Anda di halaman 1dari 10

PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMASARAN

PRODUK PERTANIAN
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Manajemen Agribisnis
Lanjutan

Dosen Pengampu: Dr. Nunuk Adiarni, MM

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 4
Muhammad Ilham Ramdani 11170920000006
Rista Rosita 11170920000008
Nurbaeti Sakinah 11170920000056
Andreyna Tri Azharama 11170920000094
Sheilla Aisyah 11170920000097

Kelas: 4A - Agribisnis

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2019
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Dalam usaha agribisnis, pemasaran menjadi kunci utama agar produk pertanian bisa
sampai ke pasar atau konsumen akhir. Namun sayangnya, sistem pemasaran yang
berlangsung di Indonesia belum bisa berjalan secara efektif dan efisien.Besarnya perbedaan
harga atau marjin pemasaran yang relatif besar masih menjadi tantangan utama dalam
pemasaran hasil pertanian.Dalam kegiatan pemasaran, seringkali dijumpai rantai pemasaran
yang panjang sehingga banyak pelaku pemasaran yang terlibat di dalamnya.

Hal inilah yang menyebabkan tingginya akumulasi keuntungan yang diambil dari
setiap pelaku pemasaran. Harga yang diterima petani sebagai produsen dan yang dibayarkan
oleh konsumen akhir akan berbeda signifikan. Maka dari itu, petani harus bisa memilih rantai
terpendek dalam memasarkan produknya. Selain itu, petani juga harus bisa menentukan
sendiri harga jual produknya apabila dipasarkan langsung ke konsumen akhir. Untuk
memaksimalkan potensi agribisnis ini, dibutuhkan strategi yang tepat dan efektif dalam
pemasarannya. Berikut ini beberapa strategi pemasaran agribisnis pertanian yang bisa
dijalankan.

1.2.Rumusan Masalah
1.2.1. Lingkup persoalan pemasaran hasil pertanian studi kasus “Pemasaran Cengkeh di
Desa Jono Oge Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala”
1.2.2. Proses pengambilan keputusan kebijakan pada studi kasus “Pemasaran Cengkeh di
Desa Jono Oge Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala”
1.2.3. Pengambilan keputusan kebijakan pada studi kasus “Pemasaran Cengkeh di Desa
Jono Oge Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala”
1.2.4. Tujuan pengambilan keputusan pada studi kasus “Pemasaran Cengkeh di Desa Jono
Oge Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala”
1.2.5. Dampak dari pengambilan keputusan kebijakan pada studi kasus “Pemasaran
Cengkeh di Desa Jono Oge Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala”
1.3.Kajian Teori

Pemasaran pertanian adalah proses aliran komoditi yang disertai hak milik dan penciptaan
guna waktu, guna tempat, dan guna bentuk yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemasaran
dengan melaksanakan satu atau lebih fungsi-fungsi pemasaran (Sudiyono, 2004). Saluran
pemasaran/tataniaga yaitu kelompok semua perusahaan dan individu-individu yang
bekerjasama untuk memproduksi, mendistribusikan, dan mengkonsumsi barang atau jasa
yang diproduksi oleh produsen tertentu. Perantara pemasaran merupakan lembaga yang
memberikan kemudahan pendistribusian komoditi ke pasaran terakhir. Peranan lembaga
inilah yang pada umumnya menentukan bentuk dari saluran tataniaga (Winardi, 1989). Jalur
pemasaran hasil pertanian adalah saluran yang digunakan petani produsen untuk menyalurkan
hasil pertanian dari produsen sampai kekonsumen. Lembaga-lambaga yang ikut aktif dalam
saluran ini adalah petani produsen, pedagang pengumpul, pedagang besar, pengecer, dan
konsumen. Setiap lembaga tataniaga ini melakukan fungsi-fungsi tataniaga seperti: membeli
dari petani (produsen) menjual kepada pedagang berikutnya, mengangkat, mensortir,
menyimpan, dan lain-lain (Rahardi dan, 1993). Pedagang perantara memerankan kegiatan
satu atau dua atau semua utility (kegunaan) tempat, bentuk, hak milik, dan waktu.
Pengeluaran biaya harus dikeluarkan untuk (biaya memindahkan, proses, pengepakan, dan
lain-lain). Pedagang perantara ini juga menuntut balas jasa modal yang mereka pakai dalam
aktivitas itu, dalam perjalanannya barang-barang dapat juga mengalami kerusakan sehingga
terjadi penyusutan, penyusutan itu termasuk biaya (Gultom, 1996)

