Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Haji merupakan rukun Islam yang kelima yang diwajibkan bagi
seorang Muslim sekali sepanjang hidupnya bagi yang mampu
melaksanakanya. Haji sendiri sudah ada sejak Nabi Adam As. Beliau
bersama Siti Hawa atas perintah Allah SWT melaksanakan ibadah di
tempat tersebut (Mekkah), kemudian disusul Nabi Ibrahim A.s. dan Nabi
Islamail A.s. Yang dikenal sebagai Bapak para Nabi dan Rasul dan di
teruskan Nabi Muhammad SAW yang berlangsung sampai sekarang. Haji
merupakan salah satu ibadah wajib yang di cantumkan dalam rukun Islam,
dengan tempat yang sudah ditentukan oleh Allah SWT yang bertempat di
tanah Arab.
Ibadah haji adalah sebagai tindak lanjut dalam pembentukan sikap
mental dan akhlak yang mulia. Ibadah haji adalah merupakan pernyataan
umat islam seluruh dunia menjadi umat yang satu karena memiliki
persamaan atau satu akidah. Memperkuat fisik dan mental, kerena ibadah
haji maupun umrah merupakan ibadah yang berat memerlukan persiapan
fisik yang kuat, biaya besar dan memerlukan kesabaran serta ketabahan
dalam menghadapi segala godaan dan rintangan. Ibadah haji
Menumbuhkan semangat berkorban, baik harta, benda, jiwa besar dan
pemurah, tenaga serta waktu untuk melakukannya. Barang siapa pergi ke
Baitullah untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim (haji),
setelah selesai mendatanginya ada kerinduan untuk datang kembali. Dia
sebagai pusat tauhid, ruhnya iman dan rumah pertama yang dibangun oleh
manusia. Yang mendatanginya akan mendapat rizki di dunia maupun di
akhirat.(Ali Yahya, 2008 : 411-412) Dalam hal ini, Rasulullah SAW
bersabda : “Sembahlah Allah SWT dan jangan pernah engkau
menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, lalu dirikanlah shalat, bayarlah
zakat, puasalah di bulan Ramadhan, dan laksanakanlah ibadah haji ke
Baitullah jika engkau mampu menunaikannya”. (Al-Qarni, 2010:79)

1
Dengan demikian haji merupakan salah rukun Islam yang wajib
kita laksanakan sebagai seorang Muslim (jika sudah mampu), dalam
pelaksanaan haji sendiri, mempunyai beberapa Rukun, cara dan syarat-
syarat yang harus di penuhi agar hajinya dapat dikatakan sah menurut
syariat Islam, memahami manasikh haji dan masalah-masalah
kontemporer dalam pelaksanaan ibadah haji, kita sebagai umat muslim
haruslah memahami dasar-dasar hukum pelaksanan ibadah haji yang
dilaksanakan setiap satu tahun sekali dengan waktu yang telah ditentukan.
Untuk lebih lengkapnya mengenai pelaksanaan haji akan kami bahas
dalam makalah kami.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari haji?
2. Seperti apakah dasar hukum haji?
3. Bagaimana syarat, rukun, dan macam haji?
4. Apa hikmah dari haji?
C. Tujuan Penulisan
1. Dapat mengetahui pengertian dari haji.
2. Dapat memahami dasar hukum haji.
3. Dapat mengetahui syarat, rukun, dan macam haji.
4. Dapat mengetahui hikmah dari haji.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian haji
Menurut bahasa kata Haji berarti menuju, sedang menurut
pengertian syar’i berarti menyengaja menuju ke ka’bah baitullah untuk
menjalakan ibadah (nusuk) yaitu ibadadah syari’ah yang terdahulu.
Hukum haji adalah fardhu ‘ain, wajib bagi setiap muslim yang mampu,
wajibnya sekali seumur hidup. Haji merupakan bagian dari rukun Islam.
Mengenai wajibnya haji telah disebutkan dalam Al Qur’an, As Sunnah dan
ijma’ (kesepakatan para ulama).
Mengenai hukum ibadah haji, asal hukumnya adalah wajib ‘ain bagi yang
mampu. Melaksanakan haji wajib, yaitu karena memenuhi rukun Islam
dan apabila kita “nazar” yaitu seorang yang bernazar untuk haji, maka
wajib melaksanakannya, kemudian untuk haji sunat, yaitu dikerjaka pada
kesempatan selanjutnya, setelah pernah menunaikan haji wajib.
Haji merupakan rukun Islam yang ke lima, diwajibkan kepada setiap
muslim yang mampu untuk mengerjakan. Jumhur Ulama sepakat bahwa
mula-mulanya disyari’atkan ibadah haji tersebut pada tahun ke enam
Hijrah, tetapi ada juga yang mengatakan tahun ke sembilan hijrah.
B. Dasar hukum haji
Haji adalah satu rukun islam yang disebutkan dalam hadits-hadits
yang hukumnya fardhu (wajib), harus dilakukan bagi setiap muslim dan
muslimah jika syarat-syaratnya telah terpenuhi. Kefardhuannya telah
diakui dan barang siapa mengingkarinya berarti ia telah kufur (Hj.
Hayatillah & R. Dani Indriya, 2015 10-11)
1. Dalil Al Qur’an
Allah berfirman
َ‫غ ّن ٌّي ع َّن ا ْل َعالَ ّمين‬ ‫يًل َو َم ْن َكفَ َر فَ ّإنه ه‬
َ َ‫َّللا‬ َ ‫ست َ َطا‬
َ ‫ع ّإلَ ْي ّه‬
‫س ّب ا‬ ّ ‫اس ّح ُّج ا ْل َب ْي‬
ْ ‫ت َم ّن ا‬ ّ ‫علَى النه‬
َ ّ‫َو ّ هَلِل‬
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu
(bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.

