Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Berbicara tentang dakwah adalah berbicara tentang tanggung jawab
kemajuan umat, sebagaimana dakwah dalam arti harafiah yang mengandung
arti seruan, panggilan, dan ajakan.1 Dakwah merupakan seluruh rentetan
peristiwa ajakan Nabi Muhammad SAW dengan para sahabatnya, yang
memanggil umat manusia kepada keimanan, yang berdasarkan wahyu dari
kitab suci Al-Qur’an dan sunah Nabi sesuai dengan kemajuan pikiran yang
memerlukan kesiapan mentalitas mengemudikannya agar umat manusia tidak
dihancurkan oleh kemajuan dan kreasinya sendiri.2
Dakwah merupakan kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai
seorang muslim sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW
dan para sahabatnya. Selain itu para ulama juga patut kita jadikan teladan
karena al-ulama’ warasatul anbiya’ (ulama pewaris Nabi). Salah satu ulama
yang patut kita teladani adalah KH. A. Warson Munawwir. Beliau seorang
Kyai yang alim, amil, seorang guru yang bijak, seorang jurnalis yang cerdas,
seorang politisi yang arif, seorang penulis yang tajam, seorang redaktur yang
piawai, seorang orator yang cemerlang dan multi talenta lain yang
dimilikinya. Bukan hanya itu saja, beliau juga seorang pemikir yang sulit
ditandingi, seorang ahli bahasa yang amat teliti, seorang penyantun yang
sangat santun dan seorang ayah yang penuh kasih sayang.3 Sungguh luar

1 Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm. 1.

2 Ki Hasan Widjaya, Dakwah Islam dan Tantangan Umat Islam di Indonesia Dewasa Ini, Cet. I,
(Yogyakarta: UD Maya Sari, 1989), hlm. 32.

3 Khalimatu Nisa & Fahma Amirotulhaq, Jejak Sang Pionir Kamus Al-Munawwir; KH. A. Warson
Munawwir, Cet. I, (Yogyakarta: Pustaka Komplek Q, 2015), hlm. viii.
biasa, hal ini seperti sering dituturkan oleh para santri dan orang-orang yang
mengenalnya.
Keteladanan amaliyah sangat kuat pengaruh nya dalam menyebarkan
nilai-nilai dasar keislaman bagi obyek dakwah. Ia merupakan cermin dan
wujud dari nilai-nilai dasar dan pemikiran.4 Beliau lahir di Yogyakarta, 30
November 1934 dari pasangan ulama besar yaitu KH. M. Munawwir dan Nyai
Hj. Sukis. Selain dibesarkan di lingkungan keluarga besar Munawwir yang
termashur di kalangan pesantren, beliau juga dikenal di seluruh penjuru
Indonesia bahkan di luar negri karena maha karya yang menjadi magnum
opusnya yaitu Kamus Al-Munawwir. Kamus ini dikatakan sebagai kamus
Arab-Indonesia terlengkap. Pada edisi yang kedua, kamus ini terjual tak
kurang dari 20.000 eksemplar.5 Selain menulis Kamus Al-Munawwir, beliau
juga menjadi pentashih Kamus Al-Bisri bersama dengan KH. Bisri Mustofa.6
Kamus Al-Bisri melengkapi Kamus Al-Munawwir sehingga tidak hanya
Indonesia-Arab tapi juga Arab-Indonesia. Pada waktu itu Kyai Warson
mewakilkan santrinya yaitu KH. Munawwir Abdul Fatah yang dikerjakan
bersama dengan KH. Adib Bisri, adik kandung KH. Mustofa Bisri.

Dakwah yang beliau lakukan bukan hanya di daerah tempat


tinggalnya, yaitu di Krapyak Yogyakarta saja, tetapi semasa masih muda
beliau sering berdakwah dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Beliau bukan
saja seperti para dai pada umumnya, tetapi beliau memimpin sendiri lembaga

4 Musthafa Masyhur, Teladan di Medan Dakwah, terj. Miqdad Haqqany, Cet. II, (Solo: Era
Intermedia, 2000), 36.

5 Seperti yang disampaikan Gus Kholid Rozzaq pada acara bedah Kamus Al-Munawwir, Minggu, 26
Oktober 2014, yang digelar dalam rangka Harlah Kopontren Al-Munawir. Berbeda dengan lazimnya
bedah buku yang membedah buku baru, bedah Kamus Al-Munawwir justru baru dilakukan setelah 31
tahun kamus ini diterbitkan. Lihat, Ibid., hlm. 39.

