Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM BIOFISIKA
“TEKANAN DARAH”

Oleh:
Kelompok II

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019
HALAMAN PENGESAHAN
PEAKTIKUM BIOFISIKA
TEKANAN DARAH

Disusun Oleh:
Kelompok II
Pendidikan IPA A 2016

Nama Anggota
Nama NIM Tanda Tangan
Laras Annisa 16312241006
Gesti Lestari 16312241007
Rachmanita Prihana R 16312241008
Nur Fitriyani 16312241009
Meiningrum 16312241010

Diserahkan pada hari : Senin, 20 Mei 2019


Pukul : 07.30 WIB

Yogyakarta, 19 Mei 2019


Mengetahui Dosen Pengampu

(Widodo Setiyo Wibowo S.Pd.Si., M.Pd)


A. Judul
Tekanan Darah

B. Tujuan
Mengukur tekanan sistolik dan tekanan diatolik darah pada posisi duduk, berdiri, dan
berbaring.

C. Dasar Teori
Jantung adalah pompa otot beruang empat yang mendorong darah mengelilingi
sirkulasi. Jantung terutama tersusun dari jaringan otot jantung. Kedua atria mempunyai
dinding yang relatif tipis dan berfungsi sebagai ruangan penampungan bagi darah yang
kembali ke jantung, dan hanya memompa darah dalam jarak yang sangat dekat menuju
ventrikel. Ventrikel mempunyai dinding yang lebih tebal dan jauh lebih kuat dibandingkan
dengan atrium -khususnya ventrikel kiri, yang harus memompa darah keluar ke seluruh
organ tubuh melalui sirkuit sistemik. Empat katub dalam jantung berfungsi untuk mencegah
aliran balik darah (Campbell dkk, 2000:47).
Tekanan darah adalah tekanan yang mendesak dinding arteri ketika ventrikel kiri
melakukan sistol kemudian diastole. Pengukurannya menggunakan sfignomanometer.
Tekanan darah sistol adalah tekanan darah yang direkam selama kontraksi ventrikuler.
Tekanan darah diastole adalah tekanan darah yang direkam selama relaksasi ventricular.
Tekanan darah normal adalah 120/80 mmHg. Tekanan denyutan adalah perbedaan antara
tekanan sistolik dan diastolik. Tekanan denyutan normal kira-kira 40 mmHg yang
memberikan informasi tentang kondisi arteri (Soewolo dkk, 2005: 265-261).
Kontraksi serambi dan bilik jantung dipicu oleh pulsa-pulsa listrik yang diberikan
secara serentak pada belahan kiri dan belahan kanan jantung. Mula-mula serambi
berkontraksi, memaksa darah ke dalam bilik; kemudian bilik berkontraksi, memaksa darak
keluar dari jantung. Karena kerja pemompaan jantung, darah memasuki arteri-arteri dalam
bentuk pulsa-pulsa. Tekananmaksimum yang mendorong darah pada puncak pulsa disebut
tekanan sistolik. Tekanan darah terendah antara pulsa-pulsa disebut tekanan diastolik.
Tekanan diastolik disebabkan oleh elastisitas arteri. Pada orang muda yang sehat tekanan
sistolik kira-kira 120 mm Hg dan tekanan diastoliknya kira-kira 80 mm Hg. Oleh karena itu
tekanan rata-rata darah yang berdenyut pada ketinggian jantung adalah 100 cmm Hg.
Gambar 1 menunjukkan grafik tekanan darah terhadap waktu dalam salah satu arteri besar
(bukan dalam paru-paru).