PEMBAHASAN

Kendala Dalam Produk Pertanian

Pemasaran dalam kegiatan pertanian dianggap memainkan peranganda. Peran pertama


merupakan peralihan harga antara produsen dengankonsumen. Peran kedua adalah transmisi
fisik dari titik produksi (petani atauprodusen) ke tempat pembelian (konsumen). Namun
untuk memainkan keduaperan tersebut petani menghadapi berbagai kendala untuk
memasarkan produkpertanian, khususnya bagi petani berskala kecil. Masalah utama yang
dihadapipada pemasaran produk pertanian meliputi, antara lain:
1. Kesinambungan produksi

Salah satu penyebab timbulnya berbagai masalah pemasaran hasilpetanian


berhubungan dengan sifat dan ciri khas produk pertanian, yaitu:Pertama, volume produksi
yang kecil karena diusahakan dengan skala usahakecil (small scale farming). Pada umumnya
petani melakukan kegiatan usahatani dengan luas lahan yang sempit, yaitu kurang dari 0,5 ha.
Di samping itu,teknologi yang digunakan masih sederhana dan belum dikelola secara
intensif,sehingga produksinya belum optimal; Kedua, produksi bersifat musimansehingga
hanya tersedia pada waktu-waktu tertentu. Kondisi tersebutmengakibatkan pada saat musim
produksi yang dihasilkan melimpah sehinggaharga jual produk tersebut cenderung menurun.
Sebaliknya pada saat tidakmusim produk yang tersedia terbatas dan harga jual melambung
tinggi,sehingga pedagang-pedagang pengumpul harus menyediakan modal yangcukup besar
untuk membeli produk tersebut. Bahkan pada saat-saat tertentuproduk tersebut tidak tersedia
sehingga perlu didatangkan dari daerah lain;Ketiga, lokasi usaha tani yang terpencar-pencar
sehingga menyulitkan dalamproses pengumpulan produksi. Hal ini disebabkan karena letak
lokasi usahatani antara satu petani dengan petani lain berjauhan dan mereka selaluberusaha
untuk mencari lokasi penanaman yang sesuai dengan keadaan tanahdan iklim yang cocok
untuk tanaman yang diusahakan. Kondisi tersebutmenyulitkan pedagang pengumpul dalam
hal pengumpulan dan pengangkutan,sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk
mengumpulkan produkyang dihasilkan petani. Kondisi tersebut akan memperbesar biaya
pemasaran;Keempat, sifat produk pertanian yang mudah rusak, berat dan memerlukanbanyak
tempat. Hal ini menyebabkan ada pedagang-pedagang tertentu yangtidak mampu menjual
produk pertanian, karena secara ekonomis lebihmenguntungkan menjual produk industri
(agroindustri).

2. Kurang memadainya pasar

Kurang memadainya pasar yang dimaksud berhubungan dengan carapenetapan harga


dan pembayaran. Ada tiga cara penetapan harga jual produkpertanian yaitu: sesuai dengan
harga yang berlaku; tawar-menawar; danborongan. Pemasaran sesuai dengan harga yang
berlaku tergantung padapenawaran dan permintaan yang mengikuti mekanisme pasar.
Penetapanharga melalui tawar-menawar lebih bersifat kekeluargaan, apabila
tercapaikesepakatan antara penjual dan pembeli maka transaksi terlaksana. Praktekpemasaran
dengan cara borongan terjadi karena keadaan keuangan petaniyang masih lemah. Cara ini
terjadi melalui pedagang perantara. Pedagangperantara ini membeli produk dengan jalan
memberikan uang muka kepadapetani. Hal ini dilakukan sebagai jaminan terhadap produk
yang diinginipedagang bersangkutan, sehingga petani tidak berkesempatan untukmenjualnya
kepada pedagang lain.

3. Panjangnya saluran pemasaran

Panjangnya saluran pemasaran menyebabkan besarnya biaya yangdikeluarkan (marjin


pemasaran yang tinggi) serta ada bagian yang dikeluarkansebagai keuntungan pedagang. Hal
tersebut cenderung memperkecil bagianyang diterima petani dan memperbesar biaya yang
dibayarkan konsumen.Panjang pendeknya saluran pemasaran ditandai dengan jumlah
pedagangperantara yang harus dilalui mulai dari petani sampai ke konsumen akhir.

