Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH AHLUL BAIT DAN SAHABAT NABI

Dosen : Ustadz Ngaji Babar W,S.T

Disusun oleh :

Alfatahadi saputra

M16010001

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MADANI

YOGYAKARTA

2019
Kata pengantar

Bismillah. Dengan Ridho Allah subhanahu wata’ala, penulis dapat menyelesaikan makalah
dengan judul “ Makalah Ahlul Bait Dan Sahabat Nabi” untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pendidikan Agama Islam . Terima kasih kepada bapak dosen yang telah memberi kesempatan
kepada penulis untuk membuat makalah ini. penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari kata sempurna. penulis berharap semoga makalah ini bisa dimengerti dan dipahami oleh
kita yang mempelajari dan membacanya serta dapat di jadikan sebagai sumber referensi untuk
para pembaca. oleh karena itu saran dan kritik penulis harapkan demi kesempurnaan dalam
membuat makalah keperawatan medical bedah ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua,

Jazakumullah khoiron

penulis

2
Daftar isi

Contents
Kata pengantar............................................................................................................................................ 2
Daftar isi ...................................................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 4
1. Latar belakang ................................................................................................................................ 4
2. Rumusan masalah ........................................................................................................................... 4
3. Tujuan .............................................................................................................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................................................. 5
1. Mengenal Ahlul Bait ....................................................................................................................... 5
2. Mengenal sabahat nabi ................................................................................................................... 7
3. Keutamaan sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam .............................................................. 8
4. Keutamaan ahlul bait ................................................................................................................... 15
5. Sikap ahlusunnah terhadap ahlul bait ........................................................................................ 18
6. Sikap ahlusunnah terhadap sahabat nabi .................................................................................. 19
BAB III PENUTUP ................................................................................................................................... 31
1. Kesimpulan .................................................................................................................................... 31
2. Saran .............................................................................................................................................. 31
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................ 32

3
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar belakang

Di antara bukti keimanan seseorang muslim adalah mencintai ahlul bait Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mencintai ahlul bait merupakan pilar
kesempurnaan iman seorang muslim. Pernyataan cinta kepada ahlul bait Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekarang tidak hanya datang dari kalangan ahlus Sunnah
semata, akan tetapi juga didengungkan oleh beberapa kelompok Ahlul bid’ah seperti
Syiah dan yang sealiran dengan mereka, mereka lakukan hal itu dalam rangka
mengelabui dan menipu umat Islam sehingga mereka bingung dan tidak mengenal
kebejatan dan kebencian mereka terhadap Ahulul bait, khususnya Syiah yang tidak kalah
hebatnya dalam mempropagandakan pernyataan cinta mereka kepada ahlul bait sehingga
seakan-akan merekalah satu-satunya kelompok yang paling mencintai Ahlul bait.

2. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang dirumuskan dalam makalah


ini adalah :

a) Bagaimana mengenal Ahlul Bait ?


b) Bagimana mengenal sabahat nabi ?
c) Bagaimana Keutamaan sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ?
d) Bagaimana Keutamaan ahlul bait ?
e) Bagaimana Sikap ahlusunnah terhadap ahlul bait ?
f) Bagaimana Sikap ahlusunnah terhadap sahabat nabi ?

3. Tujuan
a) Dapat mengetahui bagaimana mengenal Ahlul Bait
b) Dapat mengetahui Bagimana mengenal sabahat nabi
c) Dapat mengetahui Bagaimana Keutamaan sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
d) Dapat mengetahui Bagaimana Keutamaan ahlul bait
e) Dapat mengetahui Bagaimana Sikap ahlusunnah terhadap ahlul bait
f) Dapat mengetahui Bagaimana Sikap ahlusunnah terhadap sahabat nabi

4
BAB II PEMBAHASAN
1. Mengenal Ahlul Bait

Nasab ahli bait/ahlul bait merupakan nasab yang mulia, karena mereka terlahir dari
keturunan orang-orang pilihan, manusia terbaik yang ada di muka bumi. Namun kemuliaan
nasab ini janganlah membuat kita lupa daratan kepada mereka, semisal terlalu berlebihan alias
ghuluw atau menganggap mereka ma’shum dari dosa, dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya
bagaimana loyalitas yang benar terhadap ahli bait, cermati pembahasan berikut ini. Allahul
Muwaffiq.

SIAPAKAH AHLI BAIT?


Telah terjadi silang pendapat di kalangan ulama tentang siapakah ahli bait Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Pendapat yang shahih, ahli bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang
diharamkan bagi mereka shodaqoh. Mereka adalah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan keturunannya, serta seluruh kaum muslimin dan muslimah dari keturunan Abdul Muthalib
dan keturunan Bani Hasyim bin Abd Manaf, Allahu a’lam

Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata : “Telah terlahir Syaibah untuk Hasyim bin Abd
Manaf dan dia adalah Abdul Muthalib, pada dirinyalah patokan kemuliaan. Tidak tersisa
keturunan dari Bani Hasyim kecuali dari Abdul Mutholib saja” [Jamharoh Ansab Al-Arob hal.
14] [1]

Dan yang termasuk dalam kata gori Ahlul bait adalah sebagai berikut:

1. Keluarga Ali yaitu mencakup sahabat Ali sendiri, Fathimah (putrinya) Hasan dan Husain
beserta Anak turunnya.
2. Keluarga Aqil Yaitu mencakup Aqil sendiri dan Anaknya yaitu muslim bin Aqil beserta Anak
cucunya.
3. Keluarga Ja’far bin Abu Tholib yaitu mencakup Ja’far sendiri berikut anak-anaknya yaitu
Abdullah, Aus dan Muhammad.
4. Keluarga Abbas bin Abdul Muttolib yaitu mencakup Abbas sendiri dan sepuluh putranya yaitu
Abdullah, Abdurrahman, Qutsam, Al-harits, ma’bad, katsir, Aus, Tamam, dan puteri-puteri

5
beliau juga termasuk di dalamnya.
5. Keluarga Hamzah bin Abdul Muttalib yaitu mencakup Hamzah sendiri dan tiga orang anaknya
yaitu Ya’la, ‘Imaroh, dan Umamah
6. Para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm tanpa kecuali.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun V/1422H/2001M Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.
08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Lihat kamus mu’jamul wasit hal : 31.
[2]. Lihat kamus lisanul arab 1/253.
[3]. Lihat kamus muhit : 1245
[4} Sebagaimana di riwayatkan oleh imam muslim dari zaid bin arqom ketika hushain bin sibrah
bertanya kepadanya tentang Ahlul bait Nabi Shalal (lihat shahih muslim 7/122-223)
[5]. Lihat kitab taqrib baina Ahlus sunnah was syiah oleh Dr. Nashir bin Abdillah bin Ali Al-
qafary 1/102 dan syarah Aqidah washitiyah oleh kholid bin Abdillah Al- muslikh hal.
189.Majmu’ fatawa 28/492
[6]. Lihat minhajus sunnah An-nabawiyah 7/395
[7]. Lihat majmu fatawa 17/506.
[8]. Lihat tafsir Al Qur ‘an Al-Adzim 3/506
[9]. Seperti di nukil oleh Dr. nashir bin Abdillah bin Ali Al-qofari dalam kitabnya masalatu
taqrib bainas sunnah wa syiah.1/ 103-105.

6
2. Mengenal sabahat nabi

Ibnu Taimiyyah t mengatakan dalam Majmu’ Fatâwâ (IV/464):


” ‫ الصُّحْ بَة‬Shuhbah ialah istilah yang digunakan untuk orang-orang yang menyertai Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam jangka waktu yang lama maupun singkat. Akan tetapi,
kedudukan setiap sahabat ditentukan oleh jangka waktu ia menyertai Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam . Ada yang menyertai beliau setahun, sebulan, sehari, sesaat, atau melihat
beliau sekilas lalu beriman. Derajat masing-masing ditentukan sesuai jangka waktunya dalam
menyertai Rasulullah”.

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Siapa saja yang menyertai Rasulullah setahun,
sebulan, sehari, atau sesaat, atau melihat beliau, maka ia termasuk sahabat Nabi. Derajat masing-
masing ditentukan menurut jangka waktunya menyertai Rasulullah”.[10]

Imam al-Bukhâri mengatakan dalam kitab Shahîh-nya (II/5): “Siapa saja dari kalangan
kaum muslimin, yang pernah menyertai dan melihat Rasulullah, maka ia terhitung sahabat nabi”.

