Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN PALIATIF PADA PASIEN KANKER PAYUDARA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Paliatif


Program Profesi Ners Angkatan 36

Disusun Oleh :

Anne Cintya Afriliani 220112180056


Siti Hartinah 220112180096
Siti Sumiati 220112180032
Tita Mulyani 220112180012
Warisya Miftah Amanda 220112180001

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXXVI

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2019
LAPORAN PENDAHULUAN
KEPERAWATAN PALIATIF PADA PASIEN KANKER PAYUDARA

A. KONSEP TEORI
1. Pengertian
Kanker Payudara adalah tumor ganas yang menyerang jaringan
payudara yang berasal dari kelenjar, saluran kelenjar dan jaringan
penunjang payudara. Kanker payudara terjadi karena adanya kerusakan
gen yang mengatur pertumbuhan dan diferensiasi sehingga sel ini tumbuh
dan berkembang biak tanpa dapat dikendalikan (National Cancer Institute,
2017).
Kanker payudara adalah tumor ganas yang terbentuk dari sel-sel
payudara yang tumbuh dan berkembang tanpa terkendali sehingga dapat
menyebar di antara jaringan atau organ di dekat payudara atau ke bagian
tubuh lainnya (Kementerian Kesehatan RI, 2016).
2. Etiologi
Segala sesuatu yang menyebabkan terjadinya kanker disebut
karsinogen. Karsinogen menimbulkan perubahan pada gen DNA sehingga
sering bersifat mutagenik. Dari berbagai penelitian dapat diketahui bahwa
karsinogen dapat dibagi menjadi 4 golongan, yaitu bahan kimia, virus,
radiasi (ion dan non-ionasi) dan agen biologik (Pringguoutomo, Himawan,
& Tjarta, 2002). Selain itu, para ahli juga mengemukakan bahwa etiologi
dari penyakit kanker payudara belum dapat diketahui secara pasti. Namun,
banyak penelitian yang menunjukkan adanya beberapa faktor yang
berhubungan dengan peningkatan resiko atau kemungkinan untuk
terjadinya kanker payudara (Price & Lorraine, 2006). Salah satunya adalah
hasil penelitian Yulianti (2016) yang menunjukkan bahwa ada beberapa
faktor risiko yang bisa meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker
payudara, diantaranya adalah:
a. Usia
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa usia reproduktif (15 – 49
tahun) memiliki resiko 2,270 kali lebih tinggi untuk terkena kanker
payudara. Hal tersebut diduga berhubungan dengan paparan hormon
estrogen dan progesteron yang berpengaruh terhadap payudara.
b. Usia Menarke
Usia menarche yang lebih awal berhubungan dengan lamanya paparan
hormon estrogen dan progesteron pada wanita yang berpengaruh
terhadap proses proliferasi jaringan termasuk jaringan payudara.
c. Usia Menopause
Hasil penelitian menunjukkan wanita yang mengalami menopause
>43 tahun berisiko 1,17 kali lebih besar terkena kanker payudara. Hak
tersebut berkaitan dengan lamanya paparan hormon estrogen dan
progesteron yang berpengaruh terhadap proses poliferasi jaringan
payudara.
d. Lama Pemakaian Kontrasepsi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita yang menggunakan
kontarsepsi oral >10 tahun memiliki risiko sebesar 85 % untuk
terkena kanker payudara. Hal tersebut dikarenakan berlebihnya proses
poliferasi bila diikuti dengan hilangnya kontrol atas poliferasi sel dan
pengaturan kematian sel yang sudah terprogram (apoptosis) akan
mengakibatkan sel payudara berpoliferasi secara terus menerus tanpa
adanya batas kematian.
e. Lama Menyusui
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama menyusui 4 - 6 bulan
memiliki risiko kanker payudara lebih besar sebanyak 1,375 kali
dibandingkan dengan lama menyusui 7 – 24 bulan. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin lama menyusui dapat mengurangi risiko
terjadinya kanker payudara dari pada tidak pernah menyusui.
f. Pola Konsumsi Makanan Berserat
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita yang jarang
mengonsumsi makanan berserat akan beresiko lebih tinggi terkena
kanker payudara. Diet makanan berserat berhubungan dengan
rendahnya kadar sebagian besar aktivitas hormon seksual dalam
plasma, tingginya kadar Sex Hormone Binding Globulin (SHBG),
serat akan berpengaruh terhadap mekanisme kerja penurunan hormon
estradiol dan testoteron.
g. Pola Konsumsi Makanan Berlemak
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita yang sering
mengonsumsi makanan berlemak memiliki 1,105 lebih besar untuk
terkena kanker payudara. Willet et al (1997) melakukan studi
prospektif selama 8 tahun tentang konsumsi makanan berlemak
ternyata ada hubungannya dengan risiko kanker payudara pada
perempuan umur 34 sampai dengan 59 tahun.
h. Obesitas
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita yang obesitas memiliki
risiko lebih besar untuk terkena kanker payudara.
i. Pola Diet
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola diet memiliki risiko 2,63
kali lebih besar untuk terkena kanker payuda. Penelitian yang
berfokus pada pengaruh aktifitas fisik, diet dan nutrisi pada kanker
payudara dikarenakan gaya hidup mengkonsumsi diet dan nutrisi yang
baik serta melakukan aktifitas fisik secara teratur dilakukan bukan
hanya sebagai pencegahan agar tidak menderita kanker payudara
tetapi gaya hidup tersebut juga dapat dilakukan untuk
mempertahankan kelangsungan hidup penderita kanker payudara.
j. Perokok Pasif
The U.S. Environmental Protection Agency, The U.S. National
Toxicology Program, The U.S. Surgeon General, dan The
International Agency for Research on Cancer perokok pasif dapat
menyebabkan kanker pada manusia terutama kanker paru-paru.
Beberapa penelitian juga menemukan bahwa perokok pasif diduga
meningkatkan risiko kanker payudara, kanker rongga hidung, dan
kanker nasofaring pada orang dewasa serta risiko leukemia, limfoma,
dan tumor otak pada anak-anak.
k. Konsumsi Alkohol
Perempuan yang mengkonsumsi lebih dari satu gelas alkohol per hari
memiliki risiko terkena kanker payudara yang lebih tinggi.
l. Aktivitas Fisik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan aktifitas fisik
yang rendah memiliki risiko lebih besar untuk terkena kanker
payudara dibandingkan dengan wanita yang memiliki kebiasaan
berolahraga atau aktifitas fisik yang tinggi. Dengan aktivitas fisik atau
berolahraga yang cukup akan dapat dicapai keseimbangan antara
kalori yang masuk dan kalori yang keluar. Olahraga dihubungkan
dengan rendahnya lemak tubuh dan rendahnya semua kadar hormon
yang berpengaruh terhadap kanker payudara dan akan dapat
meningkatkan fungsi kekebalan tubuh. Aktivitas fisik atau olahraga
yang cukup akan berpengaruh terhadap penurunan sirkulasi hormonal
sehingga menurunkan proses proliferasi dan dapat mencegah kejadian
kanker payudara (Enger SM, 2013). Dalam mengurangi risiko kanker
payudara aktivitas fisik dikaitkan dengan kemampuan meningkatkan
fungsi kekebalan tubuh, menurunkan lemak tubuh, dan mempengaruhi
tingkat hormon (Vogel 2010).
m. Riwayat Kanker Payudara Pada Keluarga
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita yang memiliki riwayat
kanker payudara pada keluarga memiliki risiko lebih besar untuk
terkena kanker payudara dibandingkan dengan wanita yang tidak
memiliki riwayat kanker payudara pada keluarga. Hal tersebut karena
adanya gen BRCA yang terdapat dalam DNA yang berperan untuk
mengontrol pertumbuhan sel agar berjalan normal. Dalam kondisi
tertentu gen BRCA tersebut dapat mengalami mutasi menjadi BRCA1
dan BRCA2, sehingga fungsi sebagai pengontrol pertumbuhan hilang
dan memberi kemungkinan pertumbuhan sel menjadi tak terkontrol
atau timbul kanker. Seorang wanita yang memiliki gen mutasi warisan
(termasuk BRCA1 dan BRCA2) meningkatkan risiko kanker
payudara secara signifikan dan telah dilaporkan 5-10% kasus dari
seluruh kanker payudara. Pada kebanyakan wanita pembawa gen
turunan BRCA1 dan BRCA2 secara normal, fungsi gen BRCA
membantu mencegah kanker payudara dengan mengontrol
pertumbuhan sel. Namun hal ini tak berlangsung lama karena
kemampuan mengontrol dari gen tersebut sangat terbatas (Lanfranchi,
2015).
3. Tanda dan Gejala/ Manifestasi Klinik
Gejala dan pertumbuhan kanker payudara tidak mudah dideteksi
karena awal pertumbuhan sel kanker payudara tidak dapat diketahui
dengan gejala umumnya baru diketahui setelah stadium kanker
berkembang agak lanjut, karena pada tahap dini biasanya tidak
menimbukan keluhan. Penderita merasa sehat, tidak merasa nyeri, dan
tidak mengganggu aktivitas (Wiknjosastro, 2009)
Tanda yang mungkin muncul pada stadium dini adalah teraba
benjolan kecil di payudara yang tidak terasa nyeri. Sedangkan, gejala yang
timbul saat penyakit memasuki stadium lanjut semakin banyak, seperti
timbulnya benjolan yang semakin lama makin mengeras dengan bentuk
yang tidak beraturan, saat benjolan membesar baru terasa nyeri dan terlihat
puting susu tertarik ke dalam yang tadinya berwarna merah muda berubah