3
Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah
Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali
Imron: 97)
2. Dalil As Sunnah
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

ِ‫ َو ْال َح ِّج‬، ‫الزكَا ِة‬


َّ ‫ َو ِإيت َِاء‬، ‫صالَ ِة‬
َّ ‫ َو ِإقَ ِام ال‬، ِ‫َّللا‬ ُ ‫َّللاُ َوأ َ َّن ُم َح َّمدًا َر‬
َّ ‫سو ُل‬ َّ َّ‫ش َهادَ ِة أ َ ْن الَ ِإلَهَ ِإال‬
َ ‫اإل ْسالَ ُم َعلَى َخ ْم ٍس‬
ِ ‫ى‬َ ‫بُ ِن‬
َ‫ضان‬
َ ‫ص ْو ِم َر َم‬َ ‫ َو‬،
“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada
sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengaku
Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat,
menunaikan zakat, berhaji dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR.
Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16).

Hadits ini menunjukkan bahwa haji adalah bagian dari rukun Islam.
Ini berarti menunjukkan wajibnya. Dari Abu Hurairah, ia berkata,

‫س َكتَ َحتَّى قَالَ َها‬


َ َ‫َّللاِ ف‬
َّ ‫سو َل‬ ُ ‫ فَقَا َل َر ُج ٌل أ َ ُك َّل َع ٍام َيا َر‬.» ‫َّللاُ َعلَ ْي ُك ُم ْال َح َّج فَ ُح ُّجوا‬
َّ ‫ض‬ ُ َّ‫« أَيُّ َها الن‬
َ ‫اس قَدْ فَ َر‬
ْ ‫ « لَ ْو قُ ْلتُ نَعَ ْم لَ َو َج َب‬-‫صلى هللا عليه وسلم‬- ِ‫َّللا‬
َ َ‫ت َولَ َما ا ْست‬
‫ط ْعت ُ ْم‬ َّ ‫سو ُل‬ ُ ‫ثَالَثًا فَقَا َل َر‬
“Rasulullah SAW. berkhutbah di tengah-tengah kami. Beliau bersabda,
“Wahai sekalian manusia, Allah telah mewajibkan haji bagi kalian, maka
berhajilah.” Lantas ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah setiap
tahun (kami mesti berhaji)?” Beliau lantas diam, sampai orang tadi
bertanya hingga tiga kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas
bersabda, “Seandainya aku mengatakan ‘iya’, maka tentu haji akan
diwajibkan bagi kalian setiap tahun, dan belum tentu kalian sanggup.”
(HR. Muslim).
3. Dalil Ijma’
Para ulama’ pun sepakat bahwa hukum haji itu wajib sekali seumur
hidup bagi yang mampu. Bahkan kewajiban haji termasuk perkara al
ma’lum minad diini bidh dhoruroh (dengan sendirinya sudah
diketahui wajibnya) dan yang mengingkari kewajibannya dinyatakan

4
kafir. Haji merupakan rukun Islam yang ke empat, diwajibkan kepada
setiap muslim yang mampu untuk mengerjakan.