4. Rendahnya kemampuan tawar-menawar

Kemampuan petani dalam penawaran produk yang dihasilkan masihterbatas karena


keterbatasan modal yang dimiliki, sehingga ada kecenderunganproduk-produk yang
dihasilkan dijual dengan harga yang rendah. Berdasarkankeadaan tersebut, maka yang meraih
keuntungan besar pada umumnya adalahpihak pedagang. Keterbatasan modal tersebut
berhubungan dengan: Pertama,sikap mental petani yang suka mendapatkan pinjaman kepada
tengkulak danpedagang perantara. Hal ini menyebabkan tingkat ketergantungan petani
yangtinggi pada pedagang perantara, sehingga petani selalu berada dalam posisiyang lemah;
Kedua, fasilitas perkreditan yang disediakan pemerintah belumdapat dimanfaatkan secara
optimal. Ada beberapa faktor yangmenyebabkannya antara lain belum tahu tentang prosedur
pinjaman, letaklembaga perkreditan yang jauh dari tempat tinggal, tidak mampu
memenuhipersyaratan yang telah ditetapkan. Di samping itu khawatir terhadap risiko
danketidakpastian selama proses produksi sehingga pada waktunya tidak
mampumengembalikan kredit. Ini menunjukkan pengetahuan dan pemahaman petanitentang
masalah perkreditan masih terbatas, serta tingkat kepercayaan petaniyang masih rendah.

5. Berfluktuasinya harga

Harga produksi hasil pertanian yang selalu berfluktuasi tergantung dariperubahan


yang terjadi pada permintaan dan penawaran. Naik turunnya hargadapat terjadi dalam jangka
pendek yaitu per bulan, per minggu bahkan per hariatau dapat pula terjadi dalam jangka
panjang.Untuk komoditas pertanian yang cepat rusak seperti sayur-sayuran danbuah-buahan
pengaruh perubahan permintaan pasar kadang-kadang sangatmenyolok sekali sehingga harga
yang berlaku berubah dengan cepat. Hal inidapat diamati perubahan harga pasar yang
berbeda pada pagi, siang dan sorehari. Pada saat musim produk melimpah harga rendah,
sebaliknya pada saattidak musim harga meningkat drastis. Keadaan tersebut menyebabkan
petanisulit dalam melakukan perencanaan produksi, begitu juga dengan pedagangsulit dalam
memperkirakan permintaan.

6. Kurang tersedianya informasi pasar

Informasi pasar merupakan faktor yang menentukan apa yangdiproduksi, di mana,


mengapa, bagaimana dan untuk siapa produk dijualdengan keuntungan terbaik. Oleh sebab
itu informasi pasar yang tepat dapatmengurangi resiko usaha sehingga pedagang dapat
beroperasi dengan marginpemasaran yang rendah dan memberikan keuntungan bagi
pedagang itusendiri, produsen dan konsumen. Keterbatasan informasi pasar terkait
denganletak lokasi usaha tani yang terpencil, pengetahuan dan kemampuan
dalammenganalisis data yang masih kurang dan lain sebagainya. Di samping itu,dengan
pendidikan formal masyarakat khususnya petani masih sangat rendahmenyebabkan
kemampuan untuk mencerna atau menganalisis sumberinformasi sangat terbatas. Kondisi
tersebut menyebabkan usaha tani dilakukantanpa melalui perencanaan yang matang. Begitu
pula pedagang tidakmengetahui kondisi pasar dengan baik, terutama kondisi makro.

7. Kurang jelasnya jaringan pemasaran

Produsen dan/atau pedagang dari daerah sulit untuk menembus jaringanpemasaran


yang ada di daerah lain karena pihak-pihak yang terlibat dalamjaringan pemasaran tersebut
dan tempat kegiatan berlangsung tidak diketahui.Di samping itu, tidak diketahui pula aturan-
aturan yang berlaku dalam sistemtersebut. Hal ini menyebabkan produksi yang dihasilkan
mengalami hambatandalam hal perluasan jaringan pemasaran. Pada umumnya suatu
jaringanpemasaran yang ada antara produsen dan pedagang memiliki suatukesepakatan yang
membentuk suatu ikatan yang kuat. Kesepakatan tersebutmerupakan suatu rahasia tidak
tertulis yang sulit untuk diketahui oleh pihak lain.