Gambar 1. Grafik tekanan darah terhadap waktu dalam arteri besar


Sumber: Petunjuk Praktikum, 2019

Selama darah mengalir melalui sistem peredaran, energi awalnya, yang diberikan
oleh kerja pemompaan jantung, menghilang melalui dua mekanisme: hilang yang
dihubungkan dengan ekspansi dan kontraksi dinding-dinding arteri dan gesekan kental
yang dihungungkan dengan aliran darah. Karena kehilangan energi ini, fluktuasi tekanan
mula-mula diperhalus selama darah menjauhi jantung, dan tekanan rata-ratanya turun.
Menjelang darah mencapai kapiler-kapiler, aliran menjadi halus dan tekanan darah hanya
kira-kira 30 mm Hg. Tekanan masih turun lebih rendah dan mendekati nol tepat sebelum
kembali ke jantung. Pada tingkat akhir aliran ini, gerak darah melalui vena dibantu oleh
kontraksi otot-otot yang meremas darah menuju jantung.
Gambar 2.Pengukuran tekanan darah dengan sfigmomanometer
Sumber: Petunjuk Praktikum, 2019

Tekanan darah dapat diukur secara tidak langsung menggunakan sfigmomanometer,


seperti ditunjukkan Gambar 2. Manset yang dibebatkan pada lengan atas dan dipompa
dengan pompa tangan sampai aliran darah dalam arteri lengan terhenti. Tekanan diciptakan
dengan meremas pompa tangan dan diteruskan oleh udara dalam pipa-pipa (fluida
terkurung) ke manset dan ke alat pengukur (manometer). Dinding manset meneruskan
tekanan ke lengan yang diteruskan ke arteri. Ketika tekanan yang diberikan melebihi
tekanan yang dihasilkan oleh jantung, arteri berhenti mengalirkan darah. Pengukuran
dilakukan dengan melepaskan udara secara perlahan dari manset, menurunkan tekanannya,
dan mendengarkan aliran darah melalui stetoskop yang ditempatkan pada arteri di bawah
manset. Tidak ada suara yang terdengar sampai tekanan pada manset turun sampai tekanan
sistolik. Tepat di bawah titik ini darah mulai mengalir melalui arteri; tetapi, karena arteri
masih tertekan sebagian, aliran itu adalah turbulen dan disertai oleh bunyi yang khas.
Tekanan yang terlihat pada permulaan bunyi itu adalah tekanan darah sistolik. Selama
tekanan dalam manset diturunkan lebih lanjut, arteri mengembang sampai ukuran
normalnya, aliran menjadi laminer, dan derau bunyi menghilang. Tekanan pada saat bunyi
mulai menghilang diambil sebagai tekanan darah diastolik.
Gravitasi mempengaruhi tekanan tetapi bukan laju aliran dan sistem peredaran darah.
Dalam suatu sistem tertutup, tekanan karena gravitasi tidak mempunyai pengaruh neto pada
laju aliran, seperti halnya atmosfer yang tidak mempunyai pengaruh pada aliran dalam IV
(intravenous). Perhatikan aliran dari jantung ke kaki dan kembali ke jantung pada orang
yang sedang berdiri, seperti ditunjukkan dalam Gambar3. Gravitasi mempunyai arah sama
dengan aliran turun, dan berlawanan arah terhadap aliran ke atas, sehingga gravitasi tidak
mempunyai pengaruh neto; gravitasi tidak membantu atau menghalangi aliran dan suatu
simpal (loop) tertutup seperti sistem peredaran darah.

Gambar 3.Tekanan darah dalam arteri besar bertambah di bawah jantung dan berkurang di
atas jantung karena pengaruh gravitasi
Sumber: Urone, 1986: 201
Untuk seseorang yang sedang berdiri, tekanan dalam arteri besar bertambah di bawah
jantung dan berkurang di atas jantung sebesar ρgh, dengan h adalah positif untuk
sembarang titik di bawah jantung dan negatif untuk sembarang titik di atas jantung.
(Penurunan tekanan karena hambatan sedemikian kecil dalam arteri besar sehingga dapat
diabaikan.)
Oleh karena itu tekanan darah dalam arteri besar di kepala adalah
Pkepala  Pjantung  ghkepala

