Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN SINUSITIS DI

RUANGAN JENGGALA B RSUD GAMBIRAN KOTA KEDIRI

Disusun Oleh :
THERESIA AYU JUWITA
10216032

PRODI S1-KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI
TAHUN 2019
BAB I

TINJAUAN TEORI

A. Definisi

Sinusitis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi karena alergi, infeksi
virus, bakteri dan jamur. Sinusitis bisa terjadi pada salah satu dari keempat sinus yang
ada (Cangjaya, 2002).

Sinusitis merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau virus.

Sinusitis adalah peradangan, atau pembengkakan, dari jaringan yang melapisi


sinus. Biasanya sinus berisi udara, tetapi ketika sinus tersumbat dan berisi cairan, kuman
(bakteri, virus, dan jamur) dapat berkembang dan menyebabkan infeksi.

Sinusitis adalah peradangan pada sinus karena infeksi kuman, virus, jamur, dan bakteri.

B. Klasifikasi

Berdasarkan jenisnya, sinusitis dapat dibagi sebagai berikut:

1. Sinusitis akut
Sinusitis bersifat akut jika berlangsung selama 3 minggu atau lebih.

Penyebab sinusitis akut menurut changjaya, 2003 adalah:

 Infeksi virus
Sinusitis akut dapat terjadi setelah terinveksi suatu infeksi virus pada saluran
pernafasan bagian atas.

 Infeksi bakteri
Didalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal
tidak menimbulkan penyakit (misalnya streptococcus pneumonia, haemophilus
influenza, dan staphilus aerus). Jika pertahanan tubuh menurun/drainase dari sinus
tersumbat akibat pilek/infeksi virus lainnya, maka bakteri ysng sebelumnya tidak
berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus. Bakteri
bertanggung jawab terhadap meningkatnya 60% kasus sinusitis akut.

 Infeksi jamur Aspergillus merupakan jamur yang bisa menyebabkan sinusitis pada
penderita gangguan system kekebalan. Pada orang-orang tertentu, sinusitis jamur
merupakan sejenis reaksi alergi terhadap jamur.
 Peradangan menahun pada saluran hidung Pada penderita renitis alergika bisa
terjadi sinusitias akut, demikian pula halnya pada penderita renitis vasomotor.
 Penyakit tertentu Sinusitis akut lebih sering terjadi pada penderita gangguan system
kekebalan dan penderita kelainan sekresi lendir.
Penyebab lain menurut Ballenger, 1994 adalah :

 Semua keadaan anatomik/fisiologik yang dapat menimbulkan sumbatan drainase


dari sinus, menyebabkan statis secret dan hal ini menyebabkan infeksi.
 Polip alergi dengan posisi yang tidak menguntungkan, terutama dekat hiatus
semilunaris karena menyebabkan sumbatan relatif terhadap drainase dari kelompok
anterior.
 Infeksi apical dari sisi yang menonjol ke dalam dasar sinus maksila dapat
menyebabkan infeksi
2. Sinusitis kronik
Sinusitis kronik jika berlangsung selama 3 – 8 minggu dan dapat berlanjut sampai
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Penyebab sinusitis kronik :

 Asma
 Penyakit alergi
 Gangguan system kekebalan/kelainan sekresi maupun pembuangan lendir.
 Aktivitas silia yang rusak dapat mengganggu pembersihan sinus yang
menyebabkan infeksi sinus berkepanjangan. Sebagai tambahan efek buruk dari
merokok dan polusi udara terhadap aktivitas mukosiliar, deviasi septum dapat
mengubah arus konveksi aliran udara inspirasi sedemikian rupa, sehingga terdapat
daerah kering yang dapat merusak aktivitas silia.
 Obstruksi hidung kronik akibat rabor dan edema membran mukosa hidung.
C. Etiologi

