Anda di halaman 1dari 17

BAB I

KONSEP DASAR MEDIK


A. Pengertian
Tumor merupakan massa/jaringan baru abnormal yang terbentuk dalam tubuh,
mempunyai bentuk dan sifat yang berbeda dari sel/jaringan
asalnya/sesungguhnya.(Anonym,2010).
Tumor adneksa adalah tumbuhnya jaringan abnormal pada sistem
reproduksi yaitu pada tuba fallopi kemudian ovarium dan uterus yang biasanya te
rjadi bersamaan. (Sarwono prawirohardjo,2007)
Tumor adneksa merupakan tumor ganas primer di tuba fallopi yang lebih
sekunder berasal dari tumor ganas ovarium atau uterus (Sarwono
prawirohardjo,2007)
B. Anatomi dan Fisiologi
Tuba Fallopi atau Tabung Fallopi adalah dua buah saluran yang sangat halus
yang menghubungkan ovarium dengan rahim.
Saluran/tuba ini dinamakan berdasarkan penemunya, ahli anatomi Italia, Gabr
ieleFalloppio. Tuba Fallopi memiliki panjangnya sekitar 12 cm dan diameternya
3 - 8 mm dan di ujung bagian dekat uterus menyempit. Makin jauh dari rahim m
akin membesar dan membentukampula, dan akhirnya membelok ke bawah untuk
berakhir menjadi tepi berfimbria. Salah satu umbai (fimbria) menempel ke ovari
um.Perdarahan disuplai oleh arteri ovarica dan arteriuterina. Kedua pembuluh ini
saling beranastomosis.Tuba uterine ditutupi oleh peritoneum di bawah peritoneu
m ini terdapat lapisan berotot yang terdiri atasserabut longitudinal dan melingkar.
Lapisan dalam ini terdiri atas epithelium yang bersilia. Lubang ujung tuba
uterine menghadap ke peritoneum, maka dengan demikian terbentuk jalan dari
vagina, melalui uterus dan tuba masuk rongga peritoneum, sehingga pada
perempuan peritoneum berupa kantong terbuka, bukan tertutup. Pada tuba ini
dibedakan menjadi 4 yaitu :
1. Pars Interstitialis (intramuralis), yaitu berada di dinding uerus, mulai pada
ostium internum.
2. Pars isthmica, bagian tuba setelah keluar dari dinding uterus (3 – 6 cm)
bentuk nya lurus dan sempit, berdiameter 2 – 3mm.
3. Pars Ampularis,bagian tuba ke arah pars isthmica dan infundibulum
merupakan bagian tuba yang paling lebar dan berbentuk S, berdiameter 4
– 10 mm
4. Infundibulum , Ujung dari tuba dengan umbai-umbai yang disebut
fimbriae, lubangnya disebut ostium abdominale tubae.

Fungsi normal Tuba Fallopi yaitu untuk mengantarkan ovum dari


ovarium ke uterus /tempat terjadinya konsepsi (pembuahan) Ketika sebuah ovum
berkembang dalam sebuah ovarium, ia diselubungi oleh sebuah lapisan yang di
kenal dengan nama follikel ovarium. Pada saat ovum mengalami kematangan,
folikel dan ovarium akan runtuh, membuat ovum dapat berpindah dan memasuki
Tuba Fallopi. Dari sana perjalanan di lanjutkan ke dalam rahim, dengan bantuan
pergerakan dari cilia pada bagian dalam tuba. Perjalanan ini menghabiskan waktu
berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Jika ovum dibuahi ketika berada di dalam
tuba Fallopi, maka ia akan menempel secara normal di dalam endometrium ketika
mencapai rahim, yang merupakan pertandanya kehamilan.

