Anda di halaman 1dari 25

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep laparatomi

2.1.1. Definisi

Laparotomi adalah salahsatu prosedur pembedahan mayor dengan

cara melakukan penyayatan pada lapisan dinding abdomen untuk

mendapatkan organ dalam abdomenyang mengalami masalah, misalnya

kanker, pendarahan, obstruksi, dan perforasi (Sjamsuhidajat, 2010).

Laparatomi dilakukan pada kasus-kasus seperti, apendisitis

perforasi, hernia inguinalis, kanker lambung, kanker colon dan rektum,

obstruksi usus, inflamasi usus kronis, kolestisitis dan peritonitis

(Faridah 2014).

Berdasarkan pembagian luka operasi, tindakan bedah laparatomi

merupakan jenis luka operasi bersih terkontaminasi, yaitu jenis operasi

yang membutuhkan proses penyembuhan yang lebih lama (Hidayat,

2006). Proses penyembuhan luka adalah salah satu hal terpenting dalam

pelaksanaan pasien pasca pembedahan yakni meyatukan kedua tepi luka

berdekatan dan saling berhadapan, jaringan yang dihasilkan sangat

sedikit biasanya dalam waktu 10 sampai 14 hari, repitalisasi secara

normal sudah sempurna dan biasanya hanya menyisahkan jaringan

paruh tipis yang dengan cepat memudar dengan warna merah muda

menjadi putih (Morison, 2004).

6
7

2.1.2. Indikasi tindakan laparatomi

a. Apendiksitis

Apendisitis adalah kondisi dimana infeksi terjadi di umbai cacing

atau peradangan akibat infeksi pada usus buntu. Bila infeksi parah, usus

buntu itu akan pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya

buntu dan menonjol pada bagian awal unsur atau sekum

b. Secsio Cesarea

Sectio sesarea adalah suatu persalinan buatan, dimana janin

dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim

dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500

gram. Jenis-jenis sectio sesarea yaitu sectio sesarea klasik dan sectio

sesarea ismika. Sectio sesarea klasik yaitu dengan sayatan memanjang

pada korpus uteri kira-kira 10 cm, sedangkan sectio sesarea ismika yaitu

dengan sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10

cm.

c. Peritonitis

Peritonitis adalah peradangan peritonium, suatu lapisan endotelial

tipis yang kaya akan vaskularisasi dan aliran limfa. Penyebab Peritonitis

ialah infeksi mikroorganisme yang berasal dan gastrointestinal,

appendisits yang meradang typoid, tukak pada tumor. Secara langsung

dari luar misalnya operasi yang tidak steril, trauma pada kecelakaan

seperti ruptur limfa dan ruptur hati.


8

d. Kanker colon

Kanker kolon dan rektum terutama (95%) adenokarsinoma (muncul

dari lapisan epitel usus) dimulai sebagai polop jinak tetapi dapat menjadi

ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal serta meluas ke

dalam struktur sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer

dan menyebar ke dalam tubuh yang lain (paling sering ke hati). Gejala

paling menonjol adalah perubahan kebiasaan defekasi. Pasase darah

dalam feses adalah gejala paling umum kedua. Gejala dapat juga

mencakup anemia yang tidak diketahui penyebabnya, anoreksia,

penurunan berat badan dan keletihan.

e. Abscess Hepar

Abscess adalah kumpulan nanah setempat dalam rongga yang tidak

akibat kerusakan jaringan, Hepar adalah hati. Abscess hepar adalah

rongga yang berisi nanah pada hati yang diakibatkan oleh infeksi.

f. Ileus Obstruktif

Obstruksi usus didefinisikan sebagai sumbatan bagi jalan distal isi

usus. Ada dasar mekanis, tempat sumbatan fisik terletak melewati usus

atau ia bisa karena suatu ileus. Ileus juga didefinisikan sebagai jenis

obstruksi apapun, artinya ketidakmampuan si usus menuju ke distal

sekunder terhadap kelainan sementara dalam motilitas.


