Anda di halaman 1dari 38

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke Hadlirat Allah SWT, bahwa hanya karena dengan
Rahmat-NYA Manual Mutu Puskesmas Grobogan dapat kami susun.

Manual Mutu Puskesmas Grobogan Kabupaten Grobogan merupakan acuan dalam


upaya peningkatan mutu penyelenggaraan upaya pelayanan kesehatan di Puskesmas.

Dalam era Jaminan Kesehatan Nasional, masyarakat dapat memilih fasilitas


kesehatan tingkat pertama yang sesuai dengan kebutuhan dan kepuasan mereka.
Puskesmas harus dapat memberikan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar
pelayanan. Oleh karen aitu puskesmas dituntut untuk selalu meningkatkan mutu
penyelenggaraan pelayanan puskesmas baik dalam administrasi manajemen puskesmas,
pelayanan klinis maupun pelayanan program puskesmas.

Terima kasih kami sampaikan kepada pihak-pihak yang ikut terlibat dalam
penyusunan Manual Mutu Puskesmas Grobogan Kabupaten Grobogan. Semoga dapat
bermanfaat dalam upaya mempercepat terwujudnya pelayanan kesehatan yang
berkualitas bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Grobogan, Februari 2016

0
PEDOMAN/ MANUAL MUTU
PUSKESMAS GROBOGAN KABUPATEN GROBOGAN

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
1. Profil Organisasi
a. Gambaran Umum Puskesmas
Puskesmas Grobogan terletak di jalan P.Puger No 160 Kecamatan Grobogan,
Kabupaten Grobogan dengan luas dari barat ke timur kurang lebih 13,00 km dan
dari utara ke selatan kurang lebih 15,00 km dengan luas wilayah kerja 10.456,41
Km yang merupakan luas wilayah kecamatan Grobogan karma Puskesmas
Grobogan merupakan satu-satunya Puskesmas di wilayah Kecamatan Grobogan
dengan Jumlah penduduk 74.606 jiwa. Secara geografis Kecamatan Grobogan
masuk dalam wilayah Kabupaten Grobogan dengan batas wilayah sebagai
berikut: Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Brati, Sebelah Timur
berbatasan dengan Kecamatan Tawangharjo, Sebelah Selatan berbatasan dengan
Kecamatan Purwodadi dan Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Sukolilo
kabupaten Pati. Wilayah kerja Puskesmas Grobogan terdiri dari 12 desa, dapat
dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 1
Wilayah Kerja Puskesmas Grobogan
KODE DESA NAMA DESA JARAK TEMPUH
1 Getasrejo 5 Km
2 Rejosari 8 Km
3 Tanggungharjo 6 Km
4 Teguhan 4 Km
5 Ngabenrejo 3 Km
6 Grobogan ± 1 Km
7 Karangrejo 2 Km
8 Putatsari 5 Km
9 Lebak 9 Km
10 Lebengjumuk 12 Km
11 Sedayu 10 Km

1
12 Jatipohon 6 Km
Sejak berdiri sampai sekarang puskesmas Grobogan telah mengalami beberapa
peningkatan baik fisik bangunan, sarana dan prasarana Puskesmas hingga
peningkatan jumlah Sumber daya manusianya. Semula pada tahun. 1975
Puskesmas Grobogan hanya memberikan pelayanan dasar kemudian sejak tahun
2007 mulai melakukan diversifikasi layanan kesehatan berupa pelayanan rawat
inap dengan kapasitas 14 pasien. Tahun 2015 mulai memberikan pelayanan
pertolongan persalinan di Puskesmas.
Sarana yang tersedia meliputi fasilitas sarana pelayanan Rawat jalan (medis
dan keperawatan), Rawat Inap, dan Persalinan. Kegiatan yang direncanakan
adalah kegiatan upaya kesehatan wajib yaitu upaya yang ditetapkan berdasarkan
komitmen nasional, regional dan global serta yang mempunyai daya ungkit tinggi
untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Upaya kesehatan wajib ini harus di selenggarakan oleh Puskesmas Grobogan,
yaitu :
1. Upaya Promosi Kesehatan ( penyebarluasan informasi kesehatan )
2. Upaya Kesehatan Lingkungan
3. Upaya kesehatan ibu dan anak Berta KB
4. Upaya perbaikan gizi masyarakat
5. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
Selain dari upaya wajib juga ada upaya kesehatan pengembangan yaitu kesehatan
remaja / PKPR. Adapun kegiatannya dilaksanakan didalam maupun di luar
gedung puskesmas.
b. Visi Puskesmas
Visi berkaitan dengan pandangan ke depan menyangkut ke mana instansi
pemerintah harus dibawa dan diarahkan agar dapat berkarya secara konsisten dan
tetap eksis, antisipatif, inovatif, serta produktif. Visi adalah suatu gambaran
menantang tentang keadaan masa depan yang berisikan cita dan citra yang ingin
diwujudkan instansi pemerintah. Puskesmas Grobogan mempunyai visi sebagai
berikut: "Terwujudnya kecamatan Grobogan yang Sehat"

c. Misi Puskesmas
Misi adalah sesuatu yang harus diemban atau dilaksanakan oleh instansi
pemerintah, sebagai penjabaran visi yang telah ditetapkan. Dengan pernyataan
mini diharapkan seluruh anggota organisasi dan pihak yang berkepentingan dapat
mengetahui dan mengenal keberadaan dan peran instansi pemerintah dalam
2
penyelenggaraan pemerintahan. Untuk mencapai visi "Terwujudnya Kecamatan
Grobogan yang Sehat" Puskesmas Grobogan menetapkan Misi sebagai berikut:
1. Menjadikan Puskesmas Grobogan sebagai pelayanan yang utama di
kecamatan Grobogan
Yang mengandung makna, Puskesmas Grobogan harus menjadi sarana
pelayanan kesehatan yang nomor satu diminati dan dipercaya sebagai pemberi
pelayanan kesehatan di kecamatan Grobogan.
2. Melaksanakan kesehatan prima, terjangkau dan berkesinambungan dengan
mengutamakan mutu dan kepuasan pelanggan secara profesionalisme. Yang
mengandung makna sebagai berikut:
a. Kesehatan prima adalah memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada
pasien
b. Pelayanan kesehatan yang terjangkau adalah pelayanan kesehatan harus
dapat dicapai oleh masyarakat, tidak terhalang oleh keadaan geografis,
sosial ekonomi, organisasi dan bahasa.
c. Pelayanan kesehatan yang berkesinambungan adalah pemberian pelayanan
kesehatan kepada pasien sesuai dengan kebutuhan, termasuk rujukan jika
diperlukan tanpa mengulang prosedur diagnosis dan terapi yang tidak
perlu, pasien harus mempunyai akses pelayanan kesehatan yang
dibutuhkan.
d. Kesehatan yang bermutu adalah Pelayanan kesehatan yang dalam
penyelenggaraannya sesuai dengan standar dan kode etik profesi yang
telah ditetapkan, dibutuhkan pasien atau konsumen dan masyarakat serta
terjangkau daya beli oleh masyarakat.
e. Pelayanan kesehatan yang profesional adalah pelayanan kesehatan yang
dalam penyelenggaraannya memberikan yang terbaik untuk pasien sesuai
dengan profesi.

3. Meningkatkan sumber daya manusia agar bisa bersaing dengan tempat


pelayanan kesehatan lainnya yang setara.
Yang mengandung makna:
Sumber daya manusia bisa bersaing adalah mampu bersaing memberikan
pelayanan yang terbaik dengan tempat pelayanan kesehatan yang lain.

3
Dengan misi tersebut diharapkan dapat menunjang salah satu misi Dinas
Kesehatan yaitu Menyelenggarakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara
merata, ter angkau dan bermutu bagi seluruh masyarakat.
Dan misi Kabupaten Grobogan yaitu Memantapkan pembangunan di bidang
kesehatan wick mendorong derajat kesehatan masyarakat agar dapat bekerja
secara lebih optimal dan memiliki harapan hidup yang lebih panjang.
d. Struktur Organisasi Puskesmas
Struktur organisasi Puskesmas Grobogan disusun berdasarkan permenkes
nomor 75 tahun 2014 tentang Sturktur Organisasi Puskesmas di Kabupaten
Grobogan (Terlampir).

4
5
e. Tata Nilai
Manajemen Puskesmas Grobogan Kabupaten Grobogan berupaya menumbuhkan
sistem nilai yang diyakini dapat dijalani bersama dan menjadi acuan berperilaku
setiap insan Puskesmas yang andal dan terpercaya, yaitu melalui pengembangan
budaya PERMATA dalam memberikan layanan kepada pasien meliputi:
1. Peduli : Perhatian dan rasa empati dalam memberikan pelayanan kesehatan
terhadap pasien dan keluarga serta masyarakat tanpa perbedaan menunjang
kesembuhan pasien.
2. Ramah : Tutur bahasa yang lembut dan sikap yang sopan dalam memberi
layanan kesehatan.
3. Maksimal : Memberikan pelayanan kepada pasien harus maksimal, melalui
skill dan knowledge.
4. Tepat : Pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan sesuai
dengan kondisi atau masalah kesehatan yang dihadapi oleh pasien.
5. Akurat : seksama, cermat, teliti dalam memberikan pelayanan.

