Anda di halaman 1dari 6

BAB VI.

ARSITEKTUR BAROCK

Zaman Barock, 1660 – 1760 (Abad XVII – XVIII)

VI.1. Sejarah Singkat

• “Ide Harmoni” dan dunia yang bermakna dari zaman Renaisance tidak berlangsung lama.
• Perang-perang agama menggoncangkan negara-negara barat.
• Kebebasan pribadi yang disebut sebagai kemanusiaan memperlemah pengaruh kuat dari
gereja dan negara.
• Rakyat mencoba mengambil kembali hak yang telah mereka berikan kepada gereja dan
negara dengan cara demonstrasi, dan memberikannya kepada para bangsawan yang
memimpin rakyat.
• Tetapi secara diam-diam kekuasaan mutlak para bangsawan juga perlahan-lahan
menyingkirkan asas kemanusiaan.

VI. 2. Sejarah Perkembangan Arsitektur Bangunan Gaya barock

• Pada zaman barock, arsitektur menjadi salah satu karya seni yang utama. Lukisan dan ukiran
merupakan elemen keseluruhan bangunan.
• Tema dasarnya adalah bangunan yang memusat pada mahkota kubah yang digabungkan
dengan bangunan memanjang.
• Skema denahnya bisa dibagi menjadi tiga bagian yaitu,
1. Gerbang, jalan, dan tujuan yang secara arsitektural dijabarkan menjadi Fasade (wajah

bangunan).

2. Ruang Tengah, dan

3. Kubah Berelung.

• Skema potongan dan fasade gaya Barock merupakan perkembangan lebih lanjut dari gaya
Renaisance.
• Skema susunan atau pengaturan tiangnya dijadikan sebagai dasar perancangan dengan
segala kemungkinan variasinya. Kesan karya arsitektur ini tergantung pada pilihan gaya dan
susunan pengaturan tiangnya.
• Sejak kebangkitan kembali zaman kuno antik bisa dikatakan bahwa ketiga gaya tiang dari
zaman Yunani kuno dihidupkan lagi sebagai dasar perancangan.
Tiang gaya “Dorian (Doric)” dengan proporsinya yang lebih besar dan lebih kokoh serta
berkesan Maskulin, dianggap bisa mencerminkan sifat yang kuat dan pemberani (dianggap
cocok untuk membangun gereja dan untuk menghormati orang-orang suci yang mempunyai
keberanian dan kekuatan untuk menyerahkan hidupnya demi mempertahankan iman
kepercayaannya).

Berbeda dengan gaya “Korinthian” dan “Ionia (Ionik)” yang penuh garis-garis halus

pencerminan kelembutan. Meskipun begitu, ornamen kapitel tiang gaya Korinthian yang
mewah banyak dipakai untuk menghias tiang-tiang gereja.

• Prinsip seorang ahli teori seni bernama Vitrus, yang hidup sekitar kelahiran Yesus,
dipergunakan lagi.
Teori Vitrus ini mengatakan bahwa: gaya tiang yang lebih ringan sebaiknya diletakkan
dibagian atas, dan gaya yang lebih berat dibagian bawah, seperti susunan pada koloseum di
Roma. Tiang gaya Dorian berada dideretan paling bawah, Ionia ditengah dan paling atas
gaya Korinthian.

• Hal yang membedakan antara Renaisance dan Barock

Zaman Renaisance Zaman Barock

- Memisah-misahkan tiang bagian bangunan - Sebaliknya menyatukan elemen-elemen


menjadi suatu bagian yang tertutup. tersebut menjadi suatu kesatuan yang besar,
yang juga merupakan keseluruhan
bangunan.
- Gerbang masuk yang menjorok keluar dan
sayap-sayap samping yang melalui fasade
nya memberikan pengungkapan tekanan
kesan dari pengaturan denah bangunan
berporos.
VI.3. Bangunan Suci - Gereja St.Petrus di Roma

Merupakan salah satu karya arsitektur yang merupakan karya arsitektur Renaisance dan
Barock.

Rancangan pertama untuk katedral St.Petrus yang dikerjakan Bramante pada  th 1506
berupa bangunan yang memusat. Bangsal memanjangnya yang digunakan untuk menampung
jemaat, dirancang oleh Raffael dan Sangalio. Bangsal ini menyambung dengan bangunan
yang memusat rancangan Bramante. Disana diterapkan ide-ide baru dalam upaya
membangkitkan kembali gaya zaman kuno. Untuk itu sebagai bentuk dasar ia mengambil
bentuk salib Yunani yang mempunyai sisi-sisi yang sama panjang.
Sayap-sayap bangunanyang merupakan lengan skema salib ini, oleh Bramante dibuat terpisah
dengan dinding pembatas. Dinding-dinding ini oleh Michelangelo kemudian dihilangkan
sehingga ada kesan yang menyatu dan terangkum. Kubah yang kemudian dibangun di
tengah-tengah bangunan terlihat mendominasi dan menjadi unsur pemersatu dari keseluruhan
bangunan.