9

2.1.3. Jenis Laparatomi

Jenis- jenis pembedahan laparatomi menurut (Jitowiyono, 2010)

1) Midline incision, yaitu sayatan ke tepi dari garis tengah abdomen

2) Paramedian, yaitu sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2,5 cm), panjang

(12,5 cm)

3) Transverse upper abdomen incision, yaitu insisi di bagian atas, misalnya

pembedahan colesistotomy dan splenektomy

4) Transverse lower abdomen incision, yaitu insisi melintang di bawah ±

4cm diatas anterior spinal iliaka, misalnya: operasi appendictomy.

2.1.4. Fase Penyembuhan Luka

Kozier, Erb, Berman & Snyder (2010) menjelaskan bahwa proses

penyembuhan luka terbagi atas tiga fase: inflamasi, proliferasi, dan maturasi

atau remodeling.

a. Fase Inflamasi

Fase inflamasi dimulai segera setelah cedera dan berlangsung

selama 3 sampai 6 hari. Dua proses utama yang terjadi selama fase

ini: hemotasis dan fagositosis. Hemostasis (penghentian perdarahan)

akibat dari vasokonstriksi pembuluh darah besar pada area yang

terkena, retraksi (penarikan kembali) pembuluh darah yang cedera,

deposisi fibrin (jaringan ikat), dan pembentukan bekuan darah pada

area tersebut. Bekuan darah yang terbentuk dari platelet darah

memberikan matriks fibrin yang membentuk kerangka untuk

perbaikan sel. Keropeng juga dapat terbentuk pada permukaan luka.


10

Keropeng yang mengandung bekuan darah dan jaringan mati

juga membantu hemostasis dan menghambat kontaminasi

mikroorganisme pada luka. Pada bagian bawah keropeng ini, sel

epitel akan bergerak menuju luka dari tepi luka. Sel epitel berfungsi

sebagai barier antara tubuh dan lingkungan untuk mencegah

masuknya mikroorganisme.

Fase inflamasi juga meliputi respon vaskular dan seluler yang

bertujuan membuang semua zat asing dan jaringan yang rusak dan

mati. Aliran darah ke area luka meningkat, membawa oksigen dan

zat gizi yang dibutuhkan dalam proses penyembuhan luka.

Akibatnya, area luka terlihat kemerahan dan bengkak. Selama

perpindahan sel, leukosit (terutama, netrofil) akan bergerak masuk

ke dalam ruang interstisial. Makrofag yang berasal dari monosit

darah akan menggantikan semua leukosit ini dalam 24 jam setelah

cedera. Kemudian, semua makrofag tersebut menghancurkan

mikroorganisme dan debris sel melalui sebuah proses yang dikenal

sebagai fagositosis.

Makrofag juga mensekresi faktor angiogenesis (AGF), yang

memicu pembentukan epitel pada pembuluh darah akhir yang

cedera. Jaringan mikrosirkulasi yang terjadi dapat mempertahankan

proses penyembuhan dan luka selama kehidupanya. Respon

inflamasi ini sangat penting dalam proses penyembuhan dan


11

tindakan yang dapat mengganggu proses inflamasi, seperti obat

steroid dapat meningkatkan risiko pada proses penyembuhan luka.

b. Fase Poliferasi

Fase poliferasi, fase kedua dalam proses penyembuhan, terjadi

pada hari ke 3 atau ke 4 sampai hari ke 21. Fibroblas (sel jaringan

ikat) yang bermigrasi ke luka dalam 24 jam setelah cedera mulai

mensintesis kolagen. Kolagen merupakan zat protein berwarna

keputihan yang dapat meningkatkan kekuatan regangan pada luka.

Saat jumlah kolagen bertambah, semakin meningkat pula kekuatan

luka, sehingga kemungkinan luka untuk terbuka semakin berkurang.

Apabila luka telah dijahit, “jembatan penyembuhan” akan

terlihat di bawah garis jahitan yang utuh. Kolagen yang baru

seringkali dapat terlihat pada luka yang tidak mengalami penyatuan.

Pembuluh darah kapiler akan tumbuh melewati luka dan

meningkatkan aliran darah. Fibroblas bergerak dari aliran darah ke

dalam luka dan menyimpan benang-benang fibrin dalam luka. Saat

jaringan pembuluh darah kapiler terbentuk, jaringan akan terlihat

merah cerah. Jaringan ini disebut dengan jaringan granulasi, yang

rapuh dan mudah berdarah.

