Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana
atau darurat mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan
perawatan sampai kembali kerumah. Selama proses tersebut anak dapat mengalami
berbagai kejadian yang menurut beberapa hasil penelitian ditunjukkan dengan
pengalaman yang traumatik dan penuh dengan stress (Supartini, 2010).
Stres utama dari hospitalisasi yang dialami anak antara lain adalah cemas akibat
perpisahan, kehilangan kendali, cedera tubuh dan nyeri. Reaksi anak terhadap krisis-
krisis tersebut dipengaruhi oleh usia perkembangan anak, pengalaman mereka
sebelumnya dengan penyakit, perpisahan atau hospitalisasi, ketrampilan yang mereka
miliki atau di dapatkan, keparahan diagnosis, dan sistem pendukung yang ada (Wong,
2009).
Anak prasekolah akan bereaksi terhadap tindakan penusukan bahkan mungkin
bereaksi untuk menarik diri terhadap jarum karena menimbulkan rasa nyeri yang
menyebabkan takut terhadap tindakan penusukan. Karakteristik anak usia prasekolah
dalam berespon terhadap nyeri diantaranya dengan menangis keras atau berteriak,
mengungkapkan secara verbal,memukul tangan atau kaki, mendorong hal yang
menyebabkan nyeri, kurang kooperatif, membutuhkan restrain, meminta untuk
mengakhiri tindakan yang menyebabkan nyeri, menempel atau berpegangan pada
orangtua, perawat atau yang lain, membutuhkan dukungan emosi seperti pelukan,
melemah dan antisipasi terhadap nyeri aktual (Hockenberry & Wilson, 2007).

Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulasi bagi perkembangan anak secara
optimal. Dalam kondisi sakit atau anak dirawat di rumah sakit, aktivitas bermain ini tetap
dilaksanakan, namun harus disesuaikan dengan kondisi anak. Pada saat dirawat di rumah
sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan, seperti
marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari
hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa stressor yang ada
dilingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas

1
dari ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan permainan anak
akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan relaksasi
melalui kesenangannya melakukan permainan. Tujuan bermain di rumah sakit pada
prinsipnya adalah agar dapat melanjutkan fase pertumbuhan dan perkembangan secara
optimal, mengembangkan kreatifitas anak, dan dapat beradaptasi lebih efektif terhadap
stress. Bermain sangat penting bagi mental, emosional, dan kesejahteraan anak seperti
kebutuhan perkembangan dan kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada saat anak sakit
atau anak di rumah sakit (Wong, 2009).
Puzzle game merupakan permainan yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan,
tetapi juga dapat melatih kemampuan otak. Berdasarkan penelitian seorang ahli saraf
bernama Robertson, puzzel dapat meningkatkan kemampuan mental. Selain itu,
permainan ini juga dapat mencegah penyakit Alzheimer dan hilang ingatan (Baras, 2010).

Anak-anak dapat memainkan sesuatu dengan tangannya yaitu dengan bongkar


pasang yang bisa melatih kecerdasan otak anak dan berpikir secara logis untuk
menyelesaikan gambar yang bisa menjadi sesuatu yang menarik seperi binatang atau
orang
Bermain ini menggunakan objek yang dapat melatih kemampuan keterampilan
anak yang diharapkan mampu untuk berkreatif dan terampil dalam sebagai hal. Sifat
permainan ini adalah sifat aktif dimana anak selalu ingin mencoba kemampuan dalam
keterampilan tertentu seperti bermain dalam puzzel gambar, disni anak selalu dipacu
untuk selalu terampil dalam meletakkan gambar yang telah di bongkar.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Anak pra sekolah diharapkan dapat melanjutkan tumbuh kembangnya,
mengembangkan aktifitas dan kreatifitas melalui pengalaman bermain dan
beradaptasi efektif terhadap stress karena penyakit dan dirawat.
2. Tujuan Khusus
a. Setelah mengikuti permainan selama 30 menit anak akan mampu:
b. Mengembangkan kreativitas dan daya pikirnya
c. Mengekspresikan perasaannya selam menjalani perawat.

