Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur kita selalu panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas segala nikmat yang
telah diberikan kepada kita semua sehingga penyusunan makalah dengan judul “Ilmu
Pengetahuan MEnurut Islam” dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Shalawat
serta salam selalu kita kirimkan kepada panutan dan tauladan hidup kita, yakni nabi
Muhammad SAW. Yang telah membawa hidup kita ini dari zaman kegelapan ke zaman
terang-benderang.

Dalam penyusunan makalah ini. Penulis tidak dapat menyelesaikan makalah ini
tanpa adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
sangat berterima kasih kepada Dosen mata kuliah Al- Islam Kemuhammadiyaan dan
teman-teman yang telah mendukung pembuatan makalah ini.

Sungguh merupakan suatu kebanggaan dari penulis apabila makalah ini dapat
terpakai sesuai fungsinya, dan pembacanya dapat mengerti dengan jelas apa yang
dibahas didalamnya. Tidak lupa juga penulis menerima kritikan dan saran yang
membangun, yang sangat diharapkan demi memperbaiki pembuatan makalah di
kemudian hari.

Makassar,Mei 2019

Penyusun

Kelompok V
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
BAB II PEMBAHASAN
ILMU PENGETAHUAN MENURUT ISLAM
A. Pengertian Ilmu
B. Kedudukan Ilmu Menurut Islam
C. Klasifikasi Ilmu menurut ulama Islam.
D. Pengertian filsafat
E. Pengertian Filsafat Ilmu
F. Kegemilangan ilmu Pengetahuan dalam islam
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu pengetahuan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran
agama Islam, sebab kata islam itu sendiri, dari kata dasar aslama yang artinya
“tunduk patuh”, mempunyai makna “tunduk patuh kepada kehendak atau
ketentuan Allah”. Dalam Surat Ali Imran ayat 83, Allah menegaskan bahwa
seluruh isi jagat raya, baik di langitmaupun di bumi, selalu berada dalam
keadaan islam, artinya tunduk patuh kepada aturan-aturan Ilahi. Allah
memerintahkan manusia untuk meneliti alam semesta yang berisikan ayat-ayat
Allah. Sudah tentu manusia takkan mampu menunaikan perintah Allah itu jika
tidak memiliki ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya, kata alam dan
ilmumempunyai akar huruf yang sama: ain-lam-mim.
Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum
sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat
secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang
ilmu tertentu. Dipandang darisudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia
berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu
pengetahuan adalah produk dari epistemologi. Iptek atau Ilmu Pengetahuan dan
Teknolgi, merupakan salah satu hal yang tidak dapat kitalepaskan dalam
kehidupan kita. Kita membutuhkan ilmu karena pada dasarnya
manusia mempunyai suatu anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT hanya
kepada kita, manusia, tidak untuk makhluk yang lain, yaitu sebuah akal pikiran.
Dengan akal pikirantersebutlah, kita selalu akan berinteraksi dengan ilmu. Akal
yang baik dan benar, akan terisi dengan ilmu-ilmu yang baik pula. Sedangkan
teknologi, dapat kita gunakan sebagai sarana untuk mendapatkan ilmu
pengetahuan itu sendiri. Namun, dalam mempelajari dan mengaplikasikan iptek
itu sendiri, harus memperhatikan beberapa hal yang penting.
Tidak semua sains dan teknologi yang diciptakan para ilmuwan itu baik
untuk kita. Terkadang ada pula yang menggunakan bahan – bahan berbahaya
bagi kesehatan lingkungan sekitar. Beberapa dari mereka ada yang
menyalahgunakan hasil penelitian tsb. Sesungguhnya Allah melarang kita
membuat pengrusakan di bumi, seperti dalam firman-Nya dalam (Q.S. Al-A’raf :
56).
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi, sesudah
(Allah)memperbaikinya dan berdo’alah kepadaNya dengan rasa takut (tidak
akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah
sangat dekat kepada orang –orang yang berbuat baik.”
Kita sebagai manusia, tak lepas dari tanggung jawab kita sebagai khalifah
dimuka bumi. Dimana kita ditugaskan untuk menjaga bumi dan seluruh isinya
agar tetap asri. Ada alasan mengapa Allah menciptakan kita sebagai khalifah
dibumi ini?!!, yaitu karena manusia memiliki akal untuk berfikir dan mengenali
lingkungannya. Inilah yangmembedakan manusia dengan makhluk hidup
lainnya. Bahkan malaikat pun pernah protes lantaran Adam memiliki jabatan
sebagai khalifah. Seperti yang dikatakan Allah dalam firman-Nya Q.S. Al-
Baqarah : 34
“Dan ingatlah tatkala kami berkata kepada malaikat: Sujudlah kamu kepada
Adam! Maka sujudlah mereka, kecuali iblis enggan dia dan menyombongkan
diri, karena dia adalah dari golongan makhluk yang kafir.”
Dengan surat tersebut menjelaskan bahwa kemampuan berfikir itulah yang
membuat manusia dijadikan sebagai khalifah dimuka bumi ini jika dibandingkan
dengan malaikat yang kita ketahui sebagai makhluk yang maksum dari dosa.
Bisa disimpulkan bahwa untuk menjadi khalifah tidak hanya bertasbih menyebut
asma-Nya tapi jugakemampuannya dalam mengenali lingkungannya dan
berfikir. Ini adalah karunia yang besar bagi kita. Seharusnya kita bersyukur dan
mampu memanfaatkannya dengan baik.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu

Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab ‫علم‬, masdar dari
َ ِ‫َـعـلَمَ – َعـل‬
َ‫م‬ ْ ‫ ي‬yang berarti tahu atau mengetahui. Dalam bahasa Inggeris Ilmu
biasanya dipadankan dengan kata science, sedang pengetahuan dengan
knowledge. Dalam bahasa Indonesia kata science umumnya diartikan Ilmu tapi
sering juga diartikan dengan Ilmu Pengetahuan, meskipun secara konseptual
mengacu paada makna yang sama. Untuk lebih memahami pengertian Ilmu
(science) di bawah ini akan dikemukakan beberapa pengertian :
Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara
bersistemmenurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk
menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu (Kamus Besar
Bahasa Indonesia) dari pengertian di atas nampak bahwa Ilmu memang
mengandung arti pengetahuan, tapi pengetahuan dengan ciri-ciri khusus yaitu
yang tersusun secara sistematis atau menurut Moh Hatta (1954 : 5)
“Pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut Ilmu”.
B. Kedudukan Ilmu Menurut Islam
Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam , hal
ini terlihat dari banyaknya ayat al-Qur’an yang memandang orang berilmu
dalam posisi yang tinggi dan mulya disamping hadis-hadis nabi yang banyak
memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.
Didalam Al qur’an , kata ilmu dan kata-kata jadianya di gunakan lebih dari
780 kali , ini bermakna bahwa ajaran Islam sebagaimana tercermin dari al-
Qur’an sangat kental dengan nuansa nuansa yang berkaitan dengan ilmu,
sehingga dapat menjadi ciri penting dariagama Islam sebagamana dikemukakan
oleh Dr Mahadi Ghulsyani sebagai berikut ;
Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah
penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), Al quran dan Al –sunah
mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan Ilmu dan kearifan
,serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat tinggi
Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an yang artinya: Allah meninggikan beberapa
derajat (tingkatan) orang-orang yang berirman diantara kamu dan orang-orang
yang berilmu (diberi ilmupengetahuan). dan Allah Maha mengetahui apa yang
kamu kerjakan ayat di atas dengan jelas menunjukan bahwa orang yang
beriman dan berilmu akan menjadi memperoleh kedudukan yang tinggi.
Keimanan yang dimiliki seseorang akan menjadi pendorong untuk menuntut
Ilmu, dan Ilmu yang dimiliki seseorang akan membuat dia sadar betapa kecilnya
manusia dihadapan Allah, sehingga akan tumbuh rasa kepada Allah bila
melakukan hal-hal yang dilarangnya, hal ini sejalan dengan firman Allah:
sesungguhnya yang takut kepada allah diantara hamba –hambanya hanyaklah
ulama( orang berilmu).
Disamping ayat–ayat Qur’an yang memposisikan Ilmu dan orang
berilmu sangat istimewa, al-Qur’an juga mendorong umat Islam untuk berdo’a
agar ditambahi ilmu,dan katakanlah, tuhanku ,tambahkanlah kepadaku ilmu
penggetahuan.
dalam hubungan inilah konsep membaca, sebagai salah satu wahana
menambah ilmu ,menjadi sangat penting,dan islam telah sejak awal
menekeankan pentingnya membaca , sebagaimana terlihat dari firman Allah
yang pertama diturunkan yaitu surat Al-Alaq yang artinya:
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah
menciptakan kamu dari segummpal darah. Bacalah,dan Tuhanmulah yang
