Anda di halaman 1dari 16

HIPERTENSI

Fachry Muhammad Fadillah (112018180)

A. Definisi
Hipertensi (tekanan darah tinggi) adalah suatu peningkatan
tekanan darah di dalam arteri. Hipertensi yang tidak diketahui
penyebabnya disebut sebagai hipertensi esensial. Menurut The Seventh of
The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and
Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) klasifikasi tekanan darah pada
orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prehipertensi,
hipertensi derajat 1, dan hipertensi derajat 2.
Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC 7
Klasifikasi Tekanan TDS (mmHg) TDD (mmHg)
Darah
Normal < 120 Dan < 80
Prehipertensi 120-139 Atau 80-90
Hipertensi derajat 1 140-159 Atau 90-99
Hipertensi derajat 2 ≥ 160 Atau ≥ 100

Pasien dengan prehipertensi berisiko mengalami peningkatan tekanan


darah menjadi hipertensi, yang tekanan darahnya 130-139/80-89 mmHg
sepanjang hidupnya memiliki 2 kali risiko menjadi hipertensi dan mengalami
penyakit kardiovaskuler daripada yang tekanan darahnya lebih rendah.
Pada orang yang berumur lebih dari 50 tahun, tekanan darah sistolik >
140 mmHg merupakan faktor risiko yang lebih penting untuk terjadinya
penyakit kardiovaskuler daripada tekanan darah diastolik.
 Risiko penyakit kardiovaskuler dimulai pada tekanan darah 115/75 mmHg,
meningkat 2 kali dengan tiap kenaikan 20/10 mmHg.
 Risiko penyakit kardiovaskuler bersifat kontinyu, konsisten, dan
independen dari faktor risiko lainnya.
Adapun kriteria hipertensi menurut JNC 8 sebagaimana yang tercantum
dalam tabel dibawah
B. Patofisiologi
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis:

2
 Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak atau belum
diketahui penyebabnya (terdapat ± 90 % dari seluruh hipertensi).
 Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan atau sebagai akibat
dari adanya penyakit lain.

Adapun patofisiologi hipertensi berdasarkan etiologinya yaitu:


1. Hipertensi primer atau esensial
Peningkatan curah jantung (volume sekuncup x frekuensi denyut jantung)
dan peningkatan resistensi perifer total (TPR). Dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Hipertensi hiperdinamik
Penyebab 1:
↑ frekuensi denyut jantung atau volume ekstrasel

↑ aliran balik vena

↑ volume sekuncup (mekanisme Frank-Starling)

HIPERTENSI

Penyebab 2:
↑ aktivitas simpatis (dari SSP) atau ↑ respon terhadap katekolamin

↑ curah jantung

HIPERTENSI
b. Hipertensi resistensi
Penyebab:
- ↑ aktivitas simpatis
- ↑ respon terhadap katekolamin
- ↑ konsentrasi angiotensin II vasokonstriksi perifer
- mekanisme autoregulasi (arteriol)
- hipertrofi otot vasokonstriktor ↓
- ↑ viskositas darah (↑ hematokrit) → HIPERTENSI
HIPERTENSI → kerusakan vaskuler → ↑ TPR → HIPERTENSI
MENETAP

2. Hipertensi sekunder
Dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Hipertensi renal
stenosis arteri renalis atau penyempitan arteriol dan kapiler ginjal

iskemik ginjal

3
pelepasan renin dari ginjal

renin tumor
angiotensinogen → angiotensin I
↓ ACE
angiotensin II (oktapeptida)

lepaskan aldosteron vasokontriktor berat


dari korteks adrenal
↓ ↓
retensi Na dan ↑ curah jantung ↑ TPR

↑ tekanan darah
massa ginjal fungsional ↓
hipertensi

hipertensi kronik

perubahan sekunder (hipertrofi dinding vaskuler, aterosklerosis)

b. Hipertensi hormonal
1) Sindrom adrenogenital
pembentukan kortisol di korteks adrenal dihambat

pelepasan hormon adrenokortikotropik (ACTH) tidak dihambat

prekursor mineralokortikoid aktif kotisol dan aldosteron

retensi Na

↑ hormon ekstrasel

↑ curah jantung

HIPERTENSI

2) Hiperaldosteronisme (sindrom Conn)


