Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (TUNA NETRA)

Disusunoleh :kelompok iii

1. Ade Asmasari
2. DiniYuliawati
3. M.Fauzan Ali Fikri
4. M.Septia Budi
5. Rani RenataDieya
6. SaupiYaumilMahfuz
7. WahyuFirmansyah

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) MATARAM

2019
KATA PENGANTAR

Pujisyukur kami panjatkankehadirat Tuhan Yang


MahaEsaatasrahmatdanhidayah-Nyasehingga kami dapatmenyusunmakalah yang
berjudul “MAKALAH ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (TUNA
NETRA)”denganbaik. Penyusunanmakalahini,
merupakansalahsatutugasmatakuliahkeperawatanjiwa diStikesMataram
Dalampenyusunanmakalahini kami
merasamasihbanyakkekuranganbaikpadapenulisanmaupunmateri, untukitukritikdan saran
darisemuapihaksangat kami harapkan demi penyempurnaanpembuatanmakalahini.

Mataram, 08 Juli2019

KELOMPOK III
DAFTAR ISI

Kata Pengantar
DaftarIsi
BAB I PENDAHULUAN
1. LatarBelakang
2. RumusanMasalah
3. Tujuan
Bab II PEMBAHASAN
A. Definisi
B. Karakteristik Tunanetra (kognitif, fisik, sosial/perilaku, emosi, danmotorik)
C. PengklasifikasianTunanetra
D. Faktor – faktor Penyebab Ketunanetraan
E. Pendampingan Terhadap Anak Tunanetra
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. LatarBelakang
Tunanetramerupakansuatukondisitidakberfungsinyainderapenglihatanpadaseseora
ngsecarasebagian (low vision) atausecarakeseluruhan (totallyblind).Hal
inidapatterjadisebelumlahir,
saatlahirdansetelahlahir.Faktorpenyebabketunanetraanpadamasasebelumkelahiran (pre-
natal)
sangaterathubungannyadenganmasalahketurunandanpertumbuhanseoranganakdalamkand
ungan.Penyebabketunatetraanpadamasasejakatausetelahkelahiran (post-natal)
diantaranyakerusakanpadamataatausyarafmatapadawaktupersalinanakibatbeturanbendake
ras.
Tujuandaridilakukannyapendidikanuntuktunanetrabukandarikemampuankognitif,
melainkanuntukmelatihkemandiriananaktunanetra.Setiaptunanetradituntutuntukdapathidu
pmandiri.Mandiri di
siniberartiiabisamengurussegalakeperluandirinyasendiritanpabantuan orang lain.
Merekaharusdapathidupmandirisupayamerekadapatbersosialisasidandapatmenciptakanke
hidupan yang layakseperti orang normal padaumumnya.Makadariitu,
tunanetraharusmendapatkanpendidikan yang layak.
Olehsebabitu, kami melakukanobservasiterhadapanaktunanetra.Observasi kami
lakukan di salahsatusekolahluarbiasa (SLB) yang berada di Yogyakarta. Kami
melakukanobservasiuntukmengetahuibagaimanakarakteristikdancarapendampingananakt
unanetra.
B. RunusanMasalah
1. Apadefinsitunanetra?
2. Bagaimanakarakteristik (kognitif, fisik, sosial/perilaku, emosi, danmotorik) tunanetra?
3. Bagaimanapengklasifikasian / tipe-tipetunanetra?
4. Apasajafaktorpenyebabseseorangmenjaditunanetra?
5. Bagaimanapendampingan yang dilakukanterhadapanaktunanetra di sekolahluarbiasa?
C. Tujuan
1. Mengetahuidefinisitunanetra.
2. Mengetahuikarakteristik (kognitif, fisik, sosial/perilaku, emosi, danmotorik)
tunanetra.
3. Mengetahuipengklasifikasian / tipe-tipetunanetra.
4. Mengetahuifaktorpenyebabseseorangmenjaditunanetra.
5. Mengetahuipendampingan yang dilakukanterhadapanaktunanetra di sekolahluarbiasa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Tunanetramerupakanganggguanpenglihatan, baik total maupunsebagian yang
menyebabkanmatatidakbisaberfungsisebagaiindrapenglihatdansaluranpenerimainformasi
