Anda di halaman 1dari 45

A.

KONSEP DASAR MEDIS


1. Pengertian
Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah pembesaran kelenjar prostat
nonkanker, (Corwin, 2000).
Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah penyakit yang disebabkan
oleh penuaan. Price&Wilson (2005).
Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah pembesanan prostat yang
jinak bervariasi berupa hiperplasia kelenjar atauhiperplasia
fibromuskular. Namun orang sering menyebutnya dengan hipertropi
prostat namun secarahistologi yang dominan adalah hyperplasia
(Sabiston, David C,2004)
BPH (Hiperplasia prostat benigna) adalah suatu keadaan di mana
kelenjar prostat mengalami pembesaran, memanjang ke atas ke dalam
kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan menutup orifisium
uretra. BPH merupakan kondisi patologis yang paling umum pada pria.
(Smeltzer dan Bare, 2002).
2. Penyebab
Penyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang belum
diketahui. Namun yang pasti kelenjar prostat sangat tergantung pada
hormon androgen. Faktor lain yang erat kaitannya dengan BPH adalah
proses penuaan Ada beberapa factor kemungkinan penyebab antara lain :
a. Dihydrotestosteron
Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan
epitel dan stroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi .
b. Perubahan keseimbangan hormon estrogen – testoteron
Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estrogen
dan penurunan testosteron yang mengakibatkan hiperplasi stroma.
c. Interaksi stroma – epitel
Peningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast growth factor
dan penurunan transforming growth factor beta menyebabkan
hiperplasi stroma dan epitel.
d. Berkurangnya sel yang mati
Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup
stroma dan epitel dari kelenjar prostat
e. Teori sel stem
Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit
3. Manifestasi Klinis
a. Gejala iritatif meliputi :
1) Peningkatan frekuensi berkemih
2) Nokturia (terbangun pada malam hari untuk miksi)
3) Perasaan ingin miksi yang sangat mendesak/tidak dapat ditunda
(urgensi)
4) Nyeri pada saat miksi (disuria)
b. Gejala obstruktif meliputi :
1) Pancaran urin melemah
2) Rasa tidak puas sehabis miksi, kandung kemih tidak kosong
dengan baik
3) Kalau mau miksi harus menunggu lama
4) Volume urin menurun dan harus mengedan saat berkemih
5) Aliran urin tidak lancar/terputus-putus
6) Urin terus menetes setelah berkemih
7) Waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensi urin dan
inkontinensia karena penumpukan berlebih.
8) Pada gejala yang sudah lanjut, dapat terjadi Azotemia
(akumulasi produk sampah nitrogen) dan gagal ginjal dengan
retensi urin kronis dan volume residu yang besar.
c. Gejala generalisata seperti seperti keletihan, anoreksia, mual dan
muntah, dan rasa tidak nyaman pada epigastrik.
Berdasarkan keluhan dapat dibagi menjadi :
1) Derajat I : penderita merasakan lemahnya pancaran berkemih,
kencing tak puas, frekuensi kencing bertambah terutama pada
malam hari
2) Derajat II : adanya retensi urin maka timbulah infeksi. Penderita
akan mengeluh waktu miksi terasa panas (disuria) dan kencing
malam bertambah hebat.
3) Derajat III : timbulnya retensi total. Bila sudah sampai tahap ini
maka bisa timbul aliran refluk ke atas, timbul infeksi ascenden
menjalar ke ginjal dan dapat menyebabkan pielonfritis,
hidronefrosis.

