Anda di halaman 1dari 48

BAB 4

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengujian Material

Pengujian material yang dilakukan harus memenuhi spesifikasi yang telah

disyaratkan yaitu mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk setiap

pengujian material dan benda uji campuran aspal. Pengujian kualitas material ini

sangat berpengaruh terhadap campuran aspal.

4.1.1 Pengujian Agregat

Tabel dibawah adalah hasil pengujian analisa saringan yang akan menentukan

distribusi besaran agregat dan komposisi yang akan dipakai untuk mix design.

Presentase lolos dari masing-masing agregat yang sudah dipisahkan dalam

klasifikasi bin 1, bin 2, bin 3, dan bin 4. Data saringan bin ini akan digunakan untuk

merancang komposisi dengan mengatur distribusi fraksi kasar dan halus.

Tabel 4.1 Rata-Rata Persentase Lolos Benda Uji


No. Ukuran Saringan Rata – Rata Persentase Lolos Kumulatif
Saringan (mm) Bin 1 Bin 2 Bin 3 Bin 4
1" 24,400 100,00 100,00 100,00 100,00
3/4" 19,050 60,561 100,00 100,00 100,00
1/2" 12,700 14,10 100,00 100,00 100,00
3/8" 9,600 0,80 70,29 100,00 100,00
4 4,740 0,58 10,30 100,00 100,00
8 2,400 0,43 4,37 33,80 100,00
16 1,200 0,39 2,66 15,36 59,25
30 0,425 0,32 1,58 11,74 39,13
50 0,300 0,25 1,18 8,32 29,02
100 0,150 0,21 0,86 5,57 19,92
200 0,075 0,17 0,52 2,62 10,62
Pan 0,00 0,00 0,00 0,00

Universitas Kristen Krida Wacana 57


Tabel 4.1 merupakan rata-rata persentase lolos dari bin 1 bin 2 (agregat

kasar) dan bin 3 bin 4 (agregat halus). Agregat kemudian di mix (campur) untuk

mendapatkan nilai persentase gradasi gabungan. Kemudian dibuat suatu grafik

untuk mengetahui jenis gradasi dari agregat tersebut.

Gambar 4.1 Persentase Lolos Mix Agregat Kasar Dan Halus

Grafik 4.1 merupakan hasil pengujian persentase gradasi gabungan dari

agregat kasar dan agregat halus. Grafik tersebut dicocokkan dengan gambar grafik

2.5 untuk mendapatkan tipe gradasi. Grafik menunjukkan bahwa agregat yang

digunakan merupakan agregat bergradasi rapat.

Tabel 4.2 Rekapitulasi Pengujian Agregat Kasar


Standar
No. Karakteristik Hasil Spesifikasi Keterangan
Pengujian
SNI 2,53 Min.
1 Berat Jenis Bulk 3 Memenuhi
1969:2008 gr/cm 2,4 gr/cm3
SNI 2,58 Min.
2 Berat Jenis SSD 3 Memenuhi
1969:2008 gr/cm 2,4 gr/cm3
Berat Jenis Semu SNI 2,67 Min.
3 3 Memenuhi
(Apparent) 1969:2008 gr/cm 2,4 gr/cm3
Penyerapan SNI
4 1,99% Maks. 3% Memenuhi
(Absorbstion) 1969:2008
SNI 03-
5 Keausan Agregat 24,75% Maks. 30% Memenuhi
2517-1991
6 Kadar Lumpur PBI 1971 0,34% Maks. 1% Memenuhi

Universitas Kristen Krida Wacana 58


Tabel 4.2 merupakan hasil pengujian berat jenis kasar, penyerapan agregat

kasar dan keausan agregat kasar. Hasil dari pengujian didapatkan rata-rata berat

jenis bulk yaitu 2,53 gr/cm3, berat jenis kering permukaan jenuh (SSD) 2,58 gr/cm3

dan berat semu 2,67 gr/cm3. Agregat kasar yang diuji adalah agregat yang lolos

saringan no. 1” (25,00 mm) dan tertahan no. ½” (12,50 mm) atau yang disebut Bin

1 dan agregat yang lolos saringan no. 3/8” (9,50 mm) dan tertahan saringan no.4

(4,75 mm) atau yang disebut Bin 2.

Berat agregat mengalami penyusutan setelah agregat kasar dikeringkan

dalam oven. Hal ini disebabkan adanya penurunan kadar air secara sempurna.

Sehingga, tidak ada penyerapan air yang sangat berpengaruh pada massa agregat

kasar dimana massa agregat kasar mengalami penurunan akibat dari penyusutan

kadar air yang terkandung dalam agregat kasar dengan rata-rata sebesar 1,99% dan

memenuhi persyaratan Bina Marga yaitu, nilai maksimum sebesar 3%.

Pengujian selanjutnya adalah pengujian keausan atau ketahanan agregat

menggunakan mesin abrasi Los Angeles. Hasil rata-rata pengujian agregat di

dapatkan sebesar 24,75% dari dua benda uji dan memenuhi persyaratan Bina Marga

yaitu, nilai maskimum sebesar 30%. Hasil pengujian ini mengindikasi bahwa

agregat yang digunakan layak untuk digunakan menjadi material campuran aspal.

Hasil pengujian persentase kadar lumpur pada agregat sebelum dicuci yaitu sebesar

1,01% dan sesudah dicuci sebesar 0,34%. Hal ini menyatakan bahwa agregat pada

pengujian yang dicuci telah tercuci dengan baik dan kadar lumpur lebih rendah

dibandingkan agregat yang belum dicuci. Agregat yang telah dicuci ini juga telah

memenuhi persyaratan PBI 1971 dengan Kadar Lumpur dibawah 1%.

Universitas Kristen Krida Wacana 59


Tabel 4.3 Rekapitulasi Pengujian Agregat Halus
Standar
No. Karakteristik Hasil Spesifikasi Keterangan
Pengujian
SNI 2,46 1,6 – 3,2
1 Berat Jenis Bulk 3 Memenuhi
1970:2008 gr/cm gr/cm3
SNI 2,52 1,6 - 3,2
2 Berat Jenis SSD 3 Memenuhi
1970:2008 gr/cm gr/cm3
Berat Jenis Semu SNI 2,61 1,6 - 3,2
3 3 Memenuhi
(Apparent) 1970:2008 gr/cm gr/cm3
Penyerapan SNI
4 2,25% Maks. 3% Memenuhi
(Absorbstion) 1970:2008
Tabel 4.3 adalah hasil pengujian berat jenis dan penyerapan agregat halus.

Hasil pengujian berat jenis didapatkan sebesar 2,46 gr/cm3, berat jenis permukaan

jenuh 2,52 gr/cm3, berat jenis semu 2,61 gr/cm3, dan penyerapan 2,25% dan nilai

penyerapan ini memenuhi persyaratan dari Bina Marga yaitu, nilai maksimum

sebesar 3%. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa penyerapan agregat halus

masih dibawah nilai persyaratan dan layak untuk digunakan.

4.1.2 Pengujian Limbah Beton

Pengujian berat jenis, penyerapan dan keausan limbah beton diperlukan untuk

mengetahui bahwa limbah beton tersebut sudah memenuhi spesifikasi yang telah

ditentukan. Adapun metode pengujian limbah beton ini mengacu pada Standar

Nasional Indonesia (SNI).

Tabel 4.4 Rekapitulasi Pengujian Limbah Beton


Standar Hasil
No. Karakteristik Spesifikasi Keterangan
Pengujian LBMR LBMN LBMT
Berat Jenis SNI 2,40 2,47 2,52 Min.
1 Memenuhi
Bulk 1969:2008 gr/cm3 gr/cm3 gr/cm3 2,4 gr/cm3
Berat Jenis SNI 2,46 2,53 2,58 Min.
2 Memenuhi
SSD 1969:2008 gr/cm3 gr/cm3 gr/cm3 2,4 gr/cm3
Berat Jenis
SNI 2,57 2,64 2,69 Min.
3 Semu Memenuhi
1969:2008 gr/cm3 gr/cm3 gr/cm3 2,4 gr/cm3
(Apparent)
Penyerapan SNI
4 2,75% 2,63% 2,57% Maks. 3% Memenuhi
(Absorbstion) 1969:2008
Keausan SNI 03-
5 20,22% 19,99% 19,55% Maks. 30% Memenuhi
Limbah Beton 2517-1991

Universitas Kristen Krida Wacana 60


Tabel 4.4 adalah hasil rekapitulasi pengujian berat jenis, penyerapan dan

keausan limbah beton. Hasil dari pengujian didapatkan rata-rata dari dua benda uji

limbah beton mutu rendah yaitu, berat jenis bulk 2,40 gr/cm3, berat jenis permukaan

jenuh 2,46 gr/cm3, dan berat jenis semu 2,57 gr/cm3, untuk limbah beton mutu

normal berat jenis bulk 2,47 gr/cm3, berat jenis permukaan jenuh 2,53 gr/cm3, dan

berat jenis semu 2,64 gr/cm3, untuk limbah beton mutu tinggi berat jenis bulk 2,52

gr/cm3, berat jenis permukaan jenuh 2,58 gr/cm3, dan berat jenis semu 2,69 gr/cm3.