paling pemurah. Yang mengajar (manusia ) dengan perantara kalam. Dia
mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui”.
Ayat –ayat trersebut, jelas merupakan sumber motivasi bagi umat Islam
untuk tidak pernah berhenti menuntut ilmu, untuk terus membaca, sehingga
posisi yang tinggi dihadapan Allah akan tetap terjaga, yang berarti juga rasa
takut kepada Allah akan menjiwai seluruh aktivitas kehidupan manusia untuk
melakukan amal shaleh, dengan demikian nampak bahwa keimanan yang
dibarengi denga ilmu akan membuahkan amal ,sehingga Nurcholis Madjd
menyebutkan bahwa keimanan dan amal perbuatan membentuk segi tiga pola
hidup yang kukuh ini seolah menengahi antara iman dan amal .
Di samping ayat –ayat al-Qur’an, banyak juga hadis yang memberikan
dorongan kuat untuk menuntut Ilmu antara lain hadis berikut::
Carilah ilmu walai sampai ke negri Cina ,karena sesungguhnya menuntut ilmu
itu wajib bagisetuap muslim’”(hadis riwayat Baihaqi).
Carilah ilmu walau sampai ke negeri cina, karena sesungguhnya
menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim . sesungguhnya Malaikat akan
meletakan sayapnya bagi penuntut ilmu karena rela atas apa yang dia tuntut
“(hadist riwayat Ibnu Abdil Bar).
Dari hadist tersebut di atas , semakin jelas komitmen ajaran Islam pada ilmu
,dimana menuntut ilmu menduduki posisi fardhu (wajib) bagi umat islam tanpa
mengenal batas wilayah.
C. Klasifikasi Ilmu menurut ulama Islam.
Dengan melihat uraian sebelumnya ,nampak jelas bagaimana kedudukan
ilmu dalam ajaran Islam. Al-Qur’an telah mengajarkan bahwa ilmu dan para
ulama menempati kedudukan yang sangat terhormat, sementara hadis
nabimenunjukan bahwa menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap
muslim. Dari sini timbul permasalahan apakah segala macam Ilmu yang harus
dituntut oleh setiap muslim dengan hukum wajib (fardu), atau hanya Ilmu
tertentu saja ?. Hal ini mengemuka mengingat sangat luasnya spsifikasi ilmu
dewasa ini .
Pertanyaan tersebut di atas nampaknya telah mendorong para ulama
untuk melakukan pengelompokan (klasifikasi) ilmu menurut sudut pandang
masing-masing, meskipun prinsip dasarnya sama ,bahwa menuntut ilmu wajib
bagi setiap muslim. Syech Zarnuji dalam kitab Ta’limu al-Muta‘alim ketika
menjelaskan hadis bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim
menyatakan :
Ketahuilah bahwa sesungguhya tidak wajib bagi setiap muslim dan muslimah
menuntut segala ilmu ,tetapi yang diwajibkan adalah menuntut ilmu perbuatan
(‘ilmu al- hal) sebagaimana diungkapkan, sebaik-baik ilmu adalah Ilmu
perbuatan dan sebagus –bagus amal adalah menjaga perbuatan.
Kewajiban manusia adalah beribadah kepeda Allah, maka wajib bagi
manusia (Muslim ,Muslimah) untuk menuntut ilmu yang terkaitkan dengan tata
cara tersebut, seperti kewajiban shalat, puasa, zakat, dan haji, mengakibatkan
wajibnya menuntut ilmu tentang hal-hal tersebut . Demikianlah nampaknya
semangat pernyataan Syech Zarnuji ,akan tetapi sangat disayangkan bahwa
beliau tidak menjelaskan tentang ilmu-ilmu selain Ilmu Hal tersebut lebih jauh di
dalam kitabnya.
Sementara itu Al Ghazali di dalam Kitabnya Ihya Ulumudin
mengklasifikasikan Ilmu dalam dua kelompok yaitu 1). Ilmu Fardu a’in, dan 2).
Ilmu Fardu Kifayah, kemudian beliau menyatakan pengertian Ilmu-ilmu tersebut
