Anda di halaman 1dari 7

KURIKULUM GURU DAN PEMBELAJARAN

A. Pengertian Kurikulum
Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran. Kurikulum ialah sejumlah mata ajaran
yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan.
Kurikulum sebagai rencana pembelajaran. Lazimnya kurikulum dipandang sebagai suatu
rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar-mengajar di bawah bimbingan dan
tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya (Nasution, 2009:
5)
Rusman (2009: 3) Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai
tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Subandijah (1993: 2)
menambahkan “Kurikulum merupakan aktivitas dan kegiatan belajar yang direncanakan,
diprogramkan bagi peserta didik di bawah bimbingan sekolah, baik di dalam maupun di luar
sekolah”. Selanjutnya Idi (2009: 205) menyimpulkan bahwa kurikulum merupakan
seperangkat rencana dan pengaturan isi bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar. Kurikulum dipandang sebagai
program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan dalam mencapai tujuan
pendidikan.
Idi (2009: 206) mengemukakan fungsi-fungsi pengembangan kurikulum yaitu sebagai
berikut.
1. Fungsi Kurikulum dalam Rangka Pencapaian Tujuan Pendidikan
Di Indonesia, ada empat tujuan pendidikan utama yang secara hierarkis seperti:
- Tujuan Nasional
- Tujuan Kurikuler
- Tujuan Intruksional
- Tujuan Instutisional
Dalam pencapaian tujuan pendidikan yang dicita-citakan, tujuan-tujuan tersebut mesti
dicapai secara bertingkat yang saling mendukung, sedangkan keberadaan kurikulum di sini
adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan (pendidikan).
2. Fungsi Kurikulum bagi Anak Didik
Sebagai alat dalam mencapai tujuan pendidikan, kurikulum diharapkan mampu
menawarkan program-program pada anak didik yang akan hidup pada zamannya, dengan
latar belakang sosio historis dan kultural yang berbeda dengan zaman di mana kedua orang
tuanya berada.
3. Fungsi Kurikulum bagi Pendidik
Adapun fungsi kurikulum bagi guru atau pendidik adalah:
- Pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisasi pengalaman belajar pada anak didik.
- Pedoman untuk mengadakan evaluasi terhadap perkembangan anak didik dalam rangka
menyerap sejumlah pengalaman yang diberikan.
Dengan adanya kurikulum, sudah barang tentu tugas guru atau pendidik sebagai pengajar dan
pendidik lebih terarah. Pendidik juga merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan
dan sangat penting dalam proses pendidikan, dan merupakan salah satu komponen yang
berinteraksi secara aktif dengan anak didik dalam pendidikan.
4. Fungsi Kurikulum bagi Kepala Sekolah/Pembina Sekolah
Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah atau para Pembina lainnya adalah:
- Sebagai pedoman dalam mengadakan fungsi supervisi, yakni memperbaiki situasi belajar.
- Sebagai pedoman dalam melaksanakan fungsi supervisi dalam menciptakan situasi untuk
menunjang situasi belajar anak ke arah yang lebih baik.
- Sebagai pedoman dalam melaksanakan supervisi dalam memberikan bantuan kepada guru
atau pendidik agar dapat memperbaiki situasi mengajar.
- Sebagai seorang administrator, menjadikan kurikulum sebagai pedoman untuk
pengembangan kurikulum pada masa mendatang.
- Sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi atas kemajuan belajar mengajar.
5. Fungsi Kurikulum bagi Orang Tua
Bagi orang tua, kurikulum difungsikan sebagai bentuk adanya partisipasi orang tua
dalam membantu usaha sekolah dalam memajukan putra-putrinya. Bantuan yang dimaksud
dapat berupa konsultasi langsung dengan sekolah/guru mengenai masalah-masalah yang
menyangkut anak-anak mereka. Bantuan berupa materi dari orang tuan anak dapat melalui
lembaga BP-3. Dengan membaca dan memahami kurikulum sekolah, para orang tua dapat
mengetahui pengalaman belajar yang diperlukan anak-anak mereka, sehingga partisipasi
orang tua ini pun tidak kalah pentingnya dalam menyukseskan proses belajar mengajar di
sekolah.
6. Fungsi bagi Sekoah Tingkat di Atasnya
Fungsi kurikulum daam hal ini yaitu:
- Pemeliharaan keseimbangan proses pendidikan
- Penyiapan tenaga baru
7. Fungsi bagi Masyarakat dan Pemakai Lulusan Sekolah
Fungsi kurikulum bagi masyarakat dan pemakai lulusan sekolah yaitu terdiri atas dua
macam seperti berikut.
- Ikut memberikan kontribusi dalam memperlancar pelaksanaan program pendidikan yang
membutuhkan kerja sama dengan pihakk orang tua dan masyarakat.
- Ikut memberikan kritik dan saran konstruktif demi penyempurnaan program pendidikan di
sekolah, agar lebih serasi dengan kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja.
Selain beberapa fungsi di atas, Alexander Inglis dalam bukunya Principle of
Secondary Education (1981) mengemukakan 6 fungsi kurikulum sebagai berikut.
1. Fungsi penyesuaian
Fungsi penyesuaian mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan
harus mampu mengarahkan siswa agar memiliki sifat well adjusted, yaitu mampu
menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
2. Fungsi Integrasi
Fungsi integrasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan
harus mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang utuh.
3. Fungsi diferensiasi
Fungsi diferensiasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan
harus mampu memberikan pelayanan terhadap perbedaan individu siswa.
4. Fungsi persiapan
Fungsi persiapan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan
harus mampu mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan
berikutnya.
5. Fungsi pemilihan
Fungsi pemilihan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan
harus mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih program-program
belajar yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
6. Fungsi diagnostik
Fungsi diagnostik mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan
harus mampu membantu dan mengarahkan siswa untuk dapat memahami dan menerima
kekuatan (potensi) dan kelemahan yang dimilikinya.