2
d. Mengekspresikan rasa senangnya terhadap permainan
e. Beradaptasi dengan lingkungan
f. Mempererat hubungan antara perawat dan anak

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Anak Usia Pra Sekolah


Anak pra sekolah adalah anak yang berusia antara usia 3-6 tahun, serta biasanya
sudah mulai mengikuti program pre school (Dewi, Oktiawati, Saputri,2015). Pada masa
ini anak sedang menjalani proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat,
sehingga membutuhkan stimulasi yang intensif dari orang di sekelilingnya agar
mempunyai kepribadian yang berkualitas dalam masa mendatang (Muscari, 2005).
Anak prasekolah memiliki masa keemasan (the golden age) dalam
perkembanganya disertai dengan terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis
yang siap merespon dari berbagai aktivitas yang terjadi di lingkunganya. Pada masa ini
merupakan waktu yang tepat untuk mengembangkan berbagai pontensi dan kemampuan
antara lain motorik halus dan kasar, sosial, emosi serta kognitifnya (Mulyasa, 2012).

B. Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Usia Pra Sekolah


Perkembangan Fisik, sosial dan psikologi anak menurut Potts & Mandleco (2012) :
1. Pertumbuhan Fisik
Selama usia sekolah pertumbuhan dan perubahan fisik lebih lambat dibandingkan saat
anak berada di usia bayi dan toddler. Anak-anak akan bertambah rata-rata 2,3 kg
setiap tahun dan bertambah7,5cm setiap tahun (Potts, 2012). Bentuk tubuh anak usia
pra sekolah juga berubah anak akan lebih tinggi dan postur tubuh lebih tegak
dibandngkan dengan postur tubuh lordosis saat todler. Pada usia ini sistem tubuh juga
lebih matang. Indra penciuman berfungsi baik dan maksimal. Anti bodi juga terus
meningkat dan membantu anak dalam melawan penyakit. Anak-anak sudah
mendapatkan 20 gigi bungsu pada usia 3 tahun dan saat di usia akhir pra sekolah gigi
permanent mulai tumbuh. Otot dan tulang terus bertubuh tetapi belum maksimal.
Aktifitas yang berlebihan dan terlalu banyak dapat merusak sel-sel pertumbuhan.
Pada masa ini, anak pra sekolah harus dibekali dengan tidur yang cukup, nutrisi, dan
olahraga untuk meningkatkan perumbuhan tulang dan otot. Anak pra sekolah sudah
dapat menahan pipis dan buang air besar.

4
2. Kemampuan Motorik
Pada masa ini anak dapat berlari, jalan, dan melompat dengan baik. Pada umur 3
tahun anak-anak dapat mengendarai sepeda roda tiga, seimbang dengan satu kaki dan
dapat melompat dan naik turun tangga. Saat berumur 4 tahun anak dapat melompat
dengan satu kaki, berjalan dengan baik, dah menangkap bola dengan dua tangan. Saat
berumur lima tahun dapat melompat dengan ketinggian 10cm, melempar dan
menangkap bola dengan baik, berjalan ke belakang, dan mulai berlajar berbagai
kemampuan motorik seperti berenang dan menari.
Kemampuan motorik berkembangan ke kemampuan yang lebih baik.
Kemampuan ini dapat ditest dengan menggunakan Screening pekembengan Denver
(Denver II). Pada tes ini anak berusia 3 tahun dapat membangun menara dari 9 atau
10 kubus, membuat jembatan dengan balok, dapat membuat lingkarang dan dapat
memakai abju sendiri. Saat berumur 4 tahun anak dapat memakai gunting,
mengambbar tongkat,membuka kancing baju, dan menggambar segi empat atau belah
ketupat. Pada saat berumur 5 tahun anak bisa mengikat sepatu, menggambar segi
empat dan segi tiga, dan menggambar manusia dengan 6 bagian. Pada usia 6 tahun
kemampuan anak-anak menggunakan gunting dan menggambar meningkat.
3. Perkembangan Psikoseksual
Freud mendeskripsikan masa ini sebagai masa Phallic. Saat masa ini anak
mengalami konflik bawah sadar dan lebih tertarik dan mencintai orangtua yang
berbeda jenis kelamin. Karena hal tersebut anak-anak merasa ada kompetisi dengan
orangtua yang sama jenis kelamin dalam mendapatkan perhatian dan cinta dari
orangtua beda jenis kelamin. Misalnya anak perempuan yang cemburu pada
Ibunya. Pada masa ini orangtua dapat diyakin bahwa masalah tersebut normal, tetapi
perlu dibantu dalam mengatasi kecemburuan anak.
Selama masa ini, anak-anak dapat membedakan jenis kelaminya laki atau
perempuan dan mulai mencontoh perilaku orangtua yang berjenis kelamin sama.
Contoh anak perempuan senang meniru ibunya dandan atau anak laki-laki yang
meniru Ayahnya mencukur. Saat ini anak-anak mulai penasaran dengan perbedaan
tubuhh antara jenis kelamin. Saat usia ini anak juga suka bermain peran dan bertanya
banyak hal, Jika tidak dijawab mereka akan menemukan jawaban seniri yang

