Anda di halaman 1dari 15

F BSoal Kasus

1. Bayi Y laki – laki berumur 112 hari, dengan BBL 2550 gr, BB saat ini 2300 gr dan
PB 50 cm dididagnosa mengalami tetralogy of fallot, hasil pemeriksaan fisik
diketahui bayi mengalami sianosis sentral, respiratory rate 84 x / menit dengan
jenis pernnafasan chryne stroke, heart rate 92x/menit derajat 1+. Pada
auskultasi terdengar murmur di ICS 4 sinistra, intensitas bising derajat 4, thrill
sistolik di bagian atas dan tengah tepi sternum kiri, dengan punctum maksimum
terdengar pada daerah tricuspid. CRT > 2 detik, dan terdapat clubbing fingers.
Volume tiap minim 80 – 200 ml, dengan durasi minum sekitar 30 detik.
Berdasarkan history talking diketahui bahwa usia gestasi normal, bayi tersebut
adalah anak pertama, ibu rutin melakukan ANC, ibu tidak mengkonsumsi alcohol
atayu obat – obatan selain resep dadri dokter, hanya saudara dekart ada yang
mengalami penyakit jantung bawaan.
a. Jelaskan apakah bayi tersebut mengalami kegawatdaruratan
kardiovaskuler neonates?
b. Jelaskan apakah bayi tersebut mengalami gagal jantung?
c. Jelaskan kelainan jantung yang dialami bayi tersebbut sehingga
mengalami sianosis sentral?
d. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien tersebut, jika anda sebagai
perawat yang bertanggung jawab terhadap pasien tersebut, buatlah
Nursing Plannya.
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan RHD dan Hirscprung (bagaimana
patofisiologinya)
3. Bagaimana kondisi Willem’s Tumor anak – anak jelaskan penanganannya.
4. Bagaimana intervensi keperawatan pada pasien post operasi atresia ani. Atresia
ductus hepaticus pada umumnya.
5. Jelaskan prosedur tindakn perwatan kolostomi.
Jawaban

1. Kasus
a. Kegawat darutanan adalah kejadian yang terjadi terjadi dengan tiba-tiba
dimana saja dan kapan saja. Neonatus adalah organism yang berada
pada periode adaptasi kehidupan dari periode selama satu bulan lebih
tepatnya 4 minggu atau28 hari setelah lahir. Jadi kegawatdaruratan
neonatus adalah kejadian yang dapat terjadi secara tiba-tiba pada saat
bayi umur 1 bulan yang mengalami lemas, tidak bernafas karena ada
sumbatan jalan nafas akibat lendir, darah, mekonium atau akibat lidah
yang jatuh posterior, menangis dengan mengeking , suhunya
panas/dingin, tidak mau minum, mulut mencucu, kejang, tersedak, syok
hipopolemik dan kelainan atau kerusakan saluran nafas atau
kardiovaskuler atau susunan syaraf pusat atau kelainan congenital yang
dapat menyebabkan gangguan pernapasan.

Ya, bayi tersebut mengalami gagal jantung.


Gagal jantung merupakan suatu sindrom klinis, yaitu jantung tidak
mampu memompakan darah dalam yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan tubuh, memberikan venous return yang cukup, atau
kombinasi kedua hal tersebut.
Berdasarkan data yang diperoleh bayi tersebut mengalami penurunan
berat badan dari 2550 gram menjadi 2300 gram, adanya suara
tambahan murmur di ICS 4 sinistra, CRT memanjang > 2 detik
menandakan dehidrasi, syok, hipotermia.

b. Kelainana jantung yang dialami bayi sehingga mengalami sianosis sentral


kelainan jantung bawaan bayi tersebut yaitu tetralogy of fallot.
Tetralogy of fallot mempengaruhi struktur jantung, sehingga
menyebabkan darah yang di pompa jantung ke seluruh tubuh tidak
mengandung cukup oksigen sehingga menyebabkan sianosis sentral.
c. Asuhan Keperawatan