C. Syarat, rukun, macam haji


1. Syarat haji

Hal yang dimaksud dengan syarat ibadah haji adalah sesuatu yang
apabila seseorang telah memenuhi atau memiliki sesuatu tersebut,
maka wajiblah baginya untuk melakukan haji satu kali dalam seumur
hidupnya. Berikut persyaratan yang menyebabkan seseorang wajib
melaksanakan ibadah haji.

a. Beragama Islam
Syarat wajib yang pertama adalah Islam. Artinya, seseorang
yang beragama Islam dan telah memenuhi syarat wajib haji
yang lainnya serta belum pernah melaksanakan haji, maka
ia terkena wajib haji, ia harus menunaikan ibadah haji.
Akan tetapi jika seseorang yang telah menunaikan syarat
wajib haji tetapi ia bukan orang Islam, maka ia tidaklah
wajib untuk menunaikan ibadah haji.
b. Baligh
Syarat wajib haji yang kedua adalah baligh. Akan tetapi,
jika ada seseorang muslim yang melakukan ibadah haji
namun belom baligh, maka hajinya tidak sah. Hanya saja,
ketika ia dewasananti, maka haji masih tetap menjadi
kewajiban baginya jika syarat lainya terpenuhi. Artinya,
ibadah haji yang dilakukan semasa belum baligh tidak
menggugurkan kewajibanya untuk menunaikan ibadah haji
saat ia dewasa nanti.
c. Berakal
Syarat yang ketiga adalah berakal. Artinya, meskipun
seseorang telah mencapai usia baligh dan mampu secara

5
materi untuk melaksanakan haji, tetapi ia mengalami
masalah dengan batin dan akalnya, maka kewajiban ini
sudah sirna darinya. Karena, sudah pasti orang yang
mengalami gangguan jiwa akan susah, bahkan tidak bisa
sama sekali, untuk melaksanakan rukun dan kewajiban haji.
d. Merdeka
Syarat keempat adalah merdeka. Artinya memiliki kuasa
atas dirinya sendiri, tidak berada kekuasaan seseorang
(tuan), seperti budak dan hamba sahaya. Bagi orang yang
tidak merdeka tetapi ia memiliki kesempatan untuk
menunaikan ibadah haji maka hukum hajinya sama dengan
anak yang belum baligh, tetapi sah tapi harus mengulangi
kembali ketika ia sudah merdeka dan mencukupi syarat
untuk melaksanakannya.
e. Mampu
Syarat kelima adalah mampu. Artinya jika empat syarat
telah terpenuhi, tetapi ia belum mampu, maka menunaikan
ibadah haji tidak wajib baginya (Mulyono, 2013: 27-32).
2. Rukun haji
a. Ihram
Ihram yaitu niat untuk masuk ke dalam manasik haji. Jika
ada yang meninggalkan ihram, maka hajinya tidak sah. Hal
ini sesuai dengan hadits Nabi “Sesungguhnya setiap amalan
tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan
apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no.
1907)
b. Wukuf di Arafah
Wukuf di padang Arafah merupakan rukun haji yang
terpenting. Orang yang tidak melaksanakan wukuf, berarti
hajinya tidak sah. Ibnu Rusyd berkata, “Para ulama telah
sepakat bahwa wukuf di padang Arafah merupakan bagian

6
dari rukun haji dan barangsiapa yang luput atau
meninggalkannya, maka harus ada haji pengganti atau
hajinya diulang tahun berikutnya.”
Nabi bersabda, “Haji adalah wukuf di Arafah.” (HR. An
Nasai no. 3016, Tirmidzi no. 889, Ibnu Majah no. 3015.
Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini
shahih).Yang dimaksud wukuf yaitu hadir dan diam berada
di daerah Arafah, baik itu dalam keadaan sadar, tertidur,
berkendaraan, duduk, berjalan atau berbaring, entah itu
dalam keadaan suci atau tidak suci (junub, haidh, nifas)
(Fiqih Sunnah, 1:494). Waktu wukuf dimulai dari matahari
tergelincir atau waktu zawal pada hari Arafah tanggal 9
Dzulhijjah sampai waktu terbit fajar Subuh pada hari nahr
tanggal 10 Dzulhijjah. Jika wukuf dilaksanakan selain pada
waktu tersebut, maka wukufnya tidak sah berdasarkan
kesepakatan para ulama.
c. Tawaf
Tawaf yaitu mengitari Ka’bah sebanyak 7 kali. Allah
berfirman, “Dan hendaklah mereka melakukan melakukan
thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al
Hajj: 29)
d. Sai