a. Penjalanan infeksi gigi seperti infeksi periapikal atau abses apikal gigi dari gigi
kaninus sampai gigi molar tiga atas. Biasanya infeksi lebih sering terjadi pada kasus-
kasus akar gigi yang hanya terpisah dari sinus oleh tulang yang tipis, walaupun
kadang-kadang ada juga infeksi mengenai sinus yang dipisahkan oleh tulang yang
tebal (Ross, 1999).
b. Prosedur ekstraksi gigi. Pencabutan gigi ini dapat menyebabkan terbukanya dasar
sinus sehingga lebih mudah bagi penjalanan infeksi (Saragih, 2007).
c. Penjalaran penyakit periodontal yaitu dijumpai adanya penjalaran infeksi dari
membran periodontal melalui tulang spongiosa ke mukosa sinus (Prabhu; Padwa;
Robsen; Rahbar, 2009).
d. Trauma, terutama fraktur maksila yang mengenai prosesus alveolaris dan sinus
maksila (Ross, 1999).
e. Adanya benda asing dalam sinus berupa fragmen akar gigi dan bahan tambahan akibat
pengisian saluran akar yang berlebihan (Saragih, 2007).
f. Osteomielitis pada maksila yang akut dan kronis (Mangunkusomo; Rifki, 2001).
g. Kista dentogen yang seringkali meluas ke sinus maksila, seperti kista radikuler dan
folikuler (Prabhu; Padwa; Robsen; Rahbar, 2009).
h. Deviasi septum kavum nasi, polip, serta neoplasma atau tumor dapat menyebabkan
obstruksi ostium yang memicu sinusitis (Mangunkusomo dan Soetjipto,2007).
D. Manifestasi klinis

1. Nyeri
Nyeri biasanya sesuai dengan daerah yang terkena, yaitu :

 Sinusitis maksilaris : nyeri pipi tepat di bawah mata, sakit gigi, sakit kepala.
 Sinusitis frontalis : sakit kepala di dahi.
 Sinusitis etmoidalis : nyeri di belakang dan diantara mata serta sakit kepala di dahi,
nyeri tekan di pinggiran hidung, berkurangnya indera penciuman dan hidung
tersumbat.
 Sinusitis sfenoidalis : nyeri yang lokasinya tidak dapat dipastikan dan bisa dirasakan
di puncak kepala bagian depan ataupun belakang atau kadang menyababkan sakit
telinga dan leher.
2. Sakit kepala
Sakit kepala merupakan salah satu tanda yang paling umum dan paling penting pada
sinusitis. Sakit kepala akan meningkat jika membungkukkan badan ke depan dan jika
badan tiba-tiba digerakkan. Sakit kepala ini akan menetap saat menutup mata, saat
istirahat atau saat berada di kamar yang gelap. Sakit kepala timbul tiap hari mulai pukul
10 - 11 dan berakhir pukul 3 - 4 sore. Pada sinusitis kronik nyeri dan sakit kepala
mungkin tidak ada kecuali bila terjadi gangguan drainase dan fentilasi.

3. Nyeri pada pendengaran


Nyeri bila disentuh dan nyeri pada penekanan jari mungkin terjadi pada penyakit di
sinus-sinus yang sehubungan dengan permukaan wajah seperti sinus frontalis, sinus
etmoro anterior dan sinus maksila.

4. Gangguan penghidu
Indra penghidu dapat disesatkan (parosmia), pasien mencium bau yang tidak tercium
oleh hidung normal. Keluhan yang sering adalah hilangnya penghidu (anosmia), terjadi
karena sumbatan pada fisura olfaktorius di daerah kontra media. Pada kasus anemia,
dapat terjadi karena degenerasi filamen terminal N. olfaktorius.

5. Pembengkakan/edema
Jika sinus yang berbatasan dengan kulit terkena secara akut dapat terjadi pembengkakan
dan udema kulit yang ringan akibat periostitis. Palpasi dengan jari mendapati sensasi
seperti ada penebalan ringan/seperti meraba beludru.

6. Secret nasal
Pus dalam rongga hidung dapat berarti empisema dalam sinus, mukosa hidung jarang
merupakan pusat focus peradangan supuratif, sinus-sinus lainlah yang merupakan pusat
fukus peradangan semacam ini. Adanya pus dalam rongga menandakan adanya suatu
peradangan sinus.