ANALISA DATA
DOMAIN / KELAS
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
DAN AKSIS
1  Domain 4 : Aktivitas / DS : Ketidakefektifan
Istirahat. DO : Respirate Pola Napas
 Kelas 4 Respon 84x/m, telihat
Kardiovaskuler / sianosis sentral,
Pulmonal. takipnea,
 Aksis : pernapasan cheyne
1. Pola pernapasan stokes,
2. Individu
3. Ketidakefektifan
4. Paru - Paru
5. Anak
6. Akut
7. Berfokus pada
masalah
2  Domain 2 : Nutrisi Ds: Genetik Penurunan curah
 Kelas 1 Makan Do: heart rate 92x/ ↓ jantung
 Aksis : menit, terdengar VSD
1. Nutrisi murmur di ICS 4 ↓
2. Individu sinistra, intensitas Aliran darah keparu –
3. Ketidakseimbangan bising derajat 4, paru meningkat
4. Pencernaan thrill sistolik ↓
5. Anak dibagian atas dan Darah, CO2 dan O2
6. Intermiten tengajh tepi sternum bercampur
7. Promosi Kesehatan kiri, punctum ma ↓
ksimum terdengar Sesak napas pada saat
pada daera trikuspid makan

Ketidakseimbangan
nutri kurang dari
kebutuhan tubuh
3  Domain 4 : Aktivitas / Do: Genetik Perubahan
Istirahat Ds: CRT >2 detik ↓ perfusi jaringan
 Kelas 4 Respon VSD
kardiovaskuler / ↓
Pulmonal Volume keparu – paru
 Aksis : meningkat
1. Toleransi aktivitas ↓
2. Individu Takipneu, sesak napas
3. Gangguan pada saat aktivitas
4. Ektremitas ↓
5. Anak Intoleransi aktivitas
6. Akut
7. Risiko

4  Domain 4 : Aktivitas Ds : Genetik Ketidakseimban


Istirahat Do: volume tiap ↓ gan nutrisi
 Kelas 4 Respon minum 80-100 ml VSD kurang dari
Kardiovaskuler / dengan durasi sekitar ↓ kebutuhan
Pulmonal 30 detik, BB Volume keparu – paru tubuh.
 Aksis : menurun dari 2550 meningkat
1. Curah jantung gr menjadi 2300 gr, ↓
2. Individu IMT = BB/Tb(m2)2 Perubahan pada Tunika
=
3. Penurunan 2,3/0,025 = 9,2 Mulkularis arteri kecil
4. Jantung paru
5. Anak ↓
6. Akut Penurunan Curah
7. Risiko jantung
 DO: Clubbing Risiko
fingers pertumbuhan
tidak
porposional
 Defisiensi
pengetahuan

PRIORITAS KODE
DIAGNOSA KEPERAWATAN
KE- DIAGNOSA
Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan
1 00032 hiperventilasi