Sa’i ialah berjalan dari Shofa ke Marwah dan sebaliknya


dalam rangka ibadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,

‫ى‬ َّ ‫َب َعلَ ْي ُك ُم ال‬


َ ‫س ْع‬ َّ ‫ا ْسعَ ْوا إِ َّن‬
َ ‫َّللاَ َكت‬

“Lakukanlah sa’i karena Allah mewajibkan kepada kalian


untuk melakukannya.” (HR. Ahmad 6: 421. Syaikh Syu’aib
Al Arnauth mengatakan bahwa hadits tersebut hasan).

7
e. Tahallul
Tahallul adalah diperbolehkannya kembali jemaah
melakukan apa yang dilarang saat ihram. Simbol dari
tahallul yaitu minimal memotong rambut sebanyak 3 helai,
namun tidak jarang yang menggunduli rambutnya. Dengan
ini, maka apa yang dilarang saat ihram, menjadi boleh
dilakukan. Semua mazhab berpendapat bahwa tahallul
merupakan wajib haji. Namun mazhab syafi’i berpendapat
kalau tahallul termasuk rukun haji.
f. Tertib
Tertib ialah mengerjakan semua rukun-rukun haji sesuai
urutannya dan tidak boleh ada yang terlewat. Tidak hanya
haji, banyak ibadah dalam syariah Islam yang memasukan
tertib sebagai rukun dan biasanya menjadi rukun terakhir.
Sedangkan rukun sendiri bermakna apa-apa yang harus
dijalankan. Sehingga dengan adanya rukun tertib, kita tidak
boleh meloncati rukun-rukun yang telah ditetapkan dan
membuat umat Islam sedunia seragam dalam menjalankan
ibadah.
3. Macam –macam haji
a. Haji Tamattu
Haji Tamattu’ ialah melakukan umrah terlebih dahulu pada
musim haji, kemudian melaksanakan ibadaha haji. Yaitu
dengan cara berniat untuk mengambil umrah haji ketika
sampai di miqat sebelum memasuki kota makkah dengan
ucapan, “Allahumma labbaika ‘umratan mutamatti’an
biha ilal hajj”. Setelah sampai di Mekkah, lalu
melaksanakan umrah dengan cara yang sama seperti tata
cara umrah. Setelah melakukan umrah sampai selesai
melakukan tahalul, halal baginya segala sesuatu yang
tadinya diharamkan ketika ihram, sampai tanggal 8

8
Dzulhijjah baru kemudian berihram kembali untuk
menyempurnakan amalan-amalan haji yang tersisa. Bila
menggunakan cara ini, maka yang bersangkutan diwajibkan
membayar dam nusuk (berupa menyembelih seekor
kambing, kalau tidak mampu berpuasa 10 hari yaitu 3 hari
di Makkah atau di Mina dan 7 hari di tanah air), apabila
puasa 3 hari di Makkah tidak dapat dilaksanakan karena
suatu hal maka harus diqadha sesampainya di kampung
halaman dengan ketentuan puasa yang tiga hari dengan
ketentuan puasa yang tiga hari dengan tujuh hari dipisahkan
4 hari.
b. Haji Ifrad
Haji ifrad ialah melakukan haji saja. yaitu seorang berniat
melakukan haji saja tanpa umrah pada bulan-bulan haji,
dengan mengucapkan di miqat, “Labbaika hajjan”. Sama
dengan haji qiran setelah
sampaidi Mekkah.lalu melakukan thawaF
qudum dan sa’i (untuk sa’i boleh ditunda sampai setelah
melakukan thawaf ifadhah pada tanggal 10 Dzulhijjah).
Setelah sa’i tidak halal baginya melakukan hal-hal yang
diharamkan ketika ihram, jadi dia tetap dalam keadaan
ihram sampai tanggal 10 Dzulhijjah. Bagi yang akan umrah
wajib atau sunnah maka setelah menyelesaikan hajinya,
dapat melaksanakan umrah dengan miqat dari Tan’im,
Ji’ranah, Hudaibiyah atau dareah tanah halal lainnya. Cara
ini tidak dikenakan dam.
c. Haji Qiran
Haji qiran ialah mengerjakan haji dan umrah di dalam satu
niat dan satu pekerjaan sekaligus. Yaitu seorang berniat
melakukan haji saja tanpa umrah pada bulan-bulan haji,
dengan mengucapkan di miqat,“Labbaika hajjan wa