tumor korteks adrenal

lepaskan aldosteron (jumlah besar) tanpa mekanisme pengaturan

4
retensi Na di ginjal

↑ curah jantung

HIPERTENSI

3) Sindrom Cushing
pelepasan ACTH tidak adekuat

↑ konsentrasi glukokortikoid plasma

↑ efek katekolamin ↑ kerja mineralokortikoid dari kortisol


↓ ↓
↑ curah jantung retensi Na

HIPERTENSI

4) Feokromasitoma
tumor adrenomedula

katekolamin

↑ kadar epinefrin tidak terkendali

↑ curah jantung

HIPERTENSI

5) Pil kontrasepsi
retensi Na

↑ curah jantung

HIPERTENSI

c. Hipertensi neurogenik
ensefalitis, edema serebri, perdarahan, tumor otak

5
perangsangan sentral kerja jantung berlebih

↑ tekanan darah

HIPERTENSI

Sedangkan patofisiologi hipertensi berdasarkan faktor risikonya yaitu:


1. Genetik (♀ > ♂)
2. Penduduk kota > desa (hipertensi primer)
3. Stres psikologis kronis (berubungan dengan pekerjaan atau kepribadian)
stres psikologis

↑ perangsangan jantung ↑ absorpsi ginjal dan retensi Na

↑ volume ekstrasel
↑ tekanan darah (HIPERTENSI)

stres atau ketegangan fisik (olahraga)  pelepasan adrenalin dan nor-


adrenalin  vasokontriktif  ↑ tekanan darah sementara
4. Sensitif terhadap garam (insiden ↑ jika ada riwayat keluarga)
sensitif garam

respon terhadap katekolamin ↑

↑ curah jantung

HIPERTENSI

5. Asupan garam tinggi


ion natrium
retensi air perkuat efek nor-adrenalin
↓ ↓
volume darah bertambah (hiperviskositas) vasokonstriksi

daya tahan pembuluh darah ↑
HIPERTENSI

6. Konsumsi liquorice

6
Sejenis gula-gula dibuat dari Succus liquiritiae yang mengandung
asam glizirinat dengan khasiat retensi air  ↑ tekanan darah jika
dimakan dalam jumlah besar.
7. Merokok
Nikotin  vasokonstriksi  ↑ tekanan darah.
8. Pil KB
Mengandung hormon estrogen  retensi garam dan air  ↑
tekanan darah.
9. Hormon pria dan kortikosteroid
Menyebabkan retensi air  ↑ tekanan darah.
10. Kehamilan
Uterus direnggangkan telalu banyak oleh janin  menerima
kurang darah  dilepaskan zat yang ↑ tekanan darah.

C. Manifestasi Klinis
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala
walaupun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan
dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi. Gejala yang dimaksud
adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan, dan
kelelahan yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi maupun pada
seseorang dengan tekanan darah yang normal.
Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul
gejala berikut:
 Sakit kepala
 Kelelahan
 Mual-muntah
 Sesak napas
 Gelisah
 Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak,
mata, jantung, dan ginjal
 Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan
bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak disebut ensefalopati
hipertensif yang memerlukan penanganan segera

7
D. Diagnosis
1. Pemeriksaan dasar
Pengukuran tekanan darah yang sesuai standar dilakukan tidak hanya
sekali jika perlu dapat pada lebih dari sekali kunjungan.
2. Pemeriksaan mencari faktor risiko
Faktor risiko penting untuk menentukan risiko hipertensi dan stratifikasi
terhadap kejadian komplikasi kardiovaskuler yaitu:
a. Risiko untuk stratifikasi
 Derajat hipertensi
 Wanita > 65 tahun
 Laki-laki > 55 tahun
 Perokok
 Kolesterol total > 250 mg% (6,5 mmol/L)
 Diabetes melitus
 Riwayat keluarga penyakit kardiovaskuler lain
b. Risiko lain yang mempengaruhi prognosis
 Kolesterol HDL rendah
 Kolesterol LDL meningkat
 Mikroalbuminaria pada diabetes melitus
 Toleransi glukosa terganggu
 Obesitas
 Tidak berolahraga (secondary lifestyle)
 Fibrinogen meningkat
 Kelompok risiko tinggi tertentu (sosio-ekonomi, ras, geografik)
c. Kerusakan organ sasaran
 Hipertrofi ventrikel kiri
 Proteinuria atau kreatinin 1,2-2,0 mg%
 Penyempitan a. retina lokal atau umum
 Tanda aterosklerosis pada a. karotis, a. iliaka, maupun aorta
d. Tanda klinis kelainan dengan penyakit
 Penyakit serebrovaskuler: stroke iskemik, perdarahan serebral, TIA
 Penyakit jantung: infark miokard, angina pektoris, revaskularisasi
koroner, gagal jantung kongestif
 Retinopati hipertensi lanjut: perdarahan atau eksudat, edema papil
 Penyakit ginjal: nefropati diabetik, GGK (kreatinin > 2 mg %)
 Penyakit lain: diseksi aneurisma, penyakit arteri (simtomatik)
3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan rutin harus dilakukan seperti:
 Tes darah rutin
 Hemoglobin dan hematokrit
 Urinalisis terutama untuk deteksi adanya darah, protein, gula

