Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH KATARAK

oleh :
Sisca Selvia (18360152)
Siti Anita Hartiyah (18360153)
Yandi Pirnata (18360174)

Makalah ini dibuat untuk melengkapi persyaratan Kepaniteraan Klinik Senior di SMF
Ilmu Kedokteran Mata RSUD Deli Serdang Lubuk Pakam

PEMBIMBING :

dr. H. Syafridon sp.M

KEPANITERAAN KLINIK MATA


UNIVERSITAS MALAHAYATI BANDAR LAMPUNG
RSUD DELI SERDANG LUBUK PAKAM
TAHUN 2018

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat

dan Karunia-Nya saya dapat menyelesaikan tugas Makalah yang berjudul “Katarak”.

Adapun Makalah ini dibuat untuk memenuhi syarat Kepaniteraan Klinik Senior di

bagian SMF Mata Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Bandar Lampung yang

dilaksanakan di RSUD Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang.

Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada dr. H. Syafridon sp.M yang telah

membimbing dalam penyelesaian tugas makalah ini serta pihak yang secara langsung

maupun tidak langsung membantu dalam penyusunan tugas ini.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa dalam tugas ini masih jauh dari

kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat

membangun demi perbaikan tugas ini.

Lubuk Pakam, oktober 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................


1.1 Latar Belakang ................................................................ 4
1.2 Rumusan Masalah ........................................................... 4
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................. 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................


2.1 Definisi Katarak .............................................................. 6
2.2 Anatomi Fisiologi ............................................................. 6
2.3 Etiologi Katarak .............................................................. 15
2.4 Klasifikasi Katarak .......................................................... 16
2.5 Patofisiologi Katarak ...................................................... 17
2.6 Manifestasi Klinik ............................................................ 18
2.7 Komplikasi ........................................................................ 19
2.8 Pemeriksaan penunjang .................................................. 20
2.9 Penatalaksaan ................................................................... 22
BAB III KESIMPULAN ........................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Katarak adalah kekeruhan pada lensa mata yang menyebabkan
gangguan penglihatan. Hal ini terjadi akibat adanya kerusakan pada lensa
mata sehingga daya penglihatan mata berkurang (Djing, 2006). Menurut
data WHO dalam Prastiyanto (2011) terdapat 50 juta kebutaan di dunia
akibat katarak dan yang paling banyak adalah mereka yang tinggal di negara
berkembang beresiko 10 kali lipat mengalami kebutaan akibat katarak
dibandingkan penduduk negara maju.
Indonesia sampai sekarang masih tercatat sebagai negara tertinggi
jumlah penderita kataraknya di tingkat Asia Tenggara, mencapai 1,5% atau
2 juta jiwa (Firmansyah, 2015). Sebagai perbandingan di Bangladesh
memegang angka 1%, di India 0,7% dan Thailand 0,3% (Manafe, 2013).
Prevalensi penduduk dengan katarak di provinsi Jawa Timur masih
dominasi dari daerah Madura dan Tapal Kuda seperti, Sampang, Bangkalan,
Pamekasan, Pasuruan, Situbondo, dan Jember (Ardiantofani, 2014).
Banyak faktor dikaitkan dengan terjadinya katarak antara lain
umur, jenis kelamin, penyakit diabetes melitus (DM), pajanan terhadap
sinar ultraviolet (sinar matahari), merokok, tingkat sosial ekonomi,
tingkat pendidikan, paparan asap, riwayat penyakit katarak, dan
pekerjaan (Anas. Tamsuri, 2011).

B. Rumusan Masalah
Dari pemaparan dan uraian latar belakang masalah di atas, agar dalam
Asuhan Keperawatan ini lebih terarah pembahasannya dan mendapatkan
gambaran secara komprehensif. Maka sangat penting untuk dirumuskan
pokok permasalahannya, yakni:

4
1. Apa definisi dari Katarak ?
2. Bagaimana anatomi fisiologi dari Katarak ?
3. Apa etiologi dari Katarak ?
4. Bagaimana patofisiologi dari Katarak ?
5. Apa manifestasi klinis dari Katarak ?
6. Apa komplikasi dari Katarak ?
7. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari Katarak ?
8. Bagaimana penatalaksanaan dari Katarak ?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penulisan ini adalah agar perawat atau
masyarakat atau klien mampu menerapkan asuhan keperawatan secara
komprehensif.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui definisi dari Katarak
b. Untuk mengetahui fisiologi dari Katarak
c. Untuk mengetahui etiologi dari Katarak
d. Untuk mengetahui patofisiologi dari Katarak
e. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari Katarak
f. Untuk mengetahui komplikasi dari Katarak
g. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari Katarak
h. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari Katarak

5
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Katarak adalah penurunan progresif kejernihan lensa. Lensa menjadi
keruh atau berwarna putih, abu-abu, dan ketajaman penglihatan berkurang.
Katarak terjadi apabila protein pada lensa yang secara normal, transparan
terurai dan mengalami koagulasi pada lensa (Corwin. Elizabeth J, 2009).
Katarak merupakan keadaan dimana pada lensa mata atau kapsula lentis
terjadi kekeruhan (opasitas) yang berangsur-angsur (Kowalak, 2011).
Katarak berasal dari bahasa yunani “kataarrhakies” yang berarti air
terjun. Dalam bahasa Indonesia, katarak disebut bular, yaitu penglihatan
seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap
keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduanya
(Anas Tamsuri, 2011).
Dari beberapa pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa katarak merupakan penurunan ketajaman penglihatan dengan
terjadinya lensa menjadi keruh yang diakibatkan oleh hidrasi (penambahan
cairan) lensa.

