Anda di halaman 1dari 16

AMBULASI DINI POST PARTUM

DAN SENAM NIFAS

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Maternitas

Dosen pembimbing: Devi Permata Sari,S.kep,Ns,.MAN

Disusun oleh :
1. Apriani Trihastuti (1601007)
2. Eka Agus Setyawan (1701016)
3. Indah Budi Martiastuti (1701025)
4. Qorry Setyarini (1701035)
5. Sindi Febriyana Cahyaningrum (1701043)

S1 ILMU KEPERAWATAN

STIKES MUHAMMADIYAH KLATEN

2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
rahmatnyalah kami dapat menyelesaikan makalah maternitas yang berjudul “Ambulasi dini post
partum dan senam nifas”.

Dalam penyusunan makalah ini saya sadar karena kemampuan kami sangat terbatas.
Maka makalah ini masih mengandung banyak kekurangan, untuk itu harapan kami para
pembaca bersedia memberi saran dan pendapat untuk makalah ini.

Akhirnya kepada semua pihak yang telah mendukung dalam penyusunan makalah ini,
saya atas nama penyusun menyampaikan terimakasih dan penghargaan yang tak terhingga.

Semoga Tuhan yang Maha Pemurah memberkati kita, sehingga upaya kecil ini besar
manfaatnya bagi kita semua. Amin

Kelompok

2
DAFTAR ISI

Cover....................................................................................................................... i

Kata Pengantar...................................................................................................... ii

Daftar Isi............................................................................................................... iii

Bab I Pendahuluan

- Latar Belakang ............................................................................................ 1

- Tujuan ........................................................................................................ 1

Bab II Pembahasan

A. Ambulasi Dini Post Partum


B. Senam Nifas

Bab III Penutup

- Kesimpulan................................................................................................. 12

Daftar Pustaka ......................................................................................................

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mekanika tubuh merupakan usaha koordinasi dari muskuloskeletal untuk mempertahankan
keseimbangan tubuh. Prinsip mekanika tubuh, pergerakan dasar dalam mekanika tubuh
merupakan kebutuhan mekanika tubuh dan ambulasi. Untuk menilai kemampuan pasien dalam
penggunaan mekanika tubuh dengan baik, penggunaan alat bantu gerak, cara menggapai benda,
naik/turun dan berjalan adalah dengan cara melakukan proses keperawatan pada pasien melalui
pengkajian, diagnosa, intervensi dan tindakan keperawatan. Dengan adanya proses keperawatan
pada pasien dengan gangguan ambulasi ditujukan untuk menjaga keamanan ambulasi,
meningkatkan kekuatan otot dan mobilitas, mencegah komplikasi dari imobilitas dan
meningkatkan harga diri serta kemandirian.

Untuk itu penulis membuat makalah ini agar dapat membantu tata cara dasar ambulasi yang
benar.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari ambulasi?
2. Apakah tujuan dari ambulasi?
3. Sebutkan dan jelaskan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan ambulasi!
4. Sebutkan apa saja alat-alat yang dipergunakan dalam pelaksanaan ambulasi!
5. Sebutkan fakor-faktor yang mempengaruhi ambulasi!
6. Apakah senam nifas itu ?
7. Apa saja tujuan dari senam nifas ?
8. Bagaimana persiapan dan pelaksanaan senam nifas ?

C. Tujuan
 Untuk mengetahui pengertian dari ambulasi.
 Untuk mengetahui tujuan dari ambulasi.
 Untuk mengetahui tindakan-tindakan yang berhubungan dengan ambulasi.
 Untuk mengetahui apa saja alat-alat yang dipergunakan dalam pelaksanaan
ambulasi
 Untuk mengetahui factor-faktor ambulasi

4
 Untuk mengetahui senam nifas
 Untuk mengetahui tujuan dari senam nifas
 Untuk mengetahui persiapan dan pelaksanaan senam nifas

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Ambulasi

I. Pengertian Ambulasi

Ambulasi merupakan tahapan kegiatan yang dilakukan segera pada pasien pasca operasi
dimulai dari bangun, dan duduk di sisi tempat tidur hingga pasien turun dari tempat tidur, berdiri
dan mulai belajar berjalan.

Manfaat ambulasi adalah untuk memperbaiki sirkulasi, mencegah flebotrombosis


(thrombosis vena profunda/DVT). Mengurangi komplikasi immobilisasi pasca operasi,
mempercepat pemulihan peristaltic usus, mempercepat pasien pasca operasi (Hinchliff, 1999;
Craven dan Hirnle, 2009).