sebagai berikut :
Ilmu fardu a’in . Ilmu tentang cara amal perbuatan yang wajib, Maka orang yang
mengetahui ilmu yang wajib dan waktu wajibnya, berartilah dia sudah
mengetahui ilmu fardu a’in. Ilmu fardu kifayah. Ialah tiap-tiap ilmu yang tidak
dapat dikesampingkan dalam menegakan urusan duniawi.
Lebih jauh Al Ghazali menjelaskan bahwa yang termasuk ilmu fardu a’in
ialah ilmu agama dengan segala cabangnya, seperti yang tercakup dalam rukun
Islam, sementara itu yang termasuk dalam ilmu (yang menuntutnya) fardhu
kifayah antara lain ilmu kedokteran, ilmu berhitung untuk jual beli, ilmu
pertanian, ilmu politik, bahkan ilmu menjahit, yang pada dasarnya ilmu-ilmu yang
dapat membantu dan penting bagi usaha untuk menegakan urusan dunia.
Klasifikasi Ilmu yang lain dikemukakan oleh Ibnu Khaldun yang membagi
kelompok ilmu ke dalam dua kelompok yaitu :
1. Ilmu yang merupakan suatu yang alami pada manusia, yang ia bisa
menemukannya karena kegiatan berpikir.
2. Ilmu yang bersifat tradisional (naqli).
bila kita lihat pengelompokan di atas , barangkali bisa disederhanakan menjadi
1). Ilmu aqliyah , dan 2). Ilmu naqliyah.
Dalam penjelasan selanjutnya Ibnu Khaldun menyatakan :
Kelompok pertama itu adalah ilmu-ilmu hikmah dan falsafah. Yaituilmu
pengetahuan yang bisa diperdapat manusia karena alam berpikirnya, yang
dengan indra—indra kemanusiaannya ia dapat sampai kepada objek-objeknya,
persoalannya, segi-segi demonstrasinya dan aspek-aspek pengajarannya,
sehingga penelitian dan penyelidikannya itu menyampaikan kepada mana yang
benar dan yang salah, sesuai dengan kedudukannya sebagai manusia berpikir.
Kedua, ilmu-ilmu tradisional (naqli dan wadl’i. Ilmu itu secara keseluruhannya
disandarkan kepada berita dari pembuat konvensi syara.
Dengan demikian bila melihat pengertian ilmu untuk kelompok pertama
nampaknya mencakup ilmu-ilmu dalam spektrum luas sepanjang hal itu
diperoleh melalui kegiatan berpikir. Adapun untuk kelompok ilmu yang kedua
Ibnu Khaldun merujuk pada ilmu yang sumber keseluruhannya ialah ajaran-
ajaran syariat dari al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Ulama lain yang membuat
klasifikasi Ilmu adalah Syah Waliyullah, beliau adalah ulama kelahiran India
tahun 1703 M. Menurut pendapatnya ilmu dapat dibagi ke dalam tiga kelompok
menurut pendapatnya ilmu dapat dibagi kedalam tiga kelompok yaitu :
1) Al manqulat adalah semua Ilmu-ilmu Agama yang disimpulkan dari atau
mengacu kepada tafsir, ushul al tafsir, hadis dan al hadis.
2) Al ma’qulat adalah semua ilmu dimana akal pikiran memegang peranan
penting.
3) Al maksyufat adalah ilmu yang diterima langsung dari sumber Ilahi tanpa
keterlibatan indra, maupun pikiran spekulatif
Selain itu, Syah Waliyullah juga membagi ilmu pengetahuan ke dalam dua
kelompok yaitu : 1). Ilmu al husuli, yaitu ilmu pengetahuan yang bersifat
indrawi, empiris, konseptual, formatif aposteriori dan 2). Ilmu al huduri, yaitu
ilmu pengetahuan yang suci dan abstrak yang muncul dari esensi jiwa yang
rasional akibat adanya kontak langsung dengan realitas ilahi .
Meskipun demikian dua macam pembagian tersebut tidak bersifat kontradiktif
melainkan lebih bersifat melingkupi, sebagaimana dikemukakan A.Ghafar
Khan bahwa al manqulat dan al ma’qulat dapat tercakup ke dalam ilmu al
husuli