B. Anatomi Fisiologi
Mata merupakan organ untuk penglihatan dan sangat sensitive
terhadap cahaya karena terdapat photoreceptor. Influs saraf dari stimulasi
photoreceptor dibawa ke otak pada lobus occipital di serebrum dimana
sensasi penglihatan diubah menjadi persepsi. Reseptor penglihatan dapat
memproses satu juta stimulus yang berbeda setiap detik (Tarwoto, 2009).
1. Struktur Mata
Bola mata berada diruangan cekung pada tulang tengkorak yang
disebut orbit. Orbit tersusun oleh 7 tulang tengkorak yaitu tulang
frontalis, lakrimalis, etmoidalis, zigomatikum, maksila, sphenoid dan

6
palatin yang berfungsi mendukung, menyanggah dan melindungi
mata. Pada orbit terdapat dua lubang yaitu foramen optic untuk
lintasan saraf optic dan arteri optalmik dan fisura bagian mata terdiri
dari:
a. Sklera
Sklera merupakan jaringan ikat fibrosa yang kuat
berwarna putih buram dan tidak tembus cahaya, kecuali
dibagian depan yang transparan yang disebut kornea. Sklera
memberi bentuk pada bola mata dan memberikan tempat
melekatnya otot ekstrinsik.
b. Kornea
Kornea merupakan jendela mata, unik karena bentuknya
transparan, terletak pada bagian depan mata berhubungan
dengan sklera. Bagian ini merupakan tempat masuknya cahaya
dan memfokuskan berkas cahaya. Kornea tersusun atas lima
lapisan yaitu epithelium, membrane bowman stroma, membrane
descemet dan endothelium.
c. Lapisan koroid
Lapisan koroid berwarna coklat kehitaman dan merupakan
lapisan yang berpigmen, mengandung banyak pembuluh darah
untuk member nutrisi dan oksigen pada retina. Warna gelap
pada koroid berfungsi untuk mencegah refleksi atau pemantulan
sinar. Pada bagian depan koroid membentuk korpus siliaris yang
berlanjut membentuk iris.
d. Iris
Iris merupakan perpanjangan dari korpus siliaris ke
enterior. Iris tidak tembus pandang dan berpigmen, berfungsi
mengendalikan banyaknya cahaya yang masuk kedalam mata
dengan cara merubah ukuran pupil. Ukuran pupil dapat berubah
karena mengandung serat-serat otot sirkuler yang mampu

7
menciutkan pupil dan serat-serat radikal yang menyebabkan
pelebaran pupil.
e. Lensa
Lensa mempunyai struktur bikonfeks,tidak mempunyai
pembuluh darah, transparan dan tidak berwarna. Kapsul lensa
merupakan membrane seni semipermiabel, tebalnya sekitar 4
mm dan diameternya 9 mm. lensa berada dibelakang iris dan
ditahan oleh ligamentum yang disebut zonula. Adanya ikatan
lensa dengan ligamentum ini menyebabkan dua rongga bola
mata yaitu bagian depan lensa dan bagian belakang lensa.
Ruangan bagian depan lensa berisi cairan yang disebut aqueous
humor, cairan ini diproduksi oleh korpus siliaris dan ruangan
pada bagian belakang lensa berisi cairan vitreous humor. Kedua
cairan tersebut berfungsi menjaga lensa tetap pada tempatnya
dan dalam bentuk yang sesuai serta memberikan makanan pada
kornea dan lensa. Lensa tersusun dari 65% air dan sekitar 35%
protein dan sedikit mineral, terutama kalium. Lensa berfungsi
untuk memfokuskan cahaya yang masuk kedepan retina melalui
mekanisme akomodasi yaitu proses penuaan secara otomatis
pada lensa untuk memfokuskan objek secara jelas dan jarak
yang beragam.
f. Retina
Retina merupakan lapisan terdalam pada mata, melapisi
dua pertiga bola mata pada bagian belakang. Pada bagian depan
berhubungan dengan korpus siliaris di oraserata. Retina
merupakan bagian mata yang sangat peka terhadap cahaya. Pada
bagian depan retina terdapat lapisan berpigmen dan
berhubungan dengan koroid dan pada bagian belakang terdapat
lapisan saraf dalam. Pada lapisan saraf dalam mengandung
reseptor, sel bifolar, sel ganglion, sel horizontal dan sel amakrin.
Ada dua sel reseptor atau photoreceptor pada retina yaitu sel

8
konus atau sel kerucut dan sel rod atau sel batang. Sel kerucut
berisi pigmen lembayung dan sel batang berisi pigmen ungu.
Kedua pigmen tersebut akan terurai jika terkena sinar, terutama
pada bagian pigmen berwarna ungu yang terdapat pada sel
batang oleh karena itu pigmen pada sel batang berfungsi untuk
situasi yang kurang terang atau malam hari. Sedangkan pigmen
pada sel kerucut berfungsi lebih pada suasana terang atau pada
tingkat intensitas cahaya yang tinggi dan berperan dalam
penglihatan di siang hari. Pigmen ungu yang ada pada sel batang
disebut rodopsin yang merupakan senyawa protein dan vitamin
A. apabila terpapar sinar , rodopsin akan terurai menjadi protein
dan vitamin A. pembentukan kembali pigmen tersebut terjadi
dalam keadaan gelap dan memerlukan waktu yang disebut
adaptasi gelap. Sedangkan pigmen lembayung dari sel kerucut
merupakan senyawa yodopsin yang merupakan gabungan antara
retinin dan opsin. Pada sel kerucut terdapat 3 macam yaitu sel
yang peka terhadap warna merah, hijau dan biru sehingga sel
kerucut dapat menangkap spectrum warna. Kerusakan pada
salah satu sel kerucut akan menyebabkan buta warna.
g. Fovea sentralis
Fovea sentralis merupakan bagian dari retina yang banyak
sel kerucut tapi tidak ada sel batang. Pada fovea ini sel bifolar
bersinap dengan sel ganglion membentuk jalur langsung ke otak.
Berkas sinar yang masuk jatuh tepat pada fovea.
h. Lutea macula
Lutea macula merupakan daerah kekuningan yang berada
sedikit lateral dari pusat.

9
Mata juga dilengkapi oleh organ asessoris seperti kelopak mata, alis,
apparatus lakrimalis yang melindungi mata dan seperangkat otot ekstrinsik
yang dapat menggerakan mata (Tarwoto, 2009).
Sebagai struktur tambahan mata, dikenal berbagai struktur
aksesori yang terdiri dari alis mata, kelopak mata, bulu mata, konjungtiva,
aparatus lakrimal, dan otot-otot mata ekstrinsik. Alis mata dapat
mengurangi masuknya cahaya dan mencegah masuknya keringat, yang
dapat menimbulkan iritasi, ke dalam mata. Kelopak mata dan bulu mata
mencegah masuknya benda asing ke dalam mata. Konjungtiva merupakan
suatu membran mukosa yang tipis dan transparan. Konjungtiva palpebra
melapisi bagian dalam kelopak mata dan konjuntiva bulbar melapisi bagian
anterior permukaan mata yang berwarna putih. Titik pertemuan antara
konjungtiva palpebra dan bulbar disebut sebagai conjunctival fornices
(Seeley, 2006).
Apparatus lakrimal terdiri dari kelenjar lakrimal yang terletak di
sudut anterolateral orbit dan sebuah duktus nasolakrimal yang terletak di
sudut inferomedial orbit. Kelenjar lakrimal diinervasi oleh serat-serat
parasimpatis dari nervus fasialis. Kelenjar ini menghasilkan air mata yang
keluar dari kelenjar air mata melalui berbagai duktus nasolakrimalis dan
menyusuri permukaan anterior bola mata. Tindakan berkedip dapat
membantu menyebarkan air mata yang dihasilkan kelenjar lakrimal (Seeley,
2006).
Air mata tidak hanya dapat melubrikasi mata melainkan juga mampu
melawan infeksi bakterial melalui enzim lisozim, garam serta gamma
globulin. Kebanyakan air mata yang diproduksi akan menguap dari
permukaan mata dan kelebihan air mata akan dikumpulkan di bagian medial
mata di kanalikuli lakrimalis. Dari bagian tersebut, air mata akan
mengalir ke saccus lakrimalis yang kemudian menuju duktus
nasolakrimalis