Ambulasi sangat penting dilakukan pada pasien pasca operasi karena jika pasien membatasi
pergerakannya di tempat tidur dan sama sekali tidak melakukan ambulasi pasien akan semakin
sulit untuk memulai berjalan (Kozier, 1989).

Menurut Kozier dan Erb (1987), factor yang mempengaruhi ambulasi adalah kondisi kesehatan
pasien, nutrisi, emosi, situasi dan kebiasaan serta gaya hidup dan pengetahuan.

Hal ini harusnya menjadi bagian dalam perencanaan latihan untuk semua pasien. Ambulasi
mendukung kekuatan, daya tahan dan fleksibelitas. Keuntungan dari latihan berangsur-angsur
dapat di tingkatkan seiring dengan pengkajian data pasien menunjukkan tanda peningkatan
toleransi aktivitas. Menurut Kozier (1995 dalam Asmandi, 2008) ambulasi adalah aktivitas
berjalan. Ambulasi dini merupakan tahapan kegiatan yang dilakukan segera pada pasien paska
operasi dimulai dari duduk sampai pasien turun dari tempat tidur dan mulai berjalan dengan
bantuan alat sesuai dengan kondisi pasien.

II. Tujuan Ambulasi

6
· Untuk memenuhi kebutuan aktivitas

· Memenuhi kebutuhan ambulasi

· Mempertahankan kenyamanan

· Mempertahankan toleransi terhadap aktivitas

· Mempertahankan control diri pasien

· Memindahkan pasien untuk pemeriksaan

III. Tindakan-tindakan Ambulasi

a. Duduk di atas tempat tidur

1. Tempatkan klien pada posisi terlentang

2. Pindahkan semua bantal

3. Posisi menghadap kepala tempat tidur

4. Regangkan kedua kaki perawat dengan kaki paling dekat ke kepala tempat tidur di belakang
kaki yang lain.

5. Tempatkan tangan yang lebih jauh dari klien di bawah bahu klien, sokong kepalanya dan
vetebra servikal.

6. Tempatkan tangan perawat yang lain pada permukaan temapt tidur.

7. Angkat klien ke posisi duduk dengan memindahkan berat badan perawat dari depan kaki ke
belakang kaki.

8. Dorong melawan tempat tidur dengan tangan di permukaan tempat tidur

b. Memindahkan pasien dari tempat tidur ke kursi

7
1. Bantu pasien ke posisi duduk di tepi tempat tidur. Buat posisi kursi pada sudut 45 derajat
terhadap tempat tidur. Jika menggunakan kursi roda, yakinkan bahwa kusi roda dalam posisi
terkunci.

2. Pasang sabuk pemindahan bila perlu, sesuai kebijakan lembaga.

3. Yakinkan bahwa klien menggunakan sepatu yang stabil dan antislip.

4. Regangkan kedua kaki perawat.

5. Fleksikan panggul dan lutut perawat, sejajarkan lutut perawat dengan pasien.

6. Pegang sabuk pemindahan dari bawah atau gapai melalui aksila pasien dan tempatkan
tangan pada skapula pasien.

7. Angkat pasien sampai berdiri pada hitungan 3 sambil meluruskan panggul dan kaki,
pertahankan lutut agak fleksi.

8. Pertahankan stabilitas kaki yang lemah atau sejajarkan dengan lutut perawat.

9. Berporos pada kaki yang lebih jauh dari kursi, pindahkan pasien secara langsung ke
depan kursi.

10. Instruksikan pasien untuk menggunakan penyangga tangan pada kursi untuk menyokong.

11. Fleksikan panggul perawat dan lutut saat menurunkan pasien ke kursi.

12. Kaji klien untuk kesejajaran yang tepat.

13. Stabilkan tungkai dengan selimut mandi

14. Ucapkan terima kasih atas upaya pasien dan puji pasien untuk kemajuan dan
penampilannya.

c. Bantu berjalan

1. Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan

2. Letakkan tangan pasien di samping badan atau memegang telapak tangan anda

3. Berdiri di samping pasien serta pegang telapak dan lengan tangan pada bahu pasien

8
4. Bantu pasien untuk berjalan perlahan-lahan

d. Memindahkan pasien dari tempat tidur ke branchard

Merupakan tindakan keperawatan dengan cara memindahkan pasien yang tidak dapat atau tidak
boleh berjalan sendiri dari tempat tidur ke branchard.

