Anda di halaman 1dari 72

KERANGKA ACUAN KERJA

TAHUN ANGGARAN 2017

Kementrian Negara / Lembaga : Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Unit Eselon I / II : Direktorat Jenderal Sumber Daya Air

Program : Pengelolaan Sumber Daya Air

Hasil (Outcome) : Meningkatnya Kinerja Pengelolaan Sumber Daya Air

Kegiatan : Pengelolaan Bendungan, Embung, dan Bangunan


Penampung Air Lainnya

Indikator Kinerja Kegiatan : Jumlah dokumen rencana teknis untuk konstruksi


bendungan, embung, dan bangunan penampung air
lainnya

Keluaran (Output) : Rencana teknis untuk konstruksi bendungan, embung,


dan bangunan penampung air lainnya
Jenis Pekerjaan : Detail Desain Bendungan Merangin di Kab. Merangin

Volume : 1

Satuan Ukur : Dokumen

1. LATAR BELAKANG

Kabupaten Merangin memiliki potensi air permukaan yang cukup melimpah. Kondisi ini dicerminkan oleh
sebagian besar sungai-sungai yang ada disepanjang tahun dapat dikatakan tidak mengalami kekeringan,
sehingga potensi air permukaan sangat besar. Disamping potensi sungai yang sangat besar, dibeberapa
wilayah kondisi air sungai dan air permukaan banyak terjadi overland flow. Maka banyak dibeberapa
wilayah sering dijumpai terjadinya banjir dan genangan. Sungai Batang Merangin mengalirkan air yang
dapat diandalkan sepanjang tahunnya. Dengan kondisi demikian, ada potensi untuk dimanfaatkan untuk
membangkitkan listrik dengan perkiraan kapasitas daya ± 100 MW.

Salah satu pendekatan dalam pemecahan masalah ini yaitu perlu dibuat suatu bangunan penampung air
berupa bangunan air bendungan. Bendungan tidak hanya digunakan sebagai tampungan air pada saat
musim hujan tetapi dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan lainnya. Sehingga dalam tahap
perencanaannya perlu dilakukan perencanaan yang seksama sehingga di dapat manfaat yang optimal.

Sehubungan dengan hal tersebut, Pada Tahun Anggaran 2017, Balai Wilayah Sungai Sumatera VI telah
melaksanakan pekerjaan FS Bendungan di Kab. Merangin, dimana tujuannya adalah mengkaji perencanaan
bendungan dalam menampung air yang pada musim kemarau bisa dimanfaatkan untuk mensuplai air
dengan berbagai kebutuhan sehingga dapat mewujudkan ketahanan air, pangan dan energi. Di samping itu,
tujuan utama pembangunan bendungan diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk

1
mengendalikan banjir, pembangkit tenaga listrik, melestarikan tanah, serta dapat dimanfaatkan untuk air
baku dan air minum, air baku untuk irigasi dan lain-lain.

Studi kelayakan merupakan tahap yang sangat penting untuk menentukan layak atau tidaknya suatu
daerah aliran sungai dikembangkan ditinjau dari segi teknis, ekonomis dan lingkungan. Dalam beberapa
kasus berdasarkan prioritas pengembangannya, sebelum dilakukan studi kelayakan juga perlu dilakukan
prastudi kelayakan. Pada dasarnya kedua jenis studi ini mempunyai objek penyelidikan dan urutan
pelaksanaan yang sama. Perbedaannya adalah dalam hal bobot penyelidikan dan segi penilaiannya.

Manfaat Bendungan Merangin :


1. Mensuplai air baku untuk Kabupaten Merangin dan sekitarnya sebesar 2 m3/dt;
2. Mengairi areal irigasi untuk areal dengan luas 20.000 ha;
3. Potensi PLTM sebesar 120 MW.

Sehingga pada Tahun Anggaran 2018, Balai Wilayah Sungai Sumatera VI akan melaksanakan kegiatan
Detail Desain Bendungan Merangin di Kab. Meranginsebagai lanjutan dari kegiatan sebelumnya.

Pada kegiatan ini, dilakukan pengukuran topografi, Penyelidikan Geologi, Analisa Hidrologi dan Maket
Waduk dan Animasi.

2. MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud dari pekerjaan ini adalah menyiapkan data-data teknis topografi dan mekanika tanah/geologi.
Adapun tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk untuk memperoleh data-data topografi dan mekanika tanah
untuk acuan desain Bendungan Merangin yang aman dan siap untuk dikonstruksi.

3. SASARAN
Sasaran dari kegiatan Detail Desain Bendungan Merangin di Kab. Merangin yaitu :
1. Untuk menunjang ketahanan air,
2. Ketahanan pangan Prov.Jambi.

4. LOKASI KEGIATAN
Secara administrasi lokasi kegiatan dilaksanakan di sungai Batang Merangin Kecamatan Sungai Manau
Kabupaten Merangin

2
Gambar 1. Peta Kabupaten Merangin

5. SUMBER PENDANAAN
Sumber dana untuk pekerjaan ini adalah dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Tahun
Anggaran 2018 sebesar Rp. 4.450.000.000,- (Empat Milyar Empat Ratus Lima Puluh Juta Rupiah).

6. NAMA DAN ORGANISASI PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN


PK. Perencanaan dan Program Balai Wilayah Sungai Sumatera VI Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat

7. DATA DASAR
a. Data Hidrologi, Klimatologi Dan Tinggi Muka Air
b. Peta-Peta RTRW, RUTR, Peta Jaringan, RBI
c. Peta Geologi Permukaan
d. Data Demografi (Kependudukan) dan Sosial Ekonomi
e. Data Wilayah Administrasi
f. Laporan Studi Terdahulu

8. STANDAR TEKNIS
a. Pd T-03.1-2005-A, Volume I Penyusunan program penyelidikan, metode pengeboran dan deskripsi log
bor;
b. Pd T-03.2-2005-A, Volume II Pengujian lapangan dan laboratorium;

3
c. Pd T-03.3-2005-A, Volume III Interpretasi hasil uji dan penyusunan laporan penyelidikan geoteknik;
d. Pd T-08-2004-A, Instrumentasi tubuh bendungan tipe urugan dan tanggul;
e. RSNI M-03-2002, Metode analisis stabilitas lereng statik bendungan tipe urugan;
f. Pd T-14-2004-A, Analisis stabilitas bendungan tipe urugan akibat beban gempa;
g. RSNI T-10-2004, Tata cara penentuan gradasi bahan filter pelindung pada bendungan tipe urugan;
h. Investigasi lapangan:
i. SNI 06-2487-1991, Metode pengujian lapangan kekuatan geser baling pada tanah berkohesi;
ii. SNI 03-2827-1992, Metode pengujian lapangan dengan alat sondir;
iii. SNI 03-3968-1995, Metoda pengukuran kelulusan air pada tanah zone tak jenuh dengan lubang
auger;
iv. SNI 03-3969-1995, Metode pengeboran air tanah dengan alat bor putar sistem sirkulasi langsung;
v. SNI 03-4153-1996, Metode pengujian penetrasi dengan SPT;
vi. SNI 03-4148.1-2000, Tata cara pengambilan contoh tanah dengan tabung dinding tipis.
i. Laboratorium:
i. SNI 03-1966-1990, metode pengujian batas plastis tanah;
ii. SNI 03-1967-1990, metode pengujian batas cair dengan alat casagrande;
iii. SNI 03-2435-1991, metode pengujian laboratorium tentang kelulusan air untuk contoh tanah;
iv. SNI 03-2455-1991, metode pengujian triaxial A;
v. SNI 03-2812-1992, metode pengujian konsolidasi tanah satu dimensi;
vi. SNI 03-2815-1992, metode pengujian triaxial B;
vii. SNI 03-4813-1998, metode pengujian triaxial untuk tanah kohesif dalam keadaan tanpa
konsolidasi dan drainase;
viii. SNI 03-3420-1994, metode pengujian kuat geser langsung tanah tidak terkonsolidasi tanpa
drainase;
ix. SNI 2813:2008, Cara uji kuat geser langsung tanah terkonsolidasi dan terdrainase.
j. Instrumentasi
i. SNI 03-3404-1994, metode pemasangan inklinometer;
ii. SNI 03-3442-1994, tata cara pemasangan pisometer pipa terbuka casagrande;
iii. SNI 03-3452-1994, tata cara pemasangan pisometer pneumatik
k. Dan lain-lain (standar dan pedoman yang berkaitan dengan pekerjaan ini).

9. STUDI STUDI TERDAHULU


FS Bendungan di Kabupaten Merangin (2017)

10. REFERENSI HUKUM


a. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan.
b. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor
27/PRT/M/2015 Tentang Bendungan.

4
c. Peraturan Persiden Republik Indonesia Nomor : 04 Tahun 2015, Tentang Perubahan keempat atas
peraturan Persiden Republik Indonesia Nomor : 54 Tahun 2010, tentang pedoman Pelaksanaan
Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah.
d. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor : 31/PRT/M/2015 tentang
Perubahan Ketiga Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 07/PRT/M/2011 tentang Standard an
Pedoman Pengadaan Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultasi.
e. Undang-undang RI No. 11 tahun 1974 tentang Pengairan;
f. Undang-undang Jasa Konstruksi No. 18 Tahun 1999;
g. Undang-undang RI No. 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan;
h. Undang-Undang RI No. 32 Tahun 2009, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
i. Undang-Undang RI No. 2 Tahun 2012, tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum.
j. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 27 tahun 2015 tentang Bendungan
k. Peraturan Perundangan dan Standar Lainnya yang Berlaku.

11. LINGKUP KEGIATAN


Lingkup kegiatan pekerjaan DED Bendungan di Kab. Merangin Tahap I, mencakup tapi tidak terbatas pada
terhadap aktivitas yang dijelaskan bagian berikut:
1. Lingkup Kegiatan ini adalah mencakup sebagai berikut :
A. Kegiatan Persiapan
B. Review Studi terdahulu
C. Pemetaan Topografi
 Dam Site
 Bangunan Fasilitas
 Bangunan Utama
 Spillway
 Pengelak
 Intake
 Daerah Genangan
 Quarry dan Borrow Area
 Jalan Akses
D. Penyelidikan Geologi Teknik & Mekanika Tanah
 Bor Inti Dam Site
 Tapak Bendungan
 Spillway
 Diversion Tunnel/Pengelak
 Material Konstruksi
 Pemetaan Geologi

5
 Dam Site
- Pondasi Tapak Bendungan
- Pondasi Spillway
- Pondasi Diversion Tunnel/Pengelak
 Abutment Bendungan (kanan dan Kiri)
 Quarry dan Borrow Area
 Daerah Genangan/Waduk
E. Analisis Hidrologi dan Hidrometri
 Sedimen
 Debit
 Data Hidroklimatologi
F. Membuat Maket dan Animasi Video/Flash Bendungan Merangin;
G. Penyusunan Jadwal Pelaksanaan;

2. Survei dan Penyelidikan

a. Pengukuran dan pemetaan topografi (Spesifikasi, KP-Irigasi PT-02, Lampiran I)


i. Pengukuran dan pemetaan topografi lokasi rencana kolam waduk
Pemetaan dan pengukuran calon kolam waduk, termasuk jalan akses, dan rencana lokasi
pemukiman kembali (resettlement) yang diperlukan untuk memperkirakan volume waduk,
kedudukan bendungan dan bangunan pelengkap, serta luas daerah yang akan dibebaskan termasuk
bangunan dan areal tanaman.
Untuk calon tubuh bendungan dan calon waduk batas-batas yang dipetakan adalah:
 Daerah yang dikelilingi oleh sebuah garis yang letaknya pada elevasi 1,20 kali tinggi calon
bendungan atau sampai batas sempadan/green belt waduk (minimal 100 m diukur dari muka
air tertinggi), dipilih mana yang paling menentukan;
 Daerah yang tercakup 100 meter di luar ujung mercu calon bendungan dan melebar ke arah
hilir sejauh 200 m dari poros calon bendungan
 Skala pemetaan adalah:

No. Luas Daerah Genangan Waduk Skala peta Interval Kontur

1 Lebih besar dari 100 Ha 1 : 2.000 -1 : 5.000 1,0 m atau lebih kecil

2 Antara 50 – 100 Ha 1 : 1.000 -1 : 2.000 1,0 m atau lebih kecil

3 Lebih kecil dari 50 Ha 1 : 500 - 1 : 1.000 1,0 m atau lebih kecil

ii. Pengukuran dan pemetaan topografi bendungan dan bangunan pelengkap

6
Pemetaan tempat kedudukan calon bendungan diperlukan untuk memperoleh gambar situasi,
penampang memanjang dan penampang melintang untuk mendukung desain bendungan dan
bangunan pelengkap. Peta ini dibuat dengan skala 1:500 atau skala 1:1.000 dengan interval kontur
0,50 m atau lebih kecil.

iii. Pengukuran situasi, propil memanjang dan melintang sungai


 Pengukuran situasi sungai batang merangin 1 : 2.000:
- pada bagian hulu dimulai dari bagian paling hulu daerah genangan sepanjang 1 km ke arah
hulu atau sampai batas yang masih terpengaruh backwater muka air tertinggi;
- Pada bagian hilir, sepanjang 2 km dari rencana outlet ke arah hilir, dan
- 250 m ke kiri dan kanan pinggir sungai
 Pengukuran penampang melintang sungai dengan interval 50 m pada sungai yang lurus dan
setiap 25 m pada sungai yang berbelok diukur di sepanjang palung (talweg) dan dapat
ditetapkan dengan menggunakan pita ukur baja. Di tempat-tempat tikungan diperlukan
potongan-potongan melintang tambahan di antara potongan-potongan yang sudah disebutkan
di atas..
 Pengukuran situasi lokasi rencana quarry dan borrow area skala 1:500

b. Studi Hidrologi, hidraulik dan Sedimen (Spesifikasi, Lampiran II)


i. Pengumpulan data hidrologi/klimatologi yang sudah ada
Penyedia Jasa diminta mengumpulkan data klimatologi/hidrologi eksisting di bawah ini yang ada di
dalam atau sekitar areal proyek dan menyiapkan peta yang menunjukkan lokasi stasiun klimatologi
dan hidrologi yang ada.
 Curah hujan (harian , bulanan, tahunan) minimum 10 tahun terakhir
 Klimatologi 10 minimum tahun terakhir (temperature, kelembaban udara, lamanya penyinaran
matahari dan lain-lain) (harian rata-rata, minimum harian, maksimum harian, rata-rata
bulanan)
 Debit sungai (harian, bulanan, tahunan) minimum 10 tahun tertakhir
 Catatan banjir (catatan debit sungai jam-jaman selama banjir, atau tanda-tanda banjir pada
bantaran sungai atau pohon atau pada jembatan)
 Evaporasi (bulanan, tahunan)
 Catatan sedimen melayang (suspended load) selama musim hujan dan musim kemarau beserta
debit sungai
 Catatan sedimen pada bendungan yang sudah ada
 Daerah tangkapan/Catchment area (batas-batas daerah tangkapan, kontur, jaringan
drainase/anak sungai, peta penggunaan lahan, peta tutupan lahan, peta tanah, peta geologi)

7
ii. Analisis hidrologi dan hidraulik
 Analisa data curah hujan (Analisa debit andalan, ketersediaan air, Analisa debit banjir rencana,
dan volume genangan)
 Analisa data klimatologi (temperatur, kelembaban udara, lamanya penyinaran dan sebagainya)
 Analisis ketersediaan inflow (SNI 19-6738-2002 Metode perhitungan debit andal air sungai
dengan analisis lengkung kekerapan)
 Pengukuran debit sungai (Spesifikasi SNI 03-2414-1991; 03-2819-1992 & 03-2820-1992 tentang
Metode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka
 Analisa debit banjir rencana (spesifikasi SNI 2415-2016 tentang Tata Cara Perhitungan Debit
Banjir Rencana) dan PMF
 Penentuan volume waduk
 Analisi pengaruh pengurangan debit banjir oleh waduk
 Analisis backwater waduk selama banjir
 Analisis hidraulik di hilir waduk akibat pelepasan debit banjir dari spillway
 Pengambilan sampel kualitas air untuk Analisa laboratorium
iii. Hidro-orologi (Pengaturan air tanah dan melindungi tanah dari erosi)
iv. Survey Erosi dan Sedimentasi
 Analisa sumber, besarnya tingkat erosi dan sedimentasi yang terjadi
 Pendugaan laju erosi dengan menggunakan metode USLE (Universal Soil Loss Equation) atau
PUKT (Persamaan Umum Kehilangan Tanah)
 Perkiraan umur waduk

c. Survei dan Penyelidikan Geologi, Geologi teknik dan Material Konstruksi (Spesifikasi KP-Irigasi, PT-03,
Lampiran III)

Pekerjaan investigasi geologi teknik dan geoteknik dilakukan di daerah: tapak bendungan utama dan bangunan
pelengkap, borrow area dan quarry, serta daerah genangan rim waduk.

1) Bendungan Dan Bangunan Pelengkap


Lingkup pekerjaan Geologi Teknik dan Geoteknik di daerah ini adalah sebagai berikut :
a. Pekerjaan Persiapan
Pihak yang melaksanakan penyelidikan Geologi Teknik & Geoteknik di haruskan mengumpulkan dan
mempelajari data dan informasi hasil investigasi yang sudah dilakukan, termasuk peta geologi
regional (dilengkapi data studi terdahulu).
b. Pekerjaan Pemetaan Geologi Permukaan dan Penyelidikan Geologi:
i. Pemetaan Geologi Permukaan.
Pada lingkup pemetaan geologi permukaan ini harus mencakup luasan : 8H x (2H+L+2H), H
adalah tinggi bendungan dan L panjang puncak bendungan atau sekitar 100 ha. Pekerjaaan
pemetaan tersebut mencakup :

8
 Pembahasan singkapan-singkapan batuan;
 Rock properties;
 Hydrogeologi (antara lain : mata air/spring, aquifer, dll);
 Potensi kelongsoran
ii. Investigasi Bawah Permukaan.
Investigasi Tahap DD ini di maksudkan untuk mengetahui keadaan fondasi (Subsurface) secara
terperinci, sehingga dapat digunakan secara baik oleh pendesain.
Pengambilan contoh dengan menggunakan metoda pengeboran adalah untuk suatu cara untuk
mengetahui perlapisan batuan yang ada dibawah permukaan secara maksimal pada suatu titik.
Tahapan penyelidikan detail ini merupakan kelanjutan dari penyelidikan tahap sebelumnya. Investigasi
rinci ini mencakup :
a. Pekerjaan Pengeboran Inti.
i. Pekerjaan Pengeboran ini dilaksanakan dengan menggunakan mesin bor putar (rotary drilling
machine).

Gambar 2. Mesin bor putar (Rotary drilling machine)


ii. pengambilan contoh inti secara menerus (continuous coring) dilakukan untuk seluruh kedalaman
dengan menggunakan jenis barrel sesuai dengan kondisi batuannya (single, double atau triple
core barrels), sehingga contoh inti batuan dapat terambil dengan baik.
iii. Kecepatan pengeboran harus dipantau dan dicatat pada log bor dalam satuan menit per 0,3 m (1
ft). Waktu yang diperlukan untuk melaksanakan pengeboran digunakan untuk menentukan
kecepatan pengeboran.
iv. Melalui lubang-lubang pengeboran dilakukan pengujian-pengujian sebagai berikut:

9
 Uji penetrasi standar (SPT), interval kedalaman 2 meter, dilakukan sampai dengan nilai SPT
mencapai 50 pukulan/30 cm. Tabung SPT harus mempunyai ukuran standard, ujung tabung
bawah (shoe) harus dalam kondisi tajam. Palu (hammer) mempunyai ukuran berat dan tinggi
jatuh yang standar. Jatuhnya palu harus dibuat secara otomatis (tidak boleh secara manual).
Palu dengan berat 63,5 kg (140 lb) yang dijatuhkan secara berulang dengan tinggi 0,76 m (30
in). Pelaksanaan pengujian dibagi dalam tiga tahap, yaitu berturut-turut setebal 150 mm (6
in) untuk masing-masing tahap. Tahap pertama dicatat sebagai dudukan, sementara jumlah
pukulan untuk memasukkan tahap kedua dan ketiga dijumlahkan untuk memperoleh nilai
pukulan N atau perlawanan SPT (dinyatakan dalam pukulan/0,3 m atau pukulan per foot).
 uji kelulusan air, pada lapisan batuan lunak atau tanah dilakukan dengan cara open end test
(falling head atau constant head, tergantung jenis tanah/batuan), tanpa tekanan air,
sedangkan untuk batuan keras menggunakan tekanan air (packer test). Tekanan air yang
digunakan disesuaikan dengan tinggi tekanan (head) desain sampai ke posisi titik yang diuji
dan jenis batuannya. Pengujian dilakukan pada tekanan dengan urutan: 1/3 Pmaks – 2/3 Pmaks –
Pmaks – 2/3 Pmaks – 1/3 Pmaks. Hasil pengujian digambarkan dalam bentuk grafik hubungan debit
(q) versus tekanan (P) dalam format yang standar. Uji kelulusan ini dilakukan pada setiap
interval 3 meter. Cara pengujian dapat mengacu SNI 03-2411, Cara uji lapangan tentang
kelulusan air bertekanan.
v. Konsultan dalam pelaksanaan pengeboran diwajibkan membuat buku catatan harian lapangan
yang antara lain mencatat: kemajuan pengeboran, tekanan air yang digunakan, jenis barrel,
kehilangan air (water loss), kejadian penting saat pengeboran, pengujian-pengujian di dalam
lubang bor, dll.
vi. Hasil pengeboran berupa inti batu/tanah ditempatkan ke dalam kotak inti (core box) yang
terbuat dari kayu atau material setara yang kuat disimpan selama minimal 10 tahun. Kotak
tersebut diberi label sesuai dengan : nama proyek, kedalaman, SPT, nomor kotak, dll.

