Anda di halaman 1dari 22

BAB II

POLA PENDIDIKAN KARAKTER PADA PESERTA DIDIK

A. Pola Pendidikan Karakter

1. Pengertian pendidikan karakter

Belakangan ini persoalan pentingnya pendidikan karakter dalam

sistem pendidikan nasional sering diangkat dalam wacana publik. Wacana

publik ini berisi kritik terhadap pendidikan yang selama ini lebih

mengutamakan pengembangan kemampuan intlektual akademis

dibandingkan aspek yang fundamental, yaitu pengembangaan karakter.

Seseorang yang kemampuan intlektual yang tinggi dapat menjadi orang

yang tidak berguna atau bahkan membahayakan masyarakat kalau

karakternya rendah.1

Secara etimologis istilah karakter berasal dari bahasa latin

Character yang berarti watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti,

kepribadian dan akhlak.2 Jadi secara bahasa karakter merujuk pada sifat

atau watak yang dimiliki seseorang. Dalam kajian lain, kata karakter

berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “ to mark” (menandai) dan

memfokuskan pada bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam

1
Novan Ardy Wiyani, Membumikan Pendidikan Karakter di SD: Konsep
Praktik dan Strategi (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hlm. 23.
2
Agus Zainul Fitri, Pendidikan Karakter berbasis Nilai & Etika di Sekolah
(Jogjakarta: Ar Ruzz Media, 2011), hlm. 20.

19
20

bentuk tindakan atau tingkah laku. Lebih lanjut lagi seseorang bisa disebut

berkarakter apabila perilakunya sesuai dengan kaidah moral.3

Menurut Thomas Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral

(moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral

behavior).4 Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakan bahwa

karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan,

keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan.

Berkaitan dengan hal ini dia juga mengemukakan: Character education is

the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon

core ethical values” (Pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar)

untuk membantu manusia memahami, peduli tentang, dan melaksanakan

nilai-nilai etika inti). Bahkan dalam buku Character Matters dia

menyebutkan: Character education is the deliberate effort to cultivate

virtue—that is objectively good human qualities—that are good for the

individual person and good for the whole society (Pendidikan karakter

adalah usaha sengaja (sadar) untuk mewujudkan kebajikan, yaitu kualitas

kemanusiaan yang baik secara objektif, bukan hanya baik untuk individu

perseorangan, tetapi juga baik untuk masyarakat secara keseluruhan).5

Karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas

tiap individu untuk hiidup dan bekerja sama, baik dalam lingkungan

3
Arismantoro, Tinjauan Berbagai Aspek Character Building: Bagaimana
Mendidik Anak Berkarakter (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008), hlm. 28.
4
Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam dunia
Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2011) hlm. 69.
5
Thomas Linckona, Characters Matters: Persoalan Karakter, Terj. Juma Wadu
Wamaungu & Jeans Antunes Rudlof Zien dan Editor Uyu Wahyuddin dan Suryani
(Jakarta: Bumi Aksara, 2012), hlm. 5.
21

keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang dapat membuat

keputusan dan siap dipertanggung jawabkan setiap akibat dari

keputusannya.6

Karakter dipengaruhi oleh hereditas. Perilaku seseorang anak

sering kali tidak jauh dari perilaku ayah atau ibunya. Kecuali itu

lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam yang

membentuk karakter. Hal ini berarti bahwa perkembangan karakter anak

dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor intern merupakan faktor yanga da

dalam diri anak tersebut yaitu faktor ekstern yakni faktor lingkungan baik,

lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat yang ikut

mempengaruhi perkembangan karakter anak.7

Pendidikan karakter adalah usaha aktif untuk membentuk

kebiasaan (tabiat) sehingga sikap siswa akan terukir sejak dini, agar dapat

mengambil keputusan dengan baik dan bijak serta mempraktikannya

dalam kehidupan sehari-hari.8

Pendidikan karakter dapat dipahami sebagi upaya penanaman

kecerdasan dalam berpikir, penghayatan dalam bentuk sikap, dan

pengalaman dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai luhur

yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam interaksi dengan Tuhannya,

diri sendiri, antar sesama dan lingkungannya. Nilai-nilai luhur tersebut

antara lain: kejujuran, kemandirian, sopan santun, kemuliaan sosial,

6
Muchlas Samani dan Hariyanto, Pendidikan Karakter: Konsep dan Model
(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 41.
7
Ibid, hlm. 43
8
Agus Zainal Fitri, Op. cit., hlm. 20.
22