Apabila tepi luka tidak merapat, area tersebut akan terisi oleh

jaringan granulasi. Saat jaringan granulasi matang, sel epitel yang

berasal dari bagian tepi luka akan bergerak masuk ke area jaringan

granulasi yang telah matang dan kemudian berproliferasi diatas


12

lapisan jaringan ikat ini untuk mengisi daerah luka. Apabila proses

epitelisasi tidak dapat menutup area luka, area luka akan tertutup

dengan plasma sel yang kering dan sel-sel mati. Area ini disebut

eskar. Pada awalnya, luka yang sembuh melalui penyembuhan

sekunder menghasilkan drainase luka bercampur darah

(serosanguineus). Setelah itu, apabila sel epitel tidak menutup area

luka, area tersebut akan tertutup oleh jaringan abu-abu yang tebal

dan mengandung benang-benang fibrin yang pada akhirnya berubah

menjadi jaringan perut kaku.

c. Fase Maturasi

Fase maturasi mulai terjadi sekitar hari ke 21 dan dapat

berlangsung selama 1 sampai 2 tahun setelah cedera luka. Kemudian

fibroblas terus mensintesis kolagen. Serat-serat kolagen tersebut,

yang pada awalnya memiliki bentuk yang tidak beraturan akan

berubah menjadi struktur jaringan yang teratur. Selama proses

maturasi jaringan, luka akan mengalami pembaruan bentuk dan

kontraksi. Jaringan perut akan menjadi lebih kuat, namun area yang

sedang mengalami perbaikan tidak akan menjadi kuat seperti

jaringan asalnya. Pada beberapa individu, terutama individu yang

berkulit gelap, pada area luka akan muncul kolagen dalam jumlah

yang tidak normal. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya

jaringan parut yang hipertrofik.


13

2.2. Konsep nyeri

2.2.1. Pengertian Nyeri

Setiap individu pernah mengalami nyeri dalam tingkatan tertentu.

Nyeri merupakan alasan yang paling umum orang mencari perawatan

kesehatan Walaupun merupakan salah satu dari gejala yang paling

sering terjadi di bidang medis, nyeri merupakan salah satu yang paling

sedikit dipahami. Individu yang merasakan nyeri merasa tertekan atau

menderita dan mencari upaya untuk menghilangkan nyeri. Perawat

menggunakan berbagai upaya untuk menghilangkan nyeri atau

mngembalikan kenyamanan. Perawat tidak dapat melihat atau

merasakan nyeri yang klien rasakan. Nyeri bersifat subjektif, tidak ada

dua invidu yang mengalami nyeri yang sama menghasilkan respon atau

perasaan yang identik pada seorang individu. Nyeri merupakan sumber

penyebab frustasi, baik klien maupun bagi tenaga kesehatan (Potter,

2010).

Managemen nyeri atau pain management adalah salah satu bagian

dari disiplin ilmu medis yang berkaitan dengan upaya-upaya

menghilangkan nyeri atau pain relief. Management nyeri ini

menggunakan pendekatan multidisiplin yang didalamnya termasuk

pendekatan farmakologikal (termasuk pain modifiers), non

farmakologikal dan psikologikal. Managemen nyeri non

farmakologikal merupakan upaya-upaya mengatasi atau menghilangkan

nyeri dengan menggunakan pendekatan non farmakologi. Upaya-upaya


14

tersebut antara lain relaksasi, distraksi, massage, guide imaginary dan

lain sebagainya.(Syamsiah & Muslihat, 2014).

Asosiasi Internasional untuk Penelitian Nyeri (International

Association for the Study of Pain, IASP) mendefinisikan nyeri sebagai

suatu sensori subjektif dan pengalaman emosional yang tidak

menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau

potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi

kerusakan. (IASP,1979 dalam (Potter, 2010). Nyeri merupakan kondisi

berupa keadaan tidak menyenangkan bersifat sangat subjektif karena

perasaan nyeri setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan

hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa

nyeri yang dialaminya (Hidayat, 2014).

