Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA PENYULUHAN

SEKS EDUCATION DAN PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXXIV


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok bahasan : SEKS EDUCATION


Sub pokok bahasan : Pencegahan kekrasan Seksual Pada Anak
Sasaran : Anak usia Sekolah Dasar ( 7 – 8 tahun )
Waktu Pelaksanaan : 21 Maret 2018
Lama Pelaksanaan : 30 menit (Pukul 15.00 WIB)
Tempat : SD Negeri Warung Jambu RT 01 RW 03 Kebon Kangkung
Penyuluh : Kelompok 3 Program profesi Ners Angkatan XXXIV

I. Tujuan Instruksional Umum :


Setelah dilakukan pendidikan kesehatan diharapkan anak usia sekolah dasar dapat
memahami mengenai pelecehan seksual dan pencegahannya

II. Tujuan Instruksional Khusus :


Setelah mengikuti pendidikan kesehatan selama 30 menit, diharapkan anak usia
remaja dapat :
1. Mengetahui mengenai pengertian pelecehan seksual
2. Mengetahui jenis-jenis pelecehan seksual
3. Mengetahui dan memahami pencegahan pelecehan seksual

III. Materi Penyuluhan


1. Pengertian pelecehan seksual
2. Jenis-jenis pelecehan seksual
3. Pencegahanpelecehan seksual

IV. Strategi Pelaksanaan :


1. Metode : Ceramah dan diskusi
2. Media : Video
3. Setting tempat

Layar
2
1

3
Keterangan :
1 = Penyuluh
2 = Moderator & Fasilitator
3 = Audience

V. Pengorganisasian
1. Moderator : Atikah
2. Fasilitator : Ai, sofariah,
3. Penyuluh : Ranitya, muchibaturrahmah
4. Logistik : Rizkiani, selvi
5. Observer : Erviana
Rincian tugas :
1. Moderator : mengatur jalannya penyuluhan
2. Fasilitator : memfasilitasi acara
3. Penyuluh : memberikan penyuluhan
4. Logistik : mengatur perlengkapan dan kebutuhan saat penyuluhan
5. Observer : mengawal dan menilai jalannya acara

VI. Langkah Kegiatan


1. Pra Pembelajaran
a. Persiapan materi
b. Kontrak waktu

2. Kegiatan Pembelajaran
Tahap Kegiatan
Waktu
Kegiatan Penyuluh Sasaran
5 Menit Pembukaan Membuka acara Menjawab salam
Menyampaikan topik Mendengarkan
Kontrak waktu Menyetujui kontrak
15Menit Kegiatan Inti Mengkaji ulang tingkat Mendengarkan
pengetahuan sasaran
Memberikan materi Menanyakan.
memberikan feed back Menanggapi

10 Menit Evaluasi / Memberikan pertanyaan 2. Menjawab


Penutup Menyimpulkan materi 3. Menyimak
Menutup(mengucapkan 4. Menjawab salam
salam)

VII. Kriteria Evaluasi :


1. Prosedure : post test
2. Jenis tes : pertanyaan lisan
3. Butir soal :
a. Apa pelecehan seksual
b. Jenis-jenis pelecehan seksual
c. Cara pencegahan pelecehan seksual

Lampiran : Materi Penyuluhan

SEKS EDUCATION DAN PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK

I. Pengertian

Kekerasan seksual pada anak adalah segala tindakan seksual terhadap anak
termasuk mmenunjukan alat kelamin, memanfaatkan anak untuk hal yang berbau gambar
atau video porno, memanfaatkan anak untuk hal berbau porno,memegang alat kelamin,
menyuruh anak memegang alat kelamin , kontak mulut ke aalat kelamin atau penetrasi
vagina atau anus anak baik dengan caramembujuk maupun memaksa. Dewasa
Mengajarkan pendidikan seks dan informasi terkait usaha pelecehan seksual pada anak
memang tidak mudah tapi harus dilakukan sedini mungkin agar anak terhindar dari
tindakan pelecehan seksual. Anak-anak yang kurang pengetahuan tentang seks jauh lebih
mudah dibodohi oleh para pelaku pelecehan seksual. Pendidikan seks usia dini dapat
memberikan pemahaman anak akan kondisi tubuhnya, pemahaman akan lawan jenisnya,
dan pemahaman untuk menghindarkan dari kekerasan seksual. Pendidikan seks yang
dimaksud di sini adalah anak mulai mengenal akan identitas diri dan keluarga, mengenal
anggota-anggota tubuh mereka, serta dapat menyebutkan ciri-ciri tubuh. Cara yang dapat
digunakan mengenalkan tubuh dan ciri-ciri tubuh antara lain melalui media gambar atau
poster, lagu dan permainan. Pemahaman pendidikan seks di usia dini ini diharapkan anak
agar anak dapat memperoleh informasi yang tepat mengenai seks. Hal ini dikarenakan
adanya media lain yang dapat mengajari anak mengenai pendidikan seks ini, yaitu media
informasi. Sehingga anak dapat memperoleh informasi yang tidak tepat dari media massa
terutama tayangan televisi yang kurang mendidik. Dengan mengajarkan pendidikan seks
pada anak, diharapkan dapat menghindarkan anak dari risiko negatif perilaku seksual
maupun perilaku menyimpang.