10
Struktur aksesoris mata dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 1. Otot-Otot Ekstrinsik Bola Mata


Sumber: Saladin (2006)

Mata mempunyai diameter sekitar 24 mm dan tersusun atas tiga


lapisan utama, yaitu outer fibrous layer, middle vascular layer dan inner
layer. Outer fibrous layer (tunica fibrosa) dibagi menjadi dua bagian yakni
sclera dan cornea. Sclera (bagian putih dari mata) menutupi sebagian besar
permukaan mata dan terdiri dari jaringan ikat kolagen padat yang ditembus
oleh pembuluh darah dan saraf. Kornea merupakan bagian transparan
dari sclera yang telah dimodifikasi sehingga dapat ditembus cahaya
(Saladin, 2006).

Middle vascular layer (tunica vasculosa) disebut juga uvea. Lapisan


ini terdiri dari tiga bagian yaitu choroid, ciliary body, dan iris. Choroid
merupakan lapisan yang sangat kaya akan pembuluh darah dan sangat
terpigmentasi. Lapisan ini terletak di belakang retina. Ciliary body
merupakan ekstensi choroid yang menebal serta membentuk suatu cincin
muskular disekitar lensa dan berfungsi menyokong iris dan lensa serta
mensekresi cairan yang disebut sebagai aqueous humor (Saladin, 2006).

11
Struktur anatomi yang telah dijelaskan sebelumnya dapat dilihat
pada gambar berikut.

Gambar 3. Anatomi Bola Mata


Sumber: Khurana (2007)

2. Komponen Optik Mata


Komponen optik dari mata adalah elemen transparan dari mata
yang tembus cahaya serta mampu membelokkan cahaya (refraksi) dan
memfokuskannya pada retina. Bagian-bagian optik ini mencakup
kornea, aqueous humor, lensa, dan vitreous body. Aqueous humor
merupakan cairan serosa yang disekresi oleh ciliary body ke posterior
chamber, sebuah ruang antara iris dan lensa. Cairan ini mengalir
melalui pupil menuju anterior chamber yaitu ruang antara kornea dan
iris. Dari area ini, cairan yang disekresikan akan direabsorbsi kembali
oleh pembuluh darah yang disebut sclera venous sinus (canal of
Schlemm) (Saladin, 2006).
Lensa tersuspensi dibelakang pupil oleh serat-serat yang
membentuk cincin yang disebut suspensory ligament, yang
menggantungkan lensa ke ciliary body. Tegangan pada ligamen

12
memipihkan lensa hingga mencapai ketebalan 3,6 mm dengan
diameter 9,0 mm. Vitreous body (vitreous humor) merupakan suatu
jelly transparan yang mengisi ruangan besar dibelakang lensa.
Sebuah kanal (hyaloids canal) yang berada disepanjang jelly ini
merupakan sisa dari arteri hyaloid yang ada semasa embrio (Saladin,
2006).
3. Komponen Neural Mata
Komponen neural dari mata adalah retina dan nervus optikus.
Retina merupakan suatu membran yang tipis dan transparan dan
tefiksasi pada optic disc dan ora serrata. Optic disc adalah lokasi
dimana nervus optikus meninggalkan bagian belakang (fundus) bola
mata. Ora serrata merupakan tepi anterior dari retina. Retina tertahan
ke bagian belakang dari bola mata oleh tekanan yang diberikan oleh
vitreous body. Pada bagian posterior dari titik tengah lensa, pada
aksis visual mata, terdapat sekelompok sel yang disebut macula
lutea dengan diameter kira-kira 3 mm. Pada bagian tengah dari
macula lutea terdapat satu celah kecil yang disebut fovea centralis,
yang menghasilkan gambar/visual tertajam. Sekitar 3 mm pada arah
medial dari macula lutea terdapat optic disc. Serabut saraf dari
seluruh bagian mata akan berkumpul pada titik ini dan keluar dari
bola mata membentuk nervus optikus. Bagian optic disc dari mata
tidak mengandung sel-sel reseptor sehingga dikenal juga sebagai
titik buta (blind spot) pada lapang pandang setiap mata (Saladin,
2006).
4. Mekanisme Penglihatan
Fungsi utama mata adalah mengubah energi cahaya menjadi
impuls saraf sehingga dapat diterjemahkan oleh otak menjadi gambar
visual. untuk menghasilkan gambar visual yang tepat dan diinginkan
terjadi proses yang sangat kompleks dimulai adanya gelombang
sinar/cahaya yang masuk ke mata (Tarwoto, 2009).

13
Berkas cahaya masuk ke mata melalui konjungtiva, kornea,
aqueus humor, lensa dan vitreous humor, dimana pada masing-masing
bagian tersebut berkas cahaya dibiaskan (refraksi) sebelum akhirnya
jatuh tepat diretina. jumlah cahaya yang masuk di mata akan diatur
oleh iris dengan jalan membesarkan atau mengecilkan pupil. pada iris
terdapat dua otot polos yang tersusun sirkuler dan radila yang mampu
bergerak membesar atau mengecil membentuk pupil (Tarwoto, 2009).
Agar sinar dari objek menghasilkan gambar yang jelas pada
retina maka berkas sinar tersebut harus dibiaskan (direfrasikan).
pembiasan cahaya untuk menghasilkan penglihatan yang jelas disebut
pemfokusan. jarak terdekat dari objek yang dapat dilihat dengan jelas
disebut titik dekat (puncutum proximum). sedangkan jarak terjauh saat
benda tempak jelas tanpa kontraksi disebut titik jauh (puctum
remotum). pemfokusan berkas cahaya merupakan peran utama dari
lensa. lensa akan membiaskan cahaya yang masuk dan memfokuskan
ke retina. kemampuan lensa untuk menyesuaikan cahaya dekat atau
jauh ke titik retina disebut akomodasi. bentuk lensa sendiri dapat
berubah-ubah dan diatur oleh otot siliaris yang merupakan otot polos
melingkar dan melekat pada lensa melalui ligamentum
susupensorium. bentuk lensa yang bikonveks (cembung) akan
membiaskan cahaya kesuatu titik/ mengumpul dibelakang lensa.
sedangkan lensa bikonkaf (cekung) akan membiaskan cahaya
menyebar di belakang lensa. sedangkan lensa bikonkaf (cekung) akan
membiaskan cahaya menyebar di belakang lensa. semakin besar
lingkungan suatu lensa di ukur dioptri (Tarwoto, 2009).
Berkas cahaya dari lensa kemudian difokuskan di retina. retina
merupakan bagian magta vertebrata yang peka terhadap cahaya dan
mampu mengubahnya menjadi impuls saraf untuk dihantarkan ke otak
melalui nervus optikus (nervus cranial II). pda retina terdapat lapisan
saraf atau neuron yaitu neuron fotoreseptor, neuron bipolar dan neuron
ganglion. neuron fotoreseptor merupakan reseptor yang peka terhadap

