Anda di halaman 1dari 2

Teori Transformasi

8 APRIL, 2012 | EDISI: #27 | KATEGORI: KULTUKAL

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

Kelahiran Teori Transformasi ditandai dengan terbitnya buku Syntactic Structures pada tahun 1957 yang ditulis oleh Noam

Chomsky, seorang pakar linguistik di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Dengan terbitnya buku ini, Chomsky

memulai fase linguistik baru yang belum pernah terjadi dalam sejarah ilmu bahasa. Sejak saat itu, para ahli bahasa, khususnya

di Amerika Serikat, memusatkan perhatiannya pada apa yang disebut tata bahasa transformasi-generatif (yang sering disebut

juga tata bahasa transformasi atau tata bahasa generatif). Teori ini tentu saja tidak kebal kritikan. Belum berumur sewindu,

Chomsky telah menerima banyak kritikan. Salah satunya dibukukan dengan judul An Integrated Theory of Linguistic

Description oleh Jerrold J. Katz dan Paul M. Postal pada tahun 1964. Hasil penelitian itu mengusulkan integrasi teori sintaksis

transformasi-generatif Chomsky dengan teori semantik Jerrold J. Katz dan Jerry A. Fodor.

Dengan usul-usul yang didasarkan atas penelitian, Chomsky mulai mengadakan perbaikan dan perubahan pada teorinya yang

pertama. Hasilnya kemudian diterbitkan pada tahun 1965 dalam bentuk buku yang berjudul Aspects of the Theory of Syntax.

Sayangnya, hasil penelitian yang terkumpul pada awal tahun 1968 menunjukkan bahwa Aspects of the Theory of Syntax kurang

memuaskan sehingga penelitian yang lebih mendalam terus dilakukan. Dengan demikian, jangka waktu 1964-1967 bisa

dikatakan terdiri atas tiga tahap penyempurnaan: 1964-1965 merupakan tahap model, 1965-1966 merupakan tahap peluasan,

dan 1966-1967 merupakan pengubahan Aspects of the Theory of Syntax.

Pada tahun 1968, kaum transformasi terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok yang pertama dipimpin oleh Chomsky dan

menyebut dirinya kaum leksikalis. Kelompok ini tetap mempertahankan gagasan tata bahasa seperti yang dirumuskan

oleh Aspects of the Theory of Syntax dan perbaikannya. Sementara itu, kelompok kedua, yang meskipun tanpa pemimpin,

terdiri atas para linguis garda depan yang terus-menerus berusaha memperbaiki teori transformasi, dan disebut kelompok

transformasionalis. Kelompok kedua yang mencakup orang seperti James D. McCawley, George Lakoff, John Robert Ross, dan

lain-lain berhasil menjadi penganjur teori baru yang disebut semantik generatif. Sejak tahun 1968 sampai sekarang

berkembanglah teori ini, yang mungkin merupakan titik akhir perkembangan teori transformasi.

Lalu, apa yang secara umum dibicarakan oleh teori transformasi ini? Untuk mengetahuinya, kita pelajari uraian berikut.

1. Kelahiran teori transformasi bisa dikatakan disebabkan oleh ketidakpuasan para linguis muda pada teori struktural, yang

sering tidak dapat menyelesaikan persoalan linguistik.

2. Menurut Chomsky, cara memecahkan masalah kebahasaan dengan mengadakan klasifikasi unsur bahasa dan memberikan

label (baru) bagi kelas itu menandakan bahwa teori itu masih sampai pada fase taksonomi; lingustik yang lebih lanjut

harusnya mengadakan asumsi dan hipotesis tentang bahasa pada umumnya yang dapat diuji oleh bahasa yang ada di dunia
ini, bahwa asumsi dan hipotesis itu berlaku bagi bahasa-bahasa itu, dan seandainya ada hal yang menyimpang, formulasi

yang baru akan diperlukan sehingga akhirnya asumsi dan hipotesis itu berlaku bagi sebagian besar bahasa di dunia ini.

3. Konsep kesemestaan bahasa lalu menjadi pedoman penciptaan teori baru bagi Chomsky dan para pengikutnya.

4. Teori transformasi mengenal apa yang disebut kreativitas bahasa, yaitu formulasi dari kenyataan bahwa pemakai bahasa

dapat menghasilkan kalimat baru, yang dipahami oleh para pemakai yang lain, biarpun kalimat itu sama barunya bagi

mereka.

5. Teori linguistik yang dikemukakan dalam Syntactic Structures menyatakan bahwa tata bahasa terdiri atas komponen

struktur frasa, transformasi, dan morfofonemik; dalam Aspects of the Theory of Syntax, tata bahasa terdiri atas komponen

sintaksis, komponen semantik, dan komponen fonologi (Chomsky juga mengajukan gagasan baru, yaitu struktur dalam,

yang merupakan bagian struktur bahasa yang melalui kaidahnya menghasilkan pengertian bahasa itu dan struktur

permukaan, yang merupakan bagian bahasa yang dengan berbagai kaidahnya menghasilkan ajaran bahasa); sedangkan

menurut kelompok transformasionalis, tata bahasa terdiri atas struktur dalam, yang berisi struktur semantik, dan struktur

permukaan, yang merupakan perwujudan ujaran, dan kedua bagian tersebut dihubungkan dengan suatu proses yang

disebut transformasi.

6. Berbeda dengan teori struktural yang mendasarkan uraian kebahasaan hanya pada bahannya (yaitu, bahasa atau disebut

‘korpus’), teori transformasi mendasarkan studi bahasa tidak hanya pada bahasa yang menjadi bahan studinya, melainkan

juga pada kemampuan intuitif pemakai bahasa itu (muncullah istilah ‘kemampuan’ [competence], yaitu pengetahuan

seseorang tentang bahasanya, termasuk kemampuan untuk menguasai kaidah-kaidah yang berlaku bagi bahasanya, dan

‘pelaksanaan’ [performance], yaitu keterampilan seseorang menggunakan bahasa).

7. Kaum transformasi menentang (menertawakan) anggapan kaum struktural bahwa bahasa merupakan faktor kebiasaan dan

dengan yakin menyatakan bahwa bahasa merupakan faktor bawaan (untuk mendukung pendapatnya, kaum struktural

mengajukan cerita tentang anak yang dibesarkan oleh sekawanan serigala dan sama sekali tidak bisa berbahasa karena tidak

mengenal dan mendengar orang berbahasa, yang ia kenal hanyalah lolongan serigala saja sehingga ia pun hanya bisa

melolong seperti serigala; sedangkan kaum transformasi, dalam hal ini Chomsky, menunjukkan bahwa struktur otak

manusia dan simpanse persis sama, kecuali bahwa sebuah simpul syaraf bicara yang ada di struktur otak manusia tidak ada

di struktur otak simpanse sehingga simpanse tidak mungkin dapat berbicara, walaupun dilatih dengan sekuat tenaga).

Sumber:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1983. “Pedoman Penulisan Tata Bahasa Indonesia”. Jakarta: Pusat Pembinaan dan

Pengembangan Bahasa.

Soeparno. 2003. Dasar-dasar Linguistik. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.