Abu Muhammad bin Hazm rahimahullah dalam al-Ihkâm (V/89) berkata: “(Yang
disebut) sahabat, ialah semua orang yang telah duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam meski hanya sesaat dan mendengar perkataan beliau meski hanya satu kalimat atau lebih,
atau menyaksikan beliau secara langsung dan tidak termasuk kaum munafik yang sudah dikenal
kemunafikannya dan mati dalam keadaan munafik. Dan tidak termasuk orang-orang yang diusir
oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena alasan yang patut, misalnya kaum banci dan
orang-orang semacam itu. Siapa saja yang telah memenuhi kriteria tersebut, maka ia berhak
disebut sahabat. Semua sahabat termasuk (sebagai) imam panutan, insan utama dan diridhai. Kita
wajib menghormati mereka, mengagungkan mereka, memohon ampunan bagi mereka dan
mencintai mereka. Sebiji kurma yang mereka sedekahkan lebih utama daripada seluruh harta
yang disedekahkan oleh selain mereka. Kedudukan mereka di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam lebih utama daripada ibadah kita seumur hidup; baik yang masih kanak-kanak maupun
yang sudah baligh. An-Nu’mân bin Basyîr, ‘Abdullah bin az-Zubair, al-Hasan dan al-Hushain
bin ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhum masih berusia sekitar sepuluh tahun ketika
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Adapun al-Hushain, ketika Rasulullah

7
Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat ia masih berusia enam tahun. Mahmûd bin ar-Rabî’ berusia
lima tahun ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, ia masih ingat semburan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke wajahnya dengan air yang diambil dari sumur
mereka. Mereka semua termasuk sahabat terbaik, riwayat-riwayat mereka dari Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam diterima sepenuhnya, baik dari kalangan pria, wanita, budak
maupun orang merdeka”.

3. Keutamaan sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata: “Janganlah kalian mencela sahabat Muhammad.
Sesungguhnya, amal perbuatan salah seorang dari mereka sesaat, (itu) lebih baik daripada amal
salah seseorang di antara kalian selama hidupnya”.[7]

Kesempatan dapat menyertai dan bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
merupakan anugerah yang tidak dapat tergantikan oleh apapun. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
memilih di antara para hamba-Nya untuk menyertai rasul-Nya dalam menegakkan agama-Nya di
muka bumi. Manusia-manusia pilihan ini, tentu memiliki kedudukan istimewa dibanding yang
lain. Karena pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mungkin keliru.

‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu berkata: “Barang siapa di antara kalian ingin
mengikuti sunnah, maka ikutilah sunnah orang-orang yang sudah wafat. Karena orang yang
masih hidup, tidak ada jaminan selamat dari fitnah (kesesatan). Mereka ialah sahabat-sahabat
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka merupakan generasi terbaik umat ini,
generasi yang paling baik hatinya, yang paling dalam ilmunya, yang tidak banyak mengada-ada,
kaum yang telah dipilih Allah menjadi sahabat Nabi-Nya dalam menegakkan agama-Nya.
Kenalilah keutamaan mereka, ikutilah jejak mereka, berpegang teguhlah dengan akhlak dan
agama mereka semampu kalian, karena mereka merupakan generasi yang berada di atas
Shirâthal- Mustaqîm.”[8]

Beliau Radhiyallahu anhu juga berkata: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat
hati para hamba-Nya. Allah menemukan hati Muhammad adalah sebaik-baik hati hamba-Nya.
Allah memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya dengan membawa risalah-Nya. Kemudian

8
Allah melihat hati para hamba setelah hati Muhammad. Allah mendapati hati sahabat-sahabat
beliau adalah sebaik-baik hati hamba. Maka Allah mengangkat mereka sebagai wâzir (pembantu-
red) Nabi-Nya, berperang demi membela agama-Nya. Maka apa yang dipandang baik oleh kaum
muslimin (para sahabat), pasti baik di sisi Allah. Dan apa yang dipandang buruk oleh mereka,
pasti buruk di sisi-Nya”.[9]

Dari perkataan Ibnu Mas’ûd di atas, kita dapat mengetahui beberapa keistimewaan para sahabat
dibandingkan kaum muslimin lainnya. Yaitu:

1. Para sahabat Nabi merupakan generasi terbaik yang ditempa langsung oleh tangan Rasul
Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

2. Kedudukan seorang sahabat nabi sesaat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih
utama daripada amal seseorang sepanjang hayatnya.

3. Sahabat Nabi merupakan generasi yang paling bersih hatinya.

4. Sahabat Nabi merupakan generasi yang paling dalam ilmunya.

5. Sahabat Nabi merupakan generasi yang tidak suka mengada-ngadakan sesuatu dalam urusan
agama.

6. Sahabat Nabi merupakan generasi yang selamat dari bid’ah.

7. Sahabat Nabi merupakan generasi yang paling baik akhlaknya.

8. Sahabat Nabi merupakan generasi yang dipilih Allah sebagai pendamping Nabi-Nya.

9. Para sahabat merupakan orang-orang yang beruntung mendapat doa langsung dari Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[10]

9
10. Sahabat Nabi sebagai pengawas dan pengaman umat ini.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya bintang-bintang itu
adalah pengaman bagi langit. Jika bintang-bintang itu lenyap maka akan datang apa yang telah
dijanjikan atas langit. Aku adalah pengaman bagi sahabatku, jika aku telah pergi maka akan
datang apa yang telah dijanjikan atas sahabatku. Dan sahabatku adalah pengaman bagi umatku,
jika sahabatku telah pergi maka akan datang apa yang telah dijanjikan atas umatku”[11].

11. Sahabat Nabi sebagai sumber rujukan saat perselisihan dan sebagai pedoman dalam
memahami Al-Qur`ân dan Sunnah.

‫س ْبعُونَ فِي‬ ِ ‫ث َو َس ْبعِينَ ِث ْنت‬


َ ‫َان َو‬ َ َ‫س ْبعِينَ ِملَّةً َوإِ َّن َه ِذ ِه ْال ِملَّة‬
ٍ ‫ست َ ْفت َِر ُق َعلَى ثَ َل‬ ِ ‫أ َ ََل إِ َّن َم ْن قَ ْبلَ ُك ْم ِم ْن أ َ ْه ِل ْال ِكت َا‬
َ ‫ب ا ْفت ََرقُوا َعلَى ثِ ْنتَي ِْن َو‬
‫ص َحابِي‬ َ ‫احدَة ٌ فِي ْال َجنَّ ِة َوه‬
ْ َ‫ِي َما أَنَا َعلَ ْي ِه اليَ ْو َم َو أ‬ ِ ‫ار َو َو‬ ِ َّ‫الن‬

Ketahuilah, sesungguhnya Ahli Kitab sebelum kalian telah terpecah-belah menjadi 72 golongan.
Dan sesungguhnya umat ini juga akan terpecah menjadi 73 golongan. Tujuh 72 di antaranya
masuk neraka, dan satu golongan di dalam surga, yakni golongan yang mengikuti pedoman yang
aku dan para sahabatku berada di atasnya.[12]

12. Mengikuti pedoman sahabat adalah jaminan mendapatkan kemenangan.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ُ‫سلَّ َم فَيُو َجد‬ َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ ‫ب النَّبِي‬ ْ َ ‫ظ ُروا ه َْل ت َِجد ُونَ فِي ُك ْم أ َ َحدًا ِم ْن أ‬
ِ ‫ص َحا‬ ُ ‫ث فَيَقُولُونَ ا ْن‬ُ ‫ث ِم ْن ُه ُم ْالبَ ْع‬
ُ َ‫ان يُ ْبع‬ ٌ ‫اس زَ َم‬ ِ َّ‫يَأْتِي َعلَى الن‬
‫سلَّ َم فَيُ ْفتَ ُح لَ ُه ْم بِ ِه ث ُ َّم‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ ِ ‫اب النَّبِي‬
َ ‫ص َح‬ ْ َ‫ث الثَّانِي فَيَقُولُونَ ه َْل فِي ِه ْم َم ْن َرأَى أ‬ ُ ‫ث ْالبَ ْع‬ ُ َ‫الر ُج ُل فَيُ ْفت َ ُح لَ ُه ْم بِ ِه ث ُ َّم يُ ْبع‬
َّ
‫الرابِ ُع‬
َّ ‫ث‬ ُ ‫سلَّ َم ث ُ َّم يَ ُكونُ ْالبَ ْع‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ ِ ‫اب النَّبِي‬
َ ‫ص َح‬ ْ َ ‫ظ ُروا ه َْل ت ََر ْونَ فِي ِه ْم َم ْن َرأَى َم ْن َرأَى أ‬ُ ‫ث فَيُقَا ُل ا ْن‬
ُ ‫ث الثَّا ِل‬ُ ‫ث ْالبَ ْع‬ ُ ‫يُ ْب َع‬
َّ ُ‫سلَّ َم فَيُو َجد‬
‫الر ُج ُل َفيُ ْفتَ ُح َل ُه ْم ِب ِه‬ َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬
َ ِ ‫اب النَّ ِبي‬
َ ‫ص َح‬ ْ َ ‫ظ ُروا ه َْل ت ََر ْونَ فِي ِه ْم أ َ َحدًا َرأَى َم ْن َرأَى أ َ َحدًا َرأَى أ‬ ُ ‫فَيُقَا ُل ا ْن‬