Kubah katedral St.Petrus yang merupakan karya agung Michelangelo ini, dirancang dari
tahun 1558 – 1560. Dasar kubah berbentuk cincin ditopang oleh tiang-tiang yang terletak
pada garis keliling lingkaran kubah tersebut. Diatas cincin dasar ini diletakkan kerangka dari
kayu usuk yang melengkung sampai pada cincin lingkaran penerangan atas (latema).
Lengkungan ini lebih kecil dari pada lengkungan kubah atapnya sehingga antara kerangka
melengkung dengan kubah terdapat jarak (tidak menempel). Cincin latema juga dikelilingi
oleh tiang-tiang kecil disekeliling garis lingkarannya, dan diatasnya diberi penutup atap yang
berbentuk mahkota. Pengerjaan kubah ini berlangsung dari tahun 1580 – 1590 dibawah
pimpinan ahli bangunan Italia yang bernama Giacoma della Porta dan Dominico Fontana.

Namun hasil rancangan keseluruhan katedarl St.Petrus buatan Michelangelo yang berwujud
bangunan terpusat ini ditolak gereja karena alasan-alasan fungsi. Gereja membutuhkan juga
ruang besar untuk berkumpul umat Kristiani. Oleh sebab itu tahun 1607 Paus Paulus V
mengumumkan sayembara perluasan katedral tersebut.

Sayembara ini dimenangkan oleh Carlo Maderno, dan peletakkan batu pertama pembangunan
fasade katedral dilakukan pada tahun 1608. Pemberkatan pembangunan tahap pertama
dilakukan oleh paus pada tahun 1611. Tahun 1615 langit-langit melengkungnya mulai
dibangun. Dan kemudian ditahbiskan oleh paus pada tahun 1626. Rancangan katedral
tersebut sejak saat itu tidak pernah berubah. Bentuknya yang masih bisa kita lihat sampai
sekarang sama dengan bentuknya ketika ditahbiskan.

Bagian paling istimewa dari seluruh rancanagn kompleks katedral St.Petrus adalah lapangan
Petrus yang dibangun oleh Bemini dari tahun 1655 – 1667. Lapangan Petrus terdiri dari ruang
oval yang diberi nama Piazza Obliqua yang dihubungkan dengan ujung kiri dan kanan fasade
gereja oleh dua buah lorong beratap yang diapit deretan tiang yang dinamakan Piazza Retta.
Zaman dahulu, melalui sela-sela deretan tiang ini kita bisa melihat taman yang ada diantara
kedua lorong ini sehingga lapangan petrus terkesan luas dan menyatu dengan alam
sekelilingnya. Tentang rancangan ini Bemini mengatakan, “Katedral St. Petrus merupakan
induk dari hampir semua gereja, maka katedral ini harus memiliki “Kolonnade” (deretan
pilar yang bagian atasnya dihubungkan dengan balok penghubung) sehingga mempunyai
kesan se akan-akan mengembangkan kedua lengannya seperti seorang ibu yang ingin
memeluk anak-anaknya. Kesan ini memberikan perasaan aman dan terlindung yang bisa
mempertebal iman orang-orang Katolik dan juga bisa menarik oranorang Kristen lain untuk
menjadi penganut agama Katolik. Selain itu lapangan ini juga bisa menjadi tempat pertemuan
orang-orang dari segala penjuru dunia.
VI.4. Bangunan Umum Gaya Arsitektur Barock

