Anda di halaman 1dari 58

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/301695463

Diktat Kuliah Mata Kuliah: Teknik Seluler

Book · January 2006

CITATION READS

1 2,596

1 author:

Alfin Hikmaturokhman
Institut Teknologi Telkom Purwokerto
69 PUBLICATIONS   34 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

SENATEK 2017 View project

Pathloss View project

All content following this page was uploaded by Alfin Hikmaturokhman on 29 April 2016.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


1

TEKNIK SELULER
EDISI PERTAMA

Oleh :

ALFIN HIKMATUROKHMAN, S T.,MT

Akademi Teknik Telekomunikasi


Sandhy Putra Purwokerto
(Akatel Purwokerto)
Jl. D.I. Panjaitan 128 Purwokerto 53147
2006
2

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah


memberikan rahmat-Nya, sehingga buku ajar (Diktat Teknik Seluler) ini
dapat diselesaikan.
Diktat Teknik Seluler ini memuat materi tentang Konsep dan
perkembangan Sistem Komunikasi Bergerak seluler, Arsitektur jaringan
GSM, Model Prediksi redaman Propagasi,Interferensi kanal sama dan
berdekatan ,Perkembangan Teknologi seluler dan Link budget Seluler.
Setiap akhir BAB diberikan contoh soal berikut penyelesaiannya. Hal
ini dimaksud, agar mahasiswa dapat dengan mudah memperluas
pemahaman secara konseptual.
Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa buku ini masih jauh dari
yang diharapkan. Oleh karena itu, tanggapan dan kritik yang sehat dan
membangun dari para pembaca demi perbaikan Diktat ini sangat
penulis harapkan.
Akhirnya, kepada segala pihak yang telah membantu
terselenggaranya Diktat Teknik Seluler ini, penulis mengucapkan
banyak terima kasih.

Penulis,

ALFIN HIKMATUROKHMAN, S T
3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………… 1


DAFTAR ISI ………………………………………………………………… 2

Bab I Global System for Mobile Communication ......................... 7

1. Sejarah Komunikasi Bergerak...................................... 7

2. Sejarah GSM………………………………………….. 9

3. Arsitektur Jaringan GSM……………………………. 14

4. Spektrum Frekuensi GSM ………………….. 20

5. Konsep sel pada GSM.................................... 22

6. Frekuensi Reuse................................................. 27

7. Handover

Bab II Model Propagasi………………………. 29

1. Model Propagasi Hata

2. Model Propagasi Cost 231

3. Luas Sel

4. Teknik Pemecahan sel (cell Spliting)

BAB III Interferensi

BAB IV Trafik Pada Teknik Seluler


4

BAB I GLOBAL SYSTEM FOR MOBILE COMMUNICATION (GSM)

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM :

Memahami tentang Konsep Sistem Komunikasi Bergerak Seluler untuk system GSM

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS :

1. Mahasiswa dapat mengetahui tentang arsitektur jaringan GSM.

2. Mahasiswa dapat menjelaskan spektrum frekuensi dan konsep sel.

3. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang konsep frekuensi reuse.

4. Mahasiswa memahami handover apa saja yang bisa terjadi pada Sistem Seluler

GSM

1. Sejarah Komunikasi Bergerak(6)

Pada awalnya komunikasi elektronik hanya dapat dihubungkan dengan

menggunakan kabel (wireline), dimana diperlukan operator manual untuk

melakukan suatu sambungan komunikasi yang diletakkan di sentral. Awal

mula dari komunikasi elektronik yaitu pada tahun 1843, S.F.B. Morse untuk

yang pertama kalinya melakukan proyek percobaan saluran telegraph di

Baltimore, Washington. Pada tahun 1861, pertama kalinya dilakukan

pengiriman informasi kecepatan melalui media kabel (telepon tetap/fixed) oleh

Philip Reis dan dilanjutkan pada tahun 1876 oleh A.G. Bell pada saat pameran

dunia di Philadelphia. Seiring dengan berkembangnya teknologi pada


5

pertengahan tahun 1920 diperkenalkan untuk pertama kalinya layanan sentral

otomat.

Hubungan radio digunakan pertama kali untuk komunikasi tanpa kabel

(wireless) pada akhir abad ke 19. Pada tahun 1873 J.C. Maxwell menemukan

teori gelombang elektomagnetik. Pada tahun 1887 H. Hertz melakukan proyek

percobaan untuk mengetahui adanya gelombang elektromagnetik. Pada tahun

1895 A. Popow pertama kalinya digunakan antena penerima untuk laporan

cuaca, pada tahun yang sama G.M Marconi melakukan pengiriman informasi

tanpa kabel dengan menggunakan percikan induktor untuk membangkitkan

gelombang High Frequensi (HF), data yang dikirim untuk komunikasi ini

disebut dengan kode morse. Didirikannya perusahaan Telepon tanpa kabel

Marconi pada tahun 1897. Pertama kalinya dilakukan uji coba pengiriman

informasi melintasi samudera atlantic pada tahun 1901. Pada tahun 1903

didirikan perusahaan Deutchen Telefunken GmbH oleh AEG dan

Siemens&Halkes. Pada tahun 1906 dilakukan pengiriman kecepatan dan

suara, untuk pertama kalinya pada tahun 1909 dilakukan siaran radio di

Caruso, New York.


6

Gambar 1.1 Sejarah Komunikasi Bergerak

[Sumber : GSM Introduction, Siemens; hal.5]

Terdapat dua hal prinsip dasar dari hubungan radio, yaitu :

a. Hubungan Simplex

Hubungan simplex ini biasanya disebut dengan hubungan satu arah

(one-way). Dimana dalam hubungan simplex ini stasiun pengirim dan

penerima tidak dapat digunakan dalam waktu yang bersamaan. Contoh

dari penggunaan hubungan simplex ini adalah untuk siaran televisi,

siaran radio (broadcast) dan walkie talkie.

b. Hubungan Duplex

Hubungan duplex merupakan komunikasi dua arah (two-way),

dimana pengguna dapat menggunakan stasiun pengirim dan penerima

dalam waktu yang bersamaan. Misalnya radio telegraph.

2. Sejarah GSM(4)

Sepanjang perkembangan komunikasi seluler telah mengalami banyak

kemajuan. Banyak sekali permasalahan yang telah terjadi sebelum

ditetapkannya spesefikasi yang terstandarisasi. Pada tahun 1982 sebuah

kelompok GSM (Groupe Special Mobile-Perancis) ditunjuk untuk mengatasi

masalah tersebut, semula kelompok ini diberi nama Conference Europere des

Postes et Telecomunications (CEPT). Pada tahun 1982-1985 CEPT

menetapkan standart telekomunkasi digital eropa pada band frekuensi 900


7

MHz. Standart ini kemudian dikenal dengans sebutan Global System for

Mobile Communication (GSM).

Pada tahun 1986 dilakukan tes lapangan di Paris untuk memilih salah

satu teknologi transmisi digital yang digunakan, Time Division Multiple

Accses (TDMA) atau Frequency Division Multiple Accses (FDMA). Pada

tahun 1987 diputuskan menggunakan teknologi Transmisi untuk GSM adalah

kombinasi dari TDMA dan FDMA. Dan operator dari 12 negara bagian masuk

komisi Memorandum of Understanding (MoU) untuk memperkenalkan GSM.

Pada tahun 1988 CEPT mulai menghasilkan spesifikasi untuk tahap-

tahap implementasi dan lima negara bagian lain masuk MoU. Pada tahun 1989

ETSI mengambil tanggung jawab untuk spesifikasi GSM. Pada tahun 1990

dilakukan pembekuan spesifikasi tahap 1 untuk memperbolehkan

memproduksi untuk membangun perlengkapan jaringan. Pada tahun 1991

dilakukan realisasi Standar GSM 1800 dan tambahan lampiran untuk MoU

memperbolehkan negara di luar CEPT untuk masuk. Pada tahun 1992-1993,

spesifikasi tahap 1 sudah lengkap. Dilakukan peluncuran pertama kali jaringan

GSM tahap 1, pertama kali disetujui roaming Internasional antara Telecomm

Finlandia dan Vodfone di Inggris. Australia negara bagian pertama yang

bukan negara Eropa yang masuk MoU. MoU memiliki total peserta sebanyak

70 jaringan GSM diluncurkan di Norwegia, Austria, Irlandia, Hongkong dan

Australia. Diluncurkannya sistem DCS 1800 di Inggris.

Pada tahun 1994 MoU sudah memiliki 100 peserta dari 60 negara

bagian. Sudah banyak jaringan GSM yang diluncurkan dan total nomor dari

pelanggan GSM melebihi 3 juta. Pada tahun 1995 spesifikasi dari Personal

Comunication Services (PCS) di kembangkan di Amerika Serikat Versi ini


8

dioperasikan pada frekuensi 1900 MHz. Pada tahun 1996, pertama kali

tersedianya sistem GSM 1900. Yang sama dengan standar PCS 1900. Pada

tahun 1998-1999, MoU memiliki total 253 anggota di 100 negara bagian dan

lebih dari 70 juta pelanggan GSM yang tersebar di dunia. Pelanggan GSM

sebesar 31 % dari pasar mobile di dunia. Jaringan GSM sekarang telah ada di

179 negara. Pada tahun 2002-2003, perluasan fungsi dari GSM untuk

menggabungkan EDGE, AMR dan mendukung untuk posisi layanan-layanan

yang fleksibel. Total pelanggan melebihi/diatas 1 Milyar.

3. Arsitektur Jaringan GSM

Jaringan GSM diterapkan dengan membagi keseluruhan jaringan ke dalam tiga

subsystem, yaitu 2) :

1. Network Switching Subsystem (NSS)

Network Switching Subsystem (NSS) merupakan sebuah subsystem dari

jaringan GSM yang memiliki fungsi-fungsi :

a. Mengatur komunikasi antar pelanggan GSM.

b. Mengatur komunikasi pelanggan GSM dengan network lain.

c. Sebagai database untuk data pelanggan dan manajemen pergerakan.