5
biasnaya salah. Saat usia ini orangtua diharapkan mulai mengajrkan tentang bagian
tubuh dan juga berusaha untuk menjawab semua pertanyaan.
4. Perkembangan Psikososial
Pada masa ini anak sangat semangat dan penuh energi dalam belajar dan
melakukan aktifitas. Hal tersebut meningkatkan kemampuan untuk melakukan
inisiatif, tetapi ketika berlebihan anak-anak akan merasa bersalah. Perasaan akan
adanya masalah akan muncul ketika anak menyadari telah berperilaku buruk. Pada
masa ini anak juga mulai menyadadari perasaan bersalah atau tidak berprilaku
sebagaimana menstinya. Perasaan bersalah muncul ketika anak menyadari aksinya
tidak diperbolehkan orangtua. Ketika anak dapat membedakan perasaan inisiatif dan
bersalah, anak-anak mulai membangun hati nurani (Super Ego). Belajar benar dari
yangs alah dan salah dari yang benar merpakan permulaan perkembangan moral.
Namun demikian anak usia pra sekolah tidak mengerti alasan sesuatu diterima dan
tidak dapat diterima. Anak pra sekolah mengerti perilaku yang tidak dapat diterima
dengan punishments dan rewards handed yang diberikan oleh orangtua.
5. Perkembangan Sosial
Usia pra sekolah adalah usia kritikal dalam pengembangan kemampuan
sosialisasi, baik kemampuan untuk mengurus diri sendiri (Memakai baju, mandi,
makan, bertingkah baik di depan umum) maupun kemampuan untuk bersosialisasi
dnegan orang lain. Usia pra sekolah sedikit egosentrik tetapi lebih mudah untuk
berbagi, dan dapat menikmati bermain dalam grup. Masa pra sekolah merupakan juga
merupakan masa yang dramatis, imajinatid dan kreatif. Pada usia ini anak-anak
cenderung menggunakan kekerasan ketika hal yang dia sukai tidak dapat diterima.
Perilaku ini normal dan seiring dengan bertambahnya usia anak secara bertahap akan
menjadi kurang berontak dan berengkar hingga akhirnya tahun-tahun pra sekolah,
akan lebih bersemangat untuk menyenangkan orang lain dan mengambil tanggung
jawab. Anak juga akan mulai terbiasa dengan aruran dan suka bermain secara
berkelompok.

6
C. Bermain Puzzle
Bermain merupakan suatu aktivitas dimana anak dapat melakukan atau
mempraktikkan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif,
mempersiapkan diri untuk berperan dan berpilaku dewasa (aziz alimul, 2009).