D. Pengertian filsafat
Secara etimologis filsafat berasal dari bahasa Yunani dari kata “philo”
berarti cinta dan” sophia” yang berarti kebenaran, sementara itu menurut Ir.
Pudjawijatna Filo artinya cinta dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan
karena ingin lalu berusaha mencapai yang diinginkannya itu . Sofia artinya
kebijaksanaan , bijaksana artinya pandai, mengerti dengan mendalam, jadi
menurut namanya saja Filsafat boleh dimaknakan ingin mengerti dengan
mendalam atau cinta dengan kebijaksanaan.
Ilmu mengkaji hal-hal yang bersifat empiris dan dapat dibuktikan, filsafat
mencoba mencari jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab
oleh Ilmu dan jawabannya bersifat spekulatif, sedangkan Agama merupakan
jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab oleh filsafat dan
jawabannya bersifat mutlak.Menurut Sidi Gazlba Pengetahuan ilmu
lapangannya segala sesuatu yang dapat diteliti (riset dan/atau eksperimen) ;
batasnya sampai kepada yang tidak atau belum dapat dilakukan penelitian.
Pengetahuan filsafat : segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh budi (rasio)
manusia yang alami (bersifat alam) dan nisbi; batasnya ialah batas alam namun
demikian ia juga mencoba memikirkan sesuatuyang diluar alam, yang disebut
oleh agama Tuhan. Sementara itu Oemar Amin Hoesin mengatakan bahwa ilmu
memberikan kepada kita pengetahuan, dan filsafat memberikan hikmat