14
cahaya karena mengandung sel batang (rods) dan sel kerucut (cones). sel
batang mengandung pigmen rodopsin yang khusus untuk penglihatan hitam
putih dalam cahaya redup. rodopsin merupakan senyaawa prootein dsn vitamin
A. Apanbila terkena sinar, maka rodopsin menjadi protein dan vitamin A.
pembentukan kembali pigmen tersebut terjadi dalam keadaan gelap.
sedangkan sel kerucut berisikan pigmen lembayung yang merupakan senyawa
iodopsin yaitu gabungan senyawa retinin dan opsin. sel kerucut peka terhadap
warna merah, hijau dan biru sehingga dapat menangkap spectrum warna dan
dapat menghasilkan bayang yang tajam dalma cahaya terang
(Tarwoto, 2009).
Cahaya yang diterima oleh neuron fotoresptor akan di ubah dalam
bentuk bayangan pertama, kemudian akan di ubah kembali menjadi bayangan
pertama, kemudian akan diubah kembali menjadi bayangan kedua di sel
bipolar dan selanjutnya menjadi bayangan ketiga di sel ganglion yang
kemudian dibawa ke korteks penglihatan primer untuk dihasilkan visual
penglihatan (Tarwoto, 2009).

C. Etiologi
Sebagian besar katarak, yang disebut katarak senilis, terjadi akibat
perubahan degenerative yang berhubungan dengan penuaan. Pajanan terhadap sinar
matahari selma hidup dan predisposisi herediter berperan dalam perkembangan
katarak senilis.
Katarak juga dapat terjadi pada usia berapa saja setelah trauma lensa, infeksi
mata, atau pajanan terhadap radiasi atau obat tertentu. Janin yang terpajan virus
rubella dapat mengalami katarak. Individu yang mengalami katarak, yang
kemungkinan besar disebabkan olehg gangguan aliran darah ke mata dan
perubahan penanganan dan metabolisme glukosa. (Corwin,
2009).

15
D. Klasifikasi

Katarak diklasifikasikan berdasarkan beberapa parameter, seperti usia, saat munculan


dan tempat terjadinya. Klasifikasi tersebut dijabarkan sebagai berikut.

Klasifikasi katarak berdasarkan usia:


1. Katarak kongenital, katarak yang sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun.
2. Katarak juvenile, katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun.
3. Katarak senil, katarak setelah usia 50 tahun.

Klasifikasi katarak berdasarkan saat munculan :


1. Katarak yang didapat (99% dari keseluruhan kasus katarak), terbagi lagi menjadi :
a. Katarak Senilis ( > 90 % katarak), berkaitan dengan penyakit sistemik, yakni
diabetes mellitus, galaktosemia, insufisiensi ginjal, mannosidosis, penyakit Fabry,
sindrom Lowe, penyakit Wilson, distrofi miotonik, tetani, dan penyakit kulit.

b. Katarak sekunder dan komplikata, yakni katarak dengan heterokromia, iridosiklitis


kronik, vaskulitis retinal, dan retinitis pigmentosa.
c. Katarak post-operatif, paling sering terjadi pada kasus vitrektomi dan tamponade
silikon retina, dan operasi filter
d. Katarak traumatik, karena kontusi atau perforasi, radiasi infra merah, sengatan
listrik, radiasi ion.
e. Katarak toksik, yakni katarak diinduksi kortikosteroid (paling sering), dank arena
obat lain seperti klorpromazin, agen miotik, atau busulfan. 3,4

2. Katarak Kongenital (kurang dari 1 % kasus katarak), terdiri dari :


a. Katarak herediter, dapat autosomal dominan, autosomal resesif, sporadik, atau terikat
kromosom X
b. Katarak yang disebabkan oleh kerusakan saat masa embrionik dini (via
transplasental), karena infeksi rubella (40-60%), mumps (10-22%), hepatitis (16%),
dan toksoplasmosis (5%). 3

16
Katarak berdasarkan lokasinya terdiri dari:
1. Katarak nuklear, insidennya 30 % dari keseluruhan kasus katarak senilis
2. Katarak subkapsular, lokasinya di anterior dan posterior, dengan insidennya 50 % dari
keseluruhan kasus katarak senilis.
3. Kortikal dengan insidennya 20 % dari keseluruhan kasus katarak senilis

2.4 KATARAK SENILIS

2.4.1 Definisi
Katarak yang terjadi akibat proses penuaan dan bertambahnya umur disebut katarak
senilis. Katarak senilis adalah kekeruhan lensa baik di korteks, nuklearis tanpa diketahui
penyebabnya dengan jelas, dan muncul mulai usia 40 tahun.

Katarak senilis secara klinik dikenal dalam empat stadium yaitu insipien, imatur,
matur dan hipermatur

1. Katarak Insipien
Pada katarak stadium insipien terjadi kekeruhan mulai dari tepi ekuator menuju
korteks anterior dan posterior (katarak kortikal).Vakuol mulai terlihat di dalam korteks. Pada
katarak subkapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat anterior subkapsular posterior, celah
terbentuk antara serat lensa dan korteks berisi jaringan degeneratif (benda Morgagni) pada
katarak insipien.
Kekeruhan ini dapat menimbulkan polipia oleh karena indeks refraksi yang tidak
sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama.
Pada stadium ini kekeruhan lensa tidak teratur,tampak seperti bercak-bercak yang
membentuk geligi dengan dasar di perifer dan daerah jernih diantaranya. Kekeruhan ini pada
awal nya hanya tampak jika pupil dilebarkan.