2 00029 Penurunan curah jantung berhubungan dengan


perubahan kontraktilitas
3 Ketidakefektifan jaringan perifer berhubungan
dengan kurang pengetahuan tentang proses penyakit
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
4 00092
tubuh berhubungan dengan factor biologis
Risiko pertumbuhan tidak proporsional berhungan
5
dengan gangguan konginetal
Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan
6
kurang informasi
NURSING CARE PLANING
DIAGNOSA
NO NOC RASIONAL NIC RASIONAL
KEPERAWATAN
1 Ketidakefektifan pola Setelah dilakukan - Pernpasan Manajemn Jalan Nafas: 10. Membantu pasien
napas berhubungan dengan tindakan keperawatan dalam batas 1. Buka jalan nafas dengan teknik untuk
hiperventilasi : selama 2 x 24 jam normal chin lift atau jaw thrust, memaksimalkan
 DO: Respirate diiharapkan - Pernapasan sebagaimana mestinya vetilasi
ketidakefektifan pola pasien tidak 2. Identifikasi kebutuhan 11. Membuka jalan
84x/m napas berkurang dengan sesak actual/potensial pasien untuk nafas
 telihat sianosis kriteria hasil : - Saturasi ksigen memasukkan alat membuka jalan 12. Mengatasi sesak
Status Pernapasan: terpanta nafas pada anak
sentral - Frekuensi pernafasan 3. Gunakan teknik yang 13. Memantau
 takipnea dalam kisaran normal menyenangkan untuk memotivasi kemajuan pasien
30 x/mnt pasien untuk bernafas dalam 14. Memberi
 pernapasan cheyne - Kedalaman inspirasi kepada anak-anak (misal; meniup kenyaman pada
stokes dalam kisaran normal gelembung) pasien
- Saturasi oksigen dalam Monitor Pernafasan: 15. Mengatasi sesak
DS: kisaran normal 4. Monitor kecepatan, irama, yang dirasakan
kedalaman, dan kesulitan 16. Asupan oksigen
bernafas pasien terpantau
5. Posisikan pasien miring 17.
kesamping
6. Berikan bantuan terapi nafas jika
diperlukan (misalnya, nebulizer)
Terapi Oksigen
7. Monitor aliran oksigen
8. Monitor efektivitas terapi
oksigen
9. Monitor kerusakan kulit
terhadap adanya gesekan
petrangkat oksigen
2 Penurunan curah jantung Setelah dilakukan - TTV pasien Perawatan Jantung: 1. Mencegah
tindakan keperawatan terpantau 1. Pastikan tingkat aktivitas pasien terjadinya
berhubungan dengan
selama 2x24 jam - RR terpantau yang tidak membahayakan curah keparahan
afterload diharapkan penurunan ketat jantung atau memprovokasi penyakit
curah jantung bisa - Pasien tidak serangan jantung 2. Agar dengan
Do :
berkurang dengan merasa sesak 2. Instruksikan keluarga tentang segera diatasi
- Ekstremitas atas kriteria hasil : pentingnya untuk segera melapor 3. Memantau
Keefektifan pompa bila terjadi sesuatu yang perkembangan
dan bawah teraba
jantung: mencurigakan pada pasien pasien
dingin - tekanan darah 3. Monitor tanda-tanda vital secara 4. Memantau
sistol dan diastol rutin kondisi klien
- MCV : 92 Fl
dalam kisaran 4. Monitor status pernafasan 5. Memantau
Ds: normal 5. Monitor sesak nafas, takipnea kondisi klien
Tanda-Tanda Vital
- pasien mengeluh
- tingkat
sesak napas pernapasan dalam
kisaran normal
- kedalaman
inspirasi dalam
kisaran normal
3. Ketidakefektifan jaringan Setelah dilakukan -Asupan nutrisi Tes Laboratorium di samping 1. Agar tidak
perifer berhubungan tindakan keperawatan terpenuhi tempat tidur terjadi
dengan kurang selama 2 x 24 jam -Rasio TB&BB 1. Gunakan specimen yang tepat kesalahan
pengetahuan tentang proses diharapkan meningkat pada saat pemeriksaan disisi pada saat
penyakit Do: - IMT : 15,36 ketidakseimbangan tempat tidur dilakukan. pemeriksaan
-Pasien terlihat lemas nutrisi berkurang dengan 2. Gunakan alat pelindung diri ketika laboratorium
kriteria hasil: menangani spesimen. 2. Untuk
Ds:-Ibu pasien mengatakan -Nafsu makan & minum 3. Dokumentasikan hasil mencegah
pasien tidak nafsu pasien meningkat pemeriksaan sesuai dengan protat infeksi
makan -IMT dalam kisaran instansi nosokomial
normal dengan nilai 18 Perawatan gawat darurat : 3. Untuk
4. Pantau tingkat kesadaran mencegah
5. Lakukan tindaka pencegahan terjadinya
6. Instruksikan keluarga untuk tanggung
meminta bantuan jika diperlukan gugat dari
keluarga
4. Mencegah
terjadinya
penurunan
kesadaran
5. Untuk
mengurangi
risiko infeksi
saat
memberikan
perawatan
6. Untuk
memberikan
pertolongan
secara cepat
4. Ketidakseimbangan nutrisi Setelah dilakukan -Pasien tidak Monitor nutrisi 1. Untuk
kurang dari kebutuhan tindakan keperawatan mudah sesak 1. Identifikasi perubahan berat badan mengetahui
tubuh berhubungan dengan selama 2 x 24 jam nafas saat terakhir perkembangan
factor biologis digarapkan intoleransi beraktivitas 2. Monitor kecenderungan turunnya berat badan klien
Do: -TD: 100/60 mmHg aktivitas berkurang -TTV kembali berat badan 2. Untuk
-ND: 120x/mnt dengan kkriteria hasil: pada keadaan 3. Lakukan pengukuran mengetahui
-RR: 34x/mnt -Toleransi terhadap normal antropometrik pada komposisi tindakan yang
Ds: -Ibu pasien aktivitas membaik tubuh akan dilakukan
mengatakan pasien -Tekanan darah normal Monitor Tanda-tanda vital: selanjutnya
tidak bisa beraktivitas -Nadi normal 4. Monitor tekanan darah, nadi, dan 3. Untuk
karena mudah sesak -Respirasi normal status pernafasan dengan tepat mengetahui
-Ibu pasien tidak 5. Identifikasi kemungkinan pertumbuhan dan
mengeluhkan pasien penyebab perubahan tanda-tanda perkembangan
mudah sesak saat vital klien
beraktivitas