2. Kebijakan Mutu Puskesmas


a. Kami jajaran pengelola dan seluruh karyawan UPT Puskesmas Grobogan
berkomitmen untuk memberikan pelayanan kesehatan yang baik kepada
masyarakat dengan memperhatikan kebutuhan dan harapan pelanggan.
b. Kami jajaran pengelola dan seluruh karyawan UPT Puskesmas Grobogan
berkomitmen untuk memperbaiki proses pelayanan berdasarkan fakta/data baik
dari pelanggan internal maupun eksternal.
3. Alur Pelayanan
a. Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) adalah setiap kegiatan
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan
menanggulangi timbulnya masalah kesehatan dengan sasaran keluarga,
kelompok, dan masyarakat. Jenis pelayanan UKM dibedakan menjadi 2 (dua)
kelompok yaitu UKM Essensial dan UKM Pengembangan. UKM Essensial
merupakan UKM yang wajib dilaksanakan terdiri dari pelayanan promosi
kesehatan (termasuk UKS); pelayanan kesehatan lingkungan; pelayanan
kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana (yang bersifat UKM); pelayanan gizi
(yang bersifat UKM); dan pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit.
UKM Pengembangan merupakan upaya kesehatan masyarakat yang kegiatannya
6
memerlukan upaya yang sifatnya inovatif dan/atau bersifat ekstensifikasi dan
intensifikasi pelayanan, disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan,
kekhususan wilayah kerja dan potensi sumber daya yang tersedia di masing-
masing Puskesmas.
b. Penyelanggaraan Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP)/Pelayanan Klinis suatu
kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang ditujukan
untuk peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit, pengurangan
penderitaan akibat penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan. UKP
dilaksanakan dalam bentuk rawat jalan, rawat inap, pelayanan gawat darurat.
Kegiatan UKP terdiri dari pelayanan pemeriksaan umum, pelayanan kesehatan
gigi dan mulut, pelayanan KIA-KB yang bersifat UKP, pelayanan gawat darurat,
pelayanan gizi yang bersifat UKP, pelayanan persalinan, pelayanan rawat inap,
pelayanan kefarmasian, pelayanan laboratorium, fisiotherapy.
.
B. Ruang Lingkup penerapan Sistim Manajemen Mutu di Puskesmas mencakup:
Ruang lingkup Pedoman Peningkatan Mutu dan Kinerja ini disusun berdasarkan standar
akreditasi pukesmas, yang meliputi persyaratan umum sistem manajemen mutu,
tanggung jawab manajemen, manajemen sumber daya, yang proses pelayanannya terdiri
dari penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) baik UKM esensial maupun
UKM Pengembangan, dan Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP)/Pelayanan Klinis.
Dalam penyelenggaraan UKM dan UKP memperhatikan keselamatan sasaran/pasien
dengan menerapkan manajemen risiko.

C. Tujuan
Pedoman mutu ini disusun sebagai acuan bagi Puskesmas dalam membangun sistem
manajemen mutu baik untuk penyelenggaraan UKM maupun untuk penyelenggaraan
pelayanan klinis (UKP).

D. Landasan Hukum dan Acuan


Landasan hukum yang digunakan adalah :
1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 tentang
Puskesmas

7
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang
Panduan Praktis Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2012 tentang
Penyelenggaraan Laboratorium Puskesmas
4. Panduan Praktis Klinis bagi Dokter Gigi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer
5. Keputusan Bupati No. 63 Tahun 2013 tentang Sturktur Organisasi Puskesmas di
Kabupaten Grobogan
Acuan yang digunakan adalah Standar Akreditasi Puskesmas dan Instrumen
Akreditasi Puskesmas.

E. Istilah dan Definisi


1. Dokumen adalah benda berupa barang atau tulisan yang memuat informasi yang
digunakan untuk melakukan pekerjaan meliputi pedoman, surat keputusan, Kerangka
acuan kerja dan standar operasional prosedur. Biasanya, dokumen ditulis di kertas dan
informasinya ditulis memakai tints balk memakai tangan atau memakai media
elektronik. Selain itu dokumen dapat diartika sebagai sebuah tulisan yang memuat
informasi (https://id.m.wikipedia.org).
2. Efektivitas adalah pencapaian tujuan secara tepat, berdaya guna dan berhasil guna.
Selain itu efektifitas dapat diartika suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh
target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar presentase
target yang dicapai makin tinggi efektivitasnya (https://dansite.wordpress.com)
3. Efisiensi adalah suatu ukuran dalam membandingkan rencana penggunaan masukan
dengan penggunaan yang direalisasikan atau perkataan lain penggunaan yang
sebenarnya (https://dansite.wordpress.com)
4. Kebijakan mutu adalah kebijakan resmi dan tertulis dari manajemen perusahaan
tentang komitmen perusahaan dalam memperhatikan dan mempertimbangkan aspek-
aspek mutu dalam aktifitas keseharian organisasi (konsultaniso.web.id)
5. Kepuasan pelanggan adalah istilah yang menggambarkan tingkat kepuasan yang
dialami pelanggan ketika mengkonsumsi/menggunakan produk/jasa yang dikeluarkan
oleh produsen (http://efisitek.wordpress.com)
6. Koreksi adalah memperbaiki kesalahan (kbbi.web.id)
7. Pelanggan adalah individu atau keluarga atau lembaga yang mengakses pelayanan
kesehatan di puskesmas.

8
8. Pasien adalah seseorang yang menerima perawatan medis (https://id.m.wikipedia.org).
Definisi lain pasien adalah orang yang menerima pelayanan kesehatan di puskesmas
dengan tujuan meningkatkan kesehatan (promotif), atau mencegah penyakit
(preventif), atau pengobatan penyakit (kuratif) maupun dalain rangka pemulihan
kesehatan (rehabilitatif).
9. Pedoman mutu adalah acuan seluruh pegawai dalam mengimplementasikan sistem
manajemen mutu dengan penekanan adanya perbaikan berkelanjutan yang
berorientasi pada kepuasan pelanggan. Definisi lain pedoman mutu adalah dokumen
yang merincikan sistem manajemen mutu puskesmas dalam rangka meningkatkan
kepuasan pada pelanggan (www.bppt.go.id)
10. Pelanggan adalah pihak ketiga diluar sistem organisasi yang karena sebab tertentu
membeli barang atau jasa organisasi (https://id.m.wikipedia.org)
11. Perencanaan mutu adalah aktivitas pengembangan produk dan proses yang
dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan (fitrielek.blogSOPt.com)
12. Prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya
suatu proses (kbbi.web.id)
13. Proses adalah serangkaian kegiatan yang saling terkait atau berinteraksi yang
mengubah input menjadi output (https://id.m.wikipedia.org)
14. Rekaman adalah suatu dokumen yang menyatakan bahwa sesuatu hasil telah dicapai
atau suatu bukti kegiatan telah dilaksanakan (zulkiflinasution.blogSOPt.com)
15. Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat mencapai maksud dan
tujuan (kbbi.web.id)
16. Sasaran mutu adalah target dari masing-masing bagian/departemen yang ingin dicapai
dalam jangka waktu tertentu (https://sertifikaso.wordpress.com)
Sasaran mutu adalah target dari masing-masing bagian yang ingin dicapai dalam
jangka waktu tertentu, sasaran mutu harus mempunyai syarat:
a. Scope Jelas untuk bagian atau departemen misa!nya bagian personalia, keuangan
dsb.
b. Measurable yang artinya sasaran mutu tersebut harus bisa diukur ( baik dim
bentuk jumlah ataupun persentase)
c. Achievable : semestinya sasaran mutu itu harus dapat dicapai
d. Realible : Sasaran inutu haruslah sesuatu yang nyata
e. Time Frame nya jugs harus jelas, kapan seharusnya sasaran itu dicapai.

9
17. Tindakan korektif adalah tindakan yang dilakukan untuk mencegah terulangnya
ketidaksesuaian (konsultaniso.web.id)
18. Tindakan preventif adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan penyebab
ketidaksesuaian yang potensial atau situasi potensial yang tidak dikehendaki
(konsultaniso.web.id)

II. Sistem Manajemen Mutu dan Sistem Penyelenggaraan Pelayanan


A. Persyaratan Umum
Puskemas Grobogan Kabupaten Grobogan menetapkan, mendokumentasikan,
memelihara sistem manajemen mutu sesuai dengan standar akreditasi puskesmas. Upaya
peningkatan mutu dan kinerja pelayanan yang dilakukan melalui membangun sistem
manajemen mutu, penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat dan sistem pelayanan
klinis Puskemas Grobogan Kabupaten Grobogan menetapkan, mendokumentasikan,
memelihara sistem manajemen mutu sesuai dengan standar akreditasi Puskesmas. Sistem
ini disusun untuk memastikan telah diterapkannya persyaratan pengendalian terhadap
proses-proses penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat baik penyelenggaraan
upaya Puskesmas maupun pelayananan klinis, yang meliputi kejelasan proses pelayanan
dan interaksi proses dalam penyelenggaraan pelayanan, kejelasan penanggungjawab,
penyediaan sumber daya, penyelenggaraan pelayanan itu sendiri mulai dari perencanaan
yang berdasarkananalisis hasil survey kebutuhan masyarakat/pelanggan baik internal
maupun eksternal, verifikasi terhadap rencana yang disusun, pelaksanaan pelayanan, dan
verifikasi terhadap proses pelayanan dan hasil-hasil yang dicapai, monitoring dan
evaluasi serta upaya penyempurnaan yang berkesinambungan.
B. Pengendalian Dokumen
Secara umum dokumen-dokumen dalam sistem manajemen mutu yang disusun
meliputi:
1. Dokumen level 1 : Kebijakan
2. Dokumen level 2 : Pedoman/manual
3. Dokumen level 3 : Standar prosedur operasional
4. Dokumen level 4 : Rekaman-rekaman sebagai catatan sebagai akibat
pelaksanaan kebijakan, pedoman, dan prosedur.
Pendendalian dokumen di puskesmas meliputi proses penyusunan dokumen,
pengesahan, penomoran, pemberlakukan, distribusi, penyimpanan, pencarian kembali,
proses penarikan dokumen yang kadaluwarsa, perubahan/revisi dan pemusnahan
dokumen.