“Akan datang suatu masa, yang saat itu ada satu pasukan dikirim (untuk berperang). Mereka
berkata: ‘Coba lihat, adakah di antara kalian seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam?’ Ternyata ada satu orang sahabat Nabi, maka karenanya Allah memenangkan mereka.
Kemudian dikirim pasukan kedua. Dikatakan kepada mereka: ‘Adakah di antara mereka yang
pernah melihat sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ maka karenanya Allah

10
memenangkan mereka. Lalu dikirim pasukan ketiga. Dikatakan: ‘Coba lihat, apakah ada di
antara mereka yang pernah melihat seorang yang pernah melihat sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam?’ maka didapatkan satu orang, sehingga Allah memenangkan mereka. Kemudian
dikirim pasukan keempat. Dikatakan: ‘Coba lihat, apakah ada di antara mereka yang pernah
melihat seorang yang pernah seseorang yang melihat sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam?” maka didapatkan satu orang. Akhirnya Allah memenangkan mereka”. [13]

13. Syariat mengharamkan celaan terhadap sahabat Nabi. Siapa saja yang mencela para sahabat
Nabi, maka ia berhak mendapat laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ِ ‫ص َحا ِبي فَ َوالَّذِي نَ ْفسِي ِبيَ ِد ِه لَ ْو أ َ َّن أ َ َحدَ ُك ْم أ َ ْنفَقَ ِمثْ َل أ ُ ُح ٍد ذَ َهبًا َما أَد َْركَ ُمدَّ أ َ َح ِد ِه ْم َو ََل ن‬
ُ‫َصيفَه‬ ْ َ ‫سبُّوا أ‬ ْ َ ‫سبُّوا أ‬
ُ َ ‫ص َحا ِبي ََل ت‬ ُ َ ‫ََل ت‬

Janganlah mecela sahabatku! Janganlah mencela sahabatku! Demi Allah yang jiwaku berada di
tangan-Nya, meskipun kalian menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan
dapat menyamai satu mud sedekah mereka; tidak juga separuhnya.[14]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

َ‫اس أَجْ َم ِعيْن‬


ِ َّ‫ص َحا ِبي فَ َعلَ ْي ِه لَ ْعنَةُ هللاِ َو ال َملَئِ َك ِة َو الن‬
ْ َ ‫سبَّ أ‬
َ ‫َم ْن‬

Barang siapa yang mencela sahabatku, maka atasnya laknat Allah, laknat malaikat dan laknat
seluruh umat manusia.[15]

14. Sahabat Nabi, mereka ialah orang-orang yang telah mendapat ridha dari Allah Subhanahu wa
Ta’ala , sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

‫ت تَجْ ِري‬ ٍ ‫َّللاُ َع ْن ُه ْم َو َرضُوا َع ْنهُ َوأ َ َعدَّ لَ ُه ْم َجنَّا‬َّ ‫ي‬ َ ‫ض‬ ِ ‫ان َر‬
ٍ ‫س‬َ ْ‫ار َوالَّذِينَ ات َّ َبعُو ُه ْم ِبإِح‬
ِ ‫ص‬ ِ ‫َوالسَّا ِبقُونَ ْاْل َ َّولُونَ ِمنَ ْال ُم َه‬
َ ‫اج ِرينَ َو ْاْل َ ْن‬
‫ار خَا ِلدِينَ فِي َها أَبَدًا ۚ َٰذَلِكَ ْالفَ ْو ُز ْالعَ ِظي ُم‬
ُ ‫تَحْ ت َ َها ْاْل َ ْن َه‬

11
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang
Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada
mereka dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di
dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [at-
Taubah/9 ayat 100].

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap
orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah
mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan
memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). [al-Fath/48 ayat
18].

15. Mencintai para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti iman, dan membenci
mereka berarti kemunafikan.
Ath-Thahâwi dalam ‘Aqidah-nya mengatakan: “Kami (yakni Ahlus Sunnah wal-Jama’ah)
menyintai sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kami tidak berlebih-lebihan dalam
menyintai salah seorang dari mereka. Dan kami tidak berlepas diri dari mereka. Kami membenci
orang yang membenci mereka dan yang menyebut mereka dengan sebutan yang tidak baik. Kami
tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Menyintai mereka adalah ketaatan, keimanan
dan kebaikan, sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan dan kesesatan”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‫ار‬
ِ ‫ص‬َ ‫ض ْاْل َ ْن‬ ِ ‫ َوآيَةُ النِفَا‬،‫ار‬
ُ ‫ق بُ ْغ‬ ِ ‫ص‬َ ‫ان حُبُّ ْاْل َ ْن‬ ِ ْ ُ‫آيَة‬
ِ ‫اْلي َم‬

Tanda keimanan ialah mencintai kaum Anshar, dan tanda kemunafikan ialah membenci kaum
Anshar.[16]

Demikian, masih banyak lagi faktor lain yang membuat mereka lebih istimewa dan lebih utama
dibandingkan dengan kaum muslimin lainnya. Namun demikian, Ahlus Sunnah wal-Jama’ah
juga tidak mengatakan para sahabat Nabi itu ma’shum dari kesalahan. Ahlus Sunnah wal-

12
Jama’ah juga tidak berlebih-lebihan dalam menyikapinya sebagaimana halnya kaum Syi’ah
Rafidhah yang menuhankan Ali bin Abi Thalib Rdhiyallahu anhu. Bahkan yang Allah
Subhanahu wa Ta’ala perintahkan, ialah memuliakan mereka, menjaga hak-hak mereka,
memohonkan ampunan bagi mereka, dan mengucapkan doa bagi mereka dengan kalimat
“radhiyallahu ‘anhum (semoga Allah meridhai mereka semua).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya:

َ‫ان َو ََل تَجْ َع ْل ِفي قُلُو ِبنَا ِغ ال ِللَّ ِذينَ آ َمنُوا َر َّبنَا ِإنَّك‬ َ َ‫َوالَّذِينَ َجا ُءوا ِم ْن َب ْع ِد ِه ْم َيقُولُونَ َر َّبنَا ا ْغ ِف ْر لَنَا َو ِ ِْل ْخ َوا ِننَا الَّذِين‬
ِ ْ ‫س َبقُونَا ِب‬
ِ ‫اْلي َم‬
‫وف َر ِحي ٌم‬
ٌ ‫َر ُء‬

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya
Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari
kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang
yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang”.
[al-Hasyr/59 ayat 10].

Maraji`:
1. Al-Fâizûna bi Du’aain-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karya Taufiq Umar Sayyidi.
2. Al-Fushul fi Sîratir-Rasûl, Ibnu Katsir, Takhrîj: Syaikh Sâlim bin ‘Id al-Hilâli.
3. Al-Ibanah Lima lish-Shahabah minal-Manzilah wal-Makânah, Hamd bin ‘Abdillah bin
‘Ibrâhim al- Humaidi.
4. Fathul-Bâri, Ibnu Hajar al-Asqalâni.
5. Madârikun-Nazhar fis-Siyâsah Syar’iyyah, ‘Abdul Malik ar-Ramadhâni.
6. Nawâqidhul-Imân, Dr. ‘Abdul-‘Aziz bin Muhammad bin ‘Ali ‘Abdul-Lathîf.
7. Sirah Shahîhah, Dr. Dhiyâ’ Akram al-‘Umari.
8. Tahdzib Bidâyah wan-Nihâyah, Muhammad bin Shamil as-Sulami.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-
858197 Fax 0271-858196]