Menurut Patmonodewo (Misbach, Muzamil, 2010) kata puzzle berasal dari


bahasa Inggris yang berarti teka-teki atau bongkar pasang, media puzzle merupakan
media sederhana yang dimainkan dengan bongkar pasang.
Berdasarkan pengertian tentang media puzzle, maka dapat disimpulkan bahwa
media puzzle merupakan alat permainan edukatif yang dapat merangsang kemampuan
matematika anak, yang dimainkan dengan cara membongkar pasang kepingan puzzle
berdasarkan pasangannya.
D. Tujuan Bermain Puzzle
1. Memberikan kesenangan maupun mengembangkan imajinsi anak.
2. Sebagai suatu aktifitas yang memberikan stimulus dalam kemampuan keterampilan,
kognitif, dan afektif sehingga anak akan selau mengenal dunia.
3. Mengembangkan kematangan fisik, emosional, dan mental sehingga akan membuat
anak tumbuh menjadi anak yang kreatif, cerdas dan penuh inovatif.
E. Fungsi Bermain Puzzle
Fungsi utama bermain puzzle yaitu :
1. Perkembangan sensoris motorik
Pada saat melakukan permainan, aktivitas sensoris-motorik merupakan komponen
terbesar yang digunakan anak dan bermain aktif sangat penting untuk perkembangan
fungsi otot. Misalnya, alat permainan yang digunakan untuk bayi yang
mengembangkan kemampuan sensoris-motorik dan alat permainan untuk anak usia
toddler dan prasekolah yang banyak membantu perkembangan aktivitas motorik baik
kasar maupun halus.
2. Perkembangan intelelektual
Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap segala
sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal warna, bentuk, ukuran,
tekstur dan membedakan objek. Pada saat bermain pula anak akan melatih diri untuk
memecahkan masalah. Pada saat anak bermain mobil-mobilan, kemudian bannya

7
terlepas dan anak dapat memperbaikinya maka ia telah belajar memecahkan
masalahnya melalui eksplorasi alat mainannya dan untuk mencapai kemampuan ini,
anak menggunakan daya pikir dan imajinasinya semaksimal mungkin. Semakin
sering anak melakukan eksplorasi seperti ini akan semakin terlatih kemampuan
intelektualnya.
3. Perkembangan sosial
Perkembangan social ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan
lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan menerima.
Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk mengembangkan hubungan
social dan belajar memecahkan masalah dari hubungan tersebut. Pada saat melakukan
aktivitas bermain, anak belajar berinteraksi dengan teman, memahami bahasa lawan
bicara, dan belajar tentang nilai social yang ada pada kelompoknya. Hal ini terjadi
terutama pada anak usia sekolah dan remaja. Meskipun demikian, anak usia toddler
dan prasekolah adalah tahapan awal bagi anak untuk meluaskan aktivitas sosialnya
dilingkungan keluarga.
4. Perkembangan kreativitas
Berkreasi adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan mewujudkannya
kedalam bentuk objek dan/atau kegiatan yang dilakukannya. Melalui kegiatan
bermain, anak akan belajar dan mencoba untuk merealisasikan ide-idenya. Misalnya,
dengan membongkar dan memasang satu alat permainan akan merangsang
kreativitasnya untuk semakin berkembang.
5. Perkembangan kesadaran diri
Melalui bermain, anak mengembangkan kemampuannya dalam mengatur mengatur
tingkah laku. Anak juga akan belajar mengenal kemampuannya dan
membandingkannya dengan orang lain dan menguji kemampuannya dengan mencoba
peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah lakunya terhadap orang lain.
Misalnya, jika anak mengambil mainan temannya sehingga temannya menangis, anak
akan belajar mengembangkan diri bahwa perilakunya menyakiti teman. Dalam hal ini
penting peran orang tua untuk menanamkan nilai moral dan etika, terutama dalam
kaitannya dengan kemampuan untuk memahami dampak positif dan negatif dari
perilakunya terhadap orang lain