6 Adib Bisri & Munawwir A. Fatah, Kamus Arab-Indonesia Indonesia- Arab Al-Bisri, (Surabaya:
Pustaka Progressif, 1999), hlm. iv.
pendidikan yang dikelolanya. Terkait dengan fungsinya yang ganda tersebut,
tugas utama beliau bukan hanya sebagai seorang dai yang mengajarkan ilmu
agama, tapi yang terpenting adalah mendidik. Mendidik berarti pula
menanamkan tabiat kepada anak-anak agar mereka taat kepada ajaran agama
(membentuk pribadi muslim).7

Penulis merupakan salah satu dari ribuan santri beliau, sehingga


penulis sangat tertarik untuk mengetahui lebih lanjut sepak terjang dakwah
Sang Kyai yang memiliki peran besar dalam memajukan pendidikan di
pesantrennya ataupun di lembaga-lembaga pendidikan yang beliau dirikan.
Dari uraian di atas maka penulis ingin menuangkan hasil penelitian yang
penulis lakukan di pondok pesantren putri komplek Q Krapyak Yogyakarta,
dengan judul: “Peran Dakwah KH. A. Warson Munawwir Melalui Kamus Al-
Munawwir (Studi Analisis di Pondok Pesantren Komplek Q Krapyak
Yogyakarta).”
B. Alasan Pemilihan Judul
Adapun alasan penulis memilih judul di atas, antara lain:
1. KH. A. Warson Munawwir merupakan salah seorang Kyai yang
kharismatik, alim, cerdas, ahli bahasa bahkan menguasai beberapa bahasa
asing, yang dengan kepiawaiannya beliau berdakwah dan memimpin
Pondok Pesantren Komplek Q Krapyak Yogyakarta, dimana penulis
pernah menjadi santrinya.
2. Banyak orang yang mengenal bahkan memakai Kamus Al-Munawwir
tetapi tidak mengenal profil penulisnya, padahal bermula dari Kamus Al-
Munawwir pulalah dakwah beliau menjadi lebih dikenal di seluruh
Indonesia, maka penulis berkeinginan untuk menuliskan profil dan hasil
pemikirannya yang telah berhasil memajukan pendidikan masyarakat di
sekitarnya.

7 Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983), hlm. 168.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis paparkan,
rumusan masalah yang akan menjadi orientasi dan prioritas sekaligus batasan
penulis dalam mengkaji judul skripsi ini adalah:
1. Sejauhmana peran dakwah KH. A. Warson Munawwir di Pondok
Pesantren Putri Komplek Q Krapyak Yogyakarta?
2. Metode dakwah apa saja yang diterapkan oleh KH. A. Warson
Munawwir?
3. Bagaimana dakwah dan pemikiran KH. A. Warson Munawwir yang
dituangkan melalui Kamus Al-Munawwir?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka tujuan dari penulisan
skripsi ini adalah:

1. Untuk mengetahui sejauhmana peran dakwah yang telah dilakukan


oleh KH. A. Warson Munawwir di Pondok Pesantren Putri Komplek Q
Krapyak Yogyakarta.
2. Untuk mengetahui metode dakwah yang diterapkan KH. A. Warson
Munawwir.
3. Untuk mendapatkan pemahaman tentang dakwah dan pemikiran KH.
A. Warson Munawwir yang dituangkan melalui Kamus Al-Munawwir.
E. Tinjauan Pustaka
Guna memberikan gambaran terhadap penelitian yang hendak
dilakukan, penulis sertakan beberapa referensi penelitian yang telah dilakukan
sebelumnya sebagai langkah awal dalam penyusunannya. Beberapa karya tulis
dalam bentuk skripsi, tesis, jurnal, majalah maupun buku hasil penelitian
tentang kiprah dakwah KH. A. Warson Munawwir telah penulis teliti sebagai
upaya untuk memberikan gambaran awal terhadap penelitian dilakukan.
Diantara hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
1. Skripsi yang ditulis oleh Nur Rokhim,8 mahasiswa Fakultas Adab dan
Ilmu Budaya IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berjudul: “KH. A.
Warson Munawwir dan Dunia Pesantren (Kiprahnya dalam Pendidikan di
Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak Yogyakarta tahun 1947-2013).”
Skripsi yang menggunakan metode penelitian biografi ini menjelaskan
biografi lengkap dari KH. A. Warson Munawwir. Hasil pembahasannya
menerangkan keberhasilan KH. A. Warson Munawwir yang memiliki
kontribusi nyata dalam dunia pendidikan di PP Al-Munawwir Krapyak.
Dalam bidang pendidikan keagamaan, ia berhasil mendirikan Komplek Q
yang kini berkembang dengan pesat. Dalam bidang kewirausahaan,
jurnalis dan politik, Kyai Warson juga memiliki kontribusi yang besar dan
melakukan tindakan yang nyata sehingga para santri terinspirasi untuk
mengikuti jejak beliau. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang
penulis lakukan adalah bahwa penelitian ini menjelaskan kontribusi Kyai
Warson dalam berbagai bidang yang digelutinya antara lain bidang agama,
kewirausahaan, jurnalis dan politik. Sedangkan penelitian yang penulis
lakukan mengerucut pada pembahasan tentang peran dakwah yang beliau
lakukan, khususnya melalui Kamus Al-Munawwir.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Khalimatu Nisa dan Fatma
Amirotulhaq9 yang kemudian dibukukan dengan judul: “Jejak Sang Pionir
Kamus Al-Munawwir KH. A. Warson Munawwir.” Penelitian ini
merupakan penelitian pertama tentang biografi Kyai Warson yang ditulis
oleh santri Komplek Q PP. Putri Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Hasil
penelitiannya antara lain membahas tentang: riwayat hidup Kyai Warson,
perjalanan intektualnya, proses penulisan kamus Al-Munawwir, butir-butir

8 Nur Rokhim, KH. A. Warson Munawwir dan Dunia Pesantren (Kiprahnya dalam Pendidikan di
Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak Yogyakarta tahun 1947-2013),” Skripsi, (Yogyakarta: UIN
Sunan Kalijaga Press), 2016, hlm. vii.

