Anda di halaman 1dari 3

Apa Sih Advokasi itu?

Sebelum membahas pengertian advokasi yang berlaku secara umum dan advokasi menurut
IRM, maka ada baiknya kita mengurai dulu keterkaitan antara hikmah dan advokasi.
“hikmah itu apa?” dan “advokasi itu semacam bagaimana?” Ini penting guna meretas
pemaknaan yang ada dan menghindari ambiguitas.

Hikmah dan advokasi merupakan dua bentuk aktivitas yang berbeda. Keduanya memiliki
spesifikasi dan aplikasi kerja dan sistematika konsep khusus, yang didalamnya terdapat
variabel kerja tersendiri dalam pencapaian targetnya. Namun dalam penerapannya dapat
dibentuk suatu rangkaian yang saling mempengaruhi. Sebuah koordinasi sektarian yang
dibangun dengan lebih melihat kebutuhan intern. Walaupun pada akhirnya akan tetap
terdapat beberapa prinsip prinsip khusus yang berdiri tegak sebagai bentuk sifat aslinya.

Sebuah tatanan hasil kombinasi rangkaian yang dipaksakan saling mendukung dimana
keberadaan hikmah dapat diorientasikan fungsinya pada tataran pengembangan gagasan
dan wacana gerakan atau perumusan konsep (teori). Sementara kehadiran advokasi dapat
dimaknai sebagai gerakan aplikasi aktif atas hasil kajian dan perumusan perumusan sikap
atau perlawanan pada tahap awal, baik dalam lembaran hikmah ataupun dalam kajian-
kajian khusus.

Adapun makna hikmah dan advokasi dalam beberapa teori terdapat beberapa arti
diantaranya :

“Hikmah secara bahasa berarti politik, secara istilah dalam kamus bahasa Indonesia (1998:780) politik
ialah (1) pengetahuan mengenai ketatanegaraan,(2) segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan
sebagainya) mengenai pemerintah negara atau negara lain, (3) cara bertindak (dalam menghadapi
masalah) atau kebijakan”

Menurut Miriam Budiarjo (1981:8) “Politik adalah bermacam macam kegiatan dalam suatu sistem
politik (atau negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan dari sistem dan melaksanakan
tujuan itu”.

Sedangkan advokasi menurut almarhum Mansour Faqih (2000) adalah media atau cara yang
digunakan dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. Advokasi lebih merupakan suatu
usaha sistematis dan terorganisir untuk mempengaruhi dan mendesakkan terjadinya
perubahan dalam kebijakan publik secara bertahap maju.

Dalam buku “membela taman sebaya” disebutkan bahwa: “Advokasi is defined is the
promotion of cause or the influenching of policy, founding streams or other politically determined
activity”. Artinya advokasi adalah promosi sebab atau pengaruh sebuah kebijakan atau
aktifitas lainnya yang ditentukan secara politik.

Advokasi juga merupakan langkah untuk merekomendasikan gagasan kepada orang lain
atau menyampaikan suatu issu penting untuk dapat diperhatikan masyarakat serta
mengarahkan perhatian para pembuat kebijakan untuk mencari penyelesaiannya serta
membangun dukungan terhadap permasalahan yang diperkenalkan dan mengusulkan
bagaimana cara penyelesaian masalah tersebut.

Berdasarkan pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa advokasi lebih


merupakan suatu usaha sistematik dan terorganisir untuk mempengaruhi dan
mendesakkan perubahan, dengan memberikan sokongan dan pembelaan terhadap kaum
lemah (miskin, terbelakang, dan tertindas) atau terhadap mereka yang menjadi korban sebuah
kebijakan dan ketidak adilan.

