Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENGOLAHAN DATA AWAL

METODE MAGNETIK
KULIAH LAPANGAN KARANGSAMBUNG

Anggota Kelompok 1 :

1 M. Hasbi Assiddiqy 12312005


2 Dinda Larasati R 12312009
3 Ridho Nanda P 12312010
4 Ida Bagus S Y 12312026
5 Steven Lie 12312029
6 Siska Kurniawati 12312036
7 Khayrunnisa Putri A 12312047
8 Tri Wicaksono 12312050
9 Ulvienin Harlianti 12312052
10 Thomas Alfa Edison 22314001
11 Juventa 22314019
12 Anjar Evita 22314023
13 M. Iqbal Tawakkal S3112003

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOFISIKA


FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015
1. Tahapan Pengolahan Data Awal
Metode magnetik memiliki data awal berupa data lapangan dan data base. Data yang
didapat dilapangan berupa:
- Nomor Stasiun
- Lokasi dalam UTM X dan UTM Y
- Elevasi (Z) dalam GPS dan altimeter
- Waktu pengambilan data
- 3 nilai pengambilan pembacaan T

Pengolahan data dilakukan dengan langkah berikut:

a. Pengolahan Data dari Base


Nilai variasi harian diukur di base selama 1 hari atau lebih. Harga pengukuran magnetometer
yang ada di base bervariasi, karena dipengaruhi oleh medan dari luar Bumi. Data variasi
harian yang terukur di base bisa didekati dengan persamaan polynomial. Persamaan
polynomial ini digunakan untuk mengkoreksi data pengukuran di lapangan. Jika observasi di
base cukup bagus (tidak terlalu dipengaruhi noise), maka pendekatan polynomial tidak perlu
dilakukan. Nilai koreksi variasi harian (Tvh) diperoleh dengan merata-ratakan nilai hasil
pengukuran di base. Jika pengamatan di base mengalami peningkatan disbanding nilai acuan
tersebut, maka besarnya nilai Tvh adalah positif. Sebaliknya, jika pengamatan di base
mengalami penurunan dibanding nilai acuan, nilai Tvh akan negatif.

b. Pengolahan Data Lapangan


Nilai akhir dari hasil pengukuran magnetic berupa selisih antara nilai Tobs dengan nilai
koreksi-koreksi tertentu yaitu:
ΔT=Tobs – TIGRF – Tvh

Dengan nilai Tobs adalah nilai hasil bacaan alat, Tigrf nilai medan magnetic regional pada
daerah pengukuran, dan Tvh yaitu variasi medan nilai intensitas medan magnet dalam satu
hari.

Pengolahan dilakukan dengan langkah sebagai berikut:

1. Merata-ratakan 3 nilai magnetik yang didapat untuk mendapatkan Tobs


2. Mengubah data waktu ke dalam menit
3. Waktu yang telah diubah menjadi menit dikurangi dengan nilai menit awal
pengukuran base.Mendapatkan nilai Tvh dengan memasukkan persamaan yang
dihasilkan dari pengolahan data base. Input ‘x’ diganti dengan nilai waktu baru
yang dihasilkan dari poin 3.
4. Nilai ∆T ( anomaly magnetik) yang merupakan nilai magnetiknya didapat dari
nilai T obs dikurangi Tigrf dikurangi Tvh. Nilai T igrf untuk daerah Karang
Sambung adalah 44948.

∆𝑇 = 𝑇𝑜𝑏𝑠 − 𝑇𝑣ℎ − 𝑇𝑖𝑔𝑟𝑓

2. Hasil Pengolahan Data Awal


a. Nilai Tobs atau Tavg

Tabel Hasil Penghitungan Tobs


b. Nilai Tvh
Table Hasil Penghitungan nilai Tvh

Grafik dari nilai Tvh dengan waktu pembacaan


c. Nilai ∆T

Tabel Hasil Penghitungan Nilai ∆T


3. Analisis
Dari hasil pengolahan data diperoleh bahwa titik perubahan anomaly terdapat pada
koordinat UTM Y 9166200-9166250 dan UTM X 349350-349500, jika dilihat pada peta akan
menunjukan lokasi daerah Sungai Cacaban, berrdasarkan hasil pemetaan geologi daerah
tersebut diperoleh bahwa jenis batuan di daerah tersebut adalah batuan beku.

Batu Pada daeerah ini terdapat


Gamping anomaly negative, berdasarkan
data yang kita dapat dari survey
pemetaan geologi diperkirakan
pada daerah ini terdapat Bukit
Schist, karena pada daerah
tersebut mengandung batuan
metamorf scist yang menerus di
puncak bukit ke arah timur.

Pada daerah ini terdapat kontras


perubahan anomaly,
berdasarkan data yang kita dapat
dari survey pemetaan geologi
diperkirakan pada daerah ini
terdapat Badan batuan basalt,
merupakan batuan beku yang
diasumsikan sebagai basement
dari daerah ini yang tersingkap di
daerah sungai.

Schist Rijang Basalt


Dengan membandingkan data yang didapat dari survey metode gravity dan metode
geomagnetic, tendency dari kedua data memiliki kesamaan, sehingga bisa diinterpretasikan
bahwa badan batuan basalt berada pada daerah sekitar UTM X 349400 dan UTM Y 9166200.

4. Kesimpulan

Metode magnetic yang digunakan dalam pengukuran dapat meningkatkan probabilitas keberadaan
batuan beku sebagai basement pada daerah pengukuran tersebut.