Untuk melaksanakan fungsi-fungsi tersebut di atas, NSS dilengkapi

dengan beberapa elemen yang membentuk suatu jaringan seperti yang

diperlihatkan oleh ganbar 2.2. Elemen-elemen yang terdapat di dalam NSS

adalah sebagai berikut :


9

Gambar 1.2 Elemen-elemen dalam NSS2)

1). Mobile-Services Switching Centre (MSC)

MSC melaksanakan seluruh fungsi switching yang diperlukan oleh MS

yang berada dalam daerahnya. MSC merupakan otak dari sistem seluler

yang diinterkoneksikan ke jaringan telekomunikasi lain yang berfungsi

utama :

a. Routing panggilan dari/ke MS (Mobile Station).

b. Sebagai gateway bagi pelanggan GSM untuk memasuki jaringan lain,

seperti PSTN, ISDN, PLMN.

c. Memberikan layanan teleservices dan supplementary

d. Manajemen pergerakan.

e. Menangani pembiayaan MS.

f. Menangani fungsi-fungsi keamanan bersama-sama dengan AuC.

2). Visitor Location Register (VLR)

VLR biasanya menyatu secara fisik dengan MSC. VLR merupakan

database yang menyimpan semua informasi yang berkaitan dengan

seorang pelanggan yang sedang melakukan roaming di area VLR yang

dikendalikannya. Dengan demikian, VLR memiliki fungsi-fungsi utama,

antara lain :

a. Sebagai database MS temporer/sementara bagi MS yang berada di area

MSC/VLR yang berkaitan.

b. Mengalokasikan Mobile Station Roaming Number (MSRN) untuk MS

yang berada di area MSC/VLR terkait.


10

3). Authentication Centre (AC)

AC dilengkapi dengan beberapa kotak keamanan (security box) tempat

authentication key dan algoritma yang diperlukan untuk membentuk

parameter-parameter autentikasi disimpan.

4). Home Location Register (HLR)

HLR memuat data pelanggan secara tetap, fasilitas yang dimiliki

pelanggan, tipe pelanggan, dan lain-lain. HLR memiliki fungsi-fungsi

utama, antara lain :

a. Sebagai master data base bagi MS.

b. Memberikan informasi routing MS.

c. Memberikan data pelanggan yang dibutuhkan oleh VLR.

5). Equipment Identity Register (EIR)

EIR adalah database yang berisi informasi tentang identitas dari

Mobile Equipment (IMEI, International Mobile Equipment Identity) yang

terdiri dari :

a. White List (MS diijinkan)

b. Gray List (MS diawasi)

c. Black List (MS diblok)

2. Base Station Subsystem (BSS)

Base Station Subsystem merupakan suatu subsystem dari GSM yang

berfungsi untuk menghubungkan pengguna mobile dengan NSS melalui radio

interface. BSS mengatur cellular radio interface dan link transmisi antara

elemen-elemen dalam BSS.

Base station subsystem terdiri dari beberapa elemen yang membentuk

suatu jaringan yang diilustrasikan pada gambar 2.3, yaitu :


11

a. Transcoder (TC)

Transcoder adalah elemen BSS yang bertanggung jawab atas transcoding

percakapan serta mengubah sinyal percakapan 64 kbps yang datang dari

MSC menjadi sinyal 16 kbps sesuai dengan spesifikasi GSM untuk

ditransmisikan melalui air interface atau sebaliknya dari BSC ke MSC

yang berupa sinyal 16 kb/s menjadi 64 kb/s.

Gambar 1.3 .Elemen-elemen dalam BSS 2)

b. Base Station Controller (BSC)

BSC merupakan perangkat untuk mengatur operasional BTS-BTS yang

terhubung pada jaringan BSC tersebut seperti konfigurasi BTS,

monitoring alarm, dan merekam data unjuk kerja BSS.

c. Base Transceiver Station (BTS)

BTS adalah komponen BSS yang bertanggung jawab terhadap transmisi

radio dari MS ke BSC dan sebaliknya. BTS terdiri dari BTSE (Base

Transceiver Station Equipment) yang berisi unit-unit frekuensi tinggi yang

disyaratkan untuk melayani satu atau beberapa sel yang dihubungkan ke

Base Station Transceiver (BTS).

2. Network Management Subsystem (NMS)


12

NSS merupakan bagian jaringan yang memiliki fungsi-fungsi untuk mengatur

panggilan. BSS merupakan bagian jaringan yang bertanggung jawab untuk

mengatur radio path. Setiap panggilan selalu dihubungkan melalui BSS. NMS

merupakan operation dan maintenance yang berhubungan dengan NSS dan BSS,

yang diperlukan untuk mengatur dan mengendalikan keseluruhan jaringan serta

untuk mengamati kualitas jaringan dan pelayanan yang ditawarkan ke pengguna.

Mobile Station (MS) merupakan piranti yang digunakan oleh pelanggan untuk

mengakses jaringan GSM.

Gambar 2.1 Jaringan GSM 2)

4. Spektrum Frekuensi GSM

Alokasi frekuensi GSM berada pada 890 – 960 MHz yang terdiri dari arah

uplink yaitu spektrum frekuensi pembawa yang digunakan MS untuk mengirim

informasi ke BTS, sebesar 890,2 – 914,8 MHz dan arah downlink yaitu spektrum

frekuensi pembawa yang digunakan BTS untuk mengirim informasi ke MS,

sebesar 935,2 – 959,8 MHz yang terdiri dari 124 kanal radio GSM yang dikenal

dengan nama ARFCN (Absolut Radio Frequency Channel) dengan masing-

masing kanal memiliki lebar pita 200 KHz. Setiap kanal ARFCN terdiri dari

sepasang frekuensi yaitu frekuensi uplink dan downlink yang digunakan untuk

mengirim dan menerima informasi secara full duplex antara MS dan BTS. Pada
13

setiap kanal ARFCN antara frekuensi uplink dan downlink dipisahkan oleh lebar

pita frekuensi sebesar 45 MHz dengan tujuan untuk menghindari interferensi.

Band Frekuensi yang biasanya digunakan GSM ada empat yaitu GSM 900,

GSM 1800, GSM 1900 dan GSM 800.2)

1. GSM 900

Band frekuensi asli yang dispesifikasikan untuk GSM adalah 900 MHz.

Banyak jaringan GSM di dunia yang menggunakan band frekuensi ini.

2. GSM 1800

Merupakan teknologi komunikasi bergerak terbaru saat ini. GSM 1800

merupakan nama lain dari DCS (Digital Cellular System) 1800, sebuah

sistem komunikasi personal ( Personal Communication Network - PCN ) dari

Eropa. GSM 900 yang ada saat ini bekerja pada frekuensi 900 MHz

sementara GSM 1800 menggunakan frekuensi 1800 MHz (1,8 GHz).

3. GSM 1900

PCS 1900 merupakan adaptasi GSM yang lain ke dalam band 1900

MHz. Teknik ini digunakan di Amerika Serikat di mana FCC (Federal

Communication Commission). Pemisahan frekuensinya sebesar 80MHz,

dan pembagian frekuensinya adalah 1850 MHz – 1910 MHz untuk uplink

dan 1930 MHz – 1990 MHz untuk downlink.

4. GSM 800

Banyak sekali band yang mensupport dalam sistem GSM, sekarang GSM

juga disupport dengan band frekuensi 800 MHz.

5. Konsep Sel pada GSM


14

Setiap jaringan telepon memerlukan struktur yang spesifik untuk rute

panggilan masuk untuk koreksi sentral dan kemudian untuk ke pelaggan. Dalam

jaringan bergerak, struktur ini sangat penting karena pelanggan merupakan

pelanggan bergerak. Pelanggan dapat berpindah-pindah, untuk itu struktur ini

sangat diperlukan untuk memonitor lokasi pelanggan tersebut.

1. Cell 4)

Kata seluler berasal dari sel. Artinya satu daerah kawasan tertentu dengan

daerah layanan yang luas, dibagi-bagi menjadi kawasan yang lebih kecil, dan

daerah kawasan yang lebih kecil tersebut dinamakan sel. Seluler berarti

membagi daerah layanan luas menjadi sel-sel tertentu. Bentuk sel ideal adalah

lingkaran, yang pada umumnya menggunakan antenna pengarah omni, akan

tetapi karena bentuk lingkaran mempunyai sifat tumpang tindih (ovelapping),

maka digunakan bentuk sel heksagonal sebagai sel efektif, seperti terihat pada

gambar 1.4 :

Gambar 1.4. Cell 4)

Sebuah sel adalah unit dasar dari suatu sistem seluler dan menegaskan

daerah radio yang diberikan oleh suatu sistem antena BS. Beberapa sel

diberikan nomor yang unik yang disebut Cell Global Identity (CGI). Di
15

dalam jaringan yang sudah lengkap yang telah mengkover seluruh negara,

penomoran sel akan semakin besar.

Gambar. 1.5 Cakupan sel 2)

Dalam kenyataanya bentuk sel, bentuk sel itu tidak beraturan, bergantung

pada lingkungan tempat sel itu berada. Untuk lebih menyederhanakan

perencanaan dan perancangan sistem seluler digunakan bentuk heksagonal,

karena bentuk heksagonal mendekati lingkaran yang merupakan bentuk ideal

dari daerah cakupan, seperti pada gambar 1.6 :


16

Gambar 1.6

Bentuk Sel 4)

Radius lingkaran sel dapat dimodifikasi dengan mengubah kuat sinyal dari

stasiun pangkalan radio, yang pada umumnya dilakukan pada saat

perencanaan sel. Sebagai suatu ketetapan, ukuran sel maksimum ditentukan

oleh kuat daya dari stasiun mobil yang tersedia.

Pada prinsipnya bentuk sel yang digunakan dalam jaringan GSM

tergantung dari kondisi geografis dan dari daerah yang akan dijangkau. Tetapi

untuk mempermudah perencanaan dan pertimbangan biaya yang ekonomis

maka bentuk sel segi enam lebih cocok digunakan dalam jaringan GSM. Hal

ini disebabkan sel segi enam memerlukan jumlah yang lebih sedikit untuk

mencakup jumlah layanan dibanding bentuk sel lain. Untuk mendapatkan

suatu perencanaan seluler yang optimal, maka perlu dipertimbangkan

pengukuran sel yang diterapkan sesuai bentuk geografis dan kepadatan trafik.

Ukuran dengan radius sel, jumlah sel yang diinginkan pelanggan, letak sel itu

sendiri dibuat optimal sehingga jumlah sel yang direncanakan dapat

dimanfaatkan pelanggan dengan sebaik-baiknya. Tujuannya adalah agar

handover bisa berjalan dengan sempurna, trafik pelanggan yang


17

menggunakannya juga bisa disebar (load sharring traffic) dan keluasan

pelanggan menggunakan jaringan juga bisa lebih optimal.