C. Etiologi
Penyebab tumor adneksa tidak diketahui secara pasti tetapi kebanyakan
diakibatkan karena infeksi yang menjalar ke atas dari uterus, peradangan ini
menyebar ke ovarium dan tuba fallopi dimana kuman itu masuk ke dalam organ
pelviks selama hubungan seksual, persalinan, aborsi, sebagai akibat dari tindakan
(kerokan, laparatomi,dan sebagainya). Organ-organ tadi akan mengalami
peradangan dan bersarang dituba fallopicairan purulen dapat terkumpul dalam
tubuh menyebabkan perlengketan sehingga terjadi penyempitan akan
menyebabkan berbagai gangguan. Pada tuba infeksi dapat disebabkan oleh
kuman seperti streptokokus, stapilokokus, klostridium welehi dan lain - lain.
(Sarwono prawirohardjo, 2007)
D. Patofisiologi
Tumor adneksa kebanyakan diakibatkan oleh infeksi yang menjalar sampai ke
tuba fallopi sehingga menyebabkan perlengketan dan penyempitan yang
menyebabkan berbagai macam gangguan dan terjadi pertumbuhan yang ganas.
Jenis tumor yang paling sering adalah adenokarsinoma mungkin juga ditemukan
endotelioma atau limposarkoma. Secara histopatologik adenokarsinoma dapat
dibedakan menjadi 3 tingkatan :
1. Jenis tumor dengan pertumbuhan papiler : tumor belum mencapai otot tuba.
2. Jenis tumor dengan pertumbuhan papillo alvioler : tumor telah memasuki
jaringan otot.
3. Jenis tumor dengan pertumbuhan alveo meduller : terlihat mitosis
yang atopic dan infasi sel ganas ke saluran limpa. (Sarwono prawirohardjo,
2007)
E. Manifestasi Klinik
Pada awalnya penyakit tidak menimbulkan gejala. Mula-mula keluhan samar-
samar seperti : perasaan lelah, makan sedikit, terasa cepat
kenyang dan sering kembung,kemudian timbul demam dan rasa nyeri padauterus
bagian kiri dan kanan perasaan sakit tadi timbul sebagai akibat distensi dinding t
umor. Diikuti dengan gejala perdarahan pervagina. Pada masareproduksi perdara
han tersebut biasanya terjadi antara dua masa haid dan
jumlahnya hanya sedikit tapi dapat berlangsung secara terus menerus setiap hari
(Sarwono prawirohardjo, 2007)

7. Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksaan pelvik
Pemeriksaan ini digunakan untuk melihat perubahan pada vulva, vagina dan serviks
dengan palpasi organ dalam khususnya ovarium dan permukaan uterus.

b. Test papanicolau

Merupakan pemeriksaan sistologis yang memungkinkan untuk mendeteksi adanya


sel yang abnormal dan mendeteksi keganasan tumor pada tahap awal.

c. Ultra sound / USG

Digunakan untuk menentukan lokasi massa tumor

d. Endoskopi

Untuk melihat lapisan dan jaringan disekitarnya secara langsung:

1) Colposcopy : visualisasi vagina dan serviks dibawah kekuatan magnet yang


rendah.

2) Culdoscopy: pemasukan culdoskop melalui vagina bagian belakang untuk


melihat tuba fallopi dan ovarium.

3) Hysterescopy: pemasukan hyterescopy melalui servik untuk melihat bagian


dalam uterus.

4) Biopsi: untuk mengetahui jenis dan keganasan sel.

5) Laboratorium: urine lengkap dan darah lengkap. (Sarwono prawirohardjo,


2007)

8. Penatalaksanaan medic

a. Pembedahan.

Total Heroscopy Abdominal (THA) dan tanpa Bilateral Salpingo Oporectomy (BSO)
adalah penanganan yang sangat umum dilakukan pada tumor/ kanker ginekologi.

b. Radio terapi.
Radiasi ulang intra cervical saat prabedah untuk mengecilkan tumor
sehingga dapat menjamin tingkat keamanan saat dilakukan pembedahan. (Sarwono
prawirohardjo, 2007)

9. Pencegahan

Sebelum seseorang terkena penyakit yang cukup ganas ini lebih baik melaksanakan
tindakan pencegahan dengan cara :

a. Hindari pasangan koitus yang sering berganti.

b. Pemeriksaan pap smear minimal sekali setahun

B. Konsep Asuhan Keperawatan

Asuhan keperawatan adalah faktor penting dalam survival klien dan


dalam aspek - aspek pemeliharaan, rehabilitatif, dan preventif perawatan keseha
tan. Untuk sampai pada hal ini, profesi keperawatan telah mengidentifikasi proses
keperawatan sebagai sebuah metode pemecahan masalah yang menggabungkan
elemen yang paling diinginkan dari seni keperawatan dengan elemen yang paling
relevan dari sistem teori dengan menggunakan metode ilmiah (Marilyn E. Doenges,
2000).
Proses keperawatan merupakan cara sistematis yang dilakukan oleh perawat
bersama klien dalam menentukan kebutuhan asuhan keperawatan dengan melakukan
pengkajian, penentuan diagnosis, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, serta
mengevaluasi hasil asuhan yang telah diberikan dengan berfokus pada klien dan
berorientasi pada tujuan. Setiap tahap saling berhubungan dan bergantungan (Aziz
Alimul H, 2006).
1. Pengkajian
Menurut Marilyn Doengues , 2000 data bergantung pada durasi/keparahan dari
masalah-masalah dasar dan keikutsertaan dari sistem tubuh lainnya. Mengacu pada
rencana khusus perawatan untuk data dan studi diagnosa yang relevan dengan
prosedur dan diagnosa keperawatan tambahan. Pengkajian data meliputi:

a. Pengumpulan data identitas terdiri dari:

1) Identitas klien yaitu: nama, umur, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan,


status perkawinan, perkawinan ke berapa, lamanya perkawinan, alamat, tanggal
masuk RS, tanggal pengkajian, dan diagnosa medic.