kecerdasan berpikir termasuk kepanasaran akan intlektual dan berpikir

logis. Oleh karena itu penanaman pendidikan karakter tidak bisa hanya

sekedar mentransfer ilmu pengetahuanatau melatih suatu ketrampilan

tertentu. Penanaman pendidikan karakter perlu proses, contoh teladan, dan

pembiasaan atau pembudayaan dalam lingkungan peserta didik dalam

lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, maupun lingkungan media

masa.9

Fakry Gaffar mengatakan, pendidikan karakter adalah sebuah

proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk tumbuh kembangkan

dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam kehidupan

seseorang sehingga menjadi satu dalam kehidupan orang itu. Dalam

definisi tersebut ada tiga pemikiran penting, yaitu transformasi, ditumbuh

kembangkan dalam kepribadian dan menjadi salah satu dalam perilaku.10

Lalu menurut Screnco pendidikan karakter dapat dimaknai sebagi upaya

sungguh-sungguh dengan cara, ciri kepribadian positif dikembangkan,

didorong dan diberdayakan melalui keteladanaan, kajian serta praktik

emulasi.11

Dalam konteks kajian P3 mendefinisikan pendidikan karakter

setting sekolah sebagai pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan

9
Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter: Konspsi dan Aplikasinya dalam
Lembaga Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 17.
10
Dharma Kusuma, dkk, Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktek di
Sekolah (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011), hlm. 5
11
Muclas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter
(Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2011), hlm. 45.
23

pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai

tertentu yang dirujuk oleh sekolah.

Definisi ini mengandung makna sebagai perilaku:

a. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang terintegrasi dengan

pembelajaran yang terjadi pada semua mata pelajaran.

b. Pendidikan karakter diarahkan pada pengembangan perilaku anak

secara utuh. Asumsi yang dikemukakan ialah anak merupakan

manusia yang memiliki potensi untuk dikuatkan an dikembangkan.

c. Penguatan pengembangan perilaku dalam pendidikan karakter didasari

oleh nilai yang dirujuk di sekolah.

Jadi pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada

peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam

dimensi hati, dipikir, raga serta rasa dan karsa. Pendidikan karakter dapat

dimaknai dengan pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan

moral, pendidikan watak, yang bertujaun untuk memberikan keputusan

baik- buruk memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan dalam

kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.12

2. Tujuan pendidikan karakter

Adapun tujuan pendidikan karakter adalah untuk meningkatkan

mutu penyelengaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada

pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara

utuh, terpadu, dan seimbang. Melalui pendidikan karakter diharapkan

12
Dharma Kusuma, Op. cit., hlm. 6.
24

peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan

pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi

nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku

sehai-hari. Pada tingkat institusi, pendidikan karakter mengarah pada

pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku,

tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang di praktikan oleh

semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah

merupakan ciri khas, karakter atau watak dan citra sekolah tersebut di

mata masyarakat luas.13

Secara operasional tujuan pendidikan karakter dalam setting

sekolah sebagai berikut:14

1) Menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap

penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian kepemilikan peserta

didik yang khas sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan.

Tujuan pertama pendidikan karakter adalah memfasilitasi

penguatan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud

dalam perilaku anak, baik pada saat masih bersekolah maupun setelah

lulus. Pengutan dan pengembangan memiliki makna bahwa

pendidiakan dalam setting sekolah bukan merupakan dogmatisasi nilai,

tetapi sebuah proses yang membawa peserta didik agar memahami dan

merefleksi pentingnya mewujudkan nilai-nilai dalam perilaku

13
Mansur Muslich, Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan krisis
Multidimensional (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 81.
14
Doni Kusuma, Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah
(Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011), hlm. 9-11.
25

keseharian. Penguatan juga mengarahkan proses pendidikan pada

proses pembiasaan yang dilakukan, baik dalam setting kelas maupun

sekolah. Penguatan pun memiliki makna adanya hubungan antara

penguatan perilaku melalui pembiasaan di sekolah maupun di rumah.