9 Khalimatu Nisa & Fahma Amirotulhaq, Jejak Sang Pionir Kamus Al-Munawwir; KH. A. Warson
Munawwir, Cet. I, (Yogyakarta: Pustaka Komplek Q, 2015), hlm. xxi.
pemikiran Kyai Warson, kiprahnya dalam organisasi sampai pada proses
pendirian PP. Putri Komplek Q Krapyak. Pada bab terakhir, peneliti
menguraikan wafatnya Kyai Warson dan beberapa kenangan bersamanya.
Penelitian yang dilakukan oleh Khalimatu Nisa dan temannya mengambil
nara sumber para santri ndalem dan juga pengasuh PP. Al-Munawwir.
Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang penulis lakukan
adalah, bahwa penelitian penulis tidak hanya tentang biografi Kyai
Warson, tetapi lebih fokus pada peran dakwah Kyai Warson melalui
Kamus Al-munawwir khususnya di PP Putri Komplek Q Krapyak
Yogyakarta.
3. Skripsi yang ditulis oleh Agus Ghazali Rochman,10 Fakultas Tarbiyah
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang diterbitkan pada tahun 2005 dengan
judul: “Peran Kepemimpinan Kyai dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
Pesantren (Studi Kasus Pondok Pesantren al-Munawwir Komplek
Nurussalam Krapyak Yogyakarta).” Skripsi ini membahas peran kyai di
PP Al-Munawwir komplek Nurussalam putra. Hasil pembahasan dari
skripsi ini antara lain tentang: peran kepemimpinan kyai dalam
meningkatkan kualitas pendidikan di pondok pesantren khususnya studi
kasus di komplek putra Nurussalam. Perbedaan penelitian tersebut dengan
penelitian yang penulis lakukan antara lain, meskipun secara umum sama-
sama meneliti peran kyai di pondok pesantren, tapi pada skripsi ini lebih
fokus pada peningkatan mutu pendidikan yang secara khusus di PP Putra
Nurussalam. Sedangkan penelitian yang penulis lakukan adalah peran
dakwah Kyai Warson di komplek Q.

F. Signifikansi/ Manfaat Penelitian


10 Agus Ghazali Rochman, Peran Kepemimpinan Kyai dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
Pesantren (Studi Kasus Pondok Pesantren al-Munawwir Komplek Nurussalam Krapyak Yogyakarta,
Skripsi, (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Press, 2005), hlm. 5.
Sedangkan manfaat dari hasil penelitian ini diharapkan memberikan
kontribusi, baik yang bersifat teoritis maupun praktis. Secara teoritis,
penelitian ini diharapkan mencapai target:

1. Menjadi kontribusi ilmiah dalam meneladani seorang tokoh


kharismatik melalui hasil-hasil tulisannya dan beberapa kajian kitab yang
disampaikan dengan sangat menarik oleh Sang Kyai.

2. Menjadi kontribusi ilmiah bagi para pemerhati dan pengkaji bahasa


dan kitab untuk mengetahui lebih lanjut mufrodat bahasa Arab melalui
Kamus Al-Munawwir.

Secara praktis, penelitian ini diharapkan:

1. Sebagai sumbangsih bagi para pemerhati, pengkaji dan para dai dalam
meningkatkan peran dakwahnya di masyarakat.

2. Dapat memberi kontribusi informasi, khazanah keilmuan Islam, serta


menambah referensi tentang biografi tokoh penulis kamus Arab-Indonesia
yang banyak dijadikan rujukan di kalangan akademisi.

3. Dapat menjadi titik pijak penelitian-penelitian selanjutnya yang lebih


obyektif, ilmiah dan berkualitas.

G. Penegasan Judul
Untuk mmendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai arah
penelitian ini, sekaligus untuk menghindari kesalahpahaman dalam
menginterpretasikan penelitian, maka penulis perlu menegaskan terkait
dengan judul yang penulis angkat dalam penelitian ini. Penelitian ini berjudul:
“Peran Dakwah KH. A. Warson Munawwir Melalui Kamus Al-Munawwir
(Studi Analisis di Pondok Pesantren Komplek Q Krapyak Yogyakarta).” Untuk
memberi pengertian yang utuh tentang judul tersebut akan penulis jelaskan
sebagai berikut:

1. Peran
Menurut definisi para ahli menyatakan bahwa pengertian peran
adalah aspek dinamis dari kedudukan atau status.11 Sedangkan definisi kata
peran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah perangkat
tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di
masyarakat.
2. Dakwah

Dakwah menurut etimologi (bahasa) berasal dari kata bahasa


Arab: da’a–yad’u–da’watan yang berarti mengajak, menyeru, dan
memanggil.12 Sedangkan makna dakwah secara bahasa adalah: An-
Nida artinya memanggil; menyeru (ad-du’a ila syai’i), artinya menyeru
dan mendorong pada sesuatu.13 Adapula yang mendefinisikan dakwah
dalam arti teriakan (as-shaihatu) dan seruan (An-nida).14 Menurut Prof. A.
Hasymi dakwah Islamiyah adalah mengajak orang lain untuk meyakini
dan mengamalkan aqidah dan syariat Islamiyah yang terlebih dahulu telah

11 www.kamusbahasaindonesia.org/peran/mirip, diakses pada tanggal 11 Oktober 2015.

Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Cet. I (Semarang: Widya
Karya, 2005), hlm. 57.

12 Samsul Munir Amin, Rekonstruksi Pemikiran Dakwah Islam, (Jakarta: Amzah, 2008), hlm. 3

13 Jum’ah Amin Abdul Aziz, Fiqih Dakwah; Studi Atas Berbagai Prinsip Dan Kaidah Yang Harus
Dijadikan Acuan Dalam Dakwah Islamiah, (Solo: Pustaka Arofah, 2011), hlm. 12.

14 Lihat, Adam Abdullah Al-Alury, Tarikh Ad-Dakwah Islamiyah, dalam Firdaus A.N., Panji-Panji
Dakwah, Cet. I, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991), hlm. 1.
diyakini dan diamalkan oleh pendakwah sendiri.15 Dan pengertian dakwah
Islam secara luas oleh Endang S. Anshari adalah penjabaran,
penterjemahan dan pelaksanaan Islam dalam perikehidupan dan
penghidupan manusia (termasuk di dalamnya) politik, ekonomi, kesenian,
kekeluargaan dan sebagainya.16
Dalam dunia dakwah, orang yang berdakwah biasa
disebut da’i dan orang yang menerima dakwah atau orang yang didakwahi
disebut dengan mad’u.17 Dalam pengertian istilah dakwah diartikan
sebagai berikut: 18
a. Toha Yahya Oemar menyatakan bahwa dakwah Islam sebagai
upaya mengajak umat dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar
sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan di dunia dan
akhirat.
b. Syaikh Ali Makhfudz, menuliskan dalam kitabnya yang
berjudul Hidayatul Mursyidin memberikan definisi dakwah sebagai
berikut: dakwah Islam adalah mendorong manusia agar berbuat
kebaikan dan mengikuti petunjuk (hidayah), menyeru mereka berbuat
kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, agar mereka mendapat
kebahagiaan di dunia dan akhirat.
c. Hamzah Ya’qub mengatakan bahwa dakwah adalah mengajak
umat manusia dengan hikmah (kebijaksanaan) untuk mengikuti
petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
d. Menurut Hamka dakwah adalah seruan/ panggilan untuk
menganut suatu pendirian yang ada dasarnya berkonotasi positif

15 Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah..., hlm. 3.

16 Endang S. Anshari, Wawasan Islam; Pokok-Pokok Pikiran Tentang Islam dan Umatnya, dalam
Taufiq Damisi, Public Relations dan Dakwah, Cet. II, (Wonosobo: Unsiq Press, 2005), hlm. 88.

17 Lihat: Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta: Mizan, 2011), hlm. 1.

18 Ibid., hlm. 2.
dengan substansi terletak pada aktivitas yang memerintahkan amar
ma’ruf nahi mungkar.
e. Syaikh Muhammad Abduh mengatakan bahwa dakwah adalah
menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran
adalah fardlu yang diwajibkan kepada setiap muslim.
Dari beberapa definisi di atas secara singkat dapat disimpulkan
bahwa dakwah merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh informan
(da’i) untuk menyampaikan informasi kepada pendengar (mad’u)
mengenai kebaikan dan mencegah keburukan. Aktivitas tersebut dapat
dilakukan dengan menyeru, mengajak atau kegiatan persuasif lainnya.
Dakwah menjadikan perilaku muslim dalam menjalankan Islam sebagai
agama rahmatan lil’alamin yang harus didakwahkan kepada seluruh
manusia, yang dalam prosesnya melibatkan unsur: subyek (da’i), materi
(maaddah), metode (thoriqoh), media (wasilah), dan obyek (mad’u)
dalam mencapai tujuan (maqasid) dakwah yang melekat dengan tujuan
Islam yaitu mencapai kebahagiaan hidup di duia dan di akherat.19
Dalam Al-Qur’an surat An-Nahl (16) ayat 125 di sebutkan bahwa
dakwah adalah mengajak umat manusia kejalan Allah dengan cara yang
bijaksana, nasehat yang baik serta berdebat dengan cara yang baik pula.
Perhatikan firman Allah berikut ini:

‫ك ههوو‬ ‫ك إباِحلإححكومإة وواحلومحوإعظوإة احلوحوسنوإة وووجاِإدحلههحم إباِلبَإتي إهوي أوححوسهن إإبَن ورببَ و‬ ‫اهحد ه‬
‫ع إإولىَ وسإبيِإل وربب و‬
.‫ضبَل وعحن وسإبيِلإإه ووههوو أوحعلوهم إباِحلهمحهتوإديِون‬
‫أوحعلوهم بإومحن و‬
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan
hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan
cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah

19 Ibid.
yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. An-Nahl (16): 125).20

Ayat ini sekaligus menjadi dasar hukum dalam berdakwah,


meskipun masih banyak ayat lain dalam Al-Qur’an yang berisi tentang
seruan melakukan amar makruf nahi munkar.

