Anda di halaman 1dari 16

Makalah

PEMANFAATAN PESISIR PANTAI


TANJUNG BENOA

Oleh: Komang Sukerta


BAB I
PENDAHULUAN

1.2 Latar Belakang

Kawasan tepi air Tanjung Benoa terletak di ujung timur pulau Bali, masuk dalam
wilayah 2iindustri2live Kecamatan Tanjung Benoa, Kabupaten Badung. Pantai ini terkenal
dengan tujuan wisata air yang cukup lengkap. Adapun definisi kawasan tepi air dari
pendekatan ekologis adalah daerah pertemuan darat dan laut, dengan batas 2iiindustritriri
darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air yang masih mendapat
pengaruh sifat laut seperti angin laut, pasang surut dan intrusi air laut/perembesan air asin;
sedangkan batas 2iiindustritriri laut mencakup bagian perairan pantai sampai batas terluar
yang masih dipengaruhi oleh proses alamiah yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan
aliran air tawar serta proses yang disebabkan oleh kegiatan manusia.
Kawasan pesisir adalah kawasan yang secara administrasi pemerintahan mempunyai
batas terluar 2iindustritrir laut sejauh 12 mil dari garis pantai untuk propinsi atau sepertiganya
untuk kabupaten atau kota. Perairan wilayah pesisir merupakan salah satu ekosistem yang
sangat produktif. Di kawasan ekologi tersebut dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok
besar, yaitu:
1. Potensi terbarukan (renewable), seperti hutan mangrove, coral reef, sea grass. Algae,
bioactive substances
2. Potensi tak terbarukan (non renewable), seperti bahan mineral.
3. Jasa lingkungan (environmental services), seperti 2industri maritime, jasa angkutan,
pariwisata.

Adapun kawasan di pesisir Tanjung Benoa, yaitu:


1. Kawasan budidaya
Kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar
kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya
buatan. Kawasan budidaya meliputi kawasan perumahan, kawasan 2industri, kawasan
perdagangan dan jasa, dan kawasan pariwisata.
2. Kawasan lindung

2
Kawasan ini ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan
hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan yang meliputi
kawasan pantai berhutan bakau/ hutan mangrove yang ada di sebelah timur
Kabupaten Tanjung Benoa.
3. Kawasan perkotaan
Kawasan permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan 3iindustritri dan kegiatan ekonomi.
4. Kawasan tepi pantai
Kawasan dari suatu perkotaan dimana daratan dan air bertemu, dan meliputi kegiatan
atau bangunan yang secara fisik, 3iindustritri, ekonomi dan budaya dipengaruhi oleh
karakteristik badan air laut.
5. Kawasan sempadan pantai
Kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk
mempertahankan kelestarian fungsi pantai.
Ekosistem alami di wilayah pesisir pantai ini antara lain adalah terumbu karang (coral
reefs), hutan mangrove, padang lamun (sea grass), pantai berpasir (sandy beach), pantai
berbatu (rocky beach), formasi pescaprea, formasi baringtonia, estuaria, laguna, delta dan
ekosistem pulau kecil. Sedangkan ekosistem buatan berupa tambak, pemukiman, pelabuhan,
kawasan 3industri, pariwisata dan sebagainya.
Keanekaragaman sistem ekologi yang tinggi ini di samping menyediakan sumber
daya alam (ekosistem alami dan buatan) sebagai 3industri yang sangat penting dan strategis
bagi pembangunan, juga mampu memberikan 3industri-kontrol terhadap erosi pantai, buffer
terhadap gangguan badai, pertukaran nutrient, daerah perlindungan terhadap keanekaragaman
industri dan komoditi-komoditi perikanan ekonomis penting.
Sangat penting untuk dikelolah terlebih-lebih daerah Bali sebagai daerah tujuan
wisata utama dunia, maka peranan wilayah pesisir dalam menunjang kepariwisataan
sangatlah strategis. Jadi fungsi yang cocok untuk kawasan tepi pantai ini adalah untuk
parawisata karena SDA yang sangat mendukung. Hanya saja masyarakat masih belum sadar
betul tentang bagaimana mejaga dan membudidayakan akan harta karun mereka yang ada di
depan mata.
Berbagai permasalahan utama wilayah pesisir antara lain, erosi pantai, penurunan
potensi atau ketersediaan sumber daya akibat eksploitasi berlebih, kerusakan habitat akibat
aktivitas-aktivitas manusia di daratan dan lautan yang seringkali memproduksi limbah bahan
pencemar yang membahayakan bagi kehidupan perairan laut atau merusak wilayah pesisir