2) Identitas suami

b. Riwayat perjalanan penyakit

1) Sirkulasi

Gejala: Hipertensi (respon terhadap nyeri / ansietas), Takikardi (respon


stres, hipovolemia)

2) Integritas ego

Gejala: perasaan cemas, takut, marah, apatis, factor-faktor sters multiple misalnya:
financial hubungan gaya hidup

Tanda: peningkatan ketegangan/peka rangsangan, stimulasi simpatis.

3) Eliminasi

Gejala: perubahan pola defekasi, misalnya akibat pembedahan.

4) Nyeri/kenyamanan

Gejala: berdenyut, nyeri tekan, makin nyeri bila berdiri atau bergerak Tanda:
melindungi bagian yang sakit

5) Keamanan

Gejala: plester dan balutan, defisiensi immune ( resiko infeksi sistemik dan
penundaan penyembuhan)
Tanda: munculnya proses infeksi yang melelahkan, demam

6) Aktivitas

Gejala: kelemahan/keletihan, adanya faktoryang mempengaruhi seperti nyeri.

7) Factor pendukung

Tingkat pengetahuan/pendididkan klien dan keluarga tentang penyakit, pencegahan,


pengobatan dan perawatannya.

c. Data psikologis

Pada klien dengan tumor adneksa biasanya di temukan adanya cemas sebelum dan
sesudah operasi. Disini dijelaskan tentang pola emosional
serta pola interaksi, perasaan-perasaan klien selama dirawat dan pembedahan yang
dialami.

d. Data social

Dibahas tentang hubungan klien dengan orang lain

e. Data spiritual

Membahas hubungan klien dengan penciptanya

f. Data penunjang

Disini dibahas tentang pemeriksaan-pemeriksaan yang diperlukan untuk


pemeriksaan selanjutnya meliputi pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan
radiologi serta pengobatan yang telah diberikan.

2. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi, memfokuskan dan mengatasi


kebutuhan spesifik klien serta respon terhadap masalah actual dan resiko tinggi.
Menurut Marilyn E, Doenges, 2000, diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada
klien dengan gangguan sistem reproduksi “tumor adneksa” adalah:

a. Nyeri berhubungan dengan putusnya kontinuitas jaringan

b. Gangguan pola eliminasi (BAB) berhubungan dengan bedah abdomen,


kelemahan otot abdomen

c. Gangguan pemenuhan ADL berhubungan dengan penurunan kekuatan atau


kelemahan

d. Personal hygiene kurang berhubungan dengan perawatan diri

e. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan

f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan persepsi yang salah tentang


keadaannya., kurang pemajanan informasi tentang penyakitnya.

g. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan luka operasi.

3. Intervensi keperawatan

Intervensi keperawatan adalah prediskripsi untuk perilaku spesifik yang diharapkan d


ari klien dan yang harus dilakukan oleh perawat.
Tindakan atau intervensi keperawatan dipilih untuk membantu klien dalam mencapai
hasil yang diharapkan dan tujuan pemulangan (Marilyn E. Doenges, 2000)

Adapun intervensi keperawatan pada klien dengan gangguan sistem reproduksi tumor
adneksa Marilyn E. Doenges, 2000, adalah sebagai berikut:

a. Nyeri
Berhubungan dengan : gangguan pada kulit jaringan, dan
integritas otot, trauma musculoskeletal/tulang, munculnya saluran selang.

Data penunjang : melaporkan rasa sakit, perubahan pada tonus


otot, masker wajah rasa sakit, distrak/penjagaa n/tingkah laku protektif.
Pemfokuskusan diri: pandangan yang sempit, respon automonik.

Tujuan : klien mengatakan bahwa rasa sakit telah


terkontrol/dihilangkan dengan kriteria tampak santai, dan dapat beristirahat/tidur.

Tabel 1. Diagnosa 1

Intervensi Rasional

1. Kaji tingkat nyeri, misal lokasi, frekuensi, d 1. Informasi dapat


urasi, dan intervensi nyeri memberikan data untuk
menerapkan intervensi
selanjutnya.

