Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

REPUBLIK INDONESIA SERIKAT

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Tata Negara

Kelompok 2:
Achmad Zulfikar Luthfi (301621004)
Fretz David Tamaela (3016210126)
Herman Yosef Rino Bere (3016210144)
Irwan Prastyo (3016210159)
Sulistyo Dwi Darmawan (3016210290)

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pada tanggal 15 Juli 1946, Dr. H.J. van Mook memprakarsai penyelenggaraan konferensi
di Malino, Sulawesi Selatan. Konferensi ini dihadiri oleh beberapa utusan daerah yang telah
dikuasai Belanda. Konferensi Malino membahas pembentukan Negara-negara bagian dari suatu
Negara federal. Berawal dari konferensi tersebut, Van Mook atas nama Negara Belanda mulai
membentuk negara-negara boneka yang tujuannya adalah untuk mengepung dan memperlemah
keberadaan Republik Indonesia. Dengan terbentuknya Negara-negara boneka, RI dan Negara-
negara bagian akan dengan mudah diadu domba oleh Belanda. Hal ini merupakan perwujudan
dari politik kolonial Belanda, yaitu devide et impera.
Sejak kembalinya para pemimpin RI ke Yogyakarta 6 Juli 1949, perundingan dengan
BFO yang telah dirintis di Bangka dimulai lagi. Yang dibahas dalam perundingan itu adalah
pembentukan pemerintah peralihan sebelum terbentuknyaNegara Indonesia Serikat. Kemudian
pada tanggal 19-22 Juli 1949, diadakan perundingan diantara kedua belah pihak, yang disebut
konferensi antar Indonesia. Konferensi itu memperlihatkan bahwa politik divide et impera
Belanda untuk memisahkan daerah-daerah di luar Republik dari Republik Indonesia, mengalami
kegagalan.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dari pembahasan
ini adalah;
1.Menjelaskan tentang latar belakang terbentuknya konstitusi RIS
2. Menjelaskan tentang sistem pemerintahan yang berlaku pada masa konstitusi RIS
3. Menjelaskan tentang penghapusan negara-negara bagian dan penggabungan diri ke dalam
negara Republik Indonesia

1.3. Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari pembahasan latar belakang di atas antara lain, yaitu ;
1. Untuk mengetahui dan memahami tentang latar belakang terbentuknya konstitusi RIS.
2. Untuk mengetahui dan memahami tentang sistem pemerintahan yang berlaku pada masa
konstitusi RIS
3. Untuk mengetahui dan memahami tentang penghapusan negara-negara bagian dan
penggabungan diri kedalam negara RI

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Latar Belakang Terbentuknya Konstitusi RIS