3
dapat menghambat kegiatan pembangunan dan ekosistem, serta konflik kepentingan antar
berbagai 4industri kegiatan pembangunan dan pemanfaatan. Sementara itu, manajemen
sumber daya pesisir dalam wujud 4industriy4l dan pemanfaatan ruang atau kawasan
menuntut adanya suatu proses perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian ke dalam satu
sistem yang tak terpisahkan.
Untuk mengatasi berbagai permasalahan lingkungan yang timbul dan untuk menjamin
keberlanjutan pemanfaatan sumber daya serta pengelolaan lingkungan wilayah pesisir secara
terpadu, yang mencakup aspek teknis dan ekologis, aspek 4industri ekonomi dan budaya,
aspek 4industri politik, serta aspek hukum dan kelembagaan, pemerintah mengambil
kebijakan atas dasar-dasar pengelolaan dan pemanfaatan kawasan tepi air yang tertuang
dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu :
- Undang-Undang R.I No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian.
- Undang-Undang R.I No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.
- Undang-Undang R.I No. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia.
- Undang-Undang R.I No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
- Undang-Undang R.I No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
- Undang-Undang R.I No. 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah.
- Undang-Undang R.I No. 28 Tahun 2004 tentang Bangunan Gedung.
- Undang-Undang R.I No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
- Undang-Undang R.I No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan.
- Peraturan Pemerintah R.I No. 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan
Kewajiban Serta Bentuk dan Tata Cara Peran masyarakat Dalam Penataan Ruang.
- Peraturan Pemerintah R.I No. 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional.
- Keputusan Presiden R.I No. 53 Tahun 1989 tentang Kawasan Industri.
- Keputusan Presiden R.I No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.
Adapun kebijakan pemerintah dalam ruang lingkup nasional saja tidak cukup.
Peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan dan pemanfaatan kawasan tepi air juga
timbul dalam ruang lingkup local yaitu dari Provinsi Bali sendiri yang tertuang dalam
RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Provinsi Bali, yaitu:
 Mempertahankan kawasan lindung dan yang berfungsi lindung khususnya di Pulau
Bali bagian Utara yang semakin terdesak oleh kegiatan budidaya.

4
 Mempertahankan sumber-sumber air dan daerah resapannya untuk menjaga
ketersediaan air sepanjang tahun.
 Mengendalikan pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan yang berpotensi
mengancam kebeeradaan kawasan lindung dan sentra-sentra produksi pangan.
 Menghentikan pengembangan 5industriy yang tidak ramah lingkungan.
 Merelokasi kegiatan 5industriy di luar kawasan 5industriy ke dalam kawasan
5industriy yang telah ditetapkan.
 Bahwa kelembagaan koordinasi pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Pulau Bali
penting untuk dikembangkan.
 Bahwa penyelesaian Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang RTRW Pulau
Bali dipercepat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah pengelolaan sumber daya alam wilayah pesisir yang berkelanjutan dan
berbasis masyarakat yang disesuaikan dengan karakteristik sumber daya alam dan
lingkungan di daerah pantai tanjung benoa?
2. Bagaimanakah pengelolaan wilayah pesisir yang terkoordinasi melalui pendekatan
multisektoral di daerah pantai tanjung benoa?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Untuk mengetahui bagaimana pengelolaan sumber daya alam wilayah pesisir yang
berkelnjutan dan berbasis masyarakat yang disesuaikan dengan karakteristik sumber
daya alam dan lingkungan di daerah pantai tanjung benoa.
2. Untuk mengetahui bagaimana pengelolaan wilayah pesisir yang terkoordinasi melalui
pendekatan multisektoral di daerah pantai tanjung benoa.