Gejala yang lainnya adalah :


1. Tidak enak badan.
2. Demam.
3. Letih, lesu.
4. Batuk, yang mungkin memburuk pada malam hari.

E. Patofisiologi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya
klirens mukosiliar (mucociliary clearance) di dalam kompleks osteo-meatal. Sinus
dilapisi oleh sel epitel respiratorius. Lapisan mukosa yang melapisi sinus dapat dibagi
menjadi dua yaitu lapisan viscous superficial dan lapisan serous profunda. Cairan mukus
dilepaskan oleh sel epitel untuk membunuh bakteri maka bersifat sebagai antimikroba
serta mengandungi zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap
kuman yang masuk bersama udara pernafasan. Cairan mukus secara alami menuju ke
ostium untuk dikeluarkan jika jumlahnya berlebihan (Ramalinggam, 1990;
Mangunkusomo dan Soetjipto,2007).
Faktor yang paling penting yang mempengaruhi patogenesis terjadinya sinusitis
yaitu apakah terjadi obstruksi dari ostium. Jika terjadi obstruksi ostium sinus akan
menyebabkan terjadinya hipooksigenasi, yang menyebabkan fungsi silia berkurang dan
epitel sel mensekresikan cairan mukus dengan kualitas yang kurang baik (Kieff dan
Busaba, 2004). Disfungsi silia ini akan menyebabkan retensi mukus yang kurang baik
pada sinus (Hilger, 1997).
Kejadian sinusitis maksila akibat infeksi gigi rahang atas terjadi karena infeksi
bakteri (anaerob) menyebabkan terjadinya karies profunda sehingga jaringan lunak gigi
dan sekitarnya rusak (Prabhu; Padwa; Robsen; Rahbar, 2009). Pulpa terbuka maka
kuman akan masuk dan mengadakan pembusukan pada pulpa sehingga membentuk
gangren pulpa. Infeksi ini meluas dan mengenai selaput periodontium menyebabkan
periodontitis dan iritasi akan berlangsung lama sehingga terbentuk pus. Abses periodontal
ini kemudian dapat meluas dan mencapai tulang alveolar menyebabkan abses alveolar.
Tulang alveolar membentuk dasar sinus maksila sehingga memicu inflamasi mukosa
sinus.
Disfungsi silia, obstruksi ostium sinus serta abnormalitas sekresi mukus
menyebabkan akumulasi cairan dalam sinus sehingga terjadinya sinusitis maksila (Drake,
1997). Dengan ini dapat disimpulkan bahwa patofisiologi sinusitis ini berhubungan
dengan tiga factor, yaitu patensi ostium, fungsi silia, dan kualitas sekresi hidung.
Perubahan salah satu dari factor ini akan merubah sistem fisiologis dan menyebabkan
sinusitis.

F. Komplikasi
Komplikasi sinusitis adalah kelainan orbital disebabkan oleh sinus paranasal yang
berdekatan dengan mata. Yang paling sering ialah sinusitis etmoid, kemudian sinusitis
frontal dan maksila. Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis dan
perkontinuitatum. Kelainan yang dapat timbul ialah edema palpebra, selulitis orbita,
abses subperiostal, abses orbita dan selanjutnya dapat terjadi thrombosis sinus kavernosus
(Mangunkusomo dan Soetjipto,2007). Komplikasi lain adalah infeksi orbital
menyebabkan mata tidak dapat digerakkan serta kebutaan karena tekanan pada nervus
optikus (Hilger, 1997).
Osteomielitis dan abses subperiosteal paling sering timbul akibat sinusitis frontal
dan biasanya ditemukan pada anak-anak. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul
fistula oroantral atau fistula pada pipi (Tucker dan Schow, 2008)
Infeksi otak yang paling berbahaya karena penyebaran bakteri ke otak melalui
tulang atau pembuluh darah. Ini dapat juga mengakibatkan meningitis, abses otak dan
abses ekstradural atau subdural (Hilger, 1997).
Komplikasi sinusitis yang lain adalah kelainan paru seperti bronkitis kronis dan
bronkiektasi. Adanya kelainan sinus paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut
sinobronkitis. Selain itu, dapat juga menyebabkan kambuhnya asma bronchial yang sukar
dihilangkan sebelum sinusitisnya disembuhkan (Ballenger, 2009).