4. 1. Arsitektur Kota

Arsitektur Barock memperlihatkan sistem pembagian kota, jalan, dan taman yang jelas,
Yang diatur menuju satu atau lebih titik fokus. Tipe-tipe bangunan lama diubah
bentuknya supaya sesuai dengan skema keseluruhan. Kota-kota yang karena alasan
tradisi dan keamanan dibuat dengan skema tertutup, dicoba untuk sedapat mungkin
dibuat terbuka.
Ciri-ciri dari kota abad XVII adalah terbuka dan bisa dikembangkan. Meskipun
demikian, perkembangan ini mempunyai efek yang baik bila dikaitkan dengan kebutuhan
adanya pusat kota.
Prinsip-prinsip pengaturan kota yang khas ini juga bisa dipertanggung jawabkan.
Agama, ilmu pengetahuan, perdagangan dan politik menjadi fokus dan kekuatan yang tak
bisa dibatasi dengan ruang. Dalam dunia tang tak terbatas ini kekuatan dan irama menjadi
hal yang menentukan. Perencanaan kota gaya Renaisance mempunyai ciri khusus yaitu
berdiri sendiri (individual)dan dikelilingi atau diisolasi alam bebas. Akan tetapi dalam
perkembangannya pada masa Barock, elemen-elemen gaya Barock mengikat dan
mempengaruhi keseluruhan rancangan serta menjadikannya sebuah fokus yang terarah.
Dua pusat perkembangan gaya Barock yang terpenting di Eropa, yaitu Roma dan Paris,
banyak membantu dalam membuat rekonstruksi rancangan-rancangan kuno.
Di Roma ada banyak monumen keagamaan yang bisa menjadi fokus arsitektur.
Henry IV menciptakan keseimbangan arsitektur keagamaan di Roma dengan membangun
Istananya yang diberi nama Place Royales dikota Paris. Di pusat kompleks ini berdiri
patung sang raja yang mencerminkan kekuasaan absolut yang dimilikinya. Place Royales
kelak juga mempunyai arti yang sangat penting bagi perkembangan tata kota paris pada
abad-abad berikutnya.
Proyek Henry IV yang pertama direalisasi ialah pembangunan Ile de la Cite (pusat kota
berbentuk pulau). Para perancangnya mengembangkan daerah yang terletak diantara
L’ancienne Ile de la Cite (pusat kota berbentuk pulau yang lama) dan Pont Neuf dengan
membangun sebuah taman berbentuk segitiga yangdiberi nama Place Dau-phine. Pada
ujung segitiga dibangun sebuah jembatan. Diatas jembatan ini, tepat pada perpotongan
antara as memanjang dengan jembatan yang melintang dibuat patung Henry IV yang
sedang menunggang kuda. Patung ini dibuat setelah kematian raja tersebut pada tahun
1614.
Jembatan baru yang ujungnya diteruskan dengan jalan menuju kearah kota kemudian
dibangun ditempat lain yaitu pada kedua sisi taman. Jembatan ini memotong kedua cabang
sungai Seine yang mengapitnya yang juga merupakan as semua sistim rancangan. Dengan
demikian terbentuklah as kota Paris yang pertama.
Pada masa pemerintahan Louis XIV (1643-1715), dibuat 2 buah fokus arsitektur lagi
disebuah distrik baru dikota Paris, yaitu Place de la Vendome (sebelumnya bernama Place
Louise de Grand) dan Place de la Victoire. Kedua fokus ini bersama-sama dengan taman
Tuilerien menjadi gerbang pengembangan kota Paris ke arah barat.

4. 2. Istana Versailles
Kesulitan untuk membuat bangunan baru pada kota yang sudah mapan seperti Paris,
menyebabkan Louis XIV menganjurkan supaya pembangunan istana barunya dibuat diluar
kota Paris saja, yaitu di Versailles. Tetapi pada kenyataannya, Versailles tidak ada hanya
merupakan istana. Istana peristirahatan dengan hutan tempat berburu milik Louis XIV ini
merupakan pusat kota yang dibangun dengan ideal. Pengembangan Versailles dimulai pada
tahun 1661, yaitu pada pembangunan perluasan istana sampai le Vau. Tamannya juga
dirancang sampai le Notre dan dikerjakan selama lebih dari 30 tahun. Rancangan keseluruhan
ialah dari le Vau dan le Notre sampai Jules Hardouin – Mansart. Istana terletak dipusat
kompleks. Kedua sayap samping bangunan istana yang melebar seakan-akan membagi
daerah ini menjadi 2 bagian. Bagian yang satu menghadap kearah taman dan bagian lain
menghadap kearah kota. Dari pusat kompleks (istana), berpangkal 3 buah jalan utama yang
mengarah keluar, yaitu avenua de Paris, Avenue de Saint-Cloud, Avenue de Sceaux.
Rancangan tamannya menampilkan gaya taman yang mempunyai jalan-jalan setapak dan
petak-petak bunga yang teratur. Kedua sisinya yang mempunyai karakter simetris
memberikan kesan yang luas dengan istana sebagai fokusnya. Sistim perspektif yang meluas
hampir tanpa batas ini, menyebabkan lingkungan dan alam di sekitarnya se akan-akan juga
merupakan bagian dari seluruh rancangan kompleks ini.