Anda di halaman 1dari 6

(Alkisah, disebuah kayangan terdapat kerajaan yang di pimpin oleh seorang raja bernama Prabu Gajah

Batok dan istrinya bernama Ratu Tapas. Mereka mempunyai anak 7 bidadari yaitu : Nawang Sari,
Nawang Wulan, Nawang Merah, Nawang Putih, Nawang Bombay, Nawang Daun, dan Nawang Kucai.)

Nawang Sari : (memberi hormat) “Ayahanda, karena hujan telah reda kami akan meminta izin
kepada ayahanda untuk melakukan kebiasaan kami seperti seharusnya!”

Prabu Gajah Batok : (mengangguk) “Kalau ayah terserah bagaimana bunda saja!

Ratu Tapas : “Boleh tapi hati-hati ya, takutnya ada manusia yang mengganggu,

7 Bidadari : “Baik ayahanda, bunda, kami berangkat !” (kemudian meninggalkan kerajaan)

Adegan II
(Sementara itu di bumi negeri Rempah)
Jaka Tarub : (melihat-lihat ke arah langit sambil berbicara sendiri)

“Rupanya hujan sudah reda langit cerah kembali. Nah, saat seperti ini adalah waktu yang tepat untuk
berburu ke hutan.” (bergegas mengambil panah dan pergi).

Adegan III
(7 Bidadari berdatangan sampai di bumi, mereka turun tepat disebuah telaga yang airnya tenang dan
bening).

Nawang Putih : “Hey lihat! Airnya bening sekali sama seperti diriku nawang putih, bersih dan
jernih”

Nawang Daun : “enak saja seperti dirimu, jelas jelas kamu biasa saja.”

Nawang Kucai : “tapi ada benar nya juga apa yang dikatakan Nawang putih bahwa dirinya
Memang putih dan bersih.”

Nawang Wulan : “bukan Cuma airnya saja yang bersih tapi pemandangan nya juga sangat indah.”

Nawang Merah : “ihhh, kalian sedang membicarakan apa si dari tadi

Nawang sari : (melerai) “Eh, sudah-sudah! Jadi untuk apa kita jauh-jauh turun ke bumi Cuma
untuk perdebatan ?”(muka masam)

Nawang Putih : “tentu tidak”

Nawang sari : “Kalau begitu, ayo kita cepat-cepat mandi. Sebelum menjelang sore,
pelanginya hilang, dan kita tidak bisa pulang ke khayangan !”

(7 Bidadari segera melepas selendang dan mandi)


(Tanpa diketahui, dari kejauhan ada seorang pemuda yang bernama Jaka Tarub sedang tercengang
melihat pelangi yang diujungnya terdapat 7 bidadari sedang asyik mandi dengan air yang bening di
telaga)

(Jaka Tarub bingung dengan hal yang terdapat didepannya, kemudian ditengah bebatuan terdapat 7
selendang yang sesuai dengan karakter baju masing-masing. Dia mengambil salah satunya dan
disembunyikan kedalam bajunya sambil terus memperhatikan para bidadari tanpa diketahui)

(Kemudian, setelah selesai mandi.)

Nawang Wulan : (kebingungan mencari-cari sesuatu)

Nawang Sari : “Kenapa adinda ? Apa yang dinda cari ?”

Nawang Wulan : “selendangku hilang ……………!!!!

6 Bidadari : “ Apa?, Hilang!!!!!

Nawang Wulan : (Menangis)

Nawang Putih : “ Mungkin dinda lupa menyimpannya!”

Nawang Kucai : “Iya, adinda Nawang Wulan pelupa !”

Nawang Wulan : “tidak …aku persis menyimpannya disini aku tidak mungkin lupa!”

Nawang Bombay : “Kalau begitu, kita akan membantu mencarinya bersama!”

(Semua bidadari mencari-cari selendang Nawang Wulan. Namun setelah lama mencari-cari tidak
ditemukan juga)

Nawang Sari :” Wulan, tidak ada satu pun dari kami yang menemukan selendangmu… saya
sebagai putri sulung ingin meminta maaf karena kami tidak bisa membantu kamu untuk menemukan
selendang itu.”

Nawang Wulan : “Tapi…”

Nawang Putih :”Berhubung hari sudah sore, kami semua harus pulang!”

Nawang Wulan : (Menangis)

Nawang Merah :”selamat menikmati tinggal di bumi ya !” (tersenyum sinis)

Nawang Bombay :”Sekali lagi maafkan kami Wulan.”

