Anda di halaman 1dari 185

GUSTI NOVIAR KUSUMA, ST, CCmS

Blog:
www.gustinoviarkusuma.wordpress.co.id
HP/WA: 082153209485
Nama Lengkap: GUSTI NOVIAR KUSUMA, S.T.CCmS (Certified Contract
Management Specialist)
Tempat/Tgl Lahir: BANJARMASIN, 15 NOVEMBER 1986
Pekerjaan: PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS)

RIWAYAT PEKERJAAN:
-Konsultan Perencana PT. ADI WIDYAJASATahun 2009
-PNS Dinas PU Bidang Cipta Karya dan Tata Ruang Tahun 2010 s/d 2013

-Pokja Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa (ULP Kab. Tanah Laut) Tahun 2013
s/d 2017
-Kepala Seksi Bina Jasa Konstruksi Dinas PUPRP Tahun 2017 s/d s.D 2019
- Kepala Seksi Tata Bangunan Dinas PUPRP Tahun 2019 s/d sekarang
-Pelaksana Tugas Kepala Bidang CIPTA KARYA DAN JASA KONSTRUKSI

-- Pejabat Pembuat Komitmen Dinas PUPRP Tahun 2017 s/d sekarang


-- Pejabat Pembuat Komitmen Dinas Kesehatan Tahun 2018

Sertifikat dan Pelatihan PBJ


-Sertifikat Ahli Pengadaan Barang/Jasa (L4) – 2010
-Sertifikat Diklat Pembentukan Jabatan Fungsional Pengelola
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Tahun 2015
-Sertifikat Pemberi Keterangan Ahli PBJ (LKPP) – 2016
--Sertifikat Trainee Of Trainer PBJ (LKPP)- 2017
E-mail: -Sertifikat Jabatan Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/Jasa
gustinoviarkusuma@gmail.com Pemerintah Tk Pertama dan Muda- 2016
-Tim Probity Advice LKPP
-- Workshop Ahli Kontrak Level 5 – 2018
Blog: -- Ahli Kontrak LKPP 2018
www.gustinoviarkusuma.wordpress.co.id -Hobi : ngopi, makan dan olahraga
-Fb: gustinoviarkusuma

2
HP/WA: 082153209485
Nama Lengkap: GUSTI NOVIAR KUSUMA, S.T.CCmS (Certified Contract
Management Specialist)
Tempat/Tgl Lahir: BANJARMASIN, 15 NOVEMBER 1986
Pekerjaan: PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS)

RIWAYAT PEKERJAAN:
-Konsultan Perencana PT. ADI WIDYAJASA Tahun 2009

-PNS Dinas PU Bidang Cipta Karya dan Tata Ruang Tahun 2010 s/d 2013

-Pokja Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa (ULP Kab. Tanah Laut) Tahun 2013 s/d 2017
-Kepala Seksi Bina Jasa Konstruksi Dinas PUPRP Tahun 2017 s/d sekarang
- Pelaksana Tugas Seksi Tata Bangunan Dinas PUPRP Tahun 2017 s/d sekarang

-- Pejabat Pembuat Komitmen Dinas PUPRP Tahun 2017 s/d sekarang


-- Pejabat Pembuat Komitmen Dinas Kesehatan Tahun 2018

Sertifikat dan Pelatihan PBJ


-Sertifikat Ahli Pengadaan Barang/Jasa (L4) – 2010
-Sertifikat Diklat Pembentukan Jabatan Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah Tahun 2015

-Sertifikat Pemberi Keterangan Ahli PBJ


(LKPP) – 2016
--Sertifikat Trainee Of Trainer PBJ (LKPP)-
2017
E-mail: -Sertifikat Jabatan Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Tk Pertama
dan Muda- 2016
gustinoviarkusuma@gmail.com -Tim Probity Advice LKPP
-- Workshop Ahli Kontrak Level 5 – 2018
-- Ahli Kontrak LKPP 2018
Blog: -Hobi : ngopi, makan dan olahraga
-Fb: gustinoviarkusuma
www.gustinoviarkusuma.wordpress.co.id
8
HP/WA: 082153209485
PENTING MENJADI PERHATIAN!!!!

UU 30/1999
Perpres 16/2018
1. Pasal 17 Perpres 16/2018 menyatakan bahwa penyedia harus memenuhi kualifikasi
sesuai peraturan perundang-undangan;

2. Pasal 91 Perpres 16/2018 menyatakan bahwa ketentuan lebih lanjut tentang proses
pemilihan, persyaratan kualifikasi, dll diatur melalui perlem LKPP;

3. Pasal 70 Perpres 16/2018 menyatakan bahwa yg memiliki kewenangan mengembangkan


e-marketplace yang didalamnya ada pemilihan penyedia adalah LKPP;

4. Perlem LKPP 9/2018 menyatakan bahwa Persyaratan kualifikasi dan pemilihan penyedia
jasa konsultansi konstruksi dan pekerjaan konstruksi diatur oleh Menteri PUPR;

5. Pasal 93 Perpres 16/2018 menyatakan bahwa peraturan pelaksanaan dari Perpres


54/2010 dan perubahannya masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan
DAN/ATAU belum diganti berdasarkan perpres 16/2018;

6. SE PUPR 14/2018 hanya mengatur SDP Jasa Konsultansi Konstruksi dan Pekerjaan
Konstruksi dalam lingkup Kementerian PUPR saja;

7. Permen PUPR 31/2015 tentang standar dan pedoman pekerjaan konstruksi dan jasa
konsultansi konstruksi hingga saat ini dicabut dan tidak berlaku.
Pasal 86
(1) Menteri/ kepala lembaga dapat menindaklanjuti
pelaksanaan Peraturan Presiden ini untuk pengadaan
yang dibiayai APBN dengan peraturan
menteri/peraturan kepala lembaga.