4. Patofisiologi
Perubahan mikroskopik pada prostat telah terjadi pada pria
usia 30-40 tahun. Bila perubahan mikroskopik ini berkembang, akan
terjadi perubahan patologi anatomi yang ada pada pria usia 50 tahunan.
Perubahan hormonal menyebabkan hiperplasia jaringan penyangga
stromal dan elemen glandular pada prostat.
Teori-teori tentang terjadinya BPH :
a. Teori Dehidrosteron (DHT)
Aksis hipofisis testis dan reduksi testosteron menjadi dehidrosteron
(DHT) dalam sel prostat menjadi faktor terjadinya penetrasi DHT ke
dalam inti sel yang menyebabkan inskripsi pada RNA sehingga
menyebabkan terjadinya sintesa protein.
b. Teori hormon
Pada orang tua bagian tengah kelenjar prostat mengalami hiperplasia
yamg disebabkan oleh sekresi androgen yang berkurang, estrogen
bertambah relatif atau aabsolut. Estrogen berperan pada kemunculan
dan perkembangan hiperplasi prostat.
c. Faktor interaksi stroma dan epitel
Hal ini banyak dipengaruhi oleh Growth factor. Basic fibroblast
growth factor ( -FGF) dapat menstimulasi sel stroma dan ditemukan
dengan konsentrasi yang lebih besar pada pasien dengan pembesaran
prostat jinak. Proses reduksi ini difasilitasi oleh enzim 5-a-reduktase.
-FGF dapat dicetuskan oleh mikrotrauma karena miksi, ejakulasi
dan infeksi.
d. Teori kebangkitan kembali (reawakening) atau reinduksi dari
kemampuan mesenkim sinus urogenital untuk berploriferasi dan
membentuk jaringan prostat.
Proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan sehingga
perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan. Pada
tahap awal setelah terjadi pembesaran prostat, resistensi urin pada leher
buli-buli dan daerah prostat meningkat, serta otot detrusor menebal dan
merenggang sehingga timbul sakulasi atau divertikel. Fase penebalan
detrusor ini disebut fase kompensasi. Apabila keadaan berlanjut, maka
detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak
mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin yang
selanjutnya dapat menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi saluran
kemih atas. Adapun patofisiologi dari masing-masing gejala yaitu :
a. Penurunan kekuatan dan aliran yang disebabkan resistensi uretra
adalah gambaran awal dan menetap dari BPH. Retensi akut
disebabkan oleh edema yang terjadi pada prostat yang membesar.
b. Hesitancy (kalau mau miksi harus menunggu lama), terjadi karena
detrusor membutuhkan waktu yang lama untuk dapat melawan
resistensi uretra.
c. Intermittency (kencing terputus-putus), terjadi karena detrusor tidak
dapat mengatasi resistensi uretra sampai akhir miksi. Terminal
dribbling dan rasa belum puas sehabis miksi terjadi karena jumlah
residu urin yang banyak dalam buli-buli.
d. Nocturia miksi pada malam hari) dan frekuensi terjadi karena
pengosongan yang tidak lengkap pada tiap miksi sehingga interval
antar miksi lebih pendek.
e. Frekuensi terutama terjadi pada malam hari (nokturia) karena
hambatan normal dari korteks berkurang dan tonus sfingter dan
uretra berkurang selama tidur.
f. Urgensi (perasaan ingin miksi sangat mendesak) dan disuria (nyeri
pada saat miksi) jarang terjadi. Jika ada disebabkan oleh ketidak
stabilan detrusor sehingga terjadi kontraksi involunter,
g. Inkontinensia bukan gejala yang khas, walaupun dengan
berkembangnya penyakit urin keluar sedikit-sedikit secara berkala
karena setelah buli-buli mencapai complience maksimum, tekanan
dalam buli-buli akan cepat naik melebihi tekanan spingter.
h. Hematuri biasanya disebabkan oleh oleh pecahnya pembuluh darah
submukosa pada prostat yang membesar.
i. Lobus yang mengalami hipertropi dapat menyumbat kolum vesikal
atau uretra prostatik, sehingga menyebabkan pengosongan urin
inkomplit atau retensi urin. Akibatnya terjadi dilatasi ureter
(hidroureter) dan ginjal (hidronefrosis) secara bertahap, serta gagal
ginjal.
j. Infeksi saluran kemih dapat terjadi akibat stasis urin, di mana
sebagian urin tetap berada dalam saluran kemih dan berfungsi
sebagai media untuk organisme infektif.
k. Karena selalu terdapat sisa urin dapat terbentuk batu endapan dalam
buli-buli, Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan
hematuri. Batu tersebut dapat pula menimbulkan sistiitis dan bila
terjadi refluks dapat terjadi pielonefritis.
l. Pada waktu miksi pasien harus mengedan sehingga lama kelamaan
dapat menyebabkan hernia dan hemoroid.
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Urinalisa
Analisis urin dan mikroskopik urin penting untuk melihat
adanya sel leukosit, sedimen, eritrosit, bakteri dan infeksi. Bila
terdapat hematuri harus diperhitungkan adanya etiologi lain seperti
keganasan pada saluran kemih, batu, infeksi saluran kemih,
walaupun BPH sendiri dapat menyebabkan hematuri.
Elektrolit, kadar ureum dan kreatinin darah merupakan
informasi dasar dari fungsi ginjal dan status metabolik.
Pemeriksaan prostate spesific antigen (PSA) dilakukan sebagai
dasar penentuan perlunya biopsi atau sebagai deteksi dini keganasan.
Bila nilai PSA < 4 ng/ml tidak perlu biopsi. Sedangkan bila nilai
PSA 4-10 ng/ml, dihitung Prostate specific antigen density (PSAD)
yaitu PSA serum dibagi dengan volume prostat. Bila PSAD > 0,15,
sebaiknya dilakukan biopsi prostat, demikian pula bila nilai PSA >
10 ng/ml
b. Pemeriksaan darah lengkap
Karena perdarahan merupakan komplikasi utama pasca operatif
maka semua defek pembekuan harus diatasi. Komplikasi jantung dan
pernafasan biasanya menyertai penderita BPH karena usianya yang
sudah tinggi maka fungsi jantung dan pernafasan harus dikaji.
Pemeriksaan darah mencakup Hb, leukosit, eritrosit, hitung jenis
leukosit, CT, BT, golongan darah, Hmt, trombosit, BUN, kreatinin
serum.
c. Pemeriksaan radiologis
Biasanya dilakukan foto polos abdomen, pielografi intravena,
USG, dan sitoskopi. Tujuan pencitraan untuk memperkirakan
volume BPH, derajat disfungsi buli, dan volume residu urin. Dari
foto polos dapat dilihat adanya batu pada traktus urinarius,
pembesaran ginjal atau buli-buli. Dapat juga dilihat lesi osteoblastik
sebagai tanda metastase dari keganasan prostat serta osteoporosis
akibat kegagalan ginjal. Dari Pielografi intravena dapat dilihat
supresi komplit dari fungsi renal, hidronefrosis dan hidroureter,
gambaran ureter berbelok-belok di vesika urinaria, residu urin. Dari
USG dapat diperkirakan besarnya prostat, memeriksa massa ginjal,
mendeteksi residu urin dan batu ginjal.
BNO /IVP untuk menilai apakah ada pembesaran dari ginjal
apakah terlihat bayangan radioopak daerah traktus urinarius. IVP
untuk melihat /mengetahui fungsi ginjal apakah ada hidronefrosis.
Dengan IVP buli-buli dapat dilihat sebelum, sementara dan sesudah
isinya dikencingkan. Sebelum kencing adalah untuk melihat adanya
tumor, divertikel. Selagi kencing (viding cystografi) adalah untuk
melihat adanya refluks urin. Sesudah kencing adalah untuk menilai
residual urin.
6. Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada pasien BPH antara lain: sering
dengan semakin beratnya BPH, dapatterjadi obstruksi saluran kemih,
karena urin tidak mampu melewati prostat. Hal ini dapat menyebabkan
infeksisaluran kemih dan apabila tidak diobati, dapat mengakibatkan
gagal ginjal. (Corwin, 2000).
Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik
mengakibatkan penderita harusmengejan pada miksi yang menyebabkan
peningkatan tekanan intraabdomen yang akan menimbulkan herniadan
hemoroid. Stasis urin dalam vesiko urinaria akan membentuk batu
endapan yang menambah keluhan iritasidan hematuria. Selain itu, stasis
urin dalam vesika urinaria menjadikan media pertumbuhan
mikroorganisme,yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks
menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005).

BPH (BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA)


7. Penatalaksaan Medis
Rencana pengobatan tergantung pada penyebab, keparahan
obstruksi, dan kondisi pasien. Jika pasien masuk RS dengan kondisi
darurat karena ia tidak dapat berkemih maka kateterisasi segera
dilakukan. Pada kasus yang berat mungkin digunakan kateter logam
dengan tonjolan kurva prostatik. Kadang suatu insisi dibuat ke dalam
kandung kemih (sitostomi supra pubik) untuk drainase yang adekuat.
Jenis pengobatan pada BPH antara lain:

a. Observasi (watchfull waiting)