2.2.2. Penyebab nyeri

Beberapa faktor dapat memulai respon nyeri. Penyebab fisik

mencakup stress mekanis dari trauma, insisi bedah atau pertumbuhan

tumor. Tubuh berespon dengan nyeri dan ketidaknyamanan terhadap

kelebihan tekanan, panas dan dingin, dan zat kimia tertentu (mis,

histamin, bradikinin, dan asetilkolin), yang dilepaskan ketika jaringan

mengalami kerusakan atau kehancuran. Kekurangan oksigen pada

jaringan juga menyebabkan nyeri karena jaringan juga mengalami

kekurangan atau deprivasi oksigen. Spasme otot akibatnya yang berupa

penurunan suplai darah ke otot dapat juga menyebabkan nyeri dan

ketidaknyamanan. Saat ketidaknyamanan meningkat, respon alami


15

tubuh adalah mengencangkan otot lebih lanjut, yang menekankan

adanya masalah keletihan, ketakutan terhadap sesuatu yang tidak

diketahui, dan kurangnya pengetahuan tentang penatalaksanaan nyeri

dapat menyebabkan pengencangan otot lebih lanjut (Rosdahl &

Kowalski, 2014).

2.2.3. Transmisi Nyeri

Menurut Rosdahl & Kowalski, (2014) istilah yang digunakan

untuk mendeskripsikan transmisi nyeri normal dan

interpretasinya adalah nosisepsi. Nosisepsi memiliki empat fase:

a. Transduksi, sistem saraf mengubah stimulus nyeri dalam ujung saraf

menjadi impuls.

b. Transmisi, impuls berjalan dari tempat awalnya ke otak.

c. Persepsi, otak mengenali, mendefiniskan, dan berespon terhadap

nyeri.

d. Modulasi, tubuh mengaktivasi respon inhibitor yang diperlukan

terhadap nyeri. Jika respon modulasi tubuh tidak berhasil, intervensi

eksternal diperlukan unutk menangani nyeri.


16

2.2.4. Tipe dan Karakteristik Nyeri

Tipe nyeri terbagi menjadi lima, yaitu nyeri berdasarkan durasi,

nyeri berdasarkan intensitas, nyeri berdasarkan tranmisi, nyeri

berdasarkan sumber atau asala nyeri, dan penyebab nyeri. (Lukman &

Ningsih, 2012):

a. Karakteristik Nyeri Berdasarkan Durasi

Table 2.1 Karakteristik Nyeri Berdasarkan Durasi

No. Nyeri Akut Nyeri Kronis


1 Peristiwa baru, tiba-tiba, Pengalaman nyeri yang
durasi singkat. menetap/ kontinu selama lebih
dari 6 bulan.
2 Berkaitan dengan penyakit Intensitas sukar untuk
akut, seperti operasi, diturunkan.
prosedur pengobatan atau
trauma.
3 Sifat nyeri jelas dan besar Sifatnya kurang jelas dan kecil
kemungkinan untuk hilang. kemungkinan untuk sembuh
atau hilang.
4 Timbul akibat stimulus Rasa nyeri biasanya
langsung terhadap meningkat.
rangsangan noksius,
misalnya mekanik dan
inflamasi.
5 Umumnya bersifat Dikategorikan sebagai:
sementara, yaitu sampai a. Nyeri kronis maligna, jika
dengan penyembuhan. nyeri berhubungan dengan
kanker.
b. Nyeri kronis non maligna,
17

jika nyeri akibat kerusakan


jaringan non progresif lalu
yang telah mengalami
penyembuhan.
6 Area nyeri dapat Area nyeri tidak mudah
diidentifikasi. Rasa nyeri diindentifikasi.
cepat berkurang.
18

2.2.5. Karakteristik Nyeri Berdasarkan Intensitas

Berdasarkan intensitas, nyeri digolongkan nyeri berat, nyeri

sedang, dan nyeri ringan. Untuk mengukur intensitas nyeri yang

dirasakan seseorang, dapat digunakan alat bantu yaitu dengan skala

nyeri. Skala nyeri yang umum digunakan adalah cara Mc. Gill dengan

menggunakan skala 0-5 (0 = tidak nyeri, 1 = nyeri, 2 = tidak

menyenangkan, 3 = menganggu, 4 = menakutkan, 5 = sangat

menakutkan). Skala ini disebut dengan “The Present Pain Intensity”.