dalamkegiatansehari-hariseperti orang padaumunya.
PersatuanTunanetra Indonesia / Pertuni (2004) mendefinisikan orang
tunanetraadalah orang yang tidakmemilikipenglihatansamasekali (buta total)
higgamerekamasihmemilikisisapenglihatantetaptidakmampumeggunakanpengihatannyau
ntkmembacatulisanbiasaberukuran 12 point dalamkeadaancahaya normal
meskipundibantudengankacamata (kurangawas). Dalamhalini, yamhdimaksuddengan 12
point adaahukuranhurufstandarpadakomputer di manapadabidangselebarsatuincimemuat
12 buahhuruf. Akan tetapi, initidakbolehdiartikanbahwahurufdenganukuran 18 point,
misalnyapadabidangselebar 1 incimemuat 18 huruf. Orang tuanetra yang
masihmemilikisisapenglihatan yang fungsionaldisebutsebagai orang “kurangawas”
ataulebihdikenaldengansebutan “low vision”.
B. Karakteristik Tunanetra (kognitif, fisik, sosial/perilaku, emosi, danmotorik)
Karakteritiktunanetradapatberbeda-
bedatergantungpadasejakkapananakmengalamiketunanetraan,
bagaimanatingkatketajamanpenglihatannya, berapausianya,
sertabagaimanatingkatpendidikannya.
a. Tingkah laku
 Kerap kali menggosok mata.
 Menutup mata sebelah atau mengerutkan mata.
 Menelengkan kepala atau menjulurkan kepala jika melihat.
 Mengalami kesulitan dalam melihat huruf – huruf pada tulisan atau pekerjaan
lain yang memerlukan penglihatan dengan jarak dekat.
 Kerap kali mengedipkan mata dari biasanya dan merasa sakit matanya saat
mengerjakan pekerjaan yang memerlukan penglihatan jarak dekat.
 Mendekatkan buku pada matanya saat membaca
 Tidak dapat melihat benda dengan jelas saat jarak benda jauh.
 Mengerutkan kening atau kelopak mata saat melihat.
 Tidak dapat meletakkan benda dengan tepat dan tidak tertarik perhatiannya
pada benda – benda yang jauh atau tugas yang memerlukan penglihatan.
 Peka terhadap cahaya.
 Tidak dapat membedakan warna.
 Sering menabrak benda.
 Sering memegangi kepala dengan aneh.
 Seringtidakmembuattugas yang diberikan.
b. Fisik
 Mata juling.
 Mata merah, ada bintik – bintik pada kelopak mata atau bengkak dan
berselaput.
 Mata meradang atau berair.
 Gaya melihattidaksepertibiasa.
 Seringadabintilpadakelopakmata. (timbilendalambahasajawa)
 Mengeluarkannanahataubarangasinglainnya.
 Mata menonjolkeluar.
 Bola mataselaluberputar – putar.
c. Keluhan
 Mata gatal, panas, atausakit.
 Tidak dapat melihat dengan jelas
 Merasa sakit kepala, pusing atau mual saat bekerja dengan menggunakan
penglihatan jarak dekat.
 Kabur atau penglihatan dobel (rangkap).
 Sensitif terhadap cahaya.
d. Motorik
Perkembangan motorik lambat karena kondisi psikis yang
kurangmendukungsepertipemahamanterhadaprealitaslingkungan,
kemungkinanmengetahuiadanyabahayadancaramenghadapiketerampilangerak
yang serbaterbatassertakurangnyakeberaniadalammelakukansesuatu.
C. PengklasifikasianTunanetra
 Secara Umum
1. Buta (total)
Seseorang dikatakan buta atau menjadi tunanetra (total) apabila orang tersebut
sama sekali tidak mampu menerima rangsangan cahaya dari luar.
2. Low Vision
Pada kelompok ini, anak masih mampu menerima rangsangan cahaya dari luar,
tetapi ketajamannya lebih dari 6/21, atau jika hanya mampu membaca headline pada
surat kabar.
 Klasifikasi anak tuanetra didasarkan pada waktu terjadinya ketunanetraan, yaitu:
1. Tunanetra sebelum dan sejak lahir
Orang yang sama sekali tidak memiliki pengalaman penglihatan.