1.4 Metode Penulisan


Metode yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah:
Metode Literatur, berasal dari media internet dan berbagai sumber yang ada.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Karakteristik Pantai Pulau Bali


Pulau Bali terletak pada 80.03’.40” LS – 80.50’.48” LS dan 1140.25’.53” BT –
150.42’.40” BT, sebelah selatan dari kepulauan Indonesia dan berbatasan dengan Laut Jawa
di sebelah utara, Selat Lombok di sebelah timur, sebelah selatan berbatasan langsung dengan
Samudra Indonesia, dan Selat Bali di sebelah barat. Pulau Bali hanya terdiri atas satu provinsi
yang terbagi menjadi delapan kabupaten, yakni kabupaten Badung, Tabanan, Jembrana,
Buleleng, Bangli, Gianyar, Amlapura, dan Semarapura, dengan luas daratan Pulau Bali
sekitar 5.632,86 km2 termasuk pulau-pulau kecil yang termasuk ke dalam wilayah provinsi
Bali, antara lain Pulau Serangan, Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa
Ceningan, dan Pulau Menjangan.
Garis pantai Pulau Bali memiliki panjang sekitar 430 km, yang terdiri atas 79,2 %
pantai berpasir kelabu hitam, 8,5% pantai berpasir putih, 6,8% pantai berhutan mangrove,
dan 5,5% pantai bertebing terjal (cliff).
Bentuk morfologi pulau Bali dominan terdiri atas daerah dataran rendah berupa
pantai, rawa, sungai, danau, dataran vulkanik, dan dataran sedimen yang landai dengan
kemiringan 0-5%, sekitar 0-25 km di atas permukaan laut. Dataran rendah ini memiliki
umumnya memiliki tingkat erosi yang kecil, terkecuali pada beberapa daerah seperti Teluk
Benoa, Singaraja, dan Gilimanuk, yang merupakan daerah abrasi dan proses pengendapan
aktif.
Berdasarkan tipe paparan dan perairan pantainya, Pulau Bali mempunyai tipe pantai
yang termasuk dalam kategori pantai pulau. Yang dimaksud dengan pantai pulau adalah
pantai yang mengelilingi pulau yang dibentuk oleh endapan sungai, batu gamping, endapan
gunung api, dan endapan lainnya.
Tipe sedimentasi pantai Pulau Bali didominasi oleh pasir kelabu hitam. Untuk
menentukan tipe sedimentasi pantai, sangat berkaitan erat dengan tipe tanah daerah pantai
yang bersangkutan. Berdasarkan Peta Tanah Tinjau, wilayah pantai pulau Bali dapat
dikelompokkan menjadi empat bagian, antara lain:
1. Daerah vulkanis, yaitu merupakan tanah pertanian pesisir yang subur, terdapat pada
sebagian besar pantai Kabupaten Tabanan sebelah barat.

6
2. Daerah endapan alluvial, yang terdapat pada wilayah pantai Kota Denpasar,
Kabupaten Gianyar, dan Kabupaten Negara, dan merupakan tanah pertanian yang
subur. Sedangkan untuk tanah endapan alluvial di wilayah pantai Gerokgak bagian
barat dan Angantiga, Amlapura, merupakan daerah yang kering.
3. Daerah batu gamping, merupakan daerah yang kering. Terdapat pada wilayah pantai
Gilimanuk, sebagian besar kecamatan Kuta dan pantai Gerokgak sebelah timur.
4. Daerah pantai dengan tanah regosol, terdapat pada wilayah pantai bagian timur
kabupaten Amlapura, wilayah pantai Singaraja, dan sebagian kecil pantai kabupaten
Semarapura.
Endapan tanah vulkanis dan endapan tanah alluvial kemudian akan mampu
membentuk pantai yang melandai, hingga bergelombang, sedangkan untuk endapan tanah
regosol, dan daerah batu gamping akan membentuk pantai yang bergelombang hingga
berbukit.
Dari data di atas, secara mudah dapat disimpulkan bahwa, pantai yang berasal dari
endapan tanah alluvial dan vulkanis merupakan pantai dengan tanah yang subur seperti pada
daerah pantai selatan pulau Bali, sedangkan pantai berupa daerah batu gamping dan pantai
dengan tanah regosol membentuk daerah-daerah yang kering seperti yang terlihat pada pantai
wilayah sebelah timur sampai ke utara. Curah hujan yang rendah, sedikitnya aliran sungai,
keadaan topografi yang dominan berupa dataran yang bergelombang hingga berbukit dan
berbukit hingga bergelombang juga berpengaruh pada keadaan tanah yang kering,
mempengaruhi jumlah air tanah yang meresap, mempengatuhi dalamnya air tanah, peka
terhadap erosi, dan kurang produktif.
Pantai Tanjung benoa adalah salah satu pantai yang terletak di daerah tenggara Pulau
Bali. Pantai tenggara Pulau Bali membentuk garis pantai yang berkelok-kelok yang meliputi
daerah teluk dan tanjung sampai relatif lurus, dimana perairannya merupakan selat Badung,
sebagian Selat Lombok, yang dilindungi oleh Pulau Nusa Penida sehingga tidak berhadapan
langsung dengan Samudra Indonesia. Adapun pantai-pantai yang berhadapan langsung
dengan Samudra Indonesia, seperti pantai Nusa Dua sebelah Selatan, dan sebagian besar
pantai Nusa Penida memiliki tebing tinggi yang terjal. Perairan tenggara pulau Bali memiliki
kedalaman kurang lebih 100m antara Nusa
Dua dengan pulau Nusa Penida, 260m antara Pulau Nusa Penida dengan pantai
Klotok (Semarapura), hingga mencapai kedalaman sekitar 1000m pada selat Lombok.
Wilayah pesisir tenggara Pulau Bali dominan merupakan kawasan pariwisata serta
merupakan kawasan penyebaran berbagai habitat yang memiliki nilai konservasi tinggi,