Berdasarkan kerangka hasil pendidikan karakter setting sekolah pada

setiap jenjang, lulusan sekolah akan memiliki sejumlah perilaku khas

sebagaimana nilai yang dijadikan rujukan sekolah tesrsebut. Asumsi

yang terkandung dalam tujuan pertama adalah penguasaan akademik

diposisikan sebagi media atau sarana untuk menapai tujuan penguatan

dan pengembangan karakter. Dengan kata lain sebagai tujuan perantara

untuk terwujudnya suatu karakter. Hal ini berimplikasi bahwa proses

pendidikan harus dilakukan secara kontekstual.

2) Mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-

nilai yang dikembangkan oleh sekolah.

Tujuan kedua pendidikan karakter di sekolah adalah mengkoreksi

perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang

dikembagkan sekolah. Tujuan ini memiliki makna bahwa tujuan

pendidikan karakter memiliki sasaran untuk meluruskan perilaku

negatif anak menjadi positif. Proses penelusuran yang dimaknai

sebagai pengkoreksian perilaku, dipahami sebagai proses pedagogis

bukan suatu pemaksaan atau pengondisian yang tidak mendidik. Proses

pedagogi dalam pengkoreksian perilaku negatif diarahkan pada pola

pikir anak. Kemudian dibarengi dengan keteladanan lingkungan


26

sekolah dan rumah selanjutnya proses pembiasaan berdasarkan tingkat

dan jejang sekolahnya.

3) Membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat

dalam memerankan tanggung jawab karakter bersama.

Tujuan ketiga dalam pendidikan karakter setting sekolah adalah

membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat

dengan memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara

bersama. Tujuan ini bermakna bahwa karakter di sekolah harus

dihubungkan dengan proses pendidikan di keluarga. Jika pendidikan di

sekolah hanya bertumpu pada interaksi antara peserta didik dengan

guru di kelas dan sekolah, maka pencapaian karakter yang diharapkan

akan sulit tercapai. Disebabkan penguatan perilaku merupakan suatu

hal yang holistik/ menyeluruh, bukan suatu rentang waktu tertentu

pada masa usia annak. Dalam setiap ment dan detik, interaksi anak

dengan lingkungannya dapat dipastikan akan terjadi proses

mempengaruhi perilaku anak.

3. Prinsip dan ciri pendidikan karakter

Dalam praktiknya Lickona menemukan sebelas prinsip agar

pendidikan karakter dapat berjalan efektif. Kesebelas prinsip tersebut

adalah sebagai berikut:15

15
Mansur Muslich, Op. cit., hlm. 129
27

1) Pendidikan karakter harus mengandung nilai-nilai yang dapat

membentuk ” good character”, karakter yang baik.

2) Karakter harus didefinisikan secara menyeluruh yang termasuk aspek

“thinking, feeling and action”.

3) Pendidikan karakter yang efektif memerlukan pendekatan

komprehensif dan terfokus dari aspek guru sebagai “role model”,

disiplin sekolah, kurikulum, proses pembelajaran, manajemen kelas

dan sekolah, integrasi materi karakter dalam seluruh aspek kehidupan

kelas, kerjasama orang tua, masyarakat dan sebagainya.

4) Sekolah harus menjadi model “masyarakat yang damai dan

harmonis”. Sekolah merupakan miniatur dari bagaimana seharusnya

kehidupan dimasyarakat, di mana masing-masing individu dapat

saling menghormati, bertanggung jawab, saling peduli dan adil. Hal

ini dapat diciptakan dengan berbagai cara yang tersedia pada buku-

buku petunjuk pendidikan karakter.

5) Untuk mengembangkan karakter, para murid memerlukan kesempatan

untuk mempraktekkannya; bagaimana berprilaku moral. Misalnya,

bagaimana berlatih untuk bekerja sosial (memberikan sumbangan

kepanti asuhan, panti werda, membersikan lingkungan dan

sebagainya), menyelesaikan konflik, berlatih menjadi individu yang

bertanggung jawab dan sebagainya.

6) Pendidikan karakter yang efektif harus mengikutsertakan materi

kurikulum yang berarti bagi kehidupan anak atau berbasis kompetensi


28

(life skill) sehingga anak merasa mampu menghadapi dan

memecahkan masalah kehidupan.

7) Pendidikan karakter harus membangkitkan motivasi internal dari diri

anak, misalnya dengan membangkitkan rasa bersalah pada diri anak

kalau mereka melakukan tindakan negatif atau membangkitkan rasa

empati anak agar sensitif terhadap kesulitan orang lain.

8) Seluruh staf sekolah harus terlibat dalam pendidikan karakter. Peran

kepala sekolah sangat besar dalam memobilisasi staf untuk menjadi

bagian dari proses pendidikan karakter.