8
 Kimia darah untuk kalium (serum), kreatinin (serum), asam urat
(serum), gula darah, total kolesterol (kolesterol total serum, HDL
serum, LDL serum, trigliserida serum)
 Plasma rennin activity (PRA), aldosteron, katekolamin urin
 Elektrokardiografi (EKG)
 Ekokardiografi jika diduga adanya kerusakan organ sasaran seperti
adanya LVH
 Ultrasonografi pembuluh darah besar (karotis dan femoral)
 Ultrasonografi ginjal jika diduga adanya kelainan ginjal
 Pemeriksaaan neurologis untuk mengetahui kerusakan pada otak
 Funduskopi untuk mengetahui kerusakan pada mata
Adapun pemeriksaan radiologi pada penderita hipertensi untuk melihat
adanya komplikasi meliputi:
a. Foto thorak
Pada gambar foto thorak posisi postero-anterior (PA) terlihat
pembesaran jantung ke kiri, elongasi aorta pada hipertensi yang kronis,
dan tanda-tanda bendungan pembuluh paru pada stadium gagal jantung
hipertensi.
Pada hipertensi heart disease, keadaan awal batas kiri bawah jantung
menjadi bulat karena hipertrofi konsentrik ventrikel kiri. Pada keadaan
lanjut, apeks jantung membesar ke kiri dan bawah. Aortik knob
membesar dan menonjol disertai klasifikasi. Aorta asenden-desenden
melebar dan berkelok (elongasi aorta).

Gambaran kardiomegali dengan hipertensi pulmonal


b. Angiografi
Pada angiografi ginjal memungkinkan penglihatan terhadap pembuluh
dan parenkim ginjal, aorta, dan hubungan ginjal ke aorta. Angiografi
ginjal dilakukan dengan tujuan untuk mendeteksi stenosis arteri ginjal

9
atau trombus ginjal dan menentukan faktor penyebab hipertensi atau
gagal ginjal serta mengevaluasi sirkulasi ginjal.
c. Magnetic resonance angiography
d. Computed tomography angiography
e. Duplex doppler ultrasonography

d e

Gambaran stenosis a. renalis (a) MR angiografi dengan kontras (b)


angiografi ginjal konvensional (c) normal (d) CT angiografi (e) USG
duplex doppler renal

10
E. Tatalaksana
Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah:
1. Target tekanan darah < 140/90 mmHg, untuk individu berisiko tinggi
(diabetes, gagal ginjal proteinuria) < 130/80 mmHg
2. Penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler
3. Menghambat laju penyakit ginjal proteinuria
Selain pengobatan hipertensi, pengobatan terhadap faktor risiko atau
kondisi penyerta lainnya seperti diabetes melitus atau dislipidemia juga harus
dilaksanakan hingga mencapai target terapi masing-masing kondisi.
Pengobatan hipertensi terdiri dari non-farmakologis dan farmakologis.
Terapi non-farmakologis dilaksanakan oleh semua pasien hipertensi dengan
tujuan menurunkan tekanan darah dan mengendalikan faktor risiko serta
penyakit penyerta lainnya.
Terapi non-farmakologis terdiri dari:
 Menghentikan merokok
 Menurunkan berat badan berlebih
 Menurunkan konsumsi alkohol berlebih
 Latihan fisik
 Menurunkan asupan garam
 Meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta menurunkan asupan lemak
Jenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmakologis hipertensi
yang dianjurkan JNC 7 yaitu:
 Diuretika terutama jenis Thiazide (Thiaz) atau Aldosterone Antagonist
(Aldo Ant)
 Beta Blocker (BB)
 Calcium Channel Blocker atau Calcium Antagonist (CCB)
 Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACE-I)
 Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 Receptor Antagonist atau
Blocker (ARB)