7
seperti terumbu karang dan padang lamun. Hal ini menyebabkan diperlukannya kondisi air
yang baik untuk keberlangsungan dan kelestarian dua hal tersebut di atas.
Pengembangan kawasan pantai alami menjadi kawasan pariwisata, baik yang
dilakukan pada daerah pesisir maupun daerah peairan, tentu saja dapat menimbulkan tekanan-
tekanan pada ekosistem pantai dan lautan, dalam hal ini, tekanan-tekanan yang dimaksud
adalah berupa limbah, baik berupa limbah cair, maupun limbah padat, antara lain limbah
domestik berupa limbah rumah tangga, pasar, dan perhotelan, limbah industri terutama
limbah prosesing makanan dan limbah pencelupan (dyeing), limbah transportasi atau limbah
jalan, dan yang juga cukup berpengaruh adalah limbah pertanian. Selain itu, ada juga limbah
yang bersal dari aktivitas di sekitarnya, berupa limbah transportasi laut, limbah pelabuhan,
dan limbah wisata air. Untuk penjelasan yang lebih terperinci mengenai pencemaran terhadap
lingkungan pantai, terutama untuk pantai tanjung Benoa akan dijelaskan pada subbab
berikutnya.

2.1.1 Karakteristik Pantai Tanjung Benoa


Kawasan pantai tanjung Benoa terletak di kelurahan Benoa, Nusa Dua, kabupaten
Badung yang membentang dari wilayah hotel Grand Mirage ke Utara. Luas daratannya yang
meliputi desa Kelurahan Tanjung Benoa sebesar 524 Ha, yang sekeliling daerah ini dikelilingi
oleh pantai tanjung benoa. Ketinggian desa ini dilihat dari permukaan air laut berkisar 2 – 7
m. Memiliki curah hujan sekitar 1500 – 200 mm/th. Daerah ini merupakan daerah dataran
rendah. Yang memiliki suhu sebesar 30-35˚C. Adapun sebagian besar penduduk di daerah
sekitar pantai tanjung benoa ini bermata pencaharian sebagai nelayan dan bekerja di sektor
pariwisata dan industri.
Wilayah pesisir tenggara Pulau Bali, sebagian besar dikembangkan menjadi objek
pariwisata, dan jaga sebagai kawasan konservasi. Pada perairan Tanjung Benoa, terdapat
penyebaran terumbu karan, dan padang lamun.

2.2 Potensi Sumber Daya Alam yang Dimiliki Pantai Tanjung Benoa
Pantai Tanjung Benoa merupakan wilayah yang sangat produktif. Di setiap daerahnya
yang membentang dari utara hingga selatan memiliki potensi yang sangat besar. Daerah
pantai timur berfungsi sebagai daerah pariwisata sejak tahun 1980. Pantai utara berfungsi
sebagai kawasan transit pelabuhan Benoa, dan daerah pantai barat digunakan untuk zona
hijau hutan mangrove.