menjadi kecoklatan, serta keluar darah, nanah, atau cairan encer dari
puting susu pada wanita yang tidak hamil dengan kulit payudara mengerut
seperti kulit jeruk (peau d’orange) (Pulungan, R.M., 2010).
4. Fase Paliative
a. Konsep Paliative
Pelayanan paliatif pasien kanker adalah pelayanan terintegrasi
oleh tim paliatif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan
memberikan dukungan bagi keluarga yang menghadapi masalah yang
berhubungan dengan kondisi pasien dengan mencegah dan
mengurangi penderitaan melalui identifikasi dini, penilaian yang
seksama serta pengobatan nyeri dan masalah-masalah lain, baik
masalah fisik, psikososial dan spiritual, serta pelayanan masa dukacita
bagi keluarga (Kementerian Kesehatan RI, 2015).
Perawatan paliatif juga mencakup pelayanan terintegrasi antara
dokter, perawat, pekerja sosial, psikolog, konselor spiritual, relawan,
apoteker dan profesi lain yang diperlukan. Pendekatan paliatif yang
perlu diperhatikan, yaitu: 1) komunikasi antar tim, 2) manajemen
nyeri, 3) bimbingan dan pertimbangan budaya dalam pengambilan
keputusan, dan 4) dukungan emosional dan spiritual bagi pasien dan
keluarga (Kementerian Kesehatan RI, 2013).
Perawatan paliatif diberikan sejak diagnosa ditegakkan sampai
akhir hayat. Artinya tidak memperdulikan pada stadium dini atau
lanjut, masih bisa disembuhkan atau tidak, mutlak perawatan paliatif
harus diberikan kepada penderita. Perawatan paliatif tidak berhenti
setelah penderita meninggal, tetapi masih diteruskan dengan
memberikan dukungan kepada anggota keluarga yang berduka
(Kementerian Kesehatan RI, 2013).
Kementerian Kesehatan RI (2013) juga menjelaskan bahwa
prinsip pelayanan paliatif pasien kanker, yaitu: 1) menghilangkan
nyeri dan gejala fisik lain, 2) menghargai kehidupan dan menganggap
kematian sebagai proses normal, 3) tidak bertujuan mempercepat atau
menunda kematian, 4) mengintegrasikan aspek psikologis, social dan
spiritual, 5) memberikan dukungan agar pasien dapat hidup seaktif
mungkin, 6) memberikan dukungan kepada keluarga sampai masa
dukacita, 7) menggunakaan pendekatan tim untuk mengatasi
kebutuhan pasien dan keluarganya, 8) menghindari tindakan sia-sia.
Menurut Kementerian Kesehatan RI (2015) selain kepada
penderitanya, perawatan paliatif juga memberi dukungan kepada
seluruh anggota keluarga dan pelaku rawat lainnya. kegiatan/aktivitas
paliatif yang diberikan oleh petugas kesehatan kepada keluarga, yaitu
membantu keluarga memahami pilihan perawatan yang tersedia,
meningkatkan kehidupan sehari-hari penderita, mengurangi
kekhawatiran dari orang yang dicintai (asuhan keperawatan keluarga)
dan memberi kesempatan sistem pendukung yang berharga.
b. Konsep Berduka/Kehilangan Pada Pasien Paliative
Setelah didiagnosa kanker payudara, walaupun masih stadium
dini, umumnya penderita akan gangguan ideal diri, syok dan takut,
serta memunculkan suatu penolakan emosi yang begitu hebat.
Keadaan tersebut membuatn pasien banyak pikiran, mulai merasa
tidak sempurna lagi bahkan sampai merasa malu terhadap suaminya
jika pasien sudah menikah. Bahkan, masalah psikologis tersebut akan
bertambah setelah pasien melakukan pembedahan mastektomi,
individu merasakan kekhawatiran tentang bentuk tubuh yang dinilai
tidak seimbang karena merasa kehilangan anggota tubuhnya,
kehilangan kepercayaan diri, merasa menjadi orang lain karena
adanya perubahan secara fisik, menurunnya self-esteem (Rahmadhani,
2016).
Kehilangan adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang
dapat dialami individu ketika terjadi perubahan dalam atau berpisah
dengan sesuatu yang sebelumnya ada,baik sebagian atau keseluruhan
(Sari, 2015). Beberapa tahap proses kehilangan diantaranya fase akut
yang berlangsung selama 4 – 8 minggu setelah kematian,yang terdiri
atas tiga proses yaitu syok dan tidak percaya, perkembangan
kesadaran,serta restitusi serta fase jangka panjang yaitu berlangsung
selama satu sampai dua tahun atau lebih lama dan reaksi berduka yang
tidak terselesaikan akan menjadi penyakit yang tersembunyi dan
termanifestasi dalam berbagai gejala fisik (Nihayati , 2015).
Kubler-Ross tahun 1969 mengungkapkan bahwa tahapan
kehilangan yang dihadapi oleh pasien kanker terdiri dari 5 tahap, yaitu
Penyangkalan dan penolakan diri (denial), kemarahan (anger),
penawaran (bargaining), depresi (depresi), penerimaan (Acceptance)
c. Peran Perawat dalam Perawatan Paliative
Menurut Kementerian Kesehatan RI (2015) perawat harus
memiliki pengetahuan dan keterampilan sesuai prinsip-prinsip
pengelolaan paliatif. Perawat paliatif bertanggung jawab dalam
penilaian, pengawasan, dan pengelolaan asuhan keperawatan pasien
paliatif.
1) Perawat sebagai koordinator layanan paliatif
Menyiapkan pelaksanaan program paliatif, baik rawat jalan, rawat
inap atau rawat rumah. Menyiapkan peralatan medis yang
diperlukan. Mendistribusikan dan menghubungi tenaga pelaksana
kepada anggota tim atau ke unit layanan lain. Menyusun jadwal
kunjungan dan tenaga paliatif yang diperlukan. Mengawasi dan
mengevaluasi pelaksanaan program paliatif.
2) Perawat sebagai tenaga pelaksana
Menerima permintaan asuhan keperawatan dari koordinator
program paliatif. Berkoordinasi dengan anggota tim lain.
Menganalisa, menegakkan dan melakukan asuhan keperawatan
sesuai kebutuhan dan kondisi pasien. Menginformasikan dan
mengedukasi pelaku rawat atau penanggung jawab pasien.
Melaporkan setiap perkembangan pasien kepada dokter
penanggung jawab dan koordinator program paliatif. Evalusi
asuhan keperawatan yang telah dilakukan secara langsung atau
tidak langsung melalui laporan harian pelaku rawat. Mengusulkan
asuhan keperawatan baru atau lanjutan kepada dokter penanggung
jawab atau koordinator bila diperlukan. Merubah asuhan
keperawatan sesuai kesepakatan dan persetujuan dokter
penanggung jawab serta menginformasikan kepada pelaku rawat.
Melakukan pencatatan dan pelaporan. Mengontrol pemakaian obat
dan pemeliharaan alat medis
3) Perawat Homecare
Menerima permintaan perawatan homecare dari dokter
penanggung jawab pasien melalui koordinator program paliatif.
Berkoordinasi dan menganalisa program homecare dan dokter
penanggung jawab dan koordinator program paliatif. Melakukan
asuhan keperawatan sesuai program yang direncanakan.
Reevaluasi atau evaluasi asuhan keperawatan yang telah
dilaksanakan. Melaporkan setiap perkembangan pasien kepada
dokter penangung jawab pasien. Mengusulkan asuhan
keperawatan baru bila diperlukan. Melaksanakan pencatatan dan
pelaporan.
4) Pelaku rawat (caregiver)
Melakukan atau membantu pasien melakukan perawatan diri dan
kegiatan sehari hari (memandikan, memberi makan, beraktifitas
sesuai kemampuan pasien, dll). Memberikan obat dan tindakan
keperawatan sesuai anjuran dokter. Melaporkan kondisi pasien
kepada perawat. Mengidentifikasi dan melaporkan gejala fisik dan
gejala lain kepada perawat

B. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
HK.01.07/MENKES/414/2018 tentang Pedoman Nasional Pelayanan
Kedokteran Tata Laksana Kanker Payudara bahwa pasien kanker payudara
harus menjalani pemeriksaan penunjang sebagai berikut :
1. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan adalah pemeriksaan darah
rutin dan pemeriksaan kimia darah sesuai dengan perkiraan metastasis
beserta tumor marker. Apabila hasil dari tumor marker tinggi, maka
perlu diulang untuk follow up.
2. Pemeriksaan Radiologik
a. Mammografi Payudara
Mammografi adalah pemeriksaan menggunakan sinar X pada
jaringan payudara yang dikompresi. Mammografi bertujuan untuk
melakukan skrining kanker payudara, diagnosis kanker payudara,
dan follow up/control dalam pengobatan. Mammografi dilakukan
pada wanita usia diatas 35 tahun, namun karena payudara orang
Indonesia lebih padat, maka hasil terbaik mammografi sebaiknya
dikerjakan pada usia >40 tahun.
Pemeriksaan Mammografi sebaiknya dikerjakan pada hari ke 7-
10 dihitung dari hari pertama masa menstruasi, pada masa ini akan
mengurangi rasa tidak nyaman pada wanita saat di kompresi dan
akan memberi hasil yang optimal. Untuk standarisasi penilaian dan
pelaporan hasil mammografi digunakan BIRADS yang
dikembangkan oleh American College of Radiology. Dalam sistem
BIRADS, mammogram dinilai berdasarkan klasifikasi (deskripsi,
klasifikasi, distribusi, dan jumlah), massa (bentuk, margin, densitas),
dan distorsi bentuk. Pada kasus khusus, misal adanya KGB
intramammaria, dilatasi duktus, asimetri global, dan temuan asosiatif
berupa retraksi kulit, retraksi puting, penebalan kulit, penebalan
trabekula, lesi kulit, adenopati aksila juga dinilai. (Level 3).
Gambaran mammografi untuk lesi ganas dibagi atas tanda
primer dan sekunder. Tanda primer berupa densitas yang meninggi
pada tumor, batas tumor yang tidak teratur oleh karena adanya
proses infiltrasi ke jaringan sekitarnya atau batas yang tidak jelas
(komet sign), gambaran translusen disekitar tumor, gambaran stelata,
adanya mikroklasifikasi sesuai kriteria Egan, dan ukuran klinis
tumor lebih besar dari radiologis. Untuk tanda sekunder meliputi
retraksi kulit atau penebalan kulit, bertambahnya vaskularisasi,
perubahan posisi puting, kelenjar getah bening aksila (+), keadaan
daerah tumor dan jaringan fibroglandular tidak teratur, kepadatan
jaringan sub areolar yang berbentuk utas.
b. USG Payudara
Salah satu kelebihan USG adalah dalam mendeteksi massa
kistik. Serupa dengan mammografi, American College of Radiology
juga menyusun bahasa standar untuk pembacaan dan pelaporan USG
sesuai dengan BIRADS. Karakteristik yang dideskripsikan meliputi
bentuk massa, margin tumor, orientasi, jenis posterior acoustic, batas
lesi, dan pola echo. Gambaran USG pada benjolan yang harus
dicurigai ganas apabila ditemukan tanda-tanda seperti permukaan
tidak rata, taller than wider, tepi hiperekoik, echo interna heterogen,
vaskularisasi meningkat, tidak beraturan, dan masuk kedalam tumor
membentuk sudut 90 derajat. Penggunaan USG untuk tambahan
mammografi meningkatkan akurasinya sampai 7,4%. Namun USG
tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai modalitas skrining oleh
karena didasarkan penelitian ternyata USG gagal menunjukkan
efikasinya.
c. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Pemeriksaan MRI lebih baik daripada mammografi, namun
secara umum tidak digunakan sebagai pemeriksaan skrining karena
biaya mahal dan memerlukan waktu pemeriksaan yang lama. Akan
tetapi MRI dapat dipertimbangkan pada wanita muda dengan
payudara yang padat atau pada payudara dengan implant,
dipertimbangkan pasien dengan resiko tinggi untuk menderita
kanker payudara.
d. PET – PET/CT SCAN
Possitron Emission Tomography (PET) dan Possitron Emission
Tomography/Computed Tomography (PET/CT) merupakan
pemeriksaan atau diagnosa pencitraan untuk kasus residif. Banyak
literatur menunjukkan bahwa PET memberikan hasil yang jelas
berbeda dengan pencitraan yang konvensional (CT/MRI) dengan
sensitivitas 89% VS 79% (OR 1.12, 95% CI 1.04-1.21), sedangkan
spesifitas 93% VS 83% (OR 1.12, 95% CI 1.01-1.24) (Level 1).
Namun penggunaan PET CT saat ini belum dianjurkan secara rutin
bila masih ada alternatif lain dengan hasil tidak berbeda jauh.
3. Diagnosis Sentinel Node
Biopsi kelenjar sentinel (Sentinel lymph node biopsy) adalah
mengangkat kelenjar getah bening aksila sentinel sewaktu operasi.
Kelenjar getah bening sentinel adalah kelenjar getah bening yang
pertama kali menerima aliran limfatik dari tumor, menandakan mulainya
terjadi penyebaran dari tumor primer. Biopsi kelenjar getah bening
sentinel dilakukan menggunakan blue dye, radiocolloid, maupun
kombinasi keduanya. Bahan radioaktif dan/atau blue dye disuntikkan
disekitar tumor, bahan tersebut mengalir mengikuti aliran getah bening
menuju ke kelenjar getah bening (sentinel). Ahli bedah akan mengangkat
kelenjar getah bening tersebut dan meminta ahli patologi untuk
melakukan pemeriksaan histopatologi. Bila tidak ditemukan sel kanker
pada kelenjar getah bening tersebut, maka tidak perlu dilakukan diseksi
kelenjar aksila. Teknologi ideal adalah menggunakan teknik kombinasi
blue dye dan radiocolloid. Perbandingan rerata identifikasi kelenjar
sentinel antara blue dye dan teknik kombinasi adalah 83% VS 92%.
Namun biopsi kelenjar sentinel dapat dimodifikasi menggunakan teknik
blue dye saja dengan isosulfan blue ataupun methylene blue. Methylene
blue sebagai teknik tunggal dapat mengidentifikasi 90% kelenjar
sentinel. Studi awal yang dilakukan RS Dharmais memperoleh
identifikasi sebesar - 19 - 95%. Jika pada akhir studi ini diperoleh angka
identifikasi sekitar 905 maka methylene blue sebagai teknik tunggal
untuk identifikasi kelenjar sentinel dapat menjadi alternatif untuk rumah
sakit di Indonesia yang tidak memiliki fasilitas radiocolloid.
4. Pemeriksaan Patologi Anatomik
Pemeriksaan Patologi Anatomik pada kanker payudara meliputi
pemeriksaan sitologi yaitu penilaian kelainan morfologi sel payudara,
pemeriksaan histopatolgi merupakan penilaian morfologi biopsi jaringan
tumor dilakukan dengan proses potong beku dan blok paraffin,
pemeriksaan molekuler berupa immunohistokimia, in situ hibridisasi dan
gene array.

5. Patofisiologi

Faktor predisposisi dan


resiko tinggi hiperplasi Mendesak sel saraf Interupsi sel saraf
pada sel mamae

nyeri

Mendesak jaringan Mensuplai nutrisi ke Mendesak pembuluh darah


sekitar jaringan ca

Aliran darah terhambat

Menekan jaringan Hipermetabolisme


pada mammae ke jaringan
hipoksia

Peningkatan konsistensi  hipermetabolisme


mammae jar lain BB turun Necrosis jaringan

Ketidakseimbangan Bakteri patogen


nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

Resiko Infeksi

Mammae membengkak Ukuran mammae


abnormal

Massa tumor Mammae asimetrik Defisiensi pengetahuan


mendesak ke jar luar
ansietas

Gangguan citra
tubuh

Perfusi jaringan Infiltrasi pleura


terganggu perietale

ulkus
Ekspansi paru
menurun

Kerusakan integritas Ketidakefektifan


kulit/ jaringan pola nafas

6. Fase Paliative
d. Konsep Paliative
Pelayanan paliatif pasien kanker adalah pelayanan terintegrasi
oleh tim paliatif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan
memberikan dukungan bagi keluarga yang menghadapi masalah yang
berhubungan dengan kondisi pasien dengan mencegah dan
mengurangi penderitaan melalui identifikasi dini, penilaian yang
seksama serta pengobatan nyeri dan masalah-masalah lain, baik
masalah fisik, psikososial dan spiritual, serta pelayanan masa dukacita
bagi keluarga (Kementerian Kesehatan RI, 2015).
Perawatan paliatif juga mencakup pelayanan terintegrasi antara
dokter, perawat, pekerja sosial, psikolog, konselor spiritual, relawan,
apoteker dan profesi lain yang diperlukan. Pendekatan paliatif yang
perlu diperhatikan, yaitu: 1) komunikasi antar tim, 2) manajemen
nyeri, 3) bimbingan dan pertimbangan budaya dalam pengambilan
keputusan, dan 4) dukungan emosional dan spiritual bagi pasien dan
keluarga (Kementerian Kesehatan RI, 2013).
Perawatan paliatif diberikan sejak diagnosa ditegakkan sampai
akhir hayat. Artinya tidak memperdulikan pada stadium dini atau
lanjut, masih bisa disembuhkan atau tidak, mutlak perawatan paliatif
harus diberikan kepada penderita. Perawatan paliatif tidak berhenti
setelah penderita meninggal, tetapi masih diteruskan dengan
memberikan dukungan kepada anggota keluarga yang berduka
(Kementerian Kesehatan RI, 2013).
Kementerian Kesehatan RI (2013) juga menjelaskan bahwa
prinsip pelayanan paliatif pasien kanker, yaitu: 1) menghilangkan
nyeri dan gejala fisik lain, 2) menghargai kehidupan dan menganggap
kematian sebagai proses normal, 3) tidak bertujuan mempercepat atau
menunda kematian, 4) mengintegrasikan aspek psikologis, social dan
spiritual, 5) memberikan dukungan agar pasien dapat hidup seaktif
mungkin, 6) memberikan dukungan kepada keluarga sampai masa
dukacita, 7) menggunakaan pendekatan tim untuk mengatasi
kebutuhan pasien dan keluarganya, 8) menghindari tindakan sia-sia.
Menurut Kementerian Kesehatan RI (2015) selain kepada
penderitanya, perawatan paliatif juga memberi dukungan kepada
seluruh anggota keluarga dan pelaku rawat lainnya. kegiatan/aktivitas
paliatif yang diberikan oleh petugas kesehatan kepada keluarga, yaitu
membantu keluarga memahami pilihan perawatan yang tersedia,
meningkatkan kehidupan sehari-hari penderita, mengurangi
kekhawatiran dari orang yang dicintai (asuhan keperawatan keluarga)
dan memberi kesempatan sistem pendukung yang berharga.
e. Konsep Berduka/Kehilangan Pada Pasien Paliative
Setelah didiagnosa kanker payudara, walaupun masih stadium
dini, umumnya penderita akan gangguan ideal diri, syok dan takut,
serta memunculkan suatu penolakan emosi yang begitu hebat.
Keadaan tersebut membuatn pasien banyak pikiran, mulai merasa
tidak sempurna lagi bahkan sampai merasa malu terhadap suaminya
jika pasien sudah menikah. Bahkan, masalah psikologis tersebut akan
bertambah setelah pasien melakukan pembedahan mastektomi,
individu merasakan kekhawatiran tentang bentuk tubuh yang dinilai
tidak seimbang karena merasa kehilangan anggota tubuhnya,
kehilangan kepercayaan diri, merasa menjadi orang lain karena
adanya perubahan secara fisik, menurunnya self-esteem (Rahmadhani,
2016).
Kehilangan adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang
dapat dialami individu ketika terjadi perubahan dalam atau berpisah
dengan sesuatu yang sebelumnya ada,baik sebagian atau keseluruhan
(Sari, 2015). Beberapa tahap proses kehilangan diantaranya fase akut
yang berlangsung selama 4 – 8 minggu setelah kematian,yang terdiri
atas tiga proses yaitu syok dan tidak percaya, perkembangan
kesadaran,serta restitusi serta fase jangka panjang yaitu berlangsung
selama satu sampai dua tahun atau lebih lama dan reaksi berduka yang
tidak terselesaikan akan menjadi penyakit yang tersembunyi dan
termanifestasi dalam berbagai gejala fisik (Nihayati , 2015).
Kubler-Ross tahun 1969 mengungkapkan bahwa tahapan
kehilangan yang dihadapi oleh pasien kanker terdiri dari 5 tahap, yaitu
Penyangkalan dan penolakan diri (denial), kemarahan (anger),
penawaran (bargaining), depresi (depresi), penerimaan (Acceptance)
f. Peran Perawat dalam Perawatan Paliative
Menurut Kementerian Kesehatan RI (2015) perawat harus
memiliki pengetahuan dan keterampilan sesuai prinsip-prinsip
pengelolaan paliatif. Perawat paliatif bertanggung jawab dalam
penilaian, pengawasan, dan pengelolaan asuhan keperawatan pasien
paliatif.
5) Perawat sebagai koordinator layanan paliatif
Menyiapkan pelaksanaan program paliatif, baik rawat jalan, rawat
inap atau rawat rumah. Menyiapkan peralatan medis yang
diperlukan. Mendistribusikan dan menghubungi tenaga pelaksana
kepada anggota tim atau ke unit layanan lain. Menyusun jadwal
kunjungan dan tenaga paliatif yang diperlukan. Mengawasi dan
mengevaluasi pelaksanaan program paliatif.
6) Perawat sebagai tenaga pelaksana
Menerima permintaan asuhan keperawatan dari koordinator
program paliatif. Berkoordinasi dengan anggota tim lain.
Menganalisa, menegakkan dan melakukan asuhan keperawatan
sesuai kebutuhan dan kondisi pasien. Menginformasikan dan
mengedukasi pelaku rawat atau penanggung jawab pasien.
Melaporkan setiap perkembangan pasien kepada dokter
penanggung jawab dan koordinator program paliatif. Evalusi
asuhan keperawatan yang telah dilakukan secara langsung atau
tidak langsung melalui laporan harian pelaku rawat. Mengusulkan
asuhan keperawatan baru atau lanjutan kepada dokter penanggung
jawab atau koordinator bila diperlukan. Merubah asuhan
keperawatan sesuai kesepakatan dan persetujuan dokter
penanggung jawab serta menginformasikan kepada pelaku rawat.
Melakukan pencatatan dan pelaporan. Mengontrol pemakaian obat
dan pemeliharaan alat medis
7) Perawat Homecare
Menerima permintaan perawatan homecare dari dokter
penanggung jawab pasien melalui koordinator program paliatif.
Berkoordinasi dan menganalisa program homecare dan dokter
penanggung jawab dan koordinator program paliatif. Melakukan
asuhan keperawatan sesuai program yang direncanakan.
Reevaluasi atau evaluasi asuhan keperawatan yang telah
dilaksanakan. Melaporkan setiap perkembangan pasien kepada
dokter penangung jawab pasien. Mengusulkan asuhan
keperawatan baru bila diperlukan. Melaksanakan pencatatan dan
pelaporan.
8) Pelaku rawat (caregiver)
Melakukan atau membantu pasien melakukan perawatan diri dan
kegiatan sehari hari (memandikan, memberi makan, beraktifitas
sesuai kemampuan pasien, dll). Memberikan obat dan tindakan
keperawatan sesuai anjuran dokter. Melaporkan kondisi pasien
kepada perawat. Mengidentifikasi dan melaporkan gejala fisik dan
gejala lain kepada perawat