3. KH. A. Warson Munawwir

Beliau lahir di Yogyakarta tepatnya pada hari Jum’at Pon, 22


Sya’ban 1353 H atau 30 November 1934 dari pasangan ulama termasyhur
yaitu KH. M. Munawwir dan Nyai Hj. Sukis. Ayah beliau adalah guru dari
KH. Muntaha Alh.21 dan guru dari banyak santri yang sekarang sudah
menjadi Kyai besar di berbagai daerah. Beliau disinyalir hanya memiliki
guru tunggal yaitu KH. Ali Ma’shum,22 yang juga merupakan kakak
iparnya. Berbicara tentang Kyai Warson, berarti juga berbicara mengenai
maha karya terpentingnya yaitu Kamus Al-Munawwir. Kamus ini

20 Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: Toha Putra, 1998), hlm. 536.

21 KH. Muntaha Alh., adalah pengasuh pondok Al-Asyariyah Kalibeber Wonosobo dan juga
merupakan Rektor pertama IIQ (Institut Ilmu-Ilmu Al-Qur’an) yang kemudian namanya diubah
menjadi UNSIQ Jawa Tengah di Wonosobo. Beliau adalah pecinta Al-Qur’an sepanjang hayatnya,
sehingga hampir seluruh usianya dihabiskan untuk menyebarkan dan menghidupka Al-Qur’an. Hal
yang paling monumental adalah gagasannya untuk membuat Al-Qur’an Akbar (Al-Qur’an Raksasa),
sebuah maha karya agung yang diusulkan masuk ke Guinness Book of Record. Lebih lanjut silakan
baca: Samsul Munir Amin, KH. Muntaha Al-Hafizh: Pecinta Al-Qur’an Sepanjang Hayat,
(Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2012), hlm. 1.

22 KH. Ali Ma’shum, beliau merupakan putra sulung dari KH. Ma’shum, Soditan, Lasem, Rembang.
Beliau dijadikan menantu oleh KH. M. Munawwir untuk putrinya Nyai Hasyimah atau kakak Kyai
Warson. Kyai Ali pulalah yang akhirnya melanjutkan kepemimpinan di pondok Krapyak sepeninggal
KH. M. Munawwir dan sampai sekarang namanya diabadikan menjadi nama jalan, yaitu jalan KH. Ali
Ma’shum yang merupakan jalan di PPP Krapyak Komplek Q.
dikatakan sebagai kamus Arab-Indonesia terlengkap. Kamus ini juga
tersebar di seluruh wilayah Indonesia, bahkan juga tersimpan di sebuah
perpustakaan Vatikan.23

Beliau lahir dan dibesarkan di lingkungan pondok pesantren


Krapak Yogyakarta. Pondok Pesantren Krapyak berdiri pada tahun 1909
M dan pada tahun 1910 M mulai ditempati untuk mengajar Al-Qur’an
oleh ayah beliau yaitu KH. M. Munawwir. KH. M. Munawwir adalah
seorang kiai yang khusus memperdalam Al-Qur’an sekitar 28 tahun.
Pondok pesantren ini melahirkan banyak kyai besar, diantaranya alm. KH.
Yusuf Hasyim (Pengasuh Tebuireng), KH. Zainal Abidin Hamid yang satu
angkatan KH. Habib Termas, bahkan Gus Dur pernah menimba ilmu di
pondok tersebut.24
4. Kamus Al-Munawwir
Untuk dapat belajar bahasa asing secara baik dan benar,
memerlukan alat penunjang yang antara lain berupa kamus. Kamus adalah
sejenis buku rujukan yang menerangkan makna kata-kata. Ia berfungsi
untuk membantu seseorang mengenal perkataan baru. Selain menerangkan
maksud kata, kamus juga mungkin mempunyai pedoman sebutan, asal
usul (etimologi) sesuatu perkataan dan juga contoh penggunaan bagi
sesuatu perkataan. Kata kamus diserap dari bahasa Arab qamus (‫)قاِموس‬,
dengan bentuk jamaknya qawamis. Kata Arab itu sendiri berasal dari kata
Yunani Ωκεανός (okeanos) yang berarti 'samudra'. Sejarah kata itu jelas
memperlihatkan makna dasar yang terkandung dalam kata kamus, yaitu
wadah pengetahuan, khususnya pengetahuan bahasa, yang tidak terhingga
dalam dan luasnya. Dewasa ini kamus merupakan khazanah yang memuat