Pengkajian yang lebih sederhana dan mudah dilakukan adalah

menggunakan skala 0-10, yaitu analog visual skala dengan cara

menyetakan sejauh mana nyeri yang dirasakan klien.

2.2.6. Karakteristik Nyeri Berdasarkan Transmisi

a. NyeriMenjalar

Terjadipadabidang yang luasdanpadastruktur yang

terbentukdariembrionikdermatom yang sama.

b. NyeriRujukan (Reffered Pain)

Nyeri yang bergerakdarisatudaerahkedaerah yang lain.

2.2.7. Karakteristik Nyeri Berdasarkan Sumber atau Asal Ayeri

Table 2.2 Karakteristik Nyeri Berdasarkan Sumber atau Asal Nyeri

Jenis Nyeri
Karakteristik Somatik Viseral Karakteristik
Superfisial Dalam
Kualitas Tajam, menusuk, Tajam, tumpul, Tajam,
19

dan membakar dan nyeri terus- tumpul, nyeri


menerus tonus, dan
kejang
Lokalisasi Baik Jelek Jelek
Menjalar Tidak Tidak Ya
Stimulus Torahan, abrasi Torahan, panas, Distensi,
panas dan dingin iskemi, iskemi,
pergesaran spasme, iritasi
tulang kimia (tidak
ada torehan)
Reaksi aktual Tidak Ya Ya
Reflek kontraksi Ya Ya Ya
otot

2.2.8. Berdasarkan penyebab

Menurut penyebabnya, nyeri dibagi menjadi enam kriteria seperti

berikut:

a. Termik, disebabkan oleh perbedaan suhu yang ekstrem.

b. Kimia, disebabkan oleh bahan/zat kimia.

c. Mekanik, disebabkan trauma fisik/mekanik.

d. Elektrik, disebabkan oleh aliran listrik.

e. Psikogenik, nyeri tanpa diketahui adanya kelainan fisik, bersifat

psikologis.

f. Neurologik, disebabkan oleh kerusakan jaringan syaraf.


20

2.2.9. Pengkajian Nyeri

Pengkajian pada klien dengan nyeri, dapat dilakukan dengan

menggunakan pendekatan PQRST. Hal ini dapat membantu perawat

dalam menentukan intervensi yang sesuai. Pengkajian karakteristik

Nyeri secara PQRST menurut (Muttaqin & Sari, 2011)adalah :

a. Provoking Incident (P)

Provoking Incident merupakan pengkajian nyeri yang

menekan identifikasi faktor yang menjadi prediposisi nyeri.

Identifikasi nyeri ini juga dilakukan dengan mengkaji hal yang

dapat menimbulkan nyeri, atau peristiwa yang mendorong nyeri

terjadi. Selain itu, Provoking Incident juga mengidentifikasi hal

atau faktor yang dapat mengurangi nyeri.

b. Quality of Pain (Q)

Pengkajian ini dilakukan untuk mengetahui dan menilai

rasa nyeri yang dirasakan subjektif. Identifikasi ini dapat

membantu klien dalam mendeskripsikan nyeri yang dirasakan.

Klien dapat mendeskripsikan nyeri sebagai sensasi remuk

(crushing), berdenyut (throbbing), tajam, atau tumpul, bahkan

nyeri klien seringkali tidak dapat dijelaskan. Seperti apa

rasanya nyeri yang dirasakan atau digambarkan pasien. Apakah

nyeri bersifat tumpul, seperti terbakar, berdenyut, tajam, atau

menusuk.
21

c. Region, Radiation, Relief (R)

Identifikasi Region (Radiation, Relief) ini digunakan untuk

mengidentifikasi letak nyeri, penyebaran nyeri secara tepat, dan

mengkaji adanya radiasi. Identifikasi ini meminta klien untuk

menunjukkan lokasi rasa nyeri yang dirasakan dan menanyakan

kepada klien apakah rasa nyeri yang dirasakan menyebar di

area sekitar atau tidak.

d. Severity (Scale) of Pain (S)

Karakteristik paling subjektif pada nyeri adalah tingkat

keparahan atau intensitas nyeri. Klien sering kali diminta untuk

mendeskripsikan nyeri sebagai nyeri ringan, sedang, atau parah.