2. Cell Coverage 7)

Stasiun pangkalan BTS menggunakan antena omni atau antena pengarah.

Satu antena omni atau lebih yang digunakan sebagai pemancar pada satu sel

horizontal, yang meliput area atau sel yang melingkar di sekeliling antena.

Stasiun mobil yang berada di area ini umumnya mendapat kontak radio yang

baik dengan stasiun pangkalan radio.

a. Omni Cell

Pada BTS dilengkapi dengan antena omni-direksional yang setiap

antena meliputi area dengan sudut 360º. Umumnya antena omni-

direksional digunakan pada daerah dengan kepadatan trafik yang rendah.

b. Sectored Cell

Stasiun pangkalan radio menggunakan tiga antena pengarah, yang

setiap antena meliputi area dengan sudut 120º, ia mempunyai tiga sektor

di sekelilingnya. seperti gambar 2.7 :


18

Gambar 2.7 Sectored cell 6)

Tidak diperlukan harus ada tiga sektor dalam satu sel. Bergantung pada

daerah liputan dan kepadatan trafik yang harus dilayani, bisa saja dua sektor

dengan sudut 180º, tiga sektor dengan sudut antena 60º atau satu antena omni

untuk sel yang bersangkutan, misalnya lapangan terbang, jalan higway..

Pemancar dari setiap tipe mempunyai frekuensi masing-masing. Perencanaan

bentuk liputan sel sangat erat kaitannya dengan penggunaan ulang frekuensi.

Bentuk heksagonal ini akan memudahkan pekerjaan secara grafis,

geometris dan logical. Akan tetapi oleh karena bentuk heksagonal ini adalah

bentuk tampilan fiktif yang mendekati liputan ideal, maka pada keadaan

sebenarnya, hasil pengukuran di lapangan akan menentukan bentuk sel nyata

yang sebenarnya.

Daerah liputan menentukan level daya yang harus dipancarkan. Untuk

daerah liputan yang luas dengan beban trafik yang rendah, banyaknya stasiun

pangkalan radio dapat dikurangi, atau luas liputan sel dapat diperbesar. Akan

tetapi, diperlukan level daya pancar yang cukup tinggi agar level sinyal

penerima minimum masih dapat tetap diterima oleh stasiun mobil. Sebaliknya,

stasiun mobil masih dapat mengirimkan sinyal yang dapat diterima oleh

stasiun pangkalan radio yang meliputinya. Demikian pula dengan daerah

liputan yang lebih kecil (satu dan lain hal diperlukan untuk kapasitas trafik

yang lebih besar, level daya pancar dapat diturunkan. Namun, hal ini

mengakibatkan bertambahnya beban trafik pensinyalan yang lebih besar,

berupa sinyal pencarian paging, pemutakhiran lokasi location updating dan

alih penaganan handover yang harus dilayani. Ini disebabkan oleh banyaknya
19

panggilan baru sesuai dengan kepadatan trafik, baik oleh karena panggilan

baru, lokasi updating, dan proses handover menjadi lebih sering terjadi.

Sebaliknya, jumlah kanal yang melayani beban trafik bertambah besar dan

meningkat karena banyaknya kanal untuk luas tertentu bertambah besar pula.

3. Hirarki Sel GSM

Ada beberapa hirarki sel yang dipakai pada sistem radio seluler sesuai

dengan keadaan geografis dan kepadatan trafik suatu daerah layanan dari

jaringan GSM. Adapun hirarki GSM tersebut adalah sebagai berikut 6) :

a. Umbrella cell

Yaitu struktur sel untuk daerah layanan yang luas dengan kapasitas trafik

yang sangat besar. Sebagai contoh dipergunakan untuk daerah Road

Coverage, daerah pegunungan, daerah pantai dan jalan tol. Seperti

namanya umbrella cell dibuat untuk memayungi BTS-BTS yang ada

didekatnya. Umbrella cell didesain agar sel-sel terdekat dengannya jika

akan ada handover atau trafiknya overload diharapkan trafiknya bisa di

handle oleh umbrella cell agar komunikasi pelanggan bisa tetap berjalan.

b. Makro sel

Makro sel juga sering disebut standar sel, yaitu struktur sel untuk daerah

layanan yang cukup padat dengan mobilitas yang tinggi. Struktur sel ini

biasanya dipakai untuk daerah perkotaan dan daerah pertokoan.

c. Mikro sel

Mikro sel digunakan pada daerah urban, mikro sel dipergunakan untuk

daerah layanan yang sangat padat. Biasanya mikro sel dipakai apabila

standar sel sudah tidak lagi bisa untuk melayani trafik pelanggan. Mikro

sel ini dipakai di daerah mall, perkantoran dan pusat keramaian kota.
20

d. Pico sel

Pico sel dipakai untuk daerah layanan perluasan trafik dari suatu mikro sel.

Hal ini disebabkan karena mikro sel overload trafik sehingga mikro sel

harus diperluas lagi trafiknya dengan piko sel. Untuk pico dan makro sel

biasanya dipergunakan untuk trafik indoor.

Gambar 1.8 Hirarki sel GSM 6)

4. Cluster 2)

Sebuah cluster merupakan kumpulan dari beberapa sel, memiliki prinsip

tidak ada penggunaan ulang kanal dalam satu cluster. Berikut ilustrasi tujuh

buah sel dalam satu cluster.

Gambar 1.9. Tujuh sel dalam sebuah cluster


21

5. Frekuensi Reuse

Salah satu perameter dasar dari sistem komunikasi mobil seluler adalah

pengulangan frekuensi atau frekuensi reuse. Konsep pengulangan frekuensi

adalah frekuensi yang sama digunakan kembali pada area yang berbeda di luar

jangkauan frekuensinya. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan lebar pita

frekuensi yang terbatas dan meningkatkan kapasitas sistem. Penggunaan

frekuensi yang sama pada daerah cakupan yang berbeda yang masih dalam

jangkauan interferensinya, akan menyebabkan interferensi kanal bersama (co-

channel interference). Adapun latar belakang terjadinya frekuensi reuse 2) :

 Keterbatasan alokasi frekuensi

 Keterbatasan area cakupan

 Menaikan jumlah kanal

 Membentuk cluster yang berisi beberapa sel

 Co-Channel Interferance

Pelayanan seluler dicakup oleh beberapa kelompok sel yang disebut cluster.

Satu cluster terdiri dari beberapa sel (K sel). K bisa berharga 3, 4,7, 9, 12.

Gambar 1.10. Pembagian Penggunaan Frekuensi Reuse 2)

Warna yang sama menunjukkan sel-sel co-channel yang menggunakan

frekuensi yang sama. Cara menentukan sel-sel co-channel dengan

menggunakan rumus [2] :


22

K = i2+j2+ij ......................................................................................... (1. 1)

Dengan : i = arah pergerakan awal

j = arah awal diputar 60 o

K = jumlah cluster

Jarak pengulangan frekuensi ditentukan dengan :

Gambar 1.11. Jarak Pengulangan frekuensi 2)

(D/R)2 = 3K ......................................................................................... (1.2)

Dengan :

D = Jarak pengulangan (reuse distance)

R = Jari-jari terjauh sel heksagonal (jarak terjauh dari pusat sel ke ujung sel)

K = cluster

6. Handover

Handover yaitu proses perubahan kanal radio yang digunakan oleh mobile

tanpa mengganggu panggilan/percakapan, karena mobile berpindah dari satu

sel ke sel lain. Jenis-jenis handover yang biasa terjadi pada sistem komunikasi

bergerak seluler adalah :

a. Channel-Channel Handover
23

Handover ini merupakan jenis handover “terkecil”, yaitu MS mengubah

trafik channel di BTS yang sama. Handover ini mungkin terjadi ketika MS

atau BTS menyadari bahwa terdapat interferensi yang mengganggu

hubungan radio. Dalam hal untuk memenuhi sambungan dengan kualitas

yang baik, network memindahkan MS ke trafik channel yang baru bila

mungkin dilakukan. Handover ini diatur oleh BSC yang bersangkutan.

b. BTS-BTS Handover

MS dan BTS secara terus menerus mengukur kualitas sambungan radio

dan BTS selalu mengamati tingkat daya yang digunakan oleh MS dan

BTS. BSC memiliki satu set parameter per sel/BTS yang mengatur situasi

ketika handover harus dilakukan. Ketika batas parameter terlampaui, maka

network melakukan handover. Handover dikerjakan ke sel tujuan yang

diinginkan MS. Handover ini diatur oleh BSC yang bersangkutan.

c. BSC-BSC Handover

Karena BSS merupakan wilayah geografis yang luas dan tidak perlu semua

BTS diatur oleh BSC yang sama, ada kemungkinan BSC berubah selama

terjadinya handover. Pada handover jenis ini, NSS menangani prosedur

handover, yaitu MSC mengalokasikan trafik channel ke BSC yang baru

yang mengatur sel tujuan untuk mengatur proses handover. Handover ini

diatur oleh BSC yang baru (BSC tujuan).

d. MSC-MSC Handover

Handover ini merupakan handover “terbesar” yang dilakukan network

GSM. Ketika handover diminta dan sel tujuan terdapat di MSC yang lain,

MSC asal melakukan set-up hubungan ke MSC tujuan yang kemudian

akan mengatur hubungan ke BSS. Handover ini diatur oleh MSC asal.
24

BAB II Model Propagasi

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM :

Memahami tentang Konsep Model-model propagasi pada Sistem Komunikasi

Bergerak seluler

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS :

1. Mahasiswa dapat memahami Model Propagasi Hatta dan apliaksinya.

2. Mahasiswa dapat memahami Model Propagasi Cost-231 dan apliaksinya

Area cakupan merupakan suatu wilayah tertentu yang masih dapat

menangkap daya pancar BS (Base Station) sehingga dapat melaksanakan suatu

proses komunikasi. Kualitas pelayanan dapat ditingkatkan dengan meminimalkan

keberadaan blankspot dan juga overlap area yang mungkin muncul. Untuk dapat

meminimalkan area yang tidak terlingkupi, maka perhitungan jangkauan area

cakupan harus teliti dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya

seperti model propagasi yang digunakan. Model yang dibahas disini adalah model

propagasi Hata dan model propagasi COST-231.