Pengembangan kurikulum dilihat dari segi pengelolaannya terbagi menjadi tiga macam,
yakni:
• Peranan guru dalam pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi
Idi (2009: 221) berpendapat seperti berikut.
Yang dimaksud sentralisasi atau sistem pengembangan kurikulum secara sentral (terpusat)
adalah keterlibatan pemerintah pusat dalam mengembangkan kurikulum atau program
pendidikan yang akan diterapkan pada semua jalur, kjenjang, dan jenis pendidikan, yang
bertujuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Dalam kurikulum yang bersifat sentralisasi, guru tidak mempunyai peranan dan evaluasi
kurikulum yang bersifat makro, mereka lebih berperan dalam kurikulum mikro.
Kurikulum makro disusun oleh tim khusus yang terdiri atas para ahli. Penyusunan
kurikulum mikro dijabarkan dari kurikulum makro. Guru menyusun kurikulum dalam
bidangnya untuk jangka waktu satu tahun, satu semester, beberapa minggu, atau beberapa
hari saja.
Kurikulum untuk satu tahun disebut prota, dan kurikulum untuk satu semester disebut
dengan promes. Sedangkan kurikulum untuk beberapa minggu, beberapa hari disebut
Rencana Pembelajaran. Program tahunan, program semester ataupun rencana pembelajaran
memiliki komponen-komponen yang sama yaitu tujuan, bahan pelajaran, metode dan media
pembelajaran dan evaluasi hanya keluasan dan kedalamannya berbeda-beda. Tugas guru
adalah menyusun dan merumuskan tujuan yang tepat memilih dan menyusun bahan pelajaran
yang sesuai dengan kebutuhan, minat dan tahap perkembangan anak, memilih metode dan
media mengajar yang bervariasi serta menyusun metode dan alat yang tepat. Suatu
kurikulum yang tersusun secara sistematis dan rinci akan sangat memudahkan guru dalam
implementasinya. Walaupun kurikulum sudah tersusun dengan terstruktur, tapi guru masih
mempunyai tugas untuk mengadakan penyempurnaan dan penyesuaian-penyesuaian.
Implementasi kurikulum hampir seluruhnya bergantung pada kreatifitas, kecakapan,
kesungguhan dan ketekunan guru. Guru juga berkewajiban untuk menjelaskan kepada para
siswanya tentang apa yang akan dicapai dengan pengajarannya, membangkitkan motivasi
belajar, menciptakan situasi kompetitif dan kooperatif serta memberikan pengarahan dan
bimbingan.
• Peranan guru dalam pengembangan kurikulum yang bersifat desentralisasi
Kurikulum desentralisasi disusun oleh sekolah ataupun kelompok sekolah tertentu dalam
suatu wilayah atau daerah. Kurikulum ini diperuntukan bagi suatu sekolah ataupun
lingkungan wilayah tertentu. Idi (2009: 223) menyebutkan bahwa desentralisasi
pengembangan kurikulum mempunyai makna yaitu pengembangan kurikulum sekolah yang
dihubungkan dengan potensi, karakteristik, dan kebutuhan pengembangan daerah yang dapat
dimulai dari pemegang kewenangan dan pengaaran (pengembangan kurikulum yang bermula
dari sekolah bersama dengan guru.
Bentuk kurikulum ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya antara lain :
