Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN AKUSISI METODE GRAVITY

KULIAH LAPANGAN KARANGSAMBUNG

Anggota Kelompok 1 :
1 M. Hasbi Assiddiqy 12312005
2 Dinda Larasati R 12312009
3 Ridho Nanda P 12312010
4 Ida Bagus S Y 12312026
5 Steven Lie 12312029
6 Siska Kurniawati 12312036
7 Khayrunnisa Putri A 12312047
8 Tri Wicaksono 12312050
9 Ulvienin Harlianti 12312052
10 Thomas Alfa Edison 22314001
11 Juventa 22314019
12 Anjar Evita 22314023
13 M. Iqbal Tawakkal S3112003

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOFISIKA


FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN
DAN PERMINYAKAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

METODE GRAVITY

1. Kondisi lapangan

Lokasi : Desa Kalibening


Hari, Tanggal : Kamis, 07 Mei 2015
Jam : 08.00 – 16.00 WIB
Cuaca : Cerah
Kami melakukan pengukuran Gravity di sekitar desa Kalibening dengan 1 lintasan
pengukuran yang terdiri dari 10 titik pengukuran dengan jumlah 1 titik base dan 9 titik
pengukuran di lapangan. Jarak antara titik pengukuran di lapangan yaitu 100m. Pada
akusisi tersebut dilakukan looping tertutup yang artinya pada bagian akhir akuisis
dilakukan pengukuran pada titik pertama kali diukur (titik base di depan LIPI) dan
dilakukan juga perulangan pengukuran pada beberapa titik yaitu di BASE,STS1,STS2,dan
STS3 (no 1 , 2 , dan 3 pada peta). Pengukuran pertama (base) dilakukan di depan
kampus LIPI yang dianggap adalah daerah paling stabil. Kondisi geologi di daerah LIPI
adalah terdapat singkapan batu gamping di area sekitar 50m ke arah utara LIPI dan
sekitar 100m ke arah barat laut terdapat singkapan batuan konglomerat. Pengukuran
dilakukan dengan memanfaatkan 2 titik ikat yaitu pengukuran BASE di depan LIPI dan
Pengukuran pertama di STS1. Pengukuran dari STS1 hingga STS9 dilakukan di Desa
Kalibening dengan mengambil lintasan dari area kalikulap hingga Kedung sempor
dengan mengambil lintasan yang bisa dianggap lurus. Daerah sekitar pengukuran
merupakan daerah yang kemungkinan merupakan daerah melange dengan singkapan
dominannya rijang. Daerah lintasan juga melewati daerah perbukitan sehingga
4

5 6 7 9
3 8
2 1

diperlukan koreksi Terrain (TC).