1. Model Propagasi Hata

Model Hata merupakan formulasi empiris dari redaman lintasan secara

grafis yang disediakan oleh Okumura, dan cocok untuk frekuensi sinyal dari

150 MHz sampai 1500 MHz. Hata menyajikan redaman rambatan di wilayah

perkotaan sebagai rumus standar, dan memberikan persamaan-persamaan

dalam situasi lain.

1). Daerah Urban


25

Merupakan daerah yang terdiri dari banyak bangunan tinggi, kota besar

(Model Eropa) [5].

Rumus :

L50 (dB)  69,55  26,16 log f c  13,82 log hte  a(hre )


(2.1)
 (44,9  6,55 log hte ) log d

dimana: fc = frekuensi sinyal pembawa (MHz)

L50 = path loss rata-rata (dB)

hte = tinggi antena pemancar (meter)

a(hre) = faktor koreksi untuk tinggi antena penerima (dB)

d = jarak penerima dengan pemancar (km)

Model propagasi Hata mempunyai beberapa batasan parameter yaitu :

150 ≤ fc ≤ 1500 MHz

30 ≤ hte ≤ 200 meter

1 ≤ hre ≤ 10 meter

1 ≤ d ≤ 20 km

Sedangkan untuk faktor koreksi a(hre) dapat ditentukan dengan

menyesuaikan daerah cakupan :

Untuk kota yang memiliki ukuran kecil dan menengah [5]:

a(hre )  (1,1 log f c  0,7)hre  (1,56 log f c  0,8) dB (2.2)

Untuk kota besar, pada frekuensi f c  300MHz [5] :

a(hre )  8,29(log 1,54hre ) 2  1,1 dB ......................... (2.3)

Untuk kota besar, pada frekuensi f c  300MHz [5] :

a(hre )  3,2(log 11,75hre ) 2  4,97 dB ......................... (2.4)

2). Daerah Suburban


26

Suatu daerah dikatakan daerah suburban (pinggiran) jika terdapat

penghalang (obstacle) disekitar MS namun tidak terlalu rapat. Kerapatan

penduduk untuk daerah suburban sekitar 500 – 7.500 penduduk/km2.

Rumus [5]:

L50 (dB)  L50 (urban)  2[log( f c / 28)]2  5,4 .......(2.5)

3). Daerah terbuka

Suatu daerah dikatakan terbuka jika tidak ada penghalang (obstacle) pada

jarak 300 – 400 meter dari arah base station dan umumnya juga disekitar

lokasi MS berada. Kerapatan penduduk untuk daerah urban sekitar 7.500 –

20.000 penduduk/km2.

Rumus [5]:

L50 (dB)  L50 (urban)  4,78[log( f c )]2  18,33 log f c  40,98 ...... (2.6)

b. Model Propagasi COST-231

The European Co-operative for Scientific and Tevhnical Research

(EUROCOST) membentuk komite kerja “COST-231” untuk mengembangkan

rumus-rumus Model Hata sampai ke frekuensi 2 GHz. Model hitung redaman

lintasan menjadi.

Rumus[5]:

L 50 (urban)  46,3  33,9 log f c  13,82 log hte  a(hre )


(2.7)
 (44,9  6,55 log hte ) log d  Cm

a(hre) tetap didefinisikan sesuai dengan persamaan sebelumnya sementara Cm

bernilai:

Cm = 0 dB untuk wilayah pinggiran dan kota berukuran sedang

Cm =3 dB untuk kota metropolitan.


27

Pengembangan Model Hata dalam COST-231 dibatasi dengan parameter-

parameter sebagai berikut :

fc = 1500 MHz sampai 2000 MHz

hte = 30 meter sampai 200 meter

hre = 1 meter sampai 10 meter

d = 1 Km sampai 20 Km

C. Luas Sel

Setelah nilai radius sel maksimum diketahui dengan menggunakan perhitungan

model propagasi Hata dan atau dengan model propagasi COST-231, dapat dicari

nilai luas maksimum sel heksagonal dengan persamaan [2]:

Lsel  2,6.R 2 km 


2
.............................................. (2.8)

dimana Lsel = luas sel heksagonal (km2)

R = radius sel (km)

Luas sel tentunya adalah luas daerah pelayanan dibagi dengan jumlah sel yang

terhitung dari bagian sebelumnya [2] :

LuasDaerah
Lsel  ................................................ (2.9)
 sel

D. Teknik Pemecahan sel (cell Spliting) 5)

Pemecahan sel adalah proses membagi-bagi sebuah sel yang intensitas

komunikasinya demikian padat sehingga sering terjadi pembelokan, menjadi sel-

sel yang wilayah cakupannya lebih kecil. Setiap sel pecahan ini masing-masing

memiliki BTS (Base Transceiver Station) sendiri dengan daya pancar dan

ketinggian antena yang lebih rendah. Pemecahan sel akan menaikkan kapasitas
28

sebuah sistem seluler, karena ia menambah jumlah sel dengan pola perulangan

yang mengikuti pola aslinya. Dengan membentuk sel-sel baru yang memiliki

radius yang lebih kecil daripada sel aslinya. Dengan membentuk sel-sel baru yang

memiliki radius yang lebih kecil daripada sel aslinya, serta menempatkan sel-sel

kecil ini (yang disebut sel-sel mikro) diantara sel-sel yang sudah ada, kapasitas

sistem akan bertambah, disebabkan oleh banyaknya kanal tambahan persatuan

wilayah. Misalnya saja, jika setiap sel diperkecil dengan jangkauan radius

cakupan yang menjadi setengah dari radius semula, maka untuk mencakup

keseluruhan wilayah dengan sel-sel yang lebih kecil setengahnya ini, akan

membutuhkan sel sekitar empat kali dari jumlah kanal semula. Kondisi ini dapat

dituliskan melalui gambar 2.18. Wilayah yang dicakup oleh sebuah lingkaran

dengan radius R/2 atau setengahnya.

Pada saat kepadatan trafik mulai terlihat serta frekuensi di dalam setiap sel

sudah tidak mampu lagi menampung jumlah panggilan (call) pelanggan bergerak,

maka sel yang asli dapat di split (dibelah) menjadi sel-sel yang lebih kecil.

Biasanya radius liputan yang baru adalah sama dengan setengah dari radius

liputan sel asli. Perhatikan gambar 2.15 berikut :


Original Cell
Original Cell

(a) (b)

Gambar 2.1 Cell splitting 7)


29

Untuk melakukan cell splitting ada dua jalan. Pada gambar (a) menunjukkan

bahwa sel asli tidak digunakan lagi sedangkan gambar (b) menunjukkan bahwa [7]

RadiusSelL ama
RadiusSelB aru  .................................................... (2.10)
2

Dari persamaan tersebut dapat dibuat persamaan [7]:

AreaSelLam a
AreaSelBar u  ....................................................... (2.11)
4

Selanjutnya setiap sel yang baru akan memuat beban trafik maksimum yang sama

dengan beban trafik lama. Secara teori dapat ditulis [7] :

BEBAN TRAFIK YANG BARU =4 xBEBAN TRAFIK LAMA (2.12)


UNIT AREA UNIT AREA

Peningkatan jumlah sel akan menaikkan banyaknya kelompok sel di dalam

keseluruhan wilayah cakupan, yang pada gilirannya juga akan menambah

banyaknya kanal, yang berarti juga kapasitas dalam wilayah cakupan tersebut.

Peningkatan jumlah sel di sini ditempuh melalui pemecahan sel. Pemecahan sel

memungkinkan sebuah sistem dikembangkan kapasitasnya, namun tetap

memperhatikan model alokasi kanal yang dibutuhkan guna mempertahankan nilai

perbandingan perulangan kanal (q) antara sel-sel yang berkanal sama.

Sebuah contoh pemecahan sel ditujukkan pada gambar 2.2, BTS ditempatkan

ditepi sel, dan dimisalkan wilayah yang dilayani oleh BTS “A” intensitas

lalulintas komunikasinya jenuh (pembelokan melebihi ketentuan yang telah

ditetapkan). BTS yang baru kini diperlukan di dalam wilayah tersebut untuk
30

meningkatkan jumlah kanal dengan memperkecil wilayah yang dilayani oleh satu

BTS saja. Pada gambar 2.2. BTS semula (bertanda A) telah dikelilingi oleh enam

BTS sel mikro yang baru. Dalam contoh ini, sel-sel yang lebih kecil cakupannya

ditambahkan dengan cara sedemikian rupa, namun tetap memelihara atau

mempertahankan perencanaan pola perulangan frekuensinya. Sebagai contoh,

BTS sel mikro (hasil pemecahan) berlabel G yakni Gm, ditempatkan pada jarak

yang sama terhadap dua BTS yang sama lebih besar lainnya yang berlabel G, yang

menngunakan frekuensi kanal sama dengan sel Gm tersebut, dengan frekuensi

kanal yang sama sehingga lokasi sel pecahan yang berfrekuensi kanal sama

digeser sejauh 120º terhadap sel aslinya (G dengan Gm, E dengan Em dan

seterusnya).

Gambar 2.2 Contoh pemecahan sel pada stasiun induk A pada sistem yang

semua BTSnya berada di sisi sel, dengan 6 BTS mikro B m sampai Gm 5)

Dari ilustrasi pada gambar 2.2, dapat diketahui pula bahwa strategi pemecahan

sel hanyalah menyangkut besarnya nilai ukuran geometri (wilayah cakupan) dan

kelompok sel, sehingga dalam hal ini seperti telah disebutkan, radius dari setiap

sel mikro yang baru adalah setengah dari radius aslinya. Karena ukuran sel-sel ini

lebih kecil, daya yang ditransmisikan lebih kecil. Daya yang ditransmisikan oleh

sel-sel baru ini dapat ditentukan dengan menguji daya yang diterima (P r) pada

batas-batas lama dan batas-batas baru dari sel-sel sebelum dan sesudah dipecah
31

sehingga menjadi sama. Ini diperlukan untuk menjamin agar perencanaan pola

perulangan frekuensi untuk sel-sel mikro yang baru dapat berlaku tepat sama

dengan sel-sel semula sebelum dipecah.