Biasa dilakukan pada pasien dengan keluhan ringan. Nasehat
yang diberikan adalah mengurangi minum setelah makan malam
untuk mengurangi nokturia, menghindari obat-obat dekongestan,
mengurangi minum kopi dan tidak diperbolehkan minum alkohol
agar tidak terlalu sering miksi. Setiap 3 bulan dilakukan kontrol
keluhan, sisa kencing, dan pemeriksaan colok dubur
b. Terapi medikamentosa
Penghambat adrenergik  (prazosin, tetrazosin) : menghambat
reseptor pada otot polos di leher vesika, prostat sehingga terjadi
relaksasi. Hal ini akan menurunkan tekanan pada uretra pars
prostatika sehingga gangguan aliran air seni dan gejala-gejala
berkurang.
Penghambat enzim 5--reduktase, menghambat pembentukan
DHT sehingga prostat yang membesar akan mengecil.
c. Terapi bedah
Tergantung pada beratnya gejala dan komplikasi. Indikasi absolut
untuk terapi bedah yaitu :
1) Retensi urin berulang
2) Hematuri
3) Tanda penurunan fungsi ginjal
4) Infeksi saluran kemih berulang
5) Tanda obstruksi berat seperti hidrokel
6) Ada batu saluran kemih.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Sebelum Operasi
1) Data Subyektif
a) Klien mengatakan nyeri saat berkemih
b) Sulit kencing
c) Frekuensi berkemih meningkat
d) Sering terbangun pada malam hari untuk miksi
e) Keinginan untuk berkemih tidak dapat ditunda
f) Nyeri atau terasa panas pada saat berkemih
g) Pancaran urin melemah
h) Merasa tidak puas sehabis miksi, kandung kemih tidak
kosong dengan baik
i) Kalau mau miksi harus menunggu lama
j) Jumlah urin menurun dan harus mengedan saat berkemih
k) Aliran urin tidak lancar/terputus-putus
l) Urin terus menetes setelah berkemih
m) Merasa letih, tidak nafsu makan, mual dan muntah
n) Klien merasa cemas dengan pengobatan yang akan
dilakukan
2) Data Obyektif
a) Ekspresi wajah tampak menhan nyeri
b) Terpasang kateter
b. Sesudah Operasi
1) Data Subyektif
a) Klien mengatakan nyeri pada luka post operasi
b) Klien mengatakan tidak tahu tentang diet dan pengobatan
setelah operas
2) Data Obyektif
a) Ekspresi tampak menahan nyeri
b) Ada luka post operasi tertutup balutan
c) Tampak lemah
d) Terpasang selang irigasi, kateter, infus
c. Riwayat kesehatan : riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit
sekarang, riwayat penyakit keluarga, pengaruh BPH terhadap gaya
hidup, apakah masalah urinari yang dialami pasien.
d. Pengkajian fisik
1) Gangguan dalam berkemih seperti
a) Sering berkemih
b) Terbangun pada malam hari untuk berkemih
c) Perasaan ingin miksi yang sangat mendesak
d) Nyeri pada saat miksi, pancaran urin melemah
e) Rasa tidak puas sehabis miksi
f) Jumlah air kencing menurun dan harus mengedan saat
berkemih
g) Aliran urin tidak lancar/terputus-putus, urin terus menetes
setelah berkemih.
h) Nyeri saat berkemih
i) Ada darah dalam urin
j) Kandung kemih terasa penuh
k) Nyeri di pinggang, punggung, rasa tidak nyaman di perut.
l) Urin tertahan di kandung kencing, terjadi distensi kandung
kemih
2) Gejala umum seperti keletihan, tidak nafsu makan, mual
muntah, dan rasa tidak nyaman pada epigastrik
3) Kaji status emosi : cemas, takut
4) Kaji urin : jumlah, warna, kejernihan, bau
5) Kaji tanda vital
e. Kaji pemeriksaan diagnostik
1) Pemeriksaan radiografi
2) Urinalisa
3) Lab seperti kimia darah, darah lengkap, urin
f. Kaji tingkat pemahaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang
keadaan dan proses penyakit, pengobatan dan cara perawatan di
rumah.

2. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul


a. Pre operasi
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi
2) Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau
menghadapi proses bedah.
3) Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan factor biologi
4) Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan spasme kandung
kemih.
b. Post operasi
1) Nyeri akut berhubungan agen injuri fisik (insisi sekunder pada
TURP)
2) Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasiv pembedahan
3) Kurang pengetahuan tentang penyakit, diit, dan pengobatan b.d
kurangnya paparan informasi.
4) Defisit perawatan diri berhubungan dengan imobilisasi pasca
operasi.
Rencana keperawatan

PRE OPERASI

No Diagnosa keperawatan Tujuan Intervensi Keperawatan

1 Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan


1. Manajemen Nyeri
keperawatan selama ….x 24
Definisi : Sensori dan Definisi : perubahan atau pengurangan nyeri ke tingkat
jam, klien dapat:
pengalaman emosional yang tidak kenyamanan yang dapat diterima pasien
menyenangkan yang timbul dari
1. Mengontol nyeri
Intervensi:
kerusakan jaringan aktual atau
Definisi : tindakan seseorang
potensial, muncul tiba-tiba atau - Kaji secara menyeluruh tentang nyeri, meliputi: lokasi,
untuk mengontrol nyeri
lambat dengan intensitas ringan karakteristik, waktu kejadian, lama, frekuensi, kualitas,
sampai berat dengan akhir yang ndikator: intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-faktor pencetus
bisa diantisipasi atau diduga dan
§ Mengenal faktor-faktor - Observasi isyarat-isyarat non verbal dari
berlangsung kurang dari 6 bulan.
penyebab ketidaknyamanan, khususnya dalam ketidakmampuan
untuk komunikasi secara efektif
§ Mengenal onset/waktu kejadian
Faktor yang berhubungan : nyeri - Berikan analgetik sesuai dengan anjuran
Agen injuri (biologi, kimia, fisik,
§ tindakan pertolongan non- - Gunakan komunkasi terapeutik agar klien dapat
psikologis)
analgetik mengekspresikan nyeri
§ Menggunakan analgetik - Kaji latar belakang budaya klien