17
2. Katarak Imatur
Pada katarak senilis stadium imatur sebagian lensa keruh atau katarak yang belum
mengenai seluruh lapis lensa. Pada katarak imatur akan dapat bertambah volume lensa akibat
meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif. Jika mengambil air lensa akan
menjadi intumesen. Pada katarak intumesen terjadi kekeruhan lensa disertai pembengkakan
lensa akibat lensa yang degeneratif menyerap air.
Masuknya air ke dalam celah lensa mengakibatkan lensa menjadi bengkak dan besar
yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal dibanding dengan keadaan
normal. Pencembungan lensa ini akan dapat memberikan penyulit glaukoma. Katarak
intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat dan mengakibatkan miopia

lentikular. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga lensa akan mencembung dan
daya biasnya akan bertambah, yang memberikan miopisasi. Pada pemeriksaan slitlamp
terlihat vakuol pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat lensa.

Katarak imatur

3. Katarak Matur
Pada katarak senilis stadium matur kekeruhan telah mengenai seluruh massa lensa.
Kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Bila katarak imatur atau
intumesen tidak dikeluarkan maka cairan lensa akan keluar, sehingga lensa kembali pada
ukuran yang normal. Akan terjadi kekeruhan seluruh lensa yang bila lama akan
mengakibatkan kalsifikasi lensa. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal
kembali, tidak terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris
negatif.

KATARAK M

18
4. Katarak Hipermatur
Pada katarak stadium hipermatur terjadi proses degenerasi lanjut, dapat
menjadi keras atau lembek dan mencair. Massa lensa yang berdegenerasi keluar dari
kapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan kering. Pada
pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul lensa. Kadang-kadang
pengkerutan berjalan terus sehingga hubungan dengan zonula Zinn menjadi kendor.
Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul yang tebal maka korteks
yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan
bentuk sebagai sekantong susu disertai dengan nukleus yang terbenam di dalam
korteks lensa karena lebih berat. Keadaan ini disebut sebagai katarak Morgagni.

Katarak
Hipermatur

Tabel Perbedaan Stadium Katarak

Insipien Imatur Matur Hipermatur

Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif

Cairan lensa Normal Bertambah (air Normal Berkurang (air


masuk) keluar)
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans

Bilik mata Normal Dangkal Normal Dalam


depan
Sudut bilik mata Normal Sempit Normal Terbuka
Shadow test - + - Pseudopsitif

Penyulit - Glaukoma - Uveitis +


Glaukoma

19
D. Patofisiologi
Lensa berisi 65% air, 35% protein dan mineral penting. Lensa yang
normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk
seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa
mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus,
di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsula
anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nukleus mengalami
perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat
densitas seperti duri di anterior dan poterior nukleus. Opasitas pada kapsul
posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna seperti kristal
salju (Ilyas, 2008).
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya
transparansi. Perubahan dalam serabut halus multipel (zonula) yang
memanjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa. Perubahan
kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga
mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina.
Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal disertai
influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang
dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim
mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim
akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan
pasien yang menderita katarak (Ilyas, 2008).
Katarak bisa terjaadi bilateral, dapat disebabkan oleh kejadian trauma
atau sistemis (diabetes) tetapi paling sering karena adanya proses penuaan
yang normal. Faktor yang paling sering berperan dalam terjadinya katarak
meliputi radiasi sinar UV, obat-obatan, alkohol, merokok, dan asupan
vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu yang lama (Guyton,
1997).
Katarak merupakan kondisi penurunan ambilan oksigen,penurunan
air, peningkatan kandungan kalsium dan berubahnya protein yang dapat
larut menjadi tidak larut. Pada proses penuaan, lensa secara bertahap

20
kehilangan air dan mengalami peningkatan dalam ukuran dan densitasnya.
Peningkatan densitas diakibatkan oleh kompresi sentral serta lensa yang
lebih tua. Saat serat lensa yang baru diproduksi dikorteks,serat lensa ditekan
menuju sentral. Serat-serat lensa yang padat lama-lama menyebabkan
hilangnya transparansi lensa yang tidak terasa nyeri dan sering bilateral
(Ilyas, 2005).
Selain itu berbagai penyebab katarak diatas menyebabkan gangguan
metabolism pada lensa mata. Gangguan metabolisme ini, menyebabkan
perubahan kandungan bahan-bahan yang ada didalam lensa yang pada
akhirnya menyebabkan kekeruhan lensa. Kekeruhan dapat berkembang
diberbagai bagian lensa atau kapsulnya. Pada gangguan ini sinar yang
masuk memalui kornea yang dihalangi oleh lensa yang keruh atau huram.
Kondisi ini memburamkan bayangan semu yang sampai pada retina. Akibat
otak mengiterprestasikan sebagai bayangan yang berkabut. Pada katarak
yang tidak diterapi, lensa mata menjadi putih susu, kemudian berubah
kuning, bahkan menjadi coklat atau hitam dank lien mengalami kesulitan
dalam membedakan warna (Mansjoer, 2008

21
E. Manifestasi Klinis
Seorang pasien dengan katarak senilis biasanya datang dengan riwayat
kemunduran secara progresif dan gangguan dari penglihatan. Penyimpangan
penglihatan bervariasi, tergantung pada jenis katarak ketika klien datang.
1. Penurunan Ketajaman Visual
Penurunan ketajaman visual merupakan keluhan yang paling
umum dari pasien dengan katarak senilis. katarak dianggap relevan
secara klinis jika ketajaman visual dipengaruhi secara signifikan.
Selanjutnya, berbagai jenis katarak menghasilkan efek yang berbeda
pada ketajaman visual (Vicente Victor D Ocampo, 2016).
Misalnya, tingkat ringan posterior subkapsular katarak dapat
menghasilkan penurunan berat ketajaman visual dengan dekat
ketajaman mempengaruhi lebih dari jarak penglihatan, mungkin
sebagai akibat dari miosis yang akomodatif. Namun, katarak sklerotik
inti sering dikaitkan dengan penurunan ketajaman jarak dan dekat
penglihatan yang baik (Vicente Victor D Ocampo, 2016).
2. Kesilauan
Silau adalah keluhan lain yang umum dari pasien dengan
katarak senilis. Keluhan ini dapat mencakup seluruh spektrum dari
penurunan sensitivitas kontras dalam lingkungan yang terang atau
menonaktifkan silau siang hari untuk melemahkan silau dengan lampu
melaju di malam hari (Vicente Victor D Ocampo, 2016).
Gangguan visual seperti yang menonjol khususnya dalam
katarak posterior subkapsular dan untuk tingkat yang lebih rendah,
dengan katarak kortikal. Hal ini terkait frekuensi yang jarang dengan
sclerosis inti. Banyak pasien mungkin mentolerir tingkat moderat silau
tanpa banyak kesulitan dan dengan demikian silau dengan sendirinya
tidak memerlukan manajemen bedah (Vicente Victor D Ocampo,
2016).