8
6. Perkembangan moral
Anak mempelajari nilai benar dan salah dari lingkungannya, terutama dari orang tua
dan guru. Dengan melakukan aktivitas bermain, anak akan mendapatkan kesempatan
untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga dapat diterima di lingkungannya dan
dapat menyesuaikan diri dengan aturan-aturan kelompok yang ada dalam
lingkungannya. Melalui kegiatan bermain anak juga akan belajar nilai moral dan
etika, belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta belajar
bertanggung-jawab atas segala tindakan yang telah dilakukannya. Misalnya, merebut
mainan teman merupakan perbuatan yang tidak baik dan membereskan alat
permainan sesudah bermain adalah membelajarkan anak untuk bertanggung-jawab
terhadap tindakan serta barang yang dimilikinya. Sesuai dengan kemampuan
kognitifnya, bagi anak usia toddler dan prasekolah, permainan adalah media yang
efektif untuk mengembangkan nilai moral dibandingkan dengan memberikan nasihat.
Oleh karena itu, penting peran orang tua untuk mengawasi anak saat anak melakukan
aktivitas bermain dan mengajarkan nilai moral, seperti baik/buruk atau benar/salah.

F. Bentuk Permainan Anak Usia Pra Sekolah


1. Usia 25 – 36 bulan
Tujuannya adalah ;
a. Menyalurkan emosi atau perasaan anak.
b. Mengembangkan keterampilan berbahasa.
c. Melatih motorik halus dan kasar.
d. Mengembangkan kecerdasan (memasangkan, menghitung, mengenal dan
membedakan warna).
e. Melatih kerjasama mata dan tangan.
f. Melatih daya imajinansi.
g. Kemampuan membedakan permukaan dan warna benda.
Alat permainan yang dianjurkan :
a. Alat-alat untuk menggambar.
b. Lilin yang dapat dibentuk
c. Pasel (puzzel) sederhana.

9
d. Manik-manik ukuran besar.
e. Berbagai benda yang mempunyai permukaan dan warna yang berbeda.
f. Bola.

2. Usia 32 – 72 bulan
Tujuannya adalah :
a. Mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan.
b. Mengembangkan kemampuan berbahasa.
c. Mengembangkan pengertian tentang berhitung, menambah, mengurangi.
d. Merangsang daya imajinansi dsengan berbagai cara bermain pura-pura
(sandiwara).
e. Membedakan benda dengan permukaan.
f. Menumbuhkan sportivitas.
g. Mengembangkan kepercayaan diri.
h. Mengembangkan kreativitas.
i. Mengembangkan koordinasi motorik (melompat, memanjat, lari, dll).
j. Mengembangkan kemampuan mengontrol emosi, motorik halus dan kasar.
k. Mengembangkan sosialisasi atau bergaul dengan anak dan orang diluar rumahnya.
l. Memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan, misal : pengertian
mengenai terapung dan tenggelam.
m. Memperkenalkan suasana kompetisi dan gotong royong.
Alat permainan yang dianjurkan :
a. Berbagai benda dari sekitar rumah, buku bergambar, majalah anak-anak, alat
gambar & tulis, kertas untuk belajar melipat, gunting, air, dll.
b. Teman-teman bermain : anak sebaya, orang tua, orang lain diluar rumah.

G. Faktor Yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain


1. Tahap perkembangan, tiap tahap mempunyai potensi / keterbatasan.
2. Status kesehatan, anak sakit à perkembangan psikomotor kognitif terganggu.
3. Jenis kelamin.
4. Lingkungan lokasi, negara, kultur.

10
5. Alat permainan senang dapat menggunakan.
6. Intelegensia dan status sosial ekonomi.
H. Tahap Perkembangan Bermain
1. Tahap eksplorasi
Merupakan tahapan menggali dengan melihat cara bermain.
2. Tahap permainan
Setelah tahu cara bermain, anak mulai masuk dalam tahap permainan.
3. Tahap bermain sungguhan
Anak sudah ikut dalam permainan.
4. Tahap melamun
Merupakan tahapan terakhir anak membayangkan permainan berikutnya.
I. Prinsip Bermain Di Rumah Sakit
1. Tidak banyak energi, singkat dan sederhana.
2. Tidak mengganggu jadwal kegiatan keperawatan dan medis.
3. Tidak ada kontra indikasi dengan kondisi penyakit pasien.
4. Permainan harus sesuai dengan tahap tumbuh kembang pasien.
5. Jenis permainan disesuaikan dengan kesenangan anak.
6. Permainan melibatkan orang tua untuk melancarkan proses kegiatan.