Gambar 3 Kotak penyimpanan contoh inti batuan dan labeling


vii. Penentuan lokasi dan kedalaman mendapatkan persetujuan Direksi.

10
viii. Untuk setiap kedalaman dan perubahan jenis lapisan tanah harus dibuat deskripsinya, meliputi
kedalaman, kedalaman muka air tanah, jenis tanah, warna tanah serta sifat tanah.
ix. Lubang bor yang sudah selesai harus diisi dengan mortar dan di beri tanda menggunakan patok
beton dengan diberi nomor bor,tanggal, koordinat dan elevasi.
x. Lokasi titik bor harus difoto dan diplot pada peta situasi rencana bangunan dan di buat
deskripsinya (termasuk koordinat dan elevasinya).
xi. Hasil pekerjaan pengeboran ini digambarkan dalam bentuk “Boring Log” yang menunjukkan
kedalaman, muka air tanah, jenis tanah/batuan, warna dan sifat dari lapisan tanah, SPT,
kelulusan air, core recovery, dll.
Aspek-aspek yang harus dicatat pada log bor,adalah sbb:
 Data survei topografi yang meliputi lokasi pengeboran dan elevasipermukaan, serta lokasi
tanda patok dan datum (jika tersedia);
 Data akurat dari setiap deviasi lokasi bor rencana;
 Identifikasi tanah dan batuan dasar yang terdiri atas kepadatan, konsistensi, warna, kadar
air, struktur, dan sumber geologi;
 Kedalaman berbagai lapisan tanah dan batuan secara umum;
 Jenis tabung contoh, kedalaman, penetrasi, dan contoh inti terambil (core recovery);
 Perlawanan pengambilan contoh sesuai dengan tekanan hidraulik atau pukulan per
kedalaman penetrasi tabung contoh, serta ukuran dan jenis hammer, dan tinggi jatuh;
 Interval pengambilan contoh tanah dan contoh inti terambil (core recovery);
 Jumlah bor inti batuan, kedalaman dan panjang, inti terambil (core recovery), dan nilai
kualitas batuan (RQD);
 Jenis operasi pengeboran yang digunakan untuk mempercepat dan menstabilkan lubang
bor;
 Perbandingan perlawanan terhadap pengeboran;
 Kehilangan air pembilas;
 Pengamatan muka air tanah dengan tanda-tanda perubahan karena permukaan gelombang
atau turun naiknya air sungai;
 Tanggal dan waktu pengeboran mulai, selesai, dan pengukuran muka air tanah;
 Penutupan lubang bor.
xii. Volume pekerjaan pengeboran inti dapat dilihat pada table di bawah.
xiii. Secara keseluruhan prosedur pengeboran, SPT, pengujian permeabilitas, pengambilan contoh
tanah dan cara penggambaran bor log tersebut harus mengikuti Pd T-03.2-2005-A.
xiv. Foto dokumentasi
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam dokumentasi foto inti adalah seperti berikut;
 Setelah pemindahan dari lubang bor, contoh inti yang telah dkeluarkan harus segera difoto,
dan diberi label untuk identifikasi log bor, interval kedalaman dan jumlah bor inti;

11
 Kadang-kadang diperlukan gambar close-up dari bentuk inti yang menarik. Untuk itu,
permukaan contoh inti dibasahi dengan semprotan dan atau digosok dengan spon sebelum
pengambilan foto agar dapat memperjelas perbedaan warna contoh inti;
 Pita ukur atau penggaris harus ditempatkan melintasi bagian atas atau dasar ujung blok
untuk memberikan skala dalam foto. Pita ukur harus mempunyai panjang minimal 1 meter
(3 ft) dan penandaan yang relatif besar dan sangat mencolok harus diupayakan agar terlihat
dalam foto;
 Bagian tabung yang berwarna (untuk yang tidak ada contoh) biasanya diperlukan dalam
foto untuk memberikan indikasi pengaruh perubahan dalam umur film, proses film, dan
sumber cahaya yang masuk (ambient). Keseragaman kondisi cahaya dari hari ke hari harus
diatur oleh petugas foto, dan disesuaikan dengan jenis film yang dipilih.
2) Borrow Area dan Quarry
a. Sumuran Uji (Test Pit)
Maksud dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui ketebalan lapisan tanah yang akan digunakan
sebagai material timbunan dari sumber material (borrow area). Pada saat pelaksanaan sumuran uji
tersebut juga perlu dilakukan diskripsi jenis dan warna tanah di sertai foto dari atas dan foto dari
samping juga harus dicatat elevasi ketinggian dari lokasi tersebut. Ukuran sumuran uji tersebut 1-1,5
meter persegi dengan maksimum kedalaman galian 3 m. Pekerjaan investigasi di borrow area ini
dibantu dengan pengeboran tangan kedalaman 8 meter untuk mengetahui penyebaran dan
ketebalan lapisan tanah yang akan digunakan sebagai material timbunan.
Pembuatan sumur uji dan pengeboran tangan ini dihentikan bilamana :
i. Telah dijumpai dengan lapisan keras, dan diperkirakan benar-benar keras pada sekeliling lokasi
tersebut.
ii. Bila di jumpai rembesan air tanah yang cukup besar sehingga sulit untuk di atasi.
iii. Bila dinding galian mudah runtuh yang membahayakan keselamatan pekerja gali, dinding
sumur harus diberi pengaman dengan membuat papan-papan penahan dinding galian.
iv. Pada sumur uji di atas, dilakukan:
- Pengambilan contoh tanah terganggu (disturbed samples) minimal seberat 30 – 40 kg untuk
pengujian index properties dan engineering properties, berdasarkan uji pemadatan di
laboratoriun dengan standard proctor;
- Kadar air asli menggunakan tabung tanah khusus untuk kadar air.
- Pengambilan contoh tanah harus dilakukan dari bagian atas hingga ke bawah dinding
sumur sedemikian rupa, sehingga contoh yang terambil mewakili lapisan tanah yang akan
diambil sebagai material timbunan.
v. Pada lubang bor tangan dilakukan pengambilan contoh tanah untuk pengujian kadar air asli
dan index properties.
Banyak dan volume pengambilan contoh tanah di daerah ini dapat dilihat pada table di bawah.

12
b. Pengambilan Contoh Tanah.
Untuk pengujian contoh tanah di laboratorium untuk mengetahui sifat fisik dan sifat teknik tanah,
prosedur dan metode pengambilan contoh tanah ini sangat penting dan harus mengikuti standar SNI
yang berlaku.
i. Pengambilan Contoh Tanah Asli/tak terganggu (Undisturbed Samples). Agar data parameter
dan sifat-sifat tanahnya masih dapat di gunakan maka perlu di perhatikan pada saat
pengambilan, pengangkutan dan penyimpangan contoh-contoh tanah memperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
- Gunakan tabung contoh tanah tabung Shelby yang memenuhi standar dan mempunyai
ujung tabung yang tajam dan rasio diameter dalam dan diameter luar yang memenuhi SNI;

Gambar 4 Skema tabung dinding tipis Shelby


- Sebelum pengambilan contoh tanah dilakukan, dinding tabung bagian dalam di beri
pelumas (oli) agar gangguan terhadap contoh tanah dapat di perkecil, terutama pada waktu
mengeluarkan contoh tanah ini;
- Agar kadar asli contoh tanah tidak terlalu berubah, maka pada kedua ujung tabung perlu
diberi/ditutup dengan paraffin yang cukup tebal dan tabung tersebut di beri simbol lokasi
dan kedalaman dari contoh tanah tersebut;
- Pada saat pengambilan contoh tanah ini diusahakan dengan memberikan tekanan hidrolis
(jangan dipukul) sentris;
- Pada waktu penyimpanan tabung sampel supaya dihindarkan dari sinar matahari langsung;
- Tabung-tabung contoh tanah diangkut ke laboratorium menggunakan peti tanah yang
dilapisi busa/foam untuk meredam getaran selama pengangkutan;

13
- Core box harus terbuat dari material yang tahan minimal 10 tahun, ukuran lebar 50 cm,
panjang 100 cm dan tebal 10 cm. Harus disimpan terlindung dari hujan dan sinar matahari
(ruangan khusus).
ii. Pengambilan Contoh Tanah Terganggu (disturbed samples).
Pengambilan contoh tanah terganggu di peroleh dari pembuatan sumur uji/Test Pit atau
Trench (Paritan Uji) sebanyak 630 kg. Pengambilan contoh tanah di ambil sebagai berikut : bila
lapisan tanah masing-masing lapisan cukup tebal, maka harus di ambil contoh tanah dari
masing-masing lapisan dengan cara pengambilan contoh secara vertikal.
iii. Pengujian Laboratorium Mekanika terdiri atas :
- Material tanah timbunan :
a. Sifat fisik (index properties):
- Kadar Air asli;
- Specific Gravity;
- Atterberg Limit(LL, PI, SL);
- Grain size Analysis.
b. Sifat Teknik (Engineering Properties)
- Uji standar proctor
Uji sifat teknik berdasarkan dari hasil uji kepadatan di laboratorium menggunakan
standard proctor (pada (-1) – (+3) % OMC), yakni:
- Triaxial Compression Test (UU dan CUBP), tekanan sel yang diberikan disesuaikan
dengan tinggi bendungan;
- Permeability Test;
- Consolidation Test;
- Double hydrometer dan pin hole test.
- Material pasir dan kerikil :
- Specific Gravity & Absorption;
- Soundness;
- Silty (clay content)
- Sieve Analysis;
- Organic Impurities;
- Kepadatan relatif menggunakan meja getar (untuk filter dan transisi).
- Permeability test
- Direct Shear Test
- Material Batu :
- Specific Gravity & Absorption;
- Abrassion;
- Soundness;
- Compresive strength;

14
- Material random batu
- Specific Gravity;
- Large Scale Direct Shear Test (diameter maksimum 5 cm);
- Permeability Test;
- Analisis gradasi.

3) Rim Waduk dan Sekitarnya


Sebelum digenangi, suatu studi geologi teknik harus dilakukan untuk mempelajari stabilitas lereng
daerah rim waduk bendungan, karena bila terjadi suatu longsoran yang volumenya cukup besar
masuk ke dalam kolam waduk, gelombang yang ditimbulkannya akan membuat air waduk
melimpas di atas puncak bendungan (overtopping), disamping akan menambah sedimen waduk.
Untuk melakukan hal tersebut, diperlukan peta topografi, geomorfologi, geologi regional dan
interpretasi foto udara yang mencakup luas genangan waduk. Dari peta topografi dan intepretasi
foto udara, dapat diperoleh kondisi tumpuan dan rim waduk yang mencakup, antara lain :

1) Adanya gunung dan pegunungan, yang menunjukkan bahwa umur geloginya cukup tua.
2) Adanya teras perbukitan yang menunjukkan umur geologinya relatif lebih muda, seperti contoh
di bawah.
Penyelidikan longsoran untuk perencanaan penanggulangan bahaya longsoran pada rim waduk,
dilakukan untuk memahami mekanisme longsoran, mengetahui karakteristik longsoran lereng, dan
memprediksi deformasi lereng. Cara penyelidikan terdiri atas penyelidikan pendahuluan dan
penyelidikan rinci. Penyelidikan pendahuluan meliputi pengumpulan data setempat dan evaluasi,
penyelidikan topografi, dan penyelidikan lapangan, untuk pengenalan ciri-ciri dan penyebab
longsoran serta sifat-sifat fisik tanah (batuan). Penyelidikan terperinci ini tidak hanya difokuskan
pada daerah longsoran saja, tetapi juga harus mencakup daerah yang lebih luas, dan pemetaan foto
udara dari daerah yang tidak (kurang) jelas dalam foto udara sebelumnya.

3. Diskripsi Proyek dan Draft Desain


a. Diskripsi Proyek
Penyedia Jasa diminta untuk menyediakan penjelasan dan gambaran detail calon rencana bendungan
yang direkomendasikan dari hasil kajian pemilihan dan optimasi beberapa alternative rencana
bendungan, sebagai berikut:
i. Waduk: luas DAS (km2), curah hujan tahunan DAS (mm), volume aliran tahunan (juta m3), luas
genangan (km2) pada HWL dan LWL, total volume tampungan waduk ( juta m3), kapasitas
tampungan waduk efektif (juta m3), kedalaman draw-down tersedia (m)
ii. Main dam: tipe bendungan, tinggi (m), panjang (m), lebar puncak (m) dan volume (m3)
iii. Auxiliry dam: tipe, tinggi (m), panjang (m), lebar puncak (m) dan volume (m3)
iv. Bangunan pelimpah: banjir rencana (m3/det), tipe pintu, jumlah dan ukuran pintu

15
v. Jalan akses/jembatan: panjang dan lebar jalan akses/jembatan (m), kelas jalan/jembatan,
kapasitas jalan/jembatan (ton)
vi. Pemukiman kembali/Relokasi: jumlah desa, jumlah rumah tangga, jumlah orang, jalan/jembatan
yang perlu direlokasi
vii. Aliran sungai untuk pemeliharaan lingkungan: debit (m3/det), metode pelepasan aliran
viii. Perkiraan kebutuhan biaya total
b. Draft Desain
Untuk pekerjaan desain ini Penyedia Jasa harus mengkaji tapi tidak terbatas pada point-point berikut:
 Main dam/Auxiliry dam: lokasinya secara topografi dan geologi/geotek, alternative tipe bendungan,
ketersediaan material tubuh bendungan, treatment pondasi, metode pengalihan sungai, bangunan
pengelak, banjir selama konstruksi, intrumentasi selama konstruksi dan setelah selesai dibangun,
termasuk terkiraan kapasitas PLTA, lokasinga, tipe, daerah layanan, ketinggian head, keluaran daya
listrik, dll.
 Bangunan pengelak: metode pengalihan sungai, lokasi penempatan bangunan pengelak;
 Intake: lokasinya untuk penempatan intake dan settling basin, kondisi geologi/geotek, akses untuk
pemeliharaan;
 Bangunan pelimpah: lokasi dan tipenya, cavitasi selama pengaliran, prosedur operasi pintu
pelimpah selama banjir, dampak di hilir selama pengaliran/pelepasan aliran;
 Lain-lain: kapasitas tempat pembuangan material dan pemanfaatannya setelah pembangunan
selesai, pemanfaatan fasilitas sementara setelah selesai pembangunan, pemanfaatan dan rencana
penghijauan pada areal quarry/borrow area, rencana pemukiman kembali, rencana land clearing
pada areal genangan sebelum pengisian waduk.
c. Gambar-gambar draft desain
 Lay out yang menggambarkan keseluruhan bendungan, areal genangan/tampungan, jalan akses,
fasilitas sementara, disposal area, borrow/quarry area;
 Lay out bendungan, auxiliary dam, intake dan pelimpah;
 Tampak hulu dan hilir dari bendungan, auxiliary dam, intake dan pelimpah;
 Penampang tipikal dari bendungan, auxiliary dam, intake dan pelimpah;
 Tampak treatment pondasi bendungan
 River diversion
 Tampak dan penampang memanjang/melintang spillway, peredam energi termasuk pintu;
 Tampak dan penampang memanjang/melintang Intake termasuk pintu intake;
 Tampak dan penampang memanjang/melintang bangunan penangkap sedimen/stilling basin;
 Tampak dan penampang disposal area
 Tampak dan propil borrow/quarry area
 Tampak Lay out fasilitas sementara, termasuk base camp, concrete plant, tempat pabrikasi besi,
lapangan penyimpanan peralatan konstruksi, Gudang dan fasilitas lainnya

16
d. Rencana dan jadwal pelaksanaan
Penyedia jasa harus menyiapkan rencana dan jadwal pelaksanaan kegiatan dengan
mempertimbangkan kondisi klimatologi/hidrologi local, kondisi transportasi dan aksesibilitas,
ketersedian material, peralatan konstruksi dan tenaga kerja.

12. KELUARAN
Keluaran yang dihasilkan dari pelaksanaan pekerjaan Detail Desain Bendungan Merangin di Kab.
Meranginadalah tersedianya data dasar berupa kajian evaluasi kelayakan terhadap rencana
pembangunan bendungan beserta analisis pendukung yang dituangkan kedalam dokumen studi.

13. PERALATAN, MATERIAL, PERSONIL DAN FASILITAS DARI PPK


a. Laporan dan data studi terkait yang ada di wilayah ini pada tahun sebelumnya.
b. Staf Pengawas dan pendamping, untuk memperlancar kegiatan studi Balai Wilayah Sungai Sumatera
VI akan mengangkat seorang pengawas/pendamping yang berpengalaman dari petugas Balai Wilayah
Sungai Sumatera VI

14. PERALATAN DAN MATERIAL DARI PENYEDIA JASA KONSULTANSI


Untuk kelancaran kegiatan ini penyedia jasa wajib menyediakan fasilitas penunjang seperti mobil, sepeda
motor dan selutu peralatan sebagaimana dituntut dalam KAK ini.

15. LINGKUP KEWENANGAN PENYEDIA JASA


a. Sewaktu-waktu penyedia dapat diminta oleh pemilik pekerjaan untuk mengadakan diskusi atau
memberikan penjelasan tentang hasil pekerjaan.
b. Penyedia harus menunjuk wakilnya yang sewaktu-waktu bisa dihubungi dalam rangka pelaksanaan
pekerjaan dan mempunyai kuasa untuk bertindak atau mengambil keputusan atas nama penyedia.
c. Penyedia diminta menyerahkan foto dokumentasi saat pelaksanaan di lapangan maupun kegiatan
kantor.

16. JANGKA WAKTU PENYELESAIAN KEGIATAN


Masa pekerjaan maksimal 270 (dua ratus tujuh puluh) hari kalender, terhitung mulai tanggal ditetapkan
dalam SPMK.