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
NO
HARI/JAM TINDAKAN PARAF
DIAGNOSA
1 Jumat 1. Membuka jalan nafas pasien dengan teknik chin lift atau jaw thrust, sebagaimana
28 September 2018 mestinya
Jam 08.00 2. Mengidentifikasi kebutuhan actual/potensial pasien untuk memasukkan alat membuka
jalan nafas
3. Menggunakan teknik yang menyenangkan untuk memotivasi pasien untuk bernafas
dalam kepada anak-anak (misal; meniup gelembung)
4. Memonitor kecepatan, irama, kedalaman, dan kesulitan bernafas pasien
5. Memposisikan pasien miring kesamping
6. Memberikan bantuan terapi nafas jika diperlukan (misalnya, nebulizer)
2 Kamis 1. Memastikan tingkat aktivitas pasien yang tidak membahayakan curah jantung atau
28 September 2018 memprovokasi serangan jantung
Jam 13.00 2. Memberi instruksi pasien tentang pentingnya untuk segera melapor bila merasakan
nyeri dada
3. Memonitor tanda-tanda vital secara rutin
4. Memonitor status pernafasan
5. Memonitor sesak nafas, kelelahan, takipnea dan orthopnea
6. Melakukan terapi relaksai
3 Kamis 1. Menentukan status gizi pasien dan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan
28 September gizi
2018 2. Menentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk memenuhi
persyaratan gizi
3. Menganjurkan keluarga untuk membawa makanan favorit pasien sementara pasien
berada di rumah sakit
4. Memonitor pertumbuhan dan perkembangan
5. Memonitor diet dan asupan kalori
6. Memonitor pola makan
4 Kamis 1. Memonitor kecepatan, irama, kedalaman, dan kesulitan bernafas
28 September 2. Memonitor peningkatan kelelahan, kecemasan, dan kekurangan udara pada pasien
2018 3. Memonitor keluhan sesak nafas pasien, termasuk kegiatan yang meningkatkan atau
memperburuk sesak nafas tersebut
4. Memonitor tekanan darah, nadi, dan status pernafasan dengan tepat
5. Mengidentifikasi kemungkinan penyebab perubahan tanda-tanda vital
EVALUASI
NO
HARI/JAM CATATAN PERKEMBANGAN PARAF
DIAGNOSA
1 Minggu S : - Pasien mengatakan masih sesak
30 September 2018 O : - RR : 32 x/mnt
Jam 09.15 A : Ketidakefektifan pola napas belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
2 Minggu S : - pasien masih sesak
30 September 2018 O : - ekstremitas atas dan bawah dingin
Jam 14.00 - MCV : 91Fl
A : Penurunan curah jantung belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
3 Minggu S : Ibu pasien mengatakan pasien masih belum bisa makan dan minum seperti biasanya
30 September O : IMT: 16,10
2018 A : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan
4 Minggu S : Ibu pasien mengatakan pasien masih belum bisa berjalan seperti biasanya
30 September O : -TD : 110/80 mmHg
2018 -RR: 30x / mnt
-Pasien masih tampak terlihat sesak saat berjalan
A: Intoleransi aktivitas belum teratasi
P: Intervensi dilanjutkan
2. Definisi RHD dan Hirscprung beserta patofisiologinya
a. Rheumatic Heart Disease
 Definisi
Rheumatic fever adalah suatu penyakit inflamasi akut yang diakibatkan oleh
infeksi streptococcus β hemolitik grup a pada tenggoroksn (faringitis) , tetapi
tanpa disertai infeksi lain atau tidak ada infeksi streptococcus di tempat lain
seperti di kulit.
 Patofisiologi

