Anda di halaman 1dari 16

REPUBLIK INDONESIA

RENCANA PEMBANGUNAN NASIONAL SEKTOR ENERGI


& RANCANGAN TEKNOKRATIK RPJMN 2020-2024
SEKTOR ENERGI
(SUB SEKTOR MINYAK DAN GAS BUMI)

Disampaikan dalam Diskusi Publik Awal Tahun 2019


yang diselenggarakan oleh PWYP Indonesia

Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/


Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas)
Direktorat Sumber Daya Energi, Mineral dan Pertambangan

Jakarta, 14 Januari 2018


TUJUAN UTAMA PEMBANGUNAN KETAHANAN ENERGI

Pemenuhan Kebutuhan dalam Negeri secara Optimal

Untuk dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, produksi energi harus terus ditingkatkan untuk
mendukung kebutuhan masyarakat dan industri, transisi energi fosil ke energi
terbarukan dan dari sisi permintaan harus dikendalikan melalui optimalisasi

Peningkatan Nilai Tambah

Sumber Daya Energi sebagai bahan baku industri dalam negeri

Berperan dalam Pengembangan Wilayah

 Sumber Daya Energi berperan dalam menopang perekonomian wilayah baik skala besar dan kecil
 Peningkatan efek pengganda pada industri-industri yang memiliki kaitan ke depan dan belakang
(forward-backward linkaged)
 Menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru
 Peningkatan penyerapan tenaga kerja
2
Draft Rancangan Teknokratik RPJMN 2020-2024

3
KERANGKA PEMBANGUNAN RANCANGAN TEKNOKRATIS
RPJMN 2020-2024
VISI 2045 Berdaulat, Maju, Adil Dan Makmur

Mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang
2020-2024 dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetititf di berbagai wilayah
yang didukung oleh SDM berkualitas dan berdaya saing

TEMA Indonesia Berpenghasilan Menengah-Tinggi yang Sejahtera, Adil, dan Berkesinambungan

PEMBANGUNAN PEMBANGUNAN PEMBANGUNAN PEMBANGUNAN PEMBANGUNAN POLITIK, HUKUM,


MANUSIA EKONOMI KEWILAYAHAN INFRASTRUKTUR PERTAHANAN & KEAMANAN

1 Pangan Sentra-Sentra 1 Transportasi


Pelayanan Dasar dan 1 1 Hukum dan Regulasi
1 Pertumbuhan
Perlindungan Sosial
2 Energi 2
Komoditas Unggulan 2 Telekomunikasi
2 Pertahanan dan Keamanan
Pariwisata, Ekonomi Kreatif Daerah
SDM Berkualitas dan 3 3 Sumber Daya Air
2 dan Digital 3 Politik
Berdaya Saing Pertumbuhan
4 Industri Manufaktur 3 Perumahan dan
Perkotaan 4
Pemukiman
5 Kelautan dan Kemaritiman

Development Constraints : Kondisi Investasi Kondisi SDA

PENGARUSUTAMAAN
4
Kesetaraan Tata Kelola Kerentanan Perubahan Modal Sosial
Gender (Governance) Bencana Iklim dan Budaya

Kaidah Pembangunan : Membangun Kemandirian Menjamin Keadilan Menjaga Keberlanjutan


ARAH KEBIJAKAN

Efisiensi dan Akselerasi peningkatan nilai


konservasi energi tambah sumber daya energi

Transformasi penyediaan
energi dari fosil ke EBT melalui
peningkatan porsi EBT dalam
Peningkatan dan bauran energi nasional
pemerataan Peningkatan cadangan
distribusi energi sumber daya energi
SASARAN POKOK - INDIKATOR UTAMA

Porsi EBT dalam Meningkatnya porsi


Bauran Energi bauran energi baru
Nasional
(persen) dan energi
terbarukan dalam Meningkatnya Intensitas
bauran energi efisiensi dan Energi Primer
nasional konservasi energi
(SBM/Miliar
• Cadangan EBT Rp)
per Lokasi
secara rinci Meningkatnya
(MW) cadangan sumber
• Reserve
daya energi Tersedianya akses
Replacement • Konsumsi
Ratio (RRR) energi yang listrik per