13
_______
Footnote
[1]. Dinukil oleh Ibnu Abi Ya’lâ dalam ath-Thabaqât (I/243), dengan sanadnya dari Imam
Ahmad. Al-Khathîb al-Baghdâdi dalam al-Kifâyah, halaman 51. Juga disebutkan oleh Ibnu
Taimiyyah dalam Majmu’ Fatâwâ (20/298), bahwasanya Imam Malik mengucapkan perkataan
seperti itu.
[2]. HR al-Bukhâri, 3651, dan Muslim, 2533.
[3]. HR Muslim, 2536.
[4]. HR Muslim (2531), dari Abu Musâ al-Asy’ari Radhiyallahu anhu
[5]. HR al-Bukhâri (2835) dan Muslim (1805). Lafazh di atas adalah lafazh Muslim.
[6]. HR al-Bukhâri (3797) dan Muslim (1804). Lafazh di atas adalah lafazh Muslim.
[7]. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Fadhâ`il, 15 dan 20. Ibnu Mâjah (162), Ibnu Abi
‘Ashim dalam as-Sunnah (104). Seluruhnya dari jalur ats-Tsauri dari Nusair az-Za’lûq, ia
berkata: “Saya mendengar ‘Umar berkata…”. Sanadnya shahîh.
[8]. Perkataan senada juga diriwayatkan dengan penuturan di atas oleh Ibnu ‘Abdil-Bar dalam
Jâmi’ al-Bayân (II/97), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, dari Ibnu Umar c (I/305).
[9]. HR Ahmad dan lainnya. Riwayat ini derajatnya hasan.
[10]. Silakan baca buku al-Fâizûnâ bi Du’âin-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Orang-orang
yang beruntung mendapat doa dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam), karya Taufiq Umar as-
Sayyidi.
[11]. HR Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu.
[12]. HR Abu Dawud dan lainnya dari banyak jalur dari sejumlah sahabat nabi, dan dishahîhkan
oleh al-Albâni.
[13]. HR Muslim dari hadits Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallahu anhu.
[14]. HR Muslim (2540), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[15]. Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul-Kabi (XII/142), Ibnu Abi ‘Ashim dalam
as-Sunnah (II/483), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (VII/103) dan dihasankan oleh al-Albâni dalam
ash-Shahîhah (2340).
[16]. HR al-Bukhâri, dari hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.

14
4. Keutamaan ahlul bait

[1]. Allah Telah Menyucikan Mereka


Imam Muslim telah meriwayatkan dari jalan Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Bahwa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar, kemudian datang Hasan bin Ali
Radhiyallahu ‘anhuma dan memasukkannya bersamanya, kemudian datang Husain dan
beliau memasukkanya pula, kemudian datang Fathimah Radhiyallahu ‘anhuma dan beliau
memasukkan bersamanya, kemudian datang Ali Radiyallahu ‘anhuma dan beliau
memasukkannya pula, kemudian beliau membaca ayat.

“Artinya : … Sesungguhnya Allah bermaksud untuk menghilangkan dosa dari kamu, hai
ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” [Al-Ahzab : 33]

[2]. Pilihan Allah


Nasab ahlul bait merupakan nasab yang paling mulia, karena dari keturunan orang-orang
pilihan. Cermatilah hadits berikut.

“Artinya : Dari Watsilah bin Asyqo Radhiyallahu ‘anhu berkata : Aku mendengar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah memilih
Kinanah dari keturunan Isma’il dan Allah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah.
Allah memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan Allah memilih aku dari keturunan Bani
Hasyim” [HR Muslim : 2276]

[3]. Berhak Mendapat Seperlima Harta Ghonimah Dan Harta Fa’i[3]


Allah berfirman.

“Artinya : Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan
perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak
yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil” [Al-Anfal : 41]

15
Firman Allah tentang harta fa’i.

“Artinya : Apa saja harta rampasan fa’i yang diberikan Allah kepada rasul-Nya yang berasal dari
penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, rosul, kerabat rosul, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan…[Al-Hasyr : 7]

[4]. Tidak Halal Meneriman Shadaqah


Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwasanya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya shadaqah itu tidak pantas bagi keluarga Muhammad, hanyalah
shadaqah itu untuk orang-orang yang kotor”[4] [HR Muslim : 1072]

[5]. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Berwasiat Kepada Mereka


Imam Muslim telah meriwayatkan dari jalan Yazid bin Hayyan dia berkata : Aku pernah pergi
bersama Husain bin Sabroh dan Umar bin Muslim menuju rumah Zaid bin Arqom Radhiyallahu
‘anhu. Tatkala kami telah duduk di sisinya, Husain berkata : “Wahai Zaid, sungguh engkau telah
meraih kebaikan yang banyak, engkau telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mendengar hadits-hadits beliau, pernah berperang bersama beliau, dan shalat dibelakang beliau.
Sungguh engkau telah meraih kebaikan yang banyak, ceritakanlah kami hadits Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam wahai Zaid!”. Zaid Radhiyallahu ‘anhu menjawab : “Wahai anak
saudaraku, demi Allah aku sekarang sudah tua, masaku telah lewat, aku pun telah lupa sebagian
yang aku hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaih wa sallam maka apa yang aku ceritakan
kepadamu terimalah, dan apa yang tidak aku ceritakan maka janganlah kalian mebebaniku”.
Kemudian Zaid berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah di hadapan
kami pada suatu hari, beliau memuji Allah, menasehati, dan setelah itu beliau bersabda :
“Ketahuilah wahai sekalian manusia, aku hanyalah manusia biasa, hampir datang seorang utusan
Rabbku dan aku akan memenuhinya, aku tinggalkan kalian dua pedoman, yang pertama
Kitabullah, didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambilah Kitabullah itu, berpegang
teguhlah. Lalu beliau melanjutkan : “Dan terhadap ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah
tentang ahli baitku”, beliau mengulang ucapannya sampai tiga kali”. Husain berkata : “Siapa ahli

16
bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahai Zaid? Bukankah istri-istrinya termasuk ahli
baitnya?” Zaid Radhiyallahu ‘anhu menjawab : “Ya, istri-istri beliau termasuk ahli bait Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ahli baitnya adalah orang-orang yang haram menerima
shadaqah setelahnya” [HR Muslim : 2408]

[6]. Nasab Mereka Tidak Terputus Hingga Hari Kiamat


Berdasarkan hadits.

“Artinya : Semua sebab dan nasab akan terputus pada hari Kiamat kecuali sebabku dan nasabku”
[HR Thobari dalam Mu’jam Kabir 3/129/1, Harowi dalam Dzammul Kalam 2/108. Syaikh Al-
Albani berkata dalam Ash-Shohihah 5/64 : Kesimpulannya, hadits ini dengan keseluruhan jalan-
jalannya adalah shahih] [5]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Tidak perlu diragukan wasiat untuk berbuat
baik kepada ahli bait dan pengagungan kepada mereka, karena mereka dari keturunan yang suci,
terlahir dari rumah yang paling mulia di muka bumi ini secara kebanggaan dan nasab. Lebih-
lebih apabila mereka mengikuti sunnah nabawiyyah yang shahih, yang jelas, sebagaimana yang
tercermin pada pendahulu mereka seperti Al-Abbas dan keturunannya, Ali dan keluarga serta
keturunannya, semoga Allah meridhoi mereka semua” [Tafsir Ibnu Katsir 4/113]

[Disalin dari Majalan Al-Furqon Edisi 08 Tahun VI/Robi’ul Awal 1428 [April 2007]. Rubrik
Tazkiyatun Nufus. Diterbitkan Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat Maktabah Ma’had
Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]
__________
Foote Note
[1]. Lihat dalil-dali masalah ini dalam Fadhl Ahli Bait wa Uluwwi Makanatihin inda Ahlus
Sunnah wal Jama’ah oleh Syaikh Al-Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad.
[2]. Ulama Ahlus Sunnah telah sepakat akan keutamaan ahli bait dan dibencinya mencela
mereka, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ali Al-Qari dalam Syarh Al-Misykah 5/602
[3]. Yang dimaksud dengan rampasan perang (ghonimah) ialah harta yang diperoleh dari orang-
orang kafir dengan melalui pertempuran, sedang yang diperoleh tidak dengan pertempuran

17
dianamakan fa’i.
[4]. Penyebab ahli bait haram menerima shadaqah, karena ahli bait telah Allah muliakan dan
Allah sucikan dari segala kotoran. Sedangkan shadaqah untuk membersihkan harta dan jiwa
manusia. (Syarah shahih Muslim 7/178]
[5]. Dalam sebagian jalan hadits, dseibutkan bahwa hadits ini di antara salah satu penyebab
mengapa umar berkeinginan untuk menikah dengan Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib.
(Fadhl Ahli Bait hal. 62]

5. Sikap ahlusunnah terhadap ahlul bait

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah sebagai salah seorang tokoh terkenal Ahlus
Sunnah, mengatakan bahwa : “Ahlus Sunah menyintai dan memberikan pembelaan kepada Ahlu
Bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta memelihara wasiat Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam tentang keharusan menyintai Ahlul Bait yang disampaikan di Ghadir Khum”,
kemudian beliau memaparkan dalil-dalilnya. [22]

Imam Muslim dalam Kitab Shahihnya meriwayatkan hadits dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu
‘anhu ketika di tanya oleh Hushain bin Sabrah (seorang Tabi’i). Zaid bin Arqam mengatakan :

