,5 N dan Fk sebesar 0,6 N didapatkan KM1 = 2,5
dan KM2 = 2,5, dan dengan Lk sepanjang 25 cm, Lb sepanjang 5 cm, Wb sebesar
1,5 N dan Fk sebesar 0,3 N didapatkan KM1 = 5 dan KM2 = 5.
Dalam percobaan yang praktikan lakukan terdapat persamaan antara
KM1 dan KM2, hal ini sudah sesuai dengan literature atau teori bahwa
𝐿𝑘 𝑊𝑏
KM = = . Berdasarkan hasil perhitungan maka KM1 dan KM2
𝐿𝑏 𝐹𝑘

menunjukkan nilai yang lebih besar apabila nilai Lb semakin kecil dan
Fk semakin kecil. Hal ini dikarenakan adanya penggandaan gaya pada
tuas yang digunakan.
b. Tuas pada siku

Tujuan dari percobaan tuas pada siku adalah menghitung gaya


yang dilakukan oleh otot bisep untuk menahan lengan bawah dan beban
yang disangga pada telapak tangan. Alat yang digunakan dalam percobaan
ini antaralain beban 1kg dan 2kg dan meteran. Langkah kerja yang
dilakukan praktikan adalah pertama praktikan mengukur panjang lengan
(L) naracoba yang memegang beban 1kg dari siku sampai titik pusat
massa pada beban dengan menggunakan mistar. Kemudian, menghitung
pusat massa lengan yaitu 3/8L. Selanjutnya, praktikan menghitung berat
beban (dengan persamaan W=m.g), berat lengan yang diketahui massanya
2,5kg dan gaya yang dihasilkan oleh otot bisep yang berjarak 4cm dari
otot trisep. Berat lengan tersebut sudah saat terjadi keseimbangan pada
lengan yang membawa beban maka berlaku ∑𝐹 = 0 dan ∑𝜏 = 0

Hubungan prinsip sistem gerak tubuh dengan prinsip kerja tuas


dapat dijabarkan seperti saat manusia melakukan aktivitas mengangkat
beban dengan otot tulang bisep berkontraksi dan sendi bekerja, sehingga
posisi siku menekuk. Prinsip kerja ketiganya seperti pada tuas, yaitu sendi
pada siku sebagai titik tumpu, tulang pada lengan sebagai lengan beban,
dan otot bisep yang berkontraksi dan otot trisep relaksasi memberikan
gaya agar beban tetap terangkat. Ketika lengan ditekuk (bisep kontraksi,
trisep relaksasi) dan telapak tangan membawa beban maka akan seperti
prinsip kerja tuas jenis ke 3.
Gambar: tuas pada siku dan gaya yang bekerja

Sumber: (Tim penyusun praktikum biofisika, 2019)

Menurut literatur, empat gaya luar yang bekerja pada lengan


adalah berat lengan wa, berat beban wt, gaya yang dilakukan otot bisep FB,
dan gaya yang dilakukan oleh tulang lengan atas FH pada titik siku.
Penyederhanaan dapat dilakukan dengan mengambil titik sumbu pada
persendian siku. Penyederhanaan dilakukan dengan mengambil titik
sumbu pada persendian siku. Torka yang dilakukan gaya FH adalah nol
karena gaya itu bekerja pada titik sumbu, sehingga 𝜏 = 0 untuk gaya ini.
Gaya lainnya dapat ditentukan karena lengan bawah adalah horisontal.
Berat lengan dan berat beban menghasilkan torka searah dengan jarum
jam, sedangkan gaya FB yang dilakukan oleh otot bisep menghasilkan
torka yang berlawanan dengan arah jarum jam (Tim penyusun praktikum
biofisika, 2019).

Pada saat tangan mengangkat beban dapat dikatakan dalam


keadaan seimbang yaitu syaratnya ∑𝐹 = 0 dan ∑𝜏 = 0, jumlah
komponen torsi yang bekerja pada benda sepanjang tiga arah yang saling
tegak lurus adalah sama dengan nol (Halliday & Resnick, 2010:417).
Momen gaya adalah perkalian dari gaya dikali dengan jarak. Momen gaya
merupakan besaran yang menyebabkan benda berotasi (Rotasional).
Momen gaya ini termasuk hukum 3 Newton (Giancolli, 2014).

∑𝜏 = 0

3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿) − (𝐹𝑏 . 0,04) = 0
8

3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿)
8
= 𝐹𝑏
0,04

Berdasarkan percobaan dan analisis data menggunakan persamaan


diatas, maka diperoleh hasil bahwa semakin berat beban yang dibawa
naracoba maka FB otot bisep akan semakin besar. Kemudian saat beban
sama (1kg) semakin panjang lengan naracoba maka semakin besar FB
yang dilakukan otot bisep (145,3125N pada L=30cm; 155N pada L=32cm;
159,8438N pada L=33cm) begitu pula saat beban 2kg, (220,3125N pada
L=30cm; 235N pada L=32cm; 242,3438N pada L=33cm).