Migas (persen)
Produksi Meningkatnya nilai memadai, adil dan kapita
Batubara yang
tambah sumber daya merata (kWh)
Dikendalikan • Kapasitas
(ton) energi Pembangkit
listrik (MW)
• Jaringan
• DMO Gas untuk Gas
Industri (Persen) Rumah
• DMO Batubara Tangga
(persen) (SR)
• Depo BBM
(Unit)
URAIAN STRATEGI DAN PROGRAM
Akselerasi
Pengembangan Pemenuhan
Energi Terbarukan Kebutuhan Energi
secara Adil dan Merata
• Penguatan kelembagaan energi
terbarukan • Peningkatan Cadangan
• Mandatory Bioenergi Energi
• Penyediaan lahan untuk EBT di • Pembangunan
daerah melalui HTE Infrastruktur Energi
• Pengembangan EBT berbasis • Produksi Energi Baru
kewilayahan

Penguatan
Implementasi Efisiensi Peningkatan Nilai
dan Konservasi Energi Tambah Sumber Daya
• Penguatan Lembaga Energi
Konservasi dan Efisiensi
• Pembangunan industri
Energi
petrokimia berbasis migas
• Penguatan SDM bidang
dan batubara
konservasi dan efisiensi
energi
Uraian Program Prioritas
Pemenuhan Kebutuhan Energi secara Adil dan Merata

Pembangunan Infrastruktur Energi


• Penetapan dan pengaturan mekanisme open access penggunaan
infrastruktur migas;
• Pembangunan jaringan gas untuk rumah tangga;
• Pembangunan Depo BBM;
• Pembangunan dan Peningkatan Kapasitas Kilang Minyak; dan
• Penyusunan skema pendanaan pembangunan jaringan gas untuk rumah
tangga;

• Peningkatan akses data survey migas pada open area untuk • Pembangunan fasilitas pengolahan DME (sebagai
meningkatkan daya tarik investasi hulu migas; campuran LPG);
• Pelaksanaan joint study bersama perusahaan, dan akademisi dengan • Perumusan kebijakan pengembangan DME;
area studi eksplorasi pada migas dengan potensi keberhasilan tinggi; • Perumusan kebijakan pemanfaatan DME pada sektor
• Meningkatkan peran serta negara dalam eksplorasi dengan pendanaan industri dan tranportasi; dan
yang bersumber dari pendapatan negara (Petroleum Fund); dan • Gasifikasi Batubara
• Peningkatan kualitas hasil survei geologi melalui mekanisme Produksi Energi Baru
standarisasi untuk pelaporan cadangan migas dan batubara yang diakui
lembaga keuangan
Peningkatan Cadangan Energi
Uraian Program Prioritas
Peningkatan Nilai Tambah Sumber Daya Energi

• Pembangunan industri petrokimia berbasis migas;


• Pemanfaatan gasifikasi batubara untuk sektor industri; dan
• Pengalokasian gas bumi dalam negeri untuk industri berbasis gas
Pengembangan Industri berbasis Migas dan Batubara
FORWARD-BACKWARD LINKAGE: INTEGRASI PEMBANGUNAN KAWASAN INDUSTRI
BERBASIS GAS DENGAN SEKTOR POTENSIAL TERKAIT

Ket:
Hilirisasi industri petrokimia
Posisi perlu didorong sehingga
Indonesia multiplier effect tumbuh
saat ini
lebih cepat dan signifikan.
Saat ini masih banyak
produk petrokimia yang
diimpor.

Data Impor Produk Petrokimia

Sumber: SKK Migas, 2016


Strategi Pendanaan Pembangunan

11
KPBU
2005 Perpres No.
Perpres No. 67/2005
67/2005 2010 Perpres No. 13/2010 2011 Perpres No. 56/2011 2013 Perpres No. 66/2013

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA


PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2011
NOMOR 67 TAHUN 2005 TENTANG
TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 67 TAHUN 2005
KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA
DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Breakthrough dalam Perpres No. 38 Tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah dan Badan
2015
Menimbang : a. Perpres No. 38/2015
Bahwa ketersediaan infrastruktur yang memadai dan
Menimbang : a. bahwa dalam rangka percepatan penyediaan infrastruktur melalui

berkesinambungan merupakan kebutuhan mendesak


mendukung pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka
untuk
Usaha (KPBU) kerjasama pemerintah dengan badan usaha untuk mendorong
perluasan pembangunan nasional, dipandang perlu mengubah
Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2005 tentang Kerjasama
meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, serta
untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam pergaulan global; Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur

b. bahwa untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, dipandang 1 Perluasan jenis infrastruktur yang dapat menggunakan skema KPBU mencakup infrastruktur sosial seperti sekolah, rumah sakit,
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 13
Tahun 2010;

perlu mengambil langkah-langkah yang komprehensif guna


menciptakan iklim investasi untuk mendorong keikutsertaan badan dan lembaga pemasyarakatan. b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a, perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Perubahan
usaha dalam penyediaan infrastruktur berdasarkan prinsip usaha Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2005 tentang
secara sehat; Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan

c. bahwa untuk mendorong dan meningkatkan kerjasama antara


2 Instansi internasional diizinkan untuk berpartisipasi dalam penyiapan proyek dengan skema pembayaran seperti success fee dan
Infrastruktur;

pemerintah dan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur dan


jasa pelayanan terkait, perlu pengaturan guna melindungi dan
mengamankan kepentingan konsumen, masyarakat, dan badan
retainer fee sehingga standar kualitas prastudi kelayakan dapat ditingkatkan.
Mengingat : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
usaha secara adil;
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

d. bahwa berda sarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada 3 Skema hybrid financing (pembiayaan sebagian) memungkinkan pelaksanaan proyek dilakukan oleh Badan Usaha pemenang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724);
huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Presiden
tentang Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam
Penyediaan Infrastruktur;
lelang dengan dana yang disediakan oleh PJPK sehingga kualitas pembangunan dapat diselaraskan. 3. Peraturan …

Mengingat : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasa r Negara Republik Indonesia


Tahun 1945;
2. Keputusan Presiden...
4 Pembayaran Ketersediaan Layanan (availability payment) dan Jaminan Pemerintah untuk proyek prakarsa Badan Usaha dapat
meningkatkan kelayakan finansial proyek
5 Pembentukan Simpul KPBU di K/L yang bertugas untuk menyiapkan perumusan kebijakan, sinkronisasi, koordinasi,
pengawasan, dan evaluasi pembangunan KPBU.

6 K/L/D wajib melakukan penganggaran perencanaan, penyiapan dan transaksi proyek KPBU

• Kementerian PPN/Bappenas mendorong setiap provinsi sekurang-kurangnya melaksanakan 1 proyek KPBU


• Kendala: belum dipahami seluruh stakeholders 12
KPBU
JENIS INFRASTRUKTUR

Minyak dan Gas Bumi


Serta
Energi Terbarukan

Telekomunikasi & Sistem Sistem Sistem


Air Minum Informatika Jalan Transportasi Ketenagalistrikan Konservasi Energi Irigasi Pengelolaan Pengelolaan Pengelolaan
Air Limbah Persampahan Air Limbah
Setempat Terpusat

Lembaga Kawasan Fasilitas Sarana dan Prasarana Perumahan


Pendidikan
Perkotaan Olahraga serta Kesenian
Pariwisata Kesehatan
Rakyat 13
Pemasyarakatan
PINA

Investment appetite Pipeline project

Areas of investment focus Project readiness

Equity participation Project structure


Investee
Investor Loans Investment instrument options

PINA

Facilitation Function Pipelining Function Ecosystem Functions


14
CAPAIAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR MELALUI
SKEMA PINA

2 4
2 4
4
2
4

6 7 1
5 3 8

Waskita Toll Road – Jalan tol Trans Jawa dan Non-Trans Jawa (18 Proyek) BIJB (Pengembangan Fase 2 & Aerocity – 2 Proyek)
1 (IDR 135 triliun/ USD 10.000 juta) 5 (IDR 30 triliun / USD 2.237 juta)

PT PJB - Pembangkit Listrik (2 Proyek) Bandara Kulon Progo DIY – PT Angkasa Pura 1 & PT
2 (IDR 14,5 triliun / USD 1.071 juta) 6 PP (IDR 6,7 triliun / USD 495 juta)

Pesawat R-80 – PT RAI


3 PT Indonesia Power - Pembangkit Listrik (6 Proyek)
(IDR 78,3 triliun / USD 5.798 juta) 7 (IDR 21,6 triliun / USD 1.600 juta)

Pengembangan Area Terintegrasi Pulau Flores –


4 PT PLN - Transmisi Listrik
(IDR 27,5 triliun / USD 2.040 juta) 8 Flores Prosperindo, Ltd.
15
(IDR 13,5 triliun /USD 1.000 juta)
Sumber: PINA Center for Private Investment Analysis - BAPPENAS
TERIMA KASIH
dit.esdmp@bappenas.go.id