2. Geologi
Adapun kondisi geologi di sekitar daerah pengukuran Gravity untuk setiap stasiun (dalam arah
UTSB) adalah sebagai berikut :
a. Base
 Utara
- 25 m : terdapat singkapan batu gamping
 Barat
- 100m : Terdapat sungai dengan batuan breksi yang tersingkap
 Timur
- Topografi semakin meninggi
 Selatan
- Topografi semakin menurun
b. Stasiun 1
 Utara
- 25-50 m : Terdapat sungai dan jembatan, terdapat singkapan rijang
- 75-100 m : Topografi semakin naik
 Barat
- 0-100 m : Terdapat area sawah dengan elevasi sama dengan stasiun,
disamping sawah terdapat singkapan lava bantal dengan dimensi 2x1x2 m
 Timur
- Terdapat bukit, kebun warga dengan tanah lapuk
 Selatan
- 0-50 m : terdapat singkapan rijang dengan dimensi 10 x 4 x 10 m
c. Stasiun 2
 Utara
- 0-50 m : terdapat jalan datar
- 50-100 m : terdapat bukit dengan kebun warga
 Barat
- 0-25 m : terdapat sungai menerus hingga ke utara
- 50 m : sungai terdapat singkapan dan bongkah rijang
 Timur
- 0-100 m : terdapat bukit yang berisi kebun singkong
 Selatan
- 0-100 m : terdapat bukit dengan kebun warga
d. Stasiun 3
 Utara
- terdapat sungai kukup
 Barat
- Pemukiman warga, perbukitan
 Timur
- Terdapat bukit, ketinggian lebih dari 10 m dari stasiun
 Selatan
- Perbukitan hingga ketinggian lebih dari 20 m dari stasiun
e. Stasiun 4
 Utara
- Lembah dengan penurunan elevasi 20-30 m
 Barat
- Lembah dengan penurunan elevasi 20-30 m, terdapat sawah
 Timur
- Bukit
 Selatan
- Lembah dengan penurunan elevasi 20-30 m.
f. Stasiun 3a
 Utara
- terdapat sungai kukup
 Barat
- Pemukiman warga, perbukitan
 Timur
- Terdapat bukit, ketinggian lebih dari 10 m dari stasiun
 Selatan
- Perbukitan hingga ketinggian lebih dari 20 m dari stasiun
g. Stasiun 2a
 Utara
- 0-50 m : terdapat jalan datar
- 50-100 m : terdapat bukit dengan kebun warga
 Barat
- 0-25 m : terdapat sungai menerus hingga ke utara
- 50 m : sungai terdapat singkapan dan bongkah rijang
 Timur
- 0-100 m : terdapat bukit yang berisi kebun singkong

 Selatan
- 0-100 m : terdapat bukit dengan kebun warga
h. Stasiun 1a
 Utara
- 25-50 m : Terdapat sungai dan jembatan, terdapat singkapan rijang
- 75-100 m : Topografi semakin naik
 Barat
- 0-100 m : Terdapat area sawah dengan elevasi sama dengan stasiun,
disamping sawah terdapat singkapan lava bantal dengan dimensi 2x1x2 m
 Timur
- Terdapat bukit, kebun warga dengan tanah lapuk
 Selatan
- 0-50 m : terdapat singkapan rijang dengan dimensi 10 x 4 x 10 m
i. Stasiun 5
 Utara
- 25 m bukit berisi kebun bamboo,
 Barat
- 25 m kebun singkong dan lembah,
 Timur
- 25 m rumah warga,
- 25 – 100 bukit
 Selatan
- 25 m kebun singkong dan lembah,
- 50 m sungai cacaban, terdapat singkapan batuan basalt lava bantal dan rijang,
- 50 – 100 m bukit rijang
i. Stasiun 6
 Utara
- 25 m : bukit
- 50 m : puncak bukit
- 75 – 100 m : punggung bukit
 Selatan
- 25 m : terdapat lembah, sungai, dan kebun bamboo
- 25 – 100 m : topografi semakin rendah
 Barat
- 25 m : lembah, sungai, terjal
- 25 – 100 m : topografi semakin rendah
 Timur
- 25 m : lembah terjal,
- 25 – 100 m : topografi semakin rendah

j. Stasiun 7
 Utara
- 25 m : bukit, singkapan batu gamping
- 50 m : puncak topografi
- 75 – 100 m : punggungan (lereng)
 Selatan
- 25 m : datar (kebun singkong)
- 50 m : puncak bukit (kebung singkong)
- 75 – 100 m : lereng / punggungan (kebun singkong)
 Barat
- 25 m : lembah, semakin kontur topografi rendah (kebun singkong)
 Timur
- 25 m : topografi semakin rendah dan terdapat kebun singkong

k. Stasiun 8
 Utara
- 25 – 100 m : lembah
 Barat
- 25 – 75 m : bukit dan terdapat singkapan gamping,
- 75 – 100 m : lembah
 Selatan
- 25 – 100 m : lembah
 Timur
- 25 – 100 m : lembah

l. Stasiun 9
 Utara
- 25 – 75 m : lembah, kebun singkong,
- 75 – 100 m : bukit
 Selatan:
- 25 – 100 m : lembah, kebun singkong dan kebun pinus
 Timur
- 25 m : kebun singkong, dan pinus
 Barat
- 25 – 100 m : lembah

Kendala terjadi pada pengukuran di stasiun 5-9 yaitu topografi area pengukuran yang
berupa perbukitan dengan medan yang cukup terjal menyebabkan observasi keadaan
geologi terbatas.