Dalam konteks kehidupan sosial keagamaan dan kemanusiaan, advokasi lebih merupakan
penerjemahan secara praksis dari nilai nilai keagamaan yang berdimensi sosial, sekaligus
sebagai gerakan pembebasan dan kemanusiaan. Tujuannya adalah terjadinya transformasi
struktur dari struktur yang menindas dan tidak berpihak kepada kaum lemah kepada
struktur yang secara sosial, politik, dan ekonomi, lebih manusiawi, etis, egalitarian, dan
berkeadilan—bukan untuk mengantarkan kelas mustadha’afin menegakkan kediktatoran
baru.

Advokasi ketika dikaitkan dengan skala masalah yang dihadapi bisa dikategorikan kepada
tiga jenis:

1. Advokasi diri, yaitu advokasi yang dilakukan pada skala lokal dan bahkan sangat
pribadi. Misalnya saja ketika seorang pelajar tiba tiba diskorsing oleh pihak sekolah
tanpa adanya kejelasan, maka advokasi yang dilakukan adalah dengan cara mencari
kejelasan atau klarifikasi kepada pihak sekolah.

2. Advokasi kasus, yaitu advokasi yang dilakukan sebagai proses pendampingan


terhadap orang atau kelompok yang belum memiliki kemampuan membela diri dan
kelompoknya.

Advokasi kelas, yaitu sebuah proses mendesakkan sebuah kebijakan publik atau
kepentingan satu kelompok masyarakat (dalam hal ini pelajar dan remaja) dengan tujuan
akhir terwujudnya perubahan sistematik yang berujung pada lahirnya produk perundang
undangan yang melindungi atau berubahnya legislasi yang dianggap tidak adil. Advokasi
jenis ini melibatkan stakeholder yang lebih banyak dan proses yang lebih sistematis.
IPM dan Advokasi
Pertanyaan mendasar bagi IPM adalah “mengapa advokasi menjadi visi utama
gerakannya?” Setidaknya ada tiga hal yang bisa menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut.
Pertama, konsekuensi logis IPM sebagai gerakan yang diilhami oleh spirit agama (islam).
IPM (seperti juga Muhammadiyah sebagai induk persyerikatan) memiliki cara pandang
yang khas terhadap ajaran islam, yaitu visi Islam transformatif. Hal ini tercermin dari jargon
“tauhid sosial”, sebagai sebuah konsep tauhid yang berusaha menghadap hadapkan konsep
kepercayaan yang bersifat transenden dengan realitas sosial.

Kedua, demi survivalitas organisasi. Ditengah tumpukan berbagai masalah kehidupan,


masyarakat selalu membutuhkan pihak yang akan memberikan mamfaat atau kontribusi
positif terhadap upaya penyelesaian terhadap masalah masalahnya. Keberadaan organisasi
sebagai kelompok masyarakat yang berusaha menghimpun dan mengayomi kepentingan
konstituennya menjadi sangat penting. Tetapi, organisasi itu akan ditinggalkan ketika ia
tidak mampu memberikan pengayoman terhadap kebutuhan rill konstituennya. Dalam
konteks ini, hanya organisasi yang mengenali masalah serta memberikan jawaban atas
masalah konstituennya yang akan tetap survive. Jika IPM gagal melakukan assasment atas
kebutuhan rill pelajar, maka bukan hal yang mustahil jika IPM ditinggalkan.

Ketiga, hadirnya fenomena ketidakadilan yang menuntut IPM untuk menjadi bagian dari
proses penyelesaiannya. IPM sebagai bagian penting dari Civil Society harus secara proaktif
ambil bagian dalam permasalahan pelajar khususnya dan umumnya masalah kebangsaan.
Tidak ada alasan bagi IPM untuk menjadi organisasi steril dan asosial. IPM tidak bisa lagi
menjadi organisasi yang bergerak dari pelatihan kepelatihan. Sebab hal tersebut akan
menjebak IPM pada aktivisme dan ferbalisme, walhasil IPM akan menjadi organisasi yang
kehilangan relevansi terhadap perubahan dan penyelesaian masalah masalah sosial
kemasyarakatan.