Limbah beton yang diuji adalah limbah beton yang lolos saringan no.1” (25,00 mm)

dan tertahan no. ½ (12,50 mm).

Berat limbah beton mengalami penyusutan setelah dikering dalam oven. Hal

ini disebabkan adanya penurunan kadar air secara sempurna. Sehingga, tidak ada

penyerapan air yang sangat berpengaruh pada massa limbah beton dimana massa

limbah beton mengalami penurunan akibat dari penyusutan kadar air yang

terkandung dalam limbah beton mutu rendah sebesar 2,75%, limbah beton mutu

normal sebesar 2,63% dan limbah beton mutu tinggi 2,57%. Pengujian penyerapan

untuk semua jenis limbah beton memenuhi persyaratan Bina Marga yaitu,

maksimum sebesar 3%. Nilai penyerapan limbah beton lebih besar dari agregat

kasar. Hal ini disebabkan oleh kandungan semen yang ada pada limbah beton yang

cenderung besar menyerap air.

Pengujian selanjutnya adalah pengujian ketahanan limbah beton

menggunakan mesin Los Angeles. Hasil rata-rata pengujian abrasi di dapatkan yaitu

untuk limbah beton mutu rendah sebesar 20,22%, limbah mutu normal sebesar

19,99%, dan limbah beton mutu tinggi sebesar 19,55%. Semua hasil pengujian

limbah beton memenuhi persyaratan Bina Marga yaitu, maksimum sebesar 30%.

Universitas Kristen Krida Wacana 61


Hasil ini mengindikasi bahwa limbah beton yang digunakan sebagai bahan subtitusi

agregat pada campuran aspal layak buat digunakan.

4.1.3 Pengujian Aspal

Pengujian aspal perlu dilakukan untuk mengetahui bahwa aspal yang akan

digunakan sudah memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan. Adapun pengujian

yang dilakukan yaitu pengujjian penetrasi untuk mengetahui kekerasan aspal.

pengujian berat jenis untuk mengetahui berat jenis aspal di udara maupun berat di

dalam air. Pengujian penyelimutan untuk mengetahui kelekatan aspal. Pengujian

daktilitas untuk mengetahui sifat kohesi dan plastisitas aspal. Pengujian titik nyala

dan titik bakar untuk mengetahui temperatur aspal menyala dan terbakar. Pengujian

sifat aspal ini semua mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI).

Tabel 4.5 Rekapitulasi Pengujian Aspal


Standar
No. Karakteristik Hasil Spesifikasi Keterangan
Pengujian
SNI
1 Penetrasi 69,9 Tipe 60/70 Memenuhi
2456:2011
SNI
2 Berat Jenis 1,043 Min.1,0 Memenuhi
2441:2011
SNI
3 Penyelimutan 97,5% Min. 95% Memenuhi
3645:2011
SNI Min.100
4 Daktilitas 162 cm Memenuhi
2432:2011 cm
351oC
Titik Nyala dan SNI
5 dan Min. 232 Memenuhi
Titik Bakar 2433:2011 o
385 C

Tabel 4.5 merupakan hasil setiap pengujian aspal. Pengujian pertama yaitu,

penetrasi aspal sebesar 69,9. Bila mengacu pada SNI 2456:2011 (cara uji penetrasi

aspal), maka aspal yang diuji masuk kedalam golongan aspal tipe 60/70. Pengujian

selanjutnya adalah berat jenis aspal, dimana rata-rata pengujian berat jenis aspal

Universitas Kristen Krida Wacana 62


sebesar 1,043. Bila mengacu pada SNI 2441:2011 (cara uji berat jenis aspal), maka

aspal yang diuji masuk kedalam persyaratan bahwa berat jenis aspal minimal 1,0.

Selanjutnya yaitu pengujian penyelimutan aspal. Pengujian yang dilakukan hanya

menggunakan cara pengujian pelapisan agregat kering dengan aspal cair (cut-back)

dan hasil rata-rata yang didapatkan dari percobaan kelekatan ini sebesar 97,5%. Bila

mengacu pada SNI 3645:2011 (cara pengujian penyelimutan aspal), maka aspal

yang diuji masuk kedalam persyaratan diatas 95% dan agregat tersebut merupakan

agregat yang baik karena mempunyai daya lekat yang tinggi pada aspal. Pengujian

selanjutnya adalah hasil pengujian daktilitas aspal. Pengujian daktilitas dibutuhkan

untuk mengetahui pemuluran aspal. Dimana nilai rata-rata daktilitas aspal adalah

162 cm. Dalam pengujian ini menunjukkan bahwa daktilitas memenuhi SNI 2432-

2011 (Cara Uji Daktilitas Aspal) dimana nilai minimumnya yaitu 100 cm. Penguji

yang terakhir yaitu pengujian titik nyala dan titik bakar aspal. Dari pengamatan dan

pengujian, diketahui bahwa titik nyala rata-rata sebesar 351oC dan titik bakar rata-

rata sebesar 385oC. Bila mengacu pada SNI 2433:2011 (cara pengujian titik nyala

dan titik bakar aspal), maka aspal yang di uji masuk kedalam persyaratan diatas

232oC.

4.2 Mix Design Campuran Aspal Normal

Perancangan campuran dilakukan dengan menggunakan kadar aspal rencana. Pada

perancangan campuran diawali dengan mengumpulkan data-data hasil pengujian

material dan aspal. Kemudian dilakukan perhitungan untuk mendapatkan nilai

kadar aspal rencana menggunakan persamaan 2.10.

Universitas Kristen Krida Wacana 63


Perhitungan :

Diketahui : CA = 31%

FA = 69%

FF = 0%

K =1

Pb = 0,035(%CA) + 0,045(%FA) + 0,18(%FF) + K

= 0,035(31) + 0,045(69) + 0,18(0) + 1

= 5,19%

Cara menentukan fraksi agregat kasar dan fraksi agregat halus yang digunakan

untuk menentukan kadar aspal rencana adalah cara trial and error. Hasil

perhitungan kadar aspal rencana diatas dibulatkan menjadi 5,5%. Hasil tersebut

kemudian dirancang menjadi lima kadar aspal. Berikut adalah tabel perancangan

kadar aspal :

Tabel 4.6 Kadar Aspal


Kadar Aspal Rencana
Batas Bawah Pb Batas Atas
-1% -0,5% 0 +0,5% +1%
4,5% 5% 5,5% 6% 6,5%

Kadar aspal rencana adalah kadar aspal yang menjadi acuan untuk membuat benda

uji dalam campuran aspal beton. Dari tabel diatas ada 5 jenis kadar aspal yang

diperoleh yaitu 4,5%; 5%; 5,5%; 6% dan 6,5%. Hasil tersebut kemudian diolah

untuk mendapatkan mix design yang dipakai pada pembuatan benda uji. Berikut

adalah mix design pada benda uji aspal normal.

Universitas Kristen Krida Wacana 64


Tabel 4.7 Mix Kadar Komposisi Setiap Kadar Aspal Normal
Berat Jenis
Mix Kadar 4,5% Mix Kadar 5% Mix Kadar 5,5% Mix Kadar 6% Mix Kadar 6,5%
Material Komposisi Komposisi Komposisi Komposisi Komposisi
Aspal Bulk
I II I II I II I II I II
Aspal 4,31 4,50 4,76 5,00 5,21 5,50 5,66 6,00 6,10 6,50
Fraksi Lolos #1
Tertahan #1/2 11,51 12,03 11,45 12,03 11,40 12,03 11,35 12,03 11,29 12,03
2,55
Fraksi Lolos #3/8
Tertahan #4 16,40 17,14 16,33 17,14 16,25 17,14 16,17 17,14 16,10 17,14
1,03
Fraksi Lolos #4
Tertahan #8 34,56 36,11 34,39 36,11 34,23 36,11 34,07 36,11 33,91 36,11
2,48
Fraksi Lolos #8
Tertahan Pan 33,22 34,72 33,07 34,72 32,91 34,72 32,75 34,72 32,60 34,72
Universitas Kristen Krida Wacana 65

Total 100,00 104,50 100,00 105,00 100,00 105,50 100,00 106,00 100,00 106,50

Contoh perhitungan mix design kadar 4,5 % : Rumus komposisi I untuk kadar aspal 4,5 % :