2. Sebagai indikator dalam


2. Observasi tanda-tanda vital perkembangan proses
penyakit yang dialami.

3. Nafas dalam dapat


memfokuskan kembali
perhatian, meningkatkan rasa
3. Ajarkan teknik relaksasi misalnya nafas
kontrol terhadap rasa nyeri
dalam
yang muncul.

4. Meningkatkan relaksasi
dan mengurangi rangsangan
nyeri

4. Beri tindakan kenyamanan, misal reposisi,


usapan pada daerah nyeri. 5. Analgetik termasuk obat
yang dapat mengurangi (meng
ontrol rasa nyeri yang
dihantar oleh sistem simpatik.
5. Penatalaksanaan pemberian analgetik

b. Gangguan pola eliminasi (BAB)

Berhubungan dengan : factor fisik, bedah abdominal, dengan


manipulasi usus, melemahkan otot abdominal, nyeri ketidaknyamanan abdomen
atau area perianeal.

Data penunjang : tidak dapat diterapkan adanya tanda-tanda dan gejala-


gejala membuat diagnosa actual.

Tujuan : klien menunjukan bunyi


usus/aktivitas peristaltik aktif dengan kriteria memperta hankan pola eliminasi
biasanya.
Tabel 2. Diagnosa 2

Intervensi Rasional
1. Auskultasi bising usus perhatikan
1. Indikasi adanya/perbaikan
distensi abdomen, adanya mual/mual. uleus, mempengaruhi pilihan
intervensi.
2. Bantu pasien untuk duduk pada tepi
2. Ambulasi dini membantu
tempat tidur dan berjalan merangsang fungsi intestina
dan mengembalikan pestaltik.

3. Anjurkan pemasukan cairan adekuat,


3. Meningkatkan pelunakan
termasuk sari buah, bila pemasukan veses, dapat membantu
peroral dimulai. merangsang peristaltik.
4. Berikan obat, contoh pelunak veses,
4. Meningkatkan pembentukan
minyak mineral laktasif sesuai indikasi pelunak veses.

c. Gangguan pemenuhan ADL

Berhubungan dengan : penurunan kekuatan dan ketahanan,


ketidakseimbangan neuromuscular, rasa sakit/ketidaknyamanan

Data penunjang : gangguan koordinasi, keterbatasan rentang gerak,


penurunan massa, kekuatan control otot.Enggan untuk
mencoba bergerak,ketidakmampuan untuk bergerak dengan tujuan tertentu.

Tujuan : klien mendemostrasikan teknik/

Tingkah laku yang meningkatkan


kelangsungan atau melakukan kembali aktifitas.

Table 3. diagnosa 3
Intervensi Rasional
1. Kaji kemampuan fungsional dan alasan
1. Mengidentifikasi
ketidakseimbangan kebutuhan/tingkat intervensi yang
dibutuhkan
2. Lengkapi partisipasi dalam 2. Meningkatkan kemandirian dan
perawatan diri dan aktifitas kepercayaan diri.

3. Bantu dalam memindahkan dan 3. Mencegah terjadinya kecelakaan


ambulasi bila dibutuhkan. seperti jatuh dan cedera.

d. Personal hygiene

Berhubungan dengan : depresi, putus asa, kehilangan


mobilitas, ketidakmampuan general, ketidakseimbangan perceptual/kognetif.

Data penunjang : ketidakmampuan mengatasi penampilan yang tidak


terpelihara

Tujuan : klien mendemonstrasikan perubahan tekhnik/gaya


hidup untuk memenuhi kebutuhan diri dengan kriteria
menunjukan aktifitas perawatan diri alam tingkat kemampua pribadi

Tabel 4. Diagnosa 4
Intervensi Rasional
1. Motivasi perawatan diri, bekerja
1. Melakuakn untuk dirinya sendiri
dengan kemampuan yang sekarang akan meningkatkan perasaan harga
diri, kegagalan apat menyebabkan
keputusasaan dan depresi.
2. Membantu mempertahankan
2. berikan keramas dan sediakan penampilan
bantu dengan perawatan kuku 3. Mengurangi resiko penyakit
3. Motivasi dorong/bantu dengan gusi/kehilangangigi.
perawatan mulut/gigi setiap hari.

e. Kecemasan

Berhubungan dengan :perubahan pada status kesehatan,peran


fungsi, pola interaksi, status social ekonomi, lingkungan, kebutuhan yang
tidak terpenuhi perubahan yang baru, kehilangan teman/orang yang terdekat.