1. Atur posisi branchard dalam posisi terkunci

2. Bantu pasien dengan 2 – 3 perawat

3. Berdiri menghadap pasien

4. Silangkan tangan di depan dada

5. Tekuk lutut anda, kemudian masukkan tangan ke bawah tubuh pasien.

6. Perawat pertama meletakkan tangan di bawah leher/bahu dan bawah pinggang, perawat
kedua meletakkan tangan di bawah pinggang dan pinggul pasien, sedangkan perawat ketiga
meletakkan tangan di bawah pinggul dan kaki.

7. Angkat bersama-sama dan pindahkan ke branchard

8. Atur posisi pasien di branchard

e. Duduk di tepi tempat tidur

1. Tempatkan klien pada posisi miring, menghadap perawat di sisi tempat tidur tempat ia akan
duduk.

2. Pasang pagar tempat tidur pada sisi yang berlawanan.

3. Tinggikan kepala tempat tidur pada ketinggian yang dapat ditoleransi pasien.

4. Berdiri pada sisi panggul klien yang berlawanan.

5. Balikkan secara diagonal sehingga perawat berhadapan dengan pasien dan menjauh dari
sudut tempat tidur.

9
6. Regangkan kaki perawat dengan kaki palingdekat ke kepala tempat tidur di depan kaki yang
lain.

7. Tempatkan lengan yang lebih dekat ke kepala tempat tidur di bawah bahu pasien, sokong
kepala dan lehernya

8. Tempat tangan perawat yang lain di atas paha pasien.

9. Pindahkan tungkai bawah klien dan kaki ke tepi tempat tidur.

10. Tempatkan poros ke arah belakang kaki, yang memungkinkan tungkai atas pasien memutar
ke bawah.

11. Pada saat bersamaan, pindahkan berat badan perawat ke belakang tungkai dan angkat
pasien.

12. Tetap didepan pasien sampai mencapai keseimbangan.

13. Turunkan tinggi tempat tidur sampai kaki menyentuh lantai.

IV. Alat-alat yang digunakan dalam pelaksanaan ambulasi

· Kruk adalah alat yang terbuat dari logam atau kayu dan digunakan permanen untuk
meningkatkan mobilisasi serta untuk menopang tubuh dalam keseimbangan pasien. Misalnya:
Conventional, Adjustable dan lofstrand

· Canes (tongkat) yaitu alat yang terbuat dari kayu atau logam setinggi pinggang yang
digunakan pada pasien dengan lengan yang mampu dan sehat. Meliputi tongkat berkaki panjang
lurus (single stight-legged) dan tongkat berkaki segi empat (quad cane).

· Walkers yaitu alat yang terbuat dari logam mempunyai empat penyangga yang kokoh
digunakan pada pasien yang mengalami kelemahan umum, lengan yang kuat dan mampu
menopang tubuh.

V. Faktor-faktor yang Memengaruhi Mekanika Tubuh dan Ambulasi

10
1. Status Kesehatan. Perubahari status kesehatan dapat memengaruhi sistem
muskuloskeletal dan sistcm saraf berupa penurunan koordinasi. Perubahan tersebut dapat
disebabkan oleh penyakit, berkurangnya kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, dan
lain-lain.

2. Nutrisi. Salah satu fungsi nutrisi bagi tubuh adalah membantu proses
pertumbuhan tulang dan perbaikan sel. Kekurangan nutrisi bagi tubuh dapat menyebabkan
kelemahan otot dari memudahkan terjadinya penyakit. Sebagai contoh, tubuh yang kekurangan
kalsium akan lebih mudah mengalami fraktur.

3. Emosi. Kondisi psikologis sesearang dapat memudahkan perubahan perilaku yang


dapat menurunkan kemampuan mekanika tubuh dari ambulasi baik. Seseorang yang mengalami
perasaan tidak aman, tidak bersemangat, dan harga diri yang rendah, akan mudah mengalarrti
perubahan dalam mekanika tubuh dan ambulasi.

4. Situasi dan Kebiasaan, Situasi dan kebiasaan yang dilakukan seseorang, misalnya
sering mengangkat benda-benda berat, akan menyebabkan perubahan mckanika tubuh dan
ambulasi.

5. Gaya Hidup. Perubahan pola hidup seseorang dapat menyebabkan stres dan
kemungkinan besar akan menimbulkan kecerobohan dalam beraktivitas, sehingga dapat
mengganggu koordinasi antara sistem muskuloskeletal dan neurologi, yang akhirnya
mengakibatkan perubahan mekanika tubuh.