Bin 1 (1” - 1/2”) = 100% - 87,97% = 12.03% Persentase kadar aspal x


=
Total fraksi agregat 100
Bin 2 (3/8 - #4) = 87,97% - 70,83% = 17.14%
4,5 x
Bin 3 (#4 - #8) = 70,83% - 34,72% = 36,11% =
104,5 100
Bin 4 (#8) = 34,72% Maka x = 4,31%

Universitas Kristen Krida Wacana 59


Rumus komposisi I untuk hot bin 1 kadar 4,5% :

100 × Persentase Setiap Hot Bin


𝐻𝑜𝑡 𝐵𝑖𝑛 x =
Total fraksi agregat

100 × 12,03
𝐻𝑜𝑡 𝐵𝑖𝑛 1 =
104,5

𝐻𝑜𝑡 𝐵𝑖𝑛 1 = 11,51%

Tabel 4.7 merupakan mix kadar komposisi dari setiap kadar campuran aspal. Data

ini diperoleh dari analisa saringan agregat yang lolos maupun yang tertahan dari

setiap saringan, data berat jenis aspal dan data berat jenis agregat. Kemudian data

tersebut diolah menggunakan persamaan diatas untuk mendapatkan nilai komposisi

kadar aspal dan komposisi agregat untuk setiap kadar aspal.

Tabel 4.8 Persentase Berat Agregat Dari Setiap Kadar Aspal Normal
Persentase Berat Agregat Kumulatif Berat Agregat
Kadar Bin
(%) (gr) (gr)
1 11,51 138,10 138,10
2 16,40 196,85 334,95
4,5%
3 34,56 414,70 749,65
4 33,22 398,68 114,.33
1 11,45 137,44 137,44
2 16,33 195,91 333,35
5%
3 34,39 412,72 746,08
4 33,07 396,78 1142,86
1 11,40 136,79 136,79
2 16,25 194,99 331,77
5,5%
3 34,23 410,77 742,54
4 32,91 394,90 1137,44
1 11,35 136,14 136,14
2 16,17 194,07 330,21
6%
3 34,07 408,83 739,04
4 32,75 393,04 113,08
1 11,29 135,50 135,50
2 16,10 193,15 328,66
6,5%
3 33,91 406,91 735,57
4 32,60 391,19 1126,76

Universitas Kristen Krida Wacana 66


Tabel 4.8 merupakan persentase berat agregat untuk setiap kadar aspal normal.

Berat agregat dari setiap kadar aspal tersebut yang akan digunakan untuk

pembuatan benda uji aspal normal.

Tabel 4.9 Berat Agregat Kumulatif Dari Setiap Kadar Aspal Normal
Berat Agregat Kumulatif
Keterangan
4,5% 5% 5,5% 6% 6,5%
Berat Benda Uji (gr) 1200 1200 1200 1200 1200
Kadar Aspal (%) 4,31 4,76 5,21 5.66 6.10
Berat Aspal (gr) 51,67 57,14 62,56 67.92 73.24
Berat Agregat (gr) 1148,33 1142,86 1137,44 1132,08 1126,76

Contoh perhitungan mix design kadar 4,5 % :

Berat Aspal = Kadar aspal × berat benda uji

= 4,31% × 1200

= 51,67 gram

Berat Agregat = Berat benda uji – berat aspal

= 1200 – 51,67

= 1148,33 gram

Berat Agregat per fraksi (bin 1) = Persentase bin 1 × berat agregat

= 11,51% × 1148,33

= 138,10 gram

Tabel 4.9 merupakan tabel persentase berat aspal dan berat agregat kumulatif untuk

setiap kadar aspal normal. Hasil berat setiap bahan material diatas akan digunakan

untuk pembuatan benda uji untuk mendapatkan nilai kadar aspal optimum. Pada

proses pencampuran aspal dibutuhkan campuran yang sesuai untuk mendapatkan

campuran mutu yang baik dan mendapatkan nilai kadar campuran aspal paling

optimum.

Universitas Kristen Krida Wacana 67


4.3 Hasil Pengujian Campuran Aspal Normal
Tabel 4.10 Hasil Pengujian Parameter Marshall Aspal Normal
Kadar Berat Dalam Kering Vol. Tinggi Berat GMM Bac.
Ang. Dial Prov. VIM VMA VFA Stabilitas Flow MQ
Aspal Kering Air Perm. Bulk B. Uji Isi Teoritis Dial
Korelasi (kg) (%) (%) (%) (kg) (mm) (kg/mm)
(%) (gr) (gr) (gr) (cm³) (mm) (gr/cm³) (gr/cm³) (div)
1180,00 653,00 1204,00 551,00 68,50 2,14 0,886 64,00 917,06 7,11 19,09 61,89 812,74 3,60 225,28
4,5 1181,00 654,00 1205,00 551,00 68,30 2.14 0,890 62,00 888,40 6,86 19,02 62,17 790,68 4,00 196,21
2,31
1182,00 656,00 1204,00 548,00 68,40 2,16 0,888 65,00 931,39 661 18,51 64,29 827,19 3,80 242,50
Rata-rata 1181,00 654,33 1204,33 550,00 68,40 2,15 0,888 63,67 912,28 6,86 18,87 62,78 810,20 3,80 220,82
1181,00 660,00 1203,00 543,00 68,30 2,17 0,890 77,00 1103,33 5,18 18,22 71,57 981,97 3,80 257,87
5 1180,00 659,00 1204,00 545,00 68,30 2,17 0,890 73,00 1046,02 5,61 18,59 69,83 930,96 4,00 232,00
2,29
1180,00 659,00 1202,00 543,00 68,40 2,17 0,888 75,00 1074,68 5,26 18,29 71,24 954,45 3,70 257,41
Rata-rata 1180,33 659,33 1203,00 543,67 68,33 2,17 0,889 75,00 1074,68 5,35 18,37 70,88 955,79 3,83 248,73
1182,00 658,00 1201,00 543,00 68,20 2,18 0,892 84,00 1203,64 5,53 18,54 70,17 1073,49 3,60 295,37
Universitas Kristen Krida Wacana 65

5,5 1183,00 660,00 1202,00 542,00 68,10 2,18 0,894 83,00 1189,31 5,27 18,32 71,21 1062,94 3,80 277,08
2,30
1182,00 665,00 1201,00 536,00 68,20 2,21 0,892 83,00 1189,31 4,30 17,47 75,42 1060,71 4,10 257,08
Rata-rata 1182.00 658.00 1201,33 540,33 68,20 2,19 0,893 83,33 1194,08 5,03 18,11 72,27 1065,72 3,83 275,68
1181,00 660,00 1200,00 540,00 68,30 2,19 0,890 75,00 1074,68 4,86 18,54 73,76 956,46 3,80 250,91
6 1182,00 662,00 1200,00 538,00 68,40 2,20 0,888 77,00 1103,33 4,43 18,17 75,62 979,90 4,00 243,68
2,30
1180.00 664,00 1201,00 537,00 68,20 2,20 0,892 79,00 1131,99 4,41 18,16 75,69 1009,60 4,10 244,69
Rata-rata 1181,00 662,00 1200,33 538,33 68,30 2,19 0,890 77,00 1103,33 4,57 18,29 75,02 981,99 3,97 246,34
1180,00 661,00 1204,00 543,00 68,30 2,17 0,890 61,00 874,07 5,90 19,44 69,63 777,92 5,00 155,09
6,5 1181,00 664,00 1205,00 541,00 68,90 2,18 0,879 59,00 845,41 5,48 19,07 71,29 742,91 4,60 162,36
2,31
1181,00 658,00 1203,00 545,00 68,60 2,17 0,884 62,00 888,40 6,17 19,67 68,62 785,68 4,80 164,38
Rata-rata 1180,67 661,00 1204,00 543,00 68,60 2,17 0,884 60,67 869,29 5,85 19,39 69,85 768,84 4.80 160,51

Universitas Kristen Krida Wacana 65


Contoh perhitungan kadar aspal 5,5 % :

Diketahui : Kadar Aspal = 5,21%

GMB (Berat isi benda uji) = 2,18 gram/mm3

GMM Teoritis = 2,3 gram/cm3

Gsb (Berat Jenis Bulk) = 2,53 gram/cm3

(GMM - GMB)
VIM = 100 × GMM

(2,304 - 2,18)
= 100 × 2,3

= 4,75%

(GMB × (100 - Kadar Aspal)


VMA =100 - Gsb

(2,19 × (100 - 5,21)