11
Masing-masing obat antihipertensi memiliki efektivitas dan keamanan dalam
pengobatan hipertensi tetapi pemilihan obat antihipertensi juga dipengaruhi
beberapa faktor yaitu:
 Faktor sosio-ekonomi
 Profil faktor risiko kardiovaskuler
 Ada tidaknya kerusakan organ target
 Ada tidaknya penyakit penyerta
 Variasi individu dari respon pasien terhadap obat antihipertensi
 Kemungkinan adanya interaksi dengan obat yang digunakan pasien untuk
penyakit lain
 Bukti ilmiah kemampuan obat antihipertensi yang akan digunakan dalam
menurunkan risiko kardiovaskuler
Berdasarkan uji klinis, hampir seluruh pedoman penanganan hipertensi
menyatakan bahwa keuntungan pengobatan antihipertensi adalah penurunan
tekanan darah itu sendiri, terlepas dari jenis obat antihipertensi yang
digunakan. Namun, terdapat pula bukti yang menyatakan bahwa jenis obat
antihipertensi tertentu memiliki kelebihan untuk kelompok pasien tertentu.
Untuk keperluan pengobatan, ada pengelompokkan pasien berdasarkan
pertimbangan khusus (special consederations) yaitu kelompok indikasi yang
memaksa (compelling indications) dan keadaan khusus lainnya (special
situations).
Indikasi yang memaksa meliputi:
 Gagal jantung
 Pasca infark miokardium
 Risiko penyakit pembuluh darah koroner tinggi

12
 Diabetes melitus
 Penyakit ginjal kronis
 Pencegahan stroke berulang
Keadaan khusus lainnya meliputi:
 Populasi minoritas
 Obesitas dan sindrom metabolik
 Hipertrofi ventrikel kanan
 Penyakit arteri perifer
 Hipertensi pada usia lanjut
 Hipotensi postural
 Demensia
 Hipertensi pada perempuan
 Hipertensi pada anak dan dewasa muda
 Hipertensi urgensi dan emergensi
Untuk sebagian besar pasien hipertensi, terapi dimulai secara bertahap
dan target tekanan darah tinggi dicapai secara progresif dalam beberapa
minggu. Dianjurkan untuk menggunakan obat antihipertensi dengan masa
kerja panjang atau yang memberikan efikasi 24 jam dengan pemberian sekali
sehari. Pilihan memulai terapi dengan 1 jenis obat antihipertensi atau dengan
kombinasi tergantung tekanan darah awal dan ada tidaknya komplikasi. Jika
terapi dimulai dengan 1 jenis obat dalam dosis rendah dan kemudian tekanan
darah belum mencapai target, maka langkah selanjutnya adalah meningkatkan
dosis obat tersebut atau berpindah ke antihipertensi lain dengan dosis rendah.
Efek samping umumnya bisa dihindarkan dengan dosis rendah baik tunggal
maupun kombinasi. Sebagian besar pasien memerlukan kombinasi obat
antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah tetapi terapi kombinasi
dapat meningkatkan biaya pengobatan dan menurunkan kepatuhan pasien
karena jumlah obat yang semakin bertambah.
Kombinasi yang telah terbukti efektif dan dapat ditoleransi pasien
hipertensi adalah:
 CCB dan BB
 CCB dan ACEI atau ARB
 CCB dan diuretika
 AB dan BB
 Kadang diperlukan 3 atau 4 kombinasi obat

