Anda di halaman 1dari 4

BAB XV

INFORMED CONSENT

Informed Consent adalah sebuah serangkaian pernyataan yang disepakati dan


ditandatangani oleh subjek penelitian sebelum subjek berpartisipasi dalam
penelitian. Pernyataan ini harus secara eksplisit menyatakan bahwa peneliti akan
menjamin hak-hak dari subjek penelitian selama keterlibatan subjek dalam
penelitian yang dilakukan.
Padgeet (1998) mengemukakakn beberapa elemen dalam Informed Consent
antara lain:
1. Deskripsi singkat penelitian yang akan dilakukan disertai dengan
prosedur pelaksanaanya yang terkait dengan keterlibatan subjek dalam
penelitian.
2. Data lengkap peneliti (identitas, alamat lengkap, nomor, telepoon, alamat
e-mail, dan lainnya).
3. Pernyataan yang menjamin keterlibatan subjek penelitian atas dasar
ketersediaan yang tanpa paksaan sedikitpun dan subjek memliki hak
penuh untuk mengundurkan diri dengan alasan tertentu, kapan pun ia mau
dan tidak ada sedikitpun tuntutan dari peneliti akan kemundurannya
tersebut.
4. Pernyataan yang menjamin kerahasian akan identitas dan data yang
diberikan oleh subjek penelitian.
5. Kemungkinan-kemungkinan yang berkaitan dengan resiko dan
keuntungan yang dapat diterima oleh subjek selama berpartisipasi dalam
penelitian dan setelah penelitian selesai.
Beberapa elemen di atas yang dikemukakan oleh Padgett (1998) merupakan
elemen inti dari sebuah Informed Consent.

Informed Consent pada Subjek yang Spesifik


Dalam beberapa penelitian, subjek yang terlibat memiliki keunikan dan
spesifikasi tersendiri yang kondisinya tersebut menuntut peneliti harus membuat
strategi tersendiri dalam memberikan Informed Consent. Bebrapa subjek yang
spesifik antara lain:

Anak-anak dan Remaja (Di Bawah 18 Tahun)


Jika peneliti hendak menggunakan subjek anak-anak dalam penelitiannya,
maka persetujuan Informed Consent harus didapatkan dari orang tuanya atau
pengasuhnya (jika anak tinggal bersama orang tuanya atau jika orang tuanya sudah
tidak ada).
Informed Consent harus dibuat sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Bagi
remaja 18 tahun maka Informed Consent diberikan untuk mendapatkan persetujuan
dengan menyesuaikannya dengan bahasa yang mudah mereka pahami. Selain itu,
tetap harus mendapatkan persetujuan Informed Consent dari orang tua, atau guru di
sekolahnya.

Lansia Atau Manula


Manula adalah mudah lupa atau sulit mengingat kejadian atau peristiwa yang
baru saja terjadi, sementara ingatan akan masa lalunya sangat kuat. Informed
Consent harus diperoleh dari lansia yang bersangkutan. Selain itu, Informed
Consent juga harus diperoleh dari keluarga lansia. Bagi lansia yang tinggal di panti
wreda, maka persetujuan Informed Consent harus diperoleh dari perawat yang
merawatnya atau dari wakil panti wreda.

Subjek Dengan Gangguan Mental


Penelitian seperti ini, sebaiknya bukan hanya Informed Consent yang perlu
didapatkan, tetapi tujuan penelitian, rancana penelitian, atau jika menggunakan
suatau terapi tertentu perlu mendapatkan pengawasan yang ketat dari supervisor
ahli yang sudah diakui dibidangnya.

Subjek Atau Kelompok Subjek Spesifik Lainnya


Kelompok subbjek spesifik lainnya seperti kelompok homoseksual yang
bergabung dalam suatu organisasi tertentu, atau kelompok anak jalanan yang
tinggal pada pusat rehabilitasi sosial, perlu diberikan Informed Consent jika peneliti
hendak melibatkannya dalam penelitian. Kelompok subjek yang terorganisir seperti
kelompok homoseksual atau kelompok anak jalanan atas di atas, diberikan
Informed Consent untuk mendapatkan persetujuan dalam keterlibatannya pada
penelitian.
BAB XVI
KELOMPOK (GROUP)

Manusia dalam konteks kelompok merupakan sebuah energi besar yang


mampu melakukan apa pun, baik untuk melakukan hal yang positif dan konstruktif,
maupun melakukan hal yang negative dan destruktif. Kelompok mampu
memberikan pengaruh yang signifikan ketika bertemu dengan salah satu sifat dasar
manusia yaitu sebagai makhluk sosial.
Pengaruh kelompok akan semakin kuat mempengaruhi perilaku manusia
ketika beririsan dengan variable lain seperti faktor budaya (ex: budaya kolektif),
faktor pembelajaran dan modeling, faktor kepuasan, adanya reinforcement/penguat
(ex: uang, jabatan, kekuasaan), dan lain sebagainya.

Manusia Sebagai Makhluk Berkelompok


Manusia adalah makhluk sempurna, ketika ia dilahirkan, kondisinya sangat
lemah dan rentan sehingga membutuhkan keberadaan orsng lain untuk merawatnya,
menjaganya, memberikannya perlindungan, memberikan makanan dan minuman,
mengajarinya berdiri dan berjalan, dan seterusnya.
David McCleland seorang ahli psikologi merumuskan tiga kebetuhan dasar
manusia yaitu: kebutuhan untuk berkuasa (need for power), kebutuhan untuk
berprestasi (need for achievement), dan kebutuhan menjalin ikatan dengan orang
lain (need for affiliation). Need For Affiliation merupakan salah satu hal dasar yang
menggambarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang sangat bergantung
dan membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Karena pada dasarnya manusia
adalah makhluk sosial dan berkelompok, maka sulit menemukan manusia yang
tidak berkelompok. Manusia adalah produk dari lingkungan yang keberadaannya
dipengaruhi dan mempengaruhi manusia lainnya.

Kelompok memberikan Pengalaman