1. Proses Penyusunan Dokumen

10
a) Pemegang program bersama koordinator administrasi manajemen/upaya
kesehatan/kiinis
1) Membuat draft dokumen
2) Melakukan pembahasan terhadap draft dokumen tersebut dengan unit terkait
3) Mencetak agar pemeriksa melakukan pemeriksaan terhadap dokumen yang
telah disusun dan mend istri busikan hardcopy dokumen untuk diperiksa
kepada penanggung jawab Manajemen Mutu.
b) Penanggung jawab Manajemen Mutu
1) Melakukan pemeriksaan ter~adap dokumen yang telah disusun oleh pemegang
program dan koordinator.
2) Jil,a setuju, maka melakukan persetujuan pada hardcopy untuk meminta
persetujuan Kepala Puskesmas.
3) Jika tidak setuju, maka melakukan penolakan dokumen dan dikembalikan
kepada koordinator untuk direvisi.
2. Pengesahan Dokumen
a) Kepala puskesmas menerima dokumen yang telah diperiksa oleh
penanggung jawab Manajemen Mutu melalui hardcopy untuk disetujui.
b) Jika setuju, maka melakukan persetujuan dengan menandatangani hardcopy
document.
c) Jika tidak setuju, maka melakukan penolakan dan dikembalikan kepada
penanggung jawab Manajemen Mutu untuk direvisi.

Metode penomoran dokumen ditetapkan sebagai berikut:


Dokumen SK (sesuai tata naskah)
Sk: AA / KAPUS / BB / YY
Contoh SK : 001/ KAPUS /X11/2015
SK tgl 19 desember 2015
AA : nomor urut SK
KAPUS : kepala puskesmas
BB : Bulan
YY : tahun pembuatan SK

Dokumen SOP (Standar Operasional Prosedur)


SOP -. SOP/ AA/BB/XXNY
Contoh SOP -. SOP/ VII/ RM /01 /2015
SOP tgl 22 desember 2015

SOP menyatakan dokumen Standar Operasional Prosedur


AA menyatakan Bab dalam standar Akreditasi
BB menyatakan kode bagi standar UKP, mencakup : RM= Pendaftaran
UGD= Unit Gawat Darurat
KIA= Ruang KIA
MTBS= Manajemen Terpadu Balita Sakit
KB = Keluarga Berencana

11
IMN= Imunisasi
RPU= Ruang Pemeriksaan Umum
RPG= Ruang Pemeriksaan Gigi
LAB= Laboratorium
FAR= Farmasi
GZ= Gizi
HS= Sanitasi
Rl= Rawat Inap
RB= Ruang Bersalin
FT= Fisioterapi
BB menyatakan kode bagi standar UKM, mencakup
PROMKES = Promosi Kesehatan
P2P Program Pencegahan Penyakit
PGZ Program Gizi KIA = Program KIA
PL = Program Penyehatan Lingkungan
XX menyatakan nomor urut SOP
YY menyatakan tahun penyusunan

Dokumen Eksternal
DE/XX/BB/YY/ AA
DE menyatakan dokumen Eksternal
XX menyatakan Bab dalam standar Akreditasi
BB menyatakan kode bagi standar UKP, mencakup
RM= Pendaftaran
UGD= Unit Gawat Darurat
KIA= Ruang KIA
MTBS= Manajemen terpadu Balita Sakit
KB = Keluarga Berencana IMN= Imunisasi
RPU= Ruang Pemeriksaan Umurn
RPG= Ruang Pemeriksaan Gigi
LAB= Laboratorium FAR= Farmasi
GZ= Gizi
HS= Sanitasi
RI= Rawat Inap
RB= Ruang Bersalin FT= Fisioterapi
BB menyatakan kode bagi standar UKM, mencakup
PROMKES = Promosi Kesehatan
P2P = Program Pencegahan Penyakit
PGZ = Program Gizi
KIA = Program KIA
PL = Program Penyehatan Lingkungan
YY menyatakan nomor urut Dokumen Eksternal
AA menyatakan tahun diterima dokumen eksternal

Tabel Pengesahan Dokumen


No Level Dokumen Penanggung Jawab Diperiksa Disahkan
1 Surat Keputusan Penanggung jawab Ketua Mutu Ka.Puskesmas
2 Pedoman/Panduan Penanggung jawab Ketua Mutu Ka.Puskesmas
3 SOP Penanggung jawab Ketua Mutu Ka.Puskesmas
12
4 KAK Penanggung jawab Ketua Mutu Ka.Puskesmas

3. Pencetakan dan Penarikan Dokumen


a) Mendaftar dokumen internal yang disahkan dalam Daftar Induk Dokumen Internal
/ Masterlist Dokumen.
b) Memperbanyak dokumen yang sudah mendapatkan persetujuan dengan jumlah
copy sesuai Daftar Pemegang Dokumen.
c) Membubuhkan stempel "DOKUMEN TERKENDALI" terhadap copy dokumen.
d) Mendistribusikan dokumen kepada semua pemegang dokumen sesuai Daftar
Pemegang Dokumen.
e) Menarik dokumen lama, bila ada.
f) Memusnahkan dokumen lama yang sudah tidak berlaku.
g) Memberitahukan kepada seluruh unit kerja terkait tentang dokumen barn dan/ atau
penarikan dokumen lama.
4. Pemusnahan dokumen
a) Mengelompokkan dokumen yang sudah tidak aktif
b) Memisahkan status-status mana yang masih harus disimpan di ruang rekam medis,
serta status-status mana yang sudah dapat dikeluarkan dari tempat penyimpanan di
ruang rekam medis.
c) Mencatat data-data yang masih diperlukan kedalam register pemusnahan.
d) Musnahkan status RM yang sesuai dengan daftar
e) Membuat berita acara pemusnahan dengan sepengetahuan Kepala Puskesmas
f) Pemusnahan RM dilakukan sekurang-kuranngnya setiap 2 (dua) tahun.

C. Pengendalian rekaman
Pengendalian rekaman di puskesmas meliputi:
1. Pengidentifikasian rekaman (jenis-jenis rekaman diidentifikasikan pada masing-
masing SOP).
2. Penggunaan Daftar Induk Rekaman yang menguraikan dimana saja rekaman
disimpan, bagian yang bertanggung jawab, dan masa simpan rekaman.
3. Bentuk rekaman dan media penyimpanan, termasuk tatacara mem-backup rekaman
dalam, bentuk elektronik, bila dibutuhkan.
4. Pengambilan, pendisposisian, dan penggandaan rekaman secara internal dan terbatas.
Hal ini perlu diatur dalarn prosedur karena pada umumnya seluruh rekaman bersifat
rahasia.
5. Pemusnahan rekaman yang berisi uraian mengenai tatacara penarikan rekaman yang
telah habis masa simpannya dan bagaimana cara memusnahkannya.

III. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN


A. Komitmen Manajemen
13
Kepala Puskesmas, penanggung jawab manajemen mutu, penanggung jawab
upaya, penanggung jawab pelayanan klinis, dan seluruh karyawan puskesmas
bertanggung jawab untuk menerapkan seluruh persyaratan yang ada pada manual
mutu ini.
B. Fokus pada Sasaran/Pasien
Pelayanan yang disediakan oleh puskesmas dilakukan dengan berfokus pada
pelanggan. Pelanggan dilibatkan mulai dari identifikasi kebutuhan dan harapan
pelanggan, perencanaan penyelenggaraan upaya puskesmas dan pelayanan klinis,
pelaksanaan pelayanan, monitoring dan evaluasi serta tindak lanjut pelayanan.
C. Kebijakan Mutu
Seluruh karyawan Puskesmas Grobogan berkomitmen menjalankan mutu
layanan secara konsisten dan konsekuen untuk pencapaian sasaran yang
diharapkan baik program atau pelayanan di Puskesmas. Maka seluruh karyawan
Puskesmas Grobogan berjanji:
1. Memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat dengan 5S (Senyum, Sapa,
Sopan, Santun, Sehat)
2. Memahami pedoman program sebagai landasan dalam melakukan pekerjaan
3. Menjalankan tugas dan fungsi sesuai SK dan SOP yang telah ditetapkan
4. Melakukan monitoring, evaluasi serta perbaikan secara berkesinambungan
untuk menjamin perbaikan mutu dan kinerja.
5. Kebijakan mutu dituangkan dalam surat keputusan Kepala Puskesmas yang
meliputi kebijakan mutu pelayanan klinis dan kebijakan mutu pelayanan
masyarakat.
Selain itu kepala puskesmas Grobogan memiliki tugas berkaitan kebijakan
mutu meliputi:
1. Kepala Puskesmas menetapkan Penanggung Jawab Manajemen Mutu yang
bertanggungjawab untuk mengkoordinasikan, memonitor kegiatan
peningkatan mutu dan kinerja Puskesmas dan membudayakan perbaikan
kinerja yang berkesinambungan secara konsisten dan sistematis.
2. Kepala Puskesmas, Penanggung Jawab Manajemen Mutu, Penanggung Jawab
Upaya Puskesmas berkomitmen untuk menerapkan perbaikan mutu/kinerja
yang berkesinambungan.