8
Seiring berkembangnya zaman, pantai timur semakin berkembang pesat dilihat dari
panoramanya yang indah dan fungsinya sebagai daerah pariwisata, banyak jenis wisata dan
olahraga air yang ditawarkan. Di antaranya adalah paraceiling, flying fish, banana boat,
jetski, diving, scuba diving, hingga tour keliling laut atau tour ke tempat penangkaran penyu
dengan menggunakan perahu motor. Fasilitas dan sarana prasarana yang ditawarkan pun
semakin berkembang dengan dibangunnya hotel-hotel, restaurant, café, jalan raya, gedung
pertokoan, sekolah, real estate, pasar, terminal, dan lain-lain. Karena perkembangan yang
sangat cepat inilah, maka diberlakukan sebuah aturan perda tentang sempadan pantai yaitu,
75 m dari bibir pantai dimana dipakai acuan jarak pantai ke jalan raya 500m untuk
melindungi ekologi pantai.
Daerah pantai utara juga tidak kalah berkembangnya dengan pantai timur, karena
daerah pantai utara ini merupakan salah satu kawasan yang digunakan sebagai pelabuhan
untuk tempat transitnya kapal-kapal laut yang akan berlabuh di Bali. Pelabuhan benoa yang
terletak di pantai utara ini merupakan salah satu jalur masuk atau jalur transportasi yang
sangat penting bagi pulau Bali ini.
Selain dua wilayah pantai tanjung benoa tadi, adapun daerah pantai barat yang
digunakan sebagai daerah hijau bagi kelurahan benoa yang merupakan tempat penangkaran
hutan mangrove dan pelestarian ekosistem mangrove pada pantai timur dan disepanjang rute
menuju pulau penyu. Ekosistem mangrove dan terumbu karang ini mempunyai potensi yang
sangat besar untuk menunjang produksi perikanan yang dapat meningkatkan perekonomian
dan sektor perikanan di daerah Benoa pada khususnya dan Bali pada umumnya. Untuk lebih
jelasnya mengenai potensi sumber daya alam mangrove dan terumbu karang di daerah
perairan pantai tanjung benoa dapat diuraikan sebagai berikut.

2.2.1 Ekosistem Mangrove


Masyarakat kita sering menerjemahkan mangrove sebagai komunitas hutan bakau,
sedangkan tumbuhan bakau merupakan salah satu jenis dari tumbuh-tumbuhan yang hidup di
hutan pasang-surut. Mangrove hidup di daerah antara level pasang-naik tertinggi sampai level
di sekitar atau di atas permukaan laut rata-rata. Seperti halnya pariwisata sebagai penghasil
devisa, mangrove di pantai tanjung benoa ini juga memiliki produktivitas yang tinggi dan
manfaat yang sangat besar bagi kelangsungan ekosistem di pesisir pantai dan juga memberi
manfaat bagi kesejahteraan masyarakat di sekitarnya, di antaranya adalah :