6 Bidadari :”Iya Wulan, selamat tinggal !” (Sambil pergi meninggalkan Nawang Wulan untuk
pulang ke khayangan)

Nawang Wulan : (Bersedih) “Aduh… bagaimana ini ? Apa yang harus saya lakukan?”

(Jaka Tarub tiba-tiba keluar dari persembunyiannya tanpa disadari Nawang Wulan yang sedang
bersedih dan kebingungan)

Jaka Tarub :(Menghampiri Nawang Wulan dan menyapanya)


“Ehm… !! Sedang apa kamu disini?”

Nawang Wulan :(Kaget) “Kamu siapa? Mau apa kesini? Tolong jangan ganggu saya! Pergi kamu
!”
Jaka Tarub :”Tenang! Saya orang baik-baik. Saya hanya ingin menolong kamu, yang sore-
sore ini dihutan sendirian!”
Nawang Wulan :”Saya percaya kalau kamu manusia baik. Baiklah, perkenalkan nama saya
Nawang Wulan!”

Jaka Tarub :”Saya Jaka Tarub sebenarnya darimana asal-usul kamu? Tolong ceritakan
kenapa kamu bisa ada disini?

Nawang Wulan :”Sebenernya saya seorang bidadari dari negeri rempah, yang tempatnya di
khayangan. Saya turun bersama 6 saudara saya tetapi ketika hendak pulang, selendang untuk pulang
hilang dan akhirnya saya di tinggal sendiri di sini. Saya tidak tau harus bagaimana, saya bingung !”

Jaka Tarub :”Kalau kamu bersedia ikut kerumah saya! tidak jauh dari sini! Disana aman,
dan tidak baik seorang gadis sendiri disini!”

Nawang Wulan :”Jika memang kamu tidak keberatan saya akan menumpang dirumah kamu
sampai saya menemukan selendang untuk pulang!”

Jaka Tarub :”Baiklah… Mari ikut saya!”

Adegan IV
(Sementara itu, ketika para bidadari sampai di khayangan)

Nawang Kucai :”Kak kita harus bagaimana?”

3 Bidadari :(Merengek pada Nawang Sari) “Iya nih kak!”

Nawang Merah :”Hm… Biarin aja si Wulan tinggal di bumi

Nawang Daun :”Kamu itu ya

Nawang Bombay :”Iya kasihan kan Wulan! Bagaimana nasibnya disana?”

Nawang Kucai :”Wulan emang penting dipikirin, tapi kita juga bagaimana mengatakan kepada
bunda ratu ?”

Nawang Sari :”Sebaiknya kita bicara saja yang sebenarnya, karena jujur itu lebih baik!”
(Akhirnya Raja dan Ratu datang, 6 bidadari mendadak murung)

Prabu Gajah Batok :”Selamat sore …… bagaimana tadi saat kamu turun ke bumi?(melirik-lirik, tetapi
tidak ada satupun yang menjawab) “Loh kok? Tapi, baiklah kita absen hari ini!”

(Para bidadari berbaris dengan rapi, Prabu Gajah Batok berkeliling sambil menyebut nama dan
menghitung)

Prabu Gajah Batok :”Nawang Sari, Nawang Merah, Nawang Putih, Nawang Bombay, Nawang
Daun, Nawang Kucai…”
“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam…”
(berfikir dan bingung) “Rasa-rasanya ada yang kurang… aneh… Oiya, putrikukan ada 7, yang ada 6
7 – 6 = 1…”

Ratu Tapas :”kalian itu bagaimana! Nawang Wulan dimana?”

Nawang Putih :”Itu dia masalahnya, Nawang Wulan ketinggalan,, eh maksudnya ketinggalan…”
Prabu Gajah Batok :”Hah memangnya kenapa? Nawang Sari! Kenapa kamu tidak bisa menjaga
adikmu …?”

Nawang sari :(hanya menunduk)

Prabu Gajah Batok :(marah) “,pokoknya ayah tidak mau tahu kalian harus mencari wulan!”(Pergi
meninggalkan 6 Bidadari)

Ratu tapas :”Bunda juga setuju… Tapi bunda sedih bagaimana nasib Wulan… kasihan dia
tinggal di bumi tanpa sanak saudara…”(menyusul Prabu Gajah Batok)

Nawang Merah :(Marah-marah sambil mengomel)


“bagaimana ini?

Nawang Daun :”Udah jalanin aja … emang ini resiko kan?”