14
3. Kepala Puskesmas, Penanggung Jawab Manajemen Mutu, Penanggung Jawab
Upaya Puskesmas berkomitmen menyelenggarakan pelayanan berdasarkan
kebutuhan masyarakat dengan berfokus pada kepuasan pelanggan,
keselamatan pelanggan, serta melakukan perbaikan mutu/kinerja pelayanan
secara berkelanjutan.
4. Kepala Puskesmas berkomitmen untuk memastikan ketersediaan sumber daya
yang diperlukan guna penyelenggaraan pelayanan sesuai yang distandarkan.
5. Kepala Puskesmas memimpin Rapat Tinjauan Manajemen yang dilaksanakan
minimal 6 bulan sekali, dan selalu ada pelimpahan wewenang jika
berhalangan.
D. Perencanaan Sistem Manejemen Mutu dan Pencapaian Sasaran
Kinerja/Mutu
Sasaran mutu ditetapkan berdasarkan standar kinerja/standar pelayanan
minimal yang meliputi indikator-indikator pelayanan klinis, indikator
penyelenggaraan upaya puskesmas. Perencanaan disusun dengan memperhatikan
kebutuhan dan harapan pelanggan, hak dan kewajiban pelanggan, serta upaya untuk
mencapai sasaran kinerja yang ditetapkan. Perencanaan mutu Puskesmas dan
keselamatan pasien berisi program-program kegiatan peningkatan mutu yang
meliputi :
1. Penilaian dan peningkatan kinerja baik UKM maupun UKP
2. Upaya pencapaian enam sasaran keselamatan pasien
3. Penerapan manajemen risiko pada area prioritas
4. Penilaian kontrak/kerjasama pihak ketiga
5. Pelaporan dan tindak lanjut insiden keselamatan pasien
6. Peningkatan mutu pelayanan laboratorium
7. Peningkatan mutu pelayanan obat
8. Pendidikan dan pelatihan karyawan tentang mutu dan keselamatan pasien

1. Indikator Mutu Pelayanan Upaya Kesehatan Masyarakat


1) Indikator Sasaran Mutu UKM Target Capaian
2016

1. Angka Kematian Ibu (AKI) per 0


100.000KH

15
Kesehatan 2. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil 100%
Masyarakat KIA K1
KB 3. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil 95%
K4
4. Cakupan Komplikasi Kebidanan 35%
Yang Ditangani
5. Cakupan Pertolongan Persalinan 90%
Oleh Tenaga Kesehatan Yang
Memiliki Kompetensi
Kebidanan
6. Cakupan Pelayanan Nifas 90%
7. Cakupan Peserta KB Aktif 70%
8. Angka Kematian Bayi (AKB) 2,3
per 1.000 KH
9. Cakupan Kunjungan Bayi 90%
10. Cakupan Neonatus dengan 80%
Komplikasi yang ditangani
11. Angka Kematian Balita 0,2
(AKABA) per 1.000 KH

GIZI 1. Persentase Balita Gizi Buruk <5


2. Cakupan Balita Gizi Buruk 100%
Mendapat Perawatan
3. Cakupan Pelayanan Kesehatan 100%
Anak Balita
4. Baliya yang ditimbang BB 100%
5. Balita 6-59 bulan mendapat Vit. 100%
A
6. Bayi 0-6 bulan mendapat ASI 80%
Eksklusif
7. Ibu Hamil mendapat FE 90 Tab 85%
8. Rumah tangga yang 90%
menggunakan garam beryodium
9. Cakupan Pemberian makanan 100%
pendamping ASI pada anak usia
6-24 bulan keluarga miskin

Penanganan Cakupan penemuan dan


Penyakit penanganan penderita penyakit
Menular 1. Cakupan penemuan dan 70%
penanganan penderita penyakit
TB BTA (+)
2. Angka Kesembuhan Penyakit 85%
TB Patu
3. RFT Rate 90%
4. Cakupan Balita Dengan 100%
Pneumonia yang ditangani
5. Cakupan Penderita Diare yang 100%
ditangani
16
6. Angka Kesakitan (IR) DBD per 12
100.000 penduduk
7. Angka Kematian DBD (CFR) 0
8. Cakupan Desa / Kelurahan 100%
Universal Child Immunization
(UCI)
9. Cakupan penemuan (AFP) rate ≥2
per 100.000 penduduk <15
tahun
10. Cakupan Desa/Kelurahan 100%
mengalami KLB yang dilakukan
penyelidikan epidemiologi <24
jam

KESLING 1. Cakupan TTU 97%


2. Cakupan Akses Air Bersih 95%
3. Cakupan Jamban 90%
4. Cakupan TPM 75%
5. Cakupan Rumah Sehat 75%

Pengendalian 1. Cakupan Penanganan Diabetes Membuat dan


Penyakit Tidak Mellitus melaksanakan
Menular 2. Cakupan Penanganan Hipertensi Membuat dan
melaksanakan

Promosi 1. Cakupan Posyandu Pratama 75%


Kesehatan dan 2. Cakupan Posyandu Madya 100%
Pemberdayaan 3. Cakupan Posyandu Purnama 80%
4. Cakupan Posyandu Mandiri 0
5. Cakupan Penjaringan Kesehatan 100%
Siswa SD dan setingkat
6. Cakupan Rumah Tangga Sehat 80%
7. Cakupan Kelurahan Siaga Aktif 100%

Pelayanan 1. Cakupan Pelayanan Kesehatan 80%


Kesehatan Dasar Pasien Masyarakat Miskin
2. Cakupan Pelayanan Kesehatan 80%
Rujukan Pasien Masyarakat
Miskin

2. Indikator Mutu Pelayanan Kesehatan Perseorangan


3. Indikator mutu pelayanan klinis
No. Jenis Pelayanan Indikator Standar

17
1. Pendaftaran Jam buka pelayanan 100%
07.30 s/d 12.00
Setiap hari kerja,kecuali Jumat:
07.30 s/d 10.00
Waktu tanggap pelayanan petugas 100%
kesehatan ≤5 menit terlayani,
setelah
Kepuasan pelanggan >70%
2. BP Umum Penatalaksanaan pasien Hipertensi 100%
sesuai SPO
Waktu tunggu di rawat jalan <60 100%
Pemberi pelayanan dokter >90%
Kepuasan pelanggan >90%
3. BP Gigi Waktu pelayanan 08.00 s/d 12.00 100%
Setiap hari kerja
Pemberi pelayanan Dokter 90%
Perawat minimal pendidikan D3

Kepuasan pelanggan >90%


4. KIA Pemeriksaan Hb pada Bumil TM III 90%
Kejadian kematian ibu karena 0%
persalinan
Pertolongan persalinan oleh Nakes 80%
(bidan D3)
Kepuasan pelanggan >80%
5. Klink KB Prosentase tindakan KB MKJP yang 100%
dilakukan oleh dokter atau bidan
terlatih
Kepuasan Pelanggan 80%
6. MTBS Penatalaksanaan Diare pada balita, 100%
sesuai SPO
7. Farmasi Waktu tunggu pelayanan
a. Non racikan <20 menit 100%
b. Racikan non OAT <25 menit 100%
c. Racikan OAT <30 menit 100%
Tidak adanya kejadian kesalahan 100%
pemberian obat
Kepuasan pelanggan >80%
Penulisan resep sesuai formularium 100%
8. Gizi Pasien gizi kurang yang dikonsulkan 75%
ke Dokter
9. Rekam Medis Kelengkapan pengisian rekam medis 100%
7
Kelengkapan informed consent 100%
setelah
mendapatkan informasi
yang jelas
Waktu penyediaan dokumen rekam 100%
medis <10 menit

18
10 Laboratorium Waktu tunggu hasil pelayanan 100%
laboratorium ≤60 menit
Tidak adanya kesalahan pemberian 100%
hasil pemeriksaan laboratorium
≥80%
Kepuasan pelanggan
11 Pencegahan dan Tersedia APD di unit pelayanan ≥60%
pengendalian klinis
Infeksi Kegiatan pendatatan dan pelaporan ≥75%
infeksi nosokomial
12 Rawat Inap BOR (Bad Occupancy Rate) 70-80%
LOS (Lenght Of Stay) 4-7 hari

TOI (Turn Over Internal) 1-3 hari

BTO (Bed Turn Over) 34-40x/thn


Pasien datang di IGD maksimal 2 100%
13 IGD
menit sudah terlayani.
14 Persalinan Persalinan oleh tenaga kesehatan di 100%
Puskesmas
Cakupan pelayanan Nifas 100%

4. Indikator Mutu Sasaran Keselamatan Pasien

NO Indikator Keselamatan Pasien Target 2016


1 Tidak terjadi salah identifikasi 100%
2 Komunikasi efektif dalam pelayanan 100%
3 Tidak terjadi kesalahan pemberian obat 100%
4 Tidak terjadi kesalahan prosedur tindakan 100%
5 Pengurangan terjadinya resiko infeksi 100%
6 Tidak terjadinya pasien jatuh 100%