pertama, kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat setempat.
Kedua, kurikulum sesuai dengan tingkat dan kemampuan sekolah baik kemampuan
profesional, finansial dan manajerial. Ketiga, disusun oleh guru-guru sendiri dengan
demikian sangat memudahkan dalam pelaksanaannya. Keempat, ada motivasi kepada
sekolah (kepala sekolah, guru), untuk mengembangkan diri, mencari dan menciptakan
kurikulum yang sebaik-baiknya, dengan demikian akan terjadi semacam kompetisi dalam
pengembangan kurikulum.
Beberapa kelemahan kurikulum ini adalah: 1) tidak adanya keseragaman untuk situasi
yang membutuhkan keseragaman demi persatuan dan kesatuan nasional, bentuk ini kurang
tepat. 2) tidak adanya standart penilaian yang sama sehingga sukar untuk
diperbandingkannya keadaan dan kemajuan suatu sekolah/ wilayah dengan sekolah/ wilayah
lainnya. 3) adanya kesulitan bila terjadi perpindahan siswa kesekolah/ wilayah lain. 4) sukar
untuk mengadakan pegelolaan dan penilaian secara nasional.5) belum semua sekolah/ daerah
mempunyai kesiapan untuk menyusun dan mengembangkan kurikulum sendiri.
• Peranan guru dalam pengembangan kurikulum yang bersifat sentral-desentral
Untuk mengatasi kelemahan kedua bentuk kurikulum tersebut, bentuk campuran antara
keduanya dapat digunakan yaitu bentuk sentral-desentral. Dalam kurikulum yang dikelola
secara sentralisasi-desentralisasi mempunyai batas-batas tertentu juga, peranan guru dalam
dalam pengembangan kurikulum lebih besar dibandingkan dengan yang dikelola secara
sentralisasi. Guru-guru turut berpartisipasi, bukan hanya dalam penjabaraban kurikulum
induk ke dalam program tahunan/ semester/ atau rencana pembelajaran, tetapi juga di dalam
menyusun kurikulum yang menyeluruh untuk sekolahnya. Guru-guru turut memberi andil
dalm merumuskan dalam setiap komponen dan unsur dari kurikulum. Dalam kegiatan yang
seperti itu, mereka mempunyai perasaan turut memilki kurikulum dan terdorong untuk
mengembangkan pengetahuan dan kemampuan dirinya dalam pengembangan kurikulum.
Karena guru-guru sejak awal penyusunan kurikulum telah diikutsertakan, mereka memahami
dan benar-benar menguasai kurikulumnya, dengan demikian pelaksanaan kurikulum di
dalam kelas akan lebih tepat dan lancar. Guru bukan hanya berperan sebagi pengguna, tetapi
perencana, pemikir, penyusun, pengembang dan juga pelaksana dan evaluator kurikulum.
Peranan guru dalam menentukan berhasil tidaknya suatu kurikulum yaitu sebagai berikut.
1. Guru sebagai perencana pengajaran, ia harus membuat perencanaan pengajaran dan
persiapan sebelum melakukan kegiatan mengajar.
2. Guru sebagai pengelola pengajaran harus dapat menciptakan situasi belajar yang
memungkinkan tercapainya tujuan pengajaran yang telah ditentukan.
3. Guru sebagai evaluator, artinya ia melakukan pengukuran untuk mengetahui apakah anak
telah mencapai hasil belajar seperti yang diharapkan