8. Rendahnya kualitas produksi

Rendahnya kualitas produk yang dihasilkan karena penanganan yangdilakukan belum


intensif. Masalah mutu ini timbul karena penanganan kegiatanmulai dari pra panen sampai
dengan panen yang belum dilakukan dengan baik.Masalah mutu produk yang dihasilkan juga
ditentukan pada kegiatan pascapanen, seperti melalui standarisasi dan grading. Standarisasi
dapatmemperlancar proses muat-bongkar dan menghemat ruangan. Grading
dapatmenghilangkan keperluan inspeksi, memudahkan perbandingan harga,mengurangi
praktek kecurangan, dan mempercepat terjadinya proses jual beli.Dengan demikian kedua
kegiatan tersebut dapat melindungi barang darikerusakan, di samping itu juga mengurangi
biaya angkut dan biayapenyimpanan.Namun demikian kedua kegiatan tersebut sulit
dilakukan untuk produksihasil pertanian yang cepat rusak. Kemungkinan-kemungkinan yang
dapatterjadi antara lain mutu produk dapat berubah setelah berada di tempat tujuan,susut
dan/atau rusak karena pengangkutan, penanganan dan penyimpanan.Hal ini menyebabkan
produk yang sebelumnya telah diklasifikasikanberdasarkan mutu tertentu sesuai dengan
permintaan dapat berubah sehinggadapat saja ditolak atau dibeli dengan harga yang lebih
murah.

9. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia

Masalah pemasaran yang tak kalah pentingnya adalah rendahnya mutusumberdaya


manusia, khususnya di daerah pedesaan. Rendahnya kualitassumberdaya manusia ini tidak
pula didukung oleh fasilitas pelatihan yangmemadai, sehingga penanganan produk mulai dari
pra panen sampai ke pascapanen dan pemasaran tidak dilakukan dengan baik. Di samping itu,
pembinaanpetani selama ini lebih banyak kepada praktek budidaya dan belum
mengarahkepada praktek pemasaran. Hal ini menyebabkan pengetahuan petani
tentangpemasaran tetap saja kuarang, sehingga subsistem pemasaran menjadi yangpaling
lemah dan perlu dibangun dalam sistem agribisnis (Syahza. A, 2002a).Kondisi yang hampir
sama juga terjadi di perkotaan, yaitu kemampuanpara pedagang perantara juga masih terbatas.
Hal ini dapat diamati darikemampuan melakukan negosiasi dengan mitra dagang dan mitra
usaha yangbertaraf modern (swalayan, supermarket, restoran, hotel) masih langka.Padahal
pasar modern merupakan peluang produk pertanian yang sangatbagus karena memberikan
nilai tambah yang tinggi.
1.2.1. Problem Pada Studi Kasus “Pemasaran Cengkeh di Desa Jono Oge
Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala”

Secara umum, Desa Jono Oge, pemasaran cengkeh kering cukup kompleks karena,
lokasinya cukup jauh dari konsumen cengkeh, sehingga salurannya lebih panjang dan
lebih banyak pedagang perantara yang terlibat. Permasalahan lain yang dihadapi
petani yaitu hasil produksi yang berfluktuasi baik dilihat dari jumlah Fluktuasi
produksi disebabkan oleh hasil produksi yang tergantung pada musim, sedangkan
fluktuasi harga terjadi karena adanya pergesaran permintaan dan penawaran.
Berdasarkan hasil penelitian produksi maupun harga-harga cengkeh.Kering ditingkat
pedagang pengumpul mencapai Rp 115.000,00/ kg – Rp 119.000,-/kg. Saluran
pemasaran yang berbeda ditingkat petani akan memberikan bagian harga dan margin
pemasaran yang berbeda pula, semakin banyak lembaga pemasaran yang terlibat,
maka akan semakin kecil bagian harga yang akan diterima oleh petani. Besarnya
marjin yang ditetapkan pada masing-masing lembaga perantara menyebabkan
besarnya selisih harga antara petani produsen dengan konsumen akhir. Perbedaan
harga yang cukup besar merupakan persoalan yang akan dianalisis untuk mengetahui
bagaimana saluran pemasaran, marjin, bagian harga dan efisiensi pemasaran cengkeh
di Desa Jono Oge Kecamatan Sirenja.

1.2.2. Proses Pengambilan Keputusan


(1) Masalah kebijakan
Terdapat dua permasalahan, yaitu: Pertama, panjangnya saluran pemasaran dan
farmer share.Kedua, fluktuasi harga dan produksi.
(2) Alternatif kebijakan
Pertama, mengadakan pasar tani sebagai wadah untuk menjual hasil pertanian dan
dapat memangkas saluran pemasaran.
Kedua, memperbaiki sarana dan prasarana (infrastruktur). Dengan memperbaiki
infrastruktur maka semakin mudah juga kegiatan pemasaran yang dilakukan
sehingga biaya yang dikeluarkan akan semakin berkurang.
Ketiga, dibuatnya gabungan kelompok tani guna untuk meningkatkan skala ekonomi
dan efisiensi usaha.
(3) Tindakan kebijakan
Pada pasar tani, instansi pemerintah (dinas pertanian, dinas perdagangan, dan
koperasi) mengundang petani, pedagang dan pengusaha skala besar untuk mengikuti
acara tersebut guna mensupport hasil dari petani agar dapat memangkas panjangnya
saluran pemasaran yang mengakibatkan berkurangnya farmer share.
(4) Hasil kebijakan
Hasil kebijakan yang diambil adalah mengadakan pasar tani dan memperbaiki
infrastruktur.