Kemenangan sekutu pada perang dunia ke dua, mendorong Belanda untuk kembali
berkuasa di Indonesia. Dengan bantuan militer dari Inggris dan Australia, Belanda
berkesempatan mengkonsolidasikan kekuatan militer di Indonesia. Belanda mencoba mendirikan
Negara-negara di bagian wilayah RI. Sejalan dengan usaha Belanda tersebut terjadilah konflik
militer antara tentara Belanda dan pejuang RI yang di kenal dengan Agresi I dan Agresi II tahun
1947 dan 1948. Peristiwa agresi itu mendorong PBB untuk campur tangan dengan mengusulkan
perundingan yang di sebut konferensi meja bundar ( KMB ) tanggal 23 Agustus 1949- 2
November 1949. Dalam konferensi itu di hasilkan sejumlah indikator antara lain, mendirikan
Negara Republik Indonesia Serikat ( Negara RIS).
Racangan untuk UUD Negara RIS di terima kedua belah pihak Indonesia dan Belanda,
dan mulai berlaku pada tanggal 27 Desember 1949. UUD 1945 yang semula berlaku untuk
seluruh Indonesia mulai berlaku tanggal 27 Desember hanya berlaku dalam wilayah Negara
bagian Republik Indonesia.
Menurut pasal 2 konstitusi RIS, RIS meliputi seluruh wilayah Indonesia yaitu daerah
bersama dari Negara RI dan satuan-satuan kenegaraan yang tegak sendiri. Dengan berdirinya
Negara RIS, maka RI hanyalah merupakan salah satu Negara bagian dalam Negara RIS.
Konstitusi RIS menganut sistem parlementer, sebagai konstitusi yang berlaku di negara
Federal RIS, konstitusi RIS menganut sistem kabinet parlementer dimana kekuasaan
pemerintahan ditangan para menteri yang dipimpin oleh Perdana Menteri. Dalam sistem
pemerintahan ini Presiden bukan sebagai kepala pemerintahan, tetapi hanya sebagai kepala
negara.
Pada konferensi antar Indonesia yang diselenggarakan di Yogyakarta itu dihasilkan
persetujuan mengenai bentuk Negara dan hal-hal yang bertalian dengan ketatanegaraan Negara
Indonesia Serikat, diantaranya:
1. Negara Indonesia Serikat disetujui dengan nama RIS berdasarkan demokrasi
dan federalisme.
2. RIS akan dikepalai seorang Presiden konstitusional dibantu oleh menteri-menteri yang
bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat.
3. Akan dibentuk dua badan perwakilan, yaitu sebuah dewan perwakilan rakyat dan sebuah
dewan perwakilan Negara bagian (senat). Pertama kali akan dibentuk dewan perwakilan rakyat
sementara.
4. Pemerintah federal sementara akan menerima kedaulatan bukan saja dari pihak Belanda,
melainkan pada saat yang sama juga dari Republik Indonesia.

Di bidang Militer juga telah disepakati persetujuan sebagai berikut :


1. Angkatan perang RIS adalah angkatan perang nasional. Presiden RIS adalah Panglima
Tertinggi Angkatan Perang RIS.
2. Pertahanan Negara adalah semata-mata hak pemerintah RIS; Negara-negara bagian tidak
akan memiliki angkatan perang sendiri.
3. Pembentukan Angkatan Perang RIS adalah semata-mata soal bangsa Indonesia. Angkatan
perang RIS akan dibentuk oleh pemerintah RIS dengan inti angkatan perang RI (TNI), bersama-
sama dengan orang-orang Indonesia yang ada dalam KNIL, ML, KM, VB, dan territoriale
bataljons.
4. Pada masa permulaan RIS Menteri Pertahanan dapat merangkap sebagai Panglima Besar
APRIS.

Konferensi antar Indonesia dilanjutkan kembali di Jakarta pada tanggal 30 Juli sampai 2
Agustus 1949, dan dipimpin oleh Perdana Menteri Hatta yang membahas masalah pelaksanaan
dari pokok-pokok persetujuan yang telah disepakati di Yogyakarta. Kedua belah pihak setuju
untuk membentuk Panitia Persiapan Nasional yang bertugas menyelenggarakan suasana tertib
sebelum dan sesudah KMB. Sesudah berhasil menyelesaikan masalahnya sendiri dengan
musyawarah di dalam konferensi antar Indonesia, kini Indonesia siap menghadapi KMB.
Pada tanggal 4 Agustus 1949, diangkat delegasi RI yang terdiri dari : Drs. Moh Hatta,
Mr. Moh Roem, Prof. Dr.Mr. Supomo, dr. J.Leimena, Mr. Alisastroamidjojo, Ir. Juanda, Dr.
Sukiman, Mr. Suyono Hadinoto, Dr. Soemitro Djojohadikusumo, Mr. Abdul Karim, Kolonel
T.B. Simatupang, dan Mr. Sumardi. Delegasi BFO di wakili oleh Sultan Hamid II dari
Pontianak.
Pada tanggal 23 Agustus 1949 KMB dimulai di Den Haag negara Belanda. Konferensi
selesai pada tanggal 2 November 1949. Hasil Konferensi adalah sebagai berikut :
• Serah-terima kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda kepada RIS kecuali Papua
Bagian Barat. Indonesia ingin agar semua daerah bekas jajahan Hindia Belanda menjadi
daerah Indonesia, sedangkan Belanda sendiri ingin menjadikan Papua bagian barat
Negara terpisah karena perbedaan etnis. Konferensi ditutup tanpa keputusan mengenai
hal ini, karena itu pasal kedua menyebutkan bahwa Papua bagian barat bukan bagian dari
serah terima, dan bahwa masalah ini akan diselesaikan dalam waktu satu tahun.
• Dibentuknya sebuah persekutuan Belanda-Indonesia , dengan monarch Belanda sebagai
Kepala Negara.
• Pengambilalihan hutang Hindia Belanda oleh RIS.
• Pasukan Belanda, KL, dan KM akan dipulangkan, sedangkan KNIL akan dibubarkan dan
bekas anggota KNIL diperbolehkan menjadi APRIS.