20
3. Pergeseran Rabun
Perkembangan katarak mungkin sering meningkatkan daya
Dioptric dari lensa mengakibatkan derajat ringan sampai sedang
miopia atau rabun bergeser. Akibatnya, pasien presbyopic melaporkan
peningkatan pandangan dekat mereka dan kurang perlu untuk
kacamata karena mereka mengalami apa yang disebut pandangan
kabur atau dua bayangan. Namun, kejadian seperti ini sementara dan
karena kualitas optik lensa memburuk, pandangan kabur atau dua
bayangan akhirnya kalah (Vicente Victor D Ocampo, 2016).
Biasanya, pergeseran rabun dan penglihatan kedua tidak terlihat
di kortikal dan posterior katarak subkapsular. Selanjutnya,
pengembangan asimetris miopia lensa-diinduksi dapat mengakibatkan
anisometropia gejala yang signifikan yang mungkin sendiri
memerlukan manajemen bedah. (Vicente Victor D Ocampo, 2016).
4. Diplopia Monocular.
Kadang-kadang, perubahan nuclear yang terkonsentrasi pada
bagian dalam lapisan lensa, menghasilkan area reflaktil padabagian
tengah dari lensa, yang sering memberikan gerak gambaran terbaik
pada reflek merah dengan retinoskopi atau ophtalmoskopi langsung.
Fenomena seperti ini menimbulkan diplopia monocular yang tidak
dapat dikoreksi dengan kacamata, prisma, atau lensa kotak (Vicente
Victor D Ocampo, 2016).

F. Komplikasi
Menurut Ilyas (2007), komplikasi dari katarak, yaitu:
1. Komplikasi Intra Operatif
Edema kornea, COA dangkal, ruptur kapsul posterior,
pendarahan atau efusi suprakoroid, pendarahan suprakoroid ekspulsif,
disrupsi vitreus, incacerata kedalam luka serta retinal light toxicity.

20
2. Komplikasi dini pasca operatif
a. COA dangkal karena kebocoran luka dan tidak seimbangnya
antara cairan yang keluar dan masuk, adanya pelepasan koroid,
block pupil dan siliar, edema stroma dan epitel, hipotonus, brown-
McLean syndrome (edema kornea perifer dengan daerah sentral
yang bersih paling sering)
b. Ruptur kapsul posterior, yang mengakibatkan prolaps vitreus
c. Prolaps iris, umumnya disebabkan karena penjahitan luka insisi
yang tidak adekuat yang dapat menimbulkan komplikasi seperti
penyembuhan luka yang tidak sempurna, astigmatismus, uveitis
anterior kronik dan endoftalmitis.
d. Pendarahan, yang biasa terjadi bila iris robek saat melakukan
insisi
3. Komplikasi lambat pasca operatif
a. Ablasio retina
b. Endoftalmitis kronik yang timbul karena organissme dengan
virulensi rendah yang terperangkap dalam kantong kapsuler
c. Post kapsul kapacity, yang terjadi karena kapsul posterior lemah
Malformasi lensa intraokuler, jarang terjadi.

G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Penunjang Uji laboratorium kultur dan smear kornea
atau konjungtiva dapat digunakan untuk mendiagnosa tentang infeksi.
(Muttaqin dan Sari, 2009). Slitl amp memungkinkan dapat digunakan untuk
pemeriksaan struktur anterior mata dalam gambaran mikroskopis. Dalam
pemeriksaan mata yang komprehensif perlu dilakukan pengkajian TIO
(Tekanan Intra Okuler).Alat yang dapat digunakan untuk mengukur TIO
yaitu tonometer schiotz. Pengukuran ini hanya dilakukan pada pasien yang
berusia lebih dari 40 tahun. Oftalmoskopi juga dapat digunakan untuk
pemeriksaan mata bagian dalam.

20
1. Snellen Eye Bagan
Untuk menentukan berapa jelas seseorang benar-benar bisa melihatr,
grafik mata snellen digunakan, dengan deretan huruf menurun dala
ukuran.
a. Dari jarak tertentu, biasanya 20 kaki,seseorang membaca huruf
menggunakan satu mata pada satu waktu.
b. Jika seseorang dapat melihat hurufkecil di dibaris bertanda 20
kaki, maka visi 20/20 (penglihatan normal).
c. Jika seseorang dapat membaca hanya turun melalui garis
ditandai 40 kaki, visi 20/40 : yaitu dari 20 kaki pasien dapat
membaca apa yang orang dengan penglihatan normal dapat
dibaca dari 40 kaki.
d. Jika huruf besar pada garis bertanda 200 kaki tidak dapat dibaca
dengan mata yang lebih baik, bahkan dengan kacamata, pasien
dianggap buta
2. Tes Ketajaman Visual
Tes ketajaman visual dapat dilakukan dengan berbagai cara. Ini adalah
cara cepat untuk mendeteksi masalah penglihatan dan sering
digunakan sekolah-sekolah atau untuk skrining masal.
3. Tes Lainnya
Sejumlah tes lainnya digunakan untuk mendiagnosa katarak atau
menentukan apakah operasi diperlukan.sebuah grafik mirip dengan
grafik snellen yang memiliki huruf ukuran yang sama, tetapi dalam
kontras yang berbeda dengan latar belakang, digunakan untuk
menguji sensitivitas kontras, kepekaan cahaya diuji dengan memiliki
pasien membaca grafik dua kali, dengan dan tanpa lampu terang.
4. Tes Fungsi Makula
Tes fungsi makula yang mengevaluasi pusat visi akut mata, dapat
membantu dokter mata menemukan perbaikan yang diharapkan dari
operasi.Endotelium kornea, lapisan sael yang melapisi kornea, sensitif

20
terhadap trauma bedah dievaluasi sebelum operasi intraokular
(University of Maryland Medical Center, 2012).