Tekanan dalam arteri besar dalam kaki adalah


Pkaki  Pjantung  ghkaki
Pengukuran tekanan darah merupakan pengujian klinik yang umum. Pengukuran ini
selalu diwujudkan sebagai suatu pecahan, misalnya 120/80. Angka dari pembilang tersebut
merupakan tekanan darah arteri selama sistole. Unit ukuran adalah torr, pada contoh ini
tekanan sama dengan tekanan yang dihasilkan oleh kolom air raksa dengan tinggi 120 mm.
Angka sebutan merupakan tekanan selama diastole. Meskipun tekanan darah dalam waktu
yang berbeda sangat bervariasi pada orang tertentu, tekanan yang terus menerus tinggi,
mungkin suatu gejala atau sebab dari macam-macam penyakit (Kimball, 1983: 154).
Tekanan darah sistolik dihasilkan oleh otot jantung yang mendorong isi ventrikel
masuk ke dalam arteri yang telah teregang. Selama diastole arteri masih tetap menggembung
karena tahanan periferi dari arteriole-arteriole menghalangi semua darah mengalir ke dalam
jaringan. Demikianlah maka tekanan darah sebagian tergantung kepada kekuatan dan
volume darah yang dipompa oleh jantung dan sebagian lagi kepada kontraksi otot dalam
dinding arteriole. Kontraksi ini dipertahankan oleh saraf vasokonstriktor dan dikendalikan
oleh pusat vasomotorik dalam medula oblongata.pusat vasomotorik mengatur tahanan
periferi untuk mempertahankan agar tekanan darah relatif konstan. Tekanan darah
mengalami sedikit perubahan bersamaan dengan perubahan-perubahan gerakan yang
fisiologik, seperti sewaktu latihan jasmani, waktu adanya perubahan mental karena
kecemasab dan emosi, sewaktu tidur dan sewaktu makan. Karena itu sebaiknya tekanan
darah diukur selalau sewaktu orangnya tenang, istirahat dan sebaiknya dalam sikap rebahan
(Pearce, 1995: 151).

D. Metode Praktikum
1. Waktu dan Tempat Praktikum
a. Waktu Praktikum: Kamis, 9 Mei 2019 / 9.20-11.00 WIB
b. Tempat Praktikum: Lab PPG IPA FMIPA UNY
2. Alat dan Bahan
a. Pengukur tekanan darah
b. Meteran
3. Langkah Kerja

Mengukur tekanan darah praktikan pada posisi duduk


Mengukur tekanan darah praktikan pada posisi berdiri

Mengukur tekanan darah praktikan pada posisi berbaring

Mengukur jarak antara posisi jantung dan ujung kepala praktikan

Mengukur jarak antara posisi jantung dan telapak kaki praktikan

Menggunakan percepatan gravitasi g = 980 cm/s2 dan massa jenis darah 𝜌 = 1,05
g/cm3

E. Data Hasil

F. Analisis Data
Diketahui:
g = 980cm/s2
𝜌 darah = 1,05 g/cm3
1. Tekanan darah dalam arteri besar di kepala
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝑷𝒋𝒂𝒏𝒕𝒖𝒏𝒈 − 𝝆𝒈𝒉𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂

a. Meiningrum
 Posisi duduk:
P jantung/tekanan systol = 105 mmHg =10,5 cmHg
Jarak posisi jantung dan kepala = 50 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟎, 𝟓 𝒄𝒎𝑯𝒈 − (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟓𝟎)
= 10,5 – 51450
= − 51439,5 cmHg
 Posisi berdiri:
P jantung/tekanan systol = 106 mmHg =10,6 cmHg
Jarak posisi jantung dan kepala = 50 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟎, 𝟔 𝒄𝒎𝑯𝒈 − (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟓𝟎)
= 10,6 – 51450
= − 51439,4 cmHg
 Posisi berbaring:
P jantung/tekanan systol = 95 mmHg =9,5 cmHg
Jarak posisi jantung dan kepala = 50 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟗, 𝟓 𝒄𝒎𝑯𝒈 − (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟓𝟎)
= 9,5 – 51450
= − 51440,5 cmHg
b. Gesti
 Posisi duduk:
P jantung/tekanan systol = 116 mmHg =11,6 cmHg
Jarak posisi jantung dan kepala = 55 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟏, 𝟔 𝒄𝒎𝑯𝒈 − (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟓𝟓)
= 11,6 – 56596
= − 56584,4 cmHg
 Posisi berdiri:
P jantung/tekanan systol = 102 mmHg =10,2 cmHg
Jarak posisi jantung dan kepala = 55 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟎, 𝟐 𝒄𝒎𝑯𝒈 − (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟓𝟓)
= 10,2 – 56596
= − 56585,8 cmHg
 Posisi berbaring:
P jantung/tekanan systol = 103 mmHg = 10,3 cmHg
Jarak posisi jantung dan kepala = 55 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟎, 𝟑 𝒄𝒎𝑯𝒈 − (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟓𝟓)
= 10,3 – 56596
= − 56585,7 cmHg
c. Nur fitriyani
 Posisi duduk:
P jantung/tekanan systol = 115 mmHg =11,5 cmHg
Jarak posisi jantung dan kepala = 57 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟏, 𝟓 𝒄𝒎𝑯𝒈 − (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟓𝟕)
= 11,5 – 58653
= − 58641,5 cmHg
 Posisi berdiri:
P jantung/tekanan systol = 103 mmHg =10,3 cmHg
Jarak posisi jantung dan kepala = 57 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟎, 𝟑 𝒄𝒎𝑯𝒈 − (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟓𝟕)
= 10,3 – 58653
= − 58642,7 cmHg
 Posisi berbaring:
P jantung/tekanan systol = 99 mmHg = 9,9 cmHg
Jarak posisi jantung dan kepala = 57 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟗, 𝟗 𝒄𝒎𝑯𝒈 − (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟓𝟕)
= 9,9 – 58653
= − 58643,1 cmHg
d. Rachma
 Posisi duduk:
P jantung/tekanan systol = 101 mmHg =10,1 cmHg
Jarak posisi jantung dan kepala = 51 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟎, 𝟏 𝒄𝒎𝑯𝒈 − (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟓𝟏)
= 10,1 – 52479
= − 52468,9 cmHg
 Posisi berdiri:
P jantung/tekanan systol = 108 mmHg =10,8 cmHg
Jarak posisi jantung dan kepala = 51 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟎, 𝟖 𝒄𝒎𝑯𝒈 − (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟓𝟏)
= 10,8 – 52479
= − 52468,2 cmHg
 Posisi berbaring:
P jantung/tekanan systol = 109 mmHg =10,9 cmHg
Jarak posisi jantung dan kepala = 51 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟎, 𝟗 𝒄𝒎𝑯𝒈 − (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟓𝟏)
= 10,9 – 52479
= − 52468,1 cmHg
e. Laras
 Posisi duduk:
P jantung/tekanan systol = 124 mmHg =12,4 cmHg
Jarak posisi jantung dan kepala = 50 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟐, 𝟒 𝒄𝒎𝑯𝒈 − (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟓𝟎)
= 12,4 – 51450
= − 51437,6 cmHg
 Posisi berdiri:
P jantung/tekanan systol = 114 mmHg =11,4 cmHg
Jarak posisi jantung dan kepala = 50 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟏, 𝟒 𝒄𝒎𝑯𝒈 − (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟓𝟎)
= 11,4 – 51450
= − 51438,6 cmHg
 Posisi berbaring:
P jantung/tekanan systol = 114 mmHg = 11,4 cmHg
Jarak posisi jantung dan kepala = 50 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟏, 𝟒 𝒄𝒎𝑯𝒈 − (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟓𝟎)
= 11,4 – 51450
= − 51438,6 cmHg