Pengkajian ini digunakan untuk mengetahui seberapa jauh rasa

nyeri yang dialami klien. Oleh karena itu, untuk mengkaji dan

mengidentifikasi nyeri klien, maka dapat dilakukan dengan

menggunakan skala nyeri.

1) Seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan pasien,

pengkajian nyeri dengan menggunakan skala nyeri

deskriptif. Misalnya: 0 = tidak ada nyeri, 1-3 = nyeri

ringan, 4-7 = nyeri sedang, 8-10 = nyeri berat.

2) Kemudian perawat membantu pasien memilih secara

subjektif tingkat skala nyeri yang diraskan pasien.


22

e. Time (T)

Identifikasi waktu ini dapat berguna sebagai salah satu bagian

dari identifikasi untuk menilai saat muncul atau timbulnya nyeri.

Kemudian untuk frekuensi nyeri, pengkajian ini berguna untuk

mendeteksi berapa lama nyeri berlangsung, kapan timbulnya nyeri,

dan makin bertambah buruk pada siang ataukah malam hari.

Identifikasi juga dilakukan dengan menanyakan tanda dan gejala

nyeri timbul pada klien dan apakah gejala tersebut terus muncul

terus-menerus atau hilang timbul, serta menanyakan kapan klien

merasa nyaman atau sehat.

2.2.10. Alat ukur nyeri

a. Skala Nyeri Wajah

Skala nyeri wajah Wong-Baker (skala gambar) dibuat

terutama untuk anak yang sudah dapat bicara (berbahasa verbal)

antara usia 3 sampai 7 tahun. Namun skala ini juga dapat

digunakan untuk orang dewasa yang mengalami kesulitan

mengekspresikan diri mereka sendiri atau orang lain yang tidak

dapat berbicara dalam bahasa yang digunakan di fasilitas (Rosdahl

& Kowalski, 2014).

Gambar 2.2 Skala nyeri wajah Wong-Baker


23

b. Skala Analog Visual (VAS)

Skala analog visual (visual Analog Scale VAS) merupakan

suatu garis lurus yang mewakili pendeskripsi verbal pada setiap

ujungnya. Skala ini memberikan kebebasan bagi klien untuk

mengungkapkan nyerinya, sehingga perawat meminta klien untuk

menunjukkan nyerinya saat ini. Pada skala ini ujung kiri biasanya

menandakan “tidak ada” atau “tidak nyeri”, sedangkan ujung

kanan menandakan “berat” atau nyeri paling buruk”. Untuk

menilai hasil, sebuah penggaris diletakkan sepanjang garis dan

jarak yang dibuat pasien pada garis dari “tidak ada nyeri” diukur

dan ditulis dalam centimeter (Potter, 2010). Skala tersebut

berbentuk garis horizontal sepanjang 10 cm (Smeltzer & Bare,

2001).

Gambar 2.3 Skala Nyeri Analog Visual

c. Skala Nyeri Deskriptif

Skala nyeri deskriptif merupakan alat pengukuran tingkat

keparahan nyeri yang objektif . skala ini juga disebut sebagai skala

pendeskripsian verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan garis

yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun

dengan jarak yang sama disepanjang garis. Pendeskripsian ini di mulai

dari :tidak terasa nyeri” hingga “nyeri tidak tertahankan”, perawat


24

menunjukkan klien skala tersebut dan klien diminta untuk menunjukkan

keadaan yang sesuai dengan keadaan nyeri saat ia rasakan. Perawat juga

menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan

seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan (Potter, 2010).

Gambar 2.4 Skala Nyeri Deskriptif

d. Skala Nyeri Numerik

Skala penilaian nyeri numerik ( Numeric Rating Scale, NRS) lebih

digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Skala yang biasa

digunakan berupa angka, dari angka 0-10. Skala paling efektif

digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi

teurapetik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka

direkomendasikan patokan 10 cm (Potter, 2010).