E. Pengertian Filsafat Ilmu


Filsat ilmu pada dasarnya merupakan upaya untuk menyoroti dan mengkaji
ilmu, dia berkaitan dengan pengkajian tentang obyek ilmu, bagaimana
memperolehnya serta bagaimana dampai etisnya bagi kehidupan masyarakat.
Secara umum kajian filsafat ilmu mencakup :
1) Aspek ontologis
2) Aspek epistemologis
3) Axiologis
Aspek ontologis berkaiatan dengan obyek ilmu, aspek epistemologis
berkaiatan dengan metode, dan aspek axiologis berkaitan dengan pemanfatan
ilmu. Dari sudut ini filosof muslim telah berusaha mengkajinya dalam suatu
kesatuan dengan prinsip dasar nilai-nilai keislamanyang bersumebr pada Al
Qur’an dan Sunnah Rasul.
Di dalam Islam, ilmu pengetahuan mempunyai kedudukan tinggi dan
istimewa di sisi Allah terbukti melalui pengiktirafan Allah terhadap ilmu melalui
wahyu pertama Ilahi kepada junjungan besar Rasulullah memerintahkan
baginda untuk mempelajari ilmu dan menitik beratkan kepentingan pembelajaran
dalam setiap aspek kehidupan manusia.

F. Kegemilangan ilmu Pengetahuan dalam islam


Islam menganggap hanya manusia yang dihiasi dengan ilmu pengetahuan
saja, golongan yang benar-benar bertakwa kepada Allah. Jelas di sini bahawa
ilmu pengetahuan dalam Islam mengandung satu arti ilmu yang menyeluruh dan
berkesinambungan dan nilai yang tidak dapat dipisahkan sama sekali. Termasuk
dalam konteks ini, ilmu sains dan teknologi adalah antara cabang ilmu
pengetahuan yang memberi manfaat dan faedah besar kepada kelangsungan
tamadun manusia.
Istilah sains itu sebenarnya berasal dari kata Latin, scientia dan pada
bahasa Arab yang membawa pengertian sama yaitu ilmu pengetahuan. Pada
asalnya, ilmu sains ini merangkum semua cabang ilmu yang dihasilkan oleh
pemikiran manusia yang ahli seperti falsafah, matematik, astronomi, geografi,
geologi, fisika, kimia, pengobatan dan sebagainya. Semua cabang ilmu itu
disatukan dalam ilmu sains. Kemudian, apabila cabang ilmu itu semakin
berkembang dan luas pembahasannya, cabang ilmu itu mulai memisahkan diri
dari ilmu sains dan mulai membentuk identitas ilmunya sendiri. Maka, lahirlah
ilmu geografi, ilmu pengobatan, ilmu fisika dan lain-lain. Al-Quran sumber sains
Islam, bahkan al-Quran menganjurkan umat manusia baik beriman atau tidak,
supaya menyelidiki alam sebagai tanda membuktikan wujud dan kebesaran
Allah.
Di dalam al-Quran ada lebih 750 ayat menyuruh umatnya supaya belajar,
merenung dan menggunakan akal dengan sebaik-baiknya mencari kebenaran
hakiki.Kegemilangan tamadun Islam pada waktu itu melahirkan beberapa tokoh
ulama yang berjasa dan memberi sesuatu yang bermakna dalam perkembangan
sains kepada umat manusia . Yang lebih menarik, sumbangsih pemikiran tokoh
ulama Muslim mendapat tempat dan penghargaan tinggi di kalangan sarjana
dan orientalis Barat sehingga karya mereka menjadi teks rujukan utama di
Universitas Eropa dan juga diterjemahkan secara besar-besaran oleh sarjana
dan orientalis Barat. Yang berarti bahwa ulama sains Muslim terlebih dahulu
mempelopori bidang sains dan teknologi pada zaman dahulu.
Akhirnya, ilmu itu berpindah tangan ke Barat dan umat Islam tertinggal
dalam bidang itu. Di antara tokoh ulama tersebut ialah Ibnu Rusd lebih terkenal
sebagai ahli astronomi dengan bukunya yang banyak membahas secara
sistematik geografi matematik dan astronomi di samping mengemukakan teori
ahli astronomi Arab, Yunani dan India.
Begitu juga, seorang ulama bernama Muslim al-Farghani adalah seorang
pakar Astronomi berasal dari Farghana, Uzbekistan. Beliau mengarang kitab al-
Kamil fi al-Asturlab yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa latin dengan
judul Compendium sehingga menjadi rujukan utama di seluruh pelusuk Eropa.
Di samping itu, muncul seorang ulama bernama Abu al-Raihan Muhammad bin
Ahmad terkenal dengan al-Biruni. Di kalangan orientalis, beliau dianggap tokoh
ilmuwan terbesar dan seorang experienmentalis ilmu yang tekun pada abad
pertengahan Islam.
Beliau menguasai dengan baik bidang matematik, kedokteran , farmasi ,
asronomi dan fisik. Al Biruni juga dikategorikan sebagai ahli sejarah, geografi,
kronologi, bahasa serta seorang pengkaji mengenai adat istiadat dan sistem
kepercayaan. Beliau juga seorang ulama Islam.
Di dalam bidang pengobatan, Islam melahirkan seorang tokoh terkenal
yaitu Abu Kasim al-Zahrawi sebagai seorang dokter dan ahli bedah Muslim.
Beliau juga dikenal di Barat dengan nama Abulcasis. Di dalam bidang