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
HK.01.07/MENKES/414/2018 tentang Pedoman Nasional Pelayanan
Kedokteran Tata Laksana Kanker Payudara bahwa pasien kanker payudara
harus menjalani pemeriksaan penunjang sebagai berikut :
5. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan adalah pemeriksaan darah
rutin dan pemeriksaan kimia darah sesuai dengan perkiraan metastasis
beserta tumor marker. Apabila hasil dari tumor marker tinggi, maka
perlu diulang untuk follow up.
6. Pemeriksaan Radiologik
e. Mammografi Payudara
Mammografi adalah pemeriksaan menggunakan sinar X pada
jaringan payudara yang dikompresi. Mammografi bertujuan untuk
melakukan skrining kanker payudara, diagnosis kanker payudara,
dan follow up/control dalam pengobatan. Mammografi dilakukan
pada wanita usia diatas 35 tahun, namun karena payudara orang
Indonesia lebih padat, maka hasil terbaik mammografi sebaiknya
dikerjakan pada usia >40 tahun.
Pemeriksaan Mammografi sebaiknya dikerjakan pada hari ke 7-
10 dihitung dari hari pertama masa menstruasi, pada masa ini akan
mengurangi rasa tidak nyaman pada wanita saat di kompresi dan
akan memberi hasil yang optimal. Untuk standarisasi penilaian dan
pelaporan hasil mammografi digunakan BIRADS yang
dikembangkan oleh American College of Radiology. Dalam sistem
BIRADS, mammogram dinilai berdasarkan klasifikasi (deskripsi,
klasifikasi, distribusi, dan jumlah), massa (bentuk, margin, densitas),
dan distorsi bentuk. Pada kasus khusus, misal adanya KGB
intramammaria, dilatasi duktus, asimetri global, dan temuan asosiatif
berupa retraksi kulit, retraksi puting, penebalan kulit, penebalan
trabekula, lesi kulit, adenopati aksila juga dinilai. (Level 3).
Gambaran mammografi untuk lesi ganas dibagi atas tanda
primer dan sekunder. Tanda primer berupa densitas yang meninggi
pada tumor, batas tumor yang tidak teratur oleh karena adanya
proses infiltrasi ke jaringan sekitarnya atau batas yang tidak jelas
(komet sign), gambaran translusen disekitar tumor, gambaran stelata,
adanya mikroklasifikasi sesuai kriteria Egan, dan ukuran klinis
tumor lebih besar dari radiologis. Untuk tanda sekunder meliputi
retraksi kulit atau penebalan kulit, bertambahnya vaskularisasi,
perubahan posisi puting, kelenjar getah bening aksila (+), keadaan
daerah tumor dan jaringan fibroglandular tidak teratur, kepadatan
jaringan sub areolar yang berbentuk utas.
f. USG Payudara
Salah satu kelebihan USG adalah dalam mendeteksi massa
kistik. Serupa dengan mammografi, American College of Radiology
juga menyusun bahasa standar untuk pembacaan dan pelaporan USG
sesuai dengan BIRADS. Karakteristik yang dideskripsikan meliputi
bentuk massa, margin tumor, orientasi, jenis posterior acoustic, batas
lesi, dan pola echo. Gambaran USG pada benjolan yang harus
dicurigai ganas apabila ditemukan tanda-tanda seperti permukaan
tidak rata, taller than wider, tepi hiperekoik, echo interna heterogen,
vaskularisasi meningkat, tidak beraturan, dan masuk kedalam tumor
membentuk sudut 90 derajat. Penggunaan USG untuk tambahan
mammografi meningkatkan akurasinya sampai 7,4%. Namun USG
tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai modalitas skrining oleh
karena didasarkan penelitian ternyata USG gagal menunjukkan
efikasinya.
g. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Pemeriksaan MRI lebih baik daripada mammografi, namun
secara umum tidak digunakan sebagai pemeriksaan skrining karena
biaya mahal dan memerlukan waktu pemeriksaan yang lama. Akan
tetapi MRI dapat dipertimbangkan pada wanita muda dengan
payudara yang padat atau pada payudara dengan implant,
dipertimbangkan pasien dengan resiko tinggi untuk menderita
kanker payudara.
h. PET – PET/CT SCAN
Possitron Emission Tomography (PET) dan Possitron Emission
Tomography/Computed Tomography (PET/CT) merupakan
pemeriksaan atau diagnosa pencitraan untuk kasus residif. Banyak
literatur menunjukkan bahwa PET memberikan hasil yang jelas
berbeda dengan pencitraan yang konvensional (CT/MRI) dengan
sensitivitas 89% VS 79% (OR 1.12, 95% CI 1.04-1.21), sedangkan
spesifitas 93% VS 83% (OR 1.12, 95% CI 1.01-1.24) (Level 1).
Namun penggunaan PET CT saat ini belum dianjurkan secara rutin
bila masih ada alternatif lain dengan hasil tidak berbeda jauh.

7. Diagnosis Sentinel Node


Biopsi kelenjar sentinel (Sentinel lymph node biopsy) adalah
mengangkat kelenjar getah bening aksila sentinel sewaktu operasi.
Kelenjar getah bening sentinel adalah kelenjar getah bening yang
pertama kali menerima aliran limfatik dari tumor, menandakan mulainya
terjadi penyebaran dari tumor primer. Biopsi kelenjar getah bening
sentinel dilakukan menggunakan blue dye, radiocolloid, maupun
kombinasi keduanya. Bahan radioaktif dan/atau blue dye disuntikkan
disekitar tumor, bahan tersebut mengalir mengikuti aliran getah bening
menuju ke kelenjar getah bening (sentinel). Ahli bedah akan mengangkat
kelenjar getah bening tersebut dan meminta ahli patologi untuk
melakukan pemeriksaan histopatologi. Bila tidak ditemukan sel kanker
pada kelenjar getah bening tersebut, maka tidak perlu dilakukan diseksi
kelenjar aksila. Teknologi ideal adalah menggunakan teknik kombinasi
blue dye dan radiocolloid. Perbandingan rerata identifikasi kelenjar
sentinel antara blue dye dan teknik kombinasi adalah 83% VS 92%.
Namun biopsi kelenjar sentinel dapat dimodifikasi menggunakan teknik
blue dye saja dengan isosulfan blue ataupun methylene blue. Methylene
blue sebagai teknik tunggal dapat mengidentifikasi 90% kelenjar
sentinel. Studi awal yang dilakukan RS Dharmais memperoleh
identifikasi sebesar - 19 - 95%. Jika pada akhir studi ini diperoleh angka
identifikasi sekitar 905 maka methylene blue sebagai teknik tunggal
untuk identifikasi kelenjar sentinel dapat menjadi alternatif untuk rumah
sakit di Indonesia yang tidak memiliki fasilitas radiocolloid.
8. Pemeriksaan Patologi Anatomik
Pemeriksaan Patologi Anatomik pada kanker payudara meliputi
pemeriksaan sitologi yaitu penilaian kelainan morfologi sel payudara,
pemeriksaan histopatolgi merupakan penilaian morfologi biopsi jaringan
tumor dilakukan dengan proses potong beku dan blok paraffin,
pemeriksaan molekuler berupa immunohistokimia, in situ hibridisasi dan
gene array.
D. PENATALAKSANAAN
1. Manajemen Nyeri
a) Tentukan penyebab nyeri dengan anamnesis dan pemeriksaan (untuk
rasa nyeri yang baru dan perubahan rasa nyeri). Dimana letak rasa
nyeri? Apa yang membuatnya lebih baik / lebih buruk? Apa jenis
rasa nyeri tersebut? Apa yang digunakan sekarang untuk mengatasi
rasa sakit?
Gunakan pedoman perawatan akut untuk menentukan apakah ada
infeksi atau masalah lain dengan perawatan khusus. Diagnosis yang
cepat dan pengobatan infeksi penting untuk pengendalian nyeri.
b) Tentukan jenis nyeri
Apakah itu nyeri biasa (seperti tulang atau sakit mulut) atau nyeri
khusus (seperti nyeri saraf, kejang atau kolik otot)?
c) Apakah ada komponen psikologis atau spiritual?
d) Nilai rasa sakitnya
e) Berikan terapi obat untuk rasa sakit:
f) Dengan analgesik, sesuai dengan tangga analgesic (analgesic ladder)
g) Dengan obat-obatan untuk mengendalikan masalah nyeri khusus
yang sesuai
h) Dengan perawatan non-medis
i) Kaji ulang kebutuhan akan obat pereda nyeri dan intervensi lain
j) Kaji ulang nyeri
k) Mengatasi nyeri kronik
1) Pemberian melalui oral (mulut)
Jika memungkinkan, berikan analgesic oral (alternative lain
adalah pemberian secara oral, hindari pemberian intramuscular)
2) Pemberian berdasarkan jam
Berikan obat penghilang rasa sakit pada interval waktu yang
tetap. Mulai dengan dosis kecil, kemudian titrasi dosis melawan
rasa sakit pasien, hingga pasien merasa nyaman. Dosis berikutnya
harus terjadi sebelum efek dari dosis obat sebelumnya habis.
Untuk rasa sakit luar biasa, berikan dosis "rescue" tambahan di
samping jadwal reguler.