Gambar 2.3 mengilustrasikan contoh lain model pemecahan sel. Perbatasan

antara sel no 4, nomor 6, dan nomor 7 akan dipecah menjadi sel kecil, karena

disekitar lokasi itu komunikasinya sudah terlalu padat. Dengan model kelompok

tujuh sel (N=7), dan mempertimbangkan jarak pisah yang relative seimbang

terhadap sel-sel tetangganya, maka sel pecahan ini diberi nomor 1. Perhatikan

bahwa sudut yang dibentuk oleh garis lurus yang ditarik antara sel nomor 1 dan

sel nomor 2 pada sel semula dan pada garis lurus yang ditarik antara sel mikro

nomor 1 dan sel mikro nomor 2 (sel baru hasil pecahannya ) tetap membentuk

sudut 120º. Arah putar urutan sel dari yang bernomor 1 sampai dengan 7 tetap

sama, yakni searah jarum jam.

Gambar 2.4 Ilustrasi pemecahan sel di titik perbatasan aturan sel nomor 4,

nomor 6 dan nomor 7 5)

Apabila Pt1 merupakan daya yang dipancarkan oleh BTS pada sel besar (sel

yang belum dipecah). Pt2 merupakan daya yang ditransmisikan oleh BTS pada sel-
32

sel pecahannya, dan n menyatakan eksposen redaman lintasannya, maka daya

yang diterima (Pr) di batas-batas tepi sel dinyatakan dengan :

Pr (pada batas tepi sel lama) α Pt1 R –n ........................... (2.13)

Pr (pada batas tepi sel baru) α Pt1 (R / 2-n) ........................ (2.14)

Jika diambil n=4, dan daya yang diterima diatur sehingga besarnya sama antar

satu dengan lainnya, maka dari persamaan (2.13) dan persamaan (2.14), (simbol α

identik dengan ≈ ) dapat diperoleh :

Pt2 = Pt1 / 16 ................................................ (2.15)

Dengan kata lain, daya yang dipancarkan harus diperkecil 12 dB (nilai ini

diperoleh dari 10 log 1/16 = -12 dB) untuk mengisi cakupan wilayah aslinya

dengan sel-sel mikro, dengan tetap mempertahankan persyaratan S/I nya.

Dalam praktik, tidak semua sel dipecah dalam waktu yang bersamaan.

Operator seluler sering mengalami kesulitan untuk mencari lokasi tanah atau

lokasi bangunan yang benar-benar tepat di tempat rencana teoritik pemecahan

selnya. Dalam situasi semacam ini, diperlukan perhatian khusus untuk tetap

menjaga jarak antara sel-sel yang berkanal sama pada persyaratan minimum, dan

dari sini, penetapan kanal menjadi lebih rumit. Masalah handoff juga harus

mendapatkan perhatian serius sehingga lalu lintas komunikasi pada kendaraan

berkecepatan rendah maupun pada kendaraan yang melaju dengan kecepatan

tinggi secara serentak dapat diakomodasi dengan baik.

Jika ada dua ukuran sel yang sama dalam wilayah yang sama seperti terlihat

pada gambar 2.4, menunjukkan bahwa tidak dapat begitu saja langsung diterapkan

daya pancar semula untuk semua sel baru, ataupun daya pancar baru untuk semua

sel aslinya. Jika daya pancar yang lebih besar diterapkan untuk semua sel,

beberapa kanal yang digunakan oleh sel-sel yang lebih kecil atau tidak cukup jauh
33

jaraknya dari sel-sel lain yang berkanal sama. Sebaliknya, jika daya pancar yang

lebih kecil diterapkan untuk semua sel, beberapa kanal yang digunakan oleh sel-

sel yang lebih kecil akan menyebabkan sebagian dari sel-sel yang lebih besar tidak

dapat turut aktif dalam pelayanan. Untuk itu, kanal-kanal pada sel yang lama

harus dipecah menjadi dua kelompok kanal, satu kelompok berkaitan dengan pola

perulangan yang diterapkan pada sel-sel kelompok kecil, kelompok kanal lainnya

digunakan untuk pola perulangan sel-sel kelompok besar. Sel-sel yang besar

biasanya diperuntukkan bagi lalu lintas komunikasi pada kendaraan yang

berkecepatan tinggi sehingga handoff tidak akan sering terjadi.

Ukuran kedua kelompok kanal ini bergantung pada tahapan pemecahan sel.

Pada tahap awal pemecahan, kanal-kanal dalam kelompok sel yang berdaya

pancar rendah (sel kelompok kecil) jumlahnya lebih sedikit, namun seiring dengan

pertumbuhan permintaan layanan, nantinya akan dibutuhkan lebih banyak kanal

pada sel kelompok kecil itu. Ketika proses pemecahan ini sudah terwujud

sepenuhnya, keseluruhan atau semua kanal di dalam suatu wilayah digunakan di

dalam kelompok sel berdaya rendah. Keseluruhan sistem kemudian memerlukan

perancangan ulang dalam rangka tujuan akhir, yakni penggunaan sel-sel dengan

radius yang lebih kecil. Untuk membatasi cakupan radio pada sel-sel kecil itu (sel

mikro), posisi antennanya dibuat mengarah agak ke bawah (bukan mengarah ke

horizon) dengan pengaturan yang cermat guna meradiasikan energi dari BTS

menuju tanah.

a. Batas Ukuran Pemecahan dan Penanganan Komunikasinya

Ukuran sel-sel yang dipecah bergantung pada dua faktor berikut ini :

1). Aspek Radio


34

Ukuran sebuah sel kecil (sel mikro) bergantung pada terjaminnya

pengendalian cakupan radio yang baik sehingga secara akurat sel itu

mampu mengenali lokasi ponsel yang terletak di wilayah yang menjadi

tanggung jawabnya.

2). Kapasitas proses penyakelarnya

Semakin kecil selnya berarti akan semakin banyak sel yang dipecah,

yang berdampak semakin banyaknya peristiwa handoff sangat bergantung

pada kapasitas prosesnya untuk mampu melakukan penyakelaran antar sel

dalam peristiwa handoff. Kapasitas penyakelaran ini merupakan faktor

yang lebih dominan dibandingkan dengan faktor cakupan wilayah sel-sel

mikro lainnya.

b. Teknik Cell Splitting

Ada dua teknik yang digunakan dalam teknik Cell splitting :

1). Permanent Splitting (pemecahan sel secara tetap)

Untuk pemilihan daerah mikro sel merupakan pekerjaan yang rumit.

Antena diarahkan pada sebuah kutub atau tegak lurus pada tiang. Sistem

pemecahan ini dapat mempermudah untuk menangani perpindahan dari sel

yang besar ke sel yang lebih kecil. Penandaan frekuensi harus mengikuti

aturan, dimana frekuensi re-use yang berjarak q ratio dengan sistem

pengaturan daya.

Di dalam permanent splitting, instalasi setiap pemacahan sel baru

direncanakan untuk menghadapi waktu yang akan datang. Jumlah kanal,

daya pancar, penyiapan frekuensi, pemilihan cell site, serta perkiraan

beban trafik yang akan dibebankan setiap sel. Apabila perencanaan

tersebut telah benar-benar matang, maka dimulailah pemutusan pelayanan


35

yang akan dilakukan pada saat titik trafik terendah, biasanya dilakukan

pada tengah malam minggu terakhir. Diusahakan agar hanya sedikit sel

yang mengalami pemutusan. Diperkirakan waktu yang diperlukan untuk

keperluan tersebut (cut-over time) tidak lebih dari dua jam.

2). Dynamic Splitting (Real-Time)

Bentuk dari dynamic splitting didasarkan pada efisiensi penggunaan

alokasi spektrum frekuensi pada saat yang tepat. Perhitungan untuk

menentukan lokasi untuk pembelahan sel secara dinamik adalah

merupakan pekerjaan yang membosankan mengingat kita biasanya

mengalami kesulitan untuk memberikan suatu sel tunggal yang tidak

digunakan selama pembelahan sel pada waktu beban trafik tinggi. Pada

beberapa kondisi dapat digambarkan seperti halnya kepadatan lalu lintas di

lapangan sepak bola setelah selesai suatu pertandingan sepak bola dimana

jumlah manusia yang berebutan ingin keluar dari stadion demikian

banyaknya sedangkan pintu keluarnya sempit sehingga terjadi kemacetan

lalu lintas. Untuk mengatasi lonjakan kapasitas trafik, maka diperlukan

sebuah sel yang idle untuk digunakan mengalihkan sebagai trafik tersebut.

Cell Splitting dilakukan di dalam sistem seluler untuk mengatasi

adanya drop call. Perkiraan secara pasti suatu area yang terletak diantara

dua sektor sel (2A) lama yang akan dinaikkan kapasitas trafiknya. Lihat

gambar 2.5 . Kita dapat mengambil titik tengah antara dua sektor sel 2A

lama dan anggaplah sebagai 2A baru. Sedangkan sektor 1A baru dapat

dibuat dengan memutar garis yang ditarik melalui sektor 1A-2A lama

searah jarum jam sebesar 120º (perhatikan gambar 2.5). Selanjutnya

penentuan lokasi dari tujuh buah Cell Split yang baru dapat ditetapkan.
36

Gambar 2.5 Teknik cell splitting 7)

Untuk mengendalikan pelayanan panggilan keluar (outgoing calls)

dikerjakan dengan pembelahan sel (cell splitting). Selanjutnya jumlah

kanal yang ditampung oleh sektor 2A lama dipecah menjadi 2 group [7] :

2A = (2A)’ + (2A)” ............................................ (2.16)

Pada sektor (2A)’ menggunakan kanal frekuensi yang digunakan oleh

sel baru dan lama (kedua-duanya) sedangkan pada sel yang kecil (2A)”

hanya menggunakan kanal frekuensi sel yang lama.

Pada mulanya pembelahan sel hanya dialami oleh sebagian kanal pada

(2A)’. Lama-kelamaan, lebih banyak kanal yang akan dipindah dari sektor

(2A)” ke (2A)’. Pada saat tidak ada kanal yang dikendalikan pada sektor

(2A)”, prosedur pembelahan sel telah selesai. Dengan menggunakan

program software algoritma, maka prosedur pembelahan sel jadi lebih

mudah dilakukan.

c. Dampak Pemecahan
37

Untuk dapat tetap mempertahankan jarak perbandingan perulangan

frekuensi (D/R) dalam sistem, ada dua hal yang harus dipertimbangkan.

1. Pemecahan sel-sel jelas akan mempengaruhi sel-sel tetangga atau sel-sel

sebelahnya karena pemecahan sel menyebabkan keadaan yang tidak

seimbang dalam hal pancaran daya dan jarak perulangan frekuensinya. Ini

akan mendorong diperlukannya pemecahan sel di sel-sel sebelahnya.