Hasil-hasil KMB kemudian diajukan kepada KNIP untuk diratifikasi. Selanjutnya pada
tanggal 15 Desember 1949 diadakan pemilihan Presiden RIS dengan calon tunggal Presiden
Soekarno. Keesokan harinya Ir. Soekarno terpilih menjadi presiden RIS. Pada tanggal 20
Desember 1949 Moh. Hatta diangkat sebagai Perdana Menteri RIS.
Adapun pemangku jabatan Presiden RI adalah Mr. Asaat ( mantan Ketua KNIP ) yang
dilantik pada tanggal 27 Desember 1949. Pada tanggal 23 Desember 1949 delegasi RIS dipimpin
Moh. Hatta berangkat ke negeri Belanda untuk menandatangani naskah pengakuan kedaulatan
dari pemerintah Belanda. Upacara penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan itu
dilakuka2 bersamaan, yaitu di Indonesia dan Belanda pada 27 Desember 1949. Dengan
demikian, sejak saat itu RIS menjadi Negara merdeka dan berdaulat, serta mendapat pengakuan
internasional. Berakhirlah periode perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia
2.2. Keadaan RIS dari Tahun 1949 – 1950
Republik Indonesia Serikat (RIS) yang merdeka dan berdaulat adalah Negara hukum
demokratis yang berbentuk federal. RIS dlakukan oleh pemerintah federal bersama parlemen dan
senat. Wilayahnya meliputi seluruh daerah Indonesia yang terdiri atas:
1. Negara Republik Indonesia, Negara Indonesia Timur, Negara Pasundan, Negara Jawa Timur,
Negara Madura, Negara Sumatera Timur dan Negara Sumatera Selatan.
2. Kesatuan poltik yang berkebangsaan yaitu Jawa Tengah, Bangka, Belitung, Riau, Kalimantan
Barat, Dayak Besar, Daerah Banjar, Kalimantan Tenggara dan Kalimantan Timur.
3. Daerah-daerah lain yang bukan daerah bagian.

