Anda di halaman 1dari 9

Pertimbangan dalam Pembuatan Gigi Tiruan Sebagian Lepasan

1. Usia

Usia pasien sesuatu yang penting untuk menentukan sebuah protesa. Sebagai contoh,
pasien anak muda tidak perlu dilakukan pencabutan gigi, bila gigi yang masih tersisa dapat
dijadikan gigi penyangga dari gigi tiruan sebagian lepasan. Pertumbuhan juga menjadi faktor
dari desain dari gigi tiruan sebagian lepasan.

Sebagai gigi yang baru tumbuh di rongga mulut pasien usia muda, memerlukan
pendesainan ulang protesa. Maksud disini gigi orang yang sudah tua banyak mengalami atrisi
dan tidak memiliki mamelon, sehingga kita sebagai dokter gig harus menyesuaikan bentuk gigi
dengan usianya.

Pasien yang berusia tua biasanya tidak dapat beradaptasi dengan protesa yang baru.
Masalah lain yaitu beberapa pasien dengan usia lanjut yang kehilangan gigi masih memiliki
keinginan yang tidak realistis untuk mempertahankan giginya yang secara structural tidak
sesuai.

Disisi lain, dokter gigi harus menolak permintaan pasien yang hanya ingin memperbaiki
estetik, hanya untuk memperbaiki penampilan, bagaimanapun gigi asli lebih baik dibandingkan
gigi tiruan.

2. Mental dan Keadaan Fisik Pasien

Mental dan keadaan fisik pasien merupakan faktor yang paling penting. Protesanya
harus dapat memperbaiki atau mengoreksi, tidak melukai mental pasien atau fisik pasien.

Beberapa kondisi fisik, seperti diabetes mempengaruhi kekuatan jaringan lunak untuk
mentoleransi tekanan dari gigi tiruan sebagian.

Seseorang yang meimiliki mental yang tidak baik dikhawatirkan dapat mengiritasi mulut pasien
tersebut. Pasien dengan usia yang lanjut dan perkembangan mental yang lambat tidak disarankan
untuk menggunakan gigi tiruan sebagian lepasan karena dikhawatirkan tidak adekuat dan tidak
dapat menjaga oral hygiene.

3. Pekerjaan

Pasien yang memiliki pekerjaan berkaitan langsung dengan orang banyak atau public pasti
akan merasakan penampilan yang berubah karena adanya transisi dengan gigi tiruan sebagian
lepasan atau gigi tiruan lengkap. Dokter gigi dapat membuat perjanjian untuk melakukan operasi
apabila memang diindikasikan untuk melakukan operasi.
4. Retensi

Daya perlawanan terhadap lepasnya protesa atau gigi tiruan kea rah oklusal. faktor
pemberi retensi antara lain kualtitas klamer, oklusal resrt, kontur, landasan gigi tiruan, oklusi,
adhesi, tekanan atmosfer, dan surface tension

5. Stabilisasi

Perawatan atas ketahanan terhadap perpindahan tempat gigi tiruan sebagian dalam arah
horizontaldalam keadaan berfungsi. Stagnasi ditentukan oleh tiga titik sandaran yang harus
meliputi luas permukaan yang sebesar-besarnya agar beban yang diterima protesa setiap unit
bisa sekecil mungkin. Dalam hal ini semua bagian cengkeram berfungsi kecuali bagian terminal
atau ujung lengan retentive. Gigi yang mempunyai stabilisasi pasti mempunyai retensi,
sedangkan gigi yang mempunyai retensi belum tentu mempunyai stabilisasi.

6. Estetika

Dalam prostodonsia, yang berhubungan dengan pembuatan gigi tiruan sebagian adalah:

1. Penempatan klamer harus sedemikian rupa sehingga tidak terlihat dalam posisi
bagaimanapun

2. Gigi tiruan harus tampak asli dan pantas untuk tiap-tiap pasien, meliputi warna
dan inklinasi/posisi gigi

3. Gambaran countering harus sesuai dengan keadaan pasien

4. Perlekatan gigi diatas ridge

5. Support

Bagaimana pertemuan tekanan oklusal

6. Kekuatan

Gigi tiruan akan bereaksi apabila ada teknan atau beban


7. Fungsi otot

Otot wajah bekontribusi dalam prosesmastikasi dan kontrol terhadap protesa. Semakin
kuat perlekatan otot maka protesa akan semakin baik. Di sisi lain, lidah yang membesar dapat
mempersulit penggunaan protesa. Pasien dengan kelainan saraf (facial eccentric habits) dapat
mempersulit dalam penggunaan protesa dikarenakan protesa akan berubah bentuk dan
dudukannya, sehingga mudah patah.

