Anda di halaman 1dari 11

Laporan Pendahuluan

Dengue Fever Haemorragic (DHF)

Nama : Hana Hairunnisa

NIM : 21118115

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMEDIKA

Program Profesi Ners S1 Keperawatan


1. Definisi
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang
disertai dengan adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi
mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian (Arief
Mansjoer & Suprohaita, 2000).
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh
Arbovirus (arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigtan nyamuk
Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. (Ngastiyah, 1995).

2. Etiologi
a. Virus Dengue
Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk ke dalam
Arbovirus (arthropodorn virus) group B, tetapi dari empat tipe yaitu
virus dengue tipe 1,2,3 dan 4 keempat tipe virus dengue tersebut terdapat
di Indonesia dan dapat dibedakan satu dari yang lainnya secara serologis
virus dengue yang termasuk dalam genus flavivirus ini berdiameter 40
nonometer dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai macam
kultur jaringan baik yang berasal dari sel-sel mamalia misalnya sel BHK
(Babby Homster Kidney) maupun sel-sel Arthropoda misalnya sel aedes
Albopictus (Soedarto, 1990).
b. Vektor
Virus dengue serotipe 1,2,3 dan 4 yang ditularkan melalui vector yaitu
nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis
dan beberapa spesies lain merupakan vector yang kurang berperan
infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibody seumur
hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan
terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap
serotipe jenis yang lainnya (Arief Manjoer & Suprohaita, 2000).
Nyamuk aedes aegypti maupun Aedes Albopictus merupakan vector
penularan virus dengue dari penderita kepada orang lainnya melalui
gigitannya nyamuk Aedes Aegypti merupakan vector penting di daerah
perkotaan (Viban) sedangkan di daerah pedesaan (rural) kedua nyamuk
tersebut berperan dalam penularan. Nyamuk Aedes berkembang biak
pada genangan air bersih yang terdapat bejana-bejana yang terdapat di
dalam rumah (Aedes Aegypti) maupun yang terdapat diluar rumah di
lubang-lubang pohon di dalam potongan bambu, dilipatan daun dan
genangan air bersih alami lainnya (Aedes Albopictus). Nyamuk betina
lebih menyukai menghisap darah korbannya pada siang hari terutama
pada waktu pagi hari dan senja hari (Soedarto, 1990)
c. Host
Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka ia
akan mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak, sempurna,
sehingga ia masih mungkin untuk terinfeksi virus dengue yang sama
tipenya maupun virus dengue tipe lainnya. Dengue Haemoragic Fever
(DHF) akan terjadi jika seseorang yang pernah mendapatkan infeksi
virus dengue tipe tertentu mendapatkan infeksi ulangan untuk kedua
kalinya atau lebih dengan pula terjadi pada bayi yang mendapat infeksi
virus dengue untuk pertama kalinya jika ia telah mendapat imunitas
terhadap dengue dari ibuny melalui plasenta (Soedarto, 1990)

3. Patofisiologi
Infeksi virus dengue

Perbanyak diri di hepar

Terbentuk komplek antigen-antibodi

Mengaktivasi sistem komplemen

Dilepaskan C3a dan C5a (peptida)