= 100 - 2,53

= 18,11%

(VMA - VIM)
VFA = 100 × VMA

(18,11 - 4,75)
= 100 × 18,11

= 73,81%

Stability = angka korelasi × dial proving

= 0,893 × 1194,08

= 1056,76 kg

MQ = stability × flow

= 1065,72 × 4,13

= 275,68 kg/mm

Universitas Kristen Krida Wacana 69


Tabel 4.11 Rekapitulasi Hasil Pengujian Parameter Marshall Aspal Normal

VIM VMA VFA Stability Flow MQ


Kadar Aspal (%)
(%) (%) (%) (kg) (mm) (kg/mm)
4,5 6,49 18,77 65,45 810,20 3,80 220,82
5 5,35 18,37 70,88 955,79 3,83 248,73
5,5 4,60 18,11 74,69 1065,72 3,83 275,68
6 4,57 18,29 75,02 981,99 3,97 246,34
6,5 5,85 19,39 69,85 768,84 4,80 160,51
Spesifikasi Umum Min 3,0 14 65 800 2,0 250
Bina Marga (2018) Max 5,0 - - - 4,0 -

Tabel 4.11 merupakan rekapitulasi hasil pengujian parameter Marshall

untuk setiap kadar aspal. Tabel tersebut menunjukkan nilai VIM, VMA, VFA,

Stability, Flow, dan MQ yang memenuhi persyaratan dari Spesifikasi Umum Bina

Marga tahun 2018 untuk laston lapis pengikat (AC-BC). Nilai parameter Marshall

masing-masing kadar aspal yang diperoleh kemudian diplot dalam grafik.

Gambar 4.2 Grafik Kadar Aspal Optimum

Keterangan:

= Kadar yang memenuhi persyaratan Bina Marga

Universitas Kristen Krida Wacana 70


Tabel 4.12 Rata-Rata Kadar Optimum Untuk Setiap Parameter
Parameter Marhall Rata-rata Kadar (%)
VIM 5,75
VMA 5,50
VFA 5,75
Stability 5,25
Flow 5,75
MQ 5,75
KAO 5,63

Tabel 4.12 merupakan rata-rata kadar optimum untuk nilai VIM, VMA, VFA,

Stability, Flow, dan MQ. Hasil rata-rata kadar optimum tiap nilai parameter tersebut

kemudian dirata-ratakan lagi dan didapatkan nilai kadar aspal optimum (KAO)

sebesar 5,63%. Nilai KOA tersebut akan digunakan sebagai kadar aspal untuk

campuran aspal dengan limbah beton. Nilai parameter Marshall masing-masing

kadar aspal yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan grafik hubungan

antara setiap kadar aspal dengan parameter Marshall.

Gambar 4.3 Grafik Hubungan Kadar Aspal Dengan VIM

Universitas Kristen Krida Wacana 71


Gambar grafik 4.3 merupakan hubungan nilai VIM dengan nilai masing-

masing kadar aspal. VIM (Void in Mix) adalah volume udara total yang berada

dalam campuran yang telah dipadatkan. Grafik menunjukkan bahwa nilai VIM

mengalami penurunan dari kadar aspal 4,5% - 5% dan mengalami kenaikan dari

kadar aspal 6% - 6,5% pada campuran aspal. Nilai VIM pada campuran aspal yang

memenuhi persyaratan Bina Marga dengan rentang persyaratan 3 – 5% terdapat

pada kadar aspal 5% sebesar 4,75% dan kadar aspal 5,5% sebesar 4,96%.

Gambar 4.4 Grafik Hubungan Kadar Aspal Dengan VMA

Gambar grafik 4.4 merupakan grafik antara hubungan nilai VMA dengan

masing-masing kadar aspal. VMA (Void in Mineral Agregat) adalah rongga udara

yang terdapat di dalam butir agregat. Grafik menunjukkan bahwa nilai VMA

cenderung naik-turun dan bervariasi. Nilai VMA untuk semua kadar aspal

memenuhi persyaratan Bina Marga minimal 14% dimana kadar aspal 4,5% sebesar

18,77%; kadar aspal 5% sebesar 18,37%; kadar aspal 5,5% sebesar 18,11%; kadar

aspal 6% sebesar 18,29%; dan kadar aspal 6,5% sebesar 19,14%.

Universitas Kristen Krida Wacana 72


Gambar 4.5 Grafik Hubungan Kadar Aspal Dengan VFA

Gambar grafik 4.5 merupakan grafik hubungan antara hubungan nilai VFA

dengan nilai masing-masing kadar aspal. VFA (Void Filled Asphalt) adalah rongga

udara yang terisi oleh aspal. Grafik menunjukkan bahwa nilai VFA cenderung naik-

turun dan bervariasi. Nilai VFA yang memenuhi persyaratan Bina Marga minimal

65% dimana kadar aspal 5% sebesar 72,51%; kadar aspal 5,5% sebesar 73,81%,

kadar aspal 6% sebesar 72,89%; dan kadar aspal 6,5% sebesar 68,94%.

Gambar 4.6 Grafik Hubungan Kadar Aspal Stability

Universitas Kristen Krida Wacana 73


Gambar grafik 4.6 merupakan grafik antara hubungan nilai stabilitas dengan

nilai masing-masing nilai kadar aspal. Stability merupakan tingkat ketahanan

campuran aspal dalam menahan beban hingga terjadi kelelehan plastis. Grafik

menunjukkan bahwa nilai stabilitas mengalami kenaikan dari kadar aspal 4,5% -

5%, maksimal pada kadar aspal 5,5% dan mengalami penurunan dari kadar aspal

6% - 6,5% pada campuran aspal. Nilai stabilitas untuk semua kadar aspal

memenuhi persyaratan Bina Marga diatas 800 kg dimana kadar aspal 4,5% sebesar

839,12 kg; kadar aspal 5% sebesar 953,45 kg; kadar aspal 5,5% sebesar 1056,76

kg; kadar aspal 6% sebesar 977,13 kg.

Gambar 4.7 Grafik Hubungan Kadar Aspal Dengan Flow

Gambar grafik 4.7 merupakan grafik hubungan nilai flow dengan nilai

masing-masing kadar aspal. Flow merupakan keadaan deformasi dari campuran

aspal setelah menerima beban. Grafik menunjukkan bahwa semakin besar nilai

kadar aspal maka nilai flow cenderung semakin besar. Nilai flow pada campuran

aspal yang memenuhi persyaratan Bina Marga dengan rentang persyaratan 2-4 mm

Universitas Kristen Krida Wacana 74


terdapat pada kadar aspal 5,5% sebesar 3,83 mm dan kadar aspal 6% sebesar 3,97

mm.

Gambar 4.8 Grafik Hubungan Kadar Aspal Dengan MQ

Gambar grafik 4.8 merupakan hubungan nilai MQ dengan nilai masing-

masing kadar aspal. MQ (Marshall Quontient) adalah kelenturan pada campuran

aspal. Grafik menunjukkan bahwa nilai MQ mengalami kenaikan dari kadar aspal

4,5% - 5%, maksimal pada kadar aspal 5,5% dan mengalami penurunan dari kadar

aspal 6% - 6,5% pada campuran aspal. Nilai MQ pada campuran aspal yang

memenuhi persyaratan Bina Marga minimal 250 kg/mm terdapat pada kadar aspal

5,5% sebesar 275,68 kg/mm dan kadar aspal 6% sebesar 246,34 kg/mm.

Universitas Kristen Krida Wacana 75


4.4 Mix Design Limbah Beton

Tabel 4.13 Mix Design Limbah Beton


Kadar 25% Kadar 50% Kadar 75% Kadar 100%
Limbah Beton Material Berat Agregat Kumulatif Berat Agregat Kumulatif Berat Agregat Kumulatif Berat Agregat Kumulatif
(gr) (gr) (gr) (gr) (gr) (gr) (gr) (gr)
Agregat bin 1 102,46 102,46 68,31 68,31 34,15 34.15 0 0
Limbah beton bin 1 34,15 136,62 68,31 136,62 102,46 136.62 136,62 136,62
Agregat bin 2 146,06 282,68 97,37 233,99 48,69 185.30 0 136,62
LBMR Limbah beton bin 2 48,69 331,36 97,37 331,36 146,06 331.36 194,75 331,36
Agregat bin 3 410,26 741,63 410,26 741,63 410,26 741.63 410,26 741,63
Agregat bin 4 394,41 1136,04 394,41 1136,04 394,41 1136.04 394,41 1136,04
Aspal 63,96 1200 63,96 1200 63,96 1200 63,96 1200
Agregat bin 1 102,46 102,46 68,31 68,31 34,15 34.15 0 0
Limbah beton bin 1 34,15 136,62 68,31 136,62 102,46 136.62 136,62 136,62
Universitas Kristen Krida Wacana 76

