Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN KEGIATAN PROGRAM DOKTER INTERNSIP

F1. UPAYA PROMOSI KESEHATAN DAN PEMEBERDAYAAN


MASYARAKAT
PENYULUHAN PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

Disusun oleh:
dr. Nurin Pascarini Jusaim

Pembimbing:
dr. H. Hidayat Samiaji

PUSKESMAS KECAMATAN ENTIKONG


KABUPATEN SANGGAU
PERIODE NOVEMBER 2018 – NOVEMBER 2019
Nama Penyaji dr. Nurin Pascarini J. Tanda Tangan

Nama Pendamping dr. H. Hidayat Samiaji Tanda Tangan

Nama Wahana Puskesmas Entikong


Tema Penyuluhan Pencegahan Demam Berdarah Dengue
Tujuan Penyuluhan Memberikan informasi tentang:
1. Pengertian, penyebab, cara penularan, ciri-ciri
nyamuk, tanda dan gejala demam berdarah dengue
2. Cara mencegah DBD dan memberantas jentik
nyamuk Aedes aegypti
Hari,tanggal Selasa, 2 April 2019
Waktu 08.30 – 09.00 WIB
Tempat Balai Dsn. Entikong Istiqomah
Jumlah Peserta 14 orang
DASAR MATERI PENYULUHAN

I. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan masyarakat tidak dapat dipisahkan dengan
kesehatan lingkungan. Lingkungan yang tidak sehat membawa dampak buruk,
bahkan menjadi sumber penyakit terutama penyakit menular. Penyakit demam
berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang masih
merupakan salah satu masalah kesehatan yang utama di Indonesia. Jumlah
penderita dan luas daerah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan
meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk.
DBD adalah penyakit yang berbahaya karena dapat menimbulkan wabah
dan terdapat risiko kematian dalam waktu yang singkat. Di Indonesia, Demam
Berdarah pertama kali ditemukan di kota Surabaya pada tahun 1968. Sebanyak
58 orang terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia (Angka
Kematian (AK) : 41,3 %). Indonesia berada di urutan kedua terbesar setelah
Thailand dalam angka kesakitan (morbidity rate) dan kematian (mortality
rate) DBD di Asia Tenggara dalam kurun waktu 1985-2004. Setiap orang
memiliki resiko terserang penyakit ini tanpa mengenal usia.
DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes
aegypti. Nyamuk ini tersebar luas dirumah, sekolah, dan tempat umum
lainnya. Pemberantasan nyamuk Aedes aegypti merupakan cara untuk
memutus mata rantai penularan DBD. Cara yang paling tepat untuk
memberantas nyamuk Aedes aegypti adalah dengan memberantas jentik
nyamuk di tempat perkembangbiakannya. Pemberantasan sarang nyamuk
(PSN) DBD dapat dilakukan dengan metode 3M serta teknik Abatesasi.
PSN-DBD merupakan tindakan yang praktis, murah, dan dapat dilakukan
oleh siapapun dan dimanapun. Masyarakat diharapkan untuk peduli tehadap
lingkungan dengan melaksanakan PSN-DBD di rumah dan lingkungannya
masing-masing. Suksesnya pemberantasan DBD tergantung dari besarnya
komitmen pemerintah dan partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, perlu
dilakukan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
II. Tinjauan Pustaka
2.1 Definisi Demam Berdarah Dengue
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh virus dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dengan
ciri–ciri demam tinggi mendadak dengan manifestasi pendarahan dan
dapat menimbulkan syok dan kematian. Penyakit ini sering menimbulkan
wabah. DBD pada umumnya menyerang anak-anak, tetapi dalam dekade
terakhir ini terlihat kecenderungan kenaikan proporsi pada kelompok
dewasa.

2.2 Penyebab DBD


DBD disebabkan oleh virus Dengue yang termasuk dalam group B
Arthropod Borne Virus dari genus Flavivirus, salah satu genus familia
Togaviradae. Sampai saat ini dikenal ada 4 serotipe virus Dengue yaitu:
DEN-I, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Keempat tipe virus ini ada di
berbagai daerah Indonesia.

2.3 Cara Penularan


DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Dalam
penularan, terdapat 3 faktor yang berperan, yaitu manusia, virus Dengue,
dan nyamuk Aedes aegypti. Bila nyamuk Aedes aegypti menggigit/
menghisap darah manusia penerita DBD, virus Dengue ikut terhisap dan
akan berkembang biak menyebar keseluruh tubuh nyamuk termasuk pada
kelenjar air liurnya. Bila nyamuk menggigit/ menghisap darah orang yang
sehat maka virus itu akan dipindahkan bersama air liur nyamuk. Pada
manusia diperlukan 4-6 hari sebelum menjadi sakit setelah virus masuk ke
dalam tubuhnya. Orang yang terkena Virus Dengue tidak semuanya akan
sakit, ada yang hanya demam ringan dan akan sembuh dengan sendirinya
atau bahkan ada yang sama sekali tanpa gejala tetapi tetap dapat
menularkan pada orang lain.
Aedes aegypti senang tinggal dalam ruangan yang lembab dan
gelap, senang hinggap pada benda-benda yang bergantung seperti pakaian.
Tempat yang digunakan untuk berkembang biak tempat penampungan air
seperti bak mandi, gentong, drum, juga barang-barang bekas yang terisi air
hujan seperti kaleng bekas, botol-botol dan ban-ban bekas.