9
‘umrotan”. Setelah sampai di Mekkah, lalu
melakukan thawaf qudum dan sa’i (untuk sa’i boleh
ditunda sampai setelah melakukan thawaf ifadhah pada
tanggal 10 Dzulhijjah). Setelah sa’i tidak halal baginya
melakukan hal-hal yang diharamkan ketika ihram, jadi dia
tetap dalam keadaan ihram sampai tanggal 10
Dzulhijjah.Cara ini juga wajib membayar dam nusuk.
Pelaksanaan dam sama dengan pada haji Tamattu’.

D. Hikmah haji
Diantara Asmaul Husna yang dimiliki Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah
Al-Hakim yang bermakna : “Yang menetapkan Hukum, atau Yang
mempunyai sifat Hikmah, di mana Allah tidak berkata dan bertindak
dengan sia-sia. Oleh karena itulah semua syari’at Allah Subhanahu wa
Ta’ala mempunyai kebaikan yang besar dan manfaat yang banyak bagi
hamba-Nya di dunia seperti kebagusan hati, ketenangan jiwa dan kebaikan
keadaan. Juga akibat yang baik dan kemenangan yang besar di kampung
kenikmatan (akhirat) dengan melihat wajah-Nya dan mendapatkan ridha-
Nya. Demikian pula haji, sebuah ibadah tahunan yang besar yang Allah
syari’atkan bagi para hamba-Nya, mempunyai berbagai manfaat yang
besar dan tujuan yang besar pula, yang membawa kebaikan di dunia dan
akhirat. Dan diantara hikmah ibadah haji ini adalah.
1. Mengikhlaskan seluruh ibadah
Beribadah semata-mata untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
menghadapkan hati kepada-Nya dengan keyakinan bahwa tidak ada
yang diibadahi dengan haq, kecuali Dia dan bahwa Dia adalah satu-
satunya pemilik nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia.
Tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang menyerupai-Nya dan tidak
ada tandingan-Nya. Dan hal ini telah diisyaratkan dalam firman-Nya
“Dan ingatlah ketika Kami menempatkan tempat Baitullah untuk
Ibrahim dengan menyatakan ; “Janganlah engkau menyekutukan Aku

10
dengan apapun dan sucikan rumah-Ku ini bagi orang-orang yang
thawaf, beribadah, ruku dan sujud” [al-Hajj/22: 26]. Mensucikan
rumah-Nya di dalam hal ini adalah dengan cara beribadah semata-
mata kepada Allah di dekat rumah-Nya (Ka’bah) yang mulia,
mebersihkan sekitar Ka’bah dari berhala-berhala, patung-patung,
najis-najis yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan serta dari
segala hal yang mengganggu orang-orang yang sedang menjalankan
haji atau umrah atau hal-hal lain yang menyibukkan (melalaikan, -
pent) dari tujuan mereka.
2. Mendapat Ampunan Dosa-Dosa Dan Balasan Jannah
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
: “Satu umrah sampai umrah yang lain adalah sebagai penghapus dosa
antara keduanya dan tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali
jannah” [HR Bukhari dan Muslim, Bahjatun Nanzhirin no. 1275].
“Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Aku mendengar Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa barang siapa berhaji ke
Baitullah ini karena Allah, tidak melakukan rafats dan fusuuq, niscaya
ia kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya” [HR Bukhari]
Rafats : jima’ ; pendahuluannya dan ucapan kotor, Fusuuq :
kemaksiatan.
Sesungguhnya barangsiapa mendatangi Ka’bah, kemudian
menunaikan haji atau umrah dengan baik, tanpa rafats dan fusuuq
serta dengan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata,
niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosanya dan
menuliskan jannah baginya. Dan hal inilah yang didambakan oleh
setiap mu’min dan mu’minah yaitu meraih keberuntungan berupa
jannah dan selamat dari neraka.
3. Menyambut Seruan Nabi Ibrahima Alaihissalam
“Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang
kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus
yang datang dari segenap penjuru yang jauh”[al-Hajj/22: 27]