6. Pengetahuan. Pengetahuan yang baik terhadap penggunaan mekanika tubuh akan


mendorong sescorang untuk mempergunakannya dengan benar, sehingga menguranngi tenaga
yang dikeluarkan. Sebaliknya, pcngetahuan yang kurang memadai dalam penggunaan mekanika
tubuh akan menjadikan seseorang berisiko mengalami gangguan koordinasi sistem neurolobri
dan muskuloskcletal.

11
B. Senam Nifas

i. Pengertian

Kehamilan dan persalinan adalah peristiwa yang alamiah yang dialami oleh seorang ibu,
tetapi bagi seorang ibu yang hamil anak pertama sering dianggap sebagai peristiwa yang
mencemaskan.

Bagi ibu hamil segala sesuatu yang berada disekitar hidupnya akan berpengaruh langsung
pada dirinya. Yang jelas misalnya alat-alat rumah tangga yang serba praktis dan modern, alat
angkut, alat pembersih rumah tangga dan lain-lain, yang tidak menggunakan tenaga kerja
jasmani sehingga otot-otot dan sendi dalam tubuh makin tidak efisien kerjanya. Sehingga
otot-otot dan sendi akan kaku tidak elastis dan lemah. Padahal bagi ibu yang melahirkan
dibutuhkan oto-otot dan sendi yang kuat dan elastis. Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu
cara adalah mengikuti senam. Begitu juga dengan ibu seterlah melahirkan supaya otot-otot
dan tubuhnya cepat kembali segar dianjurkan mengikuti senam setelah melahirkan yang akan
banyak manfaatnya bagi ibu setelah melahirkan.

ii. Tujuan
Tujuan dilakukan senam nifas adalah :

a. Membantu memperlancar sirkulasi darah


b. membantu mengembalikan kedudukan otot kandungan
c. menguatkan otot-otot perut, otot dasar panggul, dan pinggang
d. membantu memperlancar ASI
e. membantu membentuk tubuh yang bagus dan seimbang
f. mencegah prolaps uteri dan keluhan wasir/ ambeien

iii. Persiapan
a. Sebelum melakukan senam, baik pre atau post natal care sebaiknya diberikan
penjelasan secara teori supaya dalam melaksanakan senam tidak salah
b. Untuk tempat dipilih yang tenang dan cukup ventilasi

12
a. Alat :
1. Matras
2. sprei, bantal dan guling
3. sarung bantal dan guling
4. baju senam yang panjang dan longgar
5. gambar anatomi
6. tape recorder
7. handuk kecil

iv. Pelaksanaan
hal – hal yang perlu dilakukan sebelum latihan dilakukan:

 Pengukuran tanda-tanda vital dan berat badan


 Pemanasan 5-10 menit
 Latihan inti 15 menit
 latihan diakhiri dengan gerakan-gerakan ringan (jalan dan pelemasan
seperlunya
 dilakukan senam bersama 1 minggu sekali dirumah setiap hari sebelim
makan/ 3 jam setelah makan
 dilakukan sampai 6-8 minggu setelah melahirkan

Cara latihan senam :

1. Latihan untuk memperlancar sirkulasi darah, memperkuat otot kaki

kiri

kanan

Duduk dengan lengan menahan dilantai, kaki digerakkan seperti arah panah

13
2. latihan untuk memperkuat otot dasar panggul

duduk seperti diatas, tungkai kanan diletakkan diatas tungkai kiri, kemudian tungkai kiri
digerakkan keatas, serta sekaligus mengerutkan dubur selama 3-5 detik

3. latihan otot dada dan pernafasan


Duduk bersila dengan posisi lengan disamping agak kedepan lalu tekan lengan ke dalam

4. latihan untuk mengecilkan perut

duduk dengan lutut agak ditekuk, lalu badan dicondongkan, lengan lurus ke depan

5. latihan untuk menguatkan otot perut dasar panggul

14
berlutut dengan lengan menahan pada lantai, punggung lurus, lalu punggung
dibengkokkan keatas dengan mengerutkan luang dubur selama 3-5 detik

6. latihan untuk melatih perut dan memperkuat otot tungkai

Posisi push up dengan bertekan pada lutut. Latihan ini untuk menguatkan otot perut

7. latihan untuk melatih postur dan menguatkan otot tungkai


Benar Salah
Jalan ditempat tegak, pinggul
diputar ke belakang

Pinggul diputar ke depan, punggung


bengkok

8.
Berdiri tegak ke samping badan, lalu
perlahan-lahan jongkok, lengan ke depan
diletakkan diatas lutut

15
Latihan pasca persalinan (masa nifas) gerakkan diarahkan lebih pada perbaikan otot
disekeliling perut, perbaikan postur dan perbaikan otot-otot pinggul

16