Hal tersebut sesuai dengan literatur, Semakin berat golongan suatu


pekerjaan semakin besar gerakan otot, hal ini menyebabkan semakin
tinggi pula pengeluaran energi yang dibutuhkan untuk melakukan
pekerjaan tersebut. Pengeluaran tenaga atau energi yang tergolong besar
atau berlebih akan menyebabkan munculnya kelelahan. Kelelahan itu
sendiri dapat diartikan sebagai suatu kondisi menurunnya efisiensi,
performa kerja, dan berkurangnya kekuatan atau ketahanan fisik tubuh
untuk terus melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan.
(Wignjosoebroto,2003). Kelelahan yang terjadi disebabkan karena terlalu
besarnya pengeluaran energi dalam tubuh akibat besarnya kontraksi otot
yang terjadi pada saat melakukan kegiatan atau aktivitas. Jadi dapat
diketahui bahwa semakin besar beban yang di angkat maka semakin besar
pula gaya yang dihasilkan oleh kontraksi otot bisep.
Kemudian, kalau panjang lengan tangan semakin besar yang mana
lengan tangan naracoba adalah lengan beban pada prinsip tuas. Jarak
tersebut mengakibatkan gaya kuasa yang dihasilkan juga semakin besar,
hal tersebut karena jarak antara otot trisep dan bisep diindikasi sebesar
4cm. Jarak tersebut tetap karena seluruh naracoba mempunyai besar
lengan atas yang normal, jarak tersebut merupakan lengan kuasa dari
sebuah prinsip tuas. Jadi praktikan tidak dapat mengubah lengan kuasa
yang yang sebenarnya berpengaruh pada rasa ringan atau tidaknya suatu
beban. Hal ini terdapat pada literatur, yaitu semakin jauh letak penumpu
dari gaya kuasa maka usaha mengangkat beban akan semakin mudah (Tim
penyusun praktikum biofisika, 2019: 7).
H. Kesimpulan
1. Hubungan dari pesawat sederhana (pengungkit) dengan kerja otot pada
struktur manusia yaitu ketika melakukan suatu aktivitas, tulang sendi dan
otot akan bekerja bersama. Prinsip kerja dari ketiganya seperti sebuah
pengungkit. Di mana tulang sebagai lengan, sendi sebagai titik tumpu, dan
kontraksi atau relaksasi otot memberikan gaya untuk menggerakkan
bagian tubuh.
2. Nilai keuntungan mekanis tuas dapat dihitung menggunakan persamaan :
𝐿𝑘 𝑊𝑏
KM = =
𝐿𝑏 𝐹𝑘

Maka, hasil perhitungan pada variasi beban 0,05 kg, 0,1 kg, dan 0,15
kg dengan variasi lengan beban (m) sebesar 0,25 ; 0,20 ; 0,15 ; 0,10 ;
0,05 diperoleh hasil keuntungan mekanik (KM) yang sama sebesar 1 ;
1,25 ; 1,67 ; 2,5 ; 5.
3. Untuk menghitung gaya yang dilakukan oleh otot bisep untuk menahan
lengan bawah dan beban yang disangga pada telapak tangan dapat
menggunakan ∑𝜏 = 0
3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿) − (𝐹𝑏 . 0,04) = 0
8
3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿)
8
= 𝐹𝑏
0,04
Maka dapat diketahui bahwa semakin berat beban yang dibawa naracoba
maka FB otot bisep akan semakin besar. Kemudian saat beban sama
semakin panjang lengan naracoba maka semakin besar FB yang dilakukan
otot bisep (145,3125N pada L=30cm; 155N pada L=32cm; 159,8438N
pada L=33cm) begitu pula saat beban 2kg, (220,3125N pada L=30cm;
235N pada L=32cm; 242,3438N pada L=33cm).
I. Tugas
1. Apa yang disebut keuntungan mekanik?
Keuntungan mekanis adalah perbandingan antara lengan kuasa dan gaya
beban. Semakin panjang lengas kuasanya maka semakin besar keuntungan
mekanisnya
2. Apa yang disebut dengan momen gaya?
Momengaya (torsi) adalah sebuah besaran yang menyatakan besarnya gaya
yang bekerja pada sebuahbenda sehingga mengakibatkan benda tersebut
berotasi. Besarnya momen gaya (torsi) tergantung pada gaya yang dikeluarkan
serta jarak antara sumbu putaran dan letak gaya.
3. Apa yang disebut dengan sistem dalam keadaan setimbang?
Yang dimaksud dengan benda dalam keadaan setimbang yaitu jika dalam
suatu sistem benda; terdapat dua gaya yg arahnya berlawanan sama kuat dan
terjadi pada saat benda tersebut tepat dalam keadaan diam
4. Apa persyaratan dari system dalam keadaan setimbang?
Suatu benda berada dalam keadaan setimbang, jika memenuhi syarat:
a. Syarat kesetimbangan translasi ΣF = 0
b. Syarat kesetimbangan rotasi Στ = 0
5. Apakah persyaratan dari sistem dalam keadaan setimbang pada percobaan
berlaku bahwa FbL1 = FkL2?
Jawab: tidak berlaku karena syarat kesetimbangan adalah (1) kedua gaya ini
sama besarnya, (2) arahnya berlawanan, (3) garis kerjanya sama. Arah gaya
pada percobaan searah.
6. Apakah peralatan percobaan ini termasuk sistem tuas?
Jawab: Iya, papan berlubang sebagai lengan, neraca pegas sebagai kuasa, dan
beban.
7. Apakah mengangkat beban yang berat dengan gaya yang kecil dikatakan
keuntungan mekanik?
Jawab: Bukan, karena tuas hanya membelokkan arah gaya kuasa dan tidak
memperkecil usaha. Keuntungan mekanik disini berarti mempermudah usaha
(kerja) saja
8. Apakah menggerakan batu dengan tuas yang diganjal mempunyai konsep
yang sama dengan system timbangan seperti percobaan?
Jawab: Iya, karena titik tumpu sama-sama berada di antara beban dan kuasa.
9. Apakah keuntungan mekanik berkaitan erat dengan sistem kerja otot pada
rangka manusia?
Jawab: berkaitan erat. Tulang sebagai batang pengungkit dan otot sebagai
penggeraknya, kemudian persendian sebagai titik tumpunya.
10. Bagaimana sistem kerja otot pada rangka manusia jika semakin besar nilai
keuntungan mekanik?
Jawab: kerja otot tidak dapat diperkecil, namun otot akan mengeluarkan
energi yang sedikit.