9) Pendidikan karakter di sekolah memerlukan kepemimpinan moral dari

berbagai pihak; pimpinan, staf dan para guru.

10) Sekolah harus bekerja sama dengan orang tua murid dan masyarakat

sekitarnya (Peran Komite Sekolah).

11) Harus ada evaluasi berkala mengenai keberhasilan pendidikan

karakter di sekolah. Sekolah harus mempunyai standar keberhasilan

dari keberhasilan pendidikan karakter, yang mencakup aspek

bagaimana perkembangan guru/staf sebagai pendidik karakter dan

bagaimana perkembangan karakter murid-murid. Khusus untuk

guru/staf sebagai model “person of character” adalah sangat krusial

terhadap keberhasilan pendidikan karakter di sekolah.

Adapun ciri pendidikan karakter Menurut froster pencetus

pendidikan karakter ada empat ciri dasar dalam pendidiakan karakter.

Pertama: keteraturan interior dimana setiap tindakan diukur berdasarkan


29

hierarki nilai . nilai mejadi pedoman normatif setiap tindakan. Kedua:

koherensi yang memberanian seseorang, membuat seseorang teguh pada

prinsipnya tidak mudah terombang-ambing pada posisi baru dan takut

resiko. Koherensi merupakan dasar yang mebnagun rasa percaya diri satu

sama lain, tidak adanya koherensi melunturkan kredibilitas sesorang.

Ketiga: otonomi. Disitu sesorang menginternalisasikan aturan dari luar

sampai menjadi nilai-nilai pribadi. Keempat: ketanguhan dan kesetiaan.

Ketanguhan menjadi daya tahan seseorang guna mengingini apa yang di

pandang baik, dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas

komitmen yang di pilih.16

4. Metode pendidikan karakter

Kata metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu meta dan hodos.

Meta berarti melalui sedangkan hodos berarti jalan atau cara. Dalam

bahasa Arab kata metode dikenal dengan istilah Thariqah yang berarti

langkah-langkah yang diambil seorang pendidik guna membantu peserta

didik merealisasikan tujuan tertentu. Dengan demikian dapat dipahami

bahwa metode pendidikan karakter berarti cara yang digunakan untuk

melaksanakan pendidikan karakter agar tercapai sesuai dengan tujuan yang

dikehendaki.17

Adapun metode pendidikan karakter menurut Noeng Muhadjir

pendidikan karakter atau nilai dapat diselengarakan menggunakan metode

16
Masnur Muslich, Op. Cit., hlm. 127-128.
17
Novan Ardy Wiyani, Op. cit., hlm. 38-39.
30

dogmatis, metode deduktif, metode induktif dan metode reflektif. Adapun

pengertian beberapa metode tersebut sebagai berikut:18

a. Metode dogmatis

Metode dogmatis adalah metode untuk mengajarkan nilai kepada

peserta didik dengan jalan menyajikan nilai-nilai kebaikan dan

kebenaran yang harus di terima apa adanya tanpa mempersoalkan

hakikat kebaikan dan kebenaaran itu sendiri.

b. Metode deduktif

Metode deduktif adalah cara menyajikan nilai-nilai kebenaran

(keutuhan dan kemanusiaan) dengan jalan menguraikan konsep tentang

kebenaran itu agar dipahami peserta didik. Metode ini bertolak dari

kebenaran sebagai teori atau konsep yang memiliki nilai-nilai baik,

selanjutnya ditarik beberapa contoh kasus terapan daalm kehidupan

sehari-hari di mayarakat atau ditarik kedalam nilai-nilai yang lebih

khusus atau sempit ruang lingkupnya.

c. Metode Induktif

Metode induktif adalah membelajarkan nilai dimulai dengan

mengenalkam kasus-kasus dalam kehidupan sehari-hari kemudian

ditarik maknanya secara hakiki tentang nilai-nilai kebenaran yang

berada dalam kehidupan tersebut.

18
Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam
Dunia Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 231-232.
31

d. Metode Reflektif

Metode reflektif adalah gabungan dari metode induktif dan

deduktif. Yakni mebelajarkan nilai dengan jalan memberikan konsep

secara umum tentang nilai-nilai kebenaran kemudian melihatnya dalam

kasus sehari-hari atau melihat dari kasus-kasus sehari-hari di

kembalikan dalam kasus-kasus teoritisnya secara umum.