Alat perlegkapan RIS terdiri atas presiden, Dewan Menteri, Senat, Dewan perwakilam
Rakyat, mahkamah agung, dan dewan pemeriksa keuangan. Parlemen terdiri atas 150 orang,
Senat sebagai perwakilan Negara-negara bagian adalah Badan Penasehat. Tiap Negara bagian
mengangkat 2 orang wakil di Senat. Sementara itu rakyat tidak setuju apabila Konstitusi RIS
diberlakukan secara dominan. Dalam keadaan rakyat yang kecewa, ada beberapa pihak yang
mengambil kesempatan tersebut dengan mengadakan suatu aksi pengacaan atau pemberontakan
di beberapa daerah.
Gerakan pertama adalah aksi pengacauan oleh Westerling di daerah Sumatera Utara,
Sulawesi Selatan dan Bandung. Dalam melancarkan aksinya, Westerlint menyatakan dirinya
sebagai “Ratu Adil” dengan dalih untuk menyelamatkan RIS.
Pada 23 Januari 1950 Westerling menguasai Bandung dan merencanakan akan
mengambil alih pemerintahan di Jakarta. Pemberontakan berhasil ditumpas, namun Westerling
berhasil meloloskan diri. Melalui penyelidikan intelijen, Sultan Hamid II terlibat dalam
pemberontakan ini. Ia menentang masuknya TNI ke Negara Bagian Kalimantan Barat dan tidak
mau mengakui menteri pertahanan RIS, Sultan Hamengkubuwono IX.
Di Makassar terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Andi Azis yang semula menolak
peleburan anggota-anggota KNIL ke dalam APRIS. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan
oleh pasukan APRIS. Andi Azis menyerahkan diri dan ia dijatuhi hukuman 14 tahun penjara
oleh Panglima Tentara di Yogyakarta.
Di Maluku Selatan, timbul pemberontakan pimpinan Dr. Soumokil, bekas jaksa agung
NIT. Pada tanggal 25 April 1950 ia memproklamasikan berdirinya Republik Maluku Selatan
(RMS). Pemerintah mengirimkan dr. Leimena untuk menyelesaikan masalah tersebut secara
diplomatik. RMS menolak untuk berunding. Akhirnya pemerintah membentuk ekspedisi di
bawah pimpinan Kol. Kawilarang untuk menumpas RMS. Pada tanggal 28 September 1950
pasukan ekspedisi mendarat di Ambon dan menguasai pulau Ambon. Pemberontakan berhasil
dipatahkan namun beberapa tokohnya melarikan diri ke Belanda, kemudian membentuk
“Pemerintah buangan”.
Ketiga pemberontakan yang terjadi selama masa pemerintahan RIS merupakan suatu
keadaan yang memang dipersiapkan oleh Belanda untuk mengacau RIS melalui kekuatan
militernya. Kondisi ini akan menimbulkan suatu anggapan pada dunia internasional bahwa RIS
tidak dapat memelihara keamanan di wilayahnya.
Persoalan lain yang dihadapi Pemerintah RIS adalah adanya desakan dari rakyat di
beberapa Negara bagian untuk segera dapat bergabung dengan RIS dan mengubah bentuk
Negara. Kebijaksanaan pemerintah dalam hal ini didasarkan pada konstitusi sementara yang
terbentuk sebagai hasil persetujuan bersama, di mana pemerintah telah berjanji untuk
menjalankan dan memelihara peraturan yang tercantum dalam konstitusi RIS. Oleh karena itu,
dalam melaksanakan kebijakan politik dalam negerinya terutama menyangkut perubahan bentuk
kenegaraan RIS, pemerintah harus berpegang pada ketentuan-ketentuan Konstitusi Sementara
itu.
Negara bagian yang menghendaki adanya perubahan bentuk Negara itu antara itu antara
lain NIT. Dalam rapat istimewa yang terjadi pada bulan Maret 1950, di mana partai-partai politik
dan organisasi yang mewakili rakyat Indonesia Timur telah mengeluarkan suatu pernyataan:
1. Rakyat Indonesia Timur tidak setuju dengan adanya NIT, karena NIT adalah ciptaan Van
Mook;
2. Rakyat Indonesia Timur adalah rakyat Indonesia yang setia pada kemerdekaan 17 Agustus
1945;
3. Republik Indonesia adalah ciptaan Rakyat Indonesia sendiri bedasarkan pada Proklamasi 17
Agustus 1945;
4. Dalam mempertahankan isi Proklamasi 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia Timur tetap
menganggap Irian adalah suatu daerah Republik Indonesia yang harus direbut kembali.
Selain NIT, dewan Bangka menyatakan setuju dengan segala resolusi dan mosi-mosi yang
menuntut pemasukan daerah otonom Bangka ke dalam Republik Indonesia. Di Madura muncul
suatu tuntutan dari fraksi Indonesia dan Fraksi Islam dalam DPRS Madura yang menuntut agar
Madura hendaknya digabungkan dalam Republik. Hal yang serupa dilakukan oleh Negara
Sumatera Selatan.
RIS dihadapkan pada persoalan keuangan Negara. Sesuai dengan hasil keputusan KMB
bahwa Repulik harus menanggung semua hutang, baik hutang dalam negeri maupun hutang luar
negeri yang merupakan warisan dari pemerintah Hindia-Belanda. Untuk mengatasi kesulitan di
bidang keuangan, RIS mengambil jalan:
1. Mengadakan rasionalisasi dalam susunan Negara dan dalam badan-badan serta alat-alat
pemerintahan;
2. Menyelidiki secara lebih baik dan teliti mengenai anggaran Negara-negara bagian;
3. Mengintensiveer pemungutan berbagai iuran dan cukai;
4. Mengadakan pajak baru;
5. Mengadakan pinjaman nasional.
Periode ini ditandai dengan berlakunya negara Republik Indonesia Serikat sebagai akibat
perjanjian Konferensi Meja Bundar, yang isinya:
1. Didirikannya negara Republik Indonesia Serikat
2. Pengakuan kedaulatan oleh pemerintah kerajaan Belanda kepada Negara
Republik Indonesia Serikat.
3. Didirikannya Uni antara RIS dan kerajaan Belanda.