17
17. PERSONIL
a. Profesional Staf
KUALIFIKASI JUMLAH
ORANG
NO. POSISI
PENDIDIKAN KEAHLIAN PENGALAMAN BULAN
(OB)
1 Ketua Tim Minimal Sarjana Teknik Memiliki sertifikat  Berpengalaman kerja *)
Sipil (S1) atau Sarjana keahlian Ahli Sumber minimal 10 tahun (S1)
S-2 Teknik Daya Air (SDA) atau minimal 6 tahun
Sipil/Pengairan, lulusan Utama, minimal ahli (S2) bidang
Perguruan Tinggi SDA madya yang managerial,
Negeri atau Perguruan dikeluarkan oleh perencangan,
Tinggi Swasta yang LPJK. perencanaan supervisi
telah terakreditasi konstruksi dari
Pekerjaan yang
berhubungan dengan
pekerjaan embung
dan bendungan.
 Pernah menjadi team
leader atau co-team
leader sekurang-
kurangnya 3 kali,

2 Ahli Teknik Minimal Sarjana Teknik Memiliki Sertifikat  Berpengalaman kerja *)


Bendungan Sipil (S1) atau Sarjana Keahlian Ahli Teknik 8 tahun untuk (S1)
Besar / Ahli S-2 Teknik Bendungan Besar atau minimal 4
Sumber Daya Sipil/Pengairan, lulusan Muda yang tahun (S2) di bidang
Air Perguruan Tinggi dikeluarkan oleh bendungan/desain/s
Negeri atau Perguruan LPJK. truktur/sumber daya
Tinggi Swasta yang air untuk
telah terakreditasi perencanaan dan
pelaksanaan
pembangunan
embung atau
bendungan dan
didukung referensi
dari pengguna jasa
3 Ahli Hidrologi / Minimal Sarjana Teknik Memiliki sertifikat  Berpengalaman kerja *)
Ahli Sumber Sipil (S1) atau Sarjana keahlian Ahli Sumber 4 tahun untuk (S1)
Daya Air S-2 Teknik Daya Air (SDA) Muda, atau minimal 1
Sipil/Pengairan, lulusan yang dikeluarkan tahun (S2) di bidang
Perguruan Tinggi oleh LPJK. bendungan/desain/s
Negeri atau Perguruan truktur/sumber daya
Tinggi Swasta yang air untuk
telah terakreditasi perencanaan dan
pelaksanaan
pembangunan
embung atau
bendungan dan

18
didukung referensi
dari pengguna jasa
4 Ahli Geodesi Minimal Sarjana S-1 Memiliki Sertifikat  Berpengalaman kerja *)
Geodesi/Geologi, Keahlian Ahli Geodesi minimal 4 tahun
lulusan Perguruan Muda yang untuk (S1) atau
minimal 1 tahun
Tinggi Negeri atau dikeluarkan oleh
untuk (S2) di bidang
Perguruan Tinggi LPJK. Geodesi, Analisis
Swasta yang telah Pengukuran untuk
terakreditasi perencanaan dan
pelaksanaan
bendungan, dan
didukung referensi
dari pengguna jasa.

5 Ahli Geologi/ Minimal Sarjana S-1 Memiliki Sertifikat  Berpengalaman kerja *)


Geoteknik Teknik Sipil/Geologi Keahlian Ahli 8 tahun untuk (S1)
lulusan Perguruan Geoteknik Muda atau minimal 4 tahun
Tinggi Negeri atau yang dikeluarkan (S2) di bidang Geologi
Perguruan Tinggi oleh LPJK. Teknik, Analisis
Swasta yang telah Batuan dan Tanah
terakreditasi untuk perencanaan
dan pelaksanaan
pembangunan
embung atau
bendungan dan
didukung referensi
dari pengguna jasa

b. Uraian Tugas Tenaga Ahli

NO TENAGA AHLI TUGAS


1 Ketua Tim / Ahli Teknik - Melakukan persiapan administrasi kantor dan lapangan;
Bendungan Besar - Melaksanakan Expose Pendahuluan, Interim dan Draft Final;
- Mengarahkan jalannya keseluruhan kegiatan mulai dari awal hingga akhir
penyelesaian kegiatan termasuk mengarahkan seluruh ahli anggota Tim
yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan studi;
- Menyiapkan rencana kerja dan jadwal pelaksanaan pekerjaan dan
menugaskan anggota tim untuk melaksanakan setiap tugas kunci
- Melakukan monitoring dan evaluasi kemajuan pekerjaan secara berkala
untuk menjamin bahwa batas waktu penyerahan hasil-hasil pekerjaan
dapat dipenuhi;
- Melakukan koordinasi, diskusi dengan Tim, Direksi Pekerjaan serta pihak
intitusi/instansi/lembaga terkait lainnya;
- Menyediakan dukungan teknis dan petunjuk dalam semu aspek
pelaksanaan jasa

19
- Mengadakan pelaksanaan kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat
(PKM);
- Mengoreksi hasil Analisa dan Pra Desain bendungan di lokasi studi;
- Bertanggung jawab terhadap mutu pekerjaan dan waktu pelaksanaan
sesuai Kontrak dan RMK;
- Bertanggung jawab terhadap pengajuan progress report (termijn)
pekerjaan;
- Bertanggung jawab atas dokumen laporan produk perencanaan yang
diserahkan baik secara kualitas maupun kuantitas;
- Bertanggung jawab langsung kepada PPK Perencanaan dan Program BWSS
VI terhadap pengendalian waktu, mutu pekerjaan dan waktu penugasan;
- Bekerjasama dengan ahli lainnya, memilih rencana bendungan yang paling
2 Ahli Teknik Bendungan
cocok, berdasarkan atas perbandingan beberapa alternative rencana,
Besar
merekomendasikan alternative rencana definitip yang paling layak, dan
dapat diimplementasikan;
- Memeriksa dan mereview penyiapan peta topografi tapak bendungan dan
areal genangan. Membuat layout as bendungan yang diusulkan dan
bangunan pelengkapnya;
- Melaksanakan inspeksi lokasi/penelitian lapangan untuk menentukan
luasan pengukuran dan pemetaan topografi yang diperlukan untuk pra
desain. Membuat klasifikasi tipe medan, meander sungai, dll.
- Berdasarkan data dari test pengeboran dan setelah mengidentifikasi
kemungkinan lokasi patahan, mengevaluasi as bendungan yang diusulkan
dan bangunan pelengkapnya.
- Dengan menggunakan data dari ahli hidrologi, melaksanakan analisis
hidraulik untuk berbagai debit rencana ( flood routing, dll) tergantung pada
skema rencana yang akan diimplementasikan. Ini juga termasuk dimensi
dari bangunan pengelak, pelimpah, pintu pembilas, bangunan lainnya yang
terkait.
- Menyiapkan perbandingan biaya untuk beberapa skema rencana
bendungan yang berbeda yang ditinjau dan menggunakannya sebagai
masukan untuk menentukan rencana bendungan yang paling layak.
- Membuat analisis seepage untuk penentuan ukuran filter drainase dan
analisis stabilitas untuk berbagai kondisi
- Menyiapkan data yang dibutuhkan untuk desain hidromekanik
- Menyiapkan data yang diperlukan ahli ekonomi untuk membuat analisis
finansial dan ekonomi.
- Melakukan kajian dan analisa stabilitas bendungan;

20
- Melakukan basic desain berupa penentuan as bendungan, desain
bendungan, pelimpah, terowongan pengelak, hidro power, dan
kelengkapannya;
- Memperhitungkan optimum ukuran bendungan yaitu volume dan tinggi
bendungan;
- Melakukan kajian dan evaluasi manfaat bendungan untuk suplai air baku,
irigasi, tenaga listrik, wisata air dan pengendalian banjir;
- Menyiapkan gambar-gambar pra desain, tampak dan penampang
bendungan, dan bangunan pelengkapnya. Menyiapkan copy soft file
gambar-gambar, layout, tampak dan potongan serta gambar-gambar
lainnya. Menyiapkan perhitungan dan desain hydraulic,
- Melakukan survei dan mengumpulkan data harga satuan material,
peralatan dan tenaga kerja serta harga satuan konstruksi setempat atau
sekitar areal rencana, baik dengan survei pasar langsung maupun dari
harga standar yang dikeluarkan pabrikan atau oleh instansi pemerintah;
- Membuat daftar kuantitas pekerjaan
- Menyiapkan analisis harga satuan pekerjaan untuk berbagai item mata
pembayaran konstruksi
- Menyiapkan metode kerja tiap item pekerjaan dan metode pelaksanaan
pekerjaan
- Menyiapkan rencana pelaksanaan pekerjaan
- Mengadakan pertemuan konsultasi masyarakat (bersama ahli lainnya)
kepada stakeholder terkait;
- Melaporkan hasil pekerjaannya kepada ketua tim secara periodik;
- Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan atau didelegasikan oleh
Ketua Tim dan mempertanggung jawabkan hasil pekerjaannya kepada
Ketua Tim.
- melakukan koordinasi, diskusi dengan Tim, Direksi Pekerjaan, serta pihak
3 Ahli hidrologi intitusi/instansi/lembaga terkait lainnya;
- melaksanakan inventarisasi lapangan, pengumpulan data hidroklimatologi;
- melakukan dan pemeriksaan, penyaringan data secara manual maupun
secara statistik untuk interpretasi pemenuhan neraca air;
- mengelaborasi data-data hidroklimatologi hasil studi terdahulu;
- menganalisa kebutuhan air;
- menganalisa ketersediaan air
- menganalisa debit banjir rencana
- bersama Tim menyusun laporan Nota Desain hasil studi;
- membantu menyusun Lap. Draft.dan Final perencanaan teknis
- bertanggung jawab langsung kepada Ketua Tim terhadap penyelesaian

21
kajian hidrologi.
- melakukan koordinasi, diskusi dengan Tim, Direksi Pekerjaan, serta pihak
intitusi/instansi/lembaga terkait lainnya;
- melakukan kajian hidraulik struktur terhadap bangunan-bagunan rencana
dan pelengkap lainnya;

- Mereview data dan peta-peta yang tersedia


4 Ahli Geodesi
- Menyiapkan rencana detail kerja dan jadwal pelaksanaan pekerjaan
geodesi;
- Mengarahkan tim pengukuran di lapangan;
- Menyiapkan peta dasar yang menunjukkan lokasi as bendungan, areal
genangan,
- Mengawasi pelaksanaan pekerjaan survey tapak bendungan dan areal
genangan, dan menetapkan titik control horizontal dan vertical
- Menyiapkan peta-peta topografi, penampang memanjang dan melintang
- Menghitung dan menyusun hasil perhitungan serta laporan Topografi;
- Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan atau didelegasikan oleh
Ketua Tim dan mempertanggung jawabkan hasil pekerjaannya kepada
Ketua Tim.
- Menyiapkan rencana detail kerja dan jadwal pelaksanaan pekerjaan
5 Ahli Geologi/
geoteknik;
Geoteknik
- Mengumpulkan data tentang kondisi tanah dan geologi permukaan,;
- Melakukan penelitian geologi di area rencana daerah genangan bendungan
dalam kaitan dengan adanya patahan, lipatan atau kemungkinan geologis
lainnya yang berpotensi mengakibatkan kebocoran bendungan;
- Melakukan evaluasi terhadap material bahan timbunan tubuh bendungan,
evaluasi hasil pekerjaan boring, sondir dan tes laboratorium mekanika
tanah;
- Melaksanakan penelitian pada lokasi-lokasi rencaana alternative as
bendungan berkenaan dengan adanya jalur patahan aktif maupun non-
aktif yang berbahaya bagi data hasil penyelidikan geologi teknik;
- Melakukan analisa stabilitas lereng tubuh bendungan;
- Memberikan masukan dan arahan untuk kestabilan dan keamanan
bangunan dari sisi geoteknik;
- Menyusun laporan Geologi/Mekanika Tanah;
- Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan atau didelegasikan oleh
Ketua Tim dan mempertanggung jawabkan hasil pekerjaannya kepada
Ketua Tim.

22
c. Asisten Tenaga Ahli
• Asisten Ahli Teknik Bendungan Besar / Ahli Teknik Sumber Daya Air
• Asisten Ahli Hidrologi / Ahli Teknik Sumber Daya Air
• Asisten Ahli Geodesi
• Asisten Ahli Geoteknik
d. Sub Professional Staf
• Surveyor
• Pembantu Surveior
• Juru Gambar Autocad
• Operator Komputer
• Pembantu umum
• Sopir, dll.
Jumlah tenaga dan lama penugasan tenaga pendukung tersebut disesuaikan dengan kebutuhan

18. JADWAL TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN


Penyedia jasa wajib menyediakan jadwal tahapan kegiatan Merangin Multipurpose Dam Development
Subproject dan tidak melebihi 270 (dua ratus tujuh puluh) hari kalender.

19. RENCANA MUTU KONTRAK


Penyedia jasa membuat Draft Rencana Mutu Kontrak (RMK) sesuai dengan ketentuan yang berlaku
selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kalender sejak dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dan
Rencana Mutu Kontrak disetujui sebagai Dokumen oleh Direksi Pekerjaan selambat-lambatnya 14 (empat
belas) hari kalender sejak dikeluarkannya SPMK. RMK yang telah disetujui digandakan sebanyak 3 (tiga)
rangkap.

20. LAPORAN BULANAN


Penyedia jasa selama waktu pelaksanakan kegiatan membuat laporan bulanan, sebagai bagian dari
pengendalian RMK, yang diserahkan kepada direksi setiap bulannya selambat-lambatnya 5 (lima) hari
setiap terhitung 30 (tiga puluh) hari kalender pelaksanaan kegiatan. Laporan bulanan digandakan
sebanyak 3 (tiga) rangkap.

Laporan bulanan sekurang-kurangnya berisikan, yaitu:


- Informasi tentang progress pekerjaan selama periode pelaporan
- Permasalahan yang dihadapi serta langkah-langkah yang diambil
- Pekerjaan yang akan dilakukan selanjutnya

23
21. LAPORAN PENDAHULUAN
Penyedia jasa menyerahkan draft laporan pendahuluan untuk dikoreksi oleh direksi pekerjaan selambat-
lambatnya 30 (tiga puluh) hari kalender sejak dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK). Draft
laporan yang telah disetujui dijadikan bahan untuk diskusi pendahuluan dan diperbanyak sebanyak 3
(tiga) rangkap. Draft laporan pendahuluan sekurang-kurangnya berisikan:
- Bab I. Pendahuluan
- Bab II. Gambaran Umum
- Bab III. Metodologi Kegiatan
- Bab IV. Rencana Pelaksanaan Kegiatan
Laporan pendahuluan harus memuat sebagai berikut :
 Metodelogi pelaksanaan pekerjaan
 Rencana survei
 Mobilisasi personil dan peralatan
 Jadwal kegiatan
 Peta titik pengamatan
 Persiapan formulir untuk pencatatan dan survei
 Kurva S

Laporan pendahuluan berisikan perbaikan dari draft laporan pendahuluan yang didasarkan pada hasil
diskusi pendahuluan dan digandakan oleh penyedia jasa selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari
kalender sejak dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK). Laporan pendahuluan digandakan
sebanyak 5 (lima) rangkap dan laporan melampirkan glosarry, daftar pustaka, dasar hukum dan notulensi
beserta dokumentasi.

22. LAPORAN PENDUKUNG


Penyedia Jasa diharuskan membuat Draft laporan Pendukung yang memuat tentang gambar lokasi
kegiatan, hasil lapangan, hasil laboratorium dan analisa data . Sebelum laporan pendukung diperbanyak,
penyedia jasa harus menyerahkan Draft laporan pendukung untuk dikoreksi dan disetujui oleh direksi.
Laporan pendukung digandakan sebanyak 5 (lima) rangkap. Adapun laporan pendukung digandakan
sesuai kegiatan pendukung sebagai berikut :
 Laporan Topografi
 Laporan Mekanika Tanah
 Laporan Hidrologi
 Laporan Sosial ekonomi dan lingkungan
 Buku Ukur
 Diskripsi BM

24
23. LAPORAN ANTARA
Laporan Antara memuat hasil survei, analisa sementara lay-out beserta konsep pra desain dan
menjelaskan dasar seleksi dari lay-out yang dipilih serta berisi data/masukan dari hasil analisa data dan
laboratorium.
Penyedia jasa menyerahkan draft laporan antara untuk dikoreksi oleh direksi pekerjaan selambat-
lambatnya 120 (serratus dua puluh) hari kalender sejak dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK).
Draft laporan yang telah disetujui dijadikan bahan untuk diskusi antara dan diperbanyak sebanyak 3 (tiga)
rangkap. Draft laporan antara sekurang-kurangnya berisikan:
- Bab I Pendahuluan
- Bab II Gambaran Umum Lokasi Kegiatan
- Bab III Metedologi Kegiatan
- Bab IV Analisa Data
- Bab V Konsep Pra Desain

Laporan antara memuat tentang situasi dan kondisi prasarana yang ada :
 Jaringan jalan dan aksesibilitas
 Kondisi sosial ekonomi saat ini
 Kondisi rona lingkungan awal
 Kesesuaian lahan dan tata guna lahan
 Hasil pengukuran dan pemetaan lokasi rencana bendungan
 Hasil analisa hidrologi (debit andalan, ketersediaan air, Analisa debit banjir rencana, dan
volume genangan)
 Konsep dasar perencanaan
 Opsi alternatif lokasi, tipe, tinggi, volume tampungan, luas genangan, serta fungsi/manfaat
bendungan

Laporan antara berisikan perbaikan dari draft laporan antara yang didasarkan pada hasil diskusi antara
dan digandakan oleh penyedia jasa selambat-lambatnya 150 (serratus lima puluh) hari kalender sejak
dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK). Laporan antara digandakan sebanyak 5 (lima) rangkap
dan melampirkan glosarry, daftar pustaka, dasar hukum dan notulensi beserta dokumentasi.

24. LAPORAN AKHIR


Laporan akhir digandakan sebanyak 10 (sepuluh) rangkap dimana laporan akhir dilampirkan Glossary,
daftar pustaka, dasar hukum dan notulensi beserta dokumentasi. Laporan akhir diserahkan selambat-
lambatnya sebelum masa kontrak berakhir. Isi Laporan akhir sekurang-kurangnya memuat :
1. Pendahuluan (pemilik kegiatan, tujuan kegiatan (pembangunan bendungan), tujuan studi, stuktur
pelaporan studi)

25
2. Gambaran umum lokasi kegiatan (lokasi dan peta lokasi yang menunjukkan desa, kecamatan dan
kabupaten, jalan akses ke lokasi rencana pelaksnaan konstruksi, gambaran fisik lokasi kegiatan
(sungai-sungai, prasarana SDA yang sudah ada, dll.))
3. Survei Tofografi
Kondisi topografi untuk tapak rencana bendungan, jalan akses, quarry dan borrow area,
penyimpanan material, tempat pembuangan galian, dan daerah genangan;
4. Survei dan penyelidikan geologi dan geotek
Pemetaan geologi permukaan, penyelidikan lapangan, pengujian laboratorium dan analisis
geologi/geotek yang berkaitan dengan tapak bendungan, lokasi material bahan bendungan dan
daerah genangan; survei dan pengujian material konstruksi, survei dan pengujian borrow area dan
quarry site.
5. Studi hidrologi dan sedimentasi daerah tangkapan air;
Analisis karakteristik daerah tangkapan, curah hujan, debit aliran, pengukuran parameter aliran,
estimasi debit inflow, banjir rencana, dan analisis kualitas air; studi sedimentasi: sumber sedimen,
angkutan sedimen, estimasi volume sedimen dan umur waduk; analisis hidraulik back water akibat
bendungan, dan dampak pelepasan air dari waduk pada saat banjir di hilir, analisi pengurangan
debit banjir di hilir akibat adanya waduk
6. Rencana Pelaksanaan, Jadwal dan kebutuhan Biaya
7. Kesimpulan dan Rekomendasi
Sebelum draft laporan akhir diperiksa dan disetujui direksi pekerjaan menjadi laporan akhir, penyedia jasa
melakukan diskusi akhir yang membahas tentang hasil pekerjaan akhir yang diinginkan.

25. RINGKASAN LAPORAN / (EXECUTIVE SUMMARY)


Laporan ini merupakan bagian dari laporan akhir studi kelayakan memuat ringkasan laporan akhir dan
digandakan sebanyak 5 (lima) rangkap dan diserahkan bersamaan waktunya dengan penyerahan Laporan
Akhir.

26. MEMBUAT MAKET DAN ANIMASI VIDEO/FLASH BENDUNGAN MERANGIN

27. GAMBAR PERENCANAAN


- Gambar A1 dibuat sebanyak 1 (satu) rangkap.
- Gambar A3 dibuat sebanyak 5 (lima) rangkap.

28. SOFT COPY DOKUMEN


Semua laporan final (dalam berntuk word, excel) dan gambar (dwf/dwg) termasuk data pendukung dan
dimasukkan ke dalam hard disk eksternal dengan kapasitas 1 TB sebanyak 2 unit. Pelaksanaan pekerjaan

26
tersebut diatas dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan/atau
instruksi dari direksi pekerjaan.

29. ASISTENSI DAN DISKUSI


a. Asistensi dilakukan dengan pengawas/direksi pekerjaan yang ditunjuk oleh PPK Perencanaan dan
Program. Hasil asistensi dituangkan pada lembar asistensi, asistensi dilakukan dikitnya 2 (dua)
minggu sekali.
b. Diskusi :
Diskusi laporan harus dihadiri Ketua Tim dan didampingi oleh para tenaga ahli, diskusi dilaksanakan
antara lain meliputi :
 Diskusi pendahuluan
 Diskusi Antara
 Diskusi laporan akhir

30. PRODUKSI DALAM NEGERI


Semua kegiatan jasa konsultansi berdasarkan KAK ini harus dilakukan di dalam wilayah Negara Republik
Indonesia kecuali ditetapkan lain dengan pertimbangan keterbatasan kompetensi dalam negeri.