G. Pemeriksaan diagnostik

a. Rinoskopi anterior
Tampak mukosa konka hiperemis, kavum nasi sempit, dan edema.Pada sinusitis
maksila, sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak mukopus atau nanah di
meatus medius, sedangkan pada sinusitis ethmoid posterior dan sinusitis sfenoid nanah
tampak keluar dari meatus superior.

b. Rinoskopi posterior : Tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip).


c. Dentogen : Caries gigi (PM1,PM2,M1)
d. Transiluminasi (diaphanoscopia)
Sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan transiluminasi bermakna
bila salah satu sisi sinus yang sakit, sehingga tampak lebih suram dibanding sisi yang
normal.

e. X Foto sinus paranasalis:


Pemeriksaan radiologik yang dibuat ialah Posisi Water’s, Posteroanterior dan Lateral.
Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara (air fluid
level) pada sinus yang sakit.Posisi Water’s adalah untuk memproyeksikan tulang
petrosus supaya terletak di bawah antrum maksila, yakni dengan cara menengadahkan
kepala pasien sedemikian rupa sehingga dagu menyentuh permukaan meja. Posisi ini
terutama untuk melihat adanya kelainan di sinus maksila, frontal dan etmoid. Posisi
Posteroanterior untuk menilai sinus frontal dan Posisi Lateral untuk menilai sinus
frontal, sphenoid dan etmoid

f. Pemeriksaan CT –Scan
Pemeriksaan CT-Scan merupakan cara terbaik untuk memperlihatkan sifat dan sumber
masalah pada sinusitis dengan komplikasi. CT-Scan pada sinusitis akan tampak :
penebalan mukosa, air fluid level, perselubungan homogen atau tidak homogen pada
satu atau lebih sinus paranasal, penebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus-
kasus kronik).Hal-hal yang mungkin ditemukan pada pemeriksaan CT-Scan :

a) Kista retensi yang luas, bentuknya konveks (bundar), licin, homogen, pada
pemeriksaan CT-Scan tidak mengalami ehans. Kadang sukar membedakannya
dengan polip yang terinfeksi, bila kista ini makin lama makin besar dapat
menyebabkan gambaran air-fluid level.
b) Polip yang mengisi ruang sinus
c) Polip antrokoanal
d) Massa pada cavum nasi yang menyumbat sinus
e) Mukokel, penekanan, atrofi dan erosi tulang yang berangsur-angsur oleh massa
jaringan lunak mukokel yang membesar dan gambaran pada CT Scan sebagai
perluasan yang berdensitas rendah dan kadang-kadang pengapuran perifer.
g. Pemeriksaan di setiap sinus
a) Sinusitis maksila akut
Pemeriksaan rongga hidung akan tampak ingus kental yang kadang-kadang dapat
terlihat berasal dari meatus medius mukosa hidung. Mukosa hidung tampak
membengkak (edema) dan merah (hiperemis). Pada pemeriksaan tenggorok,
terdapat ingus kental di nasofaring.Pada pemeriksaan di kamar gelap, dengan
memasukkan lampu kedalam mulut dan ditekankan ke langit-langit, akan tampak
pada sinus maksila yang normal gambar bulan sabit di bawah mata. Pada kelainan
sinus maksila gambar bulan sabit itu kurang terang atau tidak tampak. Untuk
diagnosis diperlukan foto rontgen. Akan terlihat perselubungan di sinus maksila,
dapat sebelah (unilateral), dapat juga kedua belah (bilateral ).

b) Sinusitis etmoid akut


Pemeriksaan rongga hidung, terdapat ingus kental, mukosa hidung edema dan
hiperemis. Foto roentgen, akan terdapat perselubungan di sinus etmoid.

c) Sinusitis frontal akut


Pemeriksaan rongga hidung, ingus di meatus medius. Pada pemeriksaan di kamar
gelap, dengan meletakkan lampu di sudut mata bagian dalam, akan tampak bentuk
sinus frontal di dahi yang terang pada orang normal, dan kurang terang atau gelap
pada sinusitis akut atau kronis. Pemeriksaan radiologik, tampak pada foto
roentgen daerah sinus frontal berselubung.

d) Sinusitis sfenoid akut


Pemeriksaan rongga hidung, tampak ingus atau krusta serta foto rontgen.