2. Tekanan darah arteri besar dalam kaki


𝑷𝒌𝒂𝒌𝒊 = 𝑷𝒋𝒂𝒏𝒕𝒖𝒏𝒈 + 𝝆𝒈𝒉𝒌𝒂𝒌𝒊

a. Meiningrum
 Posisi duduk:
P jantung/tekanan systol = 105 mmHg =10,5 cmHg
Jarak posisi jantung dan telapak kaki = 110 cm
𝑷𝒌𝒂𝒌𝒊 = 𝟏𝟎, 𝟓 𝒄𝒎𝑯𝒈 + (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟏𝟏𝟎)
= 10,5 + 113190
= 𝟏𝟏𝟑𝟐𝟎𝟎, 𝟓 cmHg
 Posisi berdiri:
P jantung/tekanan systol = 105 mmHg =10,5 cmHg
Jarak posisi jantung dan telapak kaki = 110 cm
𝑷𝒌𝒂𝒌𝒊 = 𝟏𝟎, 𝟓 𝒄𝒎𝑯𝒈 + (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟏𝟏𝟎)
= 10,5 + 113190
= 𝟏𝟏𝟑𝟐𝟎𝟎, 𝟓 cmHg
 Posisi berdiri:
P jantung/tekanan systol = 106 mmHg =10,6 cmHg
Jarak posisi jantung dan telapak kaki = 110 cm
𝑷𝒌𝒂𝒌𝒊 = 𝟏𝟎, 𝟔 𝒄𝒎𝑯𝒈 + (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟏𝟏𝟎)
= 10,6 + 113190
= 𝟏𝟏𝟑𝟐𝟎𝟎, 𝟔 cmHg
 Posisi berbaring:
P jantung/tekanan systol = 95 mmHg =9,5 cmHg
Jarak posisi jantung dan telapak kaki = 110 cm
𝑷𝒌𝒂𝒌𝒊 = 𝟗, 𝟓 𝒄𝒎𝑯𝒈 + (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟏𝟏𝟎)
= 9,5 +113190
= 𝟏𝟏𝟑𝟏𝟗𝟗, 𝟓 cmHg

b. Gesti
 Posisi duduk:
P jantung/tekanan systol = 116 mmHg =11,6 cmHg
Jarak posisi jantung dan telapak kaki = 107 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟏, 𝟔 𝒄𝒎𝑯𝒈 + (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟏𝟎𝟕)
= 11,6 + 110103
= 𝟏𝟏𝟎𝟏𝟏𝟒, 𝟔 cmHg
 Posisi berdiri:
P jantung/tekanan systol = 102 mmHg =10,2 cmHg
Jarak posisi jantung dan telapak kaki = 107 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟎, 𝟐 𝒄𝒎𝑯𝒈 + (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟏𝟎𝟕)
= 10,2 + 110103
= 𝟏𝟏𝟎𝟏𝟏𝟑, 𝟐 cmHg
 Posisi berbaring:
P jantung/tekanan systol = 103 mmHg = 10,3 cmHg
Jarak posisi jantung dan telapak kaki = 107 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟎, 𝟑 𝒄𝒎𝑯𝒈 + (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟏𝟎𝟕)
= 10,3 + 110103
= 𝟏𝟏𝟎𝟏𝟏𝟑, 𝟑 cmHg

c. Nur Fitriyani
 Posisi duduk:
P jantung/tekanan systol = 115 mmHg =11,5 cmHg
Jarak posisi jantung dan telapak kaki = 106 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟏, 𝟓 𝒄𝒎𝑯𝒈 + (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟏𝟎𝟔)
= 11,5 + 109074
= 𝟏𝟎𝟗𝟎𝟖𝟓, 𝟓 cmHg
 Posisi berdiri:
P jantung/tekanan systol = 103 mmHg =10,3 cmHg
Jarak posisi jantung dan telapak kaki = 106 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟎, 𝟑 𝒄𝒎𝑯𝒈 + (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟏𝟎𝟔)
= 10,3 + 109074
= 𝟏𝟎𝟗𝟎𝟖𝟒, 𝟑 cmHg
 Posisi berbaring:
P jantung/tekanan systol = 99 mmHg = 9,9 cmHg
Jarak posisi jantung dan telapak kaki = 106 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟗, 𝟗 𝒄𝒎𝑯𝒈 + (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟏𝟎𝟔)
= 9,9 + 109074
= 𝟏𝟎𝟗𝟎𝟖𝟑, 𝟗 cmHg