Batasan karakteristik : § melaporkan gejala-gejala - Tentukan dampak dari ekspresi nyeri terhadap kualitas
kepada tim kesehatan (dokter, hidup: pola tidur, nafsu makan, aktifitas mood,
- Laporan secara verbal atau non
perawat) hubungan, pekerjaan, tanggungjawab peran
verbal adanya nyeri
§ nyeri terkontrol - Kaji pengalaman individu terhadap nyeri, keluarga
- Fakta dari observasi
dengan nyeri kronis
- Posisi untuk menghindari nyeri
- Evaluasi tentang keefektifan dari tindakan mengontrol
- Gerakan melindungi nyeri yang telah digunakan
2. Menunjukkan tingkat nyeri
- Tingkah laku berhati-hati - Berikan dukungan terhadap klien dan keluarga
Definisi : tingkat keparahan
- Muka topeng - Berikan informasi tentang nyeri, seperti: penyebab,
dari nyeri yang dilaporkan atau
berapa lama terjadi, dan tindakan pencegahan
- Gangguan tidur (mata sayu, ditunjukan
tampak capek, sulit atau gerakan - Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat
kacau, menyeringai) mempengaruhi respon klien terhadap
Indikator: ketidaknyamanan (contoh : temperatur ruangan,
- Terfokus pada diri sendiri
penyinaran, dll)
§ Melaporkan nyeri
- Fokus menyempit (penurunan
- Anjurkan klien untuk memonitor sendiri nyeri
persepsi waktu, kerusakan proses § Frekuensi nyeri
berpikir, penurunan interaksi - Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologi
§ Lamanya episode nyeri
dengan orang dan lingkungan)
(ex: relaksasi, guided imagery, terapi musik, distraksi,
- Tingkah laku distraksi, contoh : § Ekspresi nyeri: wajah aplikasi panas-dingin, massase)
jalan-jalan, menemui orang lain
§ Posisi melindungi tubuh - Evaluasi keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri
dan/atau aktivitas, aktivitas
berulang-ulang) § Kegelisahan - Modifikasi tindakan mengontrol nyeri berdasarkan
respon klien
- Respon autonom (seperti § Perubahan Respirasirate
diaphoresis, perubahan tekanan - Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup
§ Perubahan Heart Rate
darah, perubahan nafas, nadi dan
- Anjurkan klien untuk berdiskusi tentang pengalaman
dilatasi pupil) § Perubahan tekanan Darah
nyeri secara tepat
- Perubahan autonomic dalam § Perubahan ukuran Pupil
- Beritahu dokter jika tindakan tidak berhasil atau terjadi
tonus otot (mungkin dalam
§ Perspirasi keluhan
rentang dari lemah ke kaku)
§ Kehilangan nafsu makan - Informasikan kepada tim kesehatan lainnya/anggota
- Tingkah laku ekspresif (contoh
keluarga saat tindakan nonfarmakologi dilakukan,
: gelisah, merintih, menangis,
untuk pendekatan preventif
waspada, iritabel, nafas
panjang/berkeluh kesah) - monitor kenyamanan klien terhadap manajemen nyeri

- Perubahan dalam nafsu makan


dan minum
2. Pemberian Analgetik

Definisi : penggunaan agen


farmakologi untuk mengurangi atau menghilangkan
nyeri

Intervensi:

- Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas,dan


keparahan sebelum pengobatan

- Berikan obat dengan prinsip 5 benar

- Cek riwayat alergi obat

- Libatkan klien dalam pemilhan analgetik yang akan


digunakan

- Pilih analgetik secara tepat /kombinasi lebih dari satu


analgetik jika telah diresepkan

- Tentukan pilihan analgetik (narkotik, non narkotik,


NSAID) berdasarkan tipe dan keparahan nyeri

- Monitor tanda-tanda vital, sebelum dan sesudah


pemberian analgetik

- Monitor reaksi obat dan efeksamping obat

- Dokumentasikan respon dari analgetik dan efek-efek


yang tidak diinginkan
- Lakukan tindakan-tindakan untuk menurunkan efek
analgetik (konstipasi/iritasi lambung)

3. Manajemen lingkungan : kenyamanan

Definisi : memanipulasi lingkungan untuk kepentingan


terapeutik

Intervensi :

- Pilihlah ruangan dengan lingkungan yang tepat

- Batasi pengunjung

- Tentukan hal-hal yang menyebabkan


ketidaknyamanan seperti pakaian lembab

- Sediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih

- Tentukan temperatur ruangan yang paling nyaman

- Sediakan lingkungan yang tenang

- Perhatikan hygiene pasien untuk menjaga


kenyamanan
- Atur posisi pasien yang membuat nyaman.

2. Cemas Setelah dilakukan asuhan . Menurunkan cemas


keperawatan selama......x24 jam
Definisi : Perasaan gelisah yang Definisi : meminimalkan rasa takut, cemas, merasa
pasien menunjukan dapat :
tak jelas dari ketidaknyamanan dalam bahaya atau ketidaknyamanan terhadap sumber
atau ketakutan yang disertai 1. Mengontrol cemas: yang tidak diketahui
respon autonom (sumner tidak
Definisi : Tindakan seseorang Intervernsi:
spesifik atau tidak diketahui oleh
untuk mengurangi perasaan
individu); perasaan keprihatinan - Tenangkan pasien
tertekan/terbebani dan
disebabkan dari antisipasi
ketegangan dari sumber yang- Jelaskan seluruh prosedurt tindakan kepada pasien
terhadap bahaya. Sinyal ini
tidak dapat diidentifikasi dan perasaan yang mungkin muncul pada saat
merupakan peringatan adanya
melakukan tindakan
ancaman yang akan datang dan Indikator :
memungkinkan individu untuk - Berusaha memahami keadaan pasien
- Monitor intensitas cemas
mengambil langkah untuk
- Berikan informasi tentang diagnosa, prognosis dan
menyetujui terhadap tindakan. - Meghilangkan penyebab cemas
tindakan
- Menurunkan stimulus
- Mendampingi pasien untuk mengurangi kecemasan
lingkungan ketika cemas
Faktor yang berhubungan : dan meningkatkan kenyamanan
terpapar racun, konflik yang tidak - Mencari informasi untuk
- Dorong pasien untuk menyampaikan tentang isi
disadari tentang nilai-nilai menurunkan cemas
perasaannya
utama/tujuan hidup, berhubungan
dengan keturunan/herediter, - Gunakan strategi koping efektif- Kaji tingkat kecemasan
kebutuhan tidak terpenuhi,
- Melaporkan kepada perawat- Dengarkan dengan penuh perhatian
transmisi iterpersonal, krisis
penurunan lama cemas
situasional/maturasional, ancaman - Ciptakan hubungan saling percaya
kematian, ancaman terhadap - Menggunakan teknik
- Bantu pasien menjelaskan keadaan yang bisa
konsep diri, stress, substans relaksasi untuk menurunkan
menimbulkan kecemasan
abuse, perubahan dalam: status cemas
peran, status kesehatan, pola - Bantu pasien untuk mengungkapkan hal hal yang
- Mempertrahankan hubungan
interaksi, fungsi peran, membuat cemas
sosial
lingkungan, status ekonomi.
- Ajarkan pasien teknik relaksasi
- Mempertahankan konsentrasi
Batasan karaktersistik :
- Berikan obat obat yang mengurangi cemas
- Melaporkan kepada perawat
Perilaku
tidur cukup
- Produktivitas berkurang
- Melaporkan kepada perawat
- Scanning dan kewaspadaan bahwa cemas tidak
mempengatruhi keadaan fisik
- Kontak mata yang buruk
- Tidak adanya tingkahlaku yang
- Gelisah
menunjukan cemas
- Pandangan sekilas