31. PERSYARATAN KERJASAMA


Jika kerjasama dengan penyedia jasa konsultansi lain diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan jasa
konsultansi ini maka persyaratan berikut harus dipatuhi.

32. PEDOMAN PENGUMPULAN DATA LAPANGAN


Pengumpulan data lapangan harus memenuhi persyaratan, seizin dan sepengetahuan PPK.

33. ALIH PENGETAHUAN


Jika diperlukan, penyedia jasa konsultansi berkewajiban untuk menyelenggarakan pertemuan dan
pembahasan dalam rangka alih pengetahuan kepada personil proyek/satuan kerja Pejabat Pembuat
Komitmen.

Jambi, Januari 2017


Kepala Satuan Kerja
Balai Wilayah Sungai Sumatera VI

27
Tabel 1.1 Rangkuman Laporan Yang Harus diserahkan Penyedia Jasa

No. Produk Set


1 RMK 3
2 Draft Pendahuluan 3
3 Laporan Pendahuluan 5
4 Laporan Bulanan 3x9
5 Laporan Pendukung
1. Laporan Kriteria dan Metode Desain 5
2. Laporan Topografi 5
3. Laporan Geologi, Geologi teknik dan Mekanika Tanah 5
4. Laporan Hidrologi 5
5. Buku Ukur dan BM 5
6 Draft Laporan Antara 3
7 Laporan Antara 5
8 Draft Laporan Akhir 10
9 Laporan Akhir 10
10 Ringkasan Laporan/(Summary Sub Report) 5
11 Gambar Topografi
1. Gambar Ukuran A1 1
2. Gambar Ukuran A3 5
12 Soft Copy Dokumen 2

28
Persyaratan Teknis Survei Investigasi Lapangan dan Analisis Data

Persyaratan teknis survey investigasi lapangan dan analisis data, diuraikan secara lengkap pada Lampiran I
s.d Lampiran III, yang terdiri dari:

1. Lampiran I : Survey Topografi


2. Lampiran II : Survey Hidrologi
3. Lampiran III : Survey Mekanika Tanah

29
Lampiran I
Survei, Penyelidikan Lapangan dan Analisa Data Topografi
1. Topografi
1.1. Secara garis besar pekerjaan akan terdiri dari:
1.1.1. Pemasangan benchmark dan patok kayu.
 Bench Mark yang harus dipasang ada 2 macam, yaitu:
Bench Mark (BM.) besar : 20 x 20 x 100 cm.
Bench Mark kecil/penanda azimut (Az.) : 10 x 10 x 80 cm.
Tiap Bench Mark besar diberi baut di atasnya dan dibubuhi batu manner ukuran 12 cm x 12
cm. Bench Mark dipasang sedemikian rupa sehingga bagian yang muncul di atas tanah
setinggi 20 cm.
Bench Mark besar dan kecil dipasang dengan jarak 150 m dan kelihatan satu sama lainnya
karena akan digunakan untuk pengikatan azimut matahari. Bench Mark harus dipasang
pada tempat yang aman, kuat dan mudah dicari kembali.
 Patok kayu harus dibuat dari bahan yang kuat, panjang 50 cm ditanam sedalam 30 cm, dicat
merah, dipasang paku di atasnya serta diberi kode dan nomor yang teratur.
 Kerapatan pemasangan Bench Mark harus mewakili luas areal + 250 ha, atau setiap jarak
2,5 km disepanjang jalur polygon/waterpass dan setiap titik Simpul.
 Deskripsi Bench Mark harus dibuat sketsa lokasinya dan difoto dua kali (close up dan jauh).
Bentuk dan ukuran Bench Mark, lihat gambar.
 Penanda azimuth (Az.) dapat dideskripsikan dalam formulir yang sama dengan pilar Bench
Mark atau dalam formulir lain, menurut petunjuk Pemberi Pekerjaan.
 Koordinat-koordinat titik akan ditambahkan pada deskripsi apabila perhitungannya sudah
definitif.
 Kontruksi benchmark dari beton

1
 Contoh kontruksi penanda azimuth

 Contoh uraian mengenai posisi

2
1.1.2. Titik Referensi
Titik referensi adalah benchmark yang terbuat dari beton yang sebagai titik kontrol dan titik
referensi untuk survei topografi yang sekarang dan yang akan datang, semua pengukuran
koordinat dan elevasi harus merujuk pada titik referensi tersebut :

 Jika pada lokasi survei sudah terdapat patok BM yang dapat dijadikan titik referensi yang
koordinatnya dan elevasinya telah diketahui. Elevasi titik referensi menjadi tinggi referensi
proyek atau PRL.
 Jika dilokasi yang disurvei tidak dijumpai patok BM yang dapat dijadikan titik referensi atau
dijumpai BM namun koordinatnya dan elevasinya tidak diketahui harus dibuat titik
referensi yang dijadikan benchmark utama yang akan diberi koordinat referensi dengan
pengamatan GPS yang sebaiknya (sangat disarankan) dipilih menggunakan GPS dengan
tingkat ketelitian yang sangat tinggi (1 cm/km).
 Jika terdapat dua areal survei atau lebih yang terletak berdekatan satu sama lainnya maka
sangat disarankan agar menggunakan satu PRL yang sama untuk semua areal survei
tersebut.
 Semua registrasi tinggi muka air dari hasil survei hidrometrik juga akan dinyatakan dalam
PRL ini.
 Jika survei hidrometik meliputi registrasi tinggi muka air jangka panjang dekat muara
sungai, maka hubungan antara PRL dan tinggi laut rata-rata (MSL) harus dibuat.

1.1.3. Pengukuran poligon (utama dan cabang)


 Jaringan poligon meliputi medan ukur yang akan dipetakan. Poligon tersebut merupakan
kring tertutup (closed loop) dan diikatkan ke titik triangulasi yang ada atau ke titik-titik
tetap poligon. Sisi poligon harus sepanjang mungkin dan sistem statip tetap (fixed tripod)
seperti yang di uraikan di bawah ini akan dipakai untuk mendapatkan ketelitian yang
disyaratkan.
Apabila mungkin titik-titik triangulasi yang ada akan digunakan sebagai azimut awal dan
azimut akhir. Titik-titik triangulasi yang digunakan harus saling berhubungan dengan titik
triangulasi yang lainnya. Untuk mengontrol orientasinya, akan diadakan pengamatan
azimut matahari, jika titik-titik triangulasi yang sudah ada tidak terlihat lagi, dan/atau pada
interval 25 titik di sepanjang masing-masing poligon.
 Poligon terdiri dari poligon utama dan cabang.
 Poligon utama :
- Statip harus ditempatkan pada tanah yang stabil untuk memperoleh hasil penga-
matan sudut horisontal yang teliti. Poligon yang melalui daerah sawah harus diikuti

3
secara hati-hati untuk menghindari lokasi-lokasi sulit di daerah genangan sawah atau
pada pematang-pematang yang tidak stabil.
- Semua Theodolit harus dalam keadaan baik dan setelannya akan diperiksa terus
selama pengamatan berlangsung. Kolimasi akan diperiksa apabila melebihi 1’ (satu
menit). Pelaksana Pekerjaan harus menyiapkan semua catatan yang berkenaan
dengan pemeriksaan dan penyesuaian peralatan yang dilakukan.
- Alat ukur sudut Teodolit/Total Station harus mampu mengukur sampai 1" (satu
detik) dan dilengkapi dengan semua bagian-bantu yang diperlukan.
- Apa bila memakai alat GPS. maka dilakukan sebagai berikut:
(a) Seluruh pengamatan harus mempergunakan receiver GPS type Geodetik yang
mampu mengamati data fase, komponen receiver GPS harus dari merk yang
sama.
(b) Receiver GPS yang digunakan single frekuensi (L1) namun demikian
penggunaan dual frekuensi (L1+L2) lebih diharapkan.
(c) Kemampuan antena sesuai dengan kemampuan receiver GPS, tidak boleh
diperpanjang melebihi standar pabrik.
(d) Hindari pengamatan receiver GPS dilokasi-lokasi pemantulan sinyal GPS mudah
terjadi seperti di pantai, danau, tebing, bangunan bertingkat atau antena harus
dilengkapi dengan Ground plane untuk mereduksi pengaruh multipath.
(e) Semua softcopy data hasil pengamatan GPS dicopy pada CD dan diserahkan
kepada Pemberi Pekerjaan .
- Untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu pada saat melakukan
sentring maka perlu di gunakan 3 buah statip dan 3 buah kiap (tribrach). Selama
pengamatan berlangsung statip dan kiap tersebut harus tetap berada di satu titik,
hanya target dan teodolit saja yang berpindah/berubah. Di titik-titik di mana
pekerjaan hari itu berakhir dan pekerj'aan hari berikutnya mulai, sentring harus
dilakukan dengan hati-hati. Hal yang sama berlaku juga pada waktu dilakukan
pengamatan ulang di tempat yang sama.
- Kedudukan Nivo kotak (circular bubble), dan pengunting optik (optical plummet)
harus sering diperiksa dengan bantuan unting-unting gantung (plump bob), dan
penyesuaian-penyesuaian dilakukan bilamana perlu.
- Sebelum pengamatan dilakukan teodolit harus disetel sebaik-baiknya. Pengukuran
sudut horisontal dilakukan minimum 2 kali pengamatan. Untuk satu kali pengamatan
dilakukan sejumlah pembacaan dengan urutan sebagai berikut:
(a) Bidik kiri (FL) untuk bacaan target belakang;
(b) Bidik kiri (FL) untuk bacaan target ke depan;
(c) Bidik kanan (FR) untuk bacaan target ke depan;
(d) Bidik kanan (FR) untuk bacaan target ke belakang;

4
Dua kali pengamatan diambil dari titik nol secara terpisah: 0° 01' dan 90° 08'. Jika
pengamatan lebih lanjut diperlukan, maka digunakan 45° 02' dan 135° 07.
- Semua hasil pengamatan direduksi di lapangan. Jika perbedaan antara keempat
harga sudut yang diperoleh (2FL, 2FR) melebihi 5”, maka babak(-babak) selanjut-nya
harus diamati.
- Semua buku catatan lapangan harus diserahkan.
- Pengukuran Jarak, Alat EDM yang digunakan harus mempunyai alat-alat pelengkap
(seperti reflektor) sehingga dapat diperoleh kapasitas kerja penuh. Peralatan ini
perlu dikalibrasikan terlebih dahulu terhadap suatu tolok ukur yang telah diketahui
berupa basis dari satuan jarak tertentu atau dengan menggunakan pita ukur baja
pada jarak tertentu selama pekerjaan berlangsung. Semua hasil pengamatan harus
diberitahukan kepada pihak Pemberi Pekerjaan.
- Paling sedikit 3 (tiga) pengukuran dari masing-masing ujung garis poligon akan
diamati. Hasil rata-rata dari kedua ujung garis tersebut harus mempunyai persamaan
lebih dari ± (10 mm + 10 ppm dari jarak) kalau tidak maka pengamatan tambahan
perlu dilakukan, misalnya untuk penentuan garis sejauh 2 km, hasil rata-rata
pengamatan harus lebih dari + 30 mm.
- Bilamana perlu, temperatur dan tekanan udara akan dicatat untuk memungkinkan
dilakukannya koreksi refraksi yang akan dilaksanakan selama pengamatan atau
selama perhitungan selanjutnya.
- Pengamatan Azimut : Azimut matahari akan diamati seperti yang akan dijelaskan
dibawah ini, Seri pagi dan sore hari, masing-masing sedikitnya 5 kali pengamatan,
akan dilakukan. Sebaran (spread) dalam satu seri tidak bolen lebih dari 30".
Pengamatan dilakukan sebagai berikut:
(a) Bidik kiri (target)
(b) Bidik kiri (matahari)
(c) Bidik kanan (matahari)
(d) Bidik kanan (target)
Seri ini merupakan satu kali pengamatan.
- Pembacaan sudut horisontal pada pengamatan azimut matahari harus diberikan
koreksi akibat tidak mendatarnya kedudukan alat. Koreksi ini sangat penting dan
dapat dihitung dari hasil bacaan kedudukan gelembung nivo tabung tersebut atau
apabila alat teodolit dilengkapi dengan kompensator otomatis, dari pembacaan
lingkaran vertikal pada sudut kanan pada masing-masing sisi garis bidik.
- Metode yang dipakai untuk menetukan azimut tergantung keinginan Pelaksana
Pekerjaan. Walaupun demikian, hal-hal berikut harus diperhatikan bila akan di-
gunakan azimut dengan metode ketinggian matahari.

5
- Pengamatan matahari dilakukan apabila tinggi matahari lebih besar dari 20° karena
apabila dilakukan pengamatan pada waktu tinggi matahari di bawah 20° refraksi
(pembiasan) menjadi terlalu besar dan tidak menentu. Usahakan ketinggian
matahari di bawah 40°, jika mungkin.
- Pembacaan temperatur dan tekanan udara akan dilakukan untuk keperluan koreksi
refraksi.
- Perlengkapan-perlengkapan tambahan yang diperlukan terdiri dari jam tangan yang
ketepatannya dicocokkan satu menit sebelum tanda waktu resmi berbunyi, prisma
Reoloff, tabel deklimasi matahari dan tabel refraksi.
- Jika untuk pengukuran azimut digunakan metode sudut waktu, maka bisa dilakukan
pengamatan pada saat tinggi matahari di bawah 20° seperti yang disebutkan diatas.
- Tetapi waktu pengamatan harus jauh lebih teliti.
 Poligon Cabang :
- Untuk pengukuran memakai alat ukur dengan ketelitian 1(satu) sekon dan EDM,
metodanya sama dengan untuk poligon utama, hanya pada butir 6, pengukuran
sudut horisontal dilakukan satu kali pengamatan.
- Apabila memakai alat ukur Total Station dengan ketelitian 1(satu) sekon, setiap titik
polygon cabang pemasangan Target harus stabil (menggunakan Statif).
- Pengamatan dilakukan 2(dua) set.

1.1.4. Ketelitian Pengukuran Poligon


Poligon Utama :
 Alat ukur Theodolith dan EDM
(a) Toleransi untuk kesalahan penutup pada azimut matahari harus 10" √n di mana n
adalah jumlah titik sudut. Jika kesalahan penutupnya masih berada dalam
toleransi, maka sudut itu akan disesuaikan dengan azimut matahari jika toleransi
tersebut dilampaui, maka azimut dan/atau , sudut-sudut tersebut harus diulang
dan dicek.
(b) Kesalahan penutup linear poligpn tidak boleh lebih besar dari 1 : 10.000 dari
panjang totalnya. Poligon akan dijaga agar tetap pendek untuk menjamin bahwa
kesalahan penutup pada jaring-jaring atau bagian tidak lebih dari satu meter.

 Alat GPS
(a) Seluruh reduksi baseline harus dilakukan dengan menggunakan software
processing GPS yang telah dikenal dan dibuat oleh agen software atau badan
peneliti ilmiah yang bereputasi baik.
(b) Koordinat benchmark dari hasil pengamatan GPS disajikan dalam system proyeksi
UTM dan ellipsoid WRG 84.

6
(c) Statistik reduksi baseline
Untuk setiap jaring orde 3 standar deviation (s) hasil hitungan dari komponen
baseline toposentrik (dN,dE,dH) yang dihasilkan oleh software reduksi baseline
harus memenuhi hubungan berikut :
σN ≤ σM
σE ≤ σM
σH ≤ 2σM
dimana σM = [102 + (10d)2]1/21.96 mm dan d = panjang baseline.
(d) Baseline yang diamati 2 (dua) kali

1. Baseline yang lebih pendek dari 4 (empat) km


Komponen lintang dan bujur dari kedua baseline tidak boleh berbeda lebih
besar dari 0.03 m sedangkan komponen tinggi tidak boleh berbeda lebih dari
0.06 m.
2. Baseline yang lebih panjang dari 4 (empat) km
Komponen lintang dan bujur dari kedua baseline tidak boleh berbeda lebih
besar dari 0.05 m sedangkan komponen tinggi tidak boleh berbeda lebih dari
0,10 m
Poligon Cabang :
Toleransi untuk kesalahan penutup sudut = 20" √N, (N = banyaknya titik poligon). Baik untuk
alat Theodolith dan EDM, maupun alat Total Station.

1.1.5. Pengukuran Poligon Bangunan Khusus


Sudut Horizontal :
 Karena areal pengukuran pada umumnya kecil maka pengukuran poligon dapat terbuka
atau memakai metode lain berupa jaring segitiga sebagai basis / kerangka petanya.
 Titik tetap sekitar lokasi dapat digunakan sebagai titik ikat pengukuran.
 Supaya didapatkan onentasi yang sama dengan peta dasar yang ada, maka diadakan
pengamatan matahari pada salah satu titik ikat atau titik tetap yang dipasang pada lokasi
rencana bangunan irigasi.
 Statip harus ditempatkan pada tanah yang stabil untuk memperoleh pengamatan sudut
horisontal yang teliti.
 Semua teodolit harus dalam keadaan baik dan setelannya harus diperiksa selama
pengukuran berjalan.
 Pengecekan meliputi kesalahan indeks dan kesalahan kolimasi alat. Kesalahan indeks
dan kesalahan kolimasi alat tidak boleh melebihi 1 menit.
 Alat ukur Teodolit/Total Station yang mempunyai ketelitian sudut sampai 1 menit.
 Pada saat sentering, sebaiknya tetap digunakan sistem 3 tripod.

7
 Kedudukan nivo kotak (circular bubble) dan pengunting optik (optical plurnrner) harus
diperiksa lagi dengan bantuan unting-unting dan harus dilakukan penyesuaian.
 Sudut horisontal cukup dilakukan 1 seri pengamatan B dan LB (2 sudut pembacaan) dan
semua pengamatan harus direduksi apabila kesalahan lebih dari 2 menit.
 Semua catatan-catatan di lapangan dan buku ukur atau Softcopy apabila menggunakn
alat ukur Total Station harus diserahkan untuk diperiksa oleh Pemberi Pekerjaan.
Sudut Vertikal :
 Satu seri sudut vertikal (masing-masing dari pengamatan biasa dan luar biasa) akan
diukur untuk mereduksi jarak horisontal.
 Seluruh pengamatan akan direduksi di lapangan apabila kesalahan indeks lebih dari 2
menit.

1.1.6. Pengukuran sipat datar (waterpass)


 Alat yang digunakan sipat datar Automatic Level.
 Pengecekan baut-baut tripod (kaki tiga) jangan sampai longgar. Sambungan rambu ukur
harus lurus betul. Rambu harus menggunakan nivo.
 Sebelum melaksanakan pengukuran, alat ukur sipat datar harus dicek dulu garis bidiknya.
Data pengecekan harus dicatat dalam buku ukur.
 Waktu pembidikan, rambu harus diletakkan di atas alas besi (straatspot).
 Bidikan rambu harus antara interval 0,5 m dan 2,75 m (untuk rambu yang 3 m).
 Jarak bidikan alat ke rambu maksimum 50 m.
 Usahakan pada waktu pembidikan, jarak rambu muka = jarak rambu belakang atau jumlah
jarak muka = jumlah jarak belakang.
 Usahakan jumlah jarak (slaag) per seksi selalu genap.
 Data yang dicatat adalah pembacaan ketiga benang silang, yakni : benang atas, benang
bawah dan benang tengah.
 Pengukuran sipat datar harus dilakukan setelah benchmark dipasang.
 Semua Bench Mark yang ada maupun yang akan dipasang harus melalui jalur sipat datar
apabila berada pada atau dekat dengan jalur sipat datar.
 Pada jalur yang terikat/tertutup, pengukuran dilakukan dengan cara pergi-pulang, sedang
pada jalur yang terbuka diukur dengan cara stan ganda (double stand) dan pergi-pulang.
 Batas toleransi untuk kesalahan penutup maksimum 10 √D mm, di mana D = jumlah jarak
dalam km.