H. Penatalaksanaan

1. Sinusitis akut
Tujuan pengobatan sinusitis akut adalah mengontrol infeksi, memulihkan kondisi
mukosa nasal, dan menghilangkan nyeri. Pengobatan untuk sinusitis akut biasanya
diberika:

a Dekongestan untuk mengurangi penyumbatan


Dekongestan oral yang umum diberikan adalah Drixoral dan Dimetapp sedangkan
dekongestan harus diberikan dengan posisi kepala pasien ke belakang untuk
meningkatkan drainage maksimal.

b Antibiotik untuk mengendalikan infeksi


Antibiotik pilihan adalah Amoksisilin dan Ampisilin, bagi yang alergi diganti
dengan alternatif Trimetoprim/Sulfametoksazol (Baktrim OS, Spektra DS).

c Obat pereda nyeri untuk mengurangi nyeri


Dekongestan dalam bentuk tetes hidung atau obat semprot hidung hanya boleh
dipakai selama waktu yang terbatas (karena pemakaian jangka panjang bisa
menyebabkan penyumbatan dan pembengkakan pada saluran hidung). Untuk
mengurangi penyumbatan, pembengkakan dan peradangan bisa diberikan obat
semprot hidung yang mengandung steroid. Kabut hangat dan irigasi salin efektif
untuk membuka sumbatan saluran, sehingga memungkinkan drainage rabas pulen.

2. Sinusitis kronis Pengobatan untuk mengurangi sinusitis kronis:


a. Diberikan antibiotik dan dekongestan.
b. Untuk mengurangi peradangan biasanya diberikan obat semprot hidung yang
mengandung steroid.
c. Jika penyakitnya berat, bisa diberikan steroid peroral (melalui mulut).
Hal-hal berikut bisa dilakukan untuk mengurangi rasa tidak nyaman :

a. Menghirup uap dari sebuah vaporizer atau semangkuk air panas.


b. Obat semprot hidung yang mengandung larutan garam .
c. Kompres hangat di daerah sinus yang terkena.
Jika tidak dapat diatasi dengan pengobatan tersebut, maka satu-satunya jalan untuk
mengobati sinusitis kronis adalah pembedahan. Tindakan bedah jarang dilakukan
pada terapi sinusitis akut, jika dikerjakan biasanya hanya setelah gagal dengan
bermacam-macam terapi. Pembedahan yang diindikasikan pada sinusitis kronis
untuk memperbaiki deformitas structural yang menyumbat ostio (ostium) sinus
dengan tujuan mempermudah drainage. Pembedahan dapat mencakup eksisi atau
kateterisasi polip, perbaikan penyimpangan septum, menginsisi serta drainase sinus.
Dianjurkan pindah ke daerah dengan iklim kering. Luksasi koonka hidung seringkali
memperbaiki drainage melalui hiatus semikularis. Untuk mencapai hal ini, analgetik
local pertama-tama dilakukan dengan meletakkan kapas yang dibasahi 1 - 2%
tetrakain pada permukaan medical dan lateral dari ujung anterior konka media.
Setelah 10 menit, luksaso konka dapat dengan mudah silakukan dengan meletakkan
alat yang pipih di bawah dinding lateral konka dan mematahkan ke arah medial.
Perdarahan minimal. Pembedahan yang dapat dilakukan secara intranasal antrostomy
dan Operasi Cadwell Luch. Dalam pelaksanaannya antrum maksilaris dibuka melalui
hidung. Kemudian dengan cara lebih radikal antrum dibuka melalui mulut. Hanya
dengan pembukaan kecil dibuat dengan cara intra nasal. Pembedahan model Cadwell
Luch dengan memakai drainage permanen ke dalam hidung. Kedua jenis
pembedahan tersebut dilakukan dengan anestesi lokal.
BAB II