Fenomena ini disebut sebagai “dampak pengerutan” (ripple effect ).

2. Kanal-kanal tertentu harus digunakan sebagai ‘kanal penghalang’ untuk

menanggulangi timbulnya interferensi yang dapat mengganggu kerja

sistem. Dalam tingkatan yang sama, sel-sel besar dan sel-sel kecil dapat

diisolasi dengan memilih sekelompok frekuensi yang hanya akan

digunakan di dalam sel-sel yang beralokasi di antara sel-sel besar di satu

sisi dan sel-sel kecil di sisi lainnya, dengan maksud mengeleminasi

interferensi yang ditrasmisikan dari sel-sel besar ke sel-sel kecil.

Bab III Interferensi

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM :

Memahami tentang Konsep Interferensi yang terjadi pada Sistem Komunikasi

Bergerak seluler

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS :

1. Mahasiswa dapat memahami Sumber-sumber Interferensi


38

2. Mahasiswa dapat menjelaskan Interferensi pada kanal yang berfrekuensi sama.

3. Interferensi dari kanal sebelah (adjacent channel Intefernce)

Kinerja sistem radio seluler sangat dipengaruhi oleh faktor interferensi.

Sumber-sumber interferensi dapat berasal dari ponsel lainnya di dalam sel

yang sama, dari percakapan yang sedang berlangsung disebelahnya, atau dari

BTS yang bekerja pada pita frekuensi yang sama. Interferensi adalah pita

percakapan yang menyebabkan crosstalk, yakni pelanggan mendengar nada-

nada percakapan orang lain, yang menginterferensi dalam latar belakang

percakapannya disebabkan oleh transmisi yang tidak diinginkan.

Dua macam interferensi yang muncul di dalam sistem seluler adalah :

1. Interferensi kanal yang berfrekuensi sama (co-channel)

Pengulangan kanal radio dengan frekuensi bersama co-channel,

menyatakan bahwa dalam daerah liputan tertentu terdapat beberapa sel

yang menggunakan spektrum frekuensi yang sama. Sel-sel ini disebut

kanal frekuensi bersama, dan interferensi yang terjadi antara sel-sel dengan

frekuensi yang sama, disebut interferensi kanal bersama atau interference

co-channael. Interferensi kanal bersama tidak dapat hanya diatasi dengan

menaikkan level daya yang dipancarkan, karena akan menaikkan

interferensi ke sel kanal bersama lainnya. Untuk mengurangi interferensi

co-channel sel, sel-sel co-channel harus dipisahkan sejauh jarak minimum.

Untuk daerah cakupan yang luas dan padat akan terdapat beberapa

cluster atau kelompok frekuensi sel untuk meliputi daerah tersebut. Jika

satu sel menggunakan frekuensi yang sama, sel pada kelompok frekuensi

acuan akan mendapat gangguan dari sel-sel pengganggu yang


39

mengelilinginya. Pada sistem seluler dengan bentuk sel heksagonal akan

terdapat 6 sel interferensi antar kanal pada rantai pertama.

Pada sistem seluler dengan ukuran sel tetap, interferensi co-channel

tidak bergantung pada daya yang dipancarkan. Interferensi kanal bersama

menjadi fungsi jari-jari sel (R), dan jarak antara pusat sel co-channel (D).

Dengan meningkatkan rasio q = D/R, jarak antara sel kanal-bersama

meningkat. Interferensi antar kanal adalah fungsi dari parameter q yang

didefinisikan sebagai [5] :

q = D/R ....................................................... (3.1)

Parameter q adalah faktor reduksi interferensi kanal bersama

(cochannel interfernce reduction factor). Ketika q meningkat interferensi

antar kanal menurun.

Interferensi kanal bersama dapat dialami di stasiun pangkalan radio

maupun pada stasiun mobil. Perbandingan sinyal dengan interferensi C/I

(Carier to interference ratio) pada stasiun mobil (down link) yang

disebabkan oleh 6 sel penginterferensi, sama dengan yang diterima oleh

stasiun pangkalan radio (uplink) yang disebabkan oleh stasiun mobil

sebagai penginterferensi yang terletak pada enam sel yang mengelilingi sel

acuan.

Nilai S/I dapat ditulis sebagai [5] :

C C
= t n
......................................................... (3.2)
 Ii
I
t 1

S adalah daya yang diterima dari stasiun pangkalan radio dan Ii adalah

daya interferensi yang disebabkan oleh sel-sel co-channel penginterfernsi.

b. Interferensi dari kanal sebelah (adjacent channel Intefernce)


40

Interferensi yang diakibatkan oleh sinyal-sinyal yang frekuensinya

bersebelahan (berdampingan) dengan frekuensi sinyal yang sedang

menjadi fokus perhatian tersebut sebagai interferensi kanal sebelah.

Interferensi kanal bersebelahan dapat dikurangi pengaruhnya dengan

menggunakan filter yang baik, di pemancar maupun penerima. Di

pemancar, filter berguna supaya sinyal RF dipancarkan benar-benar berada

dalam bidang frekuensi yang telah ditentukan. Di penerima, digunakan

untuk meredam sinyal RF terdekatnya.

Pemisahan jarak kanal dekat yang menganggu biasanya harus

menempuh jarak tertentu sebelum mencapai penerima sehingga

memberikan redaman tambahan.

BAB IV TRAFIK PADA TEKNIK SELULER

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM :

Memahami tentang Konsep Trafik yang dipakai pada Sistem Komunikasi Bergerak

seluler

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS :

1. Mahasiswa dapat memahami Teori Dasar Trafik

2. Mahasiswa dapat menjelaskan Interferensi pada kanal yang berfrekuensi sama.

3. Interferensi dari kanal sebelah (adjacent channel Intefernce)

1. Teori Dasar Trafik

Secara umum trafik dapat diartikan sebagai perpindahan informasi dari satu

tempat ke tempat lain melalui jaringan telekomunikasi. Besaran dari suatu trafik

telekomunikasi diukur dengan satuan waktu, sedangkan nilai trafik dari suatu
41

kanal adalah lamanya waktu pendudukan pada kanal tersebut. Salah satu tujuan

perhitungan trafik adalah untuk mengetahui unjuk kerja jaringan (Network

Performance) dan mutu pelayanan jaringan telekomunikasi (Quality of Service).

1. Besaran trafik

Besaran dari suatu trafik komunikasi diukur dengan satuan waktu,

sedangkan nilai trafik dari suatu berkas saluran adalah lamanya waktu

pendudukan pada berkas saluran tersebut.

Ada dua besaran trafik yang digunakan :

a. Volume Trafik, didefinisikan sebagai jumlah total waktu pendudukan.

b. Intensitas Trafik, didefinisikan sebagai jumlah total waktu pendudukan

dalam suatu selang pengamatan tertentu (per satuan waktu) [8].

t T
Volume Trafik = V =  J (t )dt ...........................................
t 0
(4.1)

Dimana, T adalah selang / periode waktu pengamatan, J(t) adalah jumlah

saluran / kanal yang diduduki saat t. Sedangkan intensitas trafik adalah

merupakan volume trafik (V) per satuan waktu (dalam hal ini adalah waktu

pengamatan / periode waktu pengamatan / T).

2. Tinjauan 1

p = jumlah saluran yang diduduki

tp = total waktu pendudukan p saluran

VolumeTrafik V
Intensitas trafik = A =  ............................. (4.2) 3.
T T

Tinjauan 2

N = jumlah saluran yang diamati

T = periode pengamatan
42

Tn = total waktu pendudukan saluran ke n (jam)

Pada tinjauan ini intensitas trafik merupakan jumlah seluruh waktu

pendudukan pada N buah saluran per satuan waktu pengamatan T [8]:

1 N
A  tn ................................................... (4.3)
T n1

Waktu pendudukan rata-rata tiap saluran [8]:

1 N
tr   tn .................................................. (4.4)
N n1

Jumlah pendudukan rata-rata per satuan waktu [8]:

A N
C  .................................................. (4.5)
tr T

3. Macam-macam Trafik

1. Offered Traffic (A)

adalah trafik yang ditawarkan atau yang mau masuk ke jaringan.

2. Carried Traffic (Y)

adalah trafik yang dimuat atau yang mendapat saluran.

3. Lost Traffic (R)

adalah trafik yang hilang atau yang tidak mendapat saluran.

A G Y

G = elemen gandeng (switching network)

Gambar 4.1 Macam-macam trafik

4. Pengukuran Trafik
43

Untuk melakukan pengukuran trafik harus diamati pola pendudukan

selama n hari kemudian baru dibuat grafik pendudukan kanalnya. Selanjutnya

diambil jam sibuk perhari, sehingga didapat n buah data jam tersibuk [8].

C i

C i 1
.......................................................... (4.6)
n

Beberapa asumsi pada distribusi probabilitas Erlang

1. Jumlah sumber panggilan tak terhingga

2. Jumlah saluran yang menumpang panggilan tak terhingga

3. Kedatangan panggilan acak dengan rata-rata jumlah panggilan yang datang

konstan

4. Pola pendudukan kanal eksponsif negatif

5. Harga mean = harga variansi

= mean jumlah saluran yang diduduki selama 1 jam, dalam 1

jam pengamatan

= jumlah Erlang (intensitas trafik)

6. Apabila semua saluran sedang terpakai maka panggilan berikutnya tidak

dapat dilayani (hilang/loss)

7. Semua saluran bebas selalu dapat diduduki oleh panggilan yang datang

Persamaan distribusi Erlang [8].

A n / n!
P(n) = n
..... .......................................................... (4.7)
 A / i!
i 0
i

N = jumlah saluran yang tersedia

Pada saat N buah saluran diduduki, maka semua panggilaan ditolak. P(N)

tidak lain adalah nilai probabilitas dari trafik yang hilang. P(N) disebut juga

sebagai rugi Erlang atau GOS (Grade Of Service) atau B [8].


44

A n / n!
B = P(N) = n
.............................................................. (4.8)
 A / i!
i 0
i

Relasi Rekursif Persamaan Rugi Erlang

Persamaan rugi rekursif Erlang dituliskan sebagai berikut [8] :

A.En - 1(A)
P(n) = En (A) = ................................................. (4.9)
n  A.En  1( A)

Untuk menentukan jumlah kanal (n) pada besar trafik yang ditawarkan sebesar

A dengan kualitas layanan B dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan

di atas, atau dengan menggunakan tabel Erlang.