1.1.7. Pengukuran Situasi Sungai


 Pengukuran Situasi Detail Sungai skala 1 : 2.000
 Menentukan elevasi tanah untuk topografi sungai akan dilakukan dengan metode potongan
melintang, sedangkan detail-detail khusus yang ada di antara potongan potongan

8
melintang akan ditentukan dengan pengukuran rincikan agar variasi dalam relief dapat
digambarkan dengan tepat pads waktu dilakukan penggambaran kontur. Untuk penjelasan
terinci mengenai penentuan posisi,di bawah ini.
 Jarak antara potongan-potongan melintang adalah sekitar 50 m pada bagian yang lurus dan
sekitar 25 m pada bagian yang kelok(-kelok) diukur di sepanjang palung (talweg) dan dapat
ditetapkan dengan menggunakan pita ukur baja. Di tempat-tempat tikungan diperlukan
potongan-potongan melintang tambahan di antara potongan-potongan yang sudah
disebutkan di atas..
 Semua potongan melintang akan diambil setegak lurus mungkin terhadap palung sungai
(garis aliran utama yang rnenghubungkan titik-titik terdalam).
 Letak potongan-potongan melintang akan ditetapkan dengan menggunakan patok-patok
kayu seperti dijelaskan di atas. Satu patok kayu akan dipasang pada masing-masing sisi
sungai, yang menunjukkan letak dan arah potongan melintang. Patok-patok kayu di kedua
pinggir sungai itu akan dipasang sekurang-kurangnya 15 meter jauhnya dari sungai, dan
akan ditetapkan sebagai titik-titik poligon sekunder.
 Potongan melintang yang akan diukur akan membentang sedikit-dikitnya 50 meter di kedua
sisi as saluran, atau mengikuti petunjuk dari Pemberi Pekerjaan.
 Bila terdapat daerah banjir, pemetaan itu akan meliputi strip selebar 50 meter dari
bendung kearah dataran tinggi terdekat, hingga elevasi tanah mencapai 1,0 meter di atas
elevasi banjir maksimum yang telah ditentukan.
 Bahan-bahan di dasar sungai dan tetumbuhan di daerah banjir akan dicatat.
 Ketinggian-ketinggian pada potongan melintang akan dicatat sebagaimana diuraikan
dibawah ini.
 Ketepatan seluruh titik tinggi di atau di antara potongan-potongan melintang adalah seperti
yang akan diuraikan di bawah ini.
 Alat yang digunakan adalah Theodolit To atau Total Station yang sederajat ketelitiannya.
 Sudut poligon dibaca 1 (satu) seri.
 Ketelitian tinggi poligon + 10 √D (D dalam km).
 Ketelitian poligon untuk sudut + 20”√n, di mana n = banyak titik sudut. Ketelitian linier
poligon 1:2.500.
 Semua tampakan yang ada, baik alamiah maupun buatan manusia diambil sebagai titik
detail, misalnya : bukit, lembah, alur, sadel, dll.
 Kerapatan titik detail 1 cm di peta (+ 20 m di lapangan) harus dibuat sedemikian rupa
sehingga bentuk tofografi dan bentuk buatan manusia dapat digambarkan sesuai dengan
keadaan lapangan.
 Sketsa lokasi detail harus dibuat rapi, jelas dan lengkap sehingga memudahkan
penggambaran dan memenuhi persyaratan mutu yang baik dan peta.

9
 Pengukuran situasi harus dilebihkan sebesar + 250 m dari batas yang telah di-tentukan.

1.1.8. Pengukuran Situasi Rencana Lokasi Bangunan


 Menentukan elevasi tanah untuk topograpi saluran akan dilakukan dengan metode
potongan melintang, sedangkan detail-detail khusus yang ada di antara potongan-potongan
melintang akan ditentukan dengan pengukuran rincikan agar variasi dalam relief dapat
digambarkan dengan tepat pada waktu dilakukan penggambaran kontur.
 Semua jarak akan diukur di lapangan dengan menggunakan jarak ukur optis.
 Jarak antar potongan melintang yang akan diambil tegak lurus terhadap as
jalan/sungai/lembah/bukit adalah sekitar 10 meter untuk daerah lurus dan sekitar 5 meter
untuk daerah berbelok-belok.
 Letak potongan-potongan melintang akan ditetapkan dengan menggunakan patok-patok
kayu.
 Poligon kerangka untuk patok melintang ini lebih baik dengan mengikuti bentuk geometris
daripada as jalan/sungai/lembah/bukit yang dipotong oleh rencana trase saluran.
 Potongan melintang yang akan diukur akan membentang sedikit-dikitnya 75 meter di kedua
sisi jalan/sungai/lembah/bukit, atau mengikuti petunjuk dari Pemberi Pekerjaan.
 Semua jalan air, berapa pun ukurannya, (saluran, pembuang, parit-parit di sawah) akan
diamati, termasuk lebar dasar, elevasi dan arah aliran (kalau ada).
 Semua tampakan seperti rumah-rumah, fasilitas, jalan, jembatan, gorong-gorong, pagar,
patok beton dan vegetasi (jenis dan densitasnya akan dicatat).
 Bahan-bahan khusus dijumpai di permukaan tanah, seperti batuan, rawa-rawa, tanah
longsor dan sebagainya, harus dicatat.
 Ketinggian-ketinggian potongan melintang akan dicatat
 Banyaknya potongan melintang yaitu tiap 10 m sepanjang 500 m ke hulu dan 500 m ke hilir
dari sungai /lembah yang cukup besar.
 Detail-detail berikut akan ditentukan dan dicatat:
a. elevasi maksimum banjir
b. tinggi normal permukaan air dan tanggal pencatatan
c. sifat-sifat bahan tanah di dasar dan pinggir sungai atau lembah
d. tumbuhan atau tanaman yang punya nilai tinggi.
 Ketinggian-ketinggian di dalam potongan melintang akan dicatat
 Ketelitian titik-titik tinggi potongan melintang akan ditentukan

1.1.9. Perhitungan
 Perhitungan-perhitungan harus dilakukan dua kali secara terpisah, sekali di lapangan dan
sekali dikantor.

10
 Penghitungan harus dilakukan di lapangan untuk memeriksa apakah pengamatan telah
sesuai dengan standar yang ditetapkan.
 Untuk kontrol planimeter ini meliputi:
(a) pengecekan hasil penghitungan sudut dan jarak rata-rata
(b) pengecekan penutup sudut, untuk poligon tertutup
(c) pengecekan azimut antara titik-titik triangulasi atau azimut matahari.
(d) perataan kesalahan sudut
(e) penghitungan dari ∆X dan ∆y untuk mencek hasil planimetrik.
 Untuk kontrol ketinggian kegiatan pemrosesan ini meliputi:
(a) pemeriksaan hasil hitungan dari ∑Bacaan belakang, ∑Bacaan muka, ∑Perbedaan tinggi
(∆h).
(b) perhitungan ∆h untuk seksi-seksi antara titik-titik tetap (benchmark).
(c) perhitungan dari tiap loop/kring.
(d) penyesuaian dari loop dengan metode Dell (atau metode lainnya), agar memperoleh
ketinggian yang tepat untuk dipakai pada perhitungan rincik ketinggian nantinya.
 Apabila hasil pekerjaan lapangan telah disetujui oleh pengawas, hasil pengamatan serta
hasil hitungannya segera dilakukan perhitungan definitif.
 Perataan yang harus dihitung mencakup seluruh titik-titik triangulasi yang ada di lapangan.
 Perataan hasil pengamatan sudut harus sesuai dengan jumlah titik antara azimut-azimut
triangulasi atau pengamatan azimut matahari yang dapat diterima, seperti yang telah
ditentukan.
 Perataan titik-titik poligon harus sesuai dengan jarak, hal ini berarti bahwa koreksi dalam
koordinat simpangan timur (easting) sama dengan :
salah-penutup dalam simpangan timur
——————————————---------- x jarak akumulasi
Jumlah jarak poligon seluruhnya
Hal yang sama berlaku untuk simpangan utara.
 Seluruh hasil penghitungan, pengamatan dan informasi seperti yang didaftar di bawah ini
harus diserahkan kepada pihak Pemberi Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan
sementara:
(a) Urutan cara perhitungan loop atau jalur poligon antara Benchmark.
(b) Salah-penutup sudut pada setiap bagian/seksi antara azimut matahari, azimut
kontrol,atau azimut yang diperoleh dari loop yang berdekatan, bersama-sama dengan
jumlah titik dalam setiap seksi.
(c) Salah-penutup linier ∆X, ∆y dari setiap loop atau jalur poiigon antara titik-titik simpul
dan salah-tutup fraksi yang dipilih dengan jumlah titik.
(d) Detail-detail hasil pengamatan yang ditolak, diragukan, tidak dipakai dan sebagainya.

11
 Perhitungan untuk mendapatkan hasil akhir dilakukan dengan cara perataan kuadrat
terkecil.
 Apa bila pencatatan dan Pehitungan hasil Pengamatan di lapangan menggunakan peralatan
digital, sehingga prosesnya melalui digitasi dengan program software harus seizin Pemberi
Pekerjaan.

1.1.10. Pelaporan
 Laporan Pekerjaan Lapangan
Laporan ditulis secara sistematis, sesuai dengan kaidah-kaidah penyusunan laporan.Isi
laporan tersebut harus memuat :
(a) Keadaan umum daerah survey.
(b) Penjelasan teknis pelaksanaan lapangan.
(c) Personil, peralatan, susunan organisasi pelaksaan dan time schedule.
(d) Daftar koordinasi planimetris dan ketinggian benchmark.
(e) Foto-foto dokumentasi selama survey berlangsung.
(f) Diskripsi benchmark, termasuk foto-foto benchmark.
 Laporan Pendukung
Laporan ditulis secara sistematis, sesuai dengan kaidah-kaidah penyusunan laporan.Isi
laporan tersebut harus memuat :
(a) Kata pengantar
(b) Daftar isi
(c) Daftar tabel
(d) Daftar gambar
(e) Daftar lampiran
(f) Pendahuluan
(g) Keadaan umum daerah survey
(h) Teori pelaksanaan
(i) Titik referensi
(j) Prosedur perhitungan dara
(k) Pembahasan
(l) Kesimpulan dan saran

1.1.11. Penggambaran
 Peta skala 1 : 2.000
- Garis silang untuk grid dibuat setiap 10 cm.
- Semua BM dan titik Triangulasi (titik pengikat) yang ada di lapangan harus digambar
dengan legenda yang telah ditentukan dan dilengkapi dengan elevasi dan koordinat.
- Pada tiap interval 5 (lima) garis kontur dibuat tebal dan ditulis angka elevasinya.

12
- Pencantuman legenda pada gambar harus sesuai dengan apa yang ada di lapangan.
- Penarikan kontur lembah/alur atau sadel bukit harus ada data elevasinya.
- Detail penggambaran sungai harus rapat terutama di sekitar lokasi rencana
bendung.
- Garis sambungan / overlap peta sebesar 5 cm
- Titik pengikat/referensi peta harus tercantum pada peta dan ditulis di bawah
legenda
- Pada peta situasi 1 : 2.000 digambar di atas pengukuran poligon utama dan poligon
raii harus digambar.
- Gambar kampung dan sungai harus diberi nama yang jelas
- Gambar kampung, sawah, rawa harus diberi batas
- Gambar/peta situasi skala 1:2.000 di atas kertas transparan stabil dengan ukuran Al
 Peta ikhtisar skala 1 : 2.000
- Peta ikhtisar skala 1:2.000 digambar pada kertas transparan stabil.
- Pada peta ikhtisar harus tercantum nama kampung, nama sungai, BM, jalan,
jembatan, rencana bendung dan lain-lain tampakan yang ada di daerah pengukuran.
- Interval kontur cukup tiap 2,5 m untuk daerah datar dan 5 m untuk daerah berbukit.
- Grid peta ikhtisar skala 1:2.000 setiap 10 cm.
- Lembar peta harus diberi nomor urut yang jelas dan teratur.
- Format gambar etiket peta harus sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan
oleh Pemberi Pekerjaan, lihat buku KP. 07 dan BB-01 dan BB-02. Standar
Perencanaan Irigasi
- Sebelum pelaksanaan memulai penggambaran harus asistensi dahulu kepada
Pemberi Pekerjaan.
- Titik poligon utama, poligon cabang dan poligon raai digambar dengan sistem
koordmat.
- Apabila ada 2 kontur atau lebih, yang berdekatan dan hampir berimpit (misalnya
bataskampung, tanggul, jalan, kelokan saluran) kontur digambarkan dengan garis-
garis putus yang diperbesar.
- Garis kontur harus berhenti pada jalan-jalan raya dan sungai besar, dalam hal ini
garis kontur tidak boleh digambarkan memotong sungai, tetapi harus berhenti pada
salah satu tebing sungai dan selanjutnya bersambung pada tebing sungai yang di
seberang lainnya.

1.1.12. Penggambaran Peta Topografi, Potongan Melintang dan Memanjang Sungai


 Pemetaan harus mencakup 1.000 meter ke arah hilir dan 1.000 meter ke arah hulu site
rencana bendungan, dan 250 meter ke kiri dan ke kanan pinggiran sungai atau lebih sampai
mencapai bukit untuk pemetaan topografi sungai, serta 500 meter kali 500 meter untuk

13
pemetaan lokasi rencana bendungan. Bila terdapat bantaran (flood plain), maka
pengukuran akan ditambah sekurang-kurangnya 100 meter ke hulu awal bantaran.
 Persyaratan peta topografi sungai adalah sebagai berikut:
a) Dimensi peta, blok judul dan tebal garis akan sesuai dengan standar yang sudah
diberikan oleh Pemberi Pekerjaan.
b) Simbol-simbol standar topografi, titik ikat (datum) yang dipakai untuk kontrol
horisontal dan vertikal serta data teknis yang lain akan diperlihatkan pada lembar
pertama dari set peta.
c) pada tiap lembar set peta akan menjelaskan peta kunci petunjuk lembar.
d) Arah utara akan ditunjukkan pada setiap lembar.
e) Pada gambar-gambar tersebut aliran sungai akan diarahkan dari kiri ke kanan atau
dari atas ke bawah.
f) Garis hubung untuk lembar di sebelahnya dari masing-masing peta adaiah berupa
garis koordinat, tanpa pertampalan (overlap).
g) Semua titik-titik poligon akan diplot dengan koordinat-koordinat, sebelum memplot
penunjuk ketinggian.
h) Semua Benchmark akan ditunjukkan dalam semua gambar yang bersangkutan,
dengan perencanaan, deskripsi dan elevasi.
i) Garis-garis kontur topografi akan digambar dengan tangan bebas (tanpa
pertolongan alat).
j) Peta-peta itu akan memperlihatkan semua tampakan (feature) buatan yang biasanya
ditunjukkan pada peta-peta topografi. Tampakan-tampakan ini termasuk (tetapi
tidak perlu dibatasi sampai pada) hal-hal berikut:
- batas-batas dan jenis pengolahan tanah, padang rumput, hutan, hutan
belantara dan rawa-rawa.
- jalan-jalan, saluran, parit-parit sawah dan bangunan-bangunan yang ada.
- batas-batas desa, kelompok rumah, termasuk elevasi tanah desa.
- elevasi banjir besar
- batu singkapan, daerah-daerah berpasir atau berbatu-batu
- interval kontur adalah 1,0 meter, kecuali di dasar sungai atau di atas tanggul, di
mana interval kontur adalah 0,5 meter.
 Potongan Melintang
Pada gambar-gambar tersebut, yang menunjukkan potongan-potongan melintang sungai,
hal-hal berikut akan ditunjuk pula:
(a) Nomor masing-masing potongan melintang
(b) Semua titik-titik tinggi yang berhasil diamati di lapangan serta jarak antara titik-
titik itu.

14
(c) Palung yang sudah ditetapkan (titik terdalam di dasar sungai). Garis-garis palung
potongan melintang yang muncul pada satu gambar akan digambar vertikal satu di
atas yang lain.
(d) Potongan-potongan melintang akan digambar menghadap ke arah aliran hilir.
(e) Tinggi muka air di sungai (kalau ada) pada hari-hari pengukuran, dan bahan-
bahan dasar.
(f) Potongan melintang akan digambar dengan skala 1 : 200 ke arah horizontal dan
vertikal.
 Potongan Memanjang
Gambar potongan melintang sungai akan diturunkan dari potongan melintang. Panjang
potongan memanjang adalah jarak total antara potongan-potongan melintang pada palung
sungai.
Pada gambar itu, yang meperlihatkan potongan memanjang saluran, hal-hal berikut akan
ditunjukkan:
(a) Nomor-nomor potongan melintang
(b) Jarak antara potongan-potongan melintang dan jarak akumulasi bentang sungai
(c) Tinggi tanggul kiri
(d) Tinggi tanggul kanan
(e) Tinggi dasar sungai pada as sungai tersebut
(f) Panjang sungai (jarak horisontal pada palung) akan digambar dengan skala1:2.000,
kecuali ada ketentuan lain
(g) Level (jarak vertikal atau ketinggian) akan digambar dengan skala 1: 200.

1.1.13. Ketelitian penggambaran


 Semua tanda silang untuk grid koordinat tidak boleh mempunyai kesalahan lebih dari 0,3
mm, diukur dan titik kontrol horisontal terdekat.
 Titik kontrol posisi horisontal tidak boleh mempunyai kesalahan lebih dari 03 mm diukur
dari garis grid.
 Sembilan puluh lima persen (95 %) dari bangunan penting seperti bendung dan jembatan,
saluran dan sungai tidak boleh mempunyai kesalahan lebih dari 0,6 mm, diukur dari garis
grid atau titik kontrol horisontal terdekat. Sisanya 5% (lima persen) tidak boleh mempunyai
kesalahan lebih dari 12 mm.
 Sembilan puluh persen (90 %) dari penarikan garis kontur tidak boleh menyimpang lebih
dari seperempat kali interval kontur yang bersangkutan dari letak sebenarnya, yang
diperhitungkan dari titik kontrol horizontal, sisanya 10% (sepuluh persen) tidak boleh
menyimpang dari setengah kali interval kontur yang bersangkutan.
 Pada sambungan lembar peta satu dengan yang lain, garis kontur, bangunan, saluran,
sungai, harus tepat tersambung. Batas pergeseran yang diperbolehkan maksimum 0,3 mm.

15
1.1.14. Hasil dan Data yag Harus Diserahkan kepada Direksi Pekerjaan
 Print out peta ikhtisar dengan skala 1: 2.000 yang dilengkapi dengan garis kontur
 Print out peta Situasi Sungai yang dilengkapi dengan garis kontur skala 1 : 2.000 dengan
(pada lembar yang sama ) potongan memanjang skala 1:2.000 ke arah horisontal dan 1
:200 ke arah vertical
 Print out potongan Memanjang dan Melintang sungai skala 1 :200 ke arah horisontal dan
ke arah vertikal
 Print Out peta situasi rencana bendungan dan bangunan pelengkap dengan skala 1: 200
dan disatukan dengan gambar potongan memanjang
 Print Out gambar profil melintang dengan skala 1:200 /1: 200
 Daftar koordinat dari pilar-pilar yang dibuat, lengkap dengan data-data pilar triangulasi
yang digunakan sebagai titik ikat.
 Gambaran letak titik-titik secara lengkap, termasuk elevasinya koordinat-koordinat dan dua
foto dari semua pilar yang digunakan.
 Semua buku Ukur dan perhitungannya, dijilid dan diberi indeks dan dilengkapi dengan
keterangan
 Deskripsi Bench Mark

16
Lampiran II
Survei, Penyelidikan Lapangan dan Analisa Data Hidrologi
2. Hidrologi
2.1. Maksud Survei Hidrologi
 Pengumpulan data hidrologi yang panjang dan terbaru dimaksudkan untuk mendapatkan data-
data hidrologi dan klimatologi sebagai masukkan di dalam menentukan besaran perencanaan
seperti curah hujan maksimum dengan periode ulang tertentu, suhu udara, evaporasi, arah
angin, kecepatan angin, dan debit banjir yang terjadi serta penentuan parameter-parameter
lainnya yang dapat menunjang desain hidrolis bendungan dan bangunan pelimpas serta neraca
air untuk keperluan pertanian, PLTA, dan air baku.
 Survei ini berguna untuk mengetahui kondisi hidrologi yang akan digunakan sebagai data dalam
menganalisa kebutuhan air, ketersediaan air, kapasitas bendungan, debit banjir rencana,
penelusuran banjir, tinggi dan volume tubuh bendungan, kecepatan aliran serta sifat dan
karakteristik fluida terhadap bendungan.