- Pergerakan yang tidak


berhubungan, (misal : berjalan 2. Koping yang baik
dengan menyeret kaki,
Definisi : Tindakan untuk
pergelangan tangan/lengan
mengelola stressor yang
- Menunjukkan perhatian menggunakan sumber individu
seharusnya dalam kejadian hidup
Indikator :
- Insomnia
- Mengenal koping efektif
- Resah
- Mengenal koping tak efektif
Affektive
- Memverbalkan kemampuan
- Penyesalan kontrol

- Irritable - Melaporkan menurunnya


stress
- Kesedihan yang mendalam
- Memverbalkan penerimaan
- Ketakutan
terhadap situasi
- Gelisah, gugup
- Mencari informasi yang
- Mudah tersinggung berkaitan dengan penyakit dan
pengobatannya
- Rasa nyeri hebat dan menetap
- Modifikasi gaya hidup sesuai
- Ketidakberdayaan meningkat
- Membingungkan kebutuhan

- Ketidaktentuan - Beradaptasi dengan perubahan


perkembangan
- Peningkatan kewaspadaan
- Menggunakan support sosial
- Fokus pada diri
yang memungkinkan
- Perasaan tidak adekuat
- Mengerjakan sesuatu yang
- Ketakutan menurunkan stress

- Distress - Mengenal strategi koping


multipel
- Kekhawatiran, prihatin
- Menggunakan strategi koping
- Cemas
efektif
Fisiologis :
- Menghindari situasi penuh
- Suara gemetar stress

- Gemetar, tangan tremor - Memverbalkan kebutuhan


akan bantuan
- Goyah
- Mencari pertolongan
- Respirasi meningkat (simpatis)
professional yang sesuai
- Keinginan kencing
- Melaporkan menurunnya
(parasimpatis) keluhan fisik

- Nadi meningkat (simpatis) - Melaporkan menurunnya


perasaan negatif
- Berkeringat banyak
- Melaporkan kenyamanan
- Wajah tegang
psikologis yang meningkat
- Anorexia (simpatis)

- Jantung berdetak kuat


(simpatis)

- Diare (parasimpatis)

- Keragu-raguan dalam berkemih


(parasimpatis)

- Kelelahan (Simpatis)

- Mulut kering (simpatis)

- Kelemahan (simpatis)

3. Ketidakseimbangan nutrisi: Setelah dilakukan asuhan 1. Manajemen Nutrisi


kurang dari kebutuhan tubuh keperawatan selama …. X 24
Definisi : membantu dengan atau menyediakan
jam klien dapat menunjukkan
Definisi : Intake nutrisi tidak masukan diet seimbang dari makanan dan cairan
cukup untuk keperluan 1. status nutrisi yang baik, Intervensi :
metabolisme tubuh
Definisi : Nutrisi cukup untuk - Catat jika klien memiliki alergi makanan
Batasan karakteristik : memenuhi kebutuhan
- Catat makanan kesukaan klien
metabolisme tubuh
- Berat badan  20 % di bawah
- Tentukan jumlah kalori dan tipe nutrien yang
ideal Indikator :
dibutuhkan
- Dilaporkan adanya intake - Masukan nutrisi
- Dorong asupan kalori sesuai tipe tubuh dan gaya
makanan yang kurang dari RDA
- Masukan makanan dan hidup
(Recomended Daily Allowance)
cairan
- Dorong asupan zat besi
- Membran mukosa dan
- Tingkat energi cukup
konjungtiva pucat - Tawarkan makanan ringan
- Berat badan stabil
- Kelemahan otot yang - Berikan gula tambahan k/p
digunakan untuk - Nilai laboratorium
- Tawarkan bumbu sebagai pengganti garam
menelan/mengunyah
- Berikan makanan tinggi kalori, protein dan
- Luka, peradangan pada rongga
minuman yang mudah dikonsumsi
mulut
- Berikan pilihan makanan
- Mudah merasa kenyang, sesaat
setelah mengunyah makanan - Sesuaikan diet dengan gaya hidup klien

- Dilaporkan atau fakta adanya - Ajarkan klien cara membuat catatan makanan
kekurangan makanan - Monitor asupan nutrisi dan kalori

- Dilaporkan adanya perubahan - Timbang berat badan secara teratur


sensasi rasa
- Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi dan
- Perasaan ketidakmampuan bagaimana memenuhinya
untuk mengunyah makanan
- Ajarkan teknik penyiapan dan penyimpanan
- Miskonsepsi makanan

- Kehilangan BB dengan - Tentukan kemampuan klien untuk memenuhi


makanan cukup kebutuhan nutrisinya

- Keengganan untuk makan

- Kram pada abdomen 2. Monitor nutrisi

- Tonus otot jelek Definisi : mengumpulkan dan menganalisa data dari


pasien untuk mencegahatau meminimalkan malnutrisi.
- Nyeri abdominal dengan atau
tanpa patologi Intervensi :

- Kurang berminat terhadap - BB klien dalam interval spesifik


makanan
- Monitor adanya penurunan BB
- Pembuluh darah kapiler mulai
- Monitor tipe dan jumlah nutrisi untuk aktivitas
rapuh
- Diare dan atau steatorrhea biasa

- Kehilangan rambut yang - Monitor respon emosi klien saat berada dalam
cukup banyak (rontok) situasi yang mengharuskan makan.

- Suara usus hiperaktif - Monitor interaksi anak dengan orang tua selama
makan.
- Kurangnya informasi,
misinformasi - Monitor lingkungan selama makan.

- Jadwalkan pengobatan dan tindakan, tidak selama


jam makan.
Faktor yang berhubungan :
Ketidakmampuan pemasukan atau - Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
mencerna makanan atau
- Monitor turgor kulit
mengabsorpsi zat-zat gizi
berhubungan dengan faktor - Monitor kekeringan, rambut kusam dan mudah
biologis, psikologis atau ekonomi. patah.

- Monitor adanya bengkak pada alat pengunyah,


peningkatan perdarahan, dll.

- Monitor mual dan muntah

- Monitor kadar albumin, total protein, Hb, kadar Ht.


- Monitor kadar limfosit dan elektrolit.

- Monitor makanan kesukaan.

- Monitor pertumbuhan dan perkembangan.

- Monitor kadar energi, kelelahan, kelemahan.

- Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan pada


jaringan konjungtiva.

- Monitor kalori dan intake nutrisi.

- Catat adanya edema, hiperemia, hipertropik papila


lidah dan cavitas oral.

- Catat jika lidah berwarna merah keunguan.