: ‫”أ َ َّما بَ ْع ُد‬: ‫ع َظ َوذَك ََّر ث ُ َّم َقا َل‬


َ ‫ َو َو‬،‫ع َل ْي ِه‬ َ ‫ بَ ْينَ َمكَّةَ َوا ْل َم ِد ْي َنة فَح َِم َد هللاَ َوأَثْنَى‬،‫ ِب َماءٍ يُ ْدعَى ُخ ًّما‬،‫س ْو ُل هللاِ يَ ْو ًما فِ ْي َنا َخ ِط ْيبًا‬ ُ ‫قَا َم َر‬
‫اب هللاِ ِف ْي ِه ا ْل ُهدَى‬ُ َ‫ أ َ َّولُ ُه َما ِكت‬: ‫ َوأَنا َ تَاِركٌ ِف ْي ُك ْم ثَ َق َلي ِْن‬،‫ْب‬
َ ‫س ْو ُل َر ِبي َفأ ُ ِجي‬ ُ ‫شكُ أ َ ْن َيأ ْ ِت َي َر‬
ِ ‫اس ! َف ِإنَّ َما أَنَا َبش ٌَر يُ ْو‬
ُ َّ‫أَالَ أَ ُّيهَا الن‬
،‫ أُذَ ِك ُر ُك ُم هللاَ فِي أَ ْه ِل بَ ْيتِي‬،‫ “ َوأ َ ْه ُل بَ ْيتِي‬: ‫ ث ُ َّم قَا َل‬،‫ب فِ ْي ِه‬ َّ ‫ب هللاِ َو َر‬
َ ‫غ‬ ِ ‫علَي ِكتَا‬ َّ ‫ فَح‬.”‫سك ُْوا بِ ِه‬
َ ‫َث‬ ِ ‫ستَ ْم‬ ِ ‫َوالنُّ ْو ُر َف ُخذُ ْوا بِ ِكتَا‬
ْ ‫ب هللاِ َوا‬
‫سا ُؤهُ ِم ْن أ َ ْه ِل بَ ْيتِ ِه؟‬ َ ‫ َو َم ْن أ ْه ُل بَ ْيتِ ِه ؟ يَا َز ْي ُد ! أَلَي‬: ٌ‫ص ْين‬
َ ِ‫ْس ن‬ َ ‫ فَ َقا َل لَهُ ُح‬.”‫ أُذَ ِك ُر ُك ُم هللاَ فِي أ َ ْه ِل بَ ْيتِي‬،‫أُذَ ِك ُر ُك ُم هللاَ فِي أَ ْه ِل بَ ْيتِي‬
‫ع ِق ْي ٍل َوآ ُل َج ْعفَر‬ َ ‫ ُه ْم آ ُل‬: ‫ َو َم ْن ُه ْم؟ َقا َل‬: ‫ قَا َل‬.ُ‫ص َدقَةَ بَ ْع َده‬
َ ‫ع ِلي ٍ َوآ ُل‬ َّ ‫ َولَ ِك ْن أ َ ْه ُل يَ ْبتِ ِه َم ْن ُح ِر َم ال‬،‫سا ُؤهُ ِم ْن أ َ ْه ِل بَ ْيتِ ِه‬
َ ِ‫ ن‬: ‫قَا َل‬
‫ نَعَ ْم‬: ‫ص َدقَةَ؟ قَا َل‬
َّ ‫ ُك ُّل َه ُؤالَ ِء ُح ِر َم ال‬: ‫ قا َ َل‬.‫اس‬
ٍ َّ‫عب‬
َ ‫َوآ ُل‬

Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di hadapan kami, di


samping sebuah mata air di suatu tempat yang disebut Khum, (terletak) di antara Mekah dan
Madinah. Maka beliau membaca hamdalah dan memuji Allah. Beliau memberikan nasihat dan
memberikan peringatan. Kemudian beliau bersabda : “Amma ba’du : Ketahuilah wahai manusia!
Saya hanyalah seorang manusia, siapa tahu utusan Rabbku segera datang memanggilku lalu
akupun menyambutnya. Saya tinggalkan kepada kalian dua hal besar : Yang pertama : Kitab

18
Allah. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Maka ambillah Kitab Allah itu dan pegangilah
ia dengan kuat”. Maka beliau menekankan untuk berpegang pada Kitabullah dan mendorong
untuk bersemangat berpegang padanya. Kemudian beliau berkata lagi : “Dan Ahli Baitku, saya
ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahli Baitku, saya ingatkan kalian kepada Allah tentang
Ahli Baitku, saya ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahli Baitku”. Kemudian Hushain (bin
Sabrah) berkata kepada Zaid (bin Arqam) : “Siapakah Ahli Baitnya?, Wahai Zaid, bukankah
isteri-isteri beliau termasuk Ahli Baitnya?” Zaid menjawab : “Isteri-isteri beliau memang
termasuk Ahli Baitnya, namun Ahli baitnya (yang dimaksudkan-pen) ialah orang yang
diharamkan shadaqah (zakat) bagi mereka sepeninggal Nabi”. Hushain bertanya : Siapakah
mereka?. Zaid menjawab : Mereka ialah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan
keluarga Abbas. Hushain bertanya : Mereka semua diharamkan menerima shadaqah?. Zaid
menjawab : Ya. [Shahih Muslim, Syarh Nawawi. Tahqiq Khalil Ma’mun Syiha XV/174-175]

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (juga seorang tokoh Ulama Ahlu Sunnah
zaman sekarang yang telah meninggal dunia) rahimahullah, ketika menjelaskan perkatan
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Aqidah al-Wasithiyah tentang sikap Ahlu Sunnah
terhadap Ahlul Bait, mengatakan :
“Di antara prinsip Ahlu Sunnah wal Jama’ah ialah bahwa mereka menyintai Ahli Bait Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ahlu Sunnah menyintai Ahlil Bait karena dua hal :
1. Karena Keimanan Ahlul Bait,
2. karena kekerabatannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka kita tegaskan, bahwa kita bersaksi dihadapan Allah, sesungguhnya kita menyintai
Ahli Bait dan keluarga dekat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita mencintai mereka
dalam rangka cinta kepada Allah dan kepada Rasul-Nya” [23]

6. Sikap ahlusunnah terhadap sahabat nabi

Termasuk dari prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah yaitu menjaga hati dan lisan mereka
terhadap para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka menerima apa yang
datang dari Al-Qur-an, As-Sunnah dan Ijma’ tentang keutamaan-keutamaan dan kedudukan
mereka. Ahlus Sunnah juga mengakui keutamaan seluruh Sahabat, karena mereka (para Sahabat

19
Radhiyallahu anhum) adalah ummat yang paling tinggi akhlak dan perangainya. Meskipun
demikian Ahlus Sunnah tidak melewati batas terhadap para Sahabat, dan mereka tidak
mempunyai keyakinan tentang kema’shuman para Sahabat, bahkan mereka melaksanakan hak-
hak para Sahabat dan mencintainya, karena mereka mempunyai hak yang besar atas seluruh
ummat ini, kita dianjurkan untuk mendo’akan mereka.

Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan:

‫ان َو ََل تَجْ َع ْل ِفي قُلُو ِبنَا ِغ ال ِللَّذِينَ آ َمنُوا َر َّبنَا‬ َ َ‫َوالَّذِينَ َجا ُءوا ِمن َب ْع ِد ِه ْم َيقُولُونَ َر َّبنَا ا ْغ ِف ْر لَنَا َو ِ ِْل ْخ َوا ِننَا الَّذِين‬
ِ ْ ‫س َبقُونَا ِب‬
ِ ‫اْلي َم‬
ٌ ‫ِإنَّكَ َر ُء‬
‫وف َّر ِحي ٌم‬

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) berdo’a: ‘Ya Rabb kami,
ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang lebih dahulu beriman dari kami, dan janganlah
Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb
kami, sesungguhnya Engkau Mahapenyantun lagi Mahapenyayang.’” [Al-Hasyr: 10][2]

Do’a ini adalah do’anya orang-orang yang mengikuti kaum Muhajirin dan Anshar dengan
kebaikan, yang menunjukkan atas kesempurnaan cinta mereka kepada para Sahabat Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga sanjungan mereka terhadapnya. Sesungguhnya orang yang
pertama kali masuk dalam do’a ini adalah para Sahabat Radhiyallahu anhum, merekalah yang
terlebih dahulu beriman, dan mereka pula yang telah mewujudkan keimanan tersebut.