Melepaskan histamine

Permeabilitas membrane meningkat

Kebocoran plasma

Hipovolemia

Renjatan hipovolemi dan hipotensi

Kekurangan volume cairan

Agregasi trombosit

Trombositopenia

Perdarahan

Gangguan perfusi jaringan

Hipoksia jaringan

Asidosis metabolik

Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulka


viretemia. Hal tersebut menyebabkan pengaktifkan komplemen sehingga
terjadi komplek imun antibody – virus pengaktifan tersebut akan
membentuk dan melepaskan zat (3a, C5a, bradikinin, serotonin, thrombin,
histamine), yang akan merangsang PGE2 di hipotalamus sehingga terjadi
termoregulasi instabil yaitu hipertermia yang akan meningkatkan reabsorbsi
Na+ dan air sehingga terjadi hipovolemi. Hipovolemi juga dapat disebabkan
peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah yang menyebabkan
kebocoran plasma. Adanya komplek imun antibody-virus juga
menimbulkan agregasi trombosit sehingga terjadi gangguan fungsi
trombosit, trombositopeni, koagulopati. Ketiga hal tersebut menyebabkan
perdarahan berlebihan yang jika berlanjut terjadi shock dan jika shock tidak
teratasi terjadi hipoksia jaringan dan akhirnya terjadi asidosis metabolik.
Asidosis metabolic juga disebabkan karena kebocoran plasma yang
akhirnya terjadi perlemahan sirkulasi sistemik sehingga perfusi jaringan
menurun jika tidak teratasi terjadi hipoksia jaringan.

Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari. Virus hanya dapat
hidup dalam sel yang hidup, sehingga harus bersaing dengan sel manusia
terutama dalam kebutuhan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung
pada daya tahan tubuh manusia sebagai reaksi terhadap infeksi terjadi (1)
aktivasi sistem komplemen sehingga dikeluarkan zat anafilatoksin yang
menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler sehingga terjadi
perembesan plasma dari ruan intravascular ke ekstravaskular, (2) agregasi
trombosit menurun, apabila kelainan ini berlanjut akan menyebabkan
kelainan fungsi trombosit sebagai akibatnya akan terjadi mobilisasi sel
trombosit muda dari sumsum tulang dan (3) kerusakan sel endotel pembuluh
darah akan merangsang atau mengaktivasi faktor pembekuan.

Ketiga faktor tersebut akan menyebabkan (1) peningkatan permeabilitas


kapiler; (2) kelainan hemostasis, yang disebabkan oleh vaskulopati;
trombositopenia; dan koagulopati (Arief Mansjoer & Suprohaita, 2000)

4. Manifestasi Klinis Infeksi Virus Dengue


a. Demam
Demam terjadi secara mendadak berlangsung selama 2-7 hari kemudia
turun menuju suhu normal atau lebih rendah. Bersamaan dengan
berlangsung demaam, gejala-gejala klinik yang tidak spesifik misalnya
anoreksia. Nyeri punggung, nyeri tulang dan persendiaan, nyeri kepala
dan rasa lemah dapat menyertainya (Soedarto, 1990)
b. Perdarahan
Perdarahan biasanya terjadi pada hari ke 2 dan 3 dari demam dan
umumnya terjadi pada kulit dan dapat berupa uji toriquet yang positif
mudah terjadi perdarahan pada tempat fungsi vena, ptekie dan purpura
(Soedarto, 1990). Perdarahan ringan hingga sedang dapat terlihat pada
salurab cerna bagian atas hingga menyebabkan haematemesis (Nelson,
1993). Perdarahan gastrointestinal biasanya didahului dengan nyeri
perut yang hebat (Ngastiyah, 1995).
c. Hepatomegali
Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba, meskipun pada
anak yang kurang gizi hati juga sudah. Bila terjadi peningkatan dari
hepatomegali dan hati teraba kenyal harus di perhatikan kemungkinan
akan terjadi renjatan pada penderita (Soedarita, 1995).
d. Renjatan (Syok)
Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ke 3 sejak sakitnya penderita,
dimulai dengan tanda-tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab,
dingin pada ujung hidung, jari tangan, jari kaki serta sianosis, disekitar
mulut. Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya menunjukan
prognosis yang buruk.

5. Klasifikasi DHF
Menurut derajat ringannya penyakit, Dengue Haemoragic Fever (DHF)
dibagi menjadi 4 derajat (WHO, 1997) yaitu :
a. Derajat I : demam dengan test rumple leed positif
b. Derajat II : derajat I disertai dengan perdarahan spontan dikulit atau
perdarahan lain
c. Derajat III : ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah,
tekanan nadi, menurun/hipotensi disertai dengan kulit dingin lembab
dan pasien menjadi gelisah
d. Derajat IV : syok berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah
tidak dapat dikur

6. Tanda dan Gejala


Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya,
tanda dan gejala lain adalah :
- Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan
- Asites
- Cairan dalam rongga pleura (kanan)
- Ensephalopati L kejang, gelisah, spoor koma
- Gejala klinik lain yaitu nyeri epigastrium, muntah-muntah, diare
maupun konstipasi dan kejang-kejang