2.4 Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti


 Nyamuk warna hitam dengan bercak putih di punggung
 Hidup di sekitar rumah, berkembang biak di tempat penampungan air
(TPA) yang tidak beralaskan tanah seperti bak mandi/WC, tempayan,
drum, vas bunga dan barang-barang yang dapat menampung air seperti
kaleng, ban bekas, pot tanaman air, tempat miuman burung dan lain-
lain
 Jarak terbang kira-kira 100 meter
 Istirahat di tempat yang gelap dan lembab disekitar rumah
 Menggigit manusia pada siang hari

2.5 Gejala dan Tanda DBD


 Mendadak demam tinggi tanpa sebab jelas selama 2-7 hari, naik turun
(bifasik) seperti pelana kuda. Hati-hati saat demam sudah mulai turun
dan pasien seakan sembuh, karena fase tersebut adalah fase kritis dan
bisa merupakan awal kejadian syok, biasanya pada hari ketiga dari
demam.
 Tanda-tanda perdarahan, seperti bintik-bintik merah pada kulit yang
tidak hilang bila kulit direnggangkan, mimisan, muntah darah, gusi
berdarah, hingga BAB darah. Kadang-kadang nyeri ulu hati karena
terjadi perdarahan pada lambung.
 Pada kondisi tertentu bisa terdapat syok, yang ditandai dengan nadi
cepat dan lemah hingga tidak teraba, tekanan darah menurun, kulit
teraba dingin dan lembab terutama pada ujung jari dan kaki, kebiruan
di bibir, pasien menjadi gelisah.
 Gejala lain yang dapat menyertai adalah mual, muntah, lemah, sakit
perut, diare dan kejang.

2.6 Pencegahan dan Pemberantasan


Pencegahan DBD adalah dengan pengendalian vektornya, yaitu
nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan
dengan beberapa metode yaitu:
 Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M: menguras bak
mandi atau tempat penampungan air sekurang kurangnya sekali
seminggu, menutup dengan rapat tempat penampungan air, mengubur
atau menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air saat hujan
seperti kaleng bekas, aki bekas, dan ban bekas di sekitar rumah.
 Pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan
nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah.
 Secara biologis menggunakan ikan pemakan jentik (ikan adu, ikan
cupang).
 Secara kimiawi dengan pengasapan dan abatesasi. Pengasapan/ fogging
(dengan menggunakan malathion dan fenthion), berguna untuk
mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu tetapi
hanya mengusir nyamuk dewasa saja. Memberi bubuk abate (temephos)
pada tempat-tempat penampungan air, seperti bak mandi, gentong, vas
bunga untuk membunuh jentik nyamuk.
 Menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot
dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk,
sesuai dengan kondisi setempat.
 Pencahayaan dan ventilasi memadai
 Jangan biasakan menggantung pakaian dalam rumah.

III. Permasalahan di Masyarakat


Kampanye pencegahan DBD sebenarnya sudah sering didengar oleh
masyarakat, tetapi angka kesakitan dan kematian akibat DBD di Indonesia
masih selalu Tinggi. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai cara
perkembangbiakan nyamuk vektor DBD dan cara penularannya membuat
masyarakat kurang sadar, sehingga tidakan PSN-DBD masih jarang dilakukan.

IV. Metode Penyuluhan


Penyuluhan disampaikan di Balai Dusun Entikong Istiqomah dengan
menggunakan media poster. Sasaran dalam penyuluhan ini adalah masyarakat
dusun Entikong yang hadir dalam posyandu lansia dan ibu-ibu yang datang
membawa anaknya untuk mengikuti posyandu balita.

V. Monitoring dan Evaluasi


Rangkaian kegiatan penyuluhan secara umum berlangsung dengan
lancar. Beberapa pertanyaan disampaikan oleh masyarakat yang hadir seperti
di mana bubuk abate bisa didapatkan dan bagaimana cara mengetahui gejala
awal DBD.

VI. Saran
Penyuluhan sebaiknya dilakukan tidak hanya di satu tempat saja, tetapi
juga di seluruh lapisan masyarakat, karena pencegahan DBD sebenarnya
sangat mudah dan murah bila dibandingkan dengan pengobatannya, dan hanya
akan berhasil bila seluruh masyarakat menyadari dan mau bersama melakukan
pencegahan DBD.
DAFTAR HADIR PESERTA PENYULUHAN
DOKUMENTASI KEGIATAN PENYULUHAN