B. Pengertian Guru
Guru merupakan salah satu komponen dalam pendidikan sebagai pendidik atau
pengajar. Aziz ( 2012: 9) menyatakan “Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru. Digugu
artinya diindahkan atau dipercayai sedang ditiru artinya dicontoh atau diikuti”. Selanjutnya
Suprihatingrum (2013: 24) menambahkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan
tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi siswa pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah. Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan
merancang program pembelajaran, serta mampu menata dan mengelola kelas agar siswa
dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari
proses pendidikan.
Jadi, guru adalah seorang pendidik professional yang bertugas mendidik dan
mengajarkan pendidikan kepada siswa di sekolah.

C. Pengertian Pengajaran
Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik. Ibrahim dan Syaodih
(1996: 11) mengatakan bahwa pengajaran berintikan interaksi antara guru dan siswa. Dalam
interaksi tersebut guru melakukan kegiatan yang disebut mengajar, sedang siswa melakukan
kegiatan yang disebut belajar. Oleh karena itu, interaksi guru dengan siswa dalam pengajaran
ini disebut juga proses belajar-mengajar. Banyak cara atau bentuk pengajaran yang biasa
digunakan oleh guru-guru di dalam kelas seperti pengajaran yang menekankan latihan,
hapalan, pengulangan, pemahaman, dan sebagainya.
Pembelajaran dan pengajaran adalah suatu hal yang berbeda dalam sebuah
pendidikan. Kalau belajar dikatakan milik siswa, maka mengajar sebagai kegiatan guru.
Brown (1993: 8) mengatakan bahwa pembelajaran adalah penguasaan atau pemerolehan
pengetahuan tentang suatu subjek atau sebuah keterampilan dengan belajar, pengalaman,
atau intruksi sedangkan pengajaran didefinisikan “menunjukkan atau membantu seseorang
mempelajari cara melakukan sesuatu, memberi intruksi, memandu dalam pengkajian tertentu,
menyiapkan pengetahuan, menjadikan tahu atau paham.
Karena itu, pengajaran merupakan usaha yang dilakukan guru untuk memberi atau
memandu pelajaran serta menyiapkan pengetahuan bagi siswa sebagai peserta didik.

D. Hubungan Kurikulum, Guru, dan Pengajaran


Kurikulum dan pengajaran memiliki hubungan yang sangat erat karena kurikulum itu
sendiri merupakan mata pelajaran yang harus ditempuh dan dipelajari siswa untuk
memperoleh pengetahuan. Dalam melaksanakan hal tersebut tentu tidak lepas dari unsur-
unsur seperti manusiawi (guru), material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur-prosedur
yang semua itu disebut dengan pembelajaran. Maka kurikulum, guru, dan pengajaran tidak
dapat berdiri sendiri karena saling berhubungan erat dan berpengaruh terhadap pencapaian
tujuan pembelajaran. Jadi, kurikulum, guru, dan pengajaran memiliki peranan yang penting
dalam pendidikan.
Fungsi guru dalam hubungan kurikulum dalam pengajaran.
1. Guru memegang peranan penting dalam pelaksanaan proses belajar-mengajar. Salah
satunya fungsi guru yaitu untuk memperbaiki situasi belajar. Selain itu sebagai perencana,
pelaksana dan pengembangan kurikulum dari pengajaran. Guru adalah pembimbing,
dinamisator, motivator, fasilitator dan arsitek proses belajar mengajar.
2. Guru sebagi komunikator yaitu sebagai pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing
dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai-nilai, agar pembelajar menguasai
materi pelajaran yang diajarkan.
3. Guru sebagai informator yaitu pelaksanaan dengan beberapa cara mengajar
informatif, praktis dan studi lapangan secara akademik maupun umum.
4. Guru sebagai organisator yaitu pengelola kegiatan akademik seperti: silabus,
workshop, jadwal pelajaran dan sebagainya.
5. Guru sebagai motivator. Peranan ini sangat penting artinya dalam rangka
meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar. Guru harus dapat merangsang
memberikan dorongan untuk mendinamiskan potensi pembelajar menumbuhkan aktivitas
dan kreativitas sehingga terjadi dinamika didalam proses pembelajaran.
6. Guru sebagai pengarah/direktor yaitu jiwa kepemimpinan sesorang guru dalam
peranan ini sangat menonjol. Guru dalam hal ini harus dapat membimbing dan mengarahkan
kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
7. Guru sebagai inisiator yaitu pencetus ide-ide dalam proses belajar. Dalam
pembelajaran guru perlu memberikan ide-ide yang dapat dicontoh oleh pembelajar.
8. Guru sebagai transmitter yaitu memberikan fsilitas untuk kemudahan pembelajaran,
menciptakan suasana belajar sedemikian rupa, serasi dengan pengembangan siswa sehingga
interaksi dalam pembelajaran akan berlangsung secara efektif.
9. Guru sebagai mediator yaitu penengah dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu,
mediator dapat diartikan perancang pengembang dan penyedia media serta cara memakai dan
mengorganisasikan pengguna media.
10. Guru sebagai evaluator yaitu peranan akhir kegiatan guru dalam pembelajaran adalah
melakukan evaluasi. Dalam hal ini guru mempunyai otoritas unttuk menialai keberhasilan
pengajaran.