d. Rachma
 Posisi duduk:
P jantung/tekanan systol = 101 mmHg =10,1 cmHg
Jarak posisi jantung dan telapak kaki = 111 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟎, 𝟏 𝒄𝒎𝑯𝒈 + (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟏𝟏𝟏)
= 10,1 + 114219
= 𝟏𝟏𝟒𝟐𝟐𝟗, 𝟏 cmHg
 Posisi berdiri:
P jantung/tekanan systol = 108 mmHg =10,8 cmHg
Jarak posisi jantung dan telapak kaki = 111 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟎, 𝟖 𝒄𝒎𝑯𝒈 + (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟏𝟏𝟏)
= 10,8 + 114219
= 𝟏𝟏𝟒𝟐𝟐𝟗, 𝟖 cmHg
 Posisi berbaring:
P jantung/tekanan systol = 109 mmHg =10,9 cmHg
Jarak posisi jantung dan telapak kaki = 111 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟎, 𝟗 𝒄𝒎𝑯𝒈 + (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟓𝟏)
= 10,9 + 114219
= 𝟏𝟏𝟒𝟐𝟐𝟗, 𝟗 cmHg
e. Laras
 Posisi duduk:
P jantung/tekanan systol = 124 mmHg =12,4 cmHg
Jarak posisi jantung dan telapak kaki = 105 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟐, 𝟒 𝒄𝒎𝑯𝒈 + (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟏𝟎𝟓)
= 12,4 + 108045
= 𝟏𝟎𝟖𝟎𝟓𝟕, 𝟒 cmHg
 Posisi berdiri:
P jantung/tekanan systol = 114 mmHg =11,4 cmHg
Jarak posisi jantung dan telapak kaki = 105 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟏, 𝟒 𝒄𝒎𝑯𝒈 + (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟏𝟎𝟓)
= 11,4 + 108045
= 𝟏𝟎𝟖𝟎𝟓𝟔, 𝟒 cmHg
 Posisi berbaring:
P jantung/tekanan systol = 114 mmHg = 11,4 cmHg
Jarak posisi jantung dan telapak kaki = 105 cm
𝑷𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 = 𝟏𝟏, 𝟒 𝒄𝒎𝑯𝒈 + (𝟏, 𝟎𝟓. 𝟗𝟖𝟎. 𝟏𝟎𝟓)
= 11,4 + 108045
= 𝟏𝟎𝟖𝟎𝟓𝟔, 𝟒 cmHg