(2) Kepala Daerah dapat menindaklanjuti pelaksanaan


Peraturan Presiden ini untuk pengadaan yang dibiayai
APBD dengan peraturan daerah/peraturan kepala
daerah.
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN
PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR
07/PRT/M/2019 TENTANG STANDAR DAN PEDOMAN
PENGADAAN JASA KONSTRUKSI MELALUI PENYEDIA
 Pasal 3
(1) Peraturan Menteri ini diperuntukkan bagi
pelaksanaan Pemilihan Penyedia Jasa
Konstruksi melalui Tender/Seleksi di lingkungan
kementerian/lembaga yang pembiayaannya
dari anggaran pendapatan dan belanja negara.
(2) Termasuk dalam Pelaksanaan Pemilihan Penyedia Jasa
Konstruksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1):
a. pengadaan Jasa Konstruksi melalui Penyedia yang sebagian
atau seluruh dananya bersumber dari pinjaman dalam negeri
atau hibah dalam negeri yang diterima oleh pemerintah
dan/atau pemerintah daerah; dan/atau
b. pengadaan Jasa Konstruksi melalui Penyedia yang sebagian
atau seluruhnya dibiayai dari pinjaman luar negeri atau hibah
luar negeri, kecuali diatur lain dalam perjanjian pinjaman luar
negeri atau perjanjian hibah luar negeri.
 (4) Peraturan Menteri ini menjadi acuan bagi
PEMERINTAH DAERAH dalam menyusun
dokumen pengadaan Jasa Konstruksi melalui
Penyedia.
GUSTI NOVIAR KUSUMA, ST, CCmS

Blog:
www.gustinoviarkusuma.wordpress.co.id
HP/WA: 082153209485
APA YANG MEMBEDAKAN
ANTARA 3 ATURAN Tsb???
1. Kapan dimulai Perencanaan PBJ?
Perencanaan disusun n -1
2. Khusus Pekerjaan Konstruksi, DED juga
sudah harus tersedia n -1
3. Mengacu kepada Pendekatan Konstruksi
Berkelanjutan
4. Perencanaan Pengadaan dimulai dari
identifikasi kebutuhan barang/jasa berdasarkan
Rencana Kerja KL/PD
N-1

N-1

Pasal 12 ayat 2
dan 3
K/L

PD
Identifikasi kebutuhan barang/jasa dilakukan dengan
memperhatikan:
a. prinsip efisien dan efektif dalam Pengadaan
Barang/Jasa;
b. aspek pengadaan berkelanjutan;
c. penilaian prioritas kebutuhan;
d. barang/jasa pada katalog elektronik;
e. konsolidasi Pengadaan Barang/Jasa; dan/atau
f. barang/jasa yang telah tersedia/dimiliki/dikuasai.

Pasal 7 ayat 4
Perlem 7/2018
Identifikasi kebutuhan barang/jasa yang diperlukan
K/L/PD bertujuan untuk menunjang tugas dan fungsi
organisasi, maka jumlah kebutuhan barang/jasa dapat
ditetapkan dengan mempertimbangkan:
a. besaran organisasi/jumlah pegawai dalam satu
organisasi;
b. beban tugas serta tanggung jawabnya; dan/atau
c. barang/jasa yang telah tersedia/dimiliki/dikuasai.

Pasal 7 ayat 5
Perlem 7/2018
dapat menggunakan:
a. data base Barang Milik Negara/Daerah
(BMN/BMD); dan/atau
b. riwayat rencana kebutuhan barang/jasa dari
masing-masing unit/satuan kerja
Kementerian/ Lembaga/Perangkat Daerah.

Pasal 7 ayat 6
Perlem 7/2018
dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal, terdiri atas:
1. menentukan Pekerjaan Konstruksi berdasarkan jenis,
fungsi/kegunaan, target/sasaran yang akan dicapai;
2. penentuan TINGKAT KOMPLEKSITAS Pekerjaan
Konstruksi;
3. pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi dapat dilaksanakan oleh
Usaha Kecil;
4. waktu penyelesaian Pekerjaan Konstruksi, sehingga dapat
segera dimanfaatkan sesuai dengan rencana;
5. penggunaan barang/material berasal dari dalam negeri atau
luar negeri;
6. persentase bagian/komponen dalam negeri terhadap
keseluruhan pekerjaan;
Pasal 14Permen
PUPR 7/2019
7. studi kelayakan Pekerjaan Konstruksi dilaksanakan sebelum
pelaksanaan desain;

8. dokumen DETAILED ENGINEERING DESIGN tersedia paling


lambat 1 (satu) tahun anggaran sebelum persiapan pengadaan
melalui Penyedia;

9. Pekerjaan Konstruksi menggunakan Kontrak tahun tunggal


atau Kontrak tahun jamak;
10. untuk Pekerjaan Konstruksi yang memerlukan pembebasan lahan, surat
penunjukan Penyedia barang/jasa (SPPBJ) dapat diterbitkan dalam hal:

a. administrasi untuk pembayaran ganti rugi, termasuk untuk


pemindahan hak atas tanah telah diselesaikan;

b. administrasi untuk pembayaran ganti rugi sebagian lahan telah


diselesaikan, untuk pembebasan lahan yang dilakukan secara
bertahap; dan/atau

c. administrasi perizinan pemanfaatan tanah telah diselesaikan.