3) Pemberian secara individu


Hubungkan dosis pertama dan terakhir dengan waktu bangun dan
tidur. Tuliskan rejimen obat secara penuh atau ada dalam gambar.
Ajarkan penggunaannya. Pastikan pasien dan keluarga atau
asisten di rumah mengerti pemberian obat. Pastikan nyeri tidak
kembali
4) Menggunakan tangga analgesic (analgesic ladder)

l) Ajarkan pasien dan keluarga bagaimana untuk memberikan terapi


nyeri (untuk semua jenis obat nyeri)
Jelaskan frekuensi dan pentingnya memberi secara teratur, jangan
menunggu rasa sakit untuk kembali. Dosis selanjutnya harus
diberikan sebelum yang sebelumnya dosis habis — biasanya 4 jam.
Tujuan dari perawatan rasa sakit adalah agar rasa sakitnya tidak akan
kembali dan pasien sebangun (sesadar) mungkin. Tulis instruksi
dengan jelas
m) Beri tahu keluarga tentang metode tambahan untuk mengendalikan
rasa sakit, kombinasikan ini dengan obat penghilang rasa sakit jika
pasien setuju dan itu membantu (untuk adaptasi lokal):
(1) Bantuan emosional
(2) Metode fisik :
Sentuh (membelai, memijat, mengayun, getaran), Es atau panas
dan napas dalam

(3) Metode kognitif :


Distraksi seperti mendengarkan radio, music dan
membayangkan hal yang menyenangkan.
(4) Doa (menghormati praktik pasien)
(5) Praktik tradisional yang bermanfaat dan tidak berbahaya
n) Ajarkan keluarga untuk pemberian morphin oral
1) Pemberian morphin cair
Tuang sedikit cairan morfin ke dalam cangkir, buat dosis
morphin cair kedalam jarum suntik/spuit makan NGT.
Kemudian masukkan cairan dari jarum suntik ke dalam mulut
jangan gunakan jarum. Tuang sisa morfin ke dalam botol.
Ambil dosis secara teratur, setiap 4 jam/hari dengan dosis ganda
pada waktu tidur. Berikan dosis tambahan jika rasa sakit
kembali sebelum dosis berikutnya tiba. Jangan berhenti morfin
tiba-tiba
2) Bantu mereka mengelola efek samping:
 Mual biasanya hilang setelah beberapa hari morfin dan
biasanya tidak datang lagi
 Konstipasi
 Mulut kering
 Rasa kantuk, ini biasanya hilang setelah beberapa hari
pemberian morfin, jika ini terus terjadi atau semakin buruk,
maka dosis dibagi dua dan segera beri tahu petugas
kesehatan
 Keringat atau sentakan otot, segera beri tahu petugas
kesehatan.
3) Jika rasa sakitnya :
 Semakin parah, beri tahu petugas kesehatan karena
dosisnya dapat ditingkatkan.
 Semakin baik, dosisnya dapat dikurangi setengahnya.
informasikan pada petugas kesehatan tetapi jangan
menghentikan obat tiba-tiba

2. Manajemen Symptom
Selain dengan terapi farmakologis berupa obat ataupun terapi
nonfarmakologis untuk mengurangi gejala pada pasien kanker, terkadang
pasien dengan kanker payudara terkadang mendapatkan terapi
kemoterapi maupun radiasi untuk tujuan paliatif yaitu mengurangi gejala
seperti nyeri atau sesak. Pasien kanker payudara dengan metastatis
tulang biasanya menjalani radiasi untuk mengurangi rasa nyeri. Pasien
kanker payudara dengan metastasis paru biasanya menjalani kemoterapi
paliatif untuk mengurangi sesak.

Beberapa gejala yang mungkin muncul pada pasien kanker


payudara yang menjalani kemoterapi diantaranya :
a) Anemia / jumlah sel darah merah rendah
Manajemen anemia diantaranya adalah :
 Farmakologis
Pemberian terapi epoetin/epogen atau suplemen zat besi)
 Non farmakologis
Konsumsi makanan yang mengandung zat besi atau vitamin B 12
sepeti kacang-kacangan, sereal, daging sapi tanpa lemak, telur,
selai, almond, salmon yang dimasak
b) Diare
 Farmakologis Jika Anda menderita diare yang berlangsung lebih
dari 48 jam, segera hubungi petugas kesehatan, obat-obatan
tersedia untuk membantu
 Non Farmakologis
Makanlah dalam porsi kecil dan sering karena tubuh mungkin
menemukan jumlah yang lebih kecil lebih mudah dicerna. Setelah
2 hari diare, mulailah diet cair dan tambahkan makanan rendah
serat. Minumlah setidaknya satu gelas cairan setiap kali diare
sehingga Anda tidak mengalami dehidrasi.
Konsumsilah makanan yang mengandung pektin tinggi, seperti
saus apel, pisang, dan yogurt. Pektin, serat yang larut dalam air,
membantu mengurangi diare. Konsumsilah makanan yang
memiliki banyak potasium, seperti jus buah, minuman olahraga,
kentang tanpa kulit, dan pisang. Kalium sering hilang melalui
diare. Konsumsilah makanan yang mengandung banyak sodium,
seperti sup, kaldu. Garam membantu Anda menahan air sehingga
Anda tidak mengalami dehidrasi.
Dapatkan protein yang cukup. Cobalah daging sapi panggang tanpa
lemak, ayam atau telur atau tahu yang dimasak dengan baik. Ini
dapat membantu Anda menghindari kelelahan. Jika Anda suka
buah dan sayuran tertentu, makanlah dimasak, bukan mentah.
Beberapa buah dan sayuran mentah dapat membuat diare menjadi
lebih buruk.
Hindari minuman berkafein, alkohol, atau berkarbonasi dan
makanan yang sangat panas atau dingin. Mereka dapat mengiritasi
saluran pencernaan Anda. Hindari menggunakan produk tembakau.
Mereka dapat mengiritasi saluran pencernaan Anda. Hindari
makanan berlemak tinggi, goreng, berminyak, dan kaya. Mereka
dapat menyebabkan diare. Hindari makanan yang menyebabkan
gas, seperti permen karet dan minuman berkarbonasi. Mereka
dapat mengiritasi saluran pencernaan Anda.
Batasi susu dan produk susu. Mereka mungkin sulit dicerna dan
menyebabkan diare. Hindari kacang-kacangan, buah-buahan dan
sayuran mentah, roti gandum, dan produk dedak. Mereka dapat
mengiritasi saluran pencernaan Anda.
c) Kelelahan
Manajemen kelelahan
 Tetap bugar secara fisik dengan latihan berjalan selama 15 menit
setiap hari
 Makanlah makanan sehat dan seimbang, pastikan tubuh
mendapatkan cukup kalori protein, vitamin dan mineral
 Minum cukup cairan terutama air putih
 Tips lain adalah cobalah tidur sebentar tidak terlalu lama,
pertahankan rutinitas harian, buat catatan harian tentang keletihan
apa yang dirasakan, atur setiap hari kapan anda dapat
menggunakan energi dan kapan harus dihemat, meminta bantuan
jika memang anda tidak sanggup, bergabung dengan komunitas
kanker/grup pendukung, bersikap baik pada diri sendiri dengan
tidak menyalahkan diri atas keletihan yang dirasakan.
d) Masalah kesuburan
Fasilitasi klien untuk membicarakan dengan petugas kesehatan
tentang kesuburan seperti bagaimana prognosisnya? Seberapa serius
kondisi klien? Apakah prognosis klien baik? Apakah klien terdorong
untuk menjadi orangtua di masa depan? Atau apakah prognosis klien
membuat klien tidak ingin mengambil risiko tambahan? Seberapa
amankah klien untuk hamil? Bicaralah dengan dokter tentang
keamanan kehamilan yang berhubungan dengan jenis kanker khusus
klien. Tidak ada bukti pasti bahwa kehamilan memengaruhi prognosis
wanita yang didiagnosis menderita kanker payudara. Tetapi setiap
situasi adalah unik dan perlu dievaluasi. Jika prognosis klien baik dan
kehamilan akan relatif aman, bicarakan dengan dokter dan ahli
kesuburan tentang pilihan klien untuk menjaga kesuburan.
e) Perubahan rambut (rontok)
Kerontokan mungkin mulai tumbuh kembali saat klien masih
menjalani perawatan atau mungkin perlu 3 hingga 6 bulan setelah
perawatan berakhir untuk mulai tumbuh kembali. Persiapkan diri dan
orang yang dekat dengan klien mengenai perubahan yang akan terjadi.
Motivasi untuk memotong rambut lebih pendek ketika kerontokan
mulai terjadi. Beri dukungan jika klien lebih nyaman untuk menutup
kepala dengan wig, topi atau jilbab
f) Infeksi
Jika terjadi infekri dapat diberikan obat-obatan sesuai dengan
penyebab infeksi. Pencegahan infeksi dapat dilakukan dengan
anjurkan klien cuci tangan sebelum makan, cuci tangan dari petugas
kesehatan, pemberian profilaksis sebelum kemoterapi.
g) Hilang ingatan
Lakukan simulasi memori dengan cara melatih otak klien tetap aktif
secara mental seperti membaca, menjawab teka-teki atau puzzle.
Simpan catatan di dekat klien untuk membantu mengingat kegiatan
yang akan dilakukan. Dukungan keluarga dan petugas kesehatan untuk
membantu mengingat rutinitas harian. Motivasi pada klien untuk tidak
perlu malu jika klien memang lupa
h) Luka mulut dan tenggorokan
Hindari makanan dan minuman yang pedas, panas atau asam.
Gunakan sikat gigi yang lembut. Hindari obat kumur yang
mengandung alcohol. Berhenti merokok dan minum alcohol. Terapi
obat topical atau kumur sesuai anjuran
i) Mual Muntah
Makan porsi kecil tapi sering. Hindari makanan berlemak. Makan
makanan kering seperti biscuit. Cobalah makanan berbasih jahe
seperti the jahe, permen jahe. Bilas mulut sebelum dan sesudah makan
untuk mengurangi rasa tidak enak pada mulut. Kolaborasi obat anti
emetic dan emesis. Terapi komplementer seperti akupunktur, relaksasi
dan visualisasi untuk mengurangi mual. Hubungi petugas
kesehatan/dokter segera jika muntah lebih dari 4 atau 5 kali dalam 24
jam, perut bengkak atau terasa sakit sebelum muntah, klien masih
muntah meskipun meminum obat anti mual, klien mengalami muntah
baru yang tak terduga
j) Neuropati (masalah dengan tangan dan kaki)
Kolaborasi jika terjadi nyeri. Anjurkan klien hati-hati saat bergerak
atau berjalan. Letakan keset anti slip didekat kamar mandi untuk
menghindari klien jatuh. Bersihkan area lingungan dari kondisi basah
atau barang tergeletak di jalan. Lindungi area kaki. Latihan program
fisik untuk neuropati. Terapi komplementer akupunktur, pijat
k) Perubahan rasa dan bau
l) Kekeringan vagina
m) Perubahan berat badan
n) Kemoterapi juga dapat menyebabkan efek samping lain yang kurang
umum, tetapi lebih serius yaitu keropos tulang / osteoporosis, masalah
jantung dan masalah penglihatan / mata
3. Aspek Psikologis
Pasien kanker dapat mengalami masalah seperti stress, depresi, ketakutan
akan penyakit, terapi maupun keberhasilan terapi. Manajemen terhadap
pasien kanker dengan aspek psikologis adalah kenali koping klien
terhadap stress dan beri dukungan support system dari keluarga, social
maupun tenaga kesehatan serta konseling
4. Aspek Keluarga
Keluarga sebagai salah satu social support yang dapat memberikan
dukungan ada klien. Libatkan keluarga secara aktif dalam program
pengobatan klien serta berikan informasi setiap tindakan yang akan
dilakukan pada klien dapat mengurangi kecemasan keluarga akan
penyakit klien dan dapat memberikan dukungan pada klien.

E. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN CA MAMMAE


1. Pengkajian
A. Anamnesa
1. Data Umum
Identitas klien meliputi: nama, usia (sebagian besar perempuan
penderita cancer mammae berusia 50 tahun ke atas, namun usia
produktif yaitu usia 15-49 tahun juga beresiko terkena kanker
payudara), agama, pekerjaan, pendidikan terakhir, alamat, suku,
golongan darah.
Identitas orang tua/pelaku rawat, identitas saudara kandung.
2. Genogram
Untuk mengetahui gambaran keluarga dengan riwayat kanker,
terutama bila ada riwayat kanker payudara pada anggota keluaga. Hal
ini disebabkan adanya gen warisan (BRCA) yang jika gen tersebut
mengalami mutasi dapat menjadi faktor timbulnya kanker.
3. Keluhan Utama
a. Keluhan utama yang mungkin muncul :
1) Nyeri pada payudara
2) Mual muntah akibat kemoterapi
b. Riwayat Kesehatan
1) Gaya hidup
Kaji riwayat merokok, pola makan, olah raga, stress, riwayat
konsumsi alcohol
2) Riwayat obstetri
Paritas, riwayat kehamilan dan kelahiran yang lalu,
penggunaan alat kontrasepsi.
3) Riwayat ginekologi
Kaji siklus menstruasi (frekuensi dan durasi), menarche,
menopause, riwayat tumor sebelumnya, riwayat penggunaan
kontrasepsi
4) Riwayat penyakit yang lalu
Kaji riwayat penyakit diabetes melitus, hipertensi, atau
infeksi.

5) Riwayat kesehatan keluarga


Kaji riwayat penyakit keturunan, penyakit infeksi, dan
riwayat kelurga dengan tumor.
B. Pemeriksaan Fisik
1. Tanda-tanda vital
Kaji adanya perubahan dalam tanda-tanda vital, seperti peningkatan
HR atau RR.
2. Sistem reproduksi
Kaji adanya perubahan bentuk pada payudara, kesimetrisan, teraba
massa/benjolan, nyeri tekan atau nyeri lepas, adakah pengeluaran
cairan abnormal dari puting susu, cairan dapat berupa nanah, darah,
cairan encer atau keluar air susu pada perempuan yang tidak hamil
dan menyusui, adakah perubahan bentuk dan besarnya payudara, luka
paska operasi pengangkatan payudara
3. Sistem yang lain
a. Pernafasan
Kaji pola nafas, frekuensi nafas, adakah kesulitan bernafas, sekret
di jalan nafas, suara nafas, kaji adanya batuk yang sulit sembuh.
Menurut Mulyani & Nuryani (2013), jika metastase terjadi di
paru-paru ditandai dengan batuk yang sulit untuk sembuh,
terdapat penimbunan cairan antara paru- paru dengan dinding
dada sehingga akan menimbulkan kesulitan dalam bernafas.
b. Kardiovaskuler
Kaji frekuensi nadi, bunyi jantung, capilary reffil time (CRT),
tekanan darah, JVP
c. Pencernaan
Kaji adanya mual muntah (efek dari kemoterapi), kaji bentuk dan
kesimetrisan abdomen, bising usus, apakah teraba massa atau
udara, pola eliminasi BAB.
d. Muskuloskeletal
Kaji bentuk dan kesimetrisan ekstremitas, kaji adanya nyeri,
kelemahan, atau kaku. Kaji bila didapatkan fraktur patologis

e. Perkemihan
Kaji adanya massa pada area ginjal, frekuensi BAK, haluaran
urine, dan nyeri saat BAK.
f. Integumen
Kaji perubahan warna kulit akibat radiasi. Kerontokan pada
rambut akibat kemoterapi.
C. Pengkajian Psikososial dan Spiritual
1. Psikososial
Konsep Diri
a. Gambaran diri (bagaiamana klien memandang tubuhnya, apakah
ada perasaan malu karena perubahan bentuk payudara atau
kehilangan payudara karena mastectomy, keadaan tubuh akibat
radiasi dan kemoterapi)
b. Identitas diri (kaji bagaimana respek terhadap diri, mampu
bagaimana klien menguasai diri, mengatur diri dan menerima
diri)
c. Peran diri (kaji peran klien di keluarga, masyarakat, di komunitas
tertentu ,kaji apakah peran klien terganggu akibat penyakitnya)
d. Harga diri (kaji harga diri klien, apakah klien memiliki perasaan
malu karena kondisinya)
e. Ideal diri (kaji harapan klien terkait kondisinya)
Data Sosial
Kaji bagaimana hubungan klien dengan orang sekitar, biasanya
didapatkan interaksi klien dengan lingkungannya menjadi menurun
dikarenakan adanya penyakit yang diderita klien.
2. Spiritual
Kaji tentang keyakinan atau persepsi klien terhadap penyakitnya. Kaji
sejauhmana kemampuan klien beribadah, biasanya klien akan merasa
kesulitan dalam menjalankan ibadah
D. Pengkajian Paliative
1. Pengkajian Keperawatan Pasien Paliatif Dan End Of Life
Kriteria Ya Tidak Keterangan Kriteria Ya Tidak
General Lelah General / respirasi Sesak napas
Gangguan Tidur Batuk
Nyeri Sputum
Gangguan mobilisasi Hemoptosis
Saluran Nafsu Makan Hilang Nafsu makan Sistem saraf pusat Sakit kepala
cerna Gangguan oral meningkat Pusing
Penurunan berat badan Pingsan
Disfagia Kelemahan Tungkai
Mual Penurunan kesadaran
Muntah Kebingungan
Konstipasi Hilang memori
Diare Halusinasi
Hematemesis Mimpi buruk
Melena