8. Kelenjar saliva

Perawatan dan konsisi fisik pasien mempengaruhi kerja dari kelenjar saliva (kelenjar
ludah) dapat merubah kualitas dan kuantitas kelenjar saliva. Dalam kondisi kronis, dapat
mempengaruhi laju kerja kelenjar saliva (salivary flow) dan kekentalan dari saliva tersebut
sehingga menyebabkan kurangnya perlekatan dan kenyamanan dari protesa.

Keberadaan benda asing dalam rongga mulut juga dapat merangsang kerja dari kelenjar
saliva, sehingga dapat memproduksi saliva berlebih. Respon ini biasanya tidak dapat dikontrol
oleh beberapa pasien yang mengalami paralisis otot muka dan penderita stroke.

9. Alveolar ridge

Protesa bergantung dari residual alveolar ridge sebagai dukungan protesa. Jika alveolar
ridge tinggi dan berbentuk datar maka memberikan dukungan terhadapat tegangan ketika
beroklusi. Jika alveolar ridge sudah mengalami resorbsi, maka tidak aakan memberikan
dukungan yang adekuat kepada basis dari protesa tersebut.

10. Mukosa

Muka menutupi residual ridge, yang bisanya dikenal dengan mukosa fungsional, jika
kondisi fisik pasien berubah maka akan berdampak pada mukosa sehingga terjadi pergeseran
protesa dan protesa sulit digunakan oleh pasien.
Torektomi
Torektomi merupakan prosedur bedah yang dilakukan untuk menghilangkan
satu atau lebih tonjolan tulang (torus) baik pada rahang atas maupun rahang
bawah. Dilakukan apabila torus mengganggu prosedur pemasangan gigi
tiruan.
Torus Palatinus
Teknik bedah. Untuk menghilangkannya, lesi pembedahan sebuah insisi dibuat
di sepanjang garis tengah langit-langit, yang terdiri dari dua anterior dan
posterior sayatan miring (Gambar. 10,42). Sayatan ini dirancang untuk
menghindari melukai cabang arteri palatine, tetapi sehingga juga ada
visualisasi yang memadai dari, dan akses ke, bidang bedah tanpa ketegangan
dan manipulasi yang merugikan selama prosedur. Setelah refleksi, flaps yang
ditarik dengan bantuan jahitan atau elevator periosteal lebar. Setelah
pembukaan lesi selesai, torus dipotong dengan bur fissure dan segmen secara
individual diangkat dengan menggunakan mono bevel chisel (Gambar. 10.43,
10.44). Lebih khususnya, chisel diposisikan di dasar exostosis dengan bevel
kontak dengan tulang palatum dan, setelah itu, setiap segmen lesi dihilangkan
setelah pukulan sedikit dengan mallet (Gbr. 10.45). Setelah menghaluskan
permukaan tulang, jaringan lunak berlebih dipotong dan, setelah irigasi
berlebihan dengan larutan saline, flaps direposisi dan dijahit dengan jahitan
terputus (Gambar. 10,46-10,48).
Jika torus palatinus dalam ukuran kecil, sayatan untuk membuat flap dibuat
lagi pada sepanjang garis pertengahan, tetapi dengan sayatan miring pada
anterior. Prosedur ini kemudian dilakukan dengan cara yang persis sama
seperti yang sudah disebutkan.
Torus Mandibularis
Sayatan dibuat di puncak alveolar ridge untuk operasi pengangkatan
exostoses, dan, setelah refleksi luas flap lingual, lesi dihilangkan
menggunakan pahat, bone file, atau bur (Gambar. 10,50-10,54). Luka
kemudian diairi dengan banyak larutan saline dan dijahit dengan jahitan
terputus (Gambar. 10,55).
Multiple Exostoses

Setelah pemberian anestesi lokal, sayatan dibuat flap trapesium. Mucoperiosteum ini
kemudian direfleksikan dengan hati-hati, yang cukup sulit karena ukuran besar dan
presentasi nodular dari exostoses (Gambar. 10,58). Selama refleksi, jari telunjuk
tangan non dominan diposisikan di atas flap yang dibuat, untuk memfasilitasi refleksi
sekaligus melindungi integritas dalam kasus slip disengaja lift periosteal, yang tidak
akan mengakibatkan perforasi. exostoses dikeluarkan dengan rongeur atau bur
khusus, di bawah aliran larutan saline, untuk menghindari overheating dari tulang
(Gambar. 10,59). Luka tulang kemudian dihaluskan dengan bone file dan diperiksa
untuk memastikan kehalusan alveolar ridge (Gambar. 10,60). Setelah prosedur ini,
bidang bedah diirigasi dengan larutan saline dan kelebihan jaringan lunak dipotong,
terutama papila interdental gingiva. Ini bertujuan pendekatan yang lebih tepat dan
imobilisasi flap selama menjahit dengan jahitan terputus (Gambar. 10,61).