PADA PERENCANAAN PENGADAAN?
Penyusunan identifikasi kebutuhan jasa Konsultansi Konstruksi
harus memperhatikan hal sebagai berikut:
a. jenis jasa konsultansi yang dibutuhkan;
b. tingkat kompleksitas pekerjaan jasa konsultansi;
c. fungsi dan manfaat dari pengadaan jasa konsultansi;
d. target yang ditetapkan;
e. pihak yang akan menggunakan jasa konsultansi tersebut;
f. waktu pelaksanaan pekerjaan;
g. ketersediaan Pelaku Usaha yang sesuai; dan
h. jenis Kontrak tahun tunggal atau tahun jamak.
Dalam hal jasa konsultansi jasa pengawasan pelaksanaan Pekerjaan
Konstruksi maka yang perlu diketahui:
a. waktu Pekerjaan Konstruksi tersebut dimulai;
b. waktu penyelesaian Pekerjaan Konstruksi; dan
c. jumlah tenaga ahli pengawasan sesuai bidang keahlian masing-masing
yang diperlukan. Pasal 15
Permen 7/2019
 Pasal 16
Penetapan jenis Jasa Konstruksi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf b
berupa:

a. jasa Konsultansi Konstruksi; atau

b. Pekerjaan Konstruksi.
1. Rencana Jadwal Persiapan Pengadaan
a. Jadwal persiapan pengadaan Jasa
Konstruksi yang dilakukan PPK
b. Jadwal persiapan pemilihan yang dilakukan
oleh Pokja Pemilihan
2. Rencana Jadwal Pelaksanaan Pengadaan
a. Jadwal pelaksanaan pemilihan Penyedia
b. Jadwal pelaksanaan kontrak
c. Jadwal serah terima hasil pekerjaan
Anggaran pengadaan Jasa Konstruksi terdiri atas:
a. biaya Jasa Konstruksi yang dibutuhkan; dan
b. biaya pendukung.

Biaya Jasa Konstruksi meliputi biaya yang termasuk pada komponen yang
terdapat dalam spesifikasi teknis/KAK.

Biaya pendukung sebagaimana dimaksud meliputi:


a. biaya pelatihan;
b. biaya instalasi dan testing;
c. biaya administrasi; dan/atau
d. biaya lainnya.
Bangunan Gedung Negara dengan klasifikasi
sederhana merupakan bangunan gedung dengan
teknologi dan spesifikasi sederhana meliputi :
a. bangunan gedung kantor dan bangunan gedung
negara lainnya dengan jumlah lantai sampai dengan 2
(dua) lantai;
b. bangunan gedung kantor dan bangunan gedung
negara lainnya dengan luas sampai dengan 500 m2
(lima ratus meter persegi); dan
c. Rumah Negara meliputi Rumah Negara Tipe C, Tipe
D, dan Tipe E.
Bangunan Gedung Negara dengan klasifikasi tidak
sederhana merupakan bangunan gedung dengan
teknologi dan spesifikasi tidak sederhana meliputi:
a. bangunan gedung kantor dan bangunan gedung
negara lainnya dengan jumlah lantai lebih dari 2 (dua)
lantai;
b. bangunan gedung kantor dan bangunan gedung
negara lainnya dengan luas lebih dari 500 m2 (lima
ratus meter persegi); dan
c. Rumah Negara meliputi Rumah Negara Tipe A dan
Tipe B.
Bangunan Gedung Negara klasifikasi khusus merupakan:
a. Bangunan Gedung Negara yang memiliki persyaratan
khusus, serta dalam perencanaan dan pelaksanaannya
memerlukan penyelesaian atau teknologi khusus;

b. Bangunan Gedung Negara yang mempunyai tingkat


kerahasiaan tinggi untuk kepentingan nasional;

c. Bangunan Gedung Negara yang penyelenggaraannya dapat


membahayakan masyarakat disekitarnya; dan/atau

d. Bangunan Gedung Negara yang mempunyai resiko bahaya


tinggi.
Bangunan Gedung Negara klasifikasi khusus merupakan:
a. Bangunan Gedung Negara yang memiliki persyaratan
khusus, serta dalam perencanaan dan pelaksanaannya
memerlukan penyelesaian atau teknologi khusus;

b. Bangunan Gedung Negara yang mempunyai tingkat


kerahasiaan tinggi untuk kepentingan nasional;

c. Bangunan Gedung Negara yang penyelenggaraannya dapat


membahayakan masyarakat disekitarnya; dan/atau

d. Bangunan Gedung Negara yang mempunyai resiko bahaya


tinggi.
Bangunan Gedung Negara klasifikasi bangunan
khusus meliputi:
a. istana negara;
b. rumah mantan jabatan presiden dan/atau mantan wakil presiden;
c. rumah jabatan menteri;
d. wisma negara;
e. gedung instalasi nuklir;
f. gedung yang menggunakan radio aktif;
g. gedung instalasi pertahanan;
h. bangunan Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan penggunaan dan
persyaratan khusus;
i. gedung terminal udara, laut, dan darat;
j. stasiun kereta api;
k. stadion atau gedung olah raga;
l. rumah tahanan dengan tingkat keamanan tinggi (maximum security);
m. pusat data;
n. gudang benda berbahaya;
o. gedung bersifat monumental;
p. gedung cagar budaya; dan
q. gedung perwakilan negara Republik
Indonesia.