2. Perawatan Terintegrasi
Kriteria Kanker
Pasien Keluarga
Wawasan Mengetahui diagnosis Ya
Mengetahui prognosis Tidak
Mengetahui tujuan perawatan Ya
Dukungan spiritual Kebutuhan akan dukungan spiritual pada pasien Ya
Keagamaan/kebutuhan spiritual pada keluarga/lainnya Ya
Kecemasan pasien/kerabat terhadap diri sendiri atau orang lain Ya
Dukungan dari tim secara keseluruhan Ya
Identifikasi tradisi keagamaan Ti Tidak
Masalah psikologis: Pengkajian berdasarkan DASS klien dalam kategori Depresi Ringan, Kecemasan Sedang. Stress Normal
3. Penapisan Pasien Paliative Care
1 Penyakit Dasar Skor Jumlah Skor
a. Kanker 2 2
b. PPOK 2 0
c. Stroke (dengan penurunan fungsional > 50%) 2 0
d. Penyakit Ginjal Kronis 2 0
e. Penyakit Jantung berat 2 0
f. HIV/ AIDS 2 0
2 Penyakit Ko Morbiditas Skor Jumlah Skor
a. Penyakit hati kronis 1 0
b. Penyakit ginjal moderat 1 0
c. PPOK Moderat 1 0
d. Gagal jantung kongestif 1 0
e. Kondisi/ komplikasi lain: 1 0
3 Status fungsional klien Menggunakan status perpoma Skor Jumlah Skor
ECOG Derajat Skala
0 = Aktif penuh, dapat melakukan kegiatan tanpa hambatan 0 0
seperti sebelum ada penyakit 0 0
1 = Terdapat hambatan dalam aktivitas berat tetapi dapat 1 0
melakukan pekerjaan ringan seperti pekerjaan rumah yang 2 0
ringan, rawat jalan 3 1
2 = Rawat jalan, dpat mengurus diri sendiri, tetapi tidak
dapat melakukan semua aktifitas, lebih dari 50% jam
bangun.
3 = Dapat mengurus diri sendiri secara terbatas, lebih banyak
waktunya di tempat tidur atau dikursi roda dengan waktu
4 = tidak dapat mengurus diri sendiri, sebagian besar waktu
di tempat tidur, kondisi berat/cacat.
4 Kriteria lain yang perlu dipertimbangkan pasien Skor Jumlah Skor
a. Tidak akan menjalani perngobatan kuratif 1 0
b. Kondisi penyakit berat dan memilih untuk tidak 1 0
melanjutkan terapi 1 0
c. Nyeri tidak terbatas lebih dari 24 jam 1 1
d. Memiliki keluhan yang tidak terkontrol (contoh: mual, 1 1
muntah)
e. Memiliki kondisi psikososial dan spiritual yang perlu
perhatian
Total Skor 5
4= Membutuhkan Intervensi Paliatif 3= Observasi <2= Tidak Membutuhkan
Perawatan Paliatif
3. ESAS Quessionare
Tidak Nyeri 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nyeri Tidak Tertahankan
Tidak Lelah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sangat Lelah
Tidak Mual 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sangat Mual
Tidak Merasa Depresi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Merasa Sangat Depresi
Tidak Merasa Cemas 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sangat Merasa Cemas
Tidak Merasa Mengantuk 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sangat Merasa Mengantuk
Nafsu Makan Baik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nafsu Makan Tidak Ada
Merasa Nyaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sangat Tidak Nyaman
Tidak Sesak Nafas 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sesak Nafas Sekali
Gatal-gatal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sangat Gatal
Total Skor 65
>70= Gejala Berat 41-69= Gejala Sedang <40= Gejala Ringan
II. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan yang mngkin muncul pada pasien dengan Ca mammae diantaranya:
1. Nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor.
2. Ansietas b.d. stress akibat kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya
3. Gangguan citra tubuh b.d. pembedahan dan terapi penyakit kanker (terapi radiasi)
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah akibat kemoterapi
5. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru akibat metastase tumor
6. Distress spiritual berhubungan dengan proses penyakit
7. Ketidakefektifan pola seksualitas b.d. perubahan struktur, fungsi organ, therapi, atau terapi medis
III. Intervensi Dan Rasional
No. Diagnosa Tujuan dan kriteria Intervensi Rasional
Keperawatan hasil
1. Nyeri akut b.d. NOC : NIC :
penekanan massa - Pain level Manajemen nyeri
- Pain control - Lakukan pengkajian nyeri secara - Karakteristik, durasi, lokasi, kualitas,
- Comfort level komprehensif dan faktor pencetus nyeri dapat
Kriteria hasil : diketahui melalui pengkajian
- Mampu mengontrol komprehensif.
nyeri - Observasi reaksi non verbal dari - Sebagai data yang menentukan derajat
- Melaporkan bahwa ketidaknyamanan nyeri
nyeri berkurang - Gunakan teknik komunikasi teurapeutik - Komunikasi teurapeutik efektif dalam
dengan manajemen untuk mengetahui persepsi klien menggali persepsi klien
nyeri - Kaji kultur yang mempengaruhi respon - Kultur mempengaruhi persepsi klien
- Mampu mengenali nyeri trehadap nyeri
nyeri - Bantu pasien dan keluarga untuk - Dukungan psikologis keluarga dapat
- Menyatakan rasa menemukan dukungan membantu menngurangi nyeri
nyaman setelah - Kontrol lingkungan yang mempengaruhi - Lingkungan yang terkontrol dapat
nyeri berkurang nyeri (Suhu, cahaya, kebisingan) menurunkan skala nyeri
- Kurangi faktor presipitasi nyeri - Mengurangi faktor presipitasi nyeri
dapat nenurunkan frekuensi nyeri
- Pilih dan lakukan penanganan nyeri - Penanganan nyeri yang tepat harus
(farmakologi dan non farmakologi) disesuaikan dengan derajat nyeri klien
- Ajarkan teknik non farmakologi (nafas - Teknik non farmakologi merupakan
dalam, distraksi) salah satu alternatif dalam mengurangi
nyeri
- Berikan analgesik untuk mengurangi nyeri - Analgesik bekerja memblok pusat
- Evaluasi keefektifan kontrol nyeri nyeri, sehingga nyeri tidak
dipersepsikan
- Tingkatkan istirahat - Istirahat mengurangi perangsangan
saraf simpatis sehingga mengurangi
nyeri
Analgesic administrasion
- Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, - Derajat nyeri menentukan perlu
dan derajat nyeri sebelum pemberian obat tidaknya pemberian analgesik
- Cek instruksi dokter tentang jenis obat, - Pengecekan kembali dapat mengurangi
dosis, dan frekuensi resiko kesalahan dalam pemberian
terapi
- Cek riwayat alergi - Pengecekan riwayat alergi sebagai
informasi dalam pemberian terapi yang
aman
- Analgesik yang tepat dan sesuai
- Pilih analgesik yang diperlukan kebutuhan efektif mengatasi nyeri dan
meminimalkan efek samping
- Rute pemberian mempengaruhi
- Pilih rute pemberian (PO, IV, atau IM) efektifitas obat
- TTV sebagai salah satu parameter
- Monitor TTV sebelum dan sesudah kondisi umum tubuh
pemberian - Fektifitas analgetik sebagai parameter
- Evaluasi efektifitas analgetik ketepatan intervensi dalam
manajemen nyeri
2. Ansietas b.d. stress NOC : NIC:
akibat kurangnya - Anxiety-self control Anxiety reduction
pengetahuan tentang - Anxiety level - Gunakan pendekatan yang menenangkan - Pendekatan yang menenangkan dapat
penyakit dan - Coping mengurangi kecemasan
penatalaksanaannya Kriteria hasil : - Jelaskan semua prosedur dan apa yang - Pengetahuan yang cukup tentang
- Klien mampu dirasakan selama prosedur prosedur tindakan dapat mengurangi
mengidentifikasi kecemasan
dan - Pahami perspektif pasien terhadap situasi - Memahami perspektif pasien dapat
mengungkapkan stress menentukan intervensi yang paling
gejala cemas tepat
- Mengidentifikasi, - Temani pasien untuk memberikan - Menemani pasien dapat
mengungkapkan, keamanan dan mengurangi rasa takut meningkatkan koping
dan menunjukkan - Dorong keluarga untuk menemani
teknik menontrol - Lakukan back/neck rub - Back/neck rub dapat menimbulkan
cemas sensasi rileks sehingga mengurangi
- TTV dalam batas kecemasan
normal - Dengarkan dengan penuh perhatian - Mendengarkan pasien membuat
- Postur, ekspresi, dan pasien merasa berharga
aktivitas - Identifikasi tingkat kecemasan - Tingkat kecemasan harus
menunjukkan diidentifikasi agar dapat menentukan
kurangnya intervensi terbaik yang diberikan
kecemasan - Bantu pasien mengenal situasi yang - Pasien mampu mengidentifikasi dan
menimbulkan kecemasan menghindari situasi tersebut
- Dorong pasien untuk mengungkapkan - Mengungkapkan seluruh perasaan
perasaan, ketakutan, dan persepsi dapat menimbulkan perasaan lega dan
mengurangi kecemasan
- Instruksikan pasien menggunakan teknik - Teknik relaksasi membantu
relaksasi melahirkan perasaan tenang,
mengurangi stress dan kecemasan
- Berikan obat untuk mengurangi - Therapi farmakologik bekerja
kecemasan memblok saraf simpatis, sehingga
mengurangi kecemasan
3. Ketidakefektifan pola NOC : NIC
seksualitas b.d. - Pola seksualitas - Identifikasi riwayat seksualitas - Riwayat seksualitas sebelumnya
perubahan struktur, Kriteria hasil : mempengaruhi persepsi seksualitas
fungsi organ, therapi, - Mengidentifikasi saat ini
atau terapi medis masalah fungsi - Fasilitasi klien bertanya/bercerita tentang - Seksualitas merupakan privacy
seksual gangguan seksualitas yang dialaminya sehingga diperlukan teknik khusus
- Mengekspresikan serta trust agar klien mau
kepuasan pola mengungkapkan masalah yang terkait
seksual dengan seksualitas
- Mengidentifikasi - Identifikasi hubungan klien dengan - Hubungan klien dengan pasangan
stressor yang pasangannya mempengaruhi pola seksualitas
mempengaruhi - Identifikasi koping pasien terhadap - Koping/ketahanan terhadap
seksualitas penyakit yang menyebabkan perubahan fisik mempengaruhi
- Melanjutkan terganggunya fungsi seksualitas masalah seksualitas yang dialami
aktivitas seksualitas - Jelaskan kenormalan perasaan tidak - Peneriman terhadap fase
sebelumnya berdaya/berguna ketidakberdayaan mempermudah
klien beralih ke tahapan selanjutnya
- Jelaskan kebutuhan untuk berbagi dengan - Berbagi dengan pasangan dapat
pasangan mengurangi stress dan memperbaiki
ikatan
- Dorong pasangan untuk mendiskusikan - Ikatan psikologis pasangan
kekuatan hubungan mereka merupakan faktor kuat yang membuat
klien mampu mengatasi masalah
seksualitas
- Anjurkan klien menmilih aktifitas seksual - Aktivitas seksual dapat disesuaikan
yang memungkinkan dengan kondisi dan kesepakatan agar
resiko dapat dihindari
- Identifikasi penghambat untuk - Faktor penghambat yang
memuaskan fungsi seksual teridentifikasi dini dapat dihindari
atau diminimalisir
- Lakukan penyuluhan kesehatan dan - Peningkatan pengetahuanmelalui
rujukan sesuai indikasi penyuluhan atau konsultasi pada
ahlinya dapat memperbaiki pola
seksual pasangan serta mencegah
resiko yang tak diinginkan
4. Gangguan citra tubuh NOC : NIC :
b.d. pembedahan dan - Body Image Body image enchancement
terapi penyakit kanker - Self esteem 1. Kaji secara verbal dan non verbal 1. Respon klien terhadap tubuhnya
(terapi radiasi) Kriteria hasil : respon klien terhadap tubuhnya mencerminkan penerimaan klien
- Body image positif 2. Monitor frekuensi mengkritik 2. Semakin sering frekuensi
- Mampu dirinya mengkritikdiri, semakin negatif
mengidentifikasi pandangan klien terhadap citra
kekuatan personal tubuhnya
- Mendekskripsikan 3. Pengetahuan yang cukup
secara faktual 3. Jelaskan tentang pengobtan, mengenai penyakit dapat
perubahan fungsi perawatan, kemajuan, prognosis membantu meningkatkan
tubuh penyakit penerimaan klien terhadap citra
- Mempertahankan tubuhnya
interaksi sosial 4. Mengungkapkan perasaan dapat
4. Dorong klien mengungkapkan mengurangi stress
perasaannya 5. Alat bantu yang tepat dapat
meningkatkan citra tubuh klien
5. Identifikasi arti pengurangan melalui 6. Kontak klien dengan
pemakaian alat bantu komunitasnya, terutama dengan
6. Fasilitasi kontak individu dengan komunitas yang sama dapat
kelompok kecil memotivasi, mengurangi stress,
dan meningkatkan citra tubuh
positif
5 Nutrisi kurang dari NOC: 1. Kaji adanya alergi makanan 1. Menghindari terjadinya alergi
kebutuhan berhubungan Status nutrisi adekuat 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk 2. Membantu menentukan
dengan mual muntah Nutritional status: food menentukan jumlah kalori dan nutrisi perencanaan intake nutrisi secara
akibat kemoterapi and fluid intake yang dibutuhkan klien tepat
Weight control 3. Anjurkan klien untuk meningkatkan 3. Meningkatkan nutrisi dalam
Kriteria hasil konsumsi makanan yang tinggi tubuh
Albumin dalam batas kandungan protein, Fe, dan Vit.C 4. Mengobservasi balance nutrisi
normal 4. Monitor kandungan nutrisi dan kalori 5. Membantu klien untuk dapat
IMT normal 5. Berikan informasi tentang kebutuhan memanajemen intake nutrisi
Makanan habis satu nutrisi adekuat secara mandiri
porsi 6. Monitor BB, turgor kulit, mual muntah, 6. Melihat perkembangan nutrisi
kadar albumin, konjungtiva, dan TTV dan tanda-tanda vital klien
6 Pola nafas tidak efektif Setelah dilakukan 1. Monitor status pernafasan dan 1. Melihat kemajuan pasien, membantu
berhubungan dengan tindakan keperawatan oksigenasi pasien, auskultasi suara nafas perawat dalam memberikan
penurunan ekspansi pola nafas pasien tambahan. intervensi untuk membantu
paru akibat metastase efektif dengan kriteria 2. Catat pergerakan dada dan penggunaan oksigenasi pasien.
tumor hasil otot bantu nafas dan retraksi 2. Tanda adanya distress pernafasan,
Pernafasan reguler supraclavicular bila diketahui segera maka akan
Suara paru vesikuler 3. Posisikan pasien senyaman mungkin mencegah jatuhnya pasien pada
RR dalam batas normal 4. Identifikasi kebutuhan pasien untuk kondisi perburukan
Tidak ada dyspneu pemberian alat bantu nafas 3. Memudahkan ekspansi pernafasan.
5. Anjurkan pasien untuk bernafas pelan 4. Melihat apakah pasien perlu bantuan
dan dalam. pemasangan alat bantu nafas atau
6. Kolaborasi dalam pemberian O2 tidak.
5. Nafas pelan dan dalam meningkatkan
efisiensi pernafasan dan ekspansi
paru, memperbaiki fungsi otot
pernafasan.
6. Terapi oksigen sesuai kebutuhan
dapat memenuhi keseimbangan
suplai dan demand tubuh terhadap
oksigen