b. Hirscprung
 Definisi
Hirscprung merupakan masalah saluran cerna yang dapat dialami anak
semenjak lahir sampai masa kanak – kanak. Gejala yang timbul dapat mulai
diketahui semenjak lahir, dengan aadanya keterlambatan pengeluaran
meconium. Hirscprung (megakolon atau aganglionik konginetal) adalah anomaly
kongenital yang mengakibatkan obstruksi mekanik karena ketidakadekuatan
motilitas sebagian usus (Wong, 1996).
Penyakit Hirscprung merupakan ketiadaan (atau, jika ada, kecil) saraf ganglion
parasimfatik pada fleksus meinterikus kolon distal (Sacharin,1986).
 Patofisiologi
3. Kondisi Willem’s Tumor pada anak – anak dan penanganan nya
Tumor Willem’s atau Nefroblastoma adalah kanker pada ginjal yang menyerang anak – anak
merupakan jenis kanker ginjal tersering pada usia tahun dan jarang terjadi diatas usia 8 tahun.
Tumor Willem’s biasanya menyerang hanya satu ginjal (unilateral) , hanya 5 % kasus menyerang
kedua ginjal (bilateral).
Etiologi
Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tetapi diduga melibatkan factor genetic. Tumor
Willem’s berhubungan dengan kelainan bawaan tertentu seperti : kelainan saluran kemih,
aniridia (tidak memiliki iris mata), hemihipetropi (pembesaran separuh bagian tubuh).
Tanda dan gejala : perut membesar, nyeri perut, demam, malaise, nafsu makan berkurang,
mual dan muntah, sembelit, hemihipertropi.
Penatalaksanaan :
Pembedahan, nefrektomi radikal dilakukan bila tumor belum melewati garis tengah dan belum
menginfiltrasi jaringan lain. Pengeluaran kelenjar limfe retroperitoneal total tidak perlu
dilakukakn tetapi biopsy kelenjar di daerah hilus dan paraaorta sebaiknya dilakukan. Pada
pembedahan perlu diperhatikan ginjal kontralateral karena kemungkinan lesi bilateral cukup
tinggi. Apabila ditemukan penjalaran tumor ke vena kava, tumor tersebut harus diangkat.
Radioteerapi, hanya diberikan pada penderita dengan tumor yang termasuk golongan patologi
prognosis buruk atau stadium 3 dan 4 . jika ada sisa tumor pascabedah juga diberikan
radioterapi.
Kemoterapi, tumor Willem’s termasuk tumor yang paling peka terhadap obat kemoterapi.
Prinsip dasar kemoterapi adalah suatu cara penggunaan obat sitostatika yang berhasial
sitotoksik tinggi terhadap sel ganas dan mempunyai efek samping yang rendah terhadap sel
yang normal.
4. Intervensi keperawatan pada pasien post operasi atresia ani, atresia ductus hepaticus pada
umumnya.
5. Prosedur tindakan perawatan kolostomi.
a. Definisi
Kompetisi ini menggambarkan kemampuan untuk merawat dan memasang kantung
penampung pada stoma, baik kolostomi maupun ileostomy.
b. Tujuan
1) Menampung pengeluaran feses dari stoma
2) Melindungi kulit terhadap hasil pengeluaran dari stoma
3) Mencegah terjadi infeksi
4) Mempertahankan posisi dan fiksasi kantong kolostomi
5) Menjaga kebutuhan eleminasi pasien
6) Memberikan rasa nyaman pada pasien
c. Prosedur Tindakan
1) Persiapan
a) Persiapan Alat:
1) Sarung tangan
2) Handuk mandi dan selimut mandi
3) Sabun mandi yang lembut
4) Waslap
5) Kantong kolostomi bersih dengan ukuran sesuai ukuran stoma
6) Baskom berisi air hangat
7) Kasa/tissue
8) Vaseline atau salep kulit
9) Gunting
10) Bengkok
11) Tempat sampah medis atau kantong plastic
12) Apron dan masker
b) Persiapan pasien :
1) Informed Consest
2) Atur posisi pasien
3) Jaga privasi pasien

2) Langkah – langkah :
- Cuci tangan
- Pakaikan selimut mandi atau handuk mandi pada pasien
- Dekatkan bengkok ke pasien
- Pakai sarung tangan
- Buka kantong stoma dengan perlahan
- Bersihkan stoma dengan waslap menggunakan sabun lembut dan air hangat
- Lindungi stoma dengan kasa agar feses tidak mengotori kulit yang sudah di
bersihkan
- Keringkan kulit di sekitar stoma dengan tisu
- Pasang kantong stoma baru
- Oleskan vaselin atau salep disekitar stoma
- Bersihkan alat
- Lepas sarung tangan dan cuci tangan
- Evaluasi kondisi pasien
- Dokumentasikan

Istianah. (2015). Keperawatan Sistem Pencernaan. Bandung.

Sodikin. (2002). Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.

Udjianti, W. J. (2011). Keperawatan Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba Medika.