Bangunan Gedung Negara klasifikasi bangunan


khusus selain sebagaimana dimaksud pada
ayat (5) ditetapkan oleh Menteri.
 Khusus untuk Tenaga Ahli Jasa Konsultansi Konstruksi,
WAJIB mempedomani Permen PUPR Nomor 19 Tahun
2017 tentang Standar Remunerasi Minimal Tenaga Kerja
Konstruksi pada Jenjang JabatanAhli untuk Layanan Jasa
Konsultansi Konstruksi dan

 Kepmen PUPR Nomor 897 Tahun 2017 tentang Besaran


Remunerasi Minimal Tenaga Kerja Konstruksi pada
Jenjang Jabatan Ahli untuk Layanan Jasa Konsultansi
Konstruksi

 berdasarkan Pasal 43 ayat (2) dan ayat (3) UU Nomor 2


Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi
Spesifikasi teknis sebagaimana dimaksud
pengadaan Pekerjaan Konstruksi meliputi:
a. spesifikasi bahan bangunan konstruksi;
b. spesifikasi peralatan konstruksi dan
peralatan bangunan;
c. spesifikasi proses/kegiatan;
d. spesifikasi metode konstruksi/metode
pelaksanaan/metode kerja; dan
e. spesifikasi jabatan kerja konstruksi.
Hubungan Metode Pelaksanaan
Pekerjaan pada tahap evaluasi teknis
penawaran dengan Metode kerja saat
Penyusunan Spesifikasi pada tahap
Perencanaan pengadaan
 peserta tender harus berhati2 mengubah metode
pelaksanaan
 sekali mengubah metode pelaksanaan, maka harus
bertanggung jawab sampai ke personil dan
peralatan
 Pada prinsipnya penyedia hanya menawarkan
berdasarkan metode yang telah ditetapkan oleh
PPK
 Oleh sebab itu, PPK wajib mengupload metode sebagai
bagian dari spek teknis
 Karena yang memiliki keahlian dan punya waktu
merencanakan itu adalah konsultan perencana yg
merupakan tenaga ahli dari PPK
 Ini merupakan perwujudan dari Pasal 11 Perpres 16/2018
yang menyatakan bahwa yg menyusun perencanaan
pengadaan adalah PPK dan dapat dibantu oleh Tim/Tenaga
Ahli
 Namun, kita juga tidak bisa menutup kemungkinan bahwa
konsultan perencana memiliki kekurangan
 Kekurangan ini termasuk yang tercantum dalam metode yg
merupakan hasil dari konsultan perencana yg ditetapkan
oleh PPK dan menjadi bagian dokumen teknis
 Walaupun ada aanwijzing yang menjadi sarana untuk
memberikan masukan, tetapi bisa saja tidak efektif dan
peserta tender memiliki kemampuan yang lebih baik dari
konsultan perencana
 Makanya dibuka peluang peserta tender pekerjaan
konsuktruksi memasukkan metode pekerjaan
 Namun pemasukan metode ini juga harus
dipertanggungjawabkan secara teknis,
khususnya kesesuaian dengan personil dan
peralatan
 Sehingga apabila peserta memasukkan
metode, maka pokja wajib membandingkan
dengan metode yg diunggah oleh PPK
sebagai bagian dari spek teknis
 Apabila berbeda, maka tidak langsung gugur
namun dievaluasi oleh pokja
 Penyusun Permen PUPR juga paham bahwa
pokja tidak selama mengerti, maka
ditekankan harus dinilai secara professional
 Dan yang dimaksud dengan profesional itu
adalah pokja harus ahli atau dibantu oleh
tim/tenaga ahli
 sehingga pada saat melakukan evaluasi,
pokja harus tetap berdasarkan asas
profesionalisme
a. mencantumkan ruang lingkup Pekerjaan Konstruksi yang dibutuhkan;
b. DAPAT MENYEBUTKAN MEREK DAN TIPE SERTA SEDAPAT
MUNGKIN MENGGUNAKAN PRODUKSI DALAM NEGERI;
c. semaksimal mungkin diupayakan menggunakan standar nasional
Indonesia;
d. metode pelaksanaan harus logis, realistis, aman, berkeselamatan, dan
dapat dilaksanakan;
e. jangka waktu pelaksanaan harus sesuai dengan metode pelaksanaan;
f. mencantumkan macam, jenis, kapasitas, dan jumlah peralatan utama
minimal yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan;
g. mencantumkan syarat bahan yang dipergunakan dalam pelaksanaan
pekerjaan;
h. mencantumkan syarat pengujian bahan dan hasil produk;
i. mencantumkan kriteria kinerja produk (output performance) yang
diinginkan; dan
j. mencantumkan tata cara pengukuran dan tata cara pembayaran.
Hubungan Penyusunan Spesifikasi
terkait spesifikasi bahan bangunan
konstruksi pada tahap Perencanaan
pengadaan
DENGAN Permen PU 22 Tahun 2018
tentang
Pembangunan Bangunan Gedung
Negara
KAK untuk pengadaan jasa Konsultansi Konstruksi meliputi:
a. uraian pekerjaan yang akan dilaksanakan;
b. waktu dan tahapan pelaksanaan yang diperlukan
untuk menyelesaikan pekerjaan dengan
memperhatikan batas akhir efektif tahun anggaran;
c. kompetensi dan jumlah kebutuhan tenaga ahli;
d. kemampuan badan usaha Penyedia jasa
Konsultansi Konstruksi; dan
e.sumber pendanaan dan besarnya total perkiraan
biaya pekerjaan.
a. keluaran atau hasil yang mengacu pada kinerja dan
kebutuhan kementerian/lembaga;