11
Nabi Ibrahim Alaihissalam telah menyerukan (agar berhaji) kepada
manusia. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan siapa saja yang
Dia kehendaki (untuk bisa) mendengar seruan Nabi Ibrahim
Alaihissalam tersebut dan menyambutnya. Hal itu berlangsung
semenjak zaman Nabi Ibrahim hingga sekarang.
4. Menyaksikan Berbagai Manfaat Bagi Kaum Muslimin
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Agar supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka”
[al-Hajj/22: 28]
Alah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan manfaat-manfaat dengan
muthlaq (secara umum tanpa ikatan) dan mubham (tanpa penjelasan)
karena banyaknya dan besarnya menafaat-manfaat yang segera terjadi
dan nanti akan terjadi baik duniawi maupun ukhrawi.
Dan diantara yang terbesar adalah menyaksikan tauhid-Nya, yakni
mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata.
Mereka datang dengan niat mencari wajah-Nya yang mulia bukan
karena riya’ (dilihat orang lain) dan juga bukan karena sum’ah
(dibicarakan orang lain). Bahkan mereka betauhid dan ikhlas kepada-
Nya, serta mengikrarkan (tauhid) di antara hamba-hamba-Nya, dan
saling menasehati di antara orang-orang yang datang (berhaji dan
sebagainya,-pent) tentangnya (tauhid).
Mereka thawaf mengelilingi Ka’bah, mengagungkan-Nya,
menjalankan shalat di rumah-Nya, memohon karunia-Nya, berdo’a
supaya ibadah haji mereka diterima, dosa-dosa mereka diampuni,
dikembalikan dengan selamat ke nergara masing-masing dan diberi
anugerah kembali lagi untuk berdo’a dan merendah diri kepda-Nya.
Mereka mengucapkan talbiyah dengan keras sehingga di dengar oleh
orang yang dekat ataupun yang jauh, dan yang lain bisa
mempelajarinya agar mengetahui maknanya, merasakannya,
mewujudkan di dalam hati, lisan dan amalan mereka. Dan bahwa
maknanya adalah : Mengikhlaskan ibadah semata-mata untuk Allah

12
dan beriman bahwa Dia adalah ‘ilah mereka yang haq, Pencipta
mereka, Pemberi rizki mereka, Yang diibadahi sewaktu haji dan
lainnya.
5. Saling Mengenal Dan Saling Menasehati
Dan diantara hikmah haji adalah bahwa kaum muslimin bisa saling
mengenal dan saling berwasiat dan menasehati dengan al-haq. Mereka
datang dari segala penjuru, dari barat, timur, selatan dan utara
Makkah, berkumpul di rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tua, di
Arafah, di Muzdalifah, di Mina dan di Makkah. Mereka saling
mengenal, saling menasehati, sebagian mengajari yang lain,
membimbing, menolong, membantu untuk maslahat-maslahat dunia
akhirat, maslahat taklim tata cara haji, shalat, zakat, maslahat
bimbingan, pengarahan dan dakwah ke jala Allah. Mereka bisa
mendengar dari para ulama, apa yang bermanfaat bagi mereka yang di
sana terdapat petunjuk dan bimbingan menuju jalan yang lurus, jalan
kebahagiaan menuju tauhidullah dan ikhlas kepada-Nya, menuju
ketaatan yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
mengetahui kemaksiatan untuk dijauhi, dan supaya mereka
mengetahui batas-batas Allah dan mereka bisa saling menolong di
dalam kebaikan dan taqwa.
6. Mempelajari Agama Allah Subhanahu wa Ta’ala
Dan diantara manfaat haji yang besar adalah bahwa mereka bisa
mempelajari agama Allah dilingkungan rumah Allah yang tua, dan di
lingkungann masjid Nabawi dari para ulama dan pembimbing serta
memberi peringatan tentang apa yang mereka tidak ketahui mengenai
hukum-hukum agama, haji, umrah dan lainnya. Sehingga mereka bisa
menunaikan kewajiban mereka dengan ilmu. Dari Makkah inilah
tertib ilmu itu, yaitu ilmu tauhid dan agama. Kemudian (berkembang)
dari Madinah, dari seluruh jazirah ini dan dari seluruh negeri-negeri
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada ilmu dan ahli ilmu. Namun
semua asalnya adalah dari sini, dari lingkungan rumah Allah yang tua.