2. Tunanetra setelah lahir atau pada usia kecil
Orang telah memiliki kesan-kesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat dan
udah terlupakan.
3. Tunanetra pada usia sekolah atau pada masa remaja
Mereka telah memiliki kesan-kesan visual dan meninggalkan pengaruh mendalam
terhadap proses perkembangan pribadi.
4. Tunanetra pada usia dewasa
Pada umumnya, mereka yang dengan segala kesadaran mampu melakukan latiha-
latihan penyesuaian diri.
5. Tunanetra dalam usia lanjut
Tunanetra pada golongan ini, sulit menikuti latihan-latihan penyesuaian diri.
 Klasifikasi berdasarkan tingkat ketajaman penglihatan
a) Tunanetra Ringan (defective Vision), yaitu mereka yang mengalami kekurangan
daya penglihatan ringan, seperti: rabun senja, juling, dan myopia. Kelompok ini
dapat mengikuti program pendidikan biasa di sekolah-sekolah umum dan dapat
menggunakan media tulisan pika ukuran 12.Kelompok ini juga masih bisa
melakukan pekerjaan yang membutuhkan penglihatan dengan baik.
b) Tunanetra Setengah Berat (partially sighted/low vision), yaitu mereka yang
kehilangan sebagian penglihatannya. Seseorang dikatakan mempunyai penglihatan
low vision atau kurang lihat apabila ketunanetraannya berhubungan dengan
kemampuannya dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Saluran utama dalam
belajar mempergunakan penglihatan dan alat bantu baik yang direkomendasikan
oleh dokter maupun bukan. Media huruf yang dipergunakan sangat bervariasi
tergantung pada sisa penglihatan dan alat bantu yang dipergunakannya. Latihan
orientasi dan mobilitas diperlukan oleh siswa low vision untuk mempergunakan
sisa penglihatannya.
c) Tunanetra Berat (totally blind), yaitu mereka yang sama sekali tidak dapat melihat
atau kemampuan melihatnya sangat parah, sehingga masyarakat pada umumnya
menyebut buta. Seseorang dikatakan buta apabila mempergunakan kemampuan
perabaan dan pendengaran sebagai saluran utama dalam belajar. Mereka mungkin
mempunyai sedikit persepsi cahaya atau bentuk atau sama sekali tidak dapat
melihat (buta total).
 Klasifikasi Berdasarkan Tingkat Sisa Penglihatan
a) Buta Total (visus 0);
b) Masih memiliki persepsi cahaya (visus 2/200 sd 5/200);
c) Masih memiliki persepsi objek (visus 5/200 sd 10/200);
d) Kurang lihat (visus lebih dari 10/200).
Klasifikasi berdasarkan tingkat sisa penglihatan ini dapat digunakan untuk
menentukan bentuk pelayanan pendidikan.
D. Faktor – faktor Penyebab Ketunanetraan
1. Pre-natal (internal)
Faktor penyebab ketunanetraan pada masa pre-natal sangat erat hubungannya
dengan masalah keturunan dan pertumbuhan seorang anak dalam kandungan, antara
lain:
a) Keturunan
Ketunanetraan yang disebabkan oleh faktor keturunan terjadi dari hasil
perkawinan bersaudara, sesama tunanetra atau mempunyai orang tua yang
tunanetra. Ketunanetraan akibat faktor keturunan antara lain Retinitis Pigmentosa,
penyakit pada retina yang umumnya merupakan keturunan. Penyakit ini sedikit
demi sedikit menyebabkan mundur atau memburuknya retina.Gejala pertama
biasanyasukar melihat di malam hari, diikuti dengan hilangnya penglihatan
periferal, dan sedikit saja penglihatan pusat yang tertinggal.
b) Pertumbuhan seorang anak dalam kandungan.
Ketunanetraan yang disebabkan karena proses pertumbuhan dalam kandungan
dapat disebabkan oleh:

 Gangguan waktu ibu hamil.


 Penyakit menahun seperti TBC, sehingga merusak sel-sel darah tertentu
selama pertumbuhan janin dalam kandungan.
 Infeksi atau luka yang dialami oleh ibu hamil akibat terkena rubella atau
cacar air, dapat menyebabkan kerusakan pada mata, telinga, jantung dan
sistem susunan saraf pusat pada janin yang sedang berkembang.
 Infeksi karena penyakit kotor, toxoplasmosis, trachoma dan tumor.Tumor
dapat terjadi pada otak yang berhubungan dengan indera penglihatan atau
pada bola mata itu sendiri.
 Kurangnya vitamin tertentu, dapat menyebabkan gangguan pada mata
sehingga hilangnya fungsi penglihatan.

2. Post-natal (eksternal)
Penyebab ketunanetraan yang terjadi pada masa post-natal dapat terjadi sejak atau
setelah bayi lahir antara lain:

a. Kerusakan pada mata atau saraf mata padawaktu persalinan, akibat benturan alat-
alat atau benda keras.
b. Pada waktu persalinan, ibu mengalami penyakit gonorrhoe, sehingga baksil
gonorrhoe menular pada bayi, yang pada akhirnya setelah bayi lahir mengalami
sakit dan berakibat hilangnya daya penglihatan.
c. Mengalami penyakit mata yang menyebabkan ketunanetraan, misalnya:
 Xeropthalmia; yakni penyakit mata karena kekurangan vitamin
 Trachoma; yaitu penyakit mata karena virus chilimidezoon trachomanis.
 Catarac; yaitu penyakit mata yang menyerang bola mata sehingga lensa
mata menjadi keruh, akibatnya terlihat dari luar mata menjadi putih.
 Glaucoma; yaitu penyakit mata karena bertambahnya cairan dalam bola
mata, sehingga tekanan pada bola mata meningkat.
 Diabetik Retinopathy; adalah gangguan pada retina yang disebabkan
karena diabetis.Retina penuh dengan pembuluh-pembuluhdarah dan dapat
dipengaruhi oleh kerusakan sistem sirkulasi hingga merusak penglihatan.
 Macular Degeneration; adalah kondisi umum yang agak baik, dimana
daerah tengah dari retina secara berangsur memburuk.Anak dengan retina
degenerasi masih memiliki penglihatan perifer akan tetapi kehilangan
kemampuan untuk melihat secara jelas objek-objek di bagian tengah
bidang penglihatan.
 Retinopathy of prematurity; biasanya anak yang mengalami ini karena
lahirnya terlalu prematur.Pada saat lahir masih memiliki potensi
penglihatan yang normal. Bayi yang dilahirkan prematur biasanya
ditempatkan pada inkubator yang berisi oksigen dengan kadar tinggi,
sehingga pada saat bayi dikeluarkan dariinkubator terjadi perubahan kadar
oksigen yang dapat menyebabkan pertumbuhan pembuluh darah menjadi
tidak normal dan meninggalkan semacam bekas luka pada jaringan mata.
Peristiwa ini sering menimbulkan kerusakan pada selaput jala (retina) dan
tunanetra total.
d. Kerusakan mata yang disebabkan terjadinya kecelakaan, seperti masuknya benda
keras atau tajam, cairan kimia yang berbahaya, kecelakaan dari kendaraan, dll.

E. Pendampingan Terhadap Anak Tunanetra


 Menciptakan lingkungan yang mampu merangsang perkembagan gerak tunanetra
sekaligus mengurangi keterlambatan koordinasi tangan.
 Pendampingan belajar (pendidikan)
a. Huruf Braile
Huruf Braille adalah suatu sistem penulisan yang menggunakan titik-titik
yang timbul yang mewakili karakter tertentu.Huruf ini terdiri dari kumpulan titik
yang disusun untuk menggantikan huruf biasa.Penulisannya pun menggunakan
mesin ketik khusus braile.Namun, untuk penghitungan penyandang tunanetra
dapat menggunakan sempoa.
b.Orientasi dan Mobilitasi (OM)
Orientasi adalah proses penggunaan indera yang masih ada untuk
menentukan posisi seseorang terhadap benda-benda penting di sekitarnya.
Mobilitas adalah kemampuan bergerak dari satu tempat ke tempat lain yang
diinginkan dengan cepat, tepat, dan aman. Orientasi dan mobilitas merupakan
kemampuan bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain dengan menggunakan
indera yang masih ada atau masih berfungsi dengan cepat, tepat, aman. Cepat
berarti dengan waktu yang singkat, dapat mecapai tujuan yang diinginkan.Tetap
berarti tidak salah memilih jalan.Aman berarti dapat menggunakan rintangan dan
halangan sebagai petunjuk.
Program latihan orientasi dan mobilitasi meliputi:
 Jalan dengan pendampingan orang awas
 Jalan mandiri
 Latihan bantu diri, yang meliputi:
 Latihan di kamar mandi (mencuci pakaian, mencuci rambut, mandi, dll)
 Latihan di ruang makan (cara makan, menghidangkan makanan, dll)
 Latihan di kamar tidur (membersihkan dan menatanya, merapikan diri, dll)
 Latihan di dapur (memasak, membersihkan peralatan, mencuci, dll)
 Latihan di ruang tamu (membersihkan dan menata ruangan)

 Pendampingan Klasikal oleh guru


 Ajak anak keliling kelas, pastikan dia mengenal susunan perlalatan kelas yang
dasar.Apabila terjadi pemindahan susunan peralatan kelas, anak perlu diberi tahu.
 Kenali jenis alat bantu yang dipakai (contoh: alat pembesar, tape recorder, radio,
atau mesin tik) serta cara merawat dan menggunakannya.
 Dorong si anak semandiri mungkin dalam seluruh aktivitas.
 Jangan terlalu ‘melindungi’ anak.
 Pakai sistem “teman baik” dalam aktivitas yang diperlukan.
 Jangan segan untuk meminta pertolongan dari para profesional lain bila
diperlukan.
Daftar Pustaka

Kosasih, E. 2012.Cara Bijak Memahami Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: Yrama Widya.
Smith, J. David. 2012. Konsep dan Penerapan Belajar Sekolah Inklusif. Bandung: Nuansa
Cendikia.
Somantri, T. Sutjihati. 2007. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT Refika Aditama.
Widayati, Eka. 2010. Memahami Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta: PT Gelora Aksara
Pratama.