b. ketersediaan rantai pasok sumber daya konstruksi;

c. kemampuan Pelaku Usaha dalam memenuhi spesifikasi


teknis/KAK yang dibutuhkan kementerian/lembaga; dan/atau

d. ketersediaan anggaran pada kementerian/lembaga.


Yang dimaksud dengan "rantai pasok Jasa
Konstruksi"
adalah alur kegiatan produksi dan distribusi material,
peralatan, dan teknologi yang digunakan dalam
pelaksanaan Jasa Konstruksi.

Yang dimaksud dengan "masyarakat Jasa


Konstruksi"
adalah bagian dari masyarakat yang mempunyai kepentingan
dan/atau kegiatan yang berhubungan dengan Jasa Konstruksi
antara lain: asosiasi perusahaan,asosiasi profesi, pengguna
jasa, pergururan tinggi, pakar,pelaku rantai pasok, dan
pemerhati konstruksi.
Kegiatan usaha Jasa Konstruksi didukung
dengan usaha rantai pasok sumber daya
konstruksi.

Usaha rantai pasok sumber daya konstruksi antara lain :


1.usaha pemasok bahan bangunan,
2.usaha pemasok peralatan konstruksi,
3.usaha pemasok teknologi konstruksi, dan
4.usaha pemasok sumber daya manusia.
dilarang:
a. menyatukan atau memusatkan beberapa paket pengadaan
yang tersebar di beberapa lokasi/daerah yang memiliki sifat
pekerjaan sama dan tingkat efisiensi baik dari sisi waktu
dan/atau biaya seharusnya dilakukan di beberapa lokasi/daerah
masing-masing
sesuai dengan hasil kajian/telaah;
b. menyatukan beberapa paket pengadaan yang menurut sifat
dan jenis pekerjaannya harus dipisahkan untuk mendapatkan
Penyedia yang sesuai;
c. menyatukan beberapa paket pengadaan yang besaran
nilainya seharusnya dilakukan oleh usaha kecil; dan/atau
d. memecah paket pengadaan menjadi beberapa paket dengan
maksud menghindari Tender/Seleksi.
Pemaketan dilakukan dengan menetapkan
sebanyak-banyaknya paket untuk usaha kecil
dengan tetap memperhatikan:
prinsip efisiensi,persaingan sehat, kesatuan
sistem, dan kualitas kemampuan teknis.
 Tugas dalam Penyusunan Pemaketan Pekerjaan merupakan Tugas dari
Pejabat Pembuat Komitmen
 Hal ini sesuai pasal 11 Perpres No 16 Tahun 2018 yang menyebutkan salah
satu Tugas PPK dalam Pengadaan Barang/Jasa sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8 huruf c memiliki tugas:
a) menyusun perencanaan pengadaan sekali mengubah metode
pelaksanaan, maka harus bertanggung jawab sampai ke personil
dan peralatan
 Dan juga ketentuan didalam Perlem No 9 Tahun 2018 yang menyebutkan
bahwa:
Perencanaan pengadaan disusun oleh PPK dan ditetapkan oleh
PA/KPA
Identifikasi sejak awal pada n-1 berdasarkan kebutuhan pada dokumen
Rencana Kerja K/L/PD dengan ketentuan2 sebagai berikut:
a. Tetapkan Tingkat Kompleksitas pekerjaan Konstruksi saat penyusunan
Identifikasi Kebutuhan Konstruksi
b. Tetapkan kebutuhan Peralatan Konstruksi dan Peralatan Bangunan
sehingga menjadi Peralatan pada saat penyusunan spesifikasi teknis
c. Tetapkan Tingkat Kesulitan Pekerjaan pada saat penyusunan metode
konstruksi/metode pelaksanaan/metode kerja dalam menyusun spesifikasi
teknis
d. Tetapkan spesifikasi jabatan kerja konstruksi yang diperlukan sehingga
menjadi kebutuhan personil manajerial dan/atau personil inti dikaitkan
dengan Tingkat Kesulitan Pekerjaan pada saat menyusun spesifikasi tenis
e. Tetapkan tingkat risiko (sedang s.d tinggi) dan Tetapkan Keperluan akan
teknologi tinggi dan keperluan menggunakan peralatan yang didesain
khusus atau tidak khusus terkait cara memenuhi kebutuhan dan tujuan
Pengadaan
 Karena yang memiliki keahlian dalam melakukan kajian/telaahan adalah
konsultan perencana/perancang
 Gunakan hasil kajian/telaahan dari konsultan perencana/perancang
sebagai dasar PPK dalam menyusun dokumen perencanaan pengadaan
terkait pemaketan pekerjaan.
 Ini merupakan perwujudan dari Pasal 11 Perpres 16/2018 dan Perlem 9
tahun 2018 yang menyatakan bahwa yg menyusun perencanaan
pengadaan adalah PPK dan dapat dibantu oleh Tim/Tenaga Ahli serta
ditetapkan oleh PA/KPA
 Lakukan reviu spesifikasi teknis/KAK pada saat tahap persiapan
pengadaan untuk memastikan bahwa spesifikasi/KAK pada saat
penyusunan anggaran belanja atau perencanaan Pengadaan Barang/Jasa
masih sesuai dengan kebutuhan barang/jasa dan ketersedian anggaran
belanja sesuai hasil persetujuan.
kewenangan masing-masing pihak dalam perencanaan pengadaan, yaitu:
a. PA, dapat mengonsolidasikan paket antar-KPA dan/atau antar-PPK;
b. KPA, dapat mengonsolidasikan paket antar-PPK; dan
c. PPK, dapat mengonsolidasikan paket di area kerjanya masing-masing.