H. Penatalaksanaan
Perawatan pasien dengan katarak mungkin memerlukan rujukan untuk
konsultasi dengan atau pengobatan oleh dokter mata yang lain atau dokter
mata berpengalaman dalam pengobatan katarak, untuk pelayanan di luar
ruang lingkup dokter mata praktek. dokter mata dapat berpartisipasi dalam
pengelolaan pasien, termasuk kedua perawatan pra operasi dan pasca
operasi.
Sejauh mana seorang dokter mata dapat memberikan pengobatan
pasca operasi untuk pasien yang telah menjalani operasi katarak dapat
bervariasi, tergantung pada lingkup negara hukum praktek dan peraturan
dan sertifikasi dokter mata individu tersebut (Cynthia A. Murrill, 2014).
1. Dasar untuk Pengobatan
Keputusan pengobatan untuk pasien dengan katarak tergantung
pada sejauh mana kecacatan visual nya.
a. Pasien Non Bedah
Kebanyakan orang yang berusia di atas 60 tahun memiliki
beberapa tingkat pembentukan katarak. Namun, beberapa orang
tidak mengalami penurunan ketajaman visual atau memiliki
gejala yang mengganggu aktivitas mereka sehari-hari. Jika
pasien memiliki beberapa keterbatasan fungsional sebagai akibat
dari katarak dan operasi tidak diindikasikan, mungkin tepat
untuk mengikuti pasien dengan selang waktu 4 sampai 12 bulan
untuk mengevaluasi kesehatan mata dan penglihatan untuk
menentukan apakah kecacatan fungsionalnya berkembang
(Cynthia A. Murrill, 2014).
Hal ini penting bagi pasien untuk memiliki pemahaman
dasar tentang pembentukan katarak, tanda-tanda nyata dan
gejala yang berhubungan dengan perkembangan katarak, dan

20
risiko dan manfaat dari perawatan bedah dan non-bedah. Pasien
harus dianjurkan untuk melaporkan semua gejala nyata seperti
penglihatan kabur, penurunan penglihatan dengan silau atau
kondisi kontras rendah, diplopia, penurunan persepsi warna,
berkedip, atau floaters. Karena kemajuan katarak sebagian besar
dari waktu ke waktu, adalah penting bahwa pasien mengerti
bahwa tepat waktu menindaklanjuti pemeriksaan dan
manajemen yang penting untuk pengambilan keputusan yang
tepat dan intervensi untuk mencegah kehilangan penglihatan
lebih lanjut (Cynthia A. Murrill, 2014).
b. Pasien Bedah
Dalam sebagian besar keadaan, tidak ada alternatif untuk
operasi katarak untuk mengoreksi gangguan visual dan / atau
meningkatkan kemampuan fungsional. Pasien harus diberikan
informasi tentang hasil temuan dari pemeriksaan mata, pilihan
intervensi bedah, dan faktor-faktor apa saja yang dapat
mempengaruhi ketajaman visual pasca operasi atau kesehatan
mata. Potensi manfaat dan kemungkinan komplikasi harus
dibahas. Selain itu, pasien harus disarankan bahwa operasi
katarak merupakan prosedur elektif dalam banyak kasus yang
harus dilakukan apabila ketajaman visual dan kemampuan
fungsionalnya terganggu. Informasi ini harus diberikan sebelum
pasien memutuskan apakah melanjutkan operasi katarak atau
tidak (Cynthia A. Murrill, 2014)
Jika pasien telah membuat keputusan untuk melakukan
operasi katarak, dokter mata harus membantu pasien dalam
memilih ahli bedah mata dan membuat pengaturan yang
diperlukan untuk prosedur ini. dokter mata harus menyiapka
ahli bedah dengan hasil pemeriksaan diagnostik sebelum operasi
(Cynthia A. Murrill, 2014).

20
2. Pilihan yang tersedia Pengobatan
a. Pengobatan Non Bedah
Katarak yang baru terdiagnosa dapat menyebabkan
pergeseran kesalahan bias, kekaburan, berkurangnya kontras,
dan silau masalah bagi pasien. Pengobatan awal untuk katarak
gejala mungkin termasuk merubah pandangan atau resep kontak
lensa untuk memperbaiki penglihatan, dilengkapi dengan filter
ke dalam kacamata untuk mengurangi silau cacat, memberikan
saran pada pasien untuk memakai topi bertepi dan kacamata
hitam untuk mengurangi silau, dan dilatasi pupil untuk
memungkinkan melihat dengan daerah yang lebih perifer lensa
(Cynthia A. Murrill, 2014).
Mengganti resep lensa untuk mengimbangi perubahan
dengan kesalahan bias akan sering secara signifikan
meningkatkan penglihatan pasien. Namun, sebagai akibat dari
perbaikan pandangan perubahan bias yang tidak sama atau
unilateral, perbedaan ukuran gambar mungkin terjadi. Resep
lensa dengan kurva dasar yang sama dan ketebalan pusat dapat
membantu mengurangi masalah ini. Pasien katarak dalam satu
mata mungkin memiliki kesulitan dengan tugas-tugas yang
membutuhkan penglihatan binokular yang baik dan mungkin
menjadi calon dari lensa kontak atau kombinasi lensa
pemandangan-kontak. lensa kontak biasanya membantu untuk
meminimalkan perbedaan ukuran gambar (Cynthia A. Murrill,
2014).
Lensa kontak biasanya membantu untuk meminimalkan
perbedaan ukuran gambar. Demikian pula, perubahan bias
merata atau unilateral dapat menyebabkan deviasi vertikal yang
menghasilkan ketidaknyamanan visual atau diplopia saat
mendekati tugas yang dilakukan. Masalah ini sering dapat
dikelola oleh desentrasi dari lensa kacamata, mengubah posisi

20
bifocal, atau resep gaya berbeda segmen, daya prisma, atau
lensa kontak (Cynthia A. Murrill, 2014).
b. Pengobatan
Kombinasi topikal dan oral antiglaucoma, antibiotik, dan
obat anti-inflamasi dapat diberikan kepada pasien sebelum,
selama, dan setelah operasi (Cynthia A. Murrill, 2014).
Pada katarak sebaiknya dilakukan pemeriksaan tajam
penglihatan sebelum dilakukan pembedahan untuk melihat
apakah kekeruhan sebanding dengan turunnya tajam
penglihatan. Pada katarak nuklear tipis dengan miopia tinggi
akan terlihat tajam penglihatan yang tidak sesuai, sehingga
mungkin penglihatan yang turun akibat kelainan pada retina dan
bila dilakukan pembedahan memberikan hasil tajam penglihatan
yang tidak memuaskan. Sebaliknya pada katarak kortikal
posterior yang kecil akan mengakibatkan penurunan tajam
penglihatan yang sangat berat pada penerangan yang sedang
akan tetapi bila pasien berada di tempat gelap maka tajam
penglihatan akan memperlihatkan banyak kemajuan (Ilyas,
2007).
Pengobatan definitif katarak adalah tindakan pembedahan.
Pembedahan dilakukan apabila tajam penglihatan sudah
menurun sehingga mengganggu kegiatan sehari-hari atau
adanya indikasi medis lainnya seperti timbulnya penyakitit.
Pembedahan katarak dapat dilakukan dengan beberapa teknik,
antara lain ICCE, ECCE, dan fakoemulsifikasi. Setelah
dilakukan pembedahan, lensa diganti dengan kacamata afakia,
lensa kontak atau lensa tanam intraokuler (Ilyas, 2007).
1. Intra Capsuler Cataract Ekstraksi (ICCE)
Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan
seluruh lensa bersama kapsul. Seluruh lensa dibekukan di
dalam kapsulnya dengan cryophake dan depindahkan dari