7. Pemeriksaan dan Diagnosa


Untuk mendiagnosis Dengue Haemoragic Fever (DHF) dapat dilakukan
pemeriksaan dan didapatkan gejala seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya juga dapat ditegakan dengan pemeriksaan laboratorium yakni
- Trombositopenia (≤ 100.000/mm3), Hb dan PCV meningkat (≥20%)
leukopenia (mungkin normal atau leukositosis), isolasi virus, serologis.
- Pemeriksaan serologic yaitu titer CF (complement fixation) dan anti
bodi HI (Haemaglutination ingibition), yang hasilnya adalah
Pada infeksi pertama dalam fase akut titer antibody HI adalah kurang
dari 1/20 dan akan meningkat sampai <1/1280 pada stadium
rekovalensensi pada infeksi kedua atau selanjutnya, titer antibody HI
dalam fase akut > 1/20 dan akan meningkat dalam stadium rekovalensi
sampai lebih dari pada 1/2560.
Apabila titer HI pada fase akut ≥ 1/1280 maka kadang titernya dalam
stadium rekonvalensi tidak naik lagi.
Pada renjatan yang berat maka diperiksa : Hb, PCV berulangkali (setiap
jam atau 4-6 jam apabila sudah menunjukan tanda perbaikan) faal
haemostasis x- foto dada, elektro kardio gra, kreatinin serum
Dasar diagnosis Dengue Haemoragic fever (DHF) WHO tahun 1997 :
Klinis :
- Demam tinggi dengan mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari
- Manifestasi perdarahan ptekie, melena, hematemesis (test rumple leed)
- Pembesaran hepar
- Syok yang ditandai dengan nadi lemah, cepat, tekanan darah menurun,
akral dingin dan sianosis, dan gelisah
Laboratorium :
- Trombositopenia (<100.000/uL) dan terjadi hemokonsentrasi lebih dari
20%

8. Diagnosa Banding
a. Belum/tanpa renjatan
1). Campak
2). Infeksi bakteri/virus lain (tonsilo faringitis, demam dari kelompok,
penyakit exanthema, hepatitis, chikungunya)
b. Dengan renjatan
1). Demam tipoid
2). Renjatan septic oleh kuman gram negatif lain
c. Demam perdarahan
1) Leukimia
2) Anemia aplastic
d. Dengan kejang
Ensefalitis
Meningitis

9. Pencegahan dan Pemberantasan


Pemberantasan Dengue Haemoragic Fever (DHF) seperti juga penyakit
menular lain didasarkan atas memutus rantai penularan, terdiri dari virus,
aedes dan manusia. Karena sampai saat ini belum terdapat vaksin yang
efektif terdapat virus itu maka pemberantasan ditujukan pada manusia
terutama pada vektornya.
Prinsip tepat dalam pencegahan DHF
a. Manfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah
dengan melaksanakan pemberantasan pada saat sedikit terdapatnya
DHF/DSS
b. Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vector
pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita
viremia
c. Mengusahakan pemberantasan vector di pusat daerah pengambaran
yaitu sekolah dan RS, termasuk pula daerah penyangga sekitarnya
d. Mengusahakan pemberantasan vector di pusat daerah berpotensi
penularan tinggi
Pemberantasan penyakit Dengue Haemoragic Fever (DHF) ini yang
paling penting adalah upaya membasmi jentik nyamuk penularan
ditempat perindukannya dengan melakukan “3M” yaitu
1) Menguras tempat-tempat penampungan air secara teratur sekurang-
kurangnya seminggu sekali atau menaburkan bubuk obat ke
dalamnya
2) Menutup rapat-rapat tempat penampungan air
3) Menguburkan/menyingkirkan barang kaleng bekas yang dapat
menampung air hujan seperti→dilanjutkan di baliknya