Konsolidasi Pengadaan sebagaimana dimaksud dapat dilakukan sebelum


atau sesudah pengumuman RUP.

Konsolidasi Pengadaan dilakukan pada kegiatan pemaketan pengadaan


Jasa Konstruksi atau perubahan RUP.

Konsolidasi Pengadaan dilakukan dengan memperhatikan kebijakan


pemaketan.
Detailed engineering design sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3) digunakan
sebagai acuan dalam penyusunan spesifikasi
teknis dan rencana anggaran biaya.

Detailed engineering design sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) harus tersedia paling
lambat 1 (satu) tahun anggaran sebelum
persiapan pengadaan melalui Penyedia.
Pasal 12 ayat 2
dan 3
a. Pekerjaan Konstruksi yang bersifat
standar, risiko kecil, tidak memerlukan
Detailed engineering waktu yang lama untuk menyelesaikan
pekerjaan, dan tidak memerlukan
design sebagaimana penelitian yang mendalam melalui
dimaksud pada ayat (1) laboratorium yang diindikasikan akan
membutuhkan waktu lama; dan/atau
harus tersedia paling
lambat 1 (satu) tahun b. Pekerjaan Konstruksi yang bersifat
mendesak dan biaya untuk
anggaran sebelum melaksanakan detailed engineering
persiapan pengadaan design konstruksi sudah dialokasikan
dengan cukup.
melalui Penyedia
dikecualikan untuk:
terdiri atas: g. mitigasi risiko keselamatan,
a. kesamaan tujuan, pemahaman, dan kesehatan, perubahan iklim, dan
rencana tindak; bencana;
b. pengurangan penggunaan sumber h. orientasi kepada siklus hidup;
daya (reduce), berupa lahan, material,
i. orientasi kepada pencapaian
air, sumber daya alam, dan sumber
mutu yang diinginkan;
daya manusia;
c. pengurangan timbulan limbah, baik j. inovasi teknologi untuk perbaikan
fisik maupun nonfisik; yang berlanjut; dan
d. penggunaan kembali sumber daya k. dukungan kelembagaan,
yang telah digunakan sebelumnya kepemimpinan, dan manajemen
(reuse); dalam implementasi.
e. penggunaan sumber daya hasil siklus
ulang (recycle);
f. perlindungan dan pengelolaan
terhadap lingkungan hidup melalui
upaya pelestarian;
 Pengadaan Berkelanjutan adalah Pengadaan Barang/Jasa
yang bertujuan untuk mencapai nilai manfaat yang
menguntungkan secara ekonomis tidak hanya untuk
Kementerian/ Lembaga/ Perangkat Daerah sebagai
penggunanya tetapi juga untuk masyarakat, serta signifikan
mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dalam
keseluruhan siklus penggunaannya.
Pengadaan Barang/Jasa dilaksanakan dengan memperhatikan aspek berkelanjutan,
terdiri atas:
a. aspek ekonomi meliputi biaya produksi barang/jasa sepanjang usia barang/jasa
tersebut;
b. aspek sosial meliputi pemberdayaan usaha kecil,jaminan kondisi kerja yang adil,
pemberdayaan komunitas/usaha lokal, kesetaraan, dan keberagaman; dan
c. aspek lingkungan hidup meliputi pengurangan dampak negatif terhadap
kesehatan, kualitas udara, kualitas tanah, kualitas air, dan menggunakan sumber
daya alam sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pengadaan Berkelanjutan dilaksanakan oleh:


 a. PA/KPA dalam merencanakan dan menganggarkan Pengadaan Barang/Jasa;
 b. PPK dalam menyusun spesifikasi teknis/KAK dan rancangan kontrak dalam
Pengadaan Barang/Jasa;dan
 c. Pokja Pemilihan/ Pejabat Pengadaan/Agen Pengadaan dalam menyusun
Dokumen Pemilihan.
Aspek Lingkungan
Aspek Ekonomi Aspek Sosial
Hidup
• biaya produksi • pemberdayaan • pengurangan
barang/jasa usaha kecil dampak negatif
sepanjang usia • jaminan kondisi terhadap kesehatan
barang/jasa kerja yang adil • kualitas udara
tersebut; • pemberdayaan • kualitas tanah
komunitas/usaha • kualitas air
lokal • menggunakan SDA
• kesetaraan, dan sesuai dengan
• keberagama ketentuan
peraturan
perundang-
undangan.