4. Perubahan Pola eliminasi Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji haluaran urine dan system kateter/drainase,
keperawatan selama 5-7 hari khususnya selama irigasi kandung kemih
pasien tidak mengalami
2. Bantu pasien memilih posisi normal untuk berkemih
inkontinensia
(berdiri, berjalan ke kamar mandi) dengan frekuensi
Kriteria = sering setelah kateter dilepas

- pasien dapat buang air kecil 3. Perhatikan waktu, jumlah urine, ukuran aliran
teratur setelah kateter dilepas.
- bebas dari distensi kandung 4. Beri tindakan asupan oral 2000-3000 ml/hari, jika
kemih tidak ada kontraindikasi

5. Beri latihan perineal (Kegel traning) 15-20 kali/jam


selam 2-3 minggu anjurkan dan motivasi pasien untuk
melakukannya

6. Pertahankan irigasi kandung kemih secara kontinou


sesuai indikasi pada periode pascaoperasi dini.
POST OPERASI

1 Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan


1. Manajemen Nyeri
keperawatan selama ….x 24 jam,
Definisi : perubahan atau pengurangan nyeri ke tingkat
klien dapat:
kenyamanan yang dapat diterima pasien
Definisi : Sensori dan
1. Mengontol nyeri
pengalaman emosional Intervensi:
yang tidak menyenangkan Definisi : tindakan seseorang untuk
- Kaji secara menyeluruh tentang nyeri, meliputi: lokasi,
yang timbul dari kerusakan mengontrol nyeri
karakteristik,waktu kejadian, lama, frekuensi, kualitas,
jaringan aktual atau
ndikator: intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-faktor pencetus
potensial, muncul tiba-tiba
atau lambat dengan § Mengenal faktor-faktor penyebab - Observasi isyarat-isyarat non verbal dari
intensitas ringan sampai ketidaknyamanan, khususnya dalam ketidakmampuan
§ Mengenal onset/waktu kejadian nyeri
berat dengan akhir yang untuk komunikasi secara efektif
bisa diantisipasi atau § tindakan pertolongan non-analgetik
- Berikan analgetik sesuai dengan anjuran
diduga dan berlangsung
§ Menggunakan analgetik
kurang dari 6 bulan. - Gunakan komunkasi terapeutik agar klien dapat
§ melaporkan gejala-gejala kepada tim mengekspresikan nyeri
kesehatan (dokter, perawat)
- Kaji latar belakang budaya klien
Batasan karakteristik :
§ nyeri terkontrol
- Tentukan dampak dari ekspresi nyeri terhadap kualitas
- Laporan secara verbal
hidup: pola tidur, nafsu makan, aktifitas mood, hubungan,
atau non verbal adanya
nyeri 2. Menunjukkan tingkat nyeri pekerjaan, tanggungjawab peran

- Fakta dari observasi Definisi : tingkat keparahan dari - Kaji pengalaman individu terhadap nyeri, keluarga
nyeri yang dilaporkan atau ditunjukan dengan nyeri kronis
- Posisi untuk menghindari
nyeri - Evaluasi tentang keefektifan dari tindakan mengontrol
nyeri yang telah digunakan
- Gerakan melindungi Indikator:
- Berikan dukungan terhadap klien dan keluarga
- Tingkah laku berhati-hati § Melaporkan nyeri
- Berikan informasi tentang nyeri, seperti: penyebab, berapa
- Muka topeng § Frekuensi nyeri
lama terjadi, dan tindakan pencegahan
- Gangguan tidur (mata § Lamanya episode nyeri
- Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat
sayu, tampak capek, sulit
§ Ekspresi nyeri: wajah mempengaruhi respon klien terhadap
atau gerakan kacau,
ketidaknyamanan (contoh : temperatur ruangan,
menyeringai) § Posisi melindungi tubuh
penyinaran, dll)
- Terfokus pada diri sendiri § Kegelisahan
- Anjurkan klien untuk memonitor sendiri nyeri
- Fokus menyempit § Perubahan Respirasirate
- Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologi
(penurunan persepsi
§ Perubahan Heart Rate
waktu, kerusakan proses - (ex: relaksasi, guided imagery, terapi musik, distraksi,
berpikir, penurunan § Perubahan tekanan Darah aplikasi panas-dingin, massase)
interaksi dengan orang dan
§ Perubahan ukuran Pupil - Evaluasi keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri yang
lingkungan)
- Tingkah laku distraksi, § Perspirasi telah digunakan
contoh : jalan-jalan,
§ Kehilangan nafsu makan - Berikan dukungan terhadap klien dan keluarga
menemui orang lain
dan/atau aktivitas, aktivitas - Berikan informasi tentang nyeri, seperti: penyebab, berapa
berulang-ulang) lama terjadi, dan tindakan pencegahan

- Respon autonom (seperti - Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat


diaphoresis, perubahan mempengaruhi respon klien terhadap
tekanan darah, perubahan ketidaknyamanan (contoh : temperatur ruangan,
nafas, nadi dan dilatasi penyinaran, dll)
pupil)
- Anjurkan klien untuk memonitor sendiri nyeri
- Perubahan autonomic
- Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologi
dalam tonus otot (mungkin
dalam rentang dari lemah - (ex: relaksasi, guided imagery, terapi musik, distraksi,
ke kaku) aplikasi panas-dingin, massase)

- Tingkah laku ekspresif - Evaluasi keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri


(contoh : gelisah, merintih,
- Modifikasi tindakan mengontrol nyeri berdasarkan respon
menangis,
klien

- Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup

- Anjurkan klien untuk berdiskusi tentang pengalaman


nyeri secara tepat

- Beritahu dokter jika tindakan tidak berhasil atau terjadi


keluhan

- Informasikan kepada tim kesehatan lainnya/anggota


keluarga saat tindakan nonfarmakologi dilakukan, untuk
pendekatan preventif

- monitor kenyamanan klien terhadap manajemen nyeri

2. Pemberian Analgetik

Definisi : penggunaan agen


farmakologi untuk mengurangi atau menghilangkan
nyeri

Intervensi:

- Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas,dan


keparahan sebelum pengobatan

- Berikan obat dengan prinsip 5 benar

- Cek riwayat alergi obat

- Libatkan klien dalam pemilhan analgetik yang akan


digunakan

- Pilih analgetik secara tepat /kombinasi lebih dari satu


analgetik jika telah diresepkan

- Tentukan pilihan analgetik (narkotik, non narkotik,


NSAID) berdasarkan tipe dan keparahan nyeri

- Monitor tanda-tanda vital, sebelum dan sesudah


pemberian analgetik

- Monitor reaksi obat dan efeksamping obat

- Dokumentasikan respon dari analgetik dan efek-efek yang


tidak diinginkan

- Lakukan tindakan-tindakan untuk menurunkan efek


analgetik (konstipasi/iritasi lambung)

3. Manajemen lingkungan : kenyamanan

Definisi : memanipulasi lingkungan untuk kepentingan


terapeutik

Intervensi :
- Pilihlah ruangan dengan lingkungan yang tepat

- Batasi pengunjung

- Tentukan hal-hal yang menyebabkan ketidaknyamanan


seperti pakaian lembab

- Sediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih

- Tentukan temperatur ruangan yang paling nyaman

- Sediakan lingkungan yang tenang

- Perhatikan hygiene pasien untuk menjaga kenyamanan

- Atur posisi pasien yang membuat nyaman.