J. Hambatan Yang Mungkin Muncul


1. Usia antar pasien tidak dalam satu kelompok usia.
2. Pasien tidak kooperatif atau tidak antusias terhadap permainan.
3. Adanya jadwal kegiatan pemeriksaan terhadap pasien pada waktu yang bersamaan.

K. Antisipasi hambatan
1. Mencari pasien dengan kelompok usia yang sama.
2. Libatkan orang tua dalam proses terapi bermain.
3. Jika anak tidak kooperatif, ajak anak bermain secara perlahan-lahan.
4. Perawat lebih aktif dalam memfokuskan pasien terhadap permainan.
5. Kolaborasi jadwal kegiatan pemeriksaan pasien dengan tenaga kesehatan lainnya.

11
L. Cara Bermain Puzzel
1. Sediakan kertas puzzel bergambar.
2. Bongkar kertas pazzel tersebut.
3. Pasang kembali kertas pazzel sesuai pasangannya masing.
4. Di anjurkan lebih baik pada bagian ujung kertas terlebih dahulu.
5. Setelah itu bagian samping dengan sesuai pasangannya.
6. Kerjakan sampai selesai sesuai dengan gambar seperti semula sebelm kertas puzzel di
bongkar.

12
BAB III
SAP TERAPI BERMAIN

A. Pokok Bahasan : Terapi Bermain Pada Anak Di Rumah Sakit


B. Sub Pokok Bahasan : Terapi Bermain Anak Usia 3-5 tahun
C. Tujuan : Mengoptimalkan Tingkat Perkembangan Anak
D. Hari, Tanggal : Selasa, 25 Desember 2018
E. Jam : 10.00 s/d 10.30
F. Tempat Bermain : Ruang anak lantai 16
G. Peserta : Untuk kegiatan ini peserta yang dipilih adalah pasien di Ruang
anak yang memenuhi kriteria :
o Anak usia 3 – 5 tahun
o Tidak mempunyai keterbatasan fisik
o Dapat berinteraksi dengan perawat dan keluarga
o Pasien kooperatif
Peserta terdiri dari :
Anak usia pra sekolah sebanyak 4 orang didampingi keluarga
H. Sarana dan Media
Sarana :
o Ruangan tempat bermain
o Tikar untuk duduk
Media :
o Gambar yang belum disusun (puzzle)
I. Pengorganisasian
Leader 1 orang, co leader 1 orang, fasilitator 2 orang dan 1 orang observer dengan
susunan sebagai berikut :
Leader : Nimas Ayu F
Co Leader : Oktavia Gilang P
Observer : Annisa Esa Ariana
Fasilitator : Ardina Perwita A
Agung Hermawan

13
Pembagian Tugas :
Peran Leader
 Katalisator, mempermudah komunikasi dan interaksi dengan jalan menciptakan
situasi dan suasana yang memungkinkan klien termotivasi untuk mengekspresikan
perasaannya
 Auxilery Ego, penopang bagi anggota yang terlalu lemah atau mendominasi
 Koordinator, mengarahkan proses kegiatan ke arah pencapaian tujuan dengan cara
memberi motivasi kepada anggota untuk terlibat dalam kegiatan
Peran Co Leader
 Mengidentifikasi issue penting dalam proses
 Mengidentifikasi strategi yang digunakan Leader
 Mencatat modifikasi strategi untuk kelompok pada sesion atau kelompok yang
akan datang
 Memprediksi respon anggota kelompok pada sesion berikutnya
Peran Fasilitator
 Mempertahankan kehadiran peserta
 Mempertahankan dan meningkatkan motivasi peserta
 Mencegah gangguan atau hambatan terhadap kelompok baik dari luar maupun
dari dalam kelompok
Peran Observer
 Mengamati keamanan jalannya kegiatan terapi bermain
 Memperhatikan tingkah laku peserta selama kegiatan
 Memperhatikan ketepatan waktu jalannya kegiatan terapi bermain
 Menilai performa dari setiap tim terapis dalam memberikan terapi

14
J. Setting Tempat

Keterangan:

: Peserta

: Fasilitator

: Observer

: Leader

: Co Leader

K. Susunan Kegiatan
No Waktu Terapi Anak Ket
1 5 menit Pembukaan :
Co Leader membuka dan Menjawab salam
mengucapkan salam Mendengarkan
Memperkenalkan diri terapis Mendengarkan
Memperkenalkan pembimbing Mendengarkan dan saling
Memperkenalkan anak satu persatu berkenalan
dan anak saling berkenalan dengan Mendengarkan
temannya Mendengarkan
Kontrak waktu dengan anak
Mempersilahkan Leader

15
2 20 menit Kegiatan bermain :
Leader menjelaskan cara permainan Mendengarkan
Menanyakan pada anak, anak mau Menjawab pertanyaan
bermain atau tidak Menerima permainan
Membagikan permainan Bermain
Leader, Co Leader dan Fasilitator Bermain
memotivasi anak
Observer mengobservasi anak
3 5 menit Penutup :
Leader Menghentikan permainan Selesai bermain
Menanyakan perasaan anak Mengungkapkan perasaan
Menyampaikan hasil permainan Mendengarkan
Memberikan hadiah pada anak yang Senang
cepat menyelesaikan puzzlenya dan Senang
bagus Mengungkapkan perasaan
Membagikan souvenir atau kenang- Mendengarkan
kenangan pada semua anak yang Menjawab salam
bermain
Menanyakan perasaan anak
Co Leader menutup acara
Mengucapkan salam

L. Evaluasi
1. Evaluasi struktur yang diharapkan
 Alat-alat yang digunakan lengkap
 Kegiatan yang direncanakan dapat terlaksana
2. Evaluasi proses yang diharapkan
 Terapi dapat berjalan dengan lancar
 Anak dapat mengikuti terapi bermain dengan baik
 Tidak adanya hambatan saat melakukan terapi
 Semua anggota kelompok dapat bekerja sama dan bekerja sesuai tugasnya

16
3. Evaluasi hasil yang diharapkan
 Anak dapat mengembangkan motorik halus dengan menghasilkan satu
gambar yang diwarnai, kemudian digantung
 Anak dapat mengikuti kegiatan dengan baik
 Anak merasa senang
 Anak tidak takut lagi dengan perawat
 Orang tua dapat mendampingi kegiatan anak sampai selesai
 Orang tua mengungkapkan manfaat yang dirasakan dengan aktifitas
bermain

17
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bermain merupakan aspek penting dalam kehidupan anak yang mencerminkan
kemampuan fisik, intelektual, emosional, dan social anak tersebut, Salah satunya adalah
puzzrl. Menurut Patmonodewo (Misbach, Muzamil, 2010) kata puzzle berasal dari bahasa
Inggris yang berarti teka-teki atau bongkar pasang, media puzzle merupakan media sederhana
yang dimainkan dengan bongkar pasang.
Berdasarkan pengertian tentang media puzzle, maka dapat disimpulkan bahwa media
puzzle merupakan alat permainan edukatif yang dapat merangsang kemampuan matematika
anak, yang dimainkan dengan cara membongkar pasang kepingan puzzle berdasarkan
pasangannya.
B. Saran
1) Orang tua
Sebaiknya orang tua lebih selektif dalam memilih permainan bagi anak agar anak
dapat tumbuh dengan optimal. Pemilihan permainan yang tepat dapat menjadi poin
penting dari stimulus yang akan didapat dari permainan tersebut. Faktor keamanan
dari permainan yang dipilih juga harus tetap diperhatikan.
2) Rumah Sakit
Sebagai tempat pelayanan kesehatan, sebaiknya rumah sakit dapat meminimalkan
trauma yang akan anak dapatkan dari hospitalisasi dengan menyediakan ruangan
khusus untuk melakukan tindakan.
3) Mahasiswa
Mahasiswa diharapkan dapat tetap membantu anak untuk mengurangi dampak
hospitalisasi dengan terapi bermain yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak.
Karena dengan terapi bermain yang tepat, maka anak dapat terus melanjutkan tumbuh
kembang anak walaupun dirumah sakit.

18