23 Khalimatu Nisa & Fahma Amirotulhaq, Jejak..., hlm. 47.

24 Ibid.
perbendaharaan kata suatu bahasa, yang secara ideal tidak terbatas
jumlahnya.25
Kamus disusun sesuai dengan abjad dari A-Z dengan tujuan untuk
memudahkan pengguna kamus dalam mencari istilah yang diinginkannya
dengan cepat dan mudah. Kamus memiliki kegunaan untuk memudahkan
penggunanya dalam mencari istilah-istilah yang belum dipahami
maknanya. Salah satu kamus bahasa Arab-Indonesia yang terkenal adalah
Kamus Al-Munawwir, yang ditulis oleh KH. A. Warson Munawwir.
Kamus ini dikatakan sebagai kamus Arab-Indonesia terlengkap dan paling
banyak digunakan. Kamus tersebut pada edisi kedua dicetak dengan tebal
1591 halaman dan telah dicetak sebanyak 22 kali sejak diterbitkan pada
tahun 1997.26
5. Studi Analisis
Menurut KBBI yang dimaksud dengan studi adalah penelitian
ilmiah; kajian; telaahan atau kasus pendekatan untuk meneliti gejala sosial
dengan menganalisis suatu kasus secara mendalam dan utuh. 27 Sedangkan
makna analisis adalah suatu usaha dalam mengamati secara detail pada
suatu hal atau benda dengan cara menguraikan komponen-komponen
pembentuknya atau menyusun komponen tersebut untuk dikaji lebih
lanjut.28 Kata analisis banyak digunakan dalam berbagai bidang ilmu
pengetahuan, baik ilmu bahasa, ilmu alam, maupun ilmu sosial.
Penggunaan kata “analisis” sering terjadi kerancuan dengan kata
“analisa”, banyak orang yang menggunakan kata analisa dibandingkan
25 https://id.wikipedia.org/wiki/Kamus, diakses pada tanggal 10 Oktober 2017.

26 Khalimatu Nisa & Fahma Amirotulhaq, Jejak..., hlm. 39.

27 Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Cet. I (Semarang: Widya
Karya, 2005), hlm. 249.

28 Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Cet. I (Semarang: Widya
Karya, 2005), hlm. 24.
dengan kata analisis. Padahal jika ditelusuri dari cara pembentukan istilah
bahasa Indonesia, menurut Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI),
kata dengan sufiks atau akhiran –sis (dalam bahasa Inggris) diserap ke
dalam bahasa Indonesia menjadi –sis, dan bukan –sa. Analisis adalah
istilah yang tepat untuk menyerap kata analysis, bukan analisa. 29 Dari
uraian di atas dapat penulis ambil kesimpulan bahwa yang dimaksud
dengan studi analisis adalah suatu penelitian/ kajian dalam mengamati
secara detail pada suatu hal atau benda dengan cara menguraikan
komponen-komponen pembentuknya atau menyusun komponen tersebut
untuk dikaji lebih lanjut.

6. Pondok Pesantren Putri Komplek Q


Sebuah pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan
Islam tradisional dimana siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah
bimbingan seorang (atau lebih) guru yang lebih dikenal dengan sebutan
kyai. Pondok, masjid, santri, pengajaran kitab klasik dan kyai adalah lima
elemen dasar tradisi pesantren.30 Ini berarti suatu lembaga pengajian yang
telah berkembang hingga memiliki kelima elemen tersebut berubah
statusnya menjadi pesantren.
Salah satu pondok pesantren yang memiliki eksistensi terhadap
pengembangan ilmu pengetahuan bauk umum maupun salafi adalah
Pondok Pesantren Putri Komplek Q Krapyak Yogyakarta. Pondok tersebut
pada awalnya bergabung dengan PP Al-Munawwir yang didirikan oleh
KH. Munawwir pada tanggal 15 November 1910 M. Ponpes Putri Al-
Munawwir Komplek Q adalah salah satu bagian dari PP Al-Munawwir.

29 Abdul Chaer, Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia, Edisi Revisi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006),
hlm. 25.

30 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai
Masa Depan Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 2011), hlm. 79.
Komplek Q didirikan oleh KH. A. Warson Munawwir pada tanggal 22
September 1989. Pondok ini terdiri dari tiga lantai yang difungsikan
sebagai aula, asrama santri, ruang kelas madrasah serta kantor Madrasah
salafiyah III.
7. Krapyak Yogyakarta
Adalah nama sebuah dusun, di desa Panggungharjo, Kecamatan
Sewon, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bagian
utara berbatasan dengan tapal batas antara Kodya Yogyakarta dan
Kabupaten Bantul.31 Dalam perkembangan selanjutnya dusun Krapyak
dikenal sebagai kampung santri seiring dengan pengembangan Pondok
Pesantren Krapyak yang kini terbagi menjadi dua Yayasan yaitu Pondok
Pesantren Al-Munawwir dan Yayasan Ali Ma’shum. Ribuan santri berasal
dari seluruh Indonesia, kini menghuni pondok pesantren tersebut.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan judul di atas adalah peran dakwah yang dilakukan oleh KH. A. Warson
Munawwir yang merupakan penerus KH. M. Munawwir dalam melalui
karyanya yang fenomenal berupa Kamus Al-Munawwir dengan mengambil
penelitian di Ponpes Putri komplek Q Krapyak Yogyakarta.
H. Metode Penelitian
Metode penelitian sangat urgen kehadirannya dalam setiap penelitian
dan karya ilmiah, hal itu dimaksudkan agar mendapatkan data dan sumber
yang lengkap dan obyektif, karena bobot sebuah karya sangat dipengaruhi dari
faktor ketepatan data dan sumber. Beberapa hal yang berkaitan dengan metode
penelitian ini adalah:
1. Jenis Penelitian