Doni A. Kusuma mengajukan 5 (lima) metode pendidikan karakter

(dalam penerapan di lembaga sekolah) yaitu mengajarkan, keteladanan,

menentukan prioritas, praktis prioritas dan refleksi.19

a. Mengajarkan.

Pemahaman konseptual tetap dibutuhkan sebagai bekal konsep-

konsep nilai yang kemudian menjadi rujukan bagi perwujudan karakter

tertentu. Mengajarkan karakter berarti memberikan pemahaman pada

peserta didik tentang struktur nilai tertentu, keutamaan, dan

maslahatnya. Mengajarkan nilai memiliki dua faedah, pertama,

memberikan pengetahuan konseptual baru, kedua, menjadi

pembanding atas pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik.

Karena itu, maka proses mengajarkan tidaklah monolog, melainkan

melibatkan peran serta peserta didik

b. Keteladanan.

Manusia lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat.

Keteladanan menepati posisi yang sangat penting. Guru harus terlebih

19
Doni A Kusuma, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman
Global (Jakarta: PT. Grasindo), hlm. 212-217.
32

dahulu memiliki karakter yang hendak diajarkan. Peserta didik akan

meniru apa yang dilakukan gurunya ketimbang yang dilaksanakan

sang guru. Keteladanan tidak hanya bersumber dari guru, melainkan

juga dari seluruh manusia yang ada dalam lembaga pendidikan

tersebut. Juga bersumber dari orang tua, karib kerabat, dan siapapun

yang sering berhubungan dengan peserta didik. Pada titik ini,

pendidikan karakter membutuhkan lingkungan pendidikan yang utuh,

saling mengajarkan karakter.

c. Menentukan prioritas.

Penentuan prioritas yang jelas harus ditentukan agar proses

evaluasi atas berhasil atau tidak nya pendidikan karakter dapat menjadi

jelas, tanpa prioritas, pendidikan karakter tidak dapat terfokus dan

karenanya tidak dapat dinilai berhasil atau tidak berhasil. Pendidikan

karakter menghimpun kumpulan nilai yang dianggap penting bagi

pelaksanaan dan realisasi visi lembaga. Oleh karena itu, lembaga

pendidikan memiliki kewajiban. Pertama, menentukantuntutan

standar yang akan ditawarkan pada peserta didik. Kedua, semua

pribadi yang terlibat dalam lembaga pendidikan harus memahami

secara jernih apa nilai yang akan ditekankan pada lembaga pendidikan

karakter ketiga. Jika lembaga ingin menentukan perilaku standar yang

menjadi ciri khas lembaga maka karakter lembaga itu harus dipahami

oleh anak didik , orang tua dan masyarakat.


33

d. Praksis prioritas.

Unsur lain yang sangat penting setelah penentuan prioritas

karakter adalah bukti dilaksanakan prioritas karakter tersebut.

Lembaga pendidikan harus mampu membuat verifikasi sejauh mana

prioritas yang telah ditentukan telah dapat direalisasikan dalam

lingkungan pendidikan melalui berbagai unsur yang ada dalam

lembaga pendidikan.

e. Refleksi.

Berarti dipantulkan kedalam diri. apa yang telah dialami masih

tetap terpisah dengan kesadaran diri sejauh ia belum dikaitkan,

dipantulkan dengan isi kesadaran seseorang. Refleksi juga dapat

disebut sebagai proses bercermin, mematut-matutkan diri ada

peristiwa/konsep yang telah teralami.

5. Pilar pendidikan karakter

Pendidikan karakter tanpa identifikasi pilar-pilar karakter, hanya

akan menjadi sebuah perjalanan tanpa akhir, petualangan tanpa peta.

Organisasi manapun yang berpengaruh di dunia ini, yang mempunyai

perhatian besar pada pendidikan karakter seharusnya mampu

mengidentifikasi karakter-karakter dasar yang menjadi pilar-pilar perilaku

individu. Heritage Foundation merumuskan sembilan karakter dasar yang

menjadi tujuan pendidikan karakter. Kesembilan karakter tersebut antara

lain: Cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya, Tanggug jawab,
34