9
- kayunya dapat dipakai sebagai kayu bakar. Karena kayu mangrove ini memiliki tingkat
kalori yang tinggi yang dapat dipakai sebagai pengganti arang. Selain itu karena kayu
mangrove mempunyai kualitas kayu yang kuat dan baik, kayunya digunakan sebagai
bahan perumahan dan konstruksi kayu.
- kulit kayu yang merupakan sumber tannin yang biasa digunakan untuk penyamak kulit
dan pengawetan jaring ikan. Selain itu juga sebagai sumber dari lem plywood dan
beberapa macam zat warna.
- daunnya bisa digunakan sebagai makanan ternak. Beberapa daun dari jenis-jenis
tertentu dapat digunakan sebagai obat, bahkan ada pula yang dijadikan sebagai
pengganti teh atau tembakau.
- bunga-bunganya merupakan sumber madu
- akar-akarnya efektif untuk perangkap sedimen, memperlambat kecepatan arus, dan
mencegah erosi pantai
- tempat berlindung bagi berbagai ikan dan hewan-hewan air
- hutan mangrove juga merupakan suatu penyangga komunitas daratan dan pesisir.
Namun, pertumbuhan mangrove kini mulai terganggu akibat adanya banyak
pencemaran akibat pembangunan yang dilakukan atau dilaksanakan di sekitar kawasan
mangrove ini.
Kawasan hutan mangrove di daerah Tanjung Benoa ini merupakan kawasan hutan
lindung yang telah ditetapkan sebagai Taman Hutan Raya (Ta hura) dengan luas 1.373,5 ha
(BTID,1995), yang terdiri dari 408,5 ha areal perlindungan, 520 ha areal pembinaan/koleksi,
dan 445 ha areal pemanfaatan. Jenis-jenis vegetasi penyusun hutan mangrove antara lain:
bakau putih (Rhizopora apiculata), bakau-bakau (R. mucronata),prapat (Sonneratia alba),
duduk agung (Aegicaras cornitulatum), api-api (Avicenia marina), tancang (Bruguiera
gymnorchiza), buta-buta (Excoecoria agalocha), ketapang (Therminalia cattapa), gambir laut
(Clerodendum enerme), dan lain-lain. Dari jenis-jenis vegetasi di atas, jenis Sonneratia alba
merupakan jenis yang dominan.

2.2.2 Ekosistem Terumbu Karang


Terumbu karang merupakan masyarakat organisme yang hidup di dasar perairan dan
berupa bentukan batuan kapur yang cukup kuat menahan gaya gelombang laut. Terumbu
karang terletak di daerah perairan dangkal dimana penetrasi cahaya matahari masih sampai ke
dasar perairan tersebut. Terumbu karang memberi kontribusi untuk menopang melimpahnya
ikan-ikan, menopang semaraknya industri pariwisata (snorkling, diving, fotografi air),

10
menyediakan habitat bagi organisme berskeleton sebagai sumber bagi pasir putih di pantai
selatan pulau Bali, peredam aksi gelombang sehingga meminimumkan erosi dan melindungi
lahan, pulau-pulau,dan pantai. Di pantai Tanjung Benoa ini produktivitas terumbu karang
mencapai angka yang masih standar, belum memasuki zona kritis, namun sudah terlihat
tanda-tanda menuju arah tersebut, yang diakibatkan oleh aktivitas pembangunan di sekitar
pantai seperti, aktivitas pariwisata, pecahnya karang oleh jangkar perahu/kapal, pemanenan
karang berlebih untuk cenderamata, hiasan dan produk lainnya dan pengerukan pantai. Hal
ini telah disadari oleh pihak masyarakat, maka telah diusulkan upaya untuk memperluas
wilayah penangkaran terumbu karang, namun hingga saat ini pemerintah belum memberikan
kepastian akan hal tersebut.

2.3 Pemanfaatan Daerah Pesisir Pantai Tanjung Benoa


Selain memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa, daerah pesisir di Pantai
Tanjung Benoa ini pun memberikan lahan yang bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
Beberapa contoh pemanfaatan yang dilakukan oleh masyarakat di Pantai Tanjung Benoa ini,
antara lain :
- Sektor Perikanan
Jika dulu sektor perikanan merupakan sektor usaha yang paling menonjol di kawasan
pantai Tanjung Benoa, maka sejak tahun 1980 pelaku sektor usaha tersebut banyak
yang telah beralih ke sektor pariwisata, dikarenakan sektor pariwisata dianggap
memiliki hasil yang lebih menjamin penghidupan. Kini, sektor perikanan tidak lagi
sebagai sektor usaha utama.
- Sektor Industri
Salah satu kelebihan yang dimiliki wilayah pesisir adalah aksesibilitasnya yang tinggi
yang memudahkan proses lalu lintas. Karena itulah, daerah ini sangat cocok
dimanfaatkan sebagai kawasan industri. Karena daerah pantai tanjung benoa memiliki
akses yang baik terhadap penyediaan bahan baku, distribusi produk dan pembuangan
limbah.
- Perhubungan laut
Pemanfaatan sebagai sarana transportasi melalui pengembangan sistem pelabuhan dan
angkutan laut akan memainkan peranan penting dalam komunikasi dan transportasi
yang bertujuan untuk mendorong gerak pembangunan, penyerapan tenaga kerja dan
sekaligus membantu mengendalikan pencemaran lingkungan. Apalagi pantai tanjung