G. Pembahasan
Praktikum yang berjudul “Tekanan darah” bertujuan untuk mengukur tekanan sistolik
dan tekanan diatolik darah pada posisi duduk, berdiri, dan berbaring. Praktikum
dilaksanakan pada hari Kamis, 9 Mei 2019 pukul 09.20 -11.00 WIB bertempat di
Laboratorium PPG IPA FMIPA UNY. Alat dan bahan yang digunakan oleh praktikan terdiri
dari alat pengukur tekanan darah yang merupakan alat yang digunakan untuk mengukur
tekanan darah baik dalam keadaan berdiri, berbaring maupun duduk, meteran yang berfungsi
untuk mengukur jarak antara posisi jantung dan ujung kepala praktikan, juga berfungsi
untuk mengukur jarak antara posisi jantung dan telapak kaki praktikan.
Langkah-langkah yang dilakukan pada praktikum yaitu menyiapkan alat yang
digunakan. Kemudian, praktikan merangkai alat pengukur tekanan darah. Kemudian
praktikan mengukur tekanan darah praktikan lainnya pada posisi duduk, lalu praktikan
mengukur tekanan darah praktikan lainnya pada posisi berdiri, selanjutnya praktikan
mengukur tekanan darah praktikan lainnya pada posisi berbaring, setelahnya mengukur jarak
antara posisi jantung dan ujung kepala praktikan kemudian mengukur jarak antara posisi
jantung dan telapak kaki praktikan, langkah tersebut di ulang kembali hingga kelima
praktikan, lalu untuk menganalisisnya menggunakan percepatan gravitasi g = 980 cm/s2 dan
massa jenis darah 𝜌 = 1,05 g/cm3 .
1.Posisi berbaring
Ketika seseorang berbaring, maka jantung akan berdetak lebih sedikit
dibandingkan saat ia sedang duduk atau berdiri. Hal ini disebabkan saat orang berbaring,
maka efek gravitasi pada tubuh akan berkurang yang membuat lebih banyak darah
mengalir kembali ke jantung melalui pembuluh darah. Jika darah yang kembali ke jantung
lebih banyak, maka tubuh mampu memompa lebih banyak darah setiap denyutnya. Hal ini
berarti denyut jantung yang diperlukan per menitnya untuk memenuhi kebutuhkan darah,
oksigen dan nutrisi akan menjadi lebih sedikit. Pada posisi berbaring darah dapat kembali
ke jantung secara mudah tanpa harus melawan kekuatan gravitasi. (Guyton, 2002)
Berdasarkan hal tersebut, maka praktikum yang sudah dilakukan sesuai dengan
teori karena hasil dari analisis rata-rata dari 5 praktikan tekanan darah pada saat berbaring
lebih rendah jika dibandingkan dengan saat posisi duduk maupun berdiri.
2.Posisi berdiri
Detak jantung akan meningkat saat seseorang berdiri, karena darah yang kembali
ke jantung akan lebih sedikit. Kondisi ini yang mungkin menyebabkan adanya
peningkatan detak jantung mendadak ketika seseorang bergerak dari posisi duduk atau
berbaring ke posisi berdiri. Selain itu, banyaknya darah yang di keluarkan jantung itu
menimbulkan tekanan, bila berkurang maka tekanannya menurun. Tekanan darah
berkurang akan menentukan kecepatan darah sampai ke bagian tubuh yang dituju. Ketika
berdiri darah yang kembali ke jantung sedikit. Volume jantung berkurang maka darah
yang ke luar dan tekanan menjadi berkurang (Guyton dan Hall, 2002)
Berdasarkan hasil yang telah di analisis maka nilai tekanan darah dari ke
lima praktikan pada saat posisi berdiri bernilai paling besar jika dibandingkan dengan
posisi berbaring. Untuk seseorang yang sedang berdiri, tekanan dalam arteri besar
bertambah di bawah jantung dan berkurang di atas jantung sebesar ρgh, dengan h adalah
positif untuk sembarang titik di bawah jantung dan negatif untuk sembarang titik di atas
jantung. (Penurunan tekanan karena hambatan sedemikian kecil dalam arteri besar
sehingga dapat diabaikan.) Oleh karena itu tekanan darah dalam arteri besar di kepala
adalah
3.Posisi Duduk
Sikap atau posisi duduk membuat tekanan darah cenderung stabil. Hal ini
dikarenakan pada saat duduk sistem vasokonstraktor simpatis terangsang dan sinyal-sinyal
saraf pun dijalarkan secara serentak melalui saraf rangka menuju ke otot-otot rangka
tubuh, terutama otot-otot abdomen. Hal ini membuat jumlah darah yang tersedia bagi
jantung untuk dipompa menjadi meningkat jika dibandingkan dengan posisi berbaring.
Keseluruhan respon ini disebut refleks kompresi abdomen (Guyton dan Hall, 2002)
Berdasarkan hal tersebut, maka percobaan yang dilakukan oleh ke lima praktikkan
sudah sesuai teori yaitu tekanan darah pada saat duduk lebih tinggi dibandingkan dengan
posisi berbaring namun lebih rendah dari pada saat posisi berdiri.

H. Kesimpulan

Daftar Pustaka
Campbell, Neil A., Reece, J.B., & Mitchell, L.G. 2000. Biologi, Edisi Kelima-Jilid 3. Jakarta:
Erlangga.
Kimbal. 1983. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Soewolo, Soedjono Basoeki & Titi Yudani. 2005. Fisiologi manusia. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Pearce, R.B. 1995.Anatomi Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: EGC.
Tim Penyusun Praktikum Biofisika.2019. Petunjuk Praktikum Biofisika. Yogyakarta: FMIPA
UNY.