5. Grade Of Service (GOS)

Grade of Service (GOS) adalah probabilitas panggilan ditolak (diblok)

selama jam sibuk. Secara sederhana pengertiannya adalah sebagai berikut,

untuk GOS sebesar 2% berarti dalam 100 panggilan akan terdapat 2 panggilan

yang tidak mendapatkan saluran atau di blok oleh sistem. Dalam lingkungan

wireless, target desain GOS adalah 2% atau 5%. Tabel GOS diperlukan untuk

mengetahui berapa kanal yang dibutuhkan untuk minimum GOS yang

disyaratkan.

Terdapat perbedaan antara blocking rate dan blocking probability.

Blocking rate didefinisikan sebagai jumlah yang terukur dari suatu base

station, sedangkan blokcing probability didefinisikan sebagai peluang suatu

panggilan di-block karena ketiadaan kanal bebas pada suatu base station. Pada

sejumlah kanal ketika beban bertambah maka blocking probability juga

meningkat. Blocking probability digunakan sebagai ukuran Grade Of Service

(GOS). Blocking probability, GOS berdasarkan Erlang-B adalah [8] :


45

A N / N!
P(blocking) = N
....................................................... (4.10)
 A / i!
i 0
i

1. Pada model ini berlaku beberapa asumsi.

2. Sistem berada dalam kondisi statistical equilibrium.

3. Besar beban yang ditawarkan tertentu (diketahui).

4. Kedatangan panggilan berdasarkan proses Poisson, yaitu distribusi

kedatangan antar panggilan adalah eksponensial, dan panggilan yang di

block tidak dapat langsung membuat hubungan baru.

5. Distribusi waktu kedatangan panggilan eksponensial.

6. Skema Channel Allocation

Untuk mendayagunakan pemanfatan kanal spektrum radio, pada penggunaan

ulang frekuensi dilakukan secara konsisten dengan tujuan menaikkan kapasitas

dan meminimalkan terjadinya interferensi. Berbagai cara pemberian kanal telah

dikembangkan, misalnya pemberian kanal secara ‘tetap’ dan ‘dinamis’.

Skema Channel Allocation dapat dibagi dalam beberapa kategori bergantung

pada teknik pengalokasian kanal atau algoritma penempatan kanal dengan

berbagai macam cara seperti : Fixed Channel Allocation (FCA), Dynamic Channel

Allocation (DCA), dan Hybrid Channel Allocation (HCA).

Fixed Channel Allocation, dalam sistem FCA suatu wilayah dibagi

berdasarkan jumah sel dan jumlah kanal-kanal yang ditempatkan pada masing-

masing sel yang diatur sebelumnya berdasarkan pola reuse. Hubungan yang nyata

diasumsikan antara tiap-tiap kanal dan tiap-tiap sel menurut sistem co-channel

reuse. Pada strategi FCA jumlah keseluruhan kanal yang sama dialokasikan pada

tiap-tiap sel, jumlah keseluruhan kanal merupakan suatu kumpulan kanal dimana
46

nantinya ditempatkan pada sel yang telah ditentukan, pendistribusian kanal yang

sama ini akan efisien jika distribusi trafik sistem juga sama.

Pada kasus ini probabilitas blocking rata-rata keseluruhan dari MS sama

halnya probabilitas blocking panggilan dalam sel, karena trafik di dalam sistem

seluler dapat mengalami peningkatan secara temporer. Sehingga penempatan

kanal yang sama pada sel dapat mengurangi blocking yang tinggi di dalam sel.

Bagaimanapun juga algoritma penempatan kanal yang berbeda-beda dengan

menggunakan strategi FCA apabila sel-sel yang memiliki beban penuh maka

ditempatkan lebih banyak kanal dari pada sel-sel yang memiliki sedikit beban.

Asumsikan terdapat N sel dan M kanal dalam sebuah sistem. Penempatan

sebuah kanal ke dalam sel yang bersifat co-channel mengacu pada pola alokasi.

Sebagai tambahan pola penempatan kepadatan dari sebuah kanal yang

didefinisikan sebagai pola dengan jarak rata-rata minimum antara sel-sel, beban

trafik yang diberikan pada tiap-tiap N sel dan kemungkinan pada penempatan

pada M kanal, algoritma penempatan kanal yang berbeda-beda ini bertujuan untuk

mendapatkan pola kepadatan yang diinginkan dimana probabilitas blocking rata-

rata dapat diminimalkan atau ditekan pada keseluruhan sistem secara bersamaan.

Channel Borrowing Scheme (skema peminjaman kanal) bertujuan untuk

menempatkan kembali kanal-kanal yang tidak digunakan dari sel yang memiliki

banyak beban. Pada skema ini kanal ditempatkan secara permanen ke dalam sel,

dimana jumlah keseluruhan kanal yang ditempatkan pada setiap sel mungkin

dapat ditempatkan secara periodik menurut pembagian beban yang tidak sama.

Pada channel borrowing scheme sel penerima yang sedang digunakan, dimana

keseluruhan kanal dapat meminjam kanal yang bebas dari sel tetangganya untuk

mengakomodasi sel-sel yang menbutuhkan, sebuah kanal dapat dipinjam dari


47

sebuah sel jika kanal yang dipinjam tersebut tidak mengganggu panggilan yang

berlangsung. Ketika sebuah kanal dipinjam beberapa sel-sel yang lain dilarang

menggunakan kanal tersebut atau disebut channel locking, channel borrowing

scheme melakukan peminjaman kanal dengan alokasi penempatan kanal yang

singkat dari kanal yang dipinjam dari sebuah sel, dan ketika pembicaraan telah

selesai maka kanal kembali ke sel asalnya.

Pada channel borrowing scheme dibagi menjadi 2 yaitu :

a. Simple Channel Borrowing Strategy

Pada Simple Channel Borrowing Strategy jumlah kanal keseluruhan

ditempatkan pada tiap-tiap sel, ketika sebuah panggilan datang pada sebuah

sel, kanal-kanal ditempatkan untuk menangani panggilan. Jika semua kanal

yang tersedia sibuk, maka kanal yang berada pada sel tetangga dipinjam untuk

menangani panggilan tersebut dengan catatan peminjaman tersebut tidak

menginterferensi panggilan yang sedang berlangsung, yang mengakibatkan

terjadinya pemblockingan.

Simple Channel Borrowing Strategy memberikan blocking yang lebih

rendah dibandingkan FCA dengan kondisi trafik yang tidak begitu padat. Pada

kondisi trafik yang padat, bagaimanapun juga peminjaman kanal dapat terus

berlangsung sesuai dengan efisiensi penggunaan kanal.

b. Hybrid Assigment Strategy

Pada Hybrid Assigment Strategy jumlah kanal nominal atau kanal

keseluruhan yang menempati tiap-tiap sel dibagi menjadi 2 sub-set yaitu :

kanal-kanal subset A digunakan hanya pada sel asal sedangkan sub-set B dapat

dipinjamkan pada sel tetangga.


48

Simple Hybrid Channel Borrowing Strategy (SHCB) membandingkan

subset A dan subset B ditentukan berdasarkan kondisi trafik dan dapat

disesuaikan secara dinamik.

Borrowing with Channel Ordering (BCO) merupakan strategi lain selain

SHCB dan membedakan antara kanal yang tersedia di setiap sel (kanal lokal)

yang dipinjam menurut kondisi trafik yang berubah-ubah. Di dalam BCO

jumlah keseluruhan kanal diurutkan dari kanal pertama dimana kanal pertama

memiliki prioritas tertinggi untuk ditempatkan dalam melayani panggilan lokal

dan urutan kanal terakhir diberikan prioritas tertinggi untuk dipinjamkan ke sel

tetangga.

Pada strategi BCO sebuah kanal hanya dapat digunakan jika kanal tersebut

tidak sedang digunakan secara bersamaan pada sistem co-channel yang

berdekatan. Pada kenyataanya pernyataan tersebut sulit untuk direalisasikan

dan beresiko dapat menurunkan jumlah kanal yang tersedia yang dapat

dipinjam. Sehingga munculah strategi baru disebut Borrowing with

Directional Channel Locking (BDCL) pada tahun 1989. Dalam strategi ini

ketika sebuah kanal yang dipinjamkan maka terjadi penguncian kanal hanya

terbatas oleh peminjaman. Jadi jumlah kanal yang tersedia lebih besar dari

strategi BCO, skema BDCL ini juga menggabungkan penempatan kembali

kanal-kanal yang dipinjam terhadap kanal asal, supaya meminimalkan

peminjaman kanal untuk panggilan-panggilan yang akan datang khususnya

ketika terjadi kepadatan trafik dimana kanal yang dipinjamkan meningkat.

Dynamic Channel Allocation (DCA), karena bermacamnya trafik sistem

seluler skema FCA tidak dapat mengatasi efisiensi kanal yang tinggi untuk

mengatasi hal tersebut munculah DCA. Berkebalikan dengan FCA semua


49

kanal pada DCA ini berkemungkinan besar untuk dapat dipinjam dan

ditempatkan ke sel lain secara dinamik terhadap panggilan yang datang. Jika

hal tersebut berlangsung dan mengalami perubahan yang sementara pada

distribusi panggilan secara temporer sehingga dapat menampung banyak

users.

7. Peningkatan Kapasitas Sel

1. Fixed Channel Allocation (FCA) 3)

Strategi ini adalah dengan membagi seluruh kanal yang disediakan (M)

menjadi N set kanal dimana N adalah jumlah sel per cluster. Hal ini dilakukan

untuk wilayah pelayanan dengan jumlah sel per cluster, ini dilakukan untuk

wilayah pelayanan dengan jumlah sel yang relatif banyak. Pada strategi ini,

sejumlah kanal disediakan permanen pada setiap sel.

Jumlah kanal tersebut harus cukup memadai, terutama pada saat

permintaan maksimum pada saat jam sibuk. Dua parameter yang penting

dalam melihat karakteristik trafik dalam rate (rata-rata) datangnya panggilan

sebesar n dan waktu pembicaraan rata-rata sehingga trafik setiap pelanggan

dapat dihitung dari [2]:

n.T
A (Erlang / pelanggan) ..…………………….(4.11)
60

Nilai lalu lintas dari sekelompok kanal menyatakan lamanya waktu

pendudukan yang diolah oleh sekelompok kanal tersebut dalam interval waktu

jam sibuk.