3. Alat
- Gravimeter Scintrex CG-5
- Tripod
- GPS
- Altimeter
- Kamera
- Penggaris
- Peta Geologi
- Alat tulis

4. Tahapan Akuisisi
- Menentukan lokasi Base pengukuran di halaman depan LIPI Karangsambung
sebelah Barat.
- Operator mencatat perubahan nilai elevasi setiap 10 menit. Anggota yang lain
melakukan pengukuran di lapangan
- Menetukan titik base dan titik pengukuran lainnya berdasarkan peta geologi
sehingga mendapatkan lintasan yang relative lurus dari base ke arah selatan dan
utara
- Melakukan pengukuran di setiap titikyang telah ditentukan. Cara melakukan
pengukuran nilai gravity menggunakan Scintrex CG-5 :
a. Melakukan levelling pada alat gravimeter sampai alat pada keadaan yang datar
b. Mencatat nilai koordinat ( UTM X, UTM Y)
c. elevasi altimeter
d. elevasi alat
e. waktu pembacaan G observasi
f. mengamati kondisi geologi di sekitar titik pengukuran
g. mengamati nilai G obs dengan memperhatikan nilai X dan Y tile saat melakukan
pengukuran (toleransi ±10)
h. mencatat nilai yang diperoleh dari langkah sebelumnya pada table laporan
lapangan.
- Menuju ke titik pengukuran selanjutnya yang telah ditentukan
- Melakukan pengukuran ulang di beberapa titik untuk QC data
- Setelah melakukan pengukuran di semua titik yang telah ditentukan, dilakukan
kembali pengukuran di titik base lapangan dan base kampus

5. Deskripsi Pengukuran
- Pada saat melakukan pengukuran, alat belum dikalibrasi sehingga nilai error drift
cukup besar.
- Jarak antar titik pengukuran kurang lebih 100 meter dengan relative membentuk
garis lurus.

6. Kendala
- Adanya gangguan dari kendaraan yang lewat
- Pada saat pengukuran di puncak bukit, alat cukup lama menetukan nilai yang stabil
karena adanya hembusan yang cukup kencang
- Kondisis topografi tidak memungkinkan untuk membentuk satu lintasan lurus

7. Analisis
Pengukurann menggunakan alat gravimeter tidak bisa menghasilkan nilai yang sama
pada titik pengukuran yang sama, karena ada pengaruh dari fungsi waktu, yaitu apabila
kita melakukan pengukuran pada titik yang sama dengan rentang waktu yang semakin
besar maka hasil yang ditunjukan noleh alat juga akan semakin besar. Oleh karena itu
dilakukan pengukuran ulang di beberapa titik untuk melihat kualitas data yang
diperoleh. Setelah pengukuran selesai dilakukan pengukuran ulang di titik base untuk
mendapatkan nilai koreksi drift pada setiap titik.
Penentuan lintasan pengukuran diusahakan membentuk garis lurus agar saat
pengolahan data tidak perlu melakukan interpolasi titik pengukuran ke garis lintasan
lurus yang diharapkan, karena apabila dilakukan interpolasi maka tingkat kepercayaan
terhadap nilai yang diperoleh akan semakin kecil. Tetapi pada kenyataannya, karena
topogrqafi di lapangan yang cukup sulit maka titik-titik pengukuran yang ada tidak bisa
membentuk garis lurus, oleh karena itu diusahakan titik pengukuran yang dilakukan
membentuk suatu garis yang relative lurus.