Ayat tersebut menafikan (meniadakan) kedengkian (kebencian) dari semua segi. Hal ini
menunjukkan tentang kesempurnaan cinta mereka kepada Sahabat. Ahlus Sunnah mencintai para
Sahabat karena Allah dan Rasul-Nya memerintahkan untuk mencintai mereka yang lebih dahulu
beriman, dan mendapat kehormatan menemani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga karena
mereka telah berbuat baik kepada seluruh ummat dan karena merekalah yang menyampaikan
semua yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa saja yang sampai kepada
kaum Muslimin, apakah ilmu atau kebaikan, itu hanya dengan perantaraan mereka.[3]

20
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras ummat Islam mencaci maki para
Sahabat Radhiyallahu anhum, sebagaimana sabda beliau:

ِ ‫ي نَ ْف ِس ْي بِيَ ِد ِه لَ ْو أ َ َّن أ َ َحدَ ُك ْم أ َ ْنفَقَ ِمثْ َل أ ُ ُح ٍد ذَ َهبًا َما بَلَ َغ ُمدَّ أ َ َح ِد ِه ْم َوَلَ ن‬
ُ‫َص ْيفَه‬ ْ ‫ فَ َوالَّ ِذ‬،‫ص َحابِ ْي‬
ْ َ ‫سب ُّْوا أ‬
ُ َ ‫َلَ ت‬.

“Jangan kalian mencaci Sahabatku!! Demi Rabb Yang diriku berada di tangan-Nya, jika
seandainya salah seorang dari kalian memberikan infaq emas sebesar gunung Uhud, maka
belumlah mencapai nilai infaq mereka meskipun (mereka infaq hanya) satu mudd (yaitu sepenuh
dua telapak tangan) dan tidak juga separuhnya.” [4]

Juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

ِ َّ‫ َوالن‬،‫ َو ْال َملَئِ َك ِة‬،ِ‫ فَعَلَ ْي ِه لَ ْعنَةُ هللا‬،‫ص َحا ِبي‬
َ‫اس أَجْ َم ِعيْن‬ ْ َ‫سبَّ أ‬
َ ‫ َم ْن‬.

“Barangsiapa mencaci-maki Sahabatku, maka baginya laknat Allah, Malaikat, dan manusia
seluruhnya!!!” [5]

Maka, wajib atas ummat Islam untuk taat kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam setiap perkara, khususnya dalam masalah ini (memuliakan para Sahabat Radhiyallahu
anhum), dan hendaklah mereka menghormati serta memuliakannya, dan Ahlus Sunnah meyakini
bahwa sedikit saja dari amal mereka (Sahabat) itu mengalahkan amal yang banyak dari
selainnya, sebagaimana dalam hadits di atas. Dan ini bukti yang besar atas keutamaan para
Sahabat dari selain mereka.

Kata ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma: “Janganlah kalian mencaci para
Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berdirinya mereka sesaat bersama Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dari ibadah seorang dari kalian sepanjang umurnya.” [6]

Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah


menyebutkan tentang keutamaan yang banyak atas para Sahabat dibandingkan ummat-ummat

21
yang lain. Maka, wajib atas umat ini untuk mengimani tentang keutamaan Sahabat dan mencintai
mereka karenanya.

Ahlus Sunnah meyakini tentang orang-orang yang dijamin masuk Surga sebagaimana
Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Al-Qur-an surat at-Taubah: 100 dan juga dalam
surat al-Hadiid: 10.[7]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

‫َّللاُ ْال ُح ْسن ََٰى‬


َّ َ‫َو ُك ال َو َعد‬

“Semuanya Allah janjikan Surga” [Al-Hadiid: 10]

Maksudnya orang-orang yang masuk Islam, berperang, dan berinfaq sebelum Fat-hu
Makkah maupun sesudahnya, semuanya Allah jamin masuk Surga. Hal ini menunjukkan
keutamaan para Sahabat semuanya Radhiyallahu anhum. Allah saksikan keimanan mereka dan
Allah jamin masuk Surga.[8]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan Sahabat-Sahabat yang masuk


Surga seperti sepuluh orang yang dijamin masuk Surga [9] , Sahabat Tsabit bin Qais bin
Syammasy [10] dan selain mereka dari Sahabat (seperti Ummahatul Mu’minin, Bilal bin Rabah,
‘Abdullah bin Sallam: ‘Ukkasyah bin Mihshan, Sa’ad bin Mu’adz dan selain mereka
Radhiyallahu anhum). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan tentang orang
yang ikut perang Badar dan Hudaibiyyah bahwa mereka tidak akan masuk Neraka. Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

َ‫ش ِهدَ َبدْرا ً َو ْال ُحدَ ْي ِبيَّة‬ َ َّ‫لَ ْن َيدْ ُخ َل الن‬.


َ ‫ار َر ُج ٌل‬

“Tidak akan masuk Neraka seseorang yang ikut hadir dalam perang Badar dan perjanjian
Hudaibiyyah.” [11]

22
Hal tersebut merupakan sebesar-besar keutamaan, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam mengkhususkan kepada mereka persaksiannya dengan Surga. Dan ini termasuk bukti
dari sejumlah risalah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sesungguhnya setiap orang yang
ditentukan dan dijamin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk Surga dengan ketentuan-
ketentuannya, maka mereka akan tetap istiqamah di atas iman, sehingga mereka mendapatkan
apa yang telah dijanjikan kepada mereka, mudah-mudahan Allah meridhai mereka semua.

Ahlus Sunnah menerima dan menetapkan apa yang diriwayatkan secara mutawatir dari
Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib [12] dan yang lainnya, bahwa sebaik-baik orang dari
ummat ini sesudah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar [13], ‘Umar,
‘Utsman dan ‘Ali, Radhiyallahu anhum. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh atsar dan ijma’ para
Sahabat Radhiyallahu anhum yang mendahulukan ‘Utsman Radhiyallahu anhu dalam bai’at.

Khilafah salah seorang dari keduanya (‘Utsman dan ‘Ali Radhiyallahu anhuma) tidak
akan terjadi melainkan setelah musyawarah seluruh kaum Muslimin, menurut perbedaan
tingkatan mereka dan kisah ini masyhur dalam kitab-kitab taariikh (sejarah).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwasanya khalifah sesudah Rasulullah


Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar: ‘Umar: ‘Utsman, dan ‘Ali Radhiyallahu anhum.
Barangsiapa yang mencela atau tidak membenarkan tentang kekhilafahan salah seorang dari
mereka, maka dia lebih sesat daripada keledai piaraannya.[14]

Ahlus Sunnah senantiasa setia dan cinta kepada Ahlul Bait. Sesuai wasiat Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya:

‫ أُذَ ِك ُر ُك ُم هللاَ فِ ْي أَ ْه ِل َب ْيتِ ْي‬،‫ أُذَ ِك ُر ُك ُم هللاَ فِي أَ ْه ِل َب ْيتِ ْي‬،‫أُذَ ِك ُر ُك ُم هللاَ فِي أ َ ْه ِل َب ْيتِ ْي‬.

“Sesungguhnya aku mengingatkan kalian terhadap Ahlul Baitku (keluargaku), sesungguhnya aku
mengingatkan kalian terhadap Ahlul Baitku (keluargaku), sesungguhnya aku mengingatkan
kalian terhadap Ahlul Baitku (keluargaku).” [15]

23
Yang termasuk Ahlul Bait (keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah
isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa allam, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

‫ض َوقُ ْلنَ قَ ْو ًَل َّم ْع ُروفًا َوقَ ْرنَ فِي‬ ٌ ‫ط َم َع الَّذِي فِي قَ ْلبِ ِه َم َر‬
ْ َ‫ض ْعنَ بِ ْالقَ ْو ِل فَي‬
َ ‫اء ۚ إِ ِن اتَّقَ ْيت ُ َّن فَ َل ت َْخ‬
ِ ‫س‬ َ ِ‫سا َء النَّبِي ِ لَ ْست ُ َّن َكأ َ َح ٍد ِمنَ الن‬َ ِ‫يَا ن‬
َ ‫َّللاُ ِليُذْه‬
‫ِب َعن ُك ُم‬ َّ ُ‫سولَهُ ۚ إِنَّ َما ي ُِريد‬ َّ َ‫الزكَاةَ َوأ َ ِط ْعن‬
ُ ‫َّللاَ َو َر‬ َّ َ‫ص َلة َ َوآتِين‬ َّ ‫بُيُو ِت ُك َّن َو ََل تَبَ َّرجْ نَ تَبَ ُّر َج ْال َجا ِه ِليَّ ِة ْاْلُولَ َٰى ۖ َوأَقِ ْمنَ ال‬
ً ‫ط ِه َر ُك ْم ت َْط ِه‬
‫يرا‬ ِ ‫س أَ ْه َل ْالبَ ْي‬
َ ُ‫ت َوي‬ َ ْ‫الرج‬
ِ

“Wahai para isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa.
Maka janganlah kamu tunduk (merendahkan suara) ketika berbicara sehingga berkeinginan
(buruk)lah orang berpenyakit di dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan
hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti
orang-orang Jahiliyyah dahulu, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-
Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa darimu, wahai Ahlul Bait dan
membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [Al-Ahzaab: 32-33]

Karena mereka adalah Ummahaatul Mu’-miniin (ibu-ibu kaum Mukminin), serta


meyakini bahwasanya mereka adalah isteri-isteri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat
nanti. Pada prinsipnya Ahlul Bait (keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) itu adalah
saudara-saudara dekat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang dimaksud di sini
adalah yang shalih di antara mereka. Sedangkan saudara-saudara dekat yang tidak shalih seperti
pamannya, Abu Thalib, Abu Lahab, maka mereka tidak memiliki hak sama sekali!