Pasal 68 Pasal 68 119


Kebijakan PBJ
Melaksanakan Pengadaan Berkelanjutan

• Mengurangi barang yang bersumber fosil


antara lain mengeluarkan 13 SNI Ekolabel yang
akan diberlakukan
wajib mulai tahun 2020
• Penerapan konservasi energi dengan
pemberlakuan label tingkat hemat energi pada
peralatan listrik rumah tangga
• Pemberlakukan UMR dan jaminan kesehatan
dan keselamatan kerja

Pasal 5
PA/KPA • merencanakan dan menganggarkan

PPK • spesifikasi teknis/KAK dan


rancangan kontrak

Pokja
Pemilihan/
PP/agen
pengadaan • Dokumen Pemilihan

Pasal 68 121
Dokumen Perencanaan Pengadaan dituangkan
ke dalam RUP oleh PPK.

Pengumuman sebagaimana dimaksud pada


ayat (2) dilakukan melalui aplikasi sistem
informasi rencana umum pengadaan.

RUP diumumkan kembali dalam hal terdapat


perubahan/revisi paket pengadaan atau daftar
isian pelaksanaan anggaran.
SIAPA YANG MEMBANTU PPK DALAM
MENYUSUN DOKUMEN PERSIAPAN
PENGADAAN?

Persiapan pengadaan melalui Penyedia


sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan oleh PPK dan dapat dibantu oleh
Tim Pendukung, Tim/Tenaga Ahli, dan/atau
Pengelola Pengadaan Barang/Jasa.
 Pengelola Pengadaan Barang/Jasa adalah pejabat fungsional yang diberi tugas,
tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang
berwenang untuk melaksanakan pengadaan barang/jasa.
(Pasal 1 Angka 18 P.16/2018 Dan Pasal 1 Angka 13 Permen 7/2019)

 Tim/Tenaga Ahli adalah tim atau perorangan dalam rangka memberi masukan
dan penjelasan/pendampingan/pengawasan terhadap sebagian atau seluruh
pelaksanaan pengadaan barang/jasa.
(Pasal 1 Angka 15 Permen 7/2019)

 Tim Pendukung adalah tim yang dibentuk dalam rangka membantu untuk urusan
yang bersifat administrasi/keuangan kepada PA/KPA/PPK/Pokja Pemilihan.
(Pasal 1 Angka 16 Permen 7/2019)

 Tim Teknis adalah tim yang dibentuk dari unsur Kementerian/Lembaga untuk
membantu, memberikan masukan, dan melaksanakan tugas tertentu terhadap
sebagian atau seluruh tahapan pengadaan barang/jasa.
(Pasal 1 Angka 14 Permen 7/2019)
(1) Reviu spesifikasi teknis/KAK dilakukan berdasarkan
data/informasi terkini.

(2) PPK menetapkan spesifikasi teknis/KAK yang telah disetujui


PA/KPA dalam dokumen spesifikasi teknis/KAK berdasarkan
hasil reviu.

(3) Dalam hal barang/jasa yang dibutuhkan tidak tersedia di


pasar, PPK mengusulkan alternatif spesifikasi teknis/KAK untuk
mendapatkan persetujuan PA/KPA.
didasarkan pada:
a. hasil perkiraan biaya/RAB yang telah disusun pada
tahap perencanaan pengadaan;
b. pagu anggaran yang tercantum dalam daftar isian
pelaksanaan anggaran atau untuk proses pemilihan
yang dilakukan sebelum penetapan daftar isian
pelaksanaan anggaran mengacu kepada pagu
anggaran yang tercantum dalam rencana kerja dan
anggaran kementerian/lembaga; dan
c. hasil reviu perkiraan biaya/RAB.
 Perhitungan HPS untuk Pekerjaan Konstruksi
berdasarkan hasil perhitungan biaya yang
dilakukan oleh konsultan perancang
(engineer’s estimate) berdasarkan detailed
engineering design.

 PPK dapat menetapkan Tim/Tenaga Ahli


untuk memberikan masukan dalam
penyusunan HPS.
Dalam hal Pekerjaan Konstruksi dengan nilai
pagu anggaran > Rp100.000.000.000,00 dan
jasa Konsultansi Konstruksi dengan nilai pagu
anggaran > Rp10.000.000.000,00

hasil reviu perkiraan biaya/RAB harus


mendapat persetujuan dari Pejabat Pimpinan
Tinggi Madya.
Jenis Kontrak dalam jasa Konsultansi Konstruksi terdiri atas:
a. Kontrak lumsum;
b. Kontrak waktu penugasan.

Kontrak lumsum untuk jasa Konsultansi Konstruksi digunakan


dalam hal:
a. Kontrak yang didasarkan atas produk/keluaran (output
based);
b. ruang lingkup kemungkinan kecil berubah; dan
c. KAK lengkap dan akurat disertai dengan kebutuhan minimal
tenaga ahli.

Cara pembayaran hasil pekerjaan untuk Kontrak lumsum


dilakukan berdasarkan tercapainya tahapan produk/keluaran
Kontrak waktu penugasan untuk jasa Konsultansi Konstruksi digunakan
dalam hal:
a. Kontrak yang didasarkan atas unsur personel dan nonpersonel (input
based);
b. waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan belum bisa
dipastikan;
c. KAK menyesuaikan kebutuhan pekerjaan dan kondisi lapangan.