1.2.3. Pengambilan Keputusan


Pasar tani merupakan pasar di mana petani dapat menjual hasil tani dan
olahannya secara langsung ke konsumen. Umumnya pasar petani bersifat sederhana
dan non permanen atau semi permanen. Pasar petani umumnya memberikan
keuntungan lebih baik bagi petani maupun konsumen sendiri karena tidak
diperdagangkan melalui distributor dan perantara. Konsumen bisa mendapatkan harga
yang lebih murah dan petani bisa menjual dengan harga yang lebih tinggi
dibandingkan yang ditetapkan perantara.
Pasar petani juga menguntungkan secara sosial karena menghubungkan
kehidupan desa dengan kota. Jika transaksi terjadi pada wilayah yang sama, pasar
petani menambah keakraban pada sesama masyarakat dalam satu desa (atau kota
dalam hal hasil pertanian urban). Pasar petani juga menjaga likuiditas dan aliran dana
di dalam masyarakat dan mencegah uang masuk ke korporasi besar. Kebijakan yang
kami buat ialah membuat pasar tani rempah-rempah dimana para petani bisa langsung
menjual hasil panen untuk memangkas panjangnya saluran pemasaran.
Kebijakan yang kami buat selanjutnya ialah memperbaiki infrastruktur di Desa
Jono Oge Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala dengan memperbaiki jalur darat
dari desa menuju kota.

1.2.4. Tujuan Keputusan


Diadakannya pasar tani rempah di Desa Jono Oge Kecamatan Sirenja
Kabupaten Donggala bertujuan sebagai wadah bagi para petani rempah khususnya
pada komoditas cengkeh agar dapat menjual hasil panennya dengan harga yang dapat
lebih menguntungkan para petani cengkeh. Disamping itu diadakannya pasar tani
rempah ini agar dapat memangkas saluran pemasaran yang terlalu Panjang, karena
panjangnya saluran pemasaran dapat mengakibatkan menambahnya marjin pemasaran
serta berkurangnya farmer share bagi petani.
Diambilnya keputusan untuk memperbaiki dan membangun infrastruktur
bertujuan agar dapat mengefisiensikan dan mengefektifkan waktu dan biaya distribusi.
Karena semakin cepat waktu tempuh distribusi dari petani ke konsumen dapat
mengurangi biaya pemasuran.

1.2.5. Dampak Keputusan


 Dampak dari dibentuknya Pasar Tani untuk menciptakan wadah bagi para
petani khususnya petani agar terciptanya pasar yang efektif dan efisien.
 Memperkenalkan produk cengkeh dari Desa Jono Oge Kecamatan Sirenja
Kabupaten Donggala.
 Untuk memangkas rantai distribusi dari petani hingga ke para konsumen
 Dampak dari dibentuknya infrastruktur bertujuan agar dapat mengefisiensikan
dan mengefektifkan waktu dan biaya distribusi. Karena semakin cepat waktu
tempuh distribusi dari petani ke konsumen dapat mengurangi biaya pemasuran.

KESIMPULAN

1. Pemasaran cengkeh di desa Jono Oge Kecamatan Sirenja melalui tiga (3) saluran
pemasaran, yaitu: (1) Petani - Pedagang pengumpul desa - Pedagang pengumpul
kecamatan - Antar pulau - Konsumen; (2) Petani -Pedagang pengumpul kecamatan -
Antar pulau - Konsumen; dan (3) Petani - Antar pulau - Konsumen.

2. Dengan adanya pasar tani rempah dapat meringankan beban petani dari sisi biaya
pemasaran, pendapatan hasil penjualan, serta memperkenalkan hasil konsumen luas

3. Perbaikan infrastruktur merupakan hal yang penting karna dapat mengefisiensikan


dan mengefektifkan waktu dan biaya distribusi. Karena semakin cepat waktu tempuh
distribusi dari petani ke konsumen dapat mengurangi biaya pemasuran.