31Djunaidi A. Syakur, Buku Panduan PPP Al-Munawwir Krapyak Yogayakarta; Madrasah Salafiyah
III, (Yogyakarta: Pengurus Madrasah Salafiyah III PP. Al-Munawwir Komplek Q Krapyak, 2007), hlm.
3.
Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian kualitatif, yaitu
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. 32 Data yang
dikumpulkan dalam menyelesaikan dan dalam memberikan penafsiran
tidak menggunakan angka/ rumus statistik, melainkan berupa kata-kata
yang digali dari buku atau literatur. Penulis menggunakan metode field
research (penelitian lapangan) dan sekaligus metode library research33
(penelitian kepustakaan). Penelitian ini termasuk studi tokoh atau
penelitian biografis,34 dimana penulis meneliti kehidupan seseorang dan
hubungannya dengan masyarakat. Obyek penelitian seharusnya Sang Kyai
sendiri (baca: KH. Warson Munawwir), tetapi karena beliau sudah wafat
maka penulis melakukan wawancara langsung dengan keluarga ndalem35
juga beberapa santri di Krapyak Yogyakarta. Selain itu juga buku tentang
biografi Kyai Warson yang kebetulan baru saja diterbitkan dan beberapa
literatur lain yang memiliki titik singgung dengan penelitian yang sedang
penulis lakukan.
Selain itu penulis juga menggunakan metode diskriptif,36 metode
ini dilakukan oleh peneliti yang menggunakan metode penelitian
kualitatif, setelah menyusun perencanaan penelitian, peneliti lalu ke

32 S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 36.

33 Afifuddin, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 111.

34 Muhammad Fauzi, Metode Penelitian Kuantitatif, Cet. I, (Semarang: Walisongo Press, 2009), hlm.
29.

35 Ndalem, berasal dari bahasa Jawa yang berarti orang dalam atau internal. Keluarga ndalem di sini
diartikan sebagai keluarga dekat/ internal dari Kyai yang menghuni rumah Kyai dan keluarga intinya.

36Penelitian kepustakaan/ literatur atau library research, yaitu teknik penelitian yang mengumpulkan
data dan informasi dengan bantuan berbagai macam materi baik berupa buku, surat kabar, majalah,
jurnal, dan beberapa tulisan lain yang memiliki keterkaitan dengan pembahasan penelitian ini. Lebih
lanjut baca: Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997),
hlm. 60
lapangan, tidak membawa alat pengumpul data, melainkan langsung
melakukan observasi sambil mengumpulkan data-data dan melakukan
analisis. Dalam hal ini peneliti langsung melakukan survey ke lapangan
yaitu ke Pondok Pesantren Krapyak dan melakukan penelitian
secukupnya.
2. Data Penelitian
Sumber data yang dihimpun dalam penelitian ini dibedakan
menjadi dua jenis data, yaitu data primer dan sekunder.
1. Data primer adalah sumber informasi yang mempunyai
wewenang dan tanggung jawab terhadap pengumpulan ataupun
penyimpanan data.37 Sumber data primer yang penulis gunakan dan
merupakan data-data tekstual yaitu berupa buku Biografi KH. A.
Warson Munawwir dan buku panduan PP Putri Al-Munawwir Krapyak
Yogyakarta.
2. Data sekunder, yaitu data yang mendukung dan melengkapi
data-data primer. Adapun sumber data sekunder penulis jadikan
sebagai landasan teori kedua dalam kajian skripsi ini setelah data
primer. Data ini berfungsi sebagai penunjang data primer, sekaligus
akan memperkuat argumentasi maupun landasan teori dalam
kajiannya.38 Data ini bersumber dari wawancara langsung dengan para
santri maupun para asatidz, serta buku lainnya yang berhubungan
dengan tema yang penulis uraikan.
3. Tehnik pengumpulan data
Metode yang dilakukan dalam pengumpulan data penelitian ini
adalah sebagai berikut:

37 Muhammad Ali, Penelitian Kependidikan: Prosedur dan Strategi, (Bandung: Angkasa, 1987), hlm.
42.

38 Joko Subagyo, Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 89.
a. Tehnik Observasi, yaitu pengamatan dan pencatatan secara
sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian baik
secara observasi langsung maupun tidak langsung.39
b. Tehnik Komunikasi, yaitu cara mengumpulkan data melalui
kontak atau hubungan pribadi antar pengumpul data dengan sumber
datau atau responden. Tehnik komunikasi langsung menggunakan
intervieu/ wawancara sebagai alat pengumpul data.40
4. Analisis data
Analisis data adalah proses mengatur urutan data,
mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian
dasar. Analisis data merupakan rangkaian kegiatan penelaahan,
pengelompokan, sistematisasi, penafsiran dan verifikasi data agar sebuah
fenomena memiliki nilai sosial, akademis dan ilmiah.41 Analisis data juga
dimaksudkan untuk mencari dan menata data secara sistematis untuk
meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan
menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain.42 Untuk menganalisis data
yang ada, penulis terlebih dahulu melakukan klasifikasi data, karena
klasifikasi data merupakan bagian yang integral dari analisis. 43
Selanjutnya data-data tersebut dianalisis berdasarkan analisis isi/ kajian
isi,44 kemudian dikonfirmasikan dengan data-data yang bersifat
konstektual atau faktual.

39 Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press,
2001), hlm. 100.

40 Ibid., hlm. 110.

41Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian, Cet. I (Yogyakarta: TERAS, 2009), hlm. 69.