Agregat bin 2 146,06 282,68 97,37 233,99 48,69 185.30 0 136,62


LBMN Limbah beton bin 2 48,69 331,36 97,37 331,36 146,06 331.36 194,75 331,36
Agregat bin 3 410,26 741,63 410,26 741,63 410,26 741.63 410,26 741,63
Agregat bin 4 394,41 1136,04 394,41 1136,04 394,41 1136.04 394,41 1136,04
Aspal 63,96 1200 63,96 1200 63.96 1200 63,96 1200
Agregat bin 1 102,46 102,46 68,31 68,31 34,15 34.15 0 0
Limbah beton bin 1 34,15 136,62 68,31 136,62 102,46 136.62 136,62 136,62
Agregat bin 2 146,06 282,68 97,37 233,99 48,69 185.30 0 136,62
LBMT Limbah beton bin 2 48,69 331,36 97,37 331,36 146,06 331.36 194,75 331,36
Agregat bin 3 410,26 741,63 410,26 741,63 410,26 741.63 410,26 741,63
Agregat bin 4 394,41 1136,04 394,41 1136,04 394,41 1136.04 394,41 1136,04
Aspal 63,96 1200 63,96 1200 63.96 1200 63,96 1200

Universitas Kristen Krida Wacana 74


4.5 Hasil Pengujian Campuran Aspal Dengan Limbah Beton

Tabel 4.14 Hasil Pengujian Marshall Campuran Aspal dengan Limbah Beton Mutu Rendah
Kadar Berat Dalam Kering Vol. Tinggi Berat GMM Bac. Dial
Angka VIM VMA VFA Stability Flow MQ
LBMR Kering Air Perm. Bulk B. Uji Isi Teoritis Dial Prov.
Korelasi (%) (%) (%) (kg) (mm) (kg/mm)
(%) (gr) (gr) (gr) (cm³) (mm) (gr/cm³) (gr/cm³) (div) (kg)
1178,00 657,00 1201,00 544,00 68,45 2,17 0,887 65,00 931,39 5,91 14,58 59,44 826,31 3,40 243,03
KAO + 25% 1179,00 659,00 1201,00 542,00 68,35 2,18 0,889 64,00 917,06 5,49 14,19 61,34 815,32 3,60 226,48
2,30
1179,00 658,00 1200,00 542,00 68,35 2,18 0,889 65,00 931,39 5,49 14,19 61,34 828,06 3,80 217,91
Rata-rata 1178,67 658,00 1200,67 542,67 68,38 2,17 0,888 64,67 926,61 5,63 14,32 60,71 823,23 3,60 228,68
1178,00 658,00 1201,00 543,00 68,30 2,17 0,890 68,00 974,37 5,31 14,43 63,21 867,19 3,40 255,06
KAO + 50% 1178,00 658,00 1200,00 542,00 68,30 2,17 0,890 69,00 988,70 5,13 14,27 64,03 879,95 3,60 244,43
2,29
1179,00 659,00 1201,00 542,00 68,45 2,18 0,887 69,00 988,70 5,05 14,19 64,41 877,16 4,00 219,29
Rata-rata 1178,33 658,33 1200,67 542,33 68,35 2,17 0,889 73,00 983,93 5,16 14,30 63,88 874,77 3,67 238,57
1178,00 657,00 1201,00 544,00 68,30 2,17 0,890 75,00 1074,68 5,05 14,58 65,35 956,46 3,60 265,68
Universitas Kristen Krida Wacana 77

KAO + 75% 1179,00 657,00 1200,00 543,00 68,45 2,17 0,887 76,00 1089,01 4,80 14,35 66,58 966,15 3,70 261,12
2,28
1179,00 657,00 1201,00 544,00 68,50 2,17 0,886 77,00 1103,33 4,97 14,51 65,74 977,83 4,00 244,46
Rata-rata 1178,67 657,00 1200,67 543,67 68,42 2,17 0,888 76,00 1089,01 4,94 14,48 65,89 966,81 3,77 256,68
1179,00 659,00 1201,00 542,00 68,30 2,18 0,890 73,00 1046,02 5,06 14,19 64,38 930,96 4,10 227,06
KAO + 100% 1178,00 658,00 1201,00 543,00 68,30 2,17 0,890 73,00 1046,02 5,31 14,43 63,18 930,96 4,00 232,74
2,29
1179,00 658,00 1200,00 542,00 68,35 2,18 0,889 74,00 1060,35 5,06 14,19 64,38 942,72 4,00 235,68
Rata-rata 1178,67 658,33 1200,67 542,33 68,32 2,17 0,890 73,33 1050,79 5,14 14,27 63,98 934,88 4,03 231,79

Universitas Kristen Krida Wacana 75


Tabel 4.15 Hasil Pengujian Marshall Campuran Aspal dengan Limbah Beton Mutu Normal
Kadar Berat Dalam Kering Vol. Tinggi Berat GMM Bac.
Angka Dial Prov. VIM VMA VFA Stability Flow MQ
LBMN Kering Air Perm. Bulk B. Uji Isi Teoritis Dial
Korelasi (kg) (%) (%) (%) (kg) (mm) (kg/mm)
(%) (gr) (gr) (gr) (cm³) (mm) (gr/cm³) (gr/cm³) (div)
1177,00 656,00 1201,00 545,00 68,30 2,16 0,887 71,00 1017,36 6,38 14,81 56,90 905,45 3,80 238,28
KAO + 25% 1178,00 657,00 1202,00 545,00 68,30 2,16 0,889 70,00 1003,03 6,30 14,74 57,22 892,70 3,60 247,97
2,31
1177,00 656,00 1201,00 545,00 68,40 2,16 0,889 72,00 1031,69 6,38 14,81 56,90 916,27 3,80 241,12
Rata-rata 1177,33 656,33 1201,33 545,00 68,33 2,16 0,888 71,00 1017,36 6,36 14,79 57,01 904,81 3,73 242,36
1178,00 657,00 1200,00 543,00 68,20 2,17 0,890 74,00 1060,35 5,31 14,43 63,18 945,70 3,60 262,69
KAO + 50% 1177,00 657,00 1202,00 545,00 68,10 2,16 0,890 74,00 1060,35 5,74 14,81 61,25 947,69 4,00 236,92
2,29
1179,00 659,00 1201,00 542,00 68,20 2,18 0,887 75,00 1074,68 5,06 14,19 64,38 958,48 4,00 239,62
Rata-rata 1178,00 657,67 1201,00 543,33 68,17 2,17 0,889 74,33 1065,12 5,37 14,48 62,94 950,62 3,87 245,85
1179,00 659,00 1200,00 541,00 68,30 2,18 0,890 77,00 1103,33 4,44 14,04 68,36 981,97 3,80 258,41
KAO + 75% 1179,00 659,00 1201,00 542,00 68,40 2,18 0,887 76,00 1089,01 4,62 14,19 67,47 967,17 4,00 241,79
2,28
1178,00 656,00 1201,00 545,00 68,20 2,16 0,886 75,00 1074,68 5,22 14,74 64,57 958,48 4,00 239,62
Universitas Kristen Krida Wacana 78

Rata-rata 1178,67 658,00 1200,67 542,67 68,30 2,17 0,888 76,00 1089,01 4,76 14,32 66,80 969,21 3,93 246,41
1178,00 656,00 1200,00 544,00 68,30 2,17 0,890 81,00 1160,65 4,83 14,58 66,86 1032,98 3,80 271,84
KAO + 100% 1177,00 655,00 1201,00 546,00 68,90 2,16 0,890 82,00 1174,98 5,26 14,97 64,84 1032,51 4,00 258,13
2,28
1178,00 656,00 1200,00 544,00 68,60 2,17 0,889 81,00 1160,65 4,83 14,58 66,86 1026,45 4,00 256,61
Rata-rata 1177,67 655,67 1200,33 544,67 68,60 2,16 0,890 81,33 1165,43 4,98 14,71 66,18 1030,65 3,93 262,03