2 Resiko infeksi Setelah dilakukan asuhan 1. Kontrol Infeksi


keperawatan selama … x 24 jam,
Definisi : Peningkatan Definisi : Meminimalkan mendapatkan infeksi dan
klien menunjukan
resiko masuknya trasmisi agen infeksi
organisme patogen 1. Pengetahuan klien tentang kontrol
Itervensi :
infeksi meningkat
- Bersikan lingkungan secara tepat setelah digunakan oleh
Definisi : Tindakan untuk
Faktor-faktor resiko : klien
mengurangi ancaman kesehatan
- Prosedur Invasif secara aktual dan potensial - Ganti peralatan klien setiap selesai tindakan

- Ketidakcukupan Indikator: - Batasi jumlah pengunjung


pengetahuan untuk
§ Menerangkan cara-cara penyebaran - Ajarkan cuci tangan untuk menjaga kesehatan individu
menghindari paparan
patogen § Menerangkan factor-faktor yang - Anjurkan klien untuk cuci tangan dengan tepat
berkontribusi dengan penyebaran
- Trauma - Gunakan sabun antimikrobial untuk cuci tangan
§ Menjelaskan tanda-tanda dan gejala
- Kerusakan jaringan dan - Anjurkan pengunjung untuk mencuci tangan sebelum
peningkatan paparan § Menjelaskan aktivitas yang dapat dan setelah meninggalkan ruangan klien
lingkungan meningkatkan resistensi terhadap
- Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan klien
infeksi
- Ruptur membran
- Lakukan universal precautions
amnion
- Gunakan sarung tangan steril
- Agen farmasi
(imunosupresan) - Lakukan perawatan aseptic pada semua jalur IV
2. pengetahuan tentang deteksi resiko
- Malnutrisi meningkat - Lakukan teknik perawatan luka yang tepat

- Peningkatan paparan Definisi : Tindakan untuk - Tingkatkan asupan nutrisi


lingkungan patogen mengidentifikasi ancaman kesehatan
- Anjurkan asupan cairan
- Imonusupresi Indikator :
- Anjurkan istirahat
- Ketidakadekuatan - Mengenali tanda dan gejala yang
imum buatan mengindikasikan resiko - Berikan terapi antibiotik

- Tidak adekuat - Mengidentifikasi resiko kesehatan - Ajarkan klien dan keluarga tentang tanda-tanda dan
pertahanan sekunder potensial gejala dari infeksi
(penurunan Hb,
- Mencari pembenaran resiko yang - Ajarkan klien dan anggota keluarga bagaimana
Leukopenia, penekanan
dirasakan mencegah infeksi
respon inflamasi)
- Memeriksakan diri pada interval
- Tidak adekuat
waktu yang ditentukan
pertahanan tubuh primer 2. Proteksi infeksi
(kulit tidak utuh, trauma - Berpartisipasi dalam screening pada
Definisi : Meminimalkan mendapatkan infeksi dan
jaringan, penurunan kerja interval waktu yang ditentukan
trasmisi agen infeksi
silia, cairan tubuh statis,
- Mengetahui keadaan kesehatan
perubahan sekresi pH, Intervensi :
keluarga saat ini
perubahan peristaltik)
- Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
- Selalu mengetahui / memonitor
- Penyakit kronik
keadaan kesehatan keluarga - Pertahankan teknik isolasi

- Selalu mengetahui / memonitor - Batasi pengunjung bila perlu


kesehatan diri
- Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan
- Menggunakan sumber-sumber saat berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan
informasi untuk tetap mendapatkan pasien
informasi tentang resiko potensial
- Menggunakan sarana pelayanan - Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
kesehatan sesuai kebutuhan
- Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
kperawtan

3. Status nutrisi yang baik, - Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung

Definisi : Nutrisi cukup untuk - Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan


memenuhi kebutuhan metabolisme alat
tubuh
- Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing
Indikator : sesuai dengan petunjuk umum

- Masukan nutrisi - Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi


kandung kencing
- Masukan makanan dan cairan
- Tingktkan intake nutrisi
- Tingkat energi cukup
- Berikan terapi antibiotik bila perlu
- Berat badan stabil
3. Manajemen Nutrisi
- Nilai laboratorium
Definisi : membantu dengan memberikan diet makanan
dan cairan yang seimbang.

Tindakan :
4. Luka sembuh, dengan indikator:
§ Kulit utuh - Tanyakan pada klien tentang alergi terhadap makanan

§ Berkurangnya drainase purulen - Tanyakan makanan kesukaan klien

§ Drainase serousa pada luka berkurang - Kolaborasi dengan ahli gizi tentang jumlah kalori dan
nutrisi yang dibutuhkan
§ Drainase sanguinis pada luka
berkurang - Anjurkan masukan kalori yang tepat yang sesuai dengan
gaya hidup
§ Drainase serosa sangunis pada luka
berkurang - Anjurkan peningkatan masukan zat besi yang sesuai

§ Drainase sangunis pada drain - Anjurkan peningkatan masukan protein dan vitamin C
berkurang
- Anjurkan untuk banyak makan buah dan minum
§ Drainase serosasanguinis pada drain
- Pastikan diit tidak menyebabkan konstipasi
berkurang
- Berikan klien diit tinggi protein, tinggi kalori
§ Eritema disekitar kulit berkurang

§ Edema sekitar luka berkurang

§ Suhu kulit tidak meningkat

§ Luka tidak berbau

3 Kurang pengetahuan Setelah dilakukan asuhan 1. Pendidikan kesehatan: Proses penyakit


tentang : penyakit, diet, keperawatan selama 1 x 24 jam
pengobatan pengetahuan klien dan keluarga - Gali pengetahuan tentang proses penyakit
meningkat tentang:
- Jelaskan patofisiologi penyakit
1. Proses penyakit
Definisi : tidak adanya - Jelaskan tanda dan gejala penyakit
atau kurangnya informasi Indikator:
- Terangkan proses penyakit
kognitif sehubungan
- Mengenal nama penyakit
dengan topik spesifik - Identifikasi proses kemungkinan penyebab
- Menjelaskan proses penyakit
Batasan karakteristik : - Berikan informasi tentang kondisi pasien
memverbalisasikan adanya- Menjelaskan penyebab/fakor yang
- Hindari memberi harapan palsu
masalah, ketidakakuratan berkontribusi
mengikuti instruksi, - Berikan informasi kondisi pasien pada keluarga
- Menjelaskan factor-faktor resiko
perilaku tidak sesuai.
- Diskusikan perubahan gaya hidup untuk mencegah
- Menjelaskan efek dari penyakit
Faktor yang komplikasi di masa depan
berhubungan :- Menjelaskan tanda-tanda dan gejala
- Diskusikan pilihan terapi
keterbatasan kognitif,
- Menjelaskan tentang komplikasi
interpretasi terhadap - Terangkan rasional tindakan
dan tanda gejalanya
informasi yang salah,
- Terangkan komplikasi kronik
kurangnya keinginan untuk- Menjelaskan tentang perawatan
mencari informasi, tidak dirumah - Terangkan tanda dan gejala yang harus dilaporkan
mengetahui sumber-
- Jelaskan cara mencegah atau meminimalkan efek
sumber informasi.
2. Diet, dengan indikator: samping penyakit.