5. Indikator Mutu Perubahan Perilaku (Budaya Mutu)


6. Indikator Mutu Pelaporan Insiden Keselamatan

E. Tanggung jawab, Wewenang dan Komunikasi


Kepala Puskesmas :
1. Kepala Puskesmas menetapkan Penanggung Jawab Manajemen Mutu dengan
kejelasan tugas dan
2. Kepala Puskesmas bersama Penanggung jawab Mutu dan Penanggung Jawab
Upaya Puskesmas menyusun Pedoman Peningkatan Mutu dan Kinerja

19
3. Kepala Puskesmas wajib memonitor pelaksanaan dan pencapaian pelaksanaan
pelayanan dan upaya Puskesmas, dan mengambil langkah tindak lanjut untuk
revisi/perbaikan rencana bila diperlukan.
Wakil Manajemen Mutu/Penanggung Jawab Mutu :
1. Merumuskan petunjuk teknis pelaksanaan manajemen mutu di tingkat
Puskesmas
2. Menyusun rencana manajemen mutu setiap tahunnya
3. Menyusun peraturan dan standar pelayanan yang digunakan di Puskesmas
(standar input, standar proses, standar output)
4. Memberikan pelatihan standar pelayanan ke setiap unit pelayanan
5. Menyusun ceklist yang akan digunakan dalam monitoring dan evaluasi
pelaksanaan pelayanan pada masing-masing unit pelayanan.
6. Menetapkan petugas pelaksana atau yang bertanggungjawab dalam monitoring
pelaksanaan pelayanan pada masing-masing unit pelayanan secara monitoring
silang.
7. Melaksanakan monitoring dan evaluasi silang antar unit pelayanan dengan
menggunakan ceklist yang telah ditetapkan
8. Melaksanakan evaluasi mutu pelayanan terhadap pelanggan eksternal, melalui
pengelolaan aduan/keluhan dan survey kepuasan pelanggan/masyarakat
9. Menganalisis data hasil monitoring dan evaluasi antar unit, maupun hasil
evaluasi dari pelanggan eksternal.
10. Melaksanakan pertemuan rutin pembahasan hasil monitoring mutu secara
berkala, lengkap dihadiri pihak manajemen Puskesmas.
11. Menyusun rekomendasi peningkatan mutu pelayanan baik aspek input, proses
maupun output terhadap manajemen Puskesmas untuk mendapatkan kebijakan
sebagai rencana tindak lanjut.
12. Menyusun rencana tindak lanjut bersama dengan Tim Perencana Tingkat
Puskesmas (PTP)
Penanggung Jawab UKM/UKP :
1. Berperan aktif dalam penyusunan Pedoman Peningkatan Mutu dan Kinerja
2. Melaksanaan monitoring dan evaluasi pencapaian indikator mutu/kinerja yang
telah ditetapkan secara periodik (mulai pengumpulan data hingga analisis)
3. Melakukan analisis penyebab masalah, dan menggali umpan balik dari
masyarakat/pelanggan tentang mutu pelayanan.
4. Memberikan masukan kepada tim manajemen mutu masalah yang ditemukan
sebagai masukan RTM.
5. Mengikuti RTM secara aktif dan melaksanakan tindak lanjut terhadap
hasil/masalah yang tidak sesuai.

F. Wakil Manajemen Mutu/Penanggung Jawab Manajemen Mutu

20
Kepala Puskesmas menunjuk seorang wakil manajemen mutu yang bertanggung
jawab untuk mengkoordinir seluruh kegiatan mutu di Puskesmas:
1. Memastikan system manajemen mutu ditetapkan, diimplementasikan, dan
dipelihara
2. Melaporkan kepada manajemen kinerja dari system manajemen mutu dan
kinerja pelayanan
3. Memastikan kesadaran seluruh karyawan terhadap kebutuhan dan harapan
sasaran/pasien

G. Komunikasi Internal
Komunikasi internal antara Kepala Puskesmas, Penanggung Jawab Mutu,
Penanggung Jawab Upaya, dan Pelaksana dilakukan melalui :
1. Minilokakarya bulanan, yang dilaksanakan setiap bulan dengan
mengikutsertakan seluruh karyawan Puskesmas.
2. Pertemuan tinjauan manajemen (RTM) yang dilaksanakan minimal 6 bulan
sekali, dan/atau bila diperlukan.
3. Apel pagi yang dipimpin langsung oleh Kepala Puskesmas atau petugas lain
sesuai pendelegasian wewenang pimpinan.
4. Rapat Staf yang dilakukan setiap hari Senin Pkl. 07.30 – 08.00 WIB.

IV. TINJAUAN MANAJEMEN


A. Umum
Dalam upaya peningkatan mutu perlu dilakukan pembahasan bersama antara
manajemen dan pelaksana tentang permasalahan-permasalahan yang terkait
dengan implementasi sistem manajemen mutu, pencapaian sasaran/indikator mutu
dan kinerja serta umpan balik masyarakat/pelanggan tentang mutu/kinerja
Puskesmas. Pembahasan masalah mutu dan kinerja dapat dilakukan dalam unit
kerja, antar unit kerja untuk masalah-masalah yang bersifat teknis dan operasional
yang dilakukan baik terjadual (minimal dua kali dalam setahun) maupun

21
insidental sesuai dengan kebutuhan. Permasalahan mutu, kinerja, dan
permasalahan yang terjadi dalam penerapan sistem manajemen mutu secara
periodik juga perlu dibahas bersama yang melibatkan seluruh jajaran yang ada
dalam organisasi. Pembahasan tersebut dilakukan dalam pertemuan tinjauan
manajemen atau pertemuaan telaah manajemen mutu dan kinerja. Pertemuan
tinjauan manajemen adalah proses evaluasi terhadap kesesuaian dan efektifitas
penerapan sistem manajemen mutu yang dilakukan secara berkala dan melibatkan
berbagai pihak yang terkait dengan operasional kegiatan organisasi.
B. Masukan Tinjauan Manajemen, meliputi :
1. Hasil audit
2. Umpan balik pelanggan
3. Kinerja Proses
4. Pencapaian sasaran-sasaran mutu / indikator-indikator kinerja
5. Status tindakan koreksi dan tindakan pencegahan yang telah/sedang dilakukan
6. Tindak lanjut terhadap hasil tinjauan manajemen yang lalu/sebelumnya
7. Kebijakan mutu dan kebijakan pelayanan/upaya puskesmas
8. Perubahan terhadap kebijakan mutu (jika ada)
9. Perubahan yang perlu dilakukan terhadap sistem manajemen mutu/sistem
pelayanan/penyelenggaraan upaya puskesmas.
C. Luaran Tinjauan Manajemen
Hasil yang diharap dari tinjauan manajemen adalah keputusan dan tindakan yang
berhubungan dengan :
1. peningkatan efektivitas sistem manajemen mutu dan sistem pelayanan,
2. peningkatan pelayanan terkait dengan persyaratan pelanggan,
3. identifikasi perubahan-perubahan yang diperlukan baik pada sistem
manajemen mutu maupun sistem pelayanan,
4. penyediaan sumber daya yang perlu dilakukan agar sistem manajemen mutu
dan sistem pelayanan efektif.

D. Agenda Pertemuan Tinjauan Manajemen


1. Pembukaan oleh Wakil Manajemen Mutu
2. Arahan dari Kepala Puskesmas
3. Tinjauan terhadap pertemuan tinjauan manajemen yang lalu

22
4. Perubahan hasil audit internal
5. Umpan balik/keluhan pelanggan
6. Hasil penilaian kepuasan pelanggan
7. Hasil penilaian kinerja
8. Masalah-masalah operasional yang terkait dengan penerapan sistem
manajemen mutu, penyelenggaraan pelayanan (UKP dan UKM)
9. Rencana perbaikan / perubahan yang perlu dilakukan baik pada sistem
manajemen mutu maupun sistem pelayanan (UKP dan UKM)
10. Rekomendasi perbaikan
11. Penutup

E. Langkah-langkah Pertemuan Tinjauan Manajemen


1. Penanggung jawab manajemen mutu bersama kepala Puskesmas
mempersiapkan pertemuan tinjauan manajemen yang meliputi: rencana waktu,
tempat, agenda, dan siapa saja yang akan diundang
2. Penanggung jawab manajemen mutu mengundang peserta pertemuan
3. Penanggung jawab manajemen mutu memimpin pertemuan tinjauan
manajemen : melaksanakan sesuai agenda, memimpin proses paparan/diskusi
selama pertemuan berlangsung
4. Penanggung jawab manajemen mutu memberikan umpan balik/simpulan
kepada peserta rapat
5. Penanggung jawab manajemen mutu melakukan pemantauan perbaikan
sesudah pertemuan tinjauan manajemen

V. MANAJEMEN SUMBER DAYA


A. Penyediaan Sumber Daya
Kepala puskesmas berkewajiban menyediakan sumber daya yang dibutuhkan
untuk penyelenggaraan pelayanan di puskesmas. Penyediaan sumber daya
meliputi: alat kesehatan, obat dan perbekalan kesehatan yang dibutuhkan untuk
penyelenggaraan UKM maupun UKP/pelayanan klinis. Proses pengajuan