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian keperawatan

1. Identitas
a. Identitas klien.
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku
bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, diagnose medis, dan status
pernikahan.
b. Identitas penanggung jawab klien.
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku
bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, status pernikahan, dan hub. Dengan
klien.
2. Riwayat Kesehatan
b. Alasan utama masuk rumah sakit.
Alasan atau keluhan pasien saat masuk rumah sakit, dari kapan pasien sudah
merasakan sakit yang dialami.
c. Keluhan utama
Keluhan utama merupakan keluhan yang paling utama, hanya ada satu keluhan yang
paling menganggu pasien atau mengancam nyawa pasien.
d. Riwayat kesehatan sekarang.
Penyakit yang dirasakan oleh pasien pada saat pasien datang kerumah sakit.
e. Riwayat kesehatan dahulu.
Riwayat penyakit yang dulu pernah di derita oleh pasien. Misalnya: adanya riwayat
hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung, anemia, dan lain-lain.
f. Riwayat kesehatan keluarga.
Riwayat penyakit yang mungkin pernah diderita oleh keluarga pasien.
g. Riwayat alergi.
Riwayat alergi merupakan apakah pasien ada alergi terhadap makanan tertentu atau
tidak.
3. Genogram
Adanya genogram untuk mengetahui garis keturunan dari pasien, agar mengetahui
informasi bilamana ada penyakit keturunan pada keluarga pasien.
4. Riwayat spikososial
a Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih)
b Interpersonal : hubungan dengan orang lain.
5. Pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Untuk mengurangi flu biasanya klien menkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek
samping

b. Pola nutrisi dan metabolism


Biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung

c. Pola istirahat dan tidur


Selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek

d. Pola Persepsi dan konsep diri


Klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsepdiri menurun

e. Pola sensorik
Daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek terus menerus
(baik purulen, serous, mukopurulen).

6. Pemeriksaan fisik
a Status kesehatan umum: keadaan umum, tanda vital, kesadaran.
b Pemeriksaan fisik data fokus hidung:
 Inspeksi: Tampak adanya pembengkakan pada dahi dan mata, tampak adanya
kemerahan, dan ingus yang mirip nanah.
 Palpasi: Ada nyeri tekan pada sinus, rinuskopi (mukosa merah dan bengkak).
7. Data subyektif :
1) Observasi nares:
a. Riwayat bernafas melalui mulut, kapan, onset, frekwensinya
b. Riwayat pembedahan hidung atau trauma
c. Penggunaan obat tetes atau semprot hidung: jenis, jumlah, frekwensinya, lamanya.
2) Sekret hidung:
a. Warna, jumlah, konsistensi secret
b. Epistaksis
c. Ada tidaknya krusta/nyeri hidung.
3) Riwayat Sinusitis:
a. Nyeri kepala, lokasi dan beratnya
b. Hubungan sinusitis dengan musim/ cuaca.
c. Gangguan umum lainnya: kelemahan
8. Data Obyektif
1. Demam, drainage ada: Serous
Mukppurulen
Purulen

2. Polip mungkin timbul dan biasanya terjadi bilateral pada hidung dan sinus yang
mengalami radang  Pucat, Odema keluar dari hidng atau mukosa sinus
3. Kemerahan dan Odema membran mukosa
4. Pemeriksaan penunjung:
a. Kultur organisme hidung dan tenggorokan
b. Pemeriksaan rongent sinus.

B Diagnosa keperawatan
1) Nyeri: kepala, tenggorokan , sinus berhubungan dengan peradangan pada hidung
2) Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan dengan obstruksi /adnya secret yang
mengental
3) Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hidung tersumbat, nyeri sekunder
peradangan hidung
4) Hipertermia berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh
B. Intervensi keperawatan
N Diangnosa Tujuan ( NOC ) Intervensi ( NIC )
o. keperawat
an
1. Nyeri akut 1. Pain level 1. Lakukan pengkajian nyeri secara
2. Pain control komperhensif termasuk
3. Comfort level lokasi,karakteristik durasi ,frekuensi
Setelah dilakukan kualitas dan faktor presipitasu.
tindakan keperawatan 2. Observasi reaksi nonverbal dari
selama 1 x 24 jam ketidaknyamanan
pasien tidak 3. Kontrol lingkungan yang dapat
mengalami nyeri, mempengaruhi nyeri seperti suhu
dibuktikan dengan. ruangan ,percahayaan dan kebisingan
4. Kurangi faktor presipitasi nyeri
Kriteria hasil:
5. Ajarkan tentang teknik nonfarmakologi
1. Mampu napas
mengontrol dalam,relaksasi,distraksi,kompres air
nyeri (tahu hangat
penyebab 6. Kolaborosai dengan dokter pemberian
nyeri,mampu analgesik
meggunakan 7. Berikan informasi tentang nyeri
tehnik ;penyebab nyeri,berapa lama nyeri
mengurangi akan berkurang.
nyeri) Monitor vital sign sebelum dan
2. Melaporkan seusudah pemberian analgesikpertama
bahwa nyeri kali
berkurang
dengan
menggunakan
manajemen
nyeri
3. Mampu
mengenali
nyeri
4. Menyartakan
rasa aman
setelah nyeri
berkurang
5. Tanda vital
dalam renta
normal