Data penunjang :ketakutan, tidak dapat beristirahat,


pertanyaan yang berulang-ulang, mondar-mandir, aktivitas yang tidak bertujuan,
insomnia, tingkah laku bervariasi (tampil sangat gembira, menarik diri, kuatir, ketaku
tan,), ketegangan wajah, gemetar.

Tujuan :klien melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat


yang dapat diatasi dengan kriteria tampak rileks.

Tabel 5.Diagnosa 5

Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat ansietas dan1. Identifikasi masalah spesifik
diskusikan penyebabnya bila mungkin akan meningkatkan kemampuan
individu untuk menghadapinya
denga n lebih realities.
2. Berikan waktu untuk mendengar pasien 2. Selalu berada dengan cara ini
mengenai masalah dan dorongan ekspresi akan membuat pasien merasa
perasaan yang benar, misalnya: rasa diterima, mulai mengakui dan
marah, ragu, takut, dan sendiri. berhadapan dengan lebih realities.
3. Kembangkan hubungan pasien/perawat
3. Hubungan yang saling
mempercayai diantara pasien/orang
terdekat/staf akan meningkatkan
perawatan dukungan yang optimal

f. Kurang pengetahuan

Berhubungan dengan : tidak mengenal sumber informasi

Data penunjang : pertanyaan, permintaan informasi

Tujuan : klien menyatakan pemahaman kondisi

Table 6.Diagnosa 6

Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat pengetahuan 1. Identifikasi pengetahuan yang
dimiliki klien
2. Diskusikan dengan lengkap masalah
2. Factor fisik, emosi, dan sosial
yang diantisipasi selama penyembuhan dapat mempunyai pengaruh
kumulatif, yang dapat
memperlambat penyembuahan.
3. Tinjau ulang efek pembedahan dan
harapan pada masa yang aka datang 3. Memberikan dasar pengetahuan

g. Resiko terjadi infeksi

Berhubungan dengan : kulit yang rusak, trauma jaringan, statis


jaringan tubuh, munculnya zat- zat pathogen, pemajanan lingkungan, prosedur
invasivf

Data penunjang : tidak dapat diterapkan, adanya tanda-tanda dan gejala-


gejala membuat diagnosa actual

Tujuan : mengidentifikasikan factor-faktor resiko individu dan


intervensi untuk mengurangi resiko infeksi.

Table 7. diagnosa 7

Intervensi Rasional

1. Kaji adanya infeksi 1. Identifikasi adanya infeksi yang


terjadi
2. Tetap pada fasilitas control infeksi,
2. Tetapkan mekanisme yang
sterilisasi dan prosedur/kebijakan aseptic direncanakan untuk mencegah
3. Uji kesterilan semua peralatan infeksi
3. Benda-benda yang dipekat
mungkin tampak steril, meskipun
demikian, setiap benda harus teliti
di periksa kesterilannya.

4. Implementasi keperawatan
Implementasi keperawatan atau tindakan merupakan tahap keempat dalam proses
keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi yang telah direncanakan. Dalam
tahap ini perawat harus mengetahui berbagai hal, di antaranya bahaya fisik dan
perlindungan pada klien, teknik komunikasi, kemampuan dalam prosedur tindakan
serta pemahaman tentang hak-hak klien (Aziz Alimul H, 2006 ).

Implementasi dilakukan sesuai dengan rencana kepeawatan yang telah dibuat


berdasakan masalah keperawatan yang telah ditemukan dalam kasus dengan
menuliskan waktu pelaksanaan dan respon klien (Marilynn E. Doenges, 2000).

5. Evaluasi keperawatan

Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan dengan cara menilai sejauh
mana tujuan dari rencana keperawatan telah tercapai atau sebaliknya. Dalam
mengevaluasi proses keperawatan, perawat harus memiliki pengetahuan dan
kemampuan memahami dalam menggambarkan intervensi.

Kriteria evaluasi menurut Marilynn E. Donges, 2000, sesuai dengan diagnosa


keperawatan yang telah dipaparkan diatas antara lain adalah:

a. Mengatakan rasa nyeri/sakit telah terkontrol/hilang

b. Menunjukkan bunyi usus/peristaltik aktif mempertahankan pola eliminasi


biasanya.

c. Mendemonstrasikan perubahan/gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan sendiri

d. Personal hygiene klien terpenuhi

e. Melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat yang dapat diatasi

f. Menyatakan pemahaman kondisi

g. Mengidentifikasi factor-faktor resiko individu dan intervensi untuk mengurangi


potensial infeksi