23
dilakukan oleh kepala Puskesmas kepada Kepala Dinas Kesehatan. Selanjutnya
prosedur dan pelaksanaan rekruitmen SDM dilakukan oleh Dinas Kesehatan.
1. Alat kesehatan
a. Analisa kebutuhan dengan membandingkan antara standar alat kesehatan
yang harus dimiliki oleh Puskesmas sesuai peraturan yang berlaku dengan
ketersediaan yang ada di Puskesmas.
b. Selisih adalah kekurangan alat kesehatan diusulkan ke Dinas Kesehatan
Kabupaten Grobogan untuk rencana pengadaan, atau pengadaan sendiri
oleh Puskesmas sesuai peraturan yang berlaku.
c. Alat yang telah dibeli dan diterima oleh Puskesmas dikelola oleh
Bendahara/Pengurus Barang (Buku Inventaris, dan Kartu Inventaris
Barang)
d. Alat diserahkan ke petugas/unit yang membutuhkan, disertai pelatihan cara
penggunaan dan pemeliharaan alat (lengkap dengan SOP pemakaian, SOP
Pemeliharaan, jadual pemeliharaan).
2. Obat dan perbekalan kesehatan
Perncanaan kebutuhan obat dan perbekalan kesehatan berdasarkan jenis
kegiatan dan besarnya sasaran/target, yang dibutuhkan untuk penyelanggaraan
UKM maupun UKP/Pelayanan Klinis. Besarnya kebutuhan diusulkan ke
Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, atau melalui pembelian sendiri dengan
anggaran yang ada di Puskesmas sesuai peraturan yang berlaku.
B. Manajemen Sumber Daya Manusia
1. Perencanaan
Perencanaan kebutuhan dilakukan dengan melakukan analisis kebutuhan
berdasarkan analisis jabatan dan beban kerja, sehingga muncul pola
ketenagaan yang ada dan kebutuhan tenaga baik secara kuantitatif maupun
kualitatif (jenis pendidikan, dan kompetensi).

2. Proses pemenuhan kebutuhan


Proses rekrutmen tidak bisa dilakukan sendiri oleh Puskesmas, sehingga
kebutuhan tenaga tersebut hanya diusulkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten
Grobogan untuk pemenuhannya, termasuk proses kredensialnya menjadi
kewenangan Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan. Proses pemenuhan yang

24
menjadi kewenangan Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan meliputi
rekrutmen, kredensial, dan pelatihan atau peningkatan kompetensi yang
seharusnya.
3. Pengorganisasian
Pengorganisasian dilakukan dengan menetapkan tugas pokok dan fungsi
masing-masing pegawai dengan SK Kepala Puskesmas baik tugas secara
fungsional maupun tugas secara struktural/pemegang program seperti yang
tertuang dalam struktur organisasi Puskesmas yang telah ditetapkan oleh
Bupati Grobogan.
4. Pengarahan dan pengendalian petugas dilakukan melalui kegiatan monitoring
dan evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan tugas masing-masing
pegawai dalam kegiatan minilokakarya, dll. Hal ini dilakukan juga dalam
rangka meningkatkan koordinasi dan pengintegrasian kegiatan antar petugas
maupun antar unit kerja/pelayanan.
C. Infrastruktur
Manajemen infrastruktur dilakukan dengan penjadwalan kegiatan
pemeliharaan/perawatan berkala oleh tenaga yang kompeten, misal untuk alat
kesehatan maka tanggungjawab petugas dengan pendidikan ATEM, mebeuler dan
alat kantor lainnya oleh teknisi, dan gedung perkantoran serta sejenisnya oleh
tenaga kebersihan.
Jadwal dipasang di setiap ruang dan setiap petugas yang telah melakukan
pemeliharaan wajib mengisi jadual tersebut sebagai bukti bahwa pemeliharaan
dan pemeriksaan infrastruktur telah dilakukan.
Selain itu penataan ruang pelayanan menjadi fokus manajemen agar terjadi
kenyamanan saat menunggu antrian maupun pada saat pelayanan berlangsung.
D. Lingkungan Kerja
Pemeliharaan lingkungan setiap saat untuk mempertahankan kebersihan,
keamanan dan keasrian. Upaya memelihara lingkungan kerja tetap aman, hijau,
dan bersih, serta mengupayakan penghematan dilakukan dengan mengadakan
tenaga khusus kebersihan, yang telah diberikan uraian tugas dan jadual kegiatan
yang jelas. Pemantauan pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan monitoring
melalui ceklist kegiatan yang harus diisi oleh petugas setiap selesai melaksanakan
kegiatan.

25
Monitoring dapat dilakukan langsung oleh penanggung jawab dengan
melakukan pemeriksaan kondisi kebersihan, ketertiban, dan keamanan lingkungan
Puskesmas.

VI. PENYELENGGARAAN PELAYANAN


A. Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)
1. Perencanaan UKM, akses dan pengukuran kinerja
Perencanaan kegiatan UKM :
a. berdasarkan pencapaian indikator kinerja UKM tahun sebelumnya, umpan
balik masyarakat/sasaran, analisis kebutuhan masyarakat, peluang
pengembangan/inovasi, dan kebijakan kabupaten/propinsi
b. seluruh data/informasi tersebut dibahas bersama antara Penanggung Jawab
UKM dan pelaksana upaya untuk menyusun usulan kegiatan UKM
c. Usulan kegiatan UKM disusun dalam format RUK UKM yang memuat
5W1H (what, who, why, when, where, how).
d. Usulan tersebut sebagai bahan pembahasan perencanaan tingkat
puskesmas oleh Tim PTP.
e. Untuk perencanaan tahun berjalan setelah diketahui persetujuan anggaran,
dilakukan bersama antara PJ UKM dan pelaksana dengan skala prioritas
yang digunakan untuk penentuan/pemilihan kegiatan
f. Kegiatan terpilih disusun dalam bentuk RPK UKM yang disertai POA
bulanan.
Akses UKM :
a. Rencana kegiatan yang telah tertuang dalam RPK dan POA
disosialisasikan/komunikasikan ke masyarakat sasaran melalui pertemuan
minilokakarya bulanan/lintas program, minilokakarya lintas sektor,
pertemuan lintas sektor tingkat kecamatan, atau melalui media
(brosur/leaflet/papan pengumuman).
b. Kepastian pelaksanaan kegiatan sesuai jadwal yang ditetapkan, dan
menginformasikan bila terjadi perubahan jadwal kegiatan.
c. Informasi umpan balik (mutu/kinerja, kepuasan sasaran) diperoleh melalui
sms, kotak saran, SMD/MMD, survey kepuasan, atau wawancara langsung
setelah pelaksanaan kegiatan.

26
Pengukuran Kinerja UKM :
a. Pengukuran kinerja dilakukan berdasarkan indikator-indikator kinerja yang
ditetapkan oleh Kepala Puskesmas untuk masing masing UKM di
Puskesmas, mengacu kepada SPM Kabupaten dan Kebijakan Dinkes
Kabupaten.
b. Penanggungjawab UKM bersama dengan pelaksana menyusun rencana
perbaikan kinerja berdasarkan hasil monitoring dan penilaian kinerja.
Perbaikan kinerja UKM dilaksanakan secara berkesinambungan.
c. Pelaksanaan monitoring pencapaian kinerja UKM dilakukan setiap bulan
oleh PJ UKM kepada pelaksana melalui pertemuan yang dilaksanakan
maksimal 1 minggu sebelum pelaksanaan minilokakarya bulanan.

2. Proses yang berhubungan dengan sasaran :


a. Penetapan persyaratan sasaran
Penetapan sasaran kegiatan UKM dilakukan berdasarkan pedoman
program masing-masing UKM dengan mempertimbangkan peta masalah
berbasis wilayah (by name by address).
b. Tinjauan terhadap persyaratan sasaran
Pelaksana kegiatan melakukan tinjauan persyaratan sasaran kegiatan
sebelum dan setelah kegiatan, untuk mengevaluasi ketepatan sasaran
kegiatan. Apabila terjadi ketidaktepatan sasaran, maka pelaksana segera
melakukan tindakan preventif jika kegiatan belum dilaksanakan dengan
mengubah sasaran, atau tindakan korektif pada kegiatan berikutnya.
c. Komunikasi dengan sasaran
Komunikasi kepastian jadwal pelaksanaan kegiatan dilakukan oleh
pelaksana UKM terhadap masyarakat/sasaran melalui surat resmi, atau
kunjungan koordinasi. Apabila terjadi perubahan jadwal dikomunikasikan
melalui sms, atau telepon.