2. Ketidakefe 4. Respiratory status : 8. Posisikan pasien untuk


ktifan pola Ventilation memaksimalkan ventilasi.
nafas b.d 5. Respiratory status : 9. Pasang mayo bila perlu.
sesak nafas Airway patency 10. Lakukanfisioterapi dada jikaperlu.
6. Vital sign Status 11. Keluarkansekretdenganbatukatausucti
on.
12. Auskultasisuaranafas,
Setelah dilakukan
catatadanyasuaratambahan
tindakan keperawatan
13. Berikanbronkodilator.
selama 1 x 24 jam
14. BerikanpelembabudaraKassabasahNa
pasien menunjukkan
ClLembab.
keefektifan pola
15. Aturintakeuntukcairanmengoptimalka
nafas, dibuktikan
nkeseimbangan.
dengan.
16. Monitor respirasi dan status O2.
Kriteria hasil: 17. Bersihkan mulut, hidung dan secret

6. Mendemonstra trakea.

sikan batuk 18. Pertahankan jalan nafas yang paten.

efektif dan 19. Observasi adanya tanda tanda

suara nafas hipoventilasi.

yang bersih, 20. Monitor vital sign.

tidak ada 21. Monitor pola nafas

sianosis dan
dyspneu
(mampu
mengeluarkan
sputum,
mampu
bernafas dg
mudah,
tidakada
pursed lips)
7. Menunjukkan
jalan nafas
yang paten
(klien tidak
merasa
tercekik, irama
nafas,
frekuensi
pernafasan
dalam rentang
normal, tidak
ada suara
nafas
abnormal)
Tanda Tanda
vital dalam
rentang
normal
(tekanan
darah, nadi,
pernafasan)
3. Gangguan Setelah dilakukan Sleep Enhancememnt :
pola tidur tindakan 1. Determinasi efek-efek medikasi terhadap
keperawatan selama pola tiur
1 x 24 jam gangguan 2. Jelaskan pentingnya tidur
pola tidur pasien 3. Fasilitas untuk mempertahankan
teratasi dengan aktivitas sebbelum tidur
kriteria hasil 4. Ciptakan lingkungan yang nyaman
1. Jumlah jam tidur 5. Kolaborasi pemberian obat tidur
dalam batas
normal
2. Pola tidur,kualitas
dalam bats
normal
3. Perasaaan fres
sesudah
tidur/istirahat
4. Mampu
mnegidentifikasi
hal-hak yang
meningkatkan
tidur
4. Hipertermi Thermoregulasi 1. Monitor sushu sesering mungkin
Setelah dilakukan 2. Monitor warna kulit
tindakan 1x24 jam 3. Monitor tekanan darah,nadi dan RR
pasien menunjukkan : 4. Monitor penurunann tingkat
Suhu tubuh dalam kesadaran
batas normal dengan 5. Monitor WBC,Hb, dan Hct
criteria hasil 6. Monitor intake dan otpute
1. Suhu 36-37 C 7. Berikan anti piretik
2. Nadi dan RR 8. Kelola antibiotic
normsl 9. Selimuti pasien
3. Tidak ada 10. Berikan cairan intravena
perubahan warna 11. Kompres pasien pada lipatan paha
kulit dab tidak ada dan aksila
pusing ,merasa 12. Tingkatkan sirkulasi udara
nyaman 13. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
14. Monitor TD,nadi,suhu,dan RR
15. Catat adanya fluktasi tekanan darah
16. Monitor hidrasi seperti turgor kulit
kelembabpan mmebran mukosa.