20
mata melalui incisi korneal superior yang lebar. Sekarang
metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan lensa
subluksatio dan dislokasi. Pada ICCE tidak akan terjadi
katarak sekunder dan merupakan tindakan pembedahan
yang sangat lama populer. ICCE tidak boleh dilakukan
atau kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40
tahun yang masih mempunyai ligamen hialoidea kapsular.
Penyulit yang dapat terjadi pada pembedahan ini
astigmatisme, glukoma, uveitis, endoftalmitis, dan
perdarahan (Vicente Victor D Ocampo, 2016).
2. Extra Capsular Cataract Extraction (ECCE)
Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana
dilakukan pengeluaran isi lensa dengan memecah atau
merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dan
kortek lensa dapat keluar melalui robekan. Pembedahan
ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan
kelainan endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi
lensa intra ocular posterior, perencanaan implantasi
sekunder lensa intra ocular, kemungkinan akan dilakukan
bedah glukoma, mata dengan prediposisi untuk terjadinya
prolaps badan kaca, mata sebelahnya telah mengalami
prolap badan kaca, sebelumnya mata mengalami ablasi
retina, mata dengan sitoid macular edema, pasca bedah
ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan
pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit
yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat
terjadinya katarak sekunder (Vicente Victor D Ocampo,
2016.

20
BAB III
KESIMPULAN

A. Simpulan
Katarak berasal dari bahasa yunani “kataarrhakies” yang berarti air
terjun. Dalam bahasa Indonesia, katarak disebut bular, yaitu penglihatan
seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap
keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduanya.
Katarak juga dapat terjadi pada usia berapa saja setelah trauma lensa, infeksi
mata, atau pajanan terhadap radiasi atau obat tertentu. Janin yang terpajan
virus rubella dapat mengalami katarak. Individu yang mengalami katarak,
yang kemungkinan besar disebabkan olehg gangguan aliran darah ke mata
dan perubahan penanganan dan metabolisme glukosa.
Banyak faktor dikaitkan dengan terjadinya katarak antara lain
umur, jenis kelamin, penyakit diabetes melitus (DM), pajanan terhadap
sinar ultraviolet (sinar matahari), merokok, tingkat sosial ekonomi,
tingkat pendidikan, paparan asap, riwayat penyakit katarak, dan
pekerjaan . Manifestasi yang bisa terjadi yaitu Penurunan Ketajaman Visual,
Kesilauan, Pergeseran Rabun, Diplopia Monocular. Pemeriksaan penunjang
yang dapat dilakukan yaitu Snellen Eye Bagan, Tes Ketajaman Visual, Tes
Lainnya, dan Tes Fungsi Makula.

55
DAFTAR PUSTAKA

Anas, Tamsuri. (2011). Klien Gangguan Mata dan Penglihatan Jakarta. EGC.

Bulechek, M, Gloria, et.all. (2015). Nursing Interventions Classification (NIC).


Elsevier Mosby. St. Louis Missouri.

Corwin, Elizabeth J. (2009). Buku Saku Patofisiologi Edisi : 3. Alih Bahasa : Nike
Budhi Subekti. Penerbit Buku Kedokteran : EGC.

Elizabeth J. Corwin. (2009). Buku Saku Patofisiologi Corwin. Jakarta : Aditya


Media.

Herdman, T, Heather and Kamitsuru Shigemi. (2015). Nursing Diagnoses:


Definition & Classification. Willey Black Well.
http://cdn.ca9.uscourts.gov/datastore/library/2014/09/12/ColwellCatar
act.pdf. Diakses pada hari Selasa, 22 Maret 2016.

Ilyas S. (2007). Ilmu Penyakit Mata. Tajam Penglihatan, Kelainan Refraksi Dan
Penglihatan Warna. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

Ilyas S. (2007). Ilmu Penyakit Mata. Tajam Penglihatan, Kelainan Refraksi Dan
Penglihatan Warna. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

Ilyas, S. (2010). Ilmu Penyakit Mata. 3 ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Kowalak JP. (2011). Buku Ajar Patofisiologi. Alih bahasa: Hartono A. Jakarta: EGC.

Moorhed, Sue et.all. (2015). Nursing Outcomes Classification (NOC). Elsevier


Mosby. St. Louis Missouri.

Murrill A. Cynthia. (2014). Care of the Adult Patient with Cataract. Optometric
Clinical Practice Guideline.

Mutiarasari, D. (2011). Katarak Juvenil. No.XIV edisi oktober. Penerbit FKUI.


Jakarta.

Nungki R. P. (2014). Perbedaan Tajam Pengeliatan Pascaoperasi Fakoemulsifikasi Pada


Pasien Katarak Senilis Dengan Diabetes Melitus Dan Tanpa Diabetes
Melitus. Laporan Hasil Karya Tulis
Ilmiah. Semarang: Universitas Diponegoro.

Rahayu, Endang. (2014). Kamus kesehatan : Untuk Pelajar, Mahasiswa, Profesional dan
Umum. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Rasyid. R, Nawi. R, dan Zulkifli. (2010). Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian
Katarak Di Balai Kesehatan Mata Masyarakat Makassar (BKMM Tahun
2010). Makassar : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanudin.

Seekers, J. (2012). Cataract. University Of Maryland Medical Centre.


http://umm.edu/health/medical/reports/articles/cataracts. Diakses pada hari
Selasa, 23 Maret 2016.

Tarwoto. (2009). Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta : Trans


Info Media.

Tarwoto. (2009). Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta : Trans


Info Media.

Usmarula. R. (2013). Asuhan Keperawatan Pada Tn. S Dengan Gangguan Sistem Sensori
Visual: Pre dan Post Operasi Katarak Di Bangsal Cempaka Di Rmah Sakit
Umum Daerah Pandanarang Boyolali. Naskah Publikasi. Solo: Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.