II. MANFAAT

 Mengerti dan memahami dengan peran jenis kelaminnya


Dengan diberikannya pendidikan seksualitas pada anak, seorang anak laki-laki
diharapkan tumbuh dan berkembang menjadi laki-laki seutuhnya, begitu pula dengan
anak perempuan, diharapkan tumbuh dan berkembang menjadi seorang perempuan
seutuhnya. Sehingga tidak ada lagi yang merasa tidak nyaman dengan peran jenis
kelamin yang dimilikinya.
 Menerima setiap perubahan fisik yang dialami dengan wajar dan apa adanya
Masa kanak-kanak adalah masa dimana seorang manusia sedang mengalami
pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis. Terutama saat
mereka mulai memasuki masa pubertas, dimana perubahan fisik dan psikis
mengalami tahap paling cepat dibandingkan dengan masa sebelum dan sesudahnya.
Dengan diberikannya pendidikan seksualitas menjadikan anak-anak mengerti dan
paham tentang bagaimana mereka menyikapi perubahan-perubahan tersebut, sehingga
mereka tidak akan merasa asing, kaget, bingung, dan takut saat menghadapinya
 Menghapus rasa ingin tahu yang tidak sehat
Sebaiknya, orang-orang terdekat seperti orang tua dan guru bisa menjadi sosok yang
menyenangkan bagi anak untuk bisa memenuhi rasa ingin tahunya yang menggebu
tentang banyak hal termasuk tentang seksualitas. Ini dimaksudkan agar anak tidak
memutuskan untuk mencari tahu jawaban akan pertanyaan-pertanyaannya melalui
teman, komik, VCD, ataupun media lainnya yang tidak menjamin anak mendapatkan
informasi yang sebenar-benarnya.
 Memperkuat rasa percaya diri dan bertanggung jawab pada dirinya
Percaya diri akan timbul jika seorang anak sudah merasa nyaman dengan dirinya.
Anak akan merasa nyaman pada dirinya jika telah mengetahui setiap bagian dari
dirinya juga fungsi dari bagian-bagian tersebut. Sehingga, anak akan mengetahui apa
yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Pada akhirnya, anak akan mulai belajar
untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri..

III. PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK

 Memberitau anak tentang bagian tubuh yang tidak boleh di sentuh orang lain

Ada empat area tubuh yang mutlak tak boleh disentuh, kecuali oleh ibunya atau
seseorang yang bisa dipercaya. Empat area itu meliputi mulut, dada, selangkangan, dan
bokong. Orang lain yang juga boleh untuk menyentuh, tapi tetap harus ditunggui
orangtuanya, contohnya adalah dokter, yang karena pekerjaannya, memang harus
memeriksa dan menyentuh bagian-bagian sensitif tersebut.
Childline menggambarkan perbedaan sentuhan yang nyaman dan berbahaya.
Sentuhan yang terasa nyaman seperti ketika ibu memeluk anak. Sementara, ketika ibu
memegang bagian pribadi tersebut ketika mandi dimaksudkan untuk kebersihan.
Jika orang yang peduli dan sayang menyentuh kita, itu namanya sentuhan aman.
Selain itu tidak boleh ada orang lain yang menyentuh bagian pribadi tersebut. Itu salah,
itu akan membuat kamu merasa malu, jijik, tidak nyaman, dan kesal.
Apabila seseorang menunjukkan gambar yang tak senonoh, atau memaksa
melepaskan baju, memegang bagian terlarang, itu semua tidak aman. Kita menyebutnya
sentuhan berbahaya.