Universitas Kristen Krida Wacana 76


Tabel 4.16 Hasil Pengujian Marshall Campuran Aspal dengan Limbah Beton Mutu Tinggi
Kadar Berat Dalam Kering Vol. Tinggi Berat GMM Bac.
Angka Dial Prov. VIM VMA VFA Stability Flow MQ
LBMT Kering Air Perm. Bulk B. Uji Isi Teoritis Dial
Korelasi (kg) (%) (%) (%) (kg) (mm) (kg/mm)
(%) (gr) (gr) (gr) (cm³) (mm) (gr/cm³) (gr/cm³) (div)
1179,00 660,00 1200,00 540,00 68,35 2,18 0,889 80,00 1146,32 4,93 13,36 63,13 1019,15 3,80 268,20
KAO + 25% 1178,00 662,00 1201,00 539,00 68,50 2,19 0,886 80,00 1146,32 4,83 13,27 63,60 1015,93 3,00 338,64
2,30
1180,00 661,00 1200,00 539,00 68,40 2,19 0,888 79,00 1131,99 4,67 13,13 64,43 1005,35 4,60 218,55
Rata-rata 1179,00 661,00 1200,33 539,33 68,42 2,19 0,888 79,67 1141,55 4,81 13,25 63,72 1013,48 3,80 266,70
1176,00 656,00 1200,00 544,00 68,40 2,16 0,888 82,00 1174,98 4,78 14,22 66,37 1043,53 4,00 260,88
KAO + 50% 1177,00 655,00 1201,00 546,00 68,40 2,16 0,888 82,00 1174,98 5,05 14,46 65,08 1043,53 3,90 267,57
2,27
1176,00 655,00 1200,00 545,00 68,50 2,16 0,886 81,00 1160,65 4,96 14,37 65,52 1028,63 3,80 270,69
Rata-rata 1176,33 655,33 1200,33 545,00 68,43 2,16 0,888 81,67 1170,20 4,93 14,35 65,65 1038,56 3,90 266,30
1178,00 655,00 1201,00 546,00 68,55 2,16 0,885 88,00 1260,95 4,96 14,38 65,49 1116,34 3,80 293,77
KAO + 75% 1177,00 656,00 1202,00 546,00 68,60 2,16 0,884 87,00 1246,62 5,05 14,46 65,10 1102,48 4,00 275,62
2,27
1177,00 655,00 1200,00 545,00 68,60 2,16 0,884 87,00 1246,62 4,87 14,30 65,94 1102,48 4,00 275,62
Universitas Kristen Krida Wacana 79

Rata-rata 1177,33 655,33 1201,00 545,67 68,58 2,16 0,885 87,33 1251,40 4,96 14,38 65,51 1107,10 3,93 281,47
1179,00 656,00 1200,00 544,00 68,50 2,17 0,886 90,00 1289,61 5,40 14,00 61,41 1142,92 3,90 293,06
KAO+ 100% 1179,00 657,00 1202,00 545,00 68,45 2,16 0,887 92,00 1318,27 5,57 14,15 60,62 1169,55 4,00 292,39
2,29
1178,00 655,00 1201,00 546,00 68,50 2,16 0,886 92,00 1318,27 5,83 14,38 59,49 1168,32 4,00 292,08
Rata-rata 1178,67 656,00 1201,00 545,00 68,48 2,16 0,887 91,33 1308,72 5,60 14,18 60,50 1160,26 3.97 292,50

Universitas Kristen Krida Wacana 77


Tabel 4.17 Rekapitulasi Nilai Parameter Marshall Campuran Aspal dan Limbah
Beton

VIM VMA VFA Stability Flow MQ


Kadar Limbah Beton
(%) (%) (%) (kg) (mm) (kg/mm)
KAO + LBMR 25% 5,63 14,32 60,71 823,23 3,60 228,68
KAO + LBMR 50% 5,16 14,30 63,88 874,77 3,67 238,57
KAO + LBMR 75% 4,94 14,48 65,89 966,81 3,77 256,68
KAO + LBMR 100% 5,14 14,27 63,98 934,88 4,03 231,79
KAO + LBMN 25% 6,36 14,79 57,01 904,81 3,73 242,36
KAO + LBMN 50% 5,37 14,48 62,94 950,62 3,87 245,85
KAO + LBMN 75% 4,76 14,32 66,80 969,21 3,93 246,41
KAO + LBMN 100% 4,98 14,71 66,18 1030,65 3,93 262,03
KAO + LBMT 25% 4,81 13,25 63,72 1013,48 3,80 266,70
KAO + LBMT 50% 4,93 14,35 65,65 1038,56 3,90 266,30
KAO + LBMT 75% 4,96 14,38 65,51 1107,10 3,93 281,47
KAO + LBMT 100% 5,60 14,18 60,50 1160,26 3,97 292,50
Spesifikasi Umum Min 3,0 14 65 800 2,0 250
Bina Marga (2018) Max 5,0 - - - 4,0 -

Tabel 4.17 merupakan hasil rekapitulasi pengujian campuran aspal dengan

menggunakan variasi limbah beton mutu rendah (LBMR), limbah beton mutu

normal (LBMN) dan limbah beton mutu tinggi (LBMT). Tabel tersebut

menunjukkan nilai VIM, VMA, VFA, Stability, Flow, dan MQ yang memenuhi

persyaratan sari Spesifikasi Umum Bina Marga tahun 2018 untuk laston lapis

pengikat (AC-BC). Nilai rekapitulasi parameter Marshall masing-masing kadar

limbah beton kemudian dianalisis menggunakan grafik hubungan antara setiap

kadar limbah beton dengan setiap parameter Marshall. Hasil analisis dapat dilihat

pada gambar grafik 4.9 - 4.14.

Universitas Kristen Krida Wacana 80


Gambar 4.9 Grafik Hubungan Limbah Beton Dengan VIM

Gambar grafik 4.9 merupakan hubungan nilai VIM (rongga dalam

campuran) terhadap masing-masing kadar limbah beton mutu rendah, limbah beton

mutu normal dan limbah beton mutu tinggi. Grafik menunjukkan bahwa nilai VIM

cenderung naik-turun dan bervariasi. Nilai VIM campuran aspal dengan limbah

beton yang memenuhi persyaratan Bina Marga dengan rentang 3 – 5% terdapat

pada kadar limbah beton mutu rendah (LBMR) kadar 75% Sebesar 4,94%, limbah

beton mutu normal (LBMN) kadar 75% sebesar 4,76%, limbah beton mutu normal

(LBMN) kadar 100% sebesar 4,98%, limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 25%

sebesar 4,81%, limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 50% sebesar 4,93% dan

limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 75% sebesar 4,96%. Semakin kecil nilai

VIM atau rongga udara pada campuran aspal dan limbah beton maka campuran

tersebut akan kedap air. Hal ini nantinya akan menyebabkan campuran aspal dan

limbah beton akan rapuh dan ketas. Normalkan semakin besar nilai VIM atau

rongga udara pada campuran aspal dan limbah beton maka akan menyebabkan nilai

flow atau kelelehan akan semakin tinggi.

Universitas Kristen Krida Wacana 81


Gambar 4.10 Grafik Hubungan Limbah Beton Dengan VMA

Gambar grafiik 4.10 merupakan grafik antara hubungan nilai VMA (rongga

antara butir) terhadap masing-masing kadar limbah beton mutu rendah, limbah

beton mutu normal dan limbah beton mutu tinggi. Grafik menunjukkan bahwa nilai

VMA cenderung naik-turun dan bervariasi. Nilai VMA campuran aspal dengan

limbah beton yang memenuhi persyaratan Bina Marga minimal 14% terdapat pada

kadar limbah beton mutu rendah (LBMR) kadar 25% sebesar 14,32%, kadar limbah

beton mutu rendah (LBMR) kadar 50% sebesar 14,30%, kadar limbah beton mutu

rendah (LBMR) kadar 75% Sebesar 14,48%, kadar limbah beton mutu rendah

(LBMR) kadar 100% sebesar 14,27%, kadar limbah beton mutu normal (LBMN)

kadar 25% sebesar 14,79%, kadar limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 50%

sebesar 14,48% kadar limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 75% sebesar

14,32%, LBMN 100% sebesar 14,71%, kadar limbah beton mutu normal (LBMN)

kadar 50% sebesar 14,35%, limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 75% sebesar

14,38% dan limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 100% sebesar 14,18%.

Semakin kecil nilai VMA atau rongga antara butir pada campuran aspal dan limbah

Universitas Kristen Krida Wacana 82


beton maka campuran tersebut akan kedap air. Hal ini nantinya akan menyebabkan

campuran aspal dan limbah beton akan rapuh dan ketas.

Gambar 4.11 Grafik Hubungan Limbah Beton Dengan VFA

Gambar grafik 4.11 merupakan grafik hubungan antara nilai VFA (rongga

terisi aspal) terhadap masing-masing kadar limbah beton mutu rendah, limbah

beton mutu normal dan limbah beton mutu tinggi. Grafik menunjukkan bahwa nilai

VFA cenderung naik-turun dan bervariasi. Nilai VFA campuran aspal dengan

limbah beton yang memenuhi persyaratan Bina Marga minimal 14% terdapat pada

kadar limbah beton mutu rendah (LBMR) kadar 75% Sebesar 65,89%, limbah

beton mutu normal (LBMN) kadar 75% sebesar 66,80%, limbah beton mutu normal

(LBMN) kadar 100% sebesar 66,18%, limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar

50% sebesar 65,65% dan limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 75% sebesar

65,61%.