13
Maka wajib bagi para ulama dan da’i, dimana saja mereka berada,
terlebih lagi di lingkungan rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala ini,
untuk mengajari manusia, orang-orang yang menunaikan haji dan
umrah, orang-orang asli dan pendatang serta para penziarah, tentang
agama dan manasik haji mereka. Seorang muslim diperintahkan untuk
belajar, bagaimanapun (keadaannya) ia, dimana saja dan kapan saja ;
tetapi di lingkungan rumah Allah yang tua, urusan ini (belajar agama)
lebih penting dan mendesak.
Dan di antara tanda-tanda kebaikan dan kebahagian seseorang adalah
belajar tentang agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Shallallahu
‘alaihi bersabda : “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala memperoleh kebaikan, niscaya Dia menjadikan
faqih terhadap agama” [HR Bukhari, Kitab Al-Ilmi 3 bab : 14]
Di sini, di negeri Allah, di negerimu dan di negeri mana saja, jika
engkau dapati seorang alim ahli syari’at Allah, maka pergunakanlah
kesempatan. Janganlah engkau takabur dan malas. Karena ilmu itu
tidak bisa diraih oleh orang-orang yang takabur, pemalas, lemah serta
pemalu. Ilmu itu membutuhkan kesigapan dan kemauan yang tinggi.
Mundur dari menuntut ilmu, itu bukanlah sifat malu, tetapi suatu
kelemahan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Dan Allah tidak malu dari
kebenaran” [al-Ahzab/ : 53].Karenanya seorang mukmin dan
mukminah yang berpandangan luas, tidak akan malu dalam bab ini ;
bahkan ia maju, bertanya, menyelidiki dan menampakkan
kemusykilan yang ia miliki, sehingga hilanglah kemusykilan tersebut.
7. Menyebarkan Ilmu
Di antara manfaat haji adalah menyebarkan ilmu kepada saudara-
saudaranya yang melaksanakan ibadah haji dan teman-temannya
seperjalanan, yang di mobil, di pesawat terbang, di tenda, di Mekkah
dan di segala tempat. Ini adalah kesempatan yang Allah Subhanahu
wa Ta’ala anugerahkan. Engkau bisa menyebarkan ilmu-mu dan

14
menjelaskan apa yang engkau miliki, akan tetapi haruslah dengan apa
yang engkau ketahui berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan
istimbath ahli ilmu dari keduanya. Bukan dari kebodohan dan
pemikiran-pemikiran yang menyimpang dari Al-Kitab dan As-
Sunnah.
8. Memperbanyak Ketaatan
Di antara manfaat haji adalah memperbanyak shalat dan thawaf,
sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada
badan mereka ; hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar
mereka dan hendaklah mereka berthawaf sekeliling rumah yang tua
itu (Ka’bah)” [Al-Hajj/22 : 29]
Maka disyariatkan bagi orang yang menjalankan haji dan umrah untuk
memperbanyak thawaf semampunya dan memperbanyak shalat di
tanah haram. Oleh karena itu perbanyaklah shalat, qira’atul qur’an,
tasbih, tahlil, dzikir. Juga perbanyaklah amar ma’ruf nahi mungkar
dan da’wah kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala di mana banyak
orang berkumpul dari Afrika, Eropa, Amerika, Asia dan lainnya.
Maka wajib bagi mereka untuk mempergunakan kesempatan ini
sebaik-baiknya.
9. Menunaikan Nadzar
Walaupun nadzar itu sebaiknya tidak dilakukan, akan tetapi
seandainya seseorang telah bernadzar untuk melakukan ketaatan,
maka wajib baginya untuk memenuhinya. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa bernadzar untuk mentaati
Allah, maka hendaklah dia mentaati-Nya” [HR Bukhari]
Maka apabila seseorang bernadzar di tanah haram ini berupa shalat,
thawaf ataupun ibadah lainnya, maka wajib baginya untuk
menunaikannya di tanah haram ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman: “Dan hendaklah mereka menunaikan nadzar” [al-Hajj/22:
29]