 Tindakan yang harus dilakukan oleh anak


Pelecehan seksual pada anak adalah segala tindakan seksual terhadap anak
termasuk menunjukkan alat kelamin ke anak, menunjukkan gambar atau video porno,
memanfaatkan anak untuk hal berbau porno, memegang alat kelamin, menyuruh anak
memegang alat kelamin orang dewasa, kontak mulut ke alat kelamin atau penetrasi
vagina atau anus anak – baik dengan cara membujuk maupun memaksa. Pelecehan
seksual bisa menimpa siapa saja, baik terhadap anak lelaki ataupun anak perempuan.
Pada kebanyakan kasus pelecehan seksual, pelaku merupakan orang-orang dari
lingkungan terdekat seperti tetangga atau teman bermain anak . Banyak kejadian bocah
balita dinodai oleh anak-anak usia SD karena iseng atau ingin tahu. Pengaruhnya atas
anak-anak bisa menghancurkan psiokososial dan tumbuh kembangnya di masa depan.
Karakteristik Pelaku Pelecehan Seksual Pelaku pelecehan seksual pada anak atau
pedofil biasanya merayu anak-anak secara bertahap. Pertama-tama, ia memberikan
perhatian khusus pada calon korbannya, umumnya anak yang kelihatan tidak berdaya dan
penurut sehingga mudah dikendalikan. Ia mungkin juga mencoba mendapatkan
kepercayaan orang tuanya dengan berpura-pura menaruh minat yang tulus kepada si anak
dan keluarganya. Sedikit demi sedikit, ia mulai mengadakan kontak fisik dengan si anak
lewat belaian sayang atau permainan. Ia mungkin sering memberikan hadiah kepada si
anak. Selanjutnya, ia mulai memisahkannya dari keluarga atau teman-temannya agar bisa
berduaan saja dengan si anak. Setelah si pedofil mendapatkan kepercayaan anak serta
orang tua, ia siap beraksi. Ia mungkin memanfaatkan keingintahuan wajar si anak tentang
seks, mengajaknya mengadakan "permainan istimewa" rahasia, atau memperlihatkan
pornografi kepada anak supaya perilaku demikian tampak normal. Setelah berhasil
memperkosa, ia akan berusaha membungkam si anak dengan berbagai taktik licik, seperti
mengancam, memeras, dan menyalahkan. Dengan mengenali karakteristik pelaku, Anda
akan lebih siap untuk bertindak dalam mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan.
Tindakan yang harus dilakukan anak ketika ada orang asing mendekatinya dan
berusaha menyentuh empat bagian terlarang adalah
 Berteriak
 Meminta tolong
 Berusaha untuk menghindar dengan berlari.
DAFTAR PUSTAKA

Aprilaz, I. (2016). Perbandingan Efektivitas Antara Metode Video Dan Boneka Dalam
Pendidikan Seksual Terhadap Pengetahuan Anak Prasekolah. Jakarta: Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negri Syarif
Hidayatullah.
David,Finkelhor.2010.Seksuality Victimesed Children.online.available:
http://books.google.com/books?
id=3wXsG0XFW14C&printsec=frontcover&dq=david+finkelhor&hl=en&sa=X&ei=0u01
VN3lPM7FPZWlgcAG&ved=0CCgQ6AEwAA#v=onepage&q=david
%20finkelhor&f=false.

Kendall-Tackett, K. A., Williams, L. M., & Finkelhor, D. (1993). Impact of Sexual Abuse on
Children: A Review and Synthesis of Recent Empirical Studies. Psychological Bulletin ,
113(1), 164-180. doi: 10.1037/0033-2909.113.1.164.
Kenney, J. (2009). Nursing Process Application of Conceptual Models, Fourth Edition. Mosby:
St Louis Baltimore.
Kenny, M. C., & al., e. (2012). Teaching General Safety and Body Safety Training Skills to a
Latino Preschool Male with Autism. Journal of Child and Family Studies , 1092-1102.
KPAI. (2015, Juni 14). KPAI: Pelaku Kekerasan terhadap Anak Tiap Tahun Meningkat. Dipetik
April 18, 2017, dari KPAI: http://www.kpai.go.id/berita/kpai-pelaku-kekerasan-terhadap-
anak-tiap-tahun-meningkat/
Lestari, E., & Presetyo, J. (2014). Peran Orang Tua Dalam Memberikan Pendidikan Seks Sedini
Mungkin di TK Mardisiwi Desa Kedondong Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun.
Jurnal Ilmiah Pendidikan II, No 2 , 124-131.
Masyur,Aliem.2010.Pendidikan Seks Anak Usia Dini.Online.Available:http://www.
slideshare.net/AliemMasykur/pendidikan-seks-anak-usia-dini.

Rafanello, D. (2010). Child Sexual Abuse Prevention And Reporting: It's Everyone's
Responsibility. Child beginning workshop Child Sexual Abuse.
Widjanarko, Bambang. 2006. Ilmu Ginekologi Dasar. Jakarta : Bagian Obstetri Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya.

Anda mungkin juga menyukai