11
benoa memiliki sebuah pelabuhan yang cukup terkenal, yaitu Pelabuhan Benoa yang
sangat membantu pergerakan industri untuk kelurahan benoa itu sendiri.
- Pariwisata
Pariwisata merupakan salah satu industri kelautan yang perlu didorong dan
digalakkan untuk memenuhi kebutuhan daerah, meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, terutama masyarakat di sekitar pantai Tanjung Benoa dimana sebagian
besar penduduknya tergantung akan sektor ini. Sektor ini juga bertujuan untuk
memperluas kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, meningkatkan devisa, dan
lain-lain. Kini, pariwisata menjadi sektor usaha utama bagi masyarakat di kawasan
pantai Tanjung Benoa.

2.4 Permasalahan Pada Pantai Tanjung Benoa Erosi Pantai


Pantai merupakan daerah pesisir pantai yang merupakan gambaran nyata mengenai
air,angin, dan tanah. Angin dapat mempengaruhi gerak air laut yang membawa material dari
ke tempat satu ke tempat lainnya, mengikis tanah, dan kemudian mengendapkannya pada
suatu tempat secara terus-menerus, yang menyebabkan terus berubahnya garis pantai. Proses
terjadinya suatu erosi terhadap pantai, ketika gelombang mendekati pantai, gelombang mulai
bergesekan dengan dasar laut, dan kemudian menyebabkan pecahnya gelombang di tepi
pantai. Turbulensi yang akhirnya terjadi ketika pecahnya gelombang di tepi pantai,
menyebabkan terbawanya material dari dasar pantai, atau menyebabkan terkikisnya bukit-
bukit pasir di pantai.
Gelombang yang pecah di tepi pantai itulah sebagai penyebab utama pada proses
erosi, dan proses pengendapan pada garis pantai. Pada saat pecahnya gelombang di bibir
pantai, akan terjadi run up, kemudian surut kembali, dan membawa sedimentasi yang ada di
sekitar pantai.
Kemampuan air laut memindahkan material tergantung pada kecepatannya.
Gelombang yang besar atau gelombang dengan arus yang kuat, akan mampu mengangkat
sedimen dalam jumlah yang banyak. Material ini diendapkan ketika kecepatan air mulai
menurun dan kemudian akan di ambil kembali ketika kecepatan air mulai meningkat.
Ketinggian muka air juga mempengaruhi kemampuan air dalam mengerosi pantai.
Pantai dengan kemiringan yang relatif datar, cenderung memiliki sistem pertahanan sendiri
terhadap erosi. Keberadaan terumbu karang dan kemiringan pantai yang relatif datar,
memudahkan mereduksi energi gelombang yang mendekati pantai. Keberadaan bukit pasir,
dan hutan mangrove dapat melindungi pantai dari serangan badai, dan sebagainya.

12
Sekitar 12% garis pantai di Bali, mengalami erosi dengan laju yang berbeda-beda.
Intervensi manusia yang tidak memberi ruang yang cukup terhadap berlangsunganya
keseimbangan proses-proses dinamis di pantai serta aktivitas lainnya yang merubah rezim
pola arus dan gelombang memperparah laju kemunduran garis pantai disamping oleh faktor
alam. Contohnya, dapat dilihat pada pelanggaran misalnya terhadap sempadan garis pantai
,dan bangunan-bangunan pantai yang menjorok ke laut.
Menurut data proyek Pengamanan Pantai Bali, kanwil Departemen Pekerjaan Umum,
Prop. Bali , pada tahun 1998, dari 430m , panjang pantai yang mengalami erosi, hingga
mencapai 51.50 km (12%)yang tersebar pada 31 jalur pantai di seluruh wilayah kabupatan.