Universitas Kristen Krida Wacana 83


Gambar 4.12 Grafik Hubungan Limbah Beton Dengan Stability

Gambar grafik 4.12 merupakan grafik antara hubungan nilai stabilitas

terhadap masing-masing kadar limbah beton mutu rendah, limbah beton mutu

normal dan limbah beton mutu tinggi. Nilai Stability campuran aspal dengan limbah

beton yang memenuhi persyaratan Bina Marga minimal 800 kg terdapat pada kadar

kadar limbah beton mutu rendah (LBMR) kadar 25% sebesar 823,23 kg, kadar

limbah beton mutu rendah (LBMR) kadar 50% sebesar 847,77 kg, kadar limbah

beton mutu rendah (LBMR) kadar 75% sebesar 966,81 kg, kadar limbah beton mutu

rendah (LBMR) kadar 100% sebesar 934,88 kg, limbah beton mutu normal

(LBMN) kadar 25% sebesar 904,81 kg, limbah beton mutu normal (LBMN) kadar

50% sebesar 950,62 kg, limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 75% sebesar

969,21 kg, limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 100% sebesar 1030,65 kg,

limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 25% sebesar 1013,48 kg, limbah beton

mutu tinggi (LBMT) kadar 50% sebesar 1038,56 kg, limbah beton mutu tinggi

(LBMT) kadar 75% sebesar 1107,10 kg dan limbah beton mutu tinggi (LBMT)

kadar 100% sebesar 1160,26 kg.

Universitas Kristen Krida Wacana 84


Gambar 4.13 Grafik Hubungan Limbah Beton Dengan Flow

Gambar grafik 4.13 merupakan grafik hubungan nilai flow terhadap masing-

masing kadar limbah beton mutu rendah, limbah beton mutu normal dan limbah

beton mutu tinggi. Grafik menunjukkan bahwa nilai flow cenderung naik-turun dan

bervariasi. Nilai flow campuran aspal dengan limbah beton yang memenuhi

persyaratan Bina Marga dengan rentang 2 – 4 mm terdapat pada kadar limbah beton

mutu rendah (LBMR) kadar 25% sebesar 3,60 mm, limbah beton mutu rendah

(LBMR) kadar 50% sebesar 3,67 mm, limbah beton mutu rendah (LBMR) kadar

75% sebesar 3,77 mm, limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 25% sebesar 3,73

mm, limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 50% sebesar 3,87 mm, limbah beton

mutu normal (LBMN) kadar 75% sebesar 3,93 mm, limbah beton mutu normal

(LBMN) kadar 100% sebesar 3,93 mm, limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar

25% sebesar 3,80 mm, limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 50% sebesar 3,90

mm, limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 75% sebesar 3,93 mm dan limbah

beton mutu tinggi (LBMT) kadar 100% sebesar 3,97 mm. Nilai flow yang semakin

tinggi akan menyebabkan deformasi terhadap campuran aspal dan limbah beton.

Universitas Kristen Krida Wacana 85


Normalkan apabila nilai flow rendah maka akan semakin kaku sehingga menjadi

mudah retak.

Gambar 4.14 Grafik Hubungan Limbah Beton Dengan MQ

Gambar grafik 4.14 merupakan hubungan antara nilai dari Marshall

Quontient (kelenturan campuran) terhadap masing-masing kadar limbah beton

mutu rendah, limbah beton mutu normal dan limbah beton mutu tinggi. Grafik

menunjukkan bahwa nilai flow cenderung naik-turun dan bervariasi. Nilai flow

campuran aspal dengan limbah beton yang memenuhi persyaratan Bina Marga

dengan rentang 2 – 4 mm terdapat pada kadar limbah beton mutu rendah (LBMR)

kadar 75% sebesar 256,68 kg/mm, limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 75%

sebesar 246,41 kg/mm, limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 100% sebesar

262,03 kg/mm, limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 25% sebesar 266,70

kg/mm, limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 50% sebesar 266,70 kg/mm,

limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 75% sebesar 281,47 kg/mm dan limbah

beton mutu tinggi (LBMT) kadar 100% sebesar 292,50 kg/mm.

Universitas Kristen Krida Wacana 86


Tabel 4.18 Rata-Rata Kadar Optimum Limbah Beton Untuk Setiap Parameter
Parameter Rata-Rata Kadar Rata-Rata Kadar Rata-Rata Kadar
Marhall LBMR (%) LBMN (%) LBMT (%)
VIM 75,00 87,50 50,00
VMA 62,50 62,50 75,00
VFA 75,00 87,50 62,50
Stability 62,50 62,50 62,50
Flow 50,00 62,50 62,50
MQ 75,00 100,00 62,50
KAO 66,67 77,08 62,50

Gambar 4.15 Grafik LBMR Optimum


Gambar 4.15 merupakan rata-rata kadar optimum untuk nilai VIM, VMA, VFA,

Stability, Flow, dan MQ untuk campuran aspal dengan limbah beton mutu rendah

(LBMR). Hasil rata-rata kadar optimum tiap nilai parameter tersebut kemudian

dirata-ratakan lagi dan didapatkan nilai kadar aspal optimum LBMR sebesar

66,67%. Nilai tersebut akan digunakan sebagai kadar LBMR optimum untuk

campuran aspal dengan limbah beton pada laston lapis pengikat (AC-BC).

Universitas Kristen Krida Wacana 87


Gambar 4.16 Grafik LBMN Optimum
Gambar 4.16 merupakan rata-rata kadar optimum untuk nilai VIM, VMA, VFA,

Stability, Flow, dan MQ untuk campuran aspal dengan limbah beton mutu normal

(LBMN). Hasil rata-rata kadar optimum tiap nilai parameter tersebut kemudian

dirata-ratakan lagi dan didapatkan nilai kadar aspal optimum LBMN sebesar

77,08%. Nilai tersebut akan digunakan sebagai kadar LBMN optimum untuk

campuran aspal dengan limbah beton pada laston lapis pengikat (AC-BC).

Gambar 4.17 Grafik LBMT Optimum

Universitas Kristen Krida Wacana 88


Gambar 4.17 merupakan rata-rata kadar optimum untuk nilai VIM, VMA, VFA,

Stability, Flow, dan MQ untuk campuran aspal dengan limbah beton mutu Tinggi

(LBMT). Hasil rata-rata kadar optimum tiap nilai parameter tersebut kemudian

dirata-ratakan lagi dan didapatkan nilai kadar aspal optimum LBMT sebesar

60,25%. Nilai tersebut akan digunakan sebagai kadar LBMT optimum untuk

campuran aspal dengan limbah beton pada laston lapis pengikat (AC-BC).

Gambar 4.18 Grafik Analisis Regresi VIM


Berdasarkan analisis regresi linier pada nilai rongga dalam campuran, didapatkan

persamaan linier untuk LBMR dengan koefisien X negatif. Hal ini membuktikan

bahwa semakin meningkatnya presentase kadar LBMR dalam komposisi campuran

akan menurukan nilai rongga. Berdasarkan analisis regresi pada nilai rongga dalam

campuran diperoleh koefisien determinasi (R2) = 0,5586 ini menunjukkan pengaruh

variabel bebas LBMR terhadap rongga campuran dengan pengaruh sebesar

55,86%. Untuk LBMN dengan koefisien X negatif, hal ini membuktikan bahwa

semakin meningkatnya presentase kadar LBMN dalam komposisi campuran akan

menurukan nilai rongga. Berdasarkan analisis regresi pada nilai rongga dalam

campuran diperoleh koefisien determinasi (R2) = 0,7518 ini menunjukkan pengaruh


Universitas Kristen Krida Wacana 89
variabel bebas LBMN terhadap rongga campuran dengan pengaruh sebesar

75,18%. Normalkan Untuk LBMT dengan koefisien X positif, hal ini membuktikan

bahwa semakin meningkatnya presentase kadar LBMT dalam komposisi campuran

akan meningkatkan nilai rongga. Berdasarkan analisis regresi pada nilai rongga

dalam campuran diperoleh koefisien determinasi (R2) = 0,759 ini menunjukkan

pengaruh variabel bebas LBMT terhadap rongga campuran dengan pengaruh

sebesar 75,9%.