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ٍ ‫َّت يَدَا أَ ِبي لَ َه‬


َّ‫ب َوتَب‬ ْ ‫تَب‬

“Celaka kedua tangan Abu Lahab dan sungguh celaka dia.” [Al-Lahab: 1]

Maka, sekedar hubungan darah yang dekat dan bernisbat kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam tanpa keshalihan dan ketaqwaan dalam menjalankan syari’at Islam, tidak ada
manfaat baginya sedikit pun di hadapan Allah l!

24
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ُ ‫ َيا َعب‬،‫ َيا َب ِن ْي َع ْب ِد َمنَافٍ َلَ أ ُ ْغ ِني َع ْن ُك ْم ِمنَ هللاِ َش ْيئًا‬،‫ش ْيئًا‬
‫َّاس بْنَ َع ْب ِد‬ َ ِ‫س ُك ْم َلَ أ ُ ْغ ِني َع ْن ُك ْم ِمنَ هللا‬
َ ُ‫َيا َم ْعش ََر قُ َري ٍْش ا ْشت َُر ْوا أ َ ْنف‬
َّ ‫صلَّى‬
ُ‫َّللا‬ َ ‫اط َمةُ بِ ْنتَ ُم َح َّم ٍد‬ َ ِ‫س ْو ِل هللاِ َلَ أ ُ ْغنِي َع ْن ِك ِمنَ هللا‬
ِ َ‫ يَا ف‬،‫ش ْيئ ًا‬ ُ ‫ص ِفيَّةُ َع َّمةَ َر‬
َ ‫ يَا‬،‫ش ْيئًا‬َ ِ‫ب َلَ أ ُ ْغنِي َع ْنكَ ِمنَ هللا‬ َّ ‫ْال ُم‬
ِ ‫ط ِل‬
َ ِ‫سلَّ َم… َلَ أ ُ ْغنِي َع ْن ِك ِمنَ هللا‬
‫ش ْيئًا‬ َ ‫ َعلَ ْي ِه َو‬.

“Hai kaum Quraisy, belilah diri-diri kalian, sebab aku tidak dapat memberi kalian manfaat di
hadapan Allah sedikit pun. Wahai Bani ‘Abdu Manaf, aku tidak dapat memberimu man-faat di
hadapan Allah sedikit pun. Wahai ‘Abbas anak dari ‘Abdul Muththalib, aku tidak dapat
memberikan manfaat apapun di hadapan Allah. Wahai Shafiyyah bibi Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, aku tidak dapat memberimu manfaat apapun di hadapan Allah. Wahai
Fathimah anak Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mintalah (dari hartaku) sesukamu, aku
tidak dapat memberimu manfaat apapun bagimu di hadapan Allah.” [16]

Saudara-saudara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shalih tersebut


mempunyai hak atas kita berupa penghormatan, cinta dan penghargaan, namun kita tidak boleh
berlebih-lebihan terhadap mereka dengan mendekatkan diri dengan suatu ibadah kepadanya.
Adapun keyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memberi manfaat atau mudharat
selain dari Allah adalah bathil. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak kuasa
memberikan manfaat dan menolak bahaya. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak
mengetahui perkara yang ghaib -kecuali yang diberitahukan Allah- apalagi orang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

َ ‫قُ ْل ِإنِي ََل أ َ ْم ِلكُ لَ ُك ْم‬


َ ‫ض ارا َو ََل َر‬
‫شدًا‬

“Katakanlah (hai Muhammad): ‘Bahwasanya aku tidak kuasa mendatangkan kemudharatan dan
manfaat bagi kalian.” [Jin: 21]

‫ي السُّو ُء‬ َّ ‫ْب ََل ْستَ ْكث َ ْرتُ ِمنَ ْال َخي ِْر َو َما َم‬
َ ‫س ِن‬ َ ‫َّللاُ ۚ َولَ ْو ُكنتُ أ َ ْعلَ ُم ْالغَي‬ َ ‫قُل ََّل أ َ ْم ِلكُ ِلنَ ْفسِي نَ ْفعًا َو ََل‬
َّ ‫ض ارا إِ ََّل َما شَا َء‬

25
“Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak
(pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah, dan sekiranya aku mengetahui
yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa
kemudharatan.’” [Al-A’raaf: 188]

Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja demikian, maka bagaimana pula
dengan yang lainnya. Jadi apa yang diyakini sebagian manusia terhadap kerabat Rasul bahwa
mereka dapat memberi manfaat dan menolak bahaya, semua itu adalah suatu keyakinan yang
bathil! [17]

Mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) berlepas diri dari sikap dan cara orang-orang
Rafidhah, di mana mereka membenci para Sahabat Radhiyallahu anhum dan mencaci-maki
mereka. Dan Ahlus Sunnah juga berlepas diri dari sikap dan cara orang-orang Nawashib, yang
mereka menyakiti Ahlul Bait dengan perkataan dan perbuatan mereka.

Mereka (Ahlus Sunnah) bersikap menahan diri dari perselisihan yang terjadi di antara
para Sahabat, dan mereka berkata: “Sesungguhnya riwayat-riwayat tentang hal kejelekan yang
terjadi di antara mereka ada yang dusta (bohong), ada yang ditambah dan ada pula yang
dikurangi, serta ada juga yang diselewengkan dari yang sebenarnya. Sedangkan dalam riwayat
yang shahih mereka adalah dimaafkan, karena mereka adalah orang-orang yang berijtihad yang
bisa benar dan bisa pula salah. Meskipun demikian, Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak
mempunyai i’tiqaad (keyakinan) bahwa setiap individu Sahabat adalah ma’shum dari dosa-dosa
besar atau kecil, bahkan bisa saja di antara mereka ada yang melakukan dosa-dosa sebagaimana
umumnya anak Adam berbuat dosa, akan tetapi mereka itu punya kelebihan, yaitu lebih dahulu
beriman dan mempunyai keutamaan yang dapat menghapuskan dosa-dosa yang timbul dari
mereka, kalau hal tersebut ada, sehingga mereka diberikan ampunan atas kesalahan-kesalahan
yang tidak dimiliki oleh orang-orang sesudahnya.

Banyak hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih yang menjelaskan,
bahwa mereka adalah sebaik-baik manusia, ummat dan generasi. Bahkan satu mudd (ukuran dua

26
telapak tangan) yang diinfaqkan oleh salah seorang dari mereka, adalah lebih utama (lebih
unggul) daripada emas sebesar gunung Uhud, yang diinfaqkan oleh orang-orang sesudah mereka.

Perkara-perkara ini jika dibandingkan dengan kesalahan mereka, maka kesalahan-


kesalahan itu akan hapus dengan kebaikan yang sekian banyak, dan tidak ada seorang pun yang
dapat menyamai mereka Radhiyallahu anhum. Mudah-mudahan Allah l meridhai mereka semua.

Lalu jika timbul suatu perbuatan dosa dari salah seorang di antara mereka, maka bisa jadi
mereka itu sudah bertaubat atau berbuat sejumlah kebaikan yang hal itu dapat menghapuskan
dosa (kesalahan) itu, atau diampuni kesalahannya sebab mereka lebih dahulu dalam segala hal,
atau diampuni dengan sebab syafa’at Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka adalah
orang yang paling berhak untuk mendapatkan syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Atau
mereka diuji di dunia ini dengan ujian yang dapat menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka
itu. Apabila yang demikian berlaku pada dosa-dosa yang benar-benar terjadi, maka bagaimana
dalam perkara-perkara yang mereka ijtihadkan? Padahal kalau mereka benar, memperoleh dua
ganjaran, tetapi kalau mereka itu salah, mereka memperoleh satu ganjaran, semen-tara
kesalahannya itu juga terampuni.