kedokteran, beliau dianggap perintis ilmu pengenalan penyakit (diagnosrie) dan
cara penyembuhannya (the rapeutif) penyakit telinga. Dialah juga yang merintis
bedah telinga untuk mengembalikan fungsi pendengaran. Bukan sekadar itu,
beliau juga pelopor pengembangan ilmu penyakit kulit (dermatologi).
Beliau tidak ketinggalan mengarang buku ensiklopedia pengobatan yang
berjudul Al-Tasrif Liman Anjaza al-Ta’lif (Medical Vademecum) yang
menerangkan dan melukiskan dengan jelas diagram tidak kurang dari 200
peralatan bedah. Beliau juga terkenal sebagai dokter gigi. Ensiklopedia itu
menjadi rujukan utama pengobatan di univercity Eropa.
Selain al-Zahrawi, Abu Ali al-Husain bin Abdullah bin Hasan Ali ibnu Sina.
Beliau dikenal Barat dengan nama Aveccina. Lahir pada tahun 370 H di
Afghanistan. Beliau dapat mendalami semua jenis cabang ilmu dalam usia yang
muda hingga beliau dapat menguasai bidang logika, matematik, fisika, politik,
kedokteran dan falsafah di samping ilmu agama. Ibnu Sina meninggal pada
tahun 428 H dinobatkan sebagai Fathers of Doctors. Beliau juga mengarang
lebih 276 buah buku yang meliputi pelbagai bidang ilmu seperti falsafah,
geometri, kedokteran, astronomi, musik, syair, teologi, politik, matematika, fisika,
kimia, sastera, kosmologi dan sebagainya.
Diantara karya terbesar beliau ialah Al-Qanun fi al-Tibb himpunan segala
disiplin ilmu yang beragam dan akhirnya diterjemahkan dalam bahasa Inggris
berjudul Canon of Medicine teks rujukan utama dalam bidang pengobatan. Buku
lain ialah al-Syifa yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris The Book of
Discovery dalam 18 jilid. Beliau pernah diberi julukan sebagai Rajanya Dokter
atau Medicorum Principal. Selain diatas tokoh ulama terkenal dalam bidang
pengobatan ialah Abu al Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Ibnu
Rushd yang terkenal di Barat dengan gelar Averroce. Beliau seorang ulama, ahli
falsafah ulung dan pakar dalam bidang fisika, kedokteran, biologi dan astronomi.
Beliau banyak mengkaji astronomi dan pernah konsentrasi sebagai dokter dan
kadi besar di Cordoba.
Ibnu Rushd dikenal sebagai seorang perintis ilmu kedokteran umum serta
perintis mengenai ilmu jaringan tubuh (Histologi). Beliau juga berjasa dalam
bidang penelitian pembuluh darah serta penyakit cacar. Karya beliau yang
berjudul Al Kulliyyah fi al-Tibb sebanyak 16 jilid, karya terbesar dan rujukan
utama dalam bidang pengobatan. Kemudian diterjemahkan dalam bahasa
Inggris dengan judul General Rules of Medicine.
Di dalam bidang kimia, muncul seorang tokoh ulama yaitu Jabir ibnu
Hayyan al Kufi (Geber). Beberapa karya terbesarnya diterjemahkan ke dalam
bahasa Latin dan Perancis. Diantaranya, Kitab Dacing, Kitab Raksa Timur dan
Kitab Kerajaan. Dia banyak memperkenalkan kegunaan praktik kimia seperti
menyediakan keluli, mencelup kain dan kulit dan sebagainya.
Tokoh kimia yaitu Muhammad Abu Bakar al-Razi lebih terkenal sebagai
ahli pengobatan kimia dan ada yang menganggap beliau sebagai pengagas
kimia moden. Beliau mencatat dengan terperinci lebih 20 alat besi dan kaca.
Beliau juga pakar dalam praktik pengobatan dengan pendapatnya
penyembuhan penyakit adalah kilas balik kimia dalam tubuh seseorang.
Di dalam bidang fisik pula, al-Haitham lebih dikenal di dunia Barat sebagai
Alhazen adalah tokoh optik paling terkenal dalam sejarah tamadun Islam
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan
Ilmu Pengetahuan tidaklah bertentangan dengan Islam, justru Islam
menyuruh penganutnya untuk mempelajari Ilmu Pengetahuan bahkan
mewajibkannya, termasuk di dalamnya Islam tidak melarang ummatnya
berfilsafat. Hanya saja larangan itu muncul apabila ummat Islam sudah
berfilsafat sebelum aqidahnya kuat, hal ini akan melahirkan penyimpangan
berfikir yang bisa menyesatkan bagi dirinya dan orang lain.

B. Saran

Sebagai umat islam kita harus selalu menggali ilmu pengetahuan yang
berguna bagi umat islam. Dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh untuk
kepentingan dan kemaslahatan umat manusia. Menjadikan Al-Quran dan Al-
Sunnah sebagai pegangan hidup karna keduanya merupakan sumber ilmu yang
paling utama.
DAFTAR PUSTAKA

Sarion, “ ilmu pengetahuan dalam islam” 2011.


http://referensiagama.blogspot.com. Di unduh pada tanggal 4 Mei 2019
ILMU PENGETAHUAN MENURUT ISLAM

KELOMPOK V

TENRIANI 10533118516

FAJRIAH 105331121016

NUR ISLAMIYAH ALWI 105331119816

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2019