13
BAB III
PENUTUP

Mengantisipasi semakin meningkatnya permintaan terhadap sumber daya pesisir di


masa mendatang sebagai akibat semakin meningkatnya jumlah penduduk, berkembangnya
tekhnologi, meningkatnya investasi serta adanya pergeseran basis pembangunan di darat ke
wilayah pesisir, maka diperlukan suatu konsep pengelolaan sumber daya pesisir secara
rasional dan berkesinambungan. Untuk itu dibutuhkan intervensi pemerintah dalam
merumuskan pengelolaan dan konservasi sumber daya karena kompleksnya isu-isu
manajemen yang muncul di wilayah pesisir bersamaan dengan meningkatnya penduduk dan
permintaan akan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan pesisir.
Dalam konteks otonomi daerah, dimana adanya perimbangan pendapatan yang lebih
besar bagi daerah otonom atas sumber daya alam kelautan, di satu sisi merupakan peluang
untuk meningkatkan pendapatan asli daerah akan tetapi di sisi lain dapat menimbulkan
permasalahan lingkungan karena terabaikan prinsip pemanfaatan yang rasional. Akan ada
kecenderungan daerah memanfaatkan sumber daya pesisir secara tidak terkendali dalam
rangka mengejar pendapatan asli daerah yang setinggi-tingginya dan hal ini akan berdampak
terhadap rusaknya sumber daya alam dan lingkungan.
Sementara itu, adanya pemisahan kewenangan secara spasial atas sumber daya alam
yang ada di wilayah perairan laut antar daerah otonom (kabupaten/kota) dan antara
kabupaten/kota dengan provinsi dan pusat, kiranya akan menimbulkan permasalahan
tersendiri dalam upaya pelestarian sumber daya alam dan lingkungan. Mengingat sistem
ekologi pesisir merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling terkait, maka pengelolaan
pesisir daerah Bali khususnya pesisir pantai Tanjung Benoa harus dilakukan melalui
pendekatan ”satu sistem ekologi, satu sistem manajemen”.
Untuk mengatasi berbagai permasalahan lingkungan yang timbul dan untuk menjamin
keberlanjutan pemanfaatan sumber daya pesisir diperlukan suatu konsep pembangunan dan
pemanfaatan sumber daya serta pengelolaan lingkungan wilayah pesisir secara terpadu, yang
mencakup aspek teknis dan ekologis, aspek sosial ekonomi dan budaya, aspek sosial politik,
serta aspek hukum dan kelembagaan.

14
Daftar Pustaka

Bato, M., Yulianda, F. dan Achmad Fahruddin. 2013. Kajian manfaat kawasan
konservasi perairan bagi pengembangan ekowisata bahari, Studi kasus di kawasan
konservasi perairan Nusa Penida, Bali. Depik 2 (2):104-113. ISSN 2089-7790.

Bengen, D. G. 2001. Ekosistem dan Sumberdaya Pesisir dan Laut Serta


Pengelolaan Secara Terpadu dan Berkelanjutan. Prosiding Pelatihan
Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Bogor

Dahuri, R. 1996. Pengembangan Rencana Pengelolaan Pemanfaatan Berganda Hutan


Mangrove di Sumatera. PPLH. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Dahuri, R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Dalimunthe, R. 2007. Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Potensi Wisata


Bahari Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai. Universitas Sumatera Utara.
Medan

Ermawan, R. W. 2008. Kajian Sumberdaya Pantai untuk Kesesuaian Ekowisata di Pantai


Prigi Kabupaten Trenggalek Provinsi Jawa Timur. Institut Pertanian Bogor.
Bogor

Honey, M. 1999. Ecotourism and Sustainable Development. Who owns Paradise? Island
Press. Washington D.C.

Irianto, H. 2002. Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir (Studi Kasus
Pemanfaatan dan Konfigurasi Ruang Kecamatan Bonang Kabupaten Demak
Provinsi Jawa Tengah). Universitas Diponegoro. Semarang

Maifat, S. 2008. Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Pariwisata (Studi Tentang


Pembangunan Ekowisata di Kenagarian Lasi Kecamatan Candung
Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat. Universitas Sumatera Utara. Medan

15
Mangindaan, P., Wantesan, A., Stephanus V. dan Mandagi. 2012. Analisis potensi sumberdaya
mangrove di Desa Sarawet, Sulawesi Utara, sebagai kawasan ekowisata.
Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis VIII (2) : 44-51.

Siagian, M. 2014. Kajian Strategi Pengembangan Ekowisata Mangrove di Pesisir Sei


Nagalawan Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Sumatera Utara.
Universitas Sumatera Utara. Medan

16