Sesungguhnya jumlah (ukuran) yang diingkari dari perbuatan sebagian mereka (yang
tidak menyenangkan) sangat sedikit sekali, lagi pula dapat diampuni, jika dibandingkan dengan
keutamaan dan kebaikan-kebaikan mereka, yaitu iman kepada Allah dan Rasul-Nya, jihad, hijrah
di jalan Allah, membantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mempelajari ilmu yang
bermanfaat, dan beramal shalih serta lainnya.

Siapapun yang memperhatikan sirah (perikehidupan) para Sahabat serta keistimewaan-


keistimewaan yang dikaruniakan Allah kepada mereka dengan ilmu dan keyakinan yang benar,
maka ia akan mengetahui dengan yakin, bahwa mereka (para Sahabat) adalah sebaik-baik
manusia sesudah para Nabi, yang tidak pernah ada sebelumnya serta tidak akan ada lagi yang
seperti mereka. Mereka adalah orang-orang pilihan dari generasi ummat ini, mereka adalah
sebaik-baik ummat yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.

27
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‫اس قَ ْر ِن ْي ث ُ َّم الَّ ِذيْنَ َيلُ ْونَ ُه ْم ث ُ َّم الَّ ِذيْنَ َيلُ ْونَ ُه ْم‬
ِ َّ‫ َخي ُْر الن‬.

“Sebaik-baik manusia (generasi) adalah pada masaku (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) ini,
kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).”
[Muttafaqun ‘alaihi] [18]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir
Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga
1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Bahasan ini dapat dilihat dalam Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah, at-Tanbii-haatul
Lathiifah (hal. 89-97), Syarhul ‘Aqiidah al-Waasithiyyah, asy-Syarii’ah oleh Imam al-Ajurri,
Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah, Manhajul Imaam asy-Syafi’i fii Itsbaatil
‘Aqiidah, dan kitab-kitab lainnya.
[2]. Lihat At-Taubah: 100, al-Fat-h: 18 dan yang lainnya tentang keutamaan para Sahabat
Radhiyallahu anhum.
[3]. Lihat Syarhul ‘Aqiidah al-Waasithiyyah (hal. 237-238) oleh Khalil Hirras.
[4]. Hadits shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3673), Muslim (no. 2541), Abu Dawud (no.
4658), at-Tirmidzi (no. 3861), Ahmad (III/11), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (XIV/69 no.
3859) dan Ibnu Abi ‘Ashim (no. 988), dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu.
Lihat Fat-hul Baari (VII/34-36).
[5]. HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (XII/111 no. 12709), dari Sahabat Ibnu ‘Abbas c.
Hadits ini hasan, lihat Shahiihul Jaami’ish Shaghiir wa Ziyaadatuhu (no. 6285) dan Silsilatul
Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 2340).
[6]. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Fadhaa-ilush Shahaabah (no. 20), Ibnu Abi ‘Ashim (no.
1006) Ibnu Majah (no. 162) dengan sanad yang shahih. Dalam riwayat yang lain disebutkan:
“Lebih dari 40 tahun.” Lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 469) tahqiq Syaikh al-
Albani.

28
[7]. Lihat juga al-Qur-an surat al-Anfaal: 72, al-Fat-h: 29 dan al-Hasyr: 8-9.
[8]. Lihat Taisiirul Kariimir Rahman fii Tafsiir Kalaamil Mannan (hal. 909), cet. Mak-tabah al-
Ma’arif-1420 H.
[9]. Sepuluh orang Sahabat yang dinyatakan Rasulullah j masuk Surga adalah: Abu Bakar ash-
Shiddiq, ‘Umar bin al-Khaththab, ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Abdurrahman bin
‘Auf, az-Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, Abu ‘Ubaidah al-Jarrah
dan Thalhah bin ‘Ubaidillah g. Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4649-
4650), at-Tir-midzi (no. 3748, 3757), Ibnu Majah (no. 133-134), Ahmad (I/187-188, 1890), Ibnu
Abi ‘Ashim (no. 1428, 1431, 1433, 1436), al-Hakim (III/450). Lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-
Thahaawiyyah takhrij dan ta’liq oleh ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki dan Syu’aib al-
Arnauth (hal. 731) dan dengan tahqiq Syaikh al-Albani (no. 727), dimuat oleh beliau dalam
Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (II/531).
[10]. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 3613), Muslim (no. 119), dari
Sahabat Anas Radhiyallahu anhum.
[11]. HR. Ahmad (III/396), dari Sahabat Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhum, lihat Silsilatul
Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 2160).
[12]. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 3671), dari Muhammad bin Hanafiyah, ia berkata:
“Aku berkata kepada ayahku, yaitu ‘Ali bin Abi Thalib: ‘Siapakah ma-nusia yang paling baik
setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ ‘Ali bin Abi Thalib menjawab, ‘Abu Bakar.’
Aku berkata lagi: ‘Kemudian siapa?’ Dijawab: ‘’Umar.’ Dan aku khawatir ia akan mengatakan
‘Utsman. Aku bertanya lagi: ‘Kemudian engkau?’ ‘Ali menjawab: ‘Tidaklah aku melainkan
termasuk kaum Muslimin biasa.’” Lihat Shahiihul Bukhari (no. 3655), dari Sahabat Ibnu ‘Umar,
juga Fat-hul Baari (VII/33-34).
[13]. Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin Abi Qahafah, ‘Utsman bin ‘Amir al-Qurasyi Abu
Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu, pengganti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
termasuk orang yang pertama kali masuk Islam. Beliau dilahirkan dua setengah tahun setelah
‫( َعا ُّم ْال ِف ْي ِل‬tahun Gajah), dan menemani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik sebelum
maupun sesudah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi Rasul, menemani ketika hijrah,
dan ikut bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di setiap peperangan. Beliau adalah khalifah
yang pertama dan dijamin masuk Surga. Beliau Radhiyallahu anhu wafat tahun 13 H, pada usia
63 tahun.

29
[14]. Lihat Syarh ‘Aqidah Wasithiyyah (hal. 243) oleh Syaikh Khalil Hirras.
[15].HR. Muslim (no. 2408 (36)), dari Sahabat Zaid bin Arqam Radhiyallahu anhu.
Lanjutan riwayat tersebut adalah: Husain bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Wahai Zaid,
siapakah sebenarnya Ahlul Bait Nabi j?” Zaid bin Arqam berkata: “Isteri-isteri beliau j adalah
Ahlul Baitnya. Tetapi Ahlul Bait yang dimaksud ada-lah orang yang diharamkan menerima
shadaqah sepeninggal beliau j.” Husain ber-tanya: “Siapakah mereka?” Zaid bin Arqam
menjawab: “Mereka adalah keluarga ‘Ali, keturunan ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga
‘Abbas.” Husain bertanya: “Apa-kah mereka semua diharamkan untuk menerima shadaqah?”
Jawab Zaid: “Ya.”
[16]. HR. Al-Bukhari (no. 2753, 4771) dan Muslim (no. 206 (351)), dari Sahabat Abu Hurairah
Radhiyallahu anhu.
[17]. Lihat Min Ushuuli ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah oleh Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan
bin ‘Abdillah al-Fauzan.
[18]. At-Tanbiihaatul Lathiifah ‘ala Mahtawat ‘alaihil ‘Aqiidah al-Waasithiyyah (hal.96-97)

30
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan

Dari penjelasan Saikh Al Albany kita dapat mengambil dua kesimpulan yang
mendasar yaitu:

1. Bahwa yang di maksud dengan Ahlul bait di sini adalah mereka yang mengerti sunnah
Rasulullah Shallallaahu alaihi was allam dan perjalanan hidup beliau dan orang-orang
yang komitmen di dalam berpegang teguh dengan sunnahnya.

2. Setelah jelas bagi kita siapa yang di maksud dengan Ahlul di sini, maka penyaebutan
merela bergandengan dengan penyebutan kitabullah itu kedudukannya seperti penyebutan
sunnah khulafaurrosyidin beriringan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
salalm, sedangkan kita mengetahui bahwa bahwa penyebutan sunnah mereka dengan
sunnah Rasul adalah karena mereka tidak pernah beramal kecali dengan sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam sehingga penisbatan suannah kepda mereka tidak
berarti individu-individu mereka itu ma’shumm.

2. Saran

Semoga dengan makalah ini bisa mempertebal keimanan kita.

31
DAFTAR PUSTAKA

1. https://almanhaj.or.id/2937-mengen.html

2. https://almanhaj.or.id/3448-keutamaan-sahabat-nabi.html

3. https://almanhaj.or.id/2292-keutamaan-ahli-bait-dan-siapakah-ahli-bait.html

4. https://almanhaj.or.id/2466-ahlus-sunnah-memuliakan-para-sahabat-radhiyallahu-anhum.html

32

Anda mungkin juga menyukai