10. Penatalaksanaan
Pada dasarnya pengobatan pasien Dengue Haemoragic Fever (DHF)
bersifat simtomatis dan suportif
Dengue Haemoragic Fever (DHF) ringan tidak perlu dirawat, Dengue
Haemoragic Fever (DHF) sedang kadang-kadang tidak memerlukann
perawatan, apabila orang tua dapat diikutsertakan dalam pengawasan
penderita di rumah dengan kewaspadaan terjadinya syo yaitu perburukan
gejala klinik pada hari 3-7 sakit.
Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue yaitu : Panas 1-2
hari disertai dehidrasi (karena panas, muntah, masukan kurang) atau kejang-
kejang.
Panas 3-5 hari sertai nyeri perut, pembesaran hati uji tourniquet
positif/negative, kesakitan, Hb dan Ht/PCV meningkat, panas disertai
perdarahan, panas disertai renjatan
Sedangkan penatalaksanaan Dengue Haemoragic Fever (DHF) menurut
UPF IKA, 1994 adalah :
a. Belum atau tanpa renjatan :
Grade I dan II
Hiperpireksia (suhu 400C atau lebih) diatasi dengan antipiretika dan
“surface cooling”. Antipiretik yang dapat diberikan ialah golongan
asetaminofen, asetosal tidak boleh diberikan
Umur 6-12 bulan : 60 mg / kaji, 4 kali sehari
Umur 1 – 5 tahun : 50 – 100 mg, 4 kali sehari
Umur 5 – 10 tahun : 100 – 200 mg, 4 kali sehari
Umur 10 tahun keatas : 250 mg, 4 kali sehari
Terapi cairan
1) Infus cairan ringer laktat dengan dosis 75 ml/kgBB/hari untuk anak
dengan BB<10kg atau 50ml/kgBB/hari untuk anak dengan BB < 10
kg bersama-sama diberikan minuman oralit
2) Untuk kasus yang menunjukan gejala dehidrasi disarankan minum
sebanyak-banyaknya dan sesering mungkin
3) Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan
infus yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan cairan penderita
dalam kurun waktu 24 jam yang diestimasikan sebagai berikut :
o 100 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB <25kg
o 75ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 26-30kg
o 60ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 31-40kg
o 50ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 41-50kg
o Obat-obatan lain : antibiotika apabila ada infeksi lain, antipiretik
untuk anti panas, darah 15cc/KgBB/hari perdarahan hebat
b. Dengan Renjatan :
Grade III
1) Berikan infus Ringer Laktat 20mL/KgBB/1 jam
Apabila menunjukka perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg
dan nadi teraba dengan frekuensi kurang dari 120/mnt dan akral
hangat) lanjutkan dengan Ringer Laktat 10 mL/KgBB/11jam. Jika
nadi dan tensi stabil lanjutkan infus tersebut dengan jumlah caira
dihitung berdasarkan kebutuhan cairan dalam kurun waktu 24 jam
dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi dengan sisa waktu (24
jam dikurangi waktu yang dipakai untuk mengatasi renjatan).
Perhitungan kebutuhan cairan dalam 24 jam diperhitungkan sebagai
berikut :
o 100mL/KgBB/24 jam untuk anak dengan BB <25Kg
o 75mL/KgBb/24 jam untuk anak dengan BB 26-30Kg
o 60mL/KgBB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40Kg
o 50mL/KgBB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50Kg
2) Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL 20 mL/KgBB/1 jam
keadaan tensi masih terukur kurang dari 80 mmHg dan nadi cepat
lemah, akral dingin makan penderita tersebut memperoleh plasma
atau plasma ekspander (dextran L atau yang lainnya) sebanyak
10mL/KgBB/1 jam dan dapat diulang maksimal 30mL/KgBB dalam
kurun waktu 24 jam. Jika keadaan umum membaik dilanjutkan
cairan RL sebanyak kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi
cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi
renjatan.
3) Apabila satu jam setelah pemberian cairan RL 10mL/KgBB/1 jam
keadaan tensi menurunlagi, tetapi masih terukur kurang 80 mmHg
dan nadi cepat lemah akral dingin maka penderita tersebut harus
memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya)
sebanyak 10mL/KgBB/1 jam. Dan dapat diulang maksimal
30mg/KgBB dalam kurun waktu 24 jam.