Adegan V
(Setelah beberapa tahun, Nawang Wulan mulai nyaman dan terbiasa tinggal di bumi. Tak di sangka
ternyata ia mencintai Jaka Tarub dan begitupun sebaliknya)

Nawang Wulan :”Jaka, aku senang sekali disini”

Jaka Tarub :”Benarkah Wulan?”

Nawang Wulan :(Mengangguk)

Jaka Tarub :”Aku mencintaimu Wulan!”

Nawang Wulan :(Tersipu malu) “Aku juga…!”

Adegan VI
(Sementara itu di khayangan 6 bidadari sedang memperhatikan Wulan)

Nawang Merah :(kesal) “aduhh… Kurang ajar… Kita susah-susah disini… karena Wulan… Tapi
dia malah seneng-seneng…”

Nawang Daun :”tidak tau diri sekali tuh anak!”

Nawang Kucai :”Iya, tidak nyangka bisa kayak gini”

Nawang Sari :” Harus bagaimana lagi, mungkin ini takdirnya!”

Nawang Merah :”Selalu aja kakak bela si Wulan ribet itu… “(sambil pergi, disusul oleh 4 bidadari
lainnya)

Nawang Sari :(Menghela napas) “Hm…………….…”


Adegan VII
Nawang Wulan :(Membereskan kamar Jaka Tarub)
(Tiba-tiba disebuah tempat, ia menemukan selendangnya)
(terkejut)
“Inikan selendangku… jadi selama ini…!”

Adegan VIII
Jaka Tarub :(Santai disuatu ruangan)

Nawang Wulan :(datang tiba-tiba) “Jaka… selama ini kamu sudah bohongi aku?… kamu jahat !!”
(Menampar Jaka Tarub dan pergi untuk pulang ke khayangan)

Jaka Tarub :(Mengejar) “Wulan tunggu…” (Menarik tangan Wulan)

Nawang Wulan :”Jangan sentuh aku! Aku akan pulang” (pergi)

Jaka Tarub :”Wulaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!”

Adegan IX
(Sampai di Khayangan)

Nawang Wulan :”Ayah…. Bunda….. Kakak….. Wulan pulang!!”

Nawang Merah :(Mencegah masuk)”Heh… dasar gak tau diri… udah nyusahin, masih berani
pulang kesini!”

Nawang Wulan :”Tapi kak, Wulan…”

Nawang Merah :”tidak ada tapi-tapi… pergi…!”

(Prabu Gajah Batok dan semua keluarga menghampiri sumber keributan)

Prabu Gajah Batok :”Ada apa ini ribut-ribut?”

Ratu tapas :”Nawang Wulan… putriku sayang!”

Nawang Wulan :”Ayah, Ibu, Saudra-saudaraku…!!”


(ketika hendak melepas kerinduan dengan keluarganya kemudian prabu mencegah dan menyuruh
duduk pada semua keluarga )

Prabu Gajah Batok :”Maaf Nawang Wulan putriku.. kamu tidak bisa tinggal bersama kami lagi

Nawang Wulan :”Ayah… apa tidak ada kesempatan lagi?”

Prabu Gajah Batok :”Sudah terlalu lama kamu tinggal di bumi… dan kamu saling mencintai dengan
pemuda dari bumi… itu sudah menjadi suatu pantangan…”

Nawang Sari :”Bukankah kamu mencintainya? Kembalilah kebumi dinda! Janganlah ada salah
satu dari kita yang menyakiti manusia!”
Nawang Wulan :(Menunduk) “Baiklah jika itu yang harus saya lakukan… saya akan jalankan
sebaik mungkin!”

Ratu Tapas ;”Pergilah nak… jika kamu merindukan kami, maka tunggulah pelangi yang
datang!.. Dan kamu dapat menemui kami disana!”
(Nawang Wulan pun kembali ke bumi)

Adegan X
Jaka Tarub :(Melamun)

Nawang Wulan :”Jaka, aku kembali demi kamu dan keluargaku… aku akan mencintaimu dan
mendampingimu selamanya!!”

Jaka Tarub :(Kaget) ”Benarkah itu Wulan? Apa kamu sunggguh-sungguh?”

Nawang Wulan :(Mengangguk)”iya”

Jaka Tarub :”Terimakasih Wulan! Aku janji akan mejaga serta membahagiakan mu
selamanya…!!”

(Akhirnya Jaka Tarub Dan Nawang Wulan hidup bahagia selamanya)