Apabila MS (Mobile Station) mendapatkan suatu kanal untuk

pembicaraan, maka MS akan memakai kanal tersebut sampai pembicaraan

berakhir di dalam sel atau MS bergerak keluar dari sel. Dalam perhitungan,

diasumsikan tidak ada MS yang melewati batas sel pada saat pembicaraan.
50

Sistem FCA yang biasa digunakan adalah dengan sistem rugi. Artinya,

pada saat seluruh kanal yang ditetapkan pada BS (Base Station) sedang

digunakan maka panggilan baru langsung ditolak. Probabilitas panggilan

tersebut ditolak bergantung pada jumlah saluran yang disediakan dan lalu

lintas yang ditawarkan. Hubungan ketiga besaran ini dinyatakan dengan [2] :

AN
B ............................................................ (4.12)
N
Ai
N !
i  0 i!

Dimana : B = Probabilitas seluruh saluran sibuk

A = Nilai lalu lintas yang ditawarkan

N = Jumlah sel yang disediakan

1). FCA menggunakan antena omnidireksional

Jumlah pelanggan (M) dapat dihitung dengan cara [3] :

Ax 60menit / hr
M ..................................................... (4.13)
T

dimana A(N,B) merupakan trafik yang disediakan (berdasarkan tabel

Erlang B).

2). FCA menggunakan antena sektorisasi

Jumlah N per sektor = Jumlah sel yang disediakan .................. (4.14)


Jumlah sektor

Jumlah pelanggan (M) per sektor dapat dihitung seperti persamaan:

Ax 60menit / hr
M
T

dimana A(Npersektor,B) merupakan trafik yang disediakan (berdasarkan

tabel Erlang B).

Sehingga jumlah pelanggan (M) per sel :

Ax 60menit / hr
M x Jumlah sektor (users/cel) ………….... (4.15)
T
51

2. Channel Sharring

Channel sharring bergantung pada kondisi trafik setempat,

pengelompokan kanal frekuensi dapat dibagi diantara dua cell sites jika

menggunakan antena omnidireksional atau dibagi diantara dua permukaan

pada cell sites jika menggunakan antena direksional (berarah). Oleh karena itu

dalam penempatan frekuensi salah satunya harus mempertimbangkan offered

load capacity atau beban trafik yang ditawarkan dimana penambahan

kapasitas dapat menggunakan skema channel sharring.

a. Channel Sharring pada Sel menggunakan Antena Omni

Diasumsikan terdapat 45 kanal yang ditetapkan pada masing-masing

cell sites. Jika diantara 45 kanal pada setiap site, 15 kanal ditetapkan untuk

dipinjamkan dengan sel lain, dimana jumlah terbesar kanal yang tersedia

adalah 60 dan terendah adalah 30, dapat dilihat pada gambar 4.1.

Kepadatan trafik pada skema channel sharing dapat dibandingkan dengan

skema non-channel sharring. Model Erlang B dapat digunakan, model

Erlang B didasari pada sistem palayanan tanpa antrian, dimana semua

antrian akan ditolak. Penolakan ini disebut dengan loss system karena pada

saat terdapat pelanggan mengadakan panggilan baru akan diblock pada

saat semua kanal dalam keadaan sibuk.

{f1} {f2} {f1} {f2}

30 Ch 15 Ch 15 Ch 30 Ch
45 Ch 45 Ch

Skema no channel sharing Skema channel sharing

Gambar 4.1 Ilustrasi perbedaan dua skema pada sistem antena

omnidireksional
52

30 CH 60 CH

(a) (b)

Gambar 4.2 3)

(a) Skema Channel Sharring pada sistem antena direksional

(b) Skema Channel Borrowing pada sistem antena omni

Dengan asumsi yang digunakan : N merupakan jumlah kanal per sel,

T adalah rata-rata waktu bicara, B merupakan probabilitas blocking yang

digunakan, dimana A(N,B) merupakan trafik yang disediakan

(berdasarkan tabel Erlang B).

Sehingga jumlah pelanggan (M) yang tersedia dalam sel (user/cell)

pada :

1. Kasus no channel sharring dapat dihitung :

M adalah jumlah jumlah users atau unit mobil yang dapat dilayani

dengan persamaan dibawah ini :

Ax 60menit / hr
M
T

2. Kasus channel sharring dapat dihitung dengan cara :

A adalah besar trafik yang dihasilkan [3] :

A
1
AN 1, B   AN 2 , B   AN , B  (Erlang) ............. (4.16)
2
53

Dimana :

N1 = jumlah kanal/sel

N2 = jumlah kanal yang dapat digunakan bersama dengan sel lain

∆N = N2 – N1

Perbandingan persamaan dengan persamaan, dapat terlihat bahwa

skema channel-sharing selalu melayani lebih banyak users dibandingkan

dengan no-channel sharing skema. Bagaimanapun terdapat kekurangan

pada skema channel-sharing dimana dari segi hardware untuk

penambahan 15 kanal disediakan untuk setiap cell site, sehingga

mengakibatkan sistem kontrol yang lebik kompleks dengan

menggunakan skema channel sharring.

b. Channel Sharing pada Sel menggunakan Antenna Direksional

Diasumsikan terdapat tiga buah antena direksional yang digunakan pada

tiga sektor pada setiap cell sites. Dimana total kanal yang ditetapkan

sebanyak 45 kanal pada masing-masing site sehingga terdapat 15 kanal pada

setiap sektor. Strategi channel sharing sektor direkomendasikan untuk setiap

sel. Meskipun, sistem ini mungkin tidak terlalu banyak memberikan

kebebasan dalam channel sharring. Kanal-kanal dipinjamkan dengan cara

berlawanan arah jarum jam agar menghindari interferensi sel yang

bersebelahan (adjacent-channels interference). Diasumsikan juga jumlah

users yang dapat dilayani terindikasi pada dua kasus, yaitu kasus no-channel

sharing dan kasus channel sharing. Kondisi tersebut memberikan persamaan

1). Kasus no-channel sharring :

Jumlah N per sektor = Total Jumlah kanal yang disediakan


Jumlah sektor
54

Jumlah pelanggan (M) per sektor dapat dihitung berdasarkan persamaan:

Ax 60menit / hr
M
T

dimana A(Npersektor,B) merupakan trafik yang disediakan (berdasarkan

tabel Erlang B).

2). Kasus Channel Sharring

Dengan mensubtitusi N1 = 15, N2 = 30 dan ∆N = 15 mengacu pada

persamaan (2.20). Sehingga jumlah pelanggan berdasarkan

persamaan (2.17).

3. Channel Borrowing

Channel Borrowing biasanya dilakukan pada sistem FCA. Saat trafik

density (kepadatan trafik) tidak dapat lagi didistribusikan ke seluruh coverage

area, beberapa area memerlukan lebih banyak kanal untuk menyediakan

kebutuhan layanan. Sehingga jelas, borrowing merupakan sebuah long-term

commitment, terdapat perbedaan pada sistem borrowing dalam penggunaan

antena omnidireksional dan antena direksioanal pada sebuah sel.

Ilustrasi channel borrowing pada antena omnidireksional. Diasumsikan

terdapat 45 kanal yang disediakan pada masing-masing cell site. Bila menemui

kondisi khusus dimana sel yang bersebelahan (adjacent-channel)

membutuhkan sebanyak 15 kanal, seperti pada gambar 4.2. Jumlah total user

berdasarkan pada jumlah user pada dua sel. Pertama dengan mendifinisikan

notasi yang digunakan yaitu :

N1 = jumlah kanal yang dialokasikan di setiap sel

∆N = kanal yang dipinjamkan


55

Jumlah beban trafik total yang ditawarkan (offered load) pada dua sel [3]:

A'  AN1  N , B  AN1  N , B (dalam dua sel) .................... (2.21)

LATIHAN SOAL BAB IV

1. Perhitungan FCA Omnidireksional

a. Dengan menggunakan probabilitas blocking 2%

Dimana :

1). Jumlah kanal per sel yang disediakan (N) = 60 kanal

2). Dengan waktu pendudukan (T) = 1,76 menit

3). Dimana A(N,B) = A(60,2%) merupakan trafik yang disediakan sebesar

49,6 Erlang (berdasarkan table Erlang-B).

Sehingga menghasilkan jumlah pelanggan (M)

Ax 60menit / hr
M
T

49,6 x60

1,76

 1690,9

 1690 user

2. Perhitungan Channel Sharing Omnidireksioanal

a. Dengan menggunakan probabilitas blocking 2%

Dimana :

1). Jumlah kanal per sel yang disediakan (N1) = 60 kanal

2). Jumlah kanal dari setiap sel yang dapat saling dipergunakan (N2) = 75

kanal

3). ∆N = N2 – N1 = 75 - 60 = 15 kanal
56

4). Dengan waktu pendudukan (T) = 1,76 menit

5). A adalah besar trafik yang dihasilkan:

A
1
AN 1, B   AN 2 , B   AN , B  (Erlang)
2


1
A60,2%  A75,2%  A15,2%
2


1
A49,6  A63,9  A9,01
2


1
104,49
2

 52,245 Erlang

Sehingga menghasilkan jumlah pelanggan (M)

Ax 60menit / hr
M
T

52,245 x60menit / hr

1,76

 1781,0795

 1781 user

3. FCA Direksional dengan Channel Sharing Direksional dengan 2 sektor

dan menggunakan probablitas 2%.

Perhitungan FCA

1). Jumlah kanal per sel yang disediakan (N) = 60 kanal

2). Sehingga diperoleh jumlah kanal/ sel dengan menggunakan persamaan

(2.19) :
57

Jumlah N per sektor = Jumlah sel yang disediakan


Jumlah sektor

60

2
 30 kanal/ sel

3). Dengan waktu pendudukan (T) = 1,76 menit

4). Dimana A(N,B) = A(30,2%) merupakan trafik yang disediakan sebesar

21,9 Erlang (berdasarkan table Erlang-B).

Sehingga menghasilkan jumlah pelanggan (M)

Ax 60menit / hr
M
T

21,9 x60

1,76

 746,59 user/sektor

Karena FCA mengunakan antena direksional dengan 2 sektor sehingga

kapasitas pelanggan yang dihasilkan dalam sebuah sel dapat dihitung

Ax 60menit / hr
M x Jumlah sektor (users/cel)
T

 746,59 x2

 1493,18
 1493 user

View publication stats