42 Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Bayu Indra Grafika, 1996), hlm.
104.

43Klasifikasi merupakan salah satu cara analisa data kualitatif, supaya kita bisa membuat
perbandingan yang bermakna antara setiap bagian data. Lebih lanjut baca: Lexy J. Moloeng,
Metodologi..., hlm. 290.
Analisis isi menurut Barelson yang dikutip oleh Hasan Sadily,
merupakan tehnik penyelidikan yang berusaha untuk menguraikan secara
obyektif, sistematik dan isinya termanifestasikan dalam suatu
komunikasi.45 Untuk selanjutnya data tersebut dianalisa dengan
menggunakan metode kualitatif, yaitu pembahasan yang berupa uraian
yang dalam hal ini berupa kalimat-kalimat hasil wawancara dengan
responden. Metode pendekatan dalam analisis data yang penulis gunakan
adalah:
a. Metode Deduktif, yaitu cara berfikir untuk mencari dan
menguasai ilmu pengetahuan yang berasal dari alasan umum menuju
ke arah yang lebih spesifik.46
b. Metode Induktif, cara ini merupakan proses berfikir yang
diawali dari fakta-fakta pendukung yang spesifik, menuju pada arah
yang lebih umum guna mencapai suatu kesimpulan.47

I. Sistematika Penulisan Skripsi


Sistematika penulisan skripsi merupakan gambaran umum dari suatu
pembahasan dalam skripsi. Untuk lebih memudahkan dalam memahami isi
dan pokok-pokok permasalahan yang dibahas, penulis membuat sistematika
skripsi sebagai berikut:
Bab pertama adalah pendahuluan yang menguraikan pandangan secara
umum muatan penelitian skripsi yang terangkum dalam latar belakang
masalah. Selanjutnya penulis mengemukakan alasan pemilihan judul, lalu
memfokuskan pembatasan masalah berupa pertanyaan-pertanyaan yang

44Kajian isi menurut Weber adalah metodologi penelitian yang memanfaatkan seperangkat prosedur
untuk menarik kesimpulan yang akurat dari sebuah buku atau dokumen. Lexy J. Moleong, Metodologi
Penelitian Kualitatif,Cet. XXIX (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 10.

45 Hasan Sadily, Ensiklopedia, (Jakarta: Ichtiar Baru Van-Hoeve, 1980), hlm. 207.

46Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 12.

47 Ibid.
dipaparkan pada rumusan masalah, dilanjutkan dengan tujuan penelitian
skripsi ini. Langkah selajutnya adalah signifikansi penelitian supaya
tergambar dengan jelas manfaat apa saja yang akan didapat dari penelitian
tersebut. Untuk mengantisipasi kerancuan pengertian judul maka disertakan
penegasan istilah yang digunakan untuk memperjelas judul. Terakhir, penulis
memaparkan metode pendekatan yang dipakai dalam penelitian berikut
sistematika pembahasannya.
Bab kedua, pada bab ini penulis memaparkan hal-hal yang terkait
dengan landasan teori yang nantinya dijadikan titik acuan pada pembahasan
berikutnya. Pada bab II berisi Peran Dakwah di Pondok Pesantren, yang
meliputi: pengertian dakwah, macam-macam dakwah dan unsur-unsur
dakwah; sejarah perkembangan dakwah meliputi: dakwah sebelum Nabi
Muhammad SAW, dakwah Nabi dan para sahabat, serta dakwah di Indonesia.
Sub pokok bahasan selanjutnya adalah dasar hukum dakwah yang berisi ayat-
ayat tentang dakwah dan kewajiban dakwah. Pada sub bab terakhir
menguraikan dakwah di pondok pesantren.
Bab ketiga, pada bab ini penulis akan menguraikan tokoh yang penulis
teliti, dengan tema Profil KH. A. Warson Munawwir dan Kamus Al-
Munawwir. Sub pokok bahasannya meliputi: biografi KH. A. Warson
Munawwir, Kamus Al-Munawwir; Ponpes Putri komplek Q Krapayak
Yogyakarta; dan menempati sub bab terakhir pada bab ini menjelaskan
tentang dakwah KH. A. Warson Munawwir.
Bab keempat, pada bab ini penulis lebih mengerucutkan pembahasan
tentang peran dakwah yang disampaikan oleh Kyai Warson melalui Kamus
Al-Munawwir. Sub pokok bahasan yang akan dibahas adalah: peran dakwah
Kyai Warson; metode dakwah Kyai Warson; serta dakwah Kyai Warson
melalui Kamus Al-Munawwir.
Terakhir adalah bab kelima, yang merupakan penutup dari penelitian
skripsi ini dengan rangkaian kesimpulan sebagai jawaban atas pertanyaan-
pertanyaan dalam rumusan masalah yang penulis teliti, penulis juga
mencantumkan beberapa saran setelah selesai melakukan penelitian ini.
Setelah bab kelima, dilampirkan daftar pustaka yang menyebut
keseluruhan literatur dan sumber data lapangan yang ditelaah selama
penelitian skripsi ini. Juga beberapa lampiran termasuk didalamnya daftar
nara sumber/ responden yang penulis wawancarai dan juga galeri foto.