7 NOC 1. Gunakan komunikasi terapeutik untuk 1. Memberikan kenyamanan pada klien


Distress spiritual
 Ansietas kematian membangun kepercayaan dan selama berinteraksi
berhubungan dengan
 Konflict pembuatan kepedulian empatik 2. Menggalli nilai-nilai spiritual klien
proses penyakit
keputusan 2. Dorong individu untuk meninjau 3. Untuk memenuhi kebutuan kegiatan
 Koping, kehidupan masa lalu dan fokus pada ibadah klien
ketidakefektifan peristiwa dan hubungan yang memberi 4. Memberikan ketenangan
 Distress spiritual, kekuatan spiritual 5. Membantu dalam melakukan
resiko 3. Fasilitasi klien untu melakukan kegiatan ibadah
 Terlibat dalam kegiatan ibadah
lingkungan sosial 4. Ajarkan metode relaksasi, meditasi
Kriteria Hasil 5. Sediakan artikel spiritual yang
Menyatakan konflik diinginkan, sesuai dengan referensi
atau gangguan yang individu
terkait dengan praktik
sistem kepercayaan
· Membahas
kepercayaan tentang
masalah spiritual
· Nyatakan perasaan
percaya pada diri
sendiri, Tuhan, atau
sistem kepercayaan
lainnya
· Melanjutkan latihan
spiritual yang tidak
merusak kesehatan
· Membahas perasaan
tentang kematian
· Menampilkan suasana
yang sesuai untuk
situasi tersebut
IV. Implementasi
Implementasi dilaksanakan sesuai dengan intervensi yang telah ditetapkan.

V. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang digunakan
sebagai alat untuk menilai keberhasilan dalam asuhan keperawatan dan proses
ini berlangsung terus menerus yang diarahkan pada pencapaian tujuan.
Dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan ca ovarium,
seorang perawat harus melakukan evaluasi dari setiap intervensi yang telah
ditetapkan yang mengacu pada tujuan dan kriteria hasil yang telah dibuat
sebelumnya.
Evaluasi formatif/jangka pendek dilakukan secepatnya setelah tindakan
keperawatan dilakukan. Sedangkan evaluasi sumatif/jangka panjang dialkukan
pada akhir tindakan keperawatan paripurna sebagai metode dalam
memonitoring kualitas dan efisiensi tindakan yang telah diberikan.
DAFTAR PUSTAKA

Breastcancer.org. 2019.M anaging chemotherapy side effect . retrieved from


https://www.breastcancer.org/treatment/side_effects .

Enger SM, Ross RK, PaganiniHill A, Carpenter CL, Bernstein L. Body size, physical
activity, and breast cancer hormone receptor status: results from two case-control
studies. American Association for Cancer Research. 2013. Volume 9 Issue 7, pp.
681-687.

Kementerian Kesehatan RI. 2016. Kanker Pembunuh Papan Atas. Jakarta:


Mediakom. Edisi 55.

Kementerian Kesehatan RI. 2015. Pedoman Nasional Program Paliatif Kanker.


Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan RI. 2013. Pedoman Nasional Program Paliatif Kanker.


Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.

Lanfranchi A and Brind J. 2015. Breast Cancer : Risk and Prevention, The Edition,
Pounghkeepsie, New York.

Mulyani, Nina Siti & Nuryani. 2013. Kanker Payudara dan PMS pada Kehamilan.
Yogyakarta : Nuha Medika.

NANDA International. 2012. Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi,


Jakarta : EGC

National Cancer Institute. 2017. Breast Cancer


Treatment.https://www.cancer.gov/types/breast/patient/breast-treatment-pdq

Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan volume 1. Jakarta: EGC.

Pringgoutomo, Sudarto. 2002. Buku Ajar Patologi I (Umum) edisi ke-1. Jakarta:
Sagung Seto

Price, A. Sylvia, Lorraine Mc. Carty Wilson, 2006, Patofisiologi : Konsep Klinis
Proses-proses Penyakit, Edisi 6, (terjemahan), Peter Anugrah, EGC, Jakarta.

Pulungan,2010. Pubertas dan Gangguannya Buku Ajar Endokrinologi Anak. Edisi


pertama. UKK Endokrinologi Anak dan Remaja IDAI : Jakarta.
Rahmadhani. 2016. Post Traumatic Growth pada Wanita Penderita Kanker Payudara
Pasca Mastektomi Usia Dewasa. journal.unair.ac.id /download -
fullpapersjpkk88c70fe931full.pdf.

Ross-KublerElisabet. (1998). On Death and Dying Kematian Sebagai Bagian


Kehidupan. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

Sari, 2015.Pengalaman kehilangan (Loss) dan berduka (Grief) ibu preeklampsi


kehilangan bayinya. http://eprints.undip.ac.id/47270/1/bagia n_awal-bab_3.pdf.

Smeltzer, Suzanne C.2013. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth,


Jakarta: EGC.

Vogel VG. 2010. Breast cancer prevention: A review of current evidence. Cancer
Journal for Clinicians 50(3):156-170.

Wiknjosastro, Hanifa. 2009, Buku Acuan Nasional Pelayanan KesehatanMaternal,


Jakarta : Yayasan Bina Pustaka,

Willet Walter C, Fat Energy and Breast Cancer, American Society for Nutritional
Science, 1997.

World Health Organization [WHO]. 2004. Palliative Care : Symptom Management


and End of Life Care.

Yulianti, Iin. 2016. Faktor – Faktor Risiko Kanker Payudara. JURNAL


KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal) Volume 4, Nomor 4, Oktober 2016
(ISSN: 2356-3346) http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

Anda mungkin juga menyukai