disiplin, dan mandiri, Jujur, Hormat dan santun, Kasih sayang, peduli dan

kerja sama, Percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah,

Keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, Toleransi, cinta damai

dan persatuan.20

Kemudian Ari Ginanjar Agustian dengan teori ESQ menyodorkan

pemikiran bahwa setiap karakter positif sesungguhnya akan merujuk pada

sifat-sifat mulia Allah swt. yaitu Asmaul Husna inilah sumber sejati

karakter yang bisa diteladani dari Asmaul Husna, Ari merangkum dalam

tujuh karakter dasar yaitu:Jujur, Tanggung jawab, Disiplin, Visioner, Adil,

Peduli, Kerjasama.21

Adapun menurut Azra dalam mewujudkan pendidikan karakter

tidak dapat dilakukan tanpa penanaman nilai-nilai. Terdapat sembilan pilar

karakter yang berasala dari nilai-nilai luhur Universal yaitu pertama,

karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaa-Nya. Kedua kemandirian dan

tanggung jawab, ketiga, kejujuran, diplomatis, keempat, hormat dan

santun, keenam, percaya diri dan pekerja keras, ketujuh kepemimpinan dan

keadilan, kedelapan, baik dan rendah hati, kesembilan, karakter toleransi,

kedamaian dan kesatuan.22

20
Novan Ardy Wiyani. Op. cit., hlm. 49.
21
Ibid,. hlm. 50.
22
Masnur Muslich, Op.cit., hlm. 77-78.
35

B. Konsep Peserta didik

1. Pengertian peserta didik

Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah peserta

didik. Dalam dunia pendidikan peserta didik merupakan subyek

pendidikan dan obyek pendidikan. Oleh karena itu aktivitas kependidikan

tidak akan terlaksana tanpa adanya peserta didik di dalamnya. Dalam

paradigma pendidikan Islam peserta didik merupakan orang yang belum

dewasa dan memiliki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang perlu di

kembangkan. Disini pseserta didik merupakan makhluk Allah yang

memiliki fitrah jasmani maupun rohani yang belum mencapai taraf

kematangan baik bentuk, ukuran, maupun pertimbangan pada bagian-

bagian lainnya. Dari segi rohaniah peserta didik memiliki bakat, kehendak,

perasaan dan pikiran yang dinamis yang perlu dikembangkan.23

Dalam konteks pendidikan, kita menemukan beberapa istilah yang

dipakai dalam menyebut anak didik, diantaranya adalah murid, peserta

didik, dan anak didik. Semua istialh tersebut mempunyai implikasi yang

berbeda.

Sebutan peserta didik yakni sebutan yang paling mutakhir. Istilah

ini menekankan pentingnya murid berpartisipasi dalam proses

pembelajaran. Dalam sebutan ini aktivitas pelajar dalam proses

23
Al-Rasyidin, H. Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat
Press, 2005), hlm. 47.
36

pembelajaran. Dalam sebuatan ini aktivitas pelajar dalam proses

pembelajaran dianggap salah satu kunci.24

Peserta didik adalah angota masyarakat yang berusaha

mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia

pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.25

Peserta didik menurut Hasan Langgulung adalah manusia yang

belajar dimana ia mempunyai fitrah, ruh, jiwa dan akal yang harus

dikembangkan sehingga terbentuk menjadi pribadi khalifah sebagi wujud

pengabdian kepada Tuhan.26

Peserta didik menurut Sutari Imam Barnadib adalah seorang anak

manusia yang mengalami proses pendidikan. Ia selalu mengalami

perkembangan sejak terciptanya sampai meninggalnya dengan proses

perubahan-perubahan yang terjadi secara wajar.27

Dari keterangan diatas dapat dipahami bahwa peserta didik orang

yang berusaha mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya melalui

kegiatan pembelajaran yang ada. Dimana peserta didik dalam hal ini

sebagai subyek dan obyek pendidikan yang perlu di bimbing oleh orang

lain. Sebagai individu yang tengah mengalami fase perkembangan, tentu

peserta didik tersebut masih banyak memerlukan bantuan, bimbingan dan

24
Heri Gunawan, Pendidikan Islam: Kajian Teoritik dan Pemikiran Tokoh
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 208.
Wiji Suarno, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Yogyakarta:AR Ruzz Media,
2013), hlm. 36.
26
Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi,
Filsafat dan Pendidikan (Jakarta: Pustaka al-husna, 1989), hlm. 166.
27
Jasa Ungguh Muliawan, Epistimoligi Pendidikan (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2008), hlm.140.
37

arahan untuk menuju kesempurnaan. Hal ini dapat dicontohkan ketika

seorang peserta didik berada pada usia balita seorang selalu banyak

mendapat bantuan dari orang tua ataupun saudara yang lebih tua. Dengan

demikian dapat di simpulkan bahwa peserta didik merupakan barang

mentah (raw material) yang harus diolah dan bentuk sehingga menjadi

suatu produk pendidikan.