2.2. Data yang di Kumpulkan


 Iklim (angin, temperatur, kelembaban, tekanan udara dan penyinaran matahari) diperoleh dari
BMG/BMKG/BWS Sumatera VI Provinsi Jambi kurun waktu minimal 5 tahun terakhir (2016).
 Data hujan diambil dari stasiun hujan yang terdekat dengan lokasi pekerjaan kurun waktu
minimal 10 tahun terakhir (2016).

2.3. Rincian Kegiatan Survey Hidrologi


 Observasi meteorologi di sekitar tempat kedudukan rencana bendungan yang terdiri dari
pengukuran dan pencatatan temperatur, kelembapan, kecepatan angina serta arahnya, tingkat
radiasi sinar matahari, penguapan curah hujan dan intensitasnya, dan lain-lain
 Penempatan alat penangkar curah hujan pada tempat-tempat yang sesuai di seluruh daerh
pengaliran rencana bendungan dengan kerapatan tertentu, untuk menentukan karakteristik
curah hujan di lokasi tersebut sebaiknya digunakan alat pengukur curah hujan otomatis pada
lokasi-lokasi tertentu dengan mempertimbangkan kondisi topografi, kecepatan angina serta
arahnya, agar alat-alat pencatat tersebut dapat menghasilkan data yang relevan.
 Pengukuran dan pencatatan temperatur air sungai dan pengamatan kualitasnya pada beberapa
lokasi tertentu di sebelah hilir rencana bendungan.
 Pengukuran dan pencatatan debit air sungai pada lokasi rencana bendungan

2.4. Pengukuran dengan Metode Current Meter


Prinsip pelaksanaannya adalah dengan urutan sebagai berikut :
 Menentukan suatu penampang sungai untuk lokasi pelaksanaan pengukuran debit
 Mengukur kecepatan aliran yang melintasi penampang sungai tersebut di atas dengan current
meter yang didasarkan pada prosedur-prosedur tertentu. Apabila kecepatan rata-rata tersebut

17
dikalikan dengan luas penampang basahnya, maka debit sungai tersebut dapat dihitung dengan
mudah. Fluktuasi permukaan air sungai dicatat oleh suatu alat pencatat dan secara otomatis
tergambar sebuah grafik yang disebut hidrograf-elevaasi permukaan air
 Dengan melaksanakan pengukuran-pengukuran debit seperti di atas secara berulang kali, pada
elevasi permukaan air yang berbeda-beda pula dengan hasil-hasilnya maka dapat dibuatkan
kurva elevasi versus debit yang disebut kurva debit (rating curve)
 Dengan menggunakan rating curve ini, maka setiap elevasi permukaan air sungai yang tercatat
pada hidrograf-elevasi dapat diketahui debitnya

2.5. Survei Data Debit Banjir yang Pernah Terjadi


Guna pembuatan rencana teknis bangunan pelimpah sebuah bendungan, maka diperlukan suatu
debit banjir rencana yang realistis. Untuk ini, angka-angka hasil perhitungan hidrologi perlu diuji
dengan menggunakan data banjir-banjir besar dari pencatatan/pengamatan setempat.
Data debit banjir besar yang pernah terjadi, dapat diperoleh dari tanda-tanda adanya genangan-
genangan tertinggi yang pernah terjadi, yang terdapat antara lain pada jembatan-jembatan, pada
bangunan-bangunan di tepi sungai yang biasanya ditandai oleh petugas-petugas penjagaan banjir
setempat.

2.6. Kualitas Air


 Pengambilan sampel air di beberapa titik studi
 Lokasi titik-titik pengambilan sampel air sesuai dengan arahan Direksi Pekerjaan atau sesuai
dengan keperluan
 Tanggal, waktu, lokasi, warna air, pH dan temperature air pada waktu pengambilan contoh harus
dicatat

2.7. Pelaporan
Data yang telah diperoleh dari lapangan (data sekunder dan primer) dan analisa laboratorium yang
telah diolah, dianalisa dan dievaluasi kemudian disusun dalam bentuk laporan sebagai masukan bagi
perencanaan teknis detil tata air.
Laporan berisi laporan hidrologi, antara lain tentang maksud dan tujuan survey, keadaan umum
daerah survey, metode kerja dilapangan dan dilaboratorium, pengolahan data dan analisanya,
perhitungan keseimbangan air (water balance) dan pola tanam, kebutuhan air tanaman, perhitungan
modulus drainase, tinjauan tentang kualitas air dan permasalahannya, masalah banjir, pengaruh-
pengaruh lain terhadap lahan, kesimpulan serta saran-saran dan hal-hal lain yang dianggap perlu.
Semua data lapangan dan laboratorium dilampirkan dalam laporan.

Secara rinci laporan harus berisi:


(a) Prosedur survei
(b) Data yang tersedia untuk hidrologi, iklim, dan curah hujan
(c) Data iklim bulanan rata-rata

18
(d) Analisa Frekuensi hujan bulanan
(e) Kurva hujan-intensitas-durasi
(f) Ketersediaan dan kebutuhan air (Neraca Air)
(g) Tinggi banjir maksimum dan dan rata-rata muka air saat musim kemarau dan musim
penghujan.
(h) Gambar melintang sungai.
(i) Hasil pengukuran kecepatan dan perhitungan debit
(j) Tabel catchment area
(k) Hasil pengukuran kualitas air (pH dan salinitas)
(l) Hasil laboratorium dari analisa sampel air.

19
Lampiran III
Survei dan Penyelidikan Lapangan Geologi dan Geologi Teknik

3. Mekanika Tanah
3.1. Pemetaan Geologi Permukaan
3.1.1. Umum
Peta geologi permukaan memperlihatkan semua keadaan geologi di daerah proyek yaitu di
lokasi rencana poros bendungan, bangunan-bangunan lain yang terdapat di lokasi proyek dan
daerah genangan dan lokasi sumber bahan timbunan. Selain itu, peta tersebut juga harus
menunjukkan nama batuan, tanah penutup serta penyebarannya, tampakan-tampakan
(feature) geologis, seperti kekar, daerah patahan, jurus dan kemiringan lapisan.
Penyelidikan dengan paritan dan sumuran uji baru dilakukan untuk mengetahui perubahan-
perubahan formasi tanah, yang sangat bermanfaat untuk membantu menentukan jenis
penyebaran batuan, derajat pelapukan serta sifat-sifat tanah penutup (overburden).
Pekerjaan mencakup pemetaan Geologi Permukaan dengan areal pengamatan di poros
bendung, daerah genangan, lokasi-lokasi bangunan, lokasi borrow area dan quary.

3.1.2. Peta Dasar yang Digunakan


Baik peta topografi maupun peta foto udara yang besar dapat dipakai untuk pemetaan
geologi permukaan.
Laporan geologi akhir dibuat berdasarkan hasil-hasil penyelidikan lapangan, dan menggunakan
peta-peta berikut sebagai referensi:
a. Peta wilayah regional dengan skala 1 : 50.000 setidaknya 1 : 100.000
b. Peta semi detail dengan skala 1 : 25.000 setidaknya 1 : 50.000
c. Peta detail dengan skala 1 : 500 di poros bendung dan 1 : 500 di lokasi lainnya

3.1.3. Prosedur
Pemetaan geologi permukaan untuk rencana bangunan pengairan terutama ditujukan untuk
keperluan geologi teknik mencakup pembahasan mengenai:
a. Keadaan geomorfologi
b. Penyebaran satuan-satuan batuan (litologi), yang termasuk batu maupun tanah harus
dengan jelas dibedakan, misalnya batuan dasar, tanah penutup, tingkat pelapukan dan
lain-lain, sifat fisik, tekstur,
c. Sementasi dan jenis batuannya.
d. Kekerasan batuan harus dideskripsikan berdasarkan derajat kekerasan batuan secara
kualiatif untuk kepentingan teknik sipil.
e. Untuk tanah kohesif digunakan lambang OH (overburden hardness), sedangkan untuk
kekerasan batuan digunakan lambang RH (rock hardness).
f. Klasifikasi kekerasan menurut Gikuchi dan Saito

20
g. Untuk derajat pelapukan batuan dipergunakan klasifikasi Gikuchi dan Saito
h. Klasifikasi tanah sebaiknya dipakai berdarkan Unified Soil Classification.
i. Struktur geologi: jurus, kemiringan perlapisan, kekar, patahan.
j. Stratigrafi: urutan-urutan dari satuan batuan secara vertikal berdasarkan
pembentukkannya, sesuai dengan sejarah geologinya.
k. Gejala-gejala lainnya: longsoran kegempaan air tanah dan lain- lain.

3.1.4. Metode Pemetaan Geologi Permukaan


a. Pengamatan detail data-data geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, penyebaran
formasi batuan dan aspek-aspek geologi yang lain secara lengkap.
b. Pengukuran gejala-gejala struktur geologi seperti kekar, lipatan kedudukan dan
kemiringan lapisan batuan pada daerah genangan, daerah poros bangunan. Serta lokasi
potensial terjadinya gerakan tanah seperti longsoran, jatuhan, gelinciran dan lain-lain.
c. Pembuatan sumuran uji untuk mengetahui pola penyebaran dan karakteristik tanah di
lokasi rencana pengambilan material inti kedap air, pengambilan contoh batuan dan
tanah untuk keperluan uji laboratorium.
d. Penenentuan lokasi pemboran inti dan hand auger ataupun sondir pada lokasi sepanjang
rencana poros bangunan ataupun lokasi bangunan-bangunan lainnya untuk mengetahui
kondisi tanah dan batuan di bawah permukaan disertai pengujian daya dukung
tanah/batuan dan pengujian permeabilitas air pada batuan.
e. Penyelidikan kondisi saluran dengan menggunakan tahapan pekerjaan test pit dan hand
auger, yang bertujuan untuk mengetahui penyebaran kondisi geologi baik itu di atas
permukaan dan bawah permukaannya.
f. Semua data-data di atas di gambarkan ke dalam satu peta geologi teknik

3.1.5. Pemetaan Geologi Permukaan Detail


 Menentukan jalur-jalur pengamatan geologi pada lokasi tapak bangunan, pada peta skala
1:500. Jalur pengamatan dibuat tegak lurus poros rencana bangunan dengan interval 1 m.
 Melakukan pengamatan dan mencatat data-data geologi lapangan seperti singkapan
batuan dan penyebarannya, stratigrafi dan struktur geologinya serta kondisi geologi teknik
seperti potensi gerakan tanah.
 Menyiapkan peta geologi teknik lengkap dengan penampang geologinya, penyebaran
batuan, batasan areal yang berhubungan dengan kondisi geologi seperti daerah rawan
longsor, jalur-jalur struktur geologi seperti patahan, perlipatan dan lainnya.

3.1.6. Pemetaan Geologi Permukaan Daerah Genangan

21
 Melakukan pengamatan geologi lapangan pada daerah genangan dan sekitarnya pada skala
1:1.000, seperti singkapan batuan, stratigafi dan struktur geologinya.
 Pengamatan dilakukan di lintasan yang relatif tegak lurus dengan jurus (strike) batuan,
sehingga diketahui variasi batuan dan penyebarannya di daerah genangan
 Pengamatan juga dilakukan pada proses geologi muda yang ada di lapangan seperti potensi
gerakan tanah atau tanah longsor.

3.1.7. Pemetaan Geologi di Daerah Borrow Area dan Quarry


 Mencari material yang nantinya akan dipakai untuk konstruksi bangunan, maka perlu
dipersiapkan areal untuk material timbunan di daerah borrow area dan material lainnya di
daerah Quary dengan memetakan daerah tersebut dan menginformasikan luas area dan
volume materialnya.
 Metode pemetaan geologi di lapangan dengan cara plane table, passing compas,
measuringand section.

3.2. Pemboran
Pemboran yang disyaratkan untuk penyelidikan geologi teknik adalah pemboran dengan cara
pemboran inti bermesin (Rotary core drilling). Pemboran ini dilaksanakan dengan jalan memutar
stang bor beserta tabung pengambil contoh dengan mesin sebgai penggerak.

3.2.1. Penentuan Jumlah Titik Pemboran


 Tujuan pemboran ini adalah untuk mendapatkan data dari kondisi batuan/tanah di bawah
bendung atau bangunan lainnya, serta untuk mengetahui daya dukung dan nilai rembesan
air di bawah bangunannya.
 Lokasi pemboran umumnya dilaksanakan di sekitar bangunan utama.

3.2.2. Diameter Pemboran


Bor yang akan dipergunakan adalah bor ukuran “NMLC” berdasarkan DCDMA (Diamond Corce
Drilling Manufactures Association) dengan :
1. diameter teras (core) 52 mm
2. diameter lubang 75,7 mm

3.2.3. Tabung Penginti (Core Barrel)


Untuk tabung penginti disyaratkan penggunaan tabung penginti tunggal (single tube core
barrel) atau tabung penginti rangkap (double tube core barrel) atau untuk hal-hal khusus, dapat
dipergunakan tabung penginti rangkap tiga “triple tube core barrel”. Semua jenis penginti tadi
dipergunakan tergantung pada kondisi lapangan.

3.2.4. Mata Bor

22
Mata bor dipakai tergantung keadaan batuannya, tetapi umumnya akan dipakai mata bor
tungsten atau mata bor intan. Untuk kondisi tanah dan batuan yang melapuk dipergunakan
mata bor tungsten, sedangkan untuk batuan yang kompak dan keras dipergunakan mata bor
intan. Core recovery yang harus diperoleh minimum 90%.

3.2.5. Pelaksanaan Pemboran


 Setelah lokasi pemboran disetujui oleh Direksi, maka selanjutnya memobilisasi alat dan
personil ke lokasi pekerjaan.
 Membersihkan areal lokasi pemboran dari tanaman, akar-akaran dan apabila lokasi
pemboran di daerah lereng / tebing, ataupun di tengah sungai, maka diperlukan persiapan
pembuatan andang.
 Mencari lokasi pengambilan air yang nantinya sangat diperlukan untuk proses pekerjaan
pemboran basah dan untuk pengujian air.
 Setelah mesin bor dan three pot dan pompa air selesai dipasang, maka pekerjaan dapat
segera dimulai.
 Pemboran dilaksanakan dengan menggunakan tungsten bit untuk kondisi soil dan batuan
lunak dan dengan pemboran kering. Untuk kondisi batuan keras, metodenya dengan
pemboran basah dan menggunakan diamond bit. Memperhatikan perubahan warna air
pembilas dan mencatatnya di buku harian pemboran. Metode pemborannya adalah dengan
rotary drill, bukan dengan percussion drilling (menumbuk).
 Memasang casing (pipa pellindung) di lokasi yang mudah runtuh.
 Setiap selesai pemboran, coring dimasukkan ke dalam core box dan meletakkannya sesuai
dengan urutan awal kedalaman. Memberi tanda batas pengambilan coring.
 Setelah 5 m kemajuan pekerjaan, core box ditutup dengan papan. Memberi keterangan di
papan penutup dengan Nama Proyek, No. Titik Pemboran, Lokasi Pemboran, Kedalaman
Pemboran, No Core Box. Menutup core box dengan gembok.
 Bahan-bahan seperti slime, cutting dan bahan-bahan lain yang bukan bagian dari hasil
pemboran tidak dapat dimasukkan ke dalam core box.
 Juru bor harus mencatat setiap pelaksanaan pekerjaan pemboran, waktu pekerjaan, proses
pekerjaan, muka air tanah, pekerjaan pengujian tes air, pengujian daya dukung tanah
dengan SPT, pengambilan contoh tanah tidak terganggu dan lain-lainnya ke dalam buku
lapangan.
 Surveyor harus memberikan data koordinat (x dan y) serta elevasi lubang bor dan
menyerahkan data tersebut ke juru bor. Referensi untuk pengukuran di lokasi pemboran ini
diambil dari Benchmark dan koordinat-koordinat serta elevasinya akan ditunjukkan oleh
Direksi pekerjaan.

3.2.6. Penyimpanan Contoh

23
Contoh-contoh hasil pemboran inti (core samples) harus dimasukkan dalam peti kayu serta
disusun sesuai dengan urutan kemajuan pemboran.
Untuk contoh inti yang tak terambil sama sekali, dalam peti penyimpanannya dapat diganti
dengan bambu atau kayu yang dicat merah dan ditempatkan sesuai dengan kedalamannya.
Besarnya ukuran peti contoh: panjang = 1,00 m
lebar = 0,50 m
Tiap peti contoh untuk menyimpan 5 meter kemajuan pemboran, terdiri dari 5 jalur. Tiap jalur
panjangnya 1 meter. Di bagian dinding kiri dan kanan peti contoh dituliskan kedalaman
pemboran yang berurutan dari atas ke bawah. Disetiap pengambilan dengan core barrel, hasil
pemboran diletakkan di dalam peti penyimpanan dengan memberikan tanda di bagian sekat
peti contoh.
Pada tutup dan bagian depan peti penyimpan contoh, data-data berikut harus dicantumkan
denga jelas:
a. Nama proyek
b. Nama lokasi
c. Nomor titik bor
d. Inisial dan kedalaman terakhir dimana inti contoh diambil
Semua peti dan intinya harus disimpan di tempat yang aman (terhindar dari panas, hujan dan
lain lain) untuk selanjutnya akan dipergunakan untuk keperluan desainer dan tahap konstruksi.

3.2.7. Log Bor


Diskripsi contoh-contoh batuan hasil pemboran harus dimasukkan ke dalam kolom tertentu
(log bor) dan membuat nama proyek, lokasi proyek, nomor lubang bor, tanggal, elevasi,
koordinat titik bor, muka air tanah,tanggap pemboran, kedalaman pemboran setiap harinya,
formasi batuan/tanah, nama batuan/tanah, pelapukan batuan, kekerasan batuan, core shape,
core recovery, deskripsi, satuan batuan, RQD, kofisien permeabilitas/lugeon, SPT, air pembilas,
type core barrel dan pipa pelindung.
Deskripsi dilakukan oleh ahli geologi dan penamaan satuan batuan dan simbol-simbol harus
mengikuti standar/klasifikasi yang sudah ditentukan sebagai berikut:
TANAH : UNIFIED SOIL CLASSIFICATION
BATUAN : TEKSTUR, KOMPOSISI MINERAL, NAMA BATUAN
PELAPUKAN : DERAJAT PELAPUKAN Gikuchi dan Saito
SKALA KEKERASAN BATUAN Gikuchi dan Saito

3.2.8. Metode Penyelidikan


a.ASTM D.2113 – 70
b.AASHO T.225 – 68
c.BS - 4019
d. SNI 03-2436-1991(sedang direvisi)

24
3.2.9. Catatan Pengukuran Air Tanah
 Air tanah yang dijumpai harus diukur dan dicatat seperti berikut:
 Jika air tanah dijumpai untuk pertama kali, maka kedalaman diukur. Pemboran ditunda
dahulu sekurang-kurangnya 20 menit guna memberi waktu agar air statik bebas tersebut
berkembang.
 Kedalaman air itu harus dicatat setiap 2 menit dalam tempo 20 menit. Jika waktu 20 menit
telah lewat dan muka air masih naik, maka Pelaksana Pekerjaan harus memutuskan sesuatu
sebelum pemboran dilanjutkan kembali.
 Bila dijumpai air tanah pada lapisan yang lebih dalam setelah air tanah yang dijumpai
sebelumnya telah disekat dengan pipa lindung, maka harus dibuat catatan serupa.
Perkecualiannya adalah jika aliran air tanah itu berupa rembesan kecil saja ke dalam lubang
bor. Dalam hal ini, titik rembesan itu harus dicatat dan pemboran dilanjutkan.
 Muka air harus dicatat pada awal dan akhir masing-masing pergantian jam kerja. Pada
waktu dijumpai air tanah, kedalaman lubang bor, panjang bagian pipa lindung, yang masuk
lubang bor, dan waktunya harus dicatat.
 Muka air dicatat 24 jam setelah pemboran selesai dan selama itu lubang bor dibiarkan
terbuka.
 Cara pencatatan muka air seperti diuraikan di atas berlaku untuk semua lubang bor.