3. Pembelian (jika ada)


4. Penyelenggaraan UKM
a. Pengendalian proses penyelenggaraan upaya

27
- Pengendalian proses pelaksanaan UKM dilakukan dengan menetapkan
pedoman/panduan program, kerangka acuan program/kegiatan dan
SOP pelaksanaan kegiatan.
- Penanggung Jawab dan pelaksana UKM melaksanakan kegiatan sesuai
dengan pedoman/panduan/kerangka acuan/SOP/rencana kegiatan yang
telah disusun, dan berdasarkan kebutuhan dan harapan
masyarakat/sasaran.
- Penanggung Jawab UKM memastikan jadwal kegiatan dan petugas
pelaksana yang kompeten.
b. Validasi proses penyelenggaraan upaya
- Pelaksana mmenyusun laporan pelaksanaan kegiatan UKM kepada
Penanggung jawab UKM maksimal satu minggu setelah kegiatan.
- Penanggung jawab UKM memeriksa laporan apakah selaras dengan
kebijakan, pedoman/panduan, kerangka acuan dan SOP kegiatan.
- Secara sampling dan berkala Penanggung jawab melakukan observasi
pelaksanaan kegiatan dengan menggunakan checklist/daftar tilik
c. Identifikasi dan mampu telusur
Penanggung jawab dan pelaksana upaya bertanggung jawab atas proses
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindaklanjut seluruh kegiatan
termasuk pendokumentasian rekaman. Sehingga penanggung jawab dan
pelaksana setiap upaya mampu mengidentifikasi dan mampu telusur atas
seluruh kegiatan masing – masing upaya, baik telusur sistem maupun
telusur dokumen.
d. Hak dan kewajiban sasaran
Puskesmas dalam menyelenggarakan upaya akan menetapkan hak dan
kewajiban sasaran setiap upaya yang diselenggarakan. Penetapan hak dan
kewajiban sasaran disusun bersama dan ditetapkan dengan SK Kepala
Puskesmas.
e. Pemeliharaan barang milik pelanggan (jika ada)
f. Manajemen risiko dan keselamatan
Manajemen risiko adalah proses mengenal, mengevaluasi, mengendalikan,
meminimalkan risiko dalam suuatu organisasi secara menyeluruh.

28
Manejemen risiko dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan
terjadinya risiko yang bisa terjadi dalam setiap kegiatan.
Proses manajemen risiko dalam pelayanan UKM meliputi menetapkan
lingkup manajemen dengan kriteria 3H 1P (high risk, high volume, high
cost, potensial problem), kajian risiko/risk assessment (identifikasi risiko,
analisis risiko, evaluasi risiko). Hasil evaluasi risiko untuk menentukan
perlu atau tidak tindakan perbaikan/tindak lanjut. Tindakan perbaikan bisa
berupa perbaikan input, proses atau perbaikan output.
Analisis risiko dilakukan terhadap prosedur pelayanan di area prioritas,
dengan menggunakan metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis)
atau Analisis Modus Kegagalan dan Dampaknya (AMKD). Risiko yang
telah teridentifikasi kemudian ditetapkan tindakan preventif atau
pencegahan agar kegagalan yang dimungkinkan tidak terjadi.
5. Pengukuran, analisis dan penyempurnaan Sasaran Kinerja UKM
a. Umum
Dalam rangka monitoring dan evaluasi mutu dan kinerja UKM, maka
perlu ditetapkan sebuah indikator yang bisa diukur dan menggambarkan
suatu kondisi sebenarnya dari hasil proses kegiatan.
b. Pemantauan dan pengukuran
1) Kepuasan pelanggan
Kepuasan pelanggan dinilai menggunakan kuesioner terhadap sasaran
setiap UKM secara berkala minimal satu tahun sekali. Kepuasan
pelanggan dilakukan untuk mengetahui mutu layanan UKM dari aspek
kepuasan pelanggan. Kuesioner dibagikan kepada pelanggan UKM
melalui pertemuan atau langsung setelah kegiatan usai. Data diolah,
dan dianalisis menjadi informasi tingkat kepuasan pelanggan UKM.
Hasil analisis tersebut diinformasikan kepada pelanggan UKM melalui
desinformasi pada saat pertemuan/kegiatan UKM atau melalui
pemasangan di papan informasi.
2) Audit internal
Audit internal akan dilakukan secara berkala sepanjang tahun terhadap
prosedur, sarana prasarana, SDM dan hasil pada unit-unit pelayanan
yang diprioritaskan dan ditetapkan setiap tahunnya. Audit internal

29
dilakukan minimal satu bulan setelah implementasi dari SOP yang
ditetapkan, dan diulang kembali untuk jangka waktu minimal 2 tahun.
Tahapan pelaksanaan audit internal adalah, penjadwalan, penyusunan
instrument, penetapan petugas, sosialisasi jadwal, pelaksanaan audit,
analisis data, dan pembahasan penyusunan tindak lanjut. Hasil/tindak
lanjut audit internal menjadi bahan masukan Rapat Tinjauan
Manajemen.
3) Pemantauan dan pengukuran proses
Pemantauan dan pengukuran proses dilakukan sepanjang
kegiatan/proses untuk mengetahui apakah pelaksanaan kegiatan sesuai
dengan kebijakan, pedoman/panduan, kerangka acuan dan SOP upaya
yang telah ditetapkan, termasuk ketaatan terhadap jadwal. Jika saat
monitoring proses diidentifikasi penyimpangan atau kecenderungan
tidak tercapainya tujuan, maka bisa segera dilakukan perbaikan.
Perbaikan yang bisa dilakukan meliputi perbaikan jadwal, perbaikan
metode, sasaran, SOP, dll. Perbaikan ditujukan untuk melakukan
tindakan korektif sehingga tujuan atau kinerja yang ditargetkan akan
tetap tercapai.
Pemantauan dilakukan secara berkala dan terintegrasi lintas program,
melalui pertemuan mini lokakarya internal/bulanan, dan mini
lokakarya lintas sektor ( 3 bulan sekali) dengan menggunakan
indikator kinerja proses yang telah ditetapkan oleh Kepala Puskesmas
pada awal tahun.
4) Pemantauan dan pengukuran hasil layanan
Pemantauan dan pengukuran hasil layanan dengan menggunakan
indikator kinerja/SPM dilakukan di akhir tahun untuk mengetahui
apakah target tercapai, dan bandingkan kecenderungan dengan
pencapaian tahun sebelumnya (menurun, meningkat, tetap).
c. Pengendalian jika ada hasil yang tidak sesuai
Apabila terdapat indikator / hasil UKM yang tidak sesuai, maka perlu
dilakukan penetapan ulang target untuk tahun sebelumnya dengan
memperhatikan rencana lima tahunan.
d. Analisis data

30
Hasil yang tidak sesuai atau tidak tercapai dilakukan analisis penyebab
masalah, dengan tahapan identifikasi masalah, tetapkan masalah prioritas,
tentukan penyebab masalah, tentukan alternatif pemecahan masalah, buat
keputusan pemecahan masalah yang akan direncanakan untuk tahun
depan, melalui mekanisme penyusunan perencanaan tingkat puskesmas.
e. Peningkatan berkelanjutan
Mekanisme yang harus dilakukan untuk mengendalikan peningkatan
berkelanjutan dengan manajemen mutu dengan tahapan/siklus :
perencanaan, pelaksanaan, analisis, dan tindak lanjut untuk semua
penyelenggaraan secara terus menerus.
f. Tindakan korektif
Hasil audit internal, hasil monitoring indikator kinerja, dan indikator mutu
dapat dilakukan tindakan korektif untuk perbaikan pelaksanaan kegiatan
selanjutnya.
g. Tindakan preventif
Dari hasil analisis masalah tersebut diidentifikasi penyebab kegagalan
tahun sebelumnya, sehingga saat perencanaan perlu ditentukan kegiatan
antisipatif agar kegagalan tidak terulang kembali.

B. Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP)/Pelayanan Klinis


1. Perencanaan UKP, akses dan pengukuran kinerja
Perencanaan kegiatan UKP :
a. berdasarkan pencapaian indikator kinerja UKP tahun sebelumnya, umpan
balik masyarakat/sasaran, analisis kebutuhan masyarakat, peluang
pengembangan/inovasi, dan kebijakan kabupaten/propinsi
b. seluruh data/informasi tersebut dibahas bersama antara Penanggung Jawab
UKP dan pelaksana upaya untuk menyusun usulan kegiatan UKP
c. Usulan kegiatan UKP disusun dalam format RUK UKP yang memuat
5W1H (what, who, why, when, where, how).
d. Usulan tersebut sebagai bahan pembahasan perencanaan tingkat
puskesmas oleh Tim PTP.

31
e. Untuk perencanaan tahun berjalan setelah diketahui persetujuan anggaran,
dilakukan bersama antara PJ UKP dan pelaksana dengan skala prioritas
yang digunakan untuk penentuan/pemilihan kegiatan
f. Kegiatan terpilih disusun dalam bentuk RPK UKP yang disertai POA
bulanan.
Akses UKP :
a. Rencana kegiatan yang telah tertuang dalam RPK dan POA
disosialisasikan/komunikasikan ke masyarakat sasaran melalui pertemuan
minilokakarya bulanan/lintas program, minilokakarya lintas sektor,
pertemuan lintas sektor tingkat kecamatan, atau melalui media
(brosur/leaflet/papan pengumuman).
b. Kepastian pelaksanaan kegiatan sesuai jadwal yang ditetapkan, dan
menginformasikan bila terjadi perubahan jadwal kegiatan.
c. Informasi umpan balik (mutu/kinerja, kepuasan sasaran) diperoleh melalui
sms, kotak saran, SMD/MMD, survey kepuasan, atau wawancara langsung
setelah pelaksanaan kegiatan.
Pengukuran Kinerja UKP :
a. Pengukuran kinerja dilakukan berdasarkan indikator-indikator kinerja yang
ditetapkan oleh Kepala Puskesmas untuk masing masing UKP di
Puskesmas, mengacu kepada SPM Kabupaten dan Kebijakan Dinkes
Kabupaten.
b. Penanggungjawab UKP bersama dengan pelaksana menyusun rencana
perbaikan kinerja berdasarkan hasil monitoring dan penilaian kinerja.
Perbaikan kinerja UKP dilaksanakan secara berkesinambungan.
c. Pelaksanaan monitoring pencapaian kinerja UKP dilakukan setiap bulan
oleh PJ UKP kepada pelaksana melalui pertemuan yang dilaksanakan
maksimal 1 minggu sebelum pelaksanaan minilokakarya bulanan.