Berdasarkan hal tersebut secara singkat dapat dikatakan bahwa

setiap peserta didik memiliki eksistensi atau kehadiran dalam sebuah

lingkungan, seperti halnya sekolah, keluarga, pesantren bahkan dalam

lingkungan masyarakat. Dalam proses ini peserta didik akan banyak sekali

menerima bantuan yang mungkin tidak disadarinya.

2. Sifat dan etika peserta didik

Dalam pendidikan Islam seorang peserta didik tidak sembarangan

dalam menuntut ilmu, akan tetapi ia harus memiliki sifat-sifat dan kode

etik tertentu yang merupakan suatu kewajiban yang mesti dilaksankan

dalam proses pembelajaran baik secara langsung maupun tidak

langsung. Husain Bahreisi dengan mengutip pendapat Al- Ghazali

merumuskan beberapa pokok kode etik peserta didik,28 yaitu:

a. Belajar dengan niat untuk taqarub kepada Allah SWT sehingga dalam

kehidupan sehari-hari anak didik di tuntut untuk senantiasa

menyucikan jiwanya dari akhlak yang rendah dan watak yang tercela.

28
Ibid,. hlm. 221-222.
38

b. Mengurangi kecenderungan pada duniawi dibandingkan masalah

ukhrawi.

c. Bersikap tawadhu (rendah hati) dengan cara menanggalkan

kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidiknya.

d. Menjaga pikiran dan pertentangan yang timbul dari berbagai aliran.

e. Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji, baik untuk ukhrawi maupun

duniawi.

f. Belajar dengan bertahap dan berjenjang dengan memulai pelajaran

yang mudah menuju pelajaran yang sukar, atau dari ilmu yang fardhu

ain menuju fardhu kifayah.

g. Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang

lainnya, sehingga anak didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan

secara mendalam.

h. Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.

i. Anak didik harus tunduk pada nasihat pendidik.

Pendapat Imam Al-Ghazali mengenai sifat-sisat seorang peserta

didik adalah sebagai berikut:29

1. Seorang pelajar harus membersihkan jiwanya terlebih dahulu dari

akhlak yang buruk dan sifat-sifat tercela.

2. Seorang pelajar hendaknya tidak banyak melibatkan diri dalam urusan

duniawi.

29
Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Murid dan Guru
(Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2010), hlm. 106-108.
39

3. Seorang pelajar jangan menyombongkan diri dengan ilmu yang

dimilikinya dan jangan pula banyak memerintah guru.

4. Bagi pelajar permulaan jangan melibatkan atau mendalami perbedaan

pendapat para ulama’, karena yang demikian itu dapat menimbulkan

prasangka buruk, keragu-raguan dan kurang percaya pada kemampuan

guru.

5. Seorang pelajar jangan berpindah dari suatu ilmu yang terpuji kepada

cabang-cabangnya kecuali setelah ia memahami pelajaran sebelumnya,

mengingat bahwa berbagai macam ilmu itu saling berkaitan satu sama

lain.

6. Seorang pelajar jangan menenggelamkan diri pada satu bidang ilmu

saja melainkan harus menguasainya ilmu pendukung lainnya.

7. Seorang pelajar jangan melibatkan diri terhadap pokok bahasan

tertentu, sebelum melengkapi pokok bahasan lainnya yang menjdi

pendukung tersebut.

8. Seorang pelajar agar mengetahui sebab-sebab yang dapat menimbulkan

kemuliaan ilmu.

9. Seorang pelajar agar dalam mencari ilmunya didasarkan pada upaya

untuk menghias batin dan mempercantiknya dengan berbagai

keutamaan.

10. Seorang pelajar harus mengetahui hubungan macam-macam ilmu dan

tujuannya.
40

Jika diperhatikan seksama, tampak bahwa pandangan Imam Al-

Ghazali terhadap akhlak pelajar bersifat sufistik, seperti terlihat pada

keharusan berniat mencari ilmu semata-mata untuk beribadah kepada

Allah SWT, bersikap zuhud dan memuliakan ilmu akhirat.30

30
Ibid., 108..