3.3. Test Penetrasi Standart (SPT)


3.3.1. Umum
 Tes penetrasi standar dilakukan untuk memperoleh “harga – N” dan contoh lapisan tanah
yang representatif. Harga – N dipakai untuk membuat perkiraan kondisi lapisan tanah
bawah sehubungan dengan daya dukung untuk perhitungan perencanaan pondasi.
Pelaksanaan pengujian berdasarkan ASTM D-420 dan 1586-84.
 Harga – N didefinisikan sebagai jumlah pukulan dengan palu seberat 63,5 kg yang jatuh
bebas dari ketinggian 75 cm, untuk memasukkan alat pengambil contoh sedalam 50 cm ke
dalam tanah.
 Tes ini umumnya dilakukan dengan interval kedalaman 2 meter dan atau di tiap-tiap
pengantian bahan pada lapisan tanah.

3.3.2. Peralatan
 DRIVE HAMMER ASSEMBLY
Palu: seberat 63,5 kg.
Pipa pemandu: panjang secukupnya untuk memungkinkan palu jatuh bebas dari ketinggian
75 cm.

25
Topi lindung (knocking head) seperti pada Gambar 1 Tali kawat dan seterusnya.

 BATANG BOR
Diameter: 40,5 mm atau 42 mm.
 ALAT PENGAMBIL CONTOH SPLIT SPOON
Diameter luar: 2” dan diameter dalam 1 3/8”. Panjang 50 cm,
 LAIN – LAIN
Alat penutup contoh transparan yang kedap udara (kantong plastik), lembar data dan lain-
lain.

3.3.3. Metode
 Setelah pemboran mencapai kedalaman yang direncanakan, lubang bor harus dibersihkan
hingga ke dasarnya dengan melakukan pencucian dari runtuhan material-material yang
telah di bor untuk menjamin agar tanah yang dites tidak terganggu.
 Alat pengambil contoh (bersih dan sedikit dilumasi) dipasang pada batang bor. Semua
sambungan harus kuat sehingga tidak akan lepas sewaktu pengujian berlangsung. Alat
pengambil contoh diturunkan ke dasar lubang. Topi lindung, pipa pemandu dipasang di
bagian atas batang bor. Batang bor diberi tanda memakai spidol melingkari batang bor
dengan interval 15 cm dari bawah ke atas.
 Kemudian palu dijatuhkan pada topi lindung sampai alat pengambil contoh masuk sedalam
15 cm ke dalam tanah sebagai pancangan posisi awal (seating drive). 15 cm pertama (0.0
cm - 15.0 cm) disebutkan N1. Setiap jatuhan palu dihitung sampai kedalaman 15 cm. Bila
N1, pukulannya sudah melebihi 50 kali maka pelaksanaan dianggap selesai. N total lebih
dari 50 dan dicatat berapa cm batang bor yang masuk kedalam tanah.
 Bila 15 m awal N1 belum mencapai 50 pukulan, maka selanjutnya dilanjutkan ke 15 m
berikutnya. Seperti N1 di awal, jumlah pukulan dihitung sampai kedalaman 15 cm. Di
kedalaman 15 cm – 30 cm ini disebutkan N2. Bila N2 melebihi 50 pukulan, maka
pelaksanaan dianggap selesai. Bila belum mencapai 50 kali pukulan, maka dicatat berapa
kali pukulan yang masuk di kedalaman ini. (N2=...pukulan)
 Bila N2 belum mencapai 50 pukulan, maka dilanjutkan pada kedalaman 30.0 cm – 45.0 cm,
disebutkan N3. Selanjutnya dihitung berapa kali pukulan yang masuk.
 N total adalah jumlah pukulan di N2+N3. Sedangkan N1 bila kurang dari 50 kali pukulan
tidak dimasukkan ke dalam hitungan karena dianggap N1 yaitu di kedalaman 15.0 cm
pertama itu sebagai sisa / bukan tanah asli.
 ”Keadaan jatuh bebas” dari ketinggian 75 cm, harus dilakukan dengan hati-hati. Batang bor
di atas lubang bor harus dipegangi dalam posisi vertikal untuk mencegah perpindahan
energi akibat tekukan dan sebagainya.

26
 Setelah pengujian selesai, alat pengambil contoh harus dikeluarkan dari lubang bor dan
dibuka. Kemudian contoh yang diambil harus dimasukkan ke dalam plastic dan diberi tanda
nilai N1, N2 dan N3 di bagian luar dari palstik tersebut. Kedua ujung plastic harus diikat.
Selanjutnya
 Plastik ini dimasukkan ke peti contoh. Pada peti itu dituliskan label yang berisi nilai N1, N2
dan N3.
 Untuk mendapatan harga daya dukung tanah (qu) dari nilai N:
 Rumus Peck hanya digunakan untuk tanah lempungan sbb: qu = (0.4 + (N/20)) kg/cm)
- Untuk mendapatkan harga Ø (sudut geser dalam) untuk tanah pasiran digunakan
rumus
- Peck sbb : Ø = 0.3 N + 27
 Hasil-hasil pengujian dan contoh harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan. Hasil-hasil itu
harus diserahkan dengan format seperti ditunjukkan pada lembar data teramplir, atau
format lain dengan persetujuan Direksi Pekerjaan.
Prosedur : ASTM, D 1586-67
AASHO, T 206-70
BS, 1377
JIS, A 1219-1968
SNI, 03-4153-1996

3.4. Test Permeabilitas


3.4.1. Umum
 Tes permeabilitas harus dilakukan di setiap lubang bor, mencakup seluruh kedalaman
lubang.
 Metode yang akan dipakai bisa dipilih dari metode – metode yang ada (seperti tes packer,
falling head, constant head dan tes open end) sesuai dengan karakteristik formasi yang
akan dites. Metode tes dan analisis hasil – hasilnya harus disetujui oleh Direksi sebelum
pekerjaan dimulai. Untuk uji bertekanan disebut Uji Packer / Lugeon, dilakukan bila kondisi
bawah permukaan terbentuk dari batuan yang cukup keras. Sedangkan uji tidak bertekanan
seperti constant head, falling head dan open end constandend tes, dilakukan dikondisi
bawah permukaan yang terbentuk dari tanah dan pasir serta batuan yang melapuk tinggi
dan hancur.
 Tes akan dilakukan sekali per (1 ½ - 3) m dari kedalaman lubang, dengan metode tahap
turun (descending stage method). Sebagai prinsip, panjang masing – masing tahap harus
kurang dari 5,0 m dan tahap – tahap selanjutnya harus dibor setelah tes sebelumnya
selesai.
 Peralatan yang akan digunakan harus disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebelum mulai
dilaksanakan dipakai.

27
 Pada tahap di mana dinding lubang mudah runtuh, lubang itu harus diberi pipa lindung dan
harus dipakai metode tes open end seperti falling head atau constans head.
 Tes harus dilakukan dengan metode bertahap. Air injeksi harus bersih, tanpa mengandung
bahan-bahan halus. Tidak diperbolehkan menggunakan bahan-bahan tambahan dalam
pembuatan lubang bor.
 Untuk menghindari terjadinya kerenggangan (clearance) antara lubang bor dan pipa
lindung tanpa mengganggu tekstur lapisan asli, tidak diperkenankan menggali sedalam 1
meter dari bagian dasar pipa lindung dengan cara pemukulan dengan palu. Bagian ini harus
dibor dengan cara mendongkrak atau menekan.

3.4.2. Uji Packer / Uji Bertekanan


 Untuk uji permeabilitas pada formasi batuan yang keras, kompak, umumnya dipakai
metode uji packer (packer test). Metode ini mempergunakan alat yang disebut “packer”
yang berfungsi sebagai penghalang supaya air yang dipompakan dengan tekanan bisa
masuk ke dalam formasi batuan yang akan dites, jadi merupakan penyekat yang tidak
tembus air. Percobaan ini dilakukan pada lubang bor dengan ukuran NX. Packer tunggal
ditempatkan diatas bagian yang dites (single Packer). Kedalaman yang diuji biasanya di
setiap interval 5 m (1 stage).
 Berikut alat-alat yang akan dipakai untuk menguji. Sebelum mulai dipakai peralatan itu
harus disetujui oleh Direksi Pekerjaan:
(a) Packer mekanik (machanic packer) atau packer udara (air packer)
(b) Pompa air dengan kemampuan kapasitas minimum 75 liter/menit
(c) Pressure meter dengan kemampuan maksimum 15 kg/cm2
(d) Tanki air
(e) Selang / pipa air
(f) Valve
(g) Water meter
(h) Pressure meter
 Terlebih dahulu lubang di bor sampai kedalaman 5 m. Muka air tanah diukur Lubang
dibersihkan dengan air dengan tekanan rendah.
 Packer harus dipasang di bagian ujung atas lubang bor. Packer dihubungkan dengan selang
air ke tangki air dan dibagian atas lubang dipasang alat pengukur debit air (water meter)
dan water pressure dan pengatur untuk menurunkan dan menaikkan tekanan (valve). Tinggi
posisi water meter dan pressure meter harus dicatat. Kedalam yang diuji adalah dari bagian
bawah packer yang masuk kedalam lubang sampai ujung lubang bor. Diperlukan
pengamatan terlebih dahulu (kalibrasi alat) sebelum pengujian test air bertekanan ini
dimulai. Apakah dengan tekanan air yang berbeda debit air yang keluar tetap stabil atau
tidak. Atau karet packer terjadi kebocoran/tidak.

28
 Setiap tahap pengujian dilakukan dengan 5 kali pengamatan dengan variasi tekanan yang
berbeda, yaitu 33% P maks, 66% P maks, 100% P maks, 66% P maks, 33% P maks. Di setiap
tekanan dicatat debit air yang masuk disetiap menitnya selama 10 menit. Disetiap
pembacaan perlu diperhatikan perubahan debit air yang masuk, terjadi perubahan yang
sedikit atau besar.
 Hal-hal yang perlu dicatat dan diukur adalah sebagai berikut:
(a) Tanggal dan waktu pengujian
(b) Stage keberapa (perstage sama dengan kedalaman 5 m)
(c) Tinggi pressure meter dari atas lubang bor
(d) Lebar dari diameter lubang bor
(e) Kedalaman pengujian, yaitu dari ujing packer bagian bawah sampai dasar lubang
(f) Muka air tanah
(g) Tekanan yang diberikan harus stabil
(h) Debit air yang masuk, pembacaan setiap menitnya selama 10 menit
(i) Perubahan debit air yang masuk, apakah terdapat perubahan debit yang kecil atau
sangat besar. Bila terjadi perubahan yang besar, maka diperkirakan rongga batuan pecah.
 Disimpulkan bahwa tekanan yang pada saat batuan pecah dipakai menjadi tekanan kritis
(critical pressure).
 Hal – hal yang disebutkan di atas harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan dengan format
seperti yang ditunjukkan pada lembar data atau format lain yang telah disetujui oleh Direksi
Pekerjaan.
 Perhitungan test air bertekanan:
Lu = Lugeon
Q = Debit air (liter/menit)
P = Pressure (kg/cm2)
L = Length (m)

10 x Q
Lu =
L x P

29
h2
Permukaan tanah

GWL h3
atas

h1

h3
tengah
L

bawah
GWL

metode test air bertekanan


Catatan:
P = Po + P1
Po = Pressure yang dipakai pada saat tes
h1 = d1 + (L / 2), h1 = ......... m
P = Total Pressure
Jika h1 > h3, P1 = (h3 + h2) / 10
h2 = Tinggi pressure gauge dari tanah
Jika h1 < h3, P1 = (h1 + h2) / 10
h1 = Setengah dari kedalaman pemboran
h3 = Kedalaman GWL

3.4.3. Kedalaman Pengujian Permeabilitas


Bagian – bagian yang dites umumnya:
a. pada setiap kedalaman interval 5 meter
b. pada setiap pergantian lapisan.

3.5. Pengambilan Contoh Tanah


3.5.1. Pengambilan Contoh Tanah Asli
Agar data-data parameter dan sifat-sifat tanahnya masih dapat digunakan, maka pengambilan
contoh tanah harus dilakukan dengan hati – hati.
Pengambilan, pengangkutan dan penyimpanan contoh-contoh tanah ini harus memenuhi
persyaratan tertentu, agar:
 Struktur tanahnya tidak terlalu terganggu atau berubah, sehingga mendekati keadaan yang
sama dengan keadaan lapangan.
 Kadar air aslinya masih dapat dianggap sesuai dengan keadaan lapangan.
 Pengambilan contoh dari pelaksanaan pemboran. ASTM D-420, D-1587 dan D-3550

30
a. Menggunakan tabung dengan panjang 50 cm
b. Tabung dimasukkan sesuai dengan kedalaman pengambilan contoh tanah tidak
terganggu yaitu dari tanah yang sangat lunak, lunak dan kekerasan sedang
c. Tabung ditekan dengan menggunakan tekanan dari mesin bor
d. Setelah pengambilan selesai, kedua ujung tabung ditutup dengan paraffin
e. Di dinding tabung diberi tanda: Nama proyek, lokasi titik bor, nomor titik bor,
kedalaman, nomor tabung
f. Disimpan ditempat yang aman, terhindar dari panas matahari, getaran
g. Segera tabung dibawa / dikirim ke laboratorium untuk di uji.

3.5.2. Pengambilan Contoh Tanah Terganggu


 Contoh meruah terganggu
- Contoh tanah sebanyak kurang lebih 30kg harus diambil dari paritan uji.
- Bila masing – masing lapisan tanah cukup tebal, maka contoh harus diambil dari
masing – masing lapisan dengan pengambilan vertikal.
- Bila lapisan – lapisannya tipis (< 0,5 meter) maka pengambilan contoh tanah
tersebut diambil secara keseluruhan dengan pengambilan vertikal.
- Contoh tanah dimasukkan kedalam karung dan ujung karung plastik diikat dengan
rapat. Di bagian luar dari karung diberi tanda nama proyek, lokasi pengambilan,
kedalaman, nomor contoh tanah.
 Contoh kecil terganggu
- Contoh tanah sebanyak 1kg harus diambil dari kedalaman tertentu dari setiap
paritan uji atau lubang bor untuk diuji kadar air dan klasifikasinya.
- Contoh – contoh ini harus disimpan dalam kantong plastik atau kantong lain yang
memenuhi syarat.
 Semua contoh harus diberi label yang menunjukkan nama dan lokasi proyek, nomor
contoh, nomor lubang bor atau sumuran uji, kedalaman dan deskripsi tanah. Keterangan
tersebut harus ditulis dengan jelas pada nota dan dicantumkan pada wadah contoh.

3.6. Sumuran Uji


3.6.1. Umum
Pekerjaan sumuran uji atau test pit adalah untuk mengetahui jenis dan tebal lapisan di bawah
permukaan tanah dengan lebih jelas, baik untuk pondasi bangunan maupun untuk bahan
timbunan pada daerah sumber galian bahan (borrow area). Dengan demikian akan dapat
diperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai jenis lapisan dan tebalnya, juga volume bahan
galian yang tersedia dapat dihitung.

31
3.6.2. Prosedur
 Pelaksana Pekerjaan harus menggali sumuran uji untuk dapat menentukan pembagian
lapisan tanah dan mengambil contoh untuk diuji.
 Ukuran sumuran uji.
 Potongan melintang sebuah sumuran uji harus cukup besar untuk memungkinkan
dilakukannya pekerjaan penggalian, yakni sekitar 1,5 x 1,5 m dengan kedalaman 3 sampai 5
meter.
 Pelaksana pekerjaan harus dapat menginterpretasikan lokasi borrow area dengan baik
misalnya jenis bahan timbunan untuk inti bendungan, pasir dan batuan. Sehinga
pembuatan sumuran uji lebih efesien.
 Bahan yang dikeluarkan dari galian harus dikumpulkan di sekitar sumuran uji untuk
mengetahui bahan lain setiap kedalaman tertentu.
 Agar pengambilan contoh dan klasifikasi tanah dapat dilakukan dengan baik, dasar sumuran
uji harus dibuat horizontal.
 Untuk pengambilan contoh tanah yang tidak terganggu, dapat dilakukan di lapisan tanah
yang berbeda ataupun pada kedalaman tertentu yang telah mendapatkan persetujuan dari
direksi.
 Metode pengambilan contoh tanah tidak terganggu dapat dilakukan dengan bahan yang
terbuat dari kayu dan berbentuk kubus, dimana satu bidang dari kubus tersebut masih
terbuka. Bagian dalam kubus dilumuri parafin. Ukuran kubus 30 x 30 x 30 cm. Pada
kedalaman yang sudah ditentukan untuk pengambilan contoh tanah yang tidak terganggu,
tanah dibentuk seperti kubus dengan ukuran yang lebih kecil dari ukuran kubusnya. Setelah
itu kubus dimasukkan ke dalam tanah yang sudah terbentuk tadi. Bila tanah telah masuk
selutuhnya kedalam kubus, maka bagian bawah dari kubus dipotong. Satu bagian kubus
yang terbuka kemudian ditutup dengan kayu yang bagian dalamnya telah dilumuri parafin
dan selanjutnya bagian itu dipaku.
 Bagian luar dari kubus diberi tanda: Nama proyek, nomor tes pit, kedalaman pengambilan
contoh tanah serta waktu pengambilannya dan disimpan ditempat yang aman.
 Sedangkan untuk pengambilan contoh tanah yang terganggu, dapat diambil dari dinding
lubang sumuran uji. Contoh tanah dapat diambil dari setiap lapisan tanah yang berbeda
sekurang-kurangnya 30 kg. Selanjutnya contoh tanah dapat dimasukkan kedalam karung
plastik dan diikat dibagian ujungnya. Pada bagian luar dari plastik diberi simbol nama
proyek, lokasi pengambilan contoh tanah, kedalaman pengambilan contoh tanah dan
waktu pengambilannya.
 Untuk contoh bahan timbunan berupa pasir dan batu, dimasukkan ke dalam karung plastik
sekurangnya 30 kg dan memberi tanda seperti di atas.
 Setelah masing – masing sumuran selesai, ahli geoteknik dari pihak Pelaksana Pekerjaan
harus membuat catatan mengenai hasil-hasil penemuannya, mendiskripsi sumuran uji,

32
mengambil foto – foto berwarna, serta menyerahkannya kepada Pemberi Pekerjaan.
Semua diskripsi tentang nama proyek, lokasi pengambilan contoh tanah, kedalaman
pengambilan contoh tanah, deskripsi lubang, dan lain-lainnya harus disajikan oleh
Pelaksana Pekerjaan ke dalam satu log test pit dimana format log tersebut telah disetujui
oleh Pemberi Pekerjaan.
 Pada waktu membuat sumuran uji, harus dilakukan uji berat volume di lapangan pada
setiap kedalaman 2,0 m dengan metode berat volume pasir atau metode volume air
menurut JIS A 121 H/1971 atau ASTM D 2937 – 71, SNI 03-6872-2002

3.6.3. Hal-hal Khusus


Pembuatan sumuran uji ini dihentikan bilamana:
 Telah dijumpai lapisan keras dan diperkirakan benar – benar keras di sekeliling lubang
sumuran uji tersebut.
 Peralatan gali sederhana seperti linggis, cangkul, sekop atau belincong tidak bisa
menembusnya lagi.
 Bila dijumpai rembesan air tanah yang cukup besar sehingga sulit untuk diatasi dengan
peralatan – peralatan pompa sederhana di lapangan.
 Bila dinding galian mudah runtuh, sehingga pembuatan galian mengalami kesulitan.
Diusahakan terlebih dahulu dengan membuat papan – papan penahan dinding galian
sebelum penelitian ini dihentikan.

3.7. Paritan Uji (Trench)


3.7.1. Umum
Paritan uji adalah galian yang dibuat dengan bentuk seperti parit dengan tujuan untuk
mengetahui lebih jelas gejala – gejala geologi di permukaan, misalnya batas atau bidang kontak
lapisan – lapisan batuan, rekahan (fracture), patahan, tingkat pelapukan dan tebal lapisan
penutup (over burden). Paritan uji umumnya dibuat pada lereng, tumpuan (abutment), dapat
memotong garis tinggi atau sejajar garis tinggi.

3.7.2. Dimensi
Panjang : disesuaikan dengan keadaan lereng dan tujuan penyelidikan, dapat berkisar
dari sepuluh sampai dua puluh meter panjang
Lebar : secukupnya supaya orang atau alat mudah bekerja, minimal (1,50 – 2,00)
meter jika pekerjaan dilaksanakan dengan tenaga manusia.
Kedalaman : jika lapukan/tanah penutup tidak tebal, sampai ke lapisan keras. Jika tebal,
kedalaman sampai 3 meter.