Menurut Potter (2005), intensitas nyeri numeric dibedakan menjadi

empat bagian:

1) 0 : Tidak nyeri

2) 1-3 : Nyeri ringan

Secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.

3) 4-6 : Nyeri sedang


25

Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat

menunjukan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya,

dapat mengukuti perintah dengan baik.

4) 7-9 : Nyeri berat terkontrol

Secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti

perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat

menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikan,

tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan

distraksi.

5) 10 : Nyeri sangat berat. Secara obyektif pasien tidak dapat

berkomunikasi lagi.

Menurut Mc Caffery, (2012) penggunaan NRS direkomendasikan

untuk penilaian skala nyeri post operasi pada pasien berusia diatas 9

tahun. Skala nyeri NRS memiliki beberapa skala didalamnya, yang

pertama adalah skala 0 yang dideskripsikan tidak ada nyeri, skala 1-3

dideskripsikan sebagai nyeri ringan yaitu ada rasa nyeri (mulai terasa

tapi masih bisa ditahan). Skala 4-6 dideskripsikan sebagai nyeri sedang

yaitu ada rasa nyeri, terasa mengganggu dengan usaha cukup kuat untuk

menahannya. Kemudian terdapat skala 7-9 yang dideskripsikan sebagai

nyeri sanga berat yaitu ada nyeri, terasa sangat mengganggu atau tidak

tertahankan, sehingga harus meringis, menjerit atau berteriak.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan skala intensitas nyeri

numerik 0-10, yang dikutip dari (Smeltzer & Bare, 2010). Pasien
26

ditanya pada skala dari nol sampai dengan sepuluh, nol tidak ada nyeri

dan sepuluh nyeri yang paling buruk yang dapat terjadi, skala intensitas

nyeri numerik sangat efektiv digunakan untuk menilai intensitas nyeri

yang dirasakan pasien dan mengkaji efektifitas intervensi yang telah

diberikan untuk meredakan nyeri. Biasanya pasien dapat berespon

dengan baik bila terdapat kesulitan dengan cara menunjukkan langsung

intensitas nyeri yang dirasakan kepada perawat.

2.2.11. Klasifikasi nyeri

Smeltzer et al.(2010) mengklasifikasikan nyeri secara umum

menjadi tiga, yaitu nyeri akut, nyeri kronis, dan nyeri yang terkait

dengan kanker.

a. Nyeri akut

Nyeri akut merupakan nyeri yang berlangsung tidak lebih

dari enam bulan, awitan gejalanya mendadak, dan biasanya

penyebab serta lokasi nyeri sudah diketahui.

b. Nyeri kronis

Nyeri kronis merupakan nyeri yang berlangsung lebih dari

enam bulan, sumber nyerinya bisa diketahui bisa tidak.

c. Nyeri yang berhubungan dengan kanker

Nyeri yang berhubungan dengan kanker dapat bersifat akut

atau kronis. Nyeri pada pasien dengan kanker dapat langsung

berhubungan dengan kanker (misalnya, infiltrasi tulang dengan sel

tumor atau kompresi saraf), hasil dari pengobatan kanker


27

(misalnya, pembedahan atau radiasi). Namun, sebagian besar nyeri

yang terkait dengan kanker adalah akibat langsung dari

keterlibatan tumor.

Nyeri juga dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa

golongan berdasarkan tempat dan berat ringannya nyeri (Asmadi

2008).

1) Nyeri berdasarkan tempatnya

a. Pheriperal pain, yaitu nyeri yang terasa pada permukaan

tubuh misalnya pada kulit, mukosa.

b. Deep pain, yaitu nyeri yang terasa pada permukaan tubuh

yang lebih dalam atau pada organ-organ tubuh viseral.

c. Refered pain, yaitu nyeri dalam yang disebabkan karena

penyakit organ/struktur dalam tubuh yang ditransmisikan

ke bagian tubuh di daerah yang berbeda, bukan daerah

asal nyeri.

d. Central pain, yaitu nyeri yang terjadi karena

perangsangan pada sistem saraf pusat, spinal cord, batang

otak, dan talarnus.

