Anda di halaman 1dari 2

TEORI MANIPULASI INFORMASI

Menjelaskan Bagaimana Kebohongan Terjadi


Teori ini merupakan bagian dari teori komunikasi antarpribadi yang terpusat pada interaksi/wacana yang ditulis
oleh Steven Mc Cornack (2008) yang menjelaskan bagaimana kebohongan terjadi.
Pesan-pesan yang dipertukarkan antara komunikator dianggap termasuk salah satu dari dua kategori: “kebenaran”
dan “kebohongan”. Yang harus kita lakukan adalah mengidentifikasi kumpulan karakteristik yang kelihatan
dengan mudah yang membedakan kebohongan dan pembohong dari kebenaran dan orang yang bercerita benar,
dan kemudian melakukan pengamatan dengan waspada untuk atribusi-atribusi ini dalam hubungan-hubungan
antarpribadi kita dengan orang lain.

Apabila kita memusatkan perhatian kita pada “bagaimana” kebohongan dilakukan, kita menemukan bahwa
manusia berbohong dalam banyak cara. Adakalanya orang berbohong dengan menghasilkan pesan-pesan yang
berbohong secara tidak tahu malu. Lebih biasa lagi, orang disesatkan dengan membuat pesan-pesan yang
memanipulasi informasi dalam cara-cara lain.

Dengan teori ini kita menelaah cara-cara orang memanipulasi informasi dalam pesan-pesan komunikasi
antarpribadi yang mereka berikan kepada orang lain. Dengan berbuat demikian, kita mengadakan penyelidikan
Teori Manipulasi Informasi atau Information Manipulation Theory, sebuah teori yang dirancang untuk
menjelaskan bagaimana orang berbohong dan bagaimana orang dibohongi.

TEORI – TEORI NARASI


Memahami tentang Komunikasi Antarpribadi
Sepanjang peristiwa – peristiwa dalam kehidupan sehari – hari, orang – orang bercerita tentang diri mereka. Orang
– orang membangun dan mengkomunikasikan hubungan – hubungan, budaya – budaya, dan identitas – identitas
mereka, sebgaian melalui kisah – kisah yang mereka akan ceritakan.
Penelitian mengenai cerita – cerita pribadi telah patut atau layak dan menerima sejmlah besar perhatian ada dua
dekade terakhir dalam berbagai disiplin termasuk komunikasi, psikologi, sosiologi, sosiolinguisti, sastra inggris,
cerita rakyat, dan antropologi.
Autoethnography Perspective : penelitian naratif atau narrative research dimanapara pengarang dan pengalaman
– pengalaman mereka menjadi objek penelitian dan dimana data dilihat sebagai kisah – kisah tentang hubungan
– hubungan pribadi.

1. Cerita Sebagai Epistemologi


Narsi sebagai epistemology mengacu kepada teori dan penelitian mengenai cerita sebagai bentuk
analisis. Orbuch (1997) membedkan antara 3 tipe penelitian naratif dimana cerita yang berbeda dapat
dipahami (a) obyek penyelidikan (b) alat penyelidikan (c) hasil penyelidikan.
2. Cerita sebagai bangunan Individual
Para peneliti yang melakukan studi ceita sebagai bangunan individual mengumpulkan dan
menggambarkan kisah – kisah dari individu - individu mengenai diri mereka sendiri, keluarga mereka,
atau hubungan – hubungan pribadi mereka.
3. Cerita sebagai Proses Relasional
Proses Relasional memfokuskan pada “penceritaan” atau storytelling, keduanya sebagai sebuah
tindakan mengenai perbuatan, atau cara “melakukan” hubungan – hubungan, dan sebagai sebuah proses
kolaborasi tentang penceritaan bersama atau joint torytelling antara pasangan – pasangan relasional.

TEORI KEBOHONGAN ANTARPRIBADI


Perilaku Disengaja dan Saling Ketergantungan Selama Kebohongan
Materi ini menyajikan sebuah teori yang menelaah kebohongan melalui lensa komunikasi antarpribadi. Teori
kebohongan antarpribadi dapat lebih dibedakan dengan model – model orientasi secara psikologis, seperti
hipotesis kebocoran, atau teori empat faktor, dimana teori itu kurang focus pada psikologi batin dan respons -
respons otonom tanpa disengaja dan lebih pada factor – factor social luar seperti jalinan komunikasi antara
pengirim dan penerima. Asumsi dasar yang mendukung teori ini ialah bahwa kebohongan tidak beda dari bentuk-
bentuk komunikasi lainnya, bahwa umat manusia berorientasi pada tujuan, makhluk yang menyesuaikan diri.
Karena kebohongan menurut definisinya merupakan sebuah tindakan yang disengaja, teori ini menggaris bawahi
bahwa itu harus dicirikan sebagai suatu strategi, berarti bahwa para pelaku kebohongan mencoba berbagai taktik
untuk mencapai tujuan komunikasi mereka, untuk dilihat sebagai dapat dipercaya, supaya perbuatan bermuka dua
mereka diterima sebagai kebenaran, dan untuk menghindarkan pendeteksian.