11. Hitunglah gaya yang dilakukan oleh otot bisep (FB) untuk menahan lengan
bawah dan beban dengan menggunakan syarat kesetimbangan momen gaya
(torka).
Jawab:
∑𝜏 = 0
3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿) − (𝐹𝑏 . 0,04) = 0
8
3
(𝑤𝑡 . 𝐿) + (𝑤𝑎 . 𝐿)
8 =𝐹
𝑏
0,04

Diperoleh hasil sebagai berikut.


Naracoba wt wa L 3/8L (m) Fb (N)
(N) (N) (m)
A 10 25 0,32 0,12 155
A 20 25 0,32 0,12 235
B 10 25 0,33 0,12375 159,8438
B 20 25 0,33 0,12375 242,3438
C 10 25 0,32 0,12 155
C 20 25 0,32 0,12 235
D 10 25 0,33 0,12375 159,8438
D 20 25 0,33 0,12375 242,3438
E 10 25 0,3 0,1125 145,3125
E 20 25 0,3 0,1125 220,3125

12. Hitunglah gaya gabungan antara berat beban dan berat lengan? Apakah besar
gaya gabungan ini sama dengan gaya otot bisep? Jika tidak, berikan
penjelasan mengapa demikian.
Jawab: Tidak sama, karena berat beban dan lengan hanya salah dua dari tiga
gaya yang bekerja searah, yaitu gaya oleh lengan atas (FH) namun gaya ini
bekerja pada titik tumpu yaitu pada siku sehingga nilainya nol.
J. Daftar Pustaka
Giancoli, Douglas C. 2014. Fisika: Prinsip dan Aplikasi Edisi ke 7 Jilid 1.
Jakarta: Erlangga
Hacket, J. K. et al. 2008. Science-A Closer Look. New York:
Macmillan/Mcgraw-Hill.
Halliday. 2010. Fisika Jilid 1 Edisi 7. Jakarta: Erlangga.

Hendro Darmodjo & Jenny R.E Kaligis. 1992 . Pendidikan IPA. Proyek
Pembinaan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Paolo de Leva. (1996). Adjustments to Zatsiorsky-Seluyanov's Segment
Inertia Parameters. Journal of Biomechanics 29 (9), pp. 1223-1230.
Ramlawati, dkk. 2017. Mata Pelajaran IPA. Jakarta : Kementerian Pendidikan
dan Budaya

Setford, Steve. 1997. Buku Saku Fakta Sains. (Penerjemah: Budi Sudarsono).
Jakarta: Erlangga.
Tim Penyusun Praktikum Biofisika. 2019. Petunjuk Praktikum Biofisika.
Universtas Negeri Yogyakarta : FMIPA

Tim penyusun praktikum biofisika. 2019. Panduan Praktikum Biofisika.


Yogyakarta: FMIPA UNY.

Wardaya. 2003. Pesawat Sederhana.


https://www.wardayacollege.com/_images/02-fisika/02-05-energi/02-
05-03-pesawat-sederhana_modul.pdf pada hari jum’at 22 Februari 2019

Wignjosoebroto 2003. ERGONOMI: Studi Gerak dan Waktu. Surabaya: Guna


Widya.

Zubaidah, Siti. 2014. Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta : Kementerian


Pendidikan dan Budaya
Anonim. BBM 5 Pesawat Sederhana.
http://file.upi.edu/Direktori/DUAL-
MODES/KONSEP_DASAR_FISIKA/BBM_5_%28Pesawat_Sederhana%29_KD_Fi
sika.pdf pada hari jum’at 22 Februari 2019.
LAMPIRAN