2. Proses yang berhubungan dengan sasaran :


a. Penetapan persyaratan sasaran
Penetapan sasaran kegiatan UKP dilakukan berdasarkan pedoman program
masing-masing UKP dengan mempertimbangkan peta masalah berbasis
wilayah (by name by address).

32
b. Tinjauan terhadap persyaratan sasaran
Pelaksana kegiatan melakukan tinjauan persyaratan sasaran kegiatan
sebelum dan setelah kegiatan, untuk mengevaluasi ketepatan sasaran
kegiatan. Apabila terjadi ketidaktepatan sasaran, maka pelaksana segera
melakukan tindakan preventif jika kegiatan belum dilaksanakan dengan
mengubah sasaran, atau tindakan korektif pada kegiatan berikutnya.
c. Komunikasi dengan sasaran
Komunikasi kepastian jadwal pelaksanaan kegiatan dilakukan oleh
pelaksana UKP terhadap masyarakat/sasaran melalui surat resmi, atau
kunjungan koordinasi. Apabila terjadi perubahan jadwal dikomunikasikan
melalui sms, atau telepon.

3. Pembelian (jika ada)


4. Penyelenggaraan UKP
a. Pengendalian proses penyelenggaraan upaya
- Pengendalian proses pelaksanaan UKP dilakukan dengan menetapkan
pedoman/panduan program, kerangka acuan program/kegiatan dan
SOP pelaksanaan kegiatan.
- Penanggung Jawab dan pelaksana UKP melaksanakan kegiatan sesuai
dengan pedoman/panduan/kerangka acuan/SOP/rencana kegiatan yang
telah disusun, dan berdasarkan kebutuhan dan harapan
masyarakat/sasaran.
- Penanggung Jawab UKP memastikan jadwal kegiatan dan petugas
pelaksana yang kompeten.
b. Validasi proses penyelenggaraan upaya
- Pelaksana mmenyusun laporan pelaksanaan kegiatan UKP kepada
Penanggung jawab UKP maksimal satu minggu setelah kegiatan.
- Penanggung jawab UKP memeriksa laporan apakah selaras dengan
kebijakan, pedoman/panduan, kerangka acuan dan SOP kegiatan.
- Secara sampling dan berkala Penanggung jawab melakukan observasi
pelaksanaan kegiatan dengan menggunakan checklist/daftar tilik
c. Identifikasi dan mampu telusur

33
Penanggung jawab dan pelaksana upaya bertanggung jawab atas proses
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindaklanjut seluruh kegiatan
termasuk pendokumentasian rekaman. Sehingga penanggung jawab dan
pelaksana setiap upaya mampu mengidentifikasi dan mampu telusur atas
seluruh kegiatan masing – masing upaya, baik telusur sistem maupun
telusur dokumen.

d. Hak dan kewajiban sasaran


Puskesmas dalam menyelenggarakan upaya akan menetapkan hak dan
kewajiban sasaran setiap upaya yang diselenggarakan. Penetapan hak dan
kewajiban sasaran disusun bersama dan ditetapkan dengan SK Kepala
Puskesmas.
e. Pemeliharaan barang milik pelanggan (jika ada)
f. Manajemen risiko dan keselamatan
Manajemen risiko adalah proses mengenal, mengevaluasi, mengendalikan,
meminimalkan risiko dalam suuatu organisasi secara menyeluruh.
Manejemen risiko dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan
terjadinya risiko yang bisa terjadi dalam setiap kegiatan.
Proses manajemen risiko dalam pelayanan UKP meliputi menetapkan
lingkup manajemen dengan kriteria 3H 1P (high risk, high volume, high
cost, potensial problem), kajian risiko/risk assessment (identifikasi risiko,
analisis risiko, evaluasi risiko). Hasil evaluasi risiko untuk menentukan
perlu atau tidak tindakan perbaikan/tindak lanjut. Tindakan perbaikan bisa
berupa perbaikan input, proses atau perbaikan output.
Analisis risiko dilakukan terhadap prosedur pelayanan di area prioritas,
dengan menggunakan metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis)
atau Analisis Modus Kegagalan dan Dampaknya (AMKD). Risiko yang
telah teridentifikasi kemudian ditetapkan tindakan preventif atau
pencegahan agar kegagalan yang dimungkinkan tidak terjadi.
5. Pengukuran, analisis dan penyempurnaan Sasaran Kinerja UKP
a. Umum

34
Dalam rangka monitoring dan evaluasi mutu dan kinerja UKP, maka perlu
ditetapkan sebuah indikator yang bisa diukur dan menggambarkan suatu
kondisi sebenarnya dari hasil proses kegiatan.
b. Pemantauan dan pengukuran
1) Kepuasan pelanggan
Kepuasan pelanggan dinilai menggunakan kuesioner terhadap sasaran
setiap UKP secara berkala minimal satu tahun sekali. Kepuasan
pelanggan dilakukan untuk mengetahui mutu layanan UKP dari aspek
kepuasan pelanggan. Kuesioner dibagikan kepada pelanggan UKP
melalui pertemuan atau langsung setelah kegiatan usai. Data diolah,
dan dianalisis menjadi informasi tingkat kepuasan pelanggan UKP.
Hasil analisis tersebut diinformasikan kepada pelanggan UKP melalui
desinformasi pada saat pertemuan/kegiatan UKP atau melalui
pemasangan di papan informasi.
2) Audit internal
Audit internal akan dilakukan secara berkala sepanjang tahun terhadap
prosedur, sarana prasarana, SDM dan hasil pada unit-unit pelayanan
yang diprioritaskan dan ditetapkan setiap tahunnya. Audit internal
dilakukan minimal satu bulan setelah implementasi dari SOP yang
ditetapkan, dan diulang kembali untuk jangka waktu minimal 2 tahun.
Tahapan pelaksanaan audit internal adalah, penjadwalan, penyusunan
instrument, penetapan petugas, sosialisasi jadwal, pelaksanaan audit,
analisis data, dan pembahasan penyusunan tindak lanjut. Hasil/tindak
lanjut audit internal menjadi bahan masukan Rapat Tinjauan
Manajemen.
3) Pemantauan dan pengukuran proses
Pemantauan dan pengukuran proses dilakukan sepanjang
kegiatan/proses untuk mengetahui apakah pelaksanaan kegiatan sesuai
dengan kebijakan, pedoman/panduan, kerangka acuan dan SOP upaya
yang telah ditetapkan, termasuk ketaatan terhadap jadwal. Jika saat
monitoring proses diidentifikasi penyimpangan atau kecenderungan
tidak tercapainya tujuan, maka bisa segera dilakukan perbaikan.
Perbaikan yang bisa dilakukan meliputi perbaikan jadwal, perbaikan

35
metode, sasaran, SOP, dll. Perbaikan ditujukan untuk melakukan
tindakan korektif sehingga tujuan atau kinerja yang ditargetkan akan
tetap tercapai.
Pemantauan dilakukan secara berkala dan terintegrasi lintas program,
melalui pertemuan mini lokakarya internal/bulanan, dan mini
lokakarya lintas sektor ( 3 bulan sekali) dengan menggunakan
indikator kinerja proses yang telah ditetapkan oleh Kepala Puskesmas
pada awal tahun.
4) Pemantauan dan pengukuran hasil layanan
Pemantauan dan pengukuran hasil layanan dengan menggunakan
indikator kinerja/SPM dilakukan di akhir tahun untuk mengetahui
apakah target tercapai, dan bandingkan kecenderungan dengan
pencapaian tahun sebelumnya (menurun, meningkat, tetap).
c. Pengendalian jika ada hasil yang tidak sesuai
Apabila terdapat indikator / hasil UKP yang tidak sesuai, maka perlu
dilakukan penetapan ulang target untuk tahun sebelumnya dengan
memperhatikan rencana lima tahunan.
d. Analisis data
Hasil yang tidak sesuai atau tidak tercapai dilakukan analisis penyebab
masalah, dengan tahapan identifikasi masalah, tetapkan masalah prioritas,
tentukan penyebab masalah, tentukan alternatif pemecahan masalah, buat
keputusan pemecahan masalah yang akan direncanakan untuk tahun
depan, melalui mekanisme penyusunan perencanaan tingkat puskesmas.
e. Peningkatan berkelanjutan
Mekanisme yang harus dilakukan untuk mengendalikan peningkatan
berkelanjutan dengan manajemen mutu dengan tahapan/siklus :
perencanaan, pelaksanaan, analisis, dan tindak lanjut untuk semua
penyelenggaraan secara terus menerus.
f. Tindakan korektif
Hasil audit internal, hasil monitoring indikator kinerja, dan indikator mutu
dapat dilakukan tindakan korektif untuk perbaikan pelaksanaan kegiatan
selanjutnya.
g. Tindakan preventif

36
Dari hasil analisis masalah tersebut diidentifikasi penyebab kegagalan
tahun sebelumnya, sehingga saat perencanaan perlu ditentukan kegiatan
antisipatif agar kegagalan tidak terulang kembali.

VII. PENUTUP
Demikian pedoman ini disusun sebagai pedoman bagi semua unit terkait dalam
melaksanakan upaya peningkatan mutu dan kinerja Puskesmas.

37