Masalah berikutnya yang dihadapi oleh Pemerintah RIS adalah mengenai persoalan
“Negara Hukum”. Langkah pertama dalam lapangan kehakiman ialah mempelajari keadaan tata
hokum Indonesia pada waktu penyerahan kedaulatan, terutama menyelidiki bagian hokum mana
yang masih berlaku menurut Konstitusi RIS, dan bagian hokum mana yang telah hilang
kekuatannya terkait dengan penyerahan kedaulatan. Ini akan diselidiki pula, hokum mana yang
harus segera dicabut, diubah atau diganti terkait dengan RIS.
Masalah terakhir adalah angkatan perang. TNI merupakan inti dari Angkatan Perang RIS.
Maka dalam persetujuan KMB mengenai persoalan tentara yang disebut hanya persoalan
reorganisasi KNIL. Masalah ini pula yang turut menyebabkan pemberontakan yang dipimpin
oleh Andi Azis.
2.3 Akhir Pemberlakuan Pemerintahan RIS

Negara RIS buatan Belanda tidak dapat bertahan lama karena muncul tuntutan-tuntutan
untuk kembali ke dalam bentuk NKRI sebagai perwujudan dari cita-cita Proklamasi 17 Agustus
1945. Gerakan menuju pembentukan NKRI mendapat dukungan yang kuat dari seluruh rakyat.
Banyak Negara-negara bagian satu per satu menggabungkan diri dengan Negara bagian Republik
Indonesia.
Pada tanggal 10 Februari 1950 DPR Negara Sumatera Selatan memutuskan untuk
menyerahkan kekuasaannya pada RI. Tindakan semacam ini dengan cepat dilakukan oleh
Negara-negaa bagian lainnya yang cenderung untuk menghapuskan Negara-negara bagian dan
menggabungkan diri ke dalam RI. Pada akhir Maret 1950, hanya tersisa empat Negara bagian
dalam RIS, yaitu Kalimantan Barat, Sumatera Barat, Negara Indonesia Timur, dan Republik
Indonesia. Pada akhir April 1950, maka hanya Republik Indonesia yang tersisa dalam RIS.
Penggabungan Negara-negara bagian ke dalam RI menimbulkan persoalan baru
khususnya dalam hubungan luar negeri. Hal ini karena RI hanya Negara bagian RIS, hubungan
luar negeri yang berlangsung selama ini dilakukan oleh RIS. Sehingga peleburan Negara RIS ke
dalam RI harus dihindari untuk menjamin kedaulatan negara. Solusinya adalah RIS harus
menjelma menjadi RI.
Setelah diadakan konferensi antara Pemerintah RIS dan RI untuk membahas penyatuan
negara, pada tanggal 19 Mei 1950, pemerintah RIS dan RI menandatangani Piagam Persetujuan
pembentukan Negara kesatuan. Pokok dari isi piagam tersebut adalah kedua belah pihak dalam
waktu yang sesingkat-singkatnya melaksanakan pembentukan Negara kesatuan berdasar
Proklamasi 17 Agustus 1945.
Rapat-rapat antara pemerintah RIS dan RI mengenai Negara kesatuan semakin sering
dilakukan. Setelah rapat mengenai Pembagian daerah yang akan merupakan wilayah NKRI,
maka pada tanggal 15 Agustus 1950 diadakan rapat gabungan yang terakhir dari DPR dan Senat
RIS di mana dalam rapat ini akan dibicarakan “piagam pernyataan” terbentuknya NKRI oleh
Presiden Soekarno. Setelah pembacaan piagam pernyataan terbentuknya NKRI, maka dengan
demikian secara resmi Negara Kesatuan RI terbentuk kembali pada tanggal 17 Agustus 1950.
2.4 Masalah atau Penyimpangan-penyimpangan yang Terjadi Pada Masa Konstitusi RIS
Berdirinya negara RIS dengan Konstitusi RIS (yang terdiri dari Mukadimah 4 alinea, 6
bab, 197 pasal dan lampiran) sebagai undang-undang dasarnya, menimbulkan penyimpangan,
antara lain:

1. Negara RI hanya berstatus sebagai salah satu negara bagian, dengan wilayah kekuasaan daerah
sebagaimana dalam persetujuan Renville dan sesuai dengan bunyi pasal 2 Konstitusi RIS.
2. UUD 1945 sejak tanggal 27 Desember 1949 hanya berstatus sebagai UUD negara bagian RI.
3. Demokrasi yang berkembang adalah demokrasi liberal.
4. Berlakunya sistem parlementer yaitu pemerintahan bertanggung jawab kepada parlemen
(DPR). Pemerintahan dikepalai seorang Perdana Menteri, sedangkan Presiden sebagai Kepala
Negara.
5. Sebagai akibat sistem parlementer, kabinet tidak mampu melaksanakan programnya dengan
baik dan dinilai negatif oleh DPR.
6. Terjadinya pertentangan politik di antara partai-partai politik saat itu (yang bercorak agama,
nasionalis, kedaerahan dan sosialis, dengan system multipartai)

BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Adanya keinginan dari pemerintah Belanda untuk kembali menduduki Indonesia maka
menyebabkan konflik antara Indonesia dengan Belanda. Penyelesaian konflik ini dilakukan oleh
pihak PBB dengan adanya pengadaan Konferensi Meja Bundar (KMB) dan salah satu hasil dari
Konferensi tersebut adalah pembentukan Negara Republik Indonesia Serikat.
Setelah itu, pada tanggal 27 Desember 1949 sudah dibentuk dan
diberlakukannya Konstitusi Republik Indonesia Serikat (KRIS). Konstitusi RIS ini memiliki
sifat hanya sementara saja, dengan ketentuan bentuk negara Federal, sistem pemerintahan yang
digunakan adalah parlementer, dengan daerah yang sudah ditentukan dalam konstitusi tersebut
dan juga terdapat pengaturan hubungan negara dengan rakyat.
Pemberlakuan Konstitusi RIS hanya 8 bulan, yaitu mulai tanggal 27 Desember 1949
hingga 17 Agustus 1950. Ketika tanggal 17 agustus 1950, Indonesia sudah kembali dalam bentuk
Kesatuan. Hal tersebut disebabkan oleh tuntutan-tuntutan masyarakat untuk kembali ke dalam
bentuk kesatuan.

3.2. Saran

Kami menyadari bahwa dalam makalah kami ini masih banyak terdapat kekurangan atau
kesalahan dan masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kiranya kami sangat mengharapkan
kritik dan saran dari berbagai pihak demi sempurnanya makalah ini yang akhirnya dapat berguna
bagi kita semua.
Satu Biru, Biru Pancasila!