Cara pembayaran hasil pekerjaan untuk Kontrak waktu penugasan


sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan dengan ketentuan:
a. pembayaran biaya personel dilakukan dengan remunerasi sesuai dengan
daftar kuantitas dan harga berdasarkan volume penugasan aktual dan
ketentuan dalam Kontrak; dan
b. pembayaran biaya nonpersonel dilakukan sesuai dengan daftar kuantitas
dan harga berdasarkan pelaksanaan aktual dan ketentuan dalam Kontrak.
Jenis Kontrak dalam Pekerjaan Konstruksi terdiri atas:
a. Kontrak lumsum;
b. Kontrak harga satuan; dan
c. Kontrak gabungan lumsum dan harga satuan.

Kontrak lumsum untuk Pekerjaan Konstruksi digunakan dalam


hal:
a. Kontrak didasarkan atas produk/keluaran (output based);
b. ruang lingkup kemungkinan kecil berubah; dan
c. detailed engineering design dan spesifikasi teknis lengkap dan
akurat.

Cara pembayaran hasil pekerjaan untuk Kontrak lumsum)


dilakukan berdasarkan tercapainya tahapan produk/keluaran
Kontrak harga satuan untuk Pekerjaan Konstruksi digunakan
dalam hal:
a. Kontrak didasarkan atas unsur pekerjaan/komponen
penyusun (input based);
b. kuantitas/volume masih bersifat perkiraan; dan
c. detailed engineering design dan spesifikasi teknis
menyesuaikan kebutuhan pekerjaan dan kondisi lapangan.

Cara pembayaran hasil pekerjaan untuk Kontrak harga satuan


dilakukan berdasarkan pengukuran hasil pekerjaan bersama
atas realisasi volume pekerjaan dengan harga satuan tetap
sesuai perkiraan volume dalam daftar kuantitas dan harga dan
ketentuan dalam Kontrak.
berisikan surat perjanjian, syarat-syarat umum
Kontrak dan syarat-syarat khusus Kontrak.

Rancangan Kontrak dipilih dari standar Kontrak


dengan mempertimbangkan paling sedikit:
a. jenis Kontrak;
b. lingkup pekerjaan;
c. keluaran/output hasil pekerjaan;
d. kesulitan dan risiko pekerjaan;
e. masa pelaksanaan;
f. masa pemeliharaan (untuk Pekerjaan Konstruksi);
g. cara pembayaran;
h. sistem perhitungan hasil pekerjaan;
i. umur konstruksi dan pertanggungan terhadap
kegagalan bangunan;
j. besaran uang muka;
k. bentuk dan ketentuan Jaminan;
l. ketentuan penyesuaian harga;
m. besaran denda;
n. keterlibatan subPenyedia; dan
o. pilihan penyelesaian sengketa Kontrak.
 Karakteristik dan kondisi pekerjaan harus
dicantumkan dalam syarat-syarat khusus
Kontrak.
 PPK menetapkan rancangan Kontrak dengan
memperhatikan spesifikasi teknis/KAK dan
HPS.
 Rancangan Kontrak yang telah ditetapkan,
menjadi bagian Dokumen Pemilihan dan
hanya boleh diubah melalui persetujuan PPK.
Pokja Pemilihan melakukan persiapan pemilihan Penyedia yang
meliputi:
a. reviu dokumen persiapan pengadaan;
b. penetapan metode pemilihan Penyedia;
c. penetapan metode kualifikasi;
d. penetapan persyaratan Penyedia;
e. penetapan metode evaluasi penawaran;
f. penetapan metode penyampaian dokumen penawaran;
g. penyusunan dan penetapan jadwal pemilihan;
h. penyusunan Dokumen Pemilihan; dan
i. penetapan Jaminan penawaran dan Jaminan sanggah
banding.
meliputi:
a. KAK untuk pemilihan Penyedia jasa Konsultansi
Konstruksi;
b. spesifikasi teknis dan detailed engineering design
untuk pemilihan Penyedia Pekerjaan Konstruksi;
c. HPS;
d. rancangan Kontrak;
e. dokumen anggaran belanja;
f. ID paket RUP;
g. waktu penggunaan barang/jasa; dan
h. analisis pasar.
 PENETAPAN PEMENANG
 PENUNJUKAN PENYEDIA BARANG/JASA
 PRE AWARD MEETING
 Rapat Persiapan penandatanganan Kontrak
 Rapat Persiapan pelaksanaan Kontrak
Permasalahan PBJ dan Dampak Hukum
Perencanaan PBJ Pemilihan Penyedia PBJ Pelaksanaan Kontrak PBJ Pemanfaatan PBJ
PPK/KPA ULP/PP PPK/KPA
PA/KPA 20xx-1 20xx-1 PPHP PA/KPA
20xx-1 20xx 20xx
20xx 20xx

-Kontrak diputus?
-Blacklist Hasil Uji B/J
- Proses Pemilihan
- Penetapan Penyedia -Kualitas rendah
-Akuntabilitas tdk
RUP HPS. ada B/J. Neraca.
Dok.PBJ. Kontrak

HAN (PTUN) H. PERDATA

H. PIDANA 184

184
E-mail:
gustinoviarkusuma@gmail.com

Blog:
www.gustinoviarkusuma.wordpress.co.id

HP/WA: 082153209485