2) Nyeri berdasarkan sifatnya

a. Incidental pain, yaitu nyeri yang timbul sewaktu-waktu

lalu menghilang.

b. Steady pain, yaitu nyeri yang timbul dan menetap serta

dirasakan dalam waktu yang lama.


28

c. Paroxymal pain, yaitu nyeri yang dirasakan berintensitas

tinggi dan kuat sekali. Nyeri tersebut biasanya menetap

kurang lebih 10 sampai dengan 15 menit, lalu

menghilang, kemudian timbul lagi.

2) Nyeri berdasarkan berat ringannya

a. Nyeri ringan, yaitu nyeri dengan intensitas rendah

b. Nyeri sedang, yaitu nyeri dengan intensitas sedang.

c. Nyeri berat, yaltu nyeri dengan intensitas yang tinggi.

2.3. Konsep tehnik relaksasi genggam jari

2.3.1. Definisi

Genggam Jari Dalam Tamsuri (2007) dalam Zees (2012),

relaksasi adalah tindakan relaksasi otot rangka yang dipercaya

dapat menurunkan nyeri dengan merelaksasikan ketegangan otot

yang mendukung rasa nyeri. Menurut Liana (2008) dalam

Pinandita (2011:35), teknik relaksasi genggam jari (finger hold)

merupakan teknik relaksasi dengan jari tangan serta aliran energi

didalam tubuh.

2.3.2. Relaksasi Genggam Jari

Relaksasi genggam jari menghasilkan impuls yang di kirim

melalui serabut saraf aferen non-nosiseptor. Serabut saraf non-

nesiseptor mengakibatkan “gerbang” tertutup sehingga stimulus

pada kortek serebi dihambat atau dikurangi akibat counter

stimulasi relaksasi dan menggenggam jari. Sehingga intensitas


29

nyeri akan berubah atau mengalami modulasi akibat stimulasi

relaksasi genggam jari yang lebih dahulu dan lebih banyak

mencapai otak (Pinandita, 2012). Relaksasi genggam jari dapat

mengendalikan dan mengembalikan emosi yang akan membuat

tubuh menjadi rileks. Adanya stimulais nyeri pada luka bedah

menyebabkan keluarnya mediator nyeri yang akan menstimulasi

transmisiimpuls disepanjang serabut aferen nosiseptor ke

substansi gelatinosa (pintu gerbang) di medula spinalis untuk

selanjutnya melewati thalamus kemudian disampaikan ke kortek

serebi dan di interpretasikan sebagai nyeri. Relaksasi genggaam

jari dilakukan selama 3-5 menit berturut-turut sebanyak 3 kali

(Pinandita, 2012).

Perlakuan relaksasi genggam jari akan menghasilakan

impuls yang dikirim melalui serabut saraf aferen nosiseptor-non

nesiseptor. Serabut saraf non nesiseptor mengakibatkan “pintu

gerbang” tertutup sehingga stimulus nyeri terhambat dan

berkurang. Teori two gate control menyatakan bahwa terdapat

satu pintu “pintu gerbang” lagi di thalamus yang mengatur impuls

nyeri dari nervus trigeminus akan dihambat dan mangakibatkan

tertutupnya “pintu gerbang’ di thalamus mangakibatkan stimulasi

yang menuju korteks serebri terhambat sehingga intensitas nyeri

berkurang untuk kedua kalinya (Pinandita, 2012).


30

2.3.3. Tujuan teknik relaksasi genggam jari

terapi relaksasi genggam jari sebagai pendampng terapi

farmakologi yang bertujuan untuk meningkatkan efek analgesik

sebagai terapi pereda nyeri post operasi. Dilakukan saat nyeri

tidak dirasakan pasien. Terpai relaksasi buka sebagai penggati

obat-obatan tetapi diperlukan untuk mempersingkat episode nyeri

yang berlangsung beberapa menin atau detik.kombinasi teknik ini

dengan obbat-obatan yang dilakukan secara simultan merupakan

cara yang efektif untuk menghilangkan nyeri (smeltzer, 2001)

2.3.4. Mafaat relaksasi gengagam jari

Beberapa manfaat dari relaksasi genggam jari ialah:

a. Memberikan rasa damai, fokus dan nyaman

b. Memperbaiki aspek emosi

c. Menurunkan nyeri