13
Indikasi dan kontraindikasi jenis utama obat antihipertensi menurut
ESH meliputi:
Kelas Obat Indikasi KI Mutlak KI Tidak Mutlak
Diuretika (thiazide) Gagal jantung kongestif, Gout Kehamilan
usia lanjut, isolated
systolic hypertension, ras
Afrika
Diuretika (loop) Insufisiensi ginjal, gagal
jantung kongestif
Diuretika (anti- Gagal jantung kongestif, Gagal ginjal,
aldosteron) pasca infark miokardium hiperkalemia
Penyekat β Angina pektoris, pasca Asma, penyakit paru Penyakit pembuluh
infark miokardium, gagal obstruktif menahun, AV darah perifer, intoleransi
jantung kongestif, block (derajat 2 atau 3) glukosa, atlet atau
kehamilan, takiaritmia pasien yang aktif secara
fisik
Calcium antagonist Usia lanjut, isolated Takiaritmia, gagal
(dihydropiridine) systolic hypertension, jantung kongestif
angina pektoris, penyakit
pembuluh darah perifer,
aterosklerosis karotis,
kehamilan
Calcium antagonist Angina pektoris, AV block (derajat 2 atau
(verapamil, diltiazem) aterosklerosis karotis, 3), gagal jantung
takikardia kongestif
supraventrikuler
ACE-inhibitor Gagal jantung kongestif, Kehamilan,
disfungsi ventrikel kiri, hiperkalemia, stenosis
pasca infark miokardium, arteri renalis bilateral
non-diabetik nefropati,
nefropati DM tipe 1,
proteinuria
Angiotensin II receptor Nefropati DM tipe 2, Kehamilan,
antagonist (ATI-blocker) mikroalbuminaria hiperkalemia, stenosis
diabetik, proteinuria, arteri renalis bilateral
hipertrofi ventrikel kiri,
batuk karena ACE-I
α-blocker Hiperplasia prostat Hipotensi ortostatik Gagal jantung kongestif
(BPH), hiperlipidemia

Tatalaksana hipertensi menurut JNC 7 meliputi:


Klasifikasi TDS TDD Perbaikan Terapi Obat Terapi Obat

14
Tekanan (mmHg) (mmHg) Pola Hidup Awal tanpa Awal dengan
Darah Indikasi Indikasi
Memaksa Memaksa
Normal < 120 dan < 80 Dianjurkan
Prehipertensi 120-139 atau 80-89 Ya Tidak indikasi Obat-obatan
obat untuk indikasi
yang memaksa
Hipertensi 140-159 atau 9- 99 Ya Diuretika jenis Obat-obatan
derajat 1 Thiazide untuk untuk indikasi
sebagian besar yang memaksa
kasus, dapat Obat
dipertimbangkan antihipertensi
ACE-I, ARB, BB, lain (diuretika,
CCB, atau ACE-I, ARB,
kombinasi BB, CCB)
sesuai
kebutuhan
Hipertensi ≥ 160 atau ≥ 100 Ya Kombinasi 2 obat
derajat 2 untuk sebagian
besar kasus
umumnya
diuretika jenis
Thiazide dan
ACE-I atau ARB
atau BB atau
CCB

F. Komplikasi
Adapun komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh hipertensi antara lain:
 Aterosklerosis
 Penyakit jantung koroner
 Penyakit arteri perifer atau penyakit oklusi arteri perifer
 Aneurisma
 Gagal jantung
 Stroke
 Edema paru
 Gagal ginjal
 Kebutaan (pecahnya pembuluh darah pada mata)
 Sindrom metabolik

G. Prognosis

15
Hipertensi dapat dikendalikan dengan baik dengan pengobatan yang
tepat. Terapi dengan kombinasi perubahan gaya hidup dan obat-obatan
antihipertensi biasanya dapat menjaga tekanan darah pada tingkat yang tidak
akan menyebabkan kerusakan pada jantung atau organ lain. Kunci untuk
menghindari komplikasi serius dari hipertensi adalah mendeteksi dan
mengobati sebelum kerusakan terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Ganiswarna, S. G. (2003). Famakologi dan Terapi. Jakarta: Bagian Farmakologi


FK-UI.

Gareth, B. Patofisiologi Hipertensi. British Medical Journal.

Hughes, A.D. & Schachter. 1994. Hypertension and Blood Vessels. Br Med Bull.
50 : 356-70.

Silvia, A. & Lorraince. 2003. Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Sudoyo, A. W., dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Ed. IV. Jakarta: FK-
UI.

16