- Menggambarkan diet yang


dianjurkan
2. Ajarkan : Diet
- Menyebutkan keuntungan dari
- Kaji pengetahuan klien tentang diet yang dianjurkan
mengikuti anjuran diet
- Tentukan sikap keluarga klien terhadap diet
- Menyebutkan tujuan dari diet yang
yang dianjurkan - Jelaskan tujuan diet

- Menyebutkan makanan-makanan - Informasikan berapa lama diet harus diikuti


yang diperbolehkan dalam diet
- Anjarkan klien tentang makanan yang boleh dan tidak
- Menyebutkan makanan-makanan boleh dimakan
yang dilarang
- Bantu klien untuk mencatat makanan kesukaan dalam diet
- Memilih makanan-makanan yang yang dianjurkan
dianjurkan dalam diet
- Observasi pilihan makanan klien sesuai dengan diet yang
dianjurkan

3. Pengobatan, dengan indikator: - Anjurkan membuat rencana makan

- Menggambarkan metode - Dorong untuk mengikuti informasi yang diberikan oleh


pengobatan yang tepat tenaga kesehatan lain
- Menggambarkan tindakan-tindakan - Konsul ahli gizi
dalam pengobatan
- Libatkan keluarga
- Menggambarkan efek samping
dalam pengobatan
2. Ajarkan : pengobatan
- Menyebutkan interakasi obat
dengan agen yang lainnya - Jelaskan klien utk mengenal karakteristik obat

- Menyebutkan rute pemberian obat - Informasikan nama generik dan nama dagang
yang tepat
- Jelaskan tujuan dan kerja obat

- Jelaskan dosis, rute dan durasi obat

- Evaluasi kemampuan klien menggunakan obat

- Ajarkan klien untuk melakukan prosedur sebelum minum


obat

- Informasikan apa yang dilakukan jika dosis obat hilang

- Informasikan akibat tidak minum obat

- Informasikan efek samping obat

- Jelaskan tanda dan gejala over dosis obat


- Jelaskan cara menyimpan obat

- Jelaskan interaksi obat

- Jelaskan cara mencegah atau mengurangi efek samping


obat

- Berikan informasi tertulis tentang aksi, tujuan, efek


samping obat, dll

4 Sindroma Defisit Setelah dilakukan asuhan 1.Bantu dalam perawatan diri (mandi, berpakaian,
Perawatan Diri
keperawatan selama … x 24 jam, berhias, makan, toileting)
(kurang perawatan diri : klien mampu melakukan perawatan
Definisi : membantu pasien untuk memenuhi ADL
mandi, berpakaian, makan, diri: Activities of Daily Living
dan toileting) (ADL), dengan indikator: Intervensi :

- makan § Monitor kemempuan klien untuk perawatan diri yang


mandiri.
Definisi : - berpakaian
§ Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat bantu untuk
Gangguan -
kemampuan toileting
kebersihan diri, berpakaian, berhias, toileting dan makan.
untuk melakukan ADL
- mandi
pada diri § Sediakan bantuan sampai klien mampu secara utuh untuk
- berhias melakukan self-care.

- hygiene § Dorong klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang


Batasan karakteristik :
ketidakmampuan untuk
- oral hygiene normal sesuai kemampuan yang dimiliki.
mandi, ketidakmampuan
- ambulasi: berjalan § Dorong untuk melakukan secara mandiri, tapi beri bantuan
untuk berpakaian,
ketika klien tidak mampu melakukannya.
ketidakmampuan -
untuk ambulasi: wheelchair
makan, ketidakmampuan § Ajarkan klien/ keluarga untuk mendorong kemandirian,
- transfer performance
untuk toileting untuk memberikan bantuan hanya jika pasien tidak mampu
untuk melakukannya.

§ Berikan aktivitas rutin sehari- hari sesuai kemampuan.

§ Pertimbangkan usia klien jika mendorong pelaksanaan


Faktor yang
aktivitas sehari-hari.
berhubungan :
kelemahan, kerusakan
kognitif atau perceptual,
kerusakan neuromuskular/
otot-otot saraf.
5. Disfungsi seksual Setelah dilakukan perawaatn selama 1. Berikan keterbukaan pada pasien/orang terdekat untuk
2-3 hari pasien mampu membicarakan tentang masalah inkontinensia dan fungsi
mempertahankan fungsi seksualnya seksual

Kriteria = 2. Berikan informasi akurat ttg harapan kembalinya fungsi


seksual
- pasien menyadari keadaaannya dan
akan memulai lagi interaksi seksual 3. Diskusikan dasar anatomi, jujur dalam menjawab
dan aktivitas secara optimal pertanyaan pasien

- pasien memahami situasi individual 4. Diskusikan ejakulasi retrograd bila pendekatan


transuretral/suprapubik digunakan
- menunjukan ketrampilan
pemecahan masalah 5. Rujuk ke penasehat seksual sesuai indikasi
DAFTAR PUSTAKA

Johnson, M; Maas, M; Moorhead, S. 2000. Nursing Outcomes Classification


(NOC). Mosby: Philadelphia

Mansjoer, A, et all, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I, Media Aesculapis,


Jakarta

McCloskey, J dan Bulechek, G. 2000. Nursing Interventions Classification (NIC).


Mosby: Philadelphia

Nanda (2000), Nursing Diagnosis: Prinsip-Prinsip dan Clasification, 2001-2002,


Philadelphia, USA.

Smeltzer, S.C, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth, Vol 2, EGC, Jakarta

Anonim. 2012. Diakses 5 Mei 2012 pada


http://www.scribd.com/doc/54979478/ASKEP-BPH

Anonym. 2010. http://asuhankeperawatans.blogspot.com/2010/10/asuhan-


keperawatan-benigna-prostat.html