3.7.3. Prosedur

33
 Harus dilakukan dengan menggunakan tabung baja berdiameter sekitar 6,8 cm dengan
panjang minimum 50 cm
 Dimasukkan ke dalam peti penyimpanan contoh berukuran sekitar 20 x 30 x 20 cm yang
telah disetujui oleh Pemberi Pekerjaan.
 Sebelum pengambilan contoh tanah dilakukan, dinding tabung sebelah dalam diberi
pelumas (oli) agar gangguan terhadap contoh tanah dapat diperkecil, terutama pada waktu
mengeluarkan contoh tanahnya.
 Segera setelah pengambilan contoh selesai, kedua ujung alat pengambil contoh harus
ditutup dengan menyegel ruang kosong antara contoh dan alat pengambil contoh dengan
parafin atau bahan lain guna melindunginya dari getaran.
 Pada tabung atau peti penyimpanan contoh harus dipasang label yang mencantumkan
nama proyek, nomor luang bor atau paritan uji, nomor contoh, kedalaman contoh dan
deskripsi tanah.
 Contoh yang telah disegel harus bebas dari getaran, terik matahari serta perubahan
temperatur secara radikal.
 Pada waktu pengambil contoh, harus diberikan tekanan sentris agar struktur tanah tetap
serupa dengan kondisinya di lapangan.
 Contoh tanah diambil pada setiap lapisan atau kedalaman tertentu.
 Selama pengangkutan, contoh tanah harus bebas dari getaran dan contoh tanah tidak
boleh disimpan pada suhu tinggi.

3.7.4. Hal-hal Khusus


Pembuatan paritan uji ini dihentikan bilamana:
 Telah dijumpai lapisan keras dan tidak dapat ditembus lagi dengan peralatan konvensionla
(belincong, linggis dan lain-lain).
 Dinding galian mudah runtuh dan sulit untuk diatasi.

3.8. Adit
3.8.1. Umum
Adit adalah galian yang dibuat menembus bukit, berupa galian berbentuk terowongan.

3.8.2. Dimensi
Dimensi harus diusahakan seekonomis mungkin, tetapi pekerja maupun alat yang akan
melakukan pengamatan dan percobaan mudah untuk bergerak.
Ukuran dari adit berkisar pada:
a. Tinggi : 1,80 – 200 meter
b. Lebar : 1,50 – 2,00 meter
c. Panjang : 50-100 meter

34
3.8.3. Hal-hal Khusus
 Bahan peledak hanya digunakan untuk menghancurkan lapisan-lapisan batu keras, dengan
mengusahakan supaya over break sekecil mungkin, sesuai dengan desain.
 Untuk galian pada tanah/batuan lunak harus selalu dipasang penahan/dukungan untuk
menjaga runtuhan dari atas maupun dinding terowongan (dukungan
sementara/permanen).
 Sistem peledakan, bahan peledak dan cara-cara pemberian dukungan harus mendapat
persetujuan dahulu dari Direksi Pekerjaan.

3.9. Pencobaan Penetrasi


3.9.1. Penyondiran
Percobaan penetrasi static tanah harus dilakukan pada lokasi-lokasi yang telah ditentukan oleh
Pemberi Pekerjaan. Peralatan yang dipakai harus benar-benar sesuai dengan lokasi dan ukuran
rig yang dipakai ( 2,5 ton - 5 ton).
Pelaksana Pekerjaan bertanggungjawab menentukan pergantian lapisan tanah. Percobaan
penetrasi dilakukan untuk melengkapi hasil-hasil pemboran tangan. Tetapi pada lokasi-lokasi
khusus yang mengandung bahan pasir dan lempung lunak, hanya akan dipakai sondir
(penetrometer).

3.9.2. Peralatan
Alat yang dipakai untuk percobaan penetrasi harus mampu mengkur tahanan konus dan
gesekan samping. Tipe alat ini adalah tipe bikonus atau yang sejenis yang telah disetujui oleh
Pemberi Pekerajaan.
Diameter konus adalah 35,7 mm (menghasilkan luas lubang 10 cm2) dan sudut puncak 60
derajat. Percobaan harus dilakukan sesuai dengan ASTM D 3441-75 T, SNI 03-2827-2992
Prosedur pelaksanaan:
 Lokasi penyondiran harus mendapatkan persetujuan dari Pemberi Pekerjaan
 Lokasi penyondiran dibersihkan dari semak-semak dan sampah-sampah lainnya hingga
permukaan bersih
 Untuk tiap-tiap lokasi harus dibuat denah yang menunjukkan lokasi percobaan dan elevasi
permukaan tanah pada titik uji sehubungan dengan datum tetap lokasi.
 Memasang angker sebanyak 4 buah sebagai pegangan/penguat dudukan mesin sondir
 Mendirikan mesin sondir sampai berdiri dengan kokoh
 Memasang bi conus dan memberi tanda di stang dengan interval 20 cm.
 Melakukan pembacaan konus dan perlawanan konus
 Laju penetrasi selama pengkuran gaya harus dijaga konstan 2 cm/dt dan pembacaan harus
dilakukan secara terus menerus.

35
 Pelaksanaan dianggap selesai bila pembacaan hambatan lekat telah mencapai angka 150
kg/cm2 untuk sondir dengan kapasitas 2.5 ton atau bila pembacaan itu belum tercapai,
maka kedalaman maksimumnya adalah 20.0 m. Sedangkan untuk sondir dengan kapasitas
5.0 ton, pembacaan hambatan lekatnya mencapai 250 kg/cm2 atau bila nilai itu belum
tercapai maka kedalaman maksimumnya adalah 30.0 m.
 Mengukur muka air tanah di dalam lubang dengan melihat stang sondir yang diangkat
keluar apakah mengandung air
 Memasang patok beton berukuran 20 cm x 20 cm x 10 cm tinggi dan memberikan pipa pvc
sepanjang 20 cm yang menembus atas dan bawah beton. Di atas patok beton diberi tandan
nomor sondir.
 Pelaksanaan dianggap selesai bila telah mendapat persetujuan dari Pemberi Pekerjaan.
 Laporan hasil percobaan penetrasi harus mencakup informasi mengenai sistem
pengukuran, tanggal percobaan, nomor dan identifikasi lokasi, tanggal pelaksanaan, muka
air tanah, pembacaan konus dan perlawanan conus, estimasi jenis tanah dari pembacaan
conus, nama operator dan pengawas serta pengamatan dalam kondisi tidak normal.
 Grafik hasil pelaksanaan harus menunjukkan hambatan lekat dan jumlah perlawanan
hambatan lekat diplot pada as horizontal terhadap terhadap kedalaman ke arah horizontal.

3.10. Pemboran Tangan


3.10.1. Umum
Untuk pemboran ini digunakan peralatan bor tanah yang ringan, dan dapat dioperasikan
dengan tangan untuk mengambil contoh tanah dari lubang bor. Alat itu dipakai cocok untuk
menyelidiki lempung lunak sampai teguh dan hanya dapat dipakai sampai kedalaman 10 m.
Diameter lubang bor berkisar antara 12 sampai 15 cm, sehingga contoh tanah mudah
diambil. Dianjurkan untuk menggunakan bor tangan setelah percobaan penetrasi statik
selesai.
Peralatan yang digunakan dalam pekerjaan hand auger meliputi:
1. Stang bor
2. Mata bor
3. Tabung sample
4. Alat memutar
5. Meteran
6. Palu
7. Kunci

3.10.2. Prosedur
 Memasang mata bor ke ujung stang bor dan alat pemutar di ujung lainnya
 Membersihkan permukaan sekitar lokasi pemboran

36
 Memasukkan ujung bor ke dalam tanah dan memutar stang bor hingga mata bor masuk
ke dalam tanah.
 Meletakkan hasil pemboran di atas tanah secara berurutan
 Demikian seterusnya hingga tercapai kedalaman yang ditentukan
 Dari contoh tanah yang diletakkan di atas tanah, bila diperlukan contoh tanah, dapat
dimasukkan ke dalam kantong plastik dengan memberi tanda nomor lubang bor,
kedalaman dan nama proyek serta lokasi pengambilan
 Mencatat muka air tanah
 Mendiskripsi contoh tanah secara berurutan dari atas ke bawah

3.10.3. Hal-hal Khusus


 Pada lapisan tanah liat yang lembek dan mudah longsor, dan dinding lubang bor tersebut
selalu runtuh, disarankan agar digunakan pipa lindung sehingga jenis tanah tersebut
dapat diambil.
 Pada lapisan keras yang sulit ditembus alat bor, misalnya dijumpai bongkah, usahakan
 mengadakan pemboran ulang pada jarak 1 – 3 m di sisi lokasi pemboran pertama.
 Perlu dingat bahwa bor tangan tidak dipakai untuk penelitian perlapisan kerikil, berangkal
maupun bongkah.

3.11. Penyelidikan Laboratorium


Dalam usaha memberikan lebih banyak masukan data yang akan digunakan di dalam perhitungan
perencanaan desain bangunan maka pengujian contoh material timbunan di laboratorium sangat
diperlukan.
Pengujian dibagi ke dalam 3 kelompok, yaitu penelitian yang berkenaan dengan:
a. Pondasi
b. Bahan timbunan (tanah, pasir dan batu)
c. Bahan beton

3.11.1. Penelitian Material Pondasi


Untuk memberikan data yang mendekati kondisi aslinya, contoh tanah yang akan di uji
adalah contoh tanah asli.
Jenis penelitian tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
 Sifat-sifat indeks (index properties)
Penelitian ini berfungsi sebagai pendekatan untuk mengetahui kondisi fisik jenis tanah
yang akan kita evaluasi, sehingga penilaian (judgement) yang dibuat selaras dengan data
teknis yang diperoleh.
Pengujian tersebut antara lain:
(a) Berat isi (‫ז‬n)
(b) Berat jenis (Gs)

37
(c) Kadar air (Wn)
(d) Analisis ukuran butir (m%)
(e) Batas-batas Atterberg (WI,Wp,Ip)
(f) Hidrometer
 Sifat-sifat teknik (engineering properties)
Setelah data sifat-sifat indeks diketahui, maka pengujian untuk data teknis disesuaikan
dengan sistem pengujian yang sesuai dengan kondisi fisiknya.
Sifat-sifat teknik tanah dapat diketahui dengan melalui cara:
(a) Direct shear test (c,D)
(b) Unconfined Compression test (qun,qur)
(c) Triaxial Test, B.P. sistem consolidated undrained atau unconsolidated undrained
(C, C”, D, D’)
(d) Tes Konsolidasi (Cc, Cv, Es)

3.11.2. Penelitian Bahan Timbunan


Guna mengetahui suatu jenis tanah yang baik untuk bahan timbunan, terlebih dahulu harus
dilakukan pengecekan terhadap data fisik dan teknik.
Ada 3 jenis material timbunan yang perlu diuji, yaitu:
(a) Tanah / lempung
(b) Pasir
(c) Batu

3.11.3. Sifat-sifat Indeks


Test sifat-sifat indeks ini dilakukan untuk mengetahui kondisi asli tanah, sebelum tanah itu
kita ubah-ubah baik dalam kepadatan, maupun dalam perencanaan penentuan sifat-sifat
tekniknya.
Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui:
(a) Berat volume (cn)
(b) Berat jenis (Gs)
(c) Kadar air (Wn)
(d) Analisis ukuran butir (m%)
(e) Hidrometer
(f) Batas-batas Atterberg (WI,Wp,Ip)

3.11.4. Sifat-sifat Teknik


Metode percobaan yang akan dipakai harus dapat menghasilkan data teknis dari bahan tanah
dalam kondisi asli. Kondisi air tanah asli harus menjadi perhatian utama.
Percobaan ini meliputi secara beraturan :
(a) Kepadatan/Kompaksi (standard Proctor) (qD ; OMC)

38
(b) Triaxial Bp (cu and uu), setelah dipadatkan
(c) Konsolidasi sesudah dipadatkan
(d) Percobaan Permeabilitas setelah dipadatkan
(e) Percobaan Pin Hole setelah dipadatkan
(f) Unconfined Compression atau Direct Shear setelah dipadatkan dan kondisi jenuh.

3.12. Penelitian Bahan Beton


Pengetasan bahan atau material untuk beton ini akan menentukan nilai karakteristik dari betonnya
kelak.
Dengan sendirinya bahan tersebut akan ditunjang melalui pengujian:
(a) Analisis ukuran butir
(b) Bulk specific gravity
(c) Daya serap air (water absorption)
(d) Kadar lanau
(e) Organic impurities
(f) Abrasi
(g) Daya tahan terhadap sulfat
(h) Analisis air

3.12.1. Penelitian Batu


Untuk mengetahui komposisi, sifat fisik dan teknis batuan sehubungan dengan tingkat
pelapukannya, maka batuan tersebut akan diuji melalui percobaan-percobaan berikut:
(a) Petrografi
(b) Bulk specific gravity
(c) Serap air (Water absorption)
(d) Unconfined compression stregth
(e) Daya tahan terhadap sulfat
(f) Abrasi

3.12.2. Metode Pengujian/Tes


Metode yang digunakan pada bagian-bagian 3.1, 3.2 dan 3.3 adalah metode-metode ASTM,
dengan uraian sebagai berikut :
a. Analisis ukuran butir : ASTM D.422-63, SNI 03-3423-1994
b. Percobaan berat jenis : ASTM D.854-58, SNI 03-1964-1990
c. Percobaan konsistensi : ASTM D.423-66
d. Kadar air : ASTM D.2216-71, SNI 03-1965-1990
e. Berat volume : -
f. Kadar bahan organik : B.S.1377-1961, SNI 03-2816-1992
g. Percobaan susut (shrinkage test) : ASTM D.421-61, SNI 03-3422-1994

39
h. Konsolidasi :ASTM D.2435-70, SNI 03-2812-1992
i. Percobaan kembang (Swelling test) : ASTM D.1883-73
Semua contoh diuji oleh Pelaksana Pekerjaan dan harus didiskusikan dengan pihak Direksi,
sehingga penerapannya dapat diketahui.

3.12.3. Pengujian Bahan Tanah


Tanah yang diambil dari lubang bor dan paritan uji harus dites menurut ketentuan-ketentuan
berikut:
 Contoh tanah terganggu dari lubang bor (dengan pengambil contoh dinding tipis)
Tes-tes berikut harus dikenakan pada contoh tanah tak terganggu yang diambil dari
lubang bor.
(a) Analisis ukuran butir
(b) Berat jenis
(c) Batas cair
(d) Batas plastis.
(e) Kadar air asli.
(f) Kepadatan asli
(g) Kadar bahan organik.
(h) Konsolidasi.
(i) Unconfined Compressive Strength
(j) Triaxial Shear.
 Contoh tanah tak terganggu dari sumuran uji
Tes-tes berikut harus dikenakan pada contoh tanah tak terganggu yang diambil dari
lubang bor.
(a) Analisis ukuran butir
(b) Berat jenis
(c) Batas cair
(d) Batas plastis
(e) Kadar air asli
(f) Kepadatan asli
(g) Konsolidasi
(h) Unconfined Compressive Strength
(i) Triaxial Shear.
 Contoh tanah terganggu
Tes-tes harus dikenakan pada contoh tanah kecil terganggu yang diambil dari sumuran uji
dan lubang bor untuk menentukan klasifikasi tanah.
(a) Analisis ukuran butir
(b) Berat jenis

40
(c) Batas cair
(d) Batas plastis
(e) Kadar air asli
 Contoh Tanah meruah Terganggu
Tes-tes di bawah ini harus dikenakan terhadap contoh meruah terganggu. Tes kepadatan
harus dikenakan terhadap bahan yang akan dipakai untuk konstruksi tanggul dari derah
sumber bahan timbunan yang telah disetujui oleh Pemberi Pekerjaan.
(a) Analisis ukuran butir
(b) Berat jenis
(c) Batas cair konsistensi
(d) Batas plastis
(e) Kadar air asli
(f) Kepadatan asli
(g) Batas susut
(h) Potensi mengembang
(i) Permeabilitas pada OMC ± 3%
(j) Konsolidasi pada OMC ± 3%
(k) Unconfined Compressive Strength ± 3%
(l) Triaxial pada OMC ± 3%
(m) Pin hole OMC ± 3%
(n) Kepadatan.
 Metode dan Persyaratan Uji Tanah
Pengujian tanah harus dilakukan sesuai dengan standar berikut :
(a) Tes analisis ukuran butir : JIS A 1204-1969 atau ASTM D 422-63 SNI 03-3423-
1994
(b) Tes berat jenis : JIS A 1202-1969 atau ASTM D 854-58 SNI 03-1964-
1990
(c) Tes konsistensi : JIS A 1205-1969 atau ASTM D 423-66
(d) Tes kadar air asli : JIS A 1203-1978 atau ASTM D 2216-71 SNI 03-1965-
1990
(e) Tes kepadatan asli : USA Bureau of Reclamation, Earth manual
Designation E-10 bagian E
(f) Kepadatan tanah di tempat: JIS A 1213-198 atau ASTM D 1556-64 SNI 03-6873-
2002
(g) Tes kadar bahan organik :BS, 1377-1961 SNI 03-2816-1992
(h) Tes faktor susut : JIS A 1209-1969 atau ASTM D 427-61 SNI 03-3422-
1994
(i) Tes kembang : ASTM D 1883-73

41
(j) Hubungan kepadatan air tanah dengan tes palu
(k) Tes konsolidasi : JIS A 1217 t-1979 atau ASTM D 2435-70 SNI 03-2812-
1992
(l) Tes permeabilitas : JIS A 1218 t-1979

3.12.4. Bahan Pasir dan Kerikil


 Metode
Pembuatan sumuran uji harus dilakukan di daerah sumber bahan timbunan sampai
sedalam lima meter dari permukaan tanah. Luas bagian horizontal sumuran uji pada
permukaan adalah 1,5 meter kali 1,5 meter persegi. Luas bagian dasar harus sekurang-
kurangnya satu meter persegi.
 Jumlah Sumuran Uji
Pengujian harus dilakukan pada sumuran-sumuran dan kerikil yang telah disetujui,
sebagaimana diperlihatkan pada Gambar terlampir. Jumlah dan lokasi sumuran uji.
 Pengujian Bahan Pasir dan Kerikil
Untuk bahan-bahan pasir dan kerikil, harus dilakukan tes-tes berikut untuk mengetahui
karakteristik bahan :
 Pengujian bahan Pasir
Bahan yang terkumpul akan dikenai tes-tes berikut :
(a) Analisis ayak/saringan
(b) Berat jenis dan daya serap air
(c) Pencucian
(d) Bahan kimia
(e) Kerapatan
(f) Kekuatan mortel/adukan
 Pengujian Bahan Kerikil
Kerikil yang diameternya kurang dari 50 mm dipilih untuk dites untuk mengetahui hal-hal
berikut :Berat jenis dan daya serap air
(a) Pencucian
(b) Bahan kimia
(c) Los Angeles Abrassion
(d) Kerapatan
(e) Kekerasan
(f) Analisis ayak

3.12.5. Pelaporan
Data yang diperoleh dari hasil pengamatan lapangan dan analisa laboratorium kemudian
dianalisa dan dievaluasi untuk kemudian disusun kedalam bentuk laporan dan peta-peta

42
yang digunakan sebagai masukan bagi perencanaan teknis detail peningkatan tata air.
Laporan berisi tentang maksud dan tujuan survey tanah, keadaan umum daerah survey,
metode kerja dilapangan dan dilaboratorium, uraian mengenai sifat dan jenis tanah serta
penyebarannya, masalah-masalah tanah yang ditemukan dan kemungkinan pemecahannya,
kesesuaian lahan dan saran-saran yang perlu disampaikan untuk dapat memperbaiki
keadaan yang sekarang khususnya yang menyangkut perbaikan tata air rawa.

Peta-peta yang harus disampaikan adalah :

 Peta penyebaran jenis tanah yang menyangkut juga keasaman, tekstur tanah dan
lokasi titik pengamatan.
 Peta kedalaman air tanah dan tinggi genangan.
 Peta klas kesesuaian lahan.
 Peta rekomendasi tata guna tanah usulan
 Peta-peta tersebut di atas dibuat dengan skala 1:10.000 atau 1:20.000, disesuaikan
dengan luasan lahan.

Dalam pembuatan laporan, pengolahan data dan analisa data, harus selalu konsultasi pada
direksi atau yang ditunjuk mewakil

43