15
10. Menolong Dan Berbuat Baik Kepada Orang Miskin
Di antara manfaat haji adalah bisa menolong dan berbuat baik kepada
orang miskin baik yang sedang menjalankan haji atau tidak di negeri
yang aman ini. Seseorang dapat mengobati orang sakit,
menjenguknya, menunjukkan ke rumah sakit dan menolongnya
dengan harta serta obat. Ini semua termasuk manfaat-manfaat haji.
“….agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka” [al-
Hajj/22: 28]
11. Memperbanyak Dzikir Kepada Allah
Di negeri yang aman ini hendaklah memperbanyak dzikir kepada
Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk dan bebaring, dengan tasbih
(ucapan Subhanallah), hamdalah (ucapan Alhamdulillah), tahlil
(ucapan Laa ilaaha ilallah), takbir (ucapan Allahu Akbar) dan
hauqallah (ucapan Laa haula wa laa quwata illa billah). Dari Abu
Musa Al-As’ari Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda : “Perumpamaan orang yang mengingat Rabb-nya
dan yang tidak mengingat-Nya adalah sebagai orang hidup dan yang
mati”. [HR Bukhari, Bahjatun Nadzirin no. 1434]
12. Berdo’a Kepada-Nya
Di antara manfaat haji, hendaknya bersungguh-sungguh merendahkan
diri dan terus menerus berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,
agar Dia menerima amal, membereskan hati dan perbuatan ; agar Dia
menolong untuk mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya dan
memperbagus ibadah kepada-Nya ; agar Dia menolong untuk
menunaikan kewajiban dengan sifat yang Dia ridhai serta agar Dia
menolong untuk berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya.
13. Menunaikan Manasik Dengan Sebaik-Baiknya
Di antara manfaat haji, hendaknya melaksanakannya dengan
sesempurna mungkin, dengan sebaik-baiknya dan seikhlas mungkin
baik sewaktu melakukan thawaf, sa’i, wukuf di Arafah, berada di
Muzdalifah, melempar jumrah, maupun sewaktu shalat, qira’atul

16
qur’an, berdzikir, berdo’a dan lainnya. Juga hendaknya
mengupayakannya dengan kosentrasi dan ikhlas.
14. Menyembelih Kurban
Di antara manfaat haji adalah menyembelih (binatang) kurban, baik
yang wajib tatkala berihram tammatu dan qiran, maupun tidak wajib
yaitu untuk taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sewaktu haji
wada’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkurban 100
ekor binatang. Para sahabat juga menyembelih kurban. Kurban itu
adalah suatu ibadah, karena daging kurban dibagikan kepada orang-
orang miskin dan yang membutuhkan di hari-hari Mina dan lainnya.

17
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan
Haji berarti menyengaja menuju ke ka’bah baitullah untuk menjalakan
ibadah yaitu ibadadah syari’ah yang terdahulu. Hukum haji adalah fardhu
‘ain, wajib bagi setiap muslim yang mampu, wajibnya sekali seumur
hidup. Haji merupakan bagian dari rukun Islam. Mengenai wajibnya haji
telah disebutkan dalam Al Qur’an, As Sunnah dan ijma’. Tata-tata cara
pelaksanaan haji harus sesuai dengan syarat, rukun. Syarat haji
diantaranya : beragama islam, Baligh, Berakal, Merdeka, dan mampu.
Sedangkan Rukun Haji yaitu : ihram, wukuf diarofah, towaf, sai, tahallul
dan tertib. Selain itu Haji memiliki macam yaitu haji tamattu, ifrad dan
qiran. Adapun hikmah dari pelaksanaan ibadah haji salah satunya yaitu
diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT.
B. Saran
Bagi semua umat Islam khususnya mahasiswa untuk lebih memahami
tentang Haji lebih mendalam agar bertambah pula pengetahuan dan Iman
kita. Dan mengamalkan kepada orang –orang Islam khususnya

18