Gambar 4.19 Grafik Analisis Regresi VMA


Berdasarkan analisis regresi linier pada nilai rongga dalam antar agregat,

didapatkan persamaan linier untuk LBMR dengan koefisien X positif. Hal ini

membuktikan bahwa semakin meningkatnya presentase kadar LBMR dalam

komposisi campuran akan meningkatkan nilai rongga antar agregat. Berdasarkan

analisis regresi pada nilai rongga dalam campuran diperoleh koefisien determinasi

(R2) = 0,0015 ini menunjukkan pengaruh variabel bebas LBMR terhadap rongga

antar agregat dengan pengaruh sebesar 0,15%. Untuk LBMN dengan koefisien X

positif, hal ini membuktikan bahwa semakin meningkatnya presentase kadar

LBMN dalam komposisi campuran akan meningkatkan nilai rongga antar agregat.

Universitas Kristen Krida Wacana 90


Berdasarkan analisis regresi pada nilai rongga dalam campuran diperoleh koefisien

determinasi (R2) = 0,0539 ini menunjukkan pengaruh variabel bebas LBMN

terhadap rongga antar agregat dengan pengaruh sebesar 5,39%. Normalkan Untuk

LBMT dengan koefisien X positif, hal ini membuktikan bahwa semakin

meningkatnya presentase kadar LBMT dalam komposisi campuran akan

meningkatkan nilai rongga antar agregat. Berdasarkan analisis regresi pada nilai

rongga dalam campuran diperoleh koefisien determinasi (R2) = 0,4642 ini

menunjukkan pengaruh variabel bebas LBMT terhadap rongga campuran antar

agregat dengan pengaruh sebesar 46,42%.

Gambar 4.20 Grafik Analisis Regresi VFA


Berdasarkan analisis regresi linier pada nilai rongga antar campuran aspal,

didapatkan persamaan linier untuk LBMR dengan koefisien X positif. Hal ini

membuktikan bahwa semakin meningkatnya presentase kadar LBMR dalam

komposisi campuran akan meningkatkan nilai rongga antar campuran aspal.

Berdasarkan analisis regresi pada nilai rongga dalam campuran diperoleh koefisien

determinasi (R2) = 0,5056 ini menunjukkan pengaruh variabel bebas LBMR

terhadap rongga campuran dengan pengaruh sebesar 50,56%. Untuk LBMN dengan

Universitas Kristen Krida Wacana 91


koefisien X positif, hal ini membuktikan bahwa semakin meningkatnya presentase

kadar LBMN dalam komposisi campuran akan meningkatkan nilai rongga antar

campuran aspal. Berdasarkan analisis regresi pada nilai rongga dalam campuran

diperoleh koefisien determinasi (R2) = 0,8174 ini menunjukkan pengaruh variabel

bebas LBMN terhadap rongga campuran dengan pengaruh sebesar 81,74%.

Normalkan Untuk LBMT dengan koefisien X negatif, hal ini membuktikan bahwa

semakin meningkatnya presentase kadar LBMT dalam komposisi campuran akan

meningkatkan nilai rongga antar campuran aspal. Berdasarkan analisis regresi pada

nilai rongga dalam campuran diperoleh koefisien determinasi (R2) = 0,2783 ini

menunjukkan pengaruh variabel bebas LBMT terhadap rongga antar campuran

aspal dengan pengaruh sebesar 27,83%.

Gambar 4.21 Grafik Analisis Regresi Stability


Berdasarkan analisis regresi linier pada nilai kekuatan campuran, didapatkan

persamaan linier untuk LBMR dengan koefisien X positif. Hal ini membuktikan

bahwa semakin meningkatnya presentase kadar LBMR dalam komposisi campuran

akan meningkatkan nilai kekuatan. Berdasarkan analisis regresi pada nilai rongga

dalam campuran diperoleh koefisien determinasi (R2) = 0,7465 ini menunjukkan

Universitas Kristen Krida Wacana 92


pengaruh variabel bebas LBMR terhadap kekuatan dengan pengaruh sebesar

74,65%. Untuk LBMN dengan koefisien X positif, hal ini membuktikan bahwa

semakin meningkatnya presentase kadar LBMN dalam komposisi campuran akan

menurukan nilai kekuatan. Berdasarkan analisis regresi pada nilai kekuatan dalam

campuran diperoleh koefisien determinasi (R2) = 0,9624 ini menunjukkan pengaruh

variabel bebas LBMN terhadap kekuatan campuran dengan pengaruh sebesar

96,24%. Normalkan Untuk LBMT dengan koefisien X positif, hal ini membuktikan

bahwa semakin meningkatnya presentase kadar LBMT dalam komposisi campuran

akan meningkatkan nilai kekuatan Berdasarkan analisis regresi pada nilai kekuatan

dalam campuran diperoleh koefisien determinasi (R2) = 0,759 ini menunjukkan

pengaruh variabel bebas LBMT terhadap kekuatan campuran dengan pengaruh

sebesar 75,9%.

Gambar 4.22 Grafik Analisis Regresi Flow


Berdasarkan analisis regresi linier pada nilai kelelehan, didapatkan persamaan linier

untuk LBMR dengan koefisien X positif. Hal ini membuktikan bahwa semakin

meningkatnya presentase kadar LBMR dalam komposisi campuran akan

menurukan nilai kelelehan. Berdasarkan analisis regresi pada nilai kelelehan dalam

Universitas Kristen Krida Wacana 93


campuran diperoleh koefisien determinasi (R2) = 0,9 ini menunjukkan pengaruh

variabel bebas LBMR terhadap kelelehan campuran dengan pengaruh sebesar 90%.

Untuk LBMN dengan koefisien X positif, hal ini membuktikan bahwa semakin

meningkatnya presentase kadar LBMN dalam komposisi campuran akan

meningkatkan nilai kelelehan. Berdasarkan analisis regresi pada nilai kelelehan

dalam campuran diperoleh koefisien determinasi (R2) = 0,8333 ini menunjukkan

pengaruh variabel bebas LBMN terhadap kekuatan campuran dengan pengaruh

sebesar 83,33%. Normalkan Untuk LBMT dengan koefisien X positif, hal ini

membuktikan bahwa semakin meningkatnya presentase kadar LBMT dalam

komposisi campuran akan meningkatkan nilai rongga. Berdasarkan analisis regresi

pada nilai rongga dalam campuran diperoleh koefisien determinasi (R2) = 0,759 ini

menunjukkan pengaruh variabel bebas LBMT terhadap rongga campuran dengan

pengaruh sebesar 75,9%.

Gambar 4.23 Grafik Analisis Regresi MQ


Berdasarkan analisis regresi linier pada nilai rasio kekuatan dan kelelehan

campuran, didapatkan persamaan linier untuk LBMR dengan koefisien X positif.

Hal ini membuktikan bahwa semakin meningkatnya presentase kadar LBMR dalam

Universitas Kristen Krida Wacana 94


komposisi campuran akan meningkatkan nilai rasio kekuatan dan kelelehan.

Berdasarkan analisis regresi pada nilai rasio kekuatan dan kelelehan dalam

campuran diperoleh koefisien determinasi (R2) = 0,0799 ini menunjukkan pengaruh

variabel bebas LBMR terhadap rongga campuran dengan pengaruh sebesar 7,99%.

Untuk LBMN dengan koefisien X positif, hal ini membuktikan bahwa semakin

meningkatnya presentase kadar LBMN dalam komposisi campuran akan

meningkatan nilai rasio kekutan dan kelelehan. Berdasarkan analisis regresi pada

nilai rongga dalam campuran diperoleh koefisien determinasi (R2) = 0,7701 ini

menunjukkan pengaruh variabel bebas LBMN terhadap rasio kekuatan kelelehan

campuran dengan pengaruh sebesar 77,01%. Normalkan Untuk LBMT dengan

koefisien X positif, hal ini membuktikan bahwa semakin meningkatnya presentase

kadar LBMT dalam komposisi campuran akan meningkatkan nilai rasio kekuatan

dan kelelehan. Berdasarkan analisis regresi pada nilai rongga dalam campuran

diperoleh koefisien determinasi (R2) = 0,8915 ini menunjukkan pengaruh variabel

bebas LBMT terhadap rasio kekuatan dan kelelehan campuran dengan pengaruh

sebesar 89,15%.

4.1.1 Hasil Statistik Deskriftif Campuran Aspal dengan Limbah Beton

Tabel dibawah merupakan tabel analisis statistik deskriftif untuk mendapatkan hasil

lebih spesifik. Hasil pengujian setiap parameter Marshall kemudian dirata-ratakan

sehingga dapat dibandingkan untuk setiap kadar limbah beton. Nilai minimum

maksimum juga dicantumkan untuk mendapatkan nilai standar deviasi dari hasil

pengujian setiap kadar limbah beton. Hasil analisis statistik deskriftif dapat dilihat

pada masing-masing tabel untuk setiap kadar masing-masing limbah beton.

Universitas Kristen Krida Wacana 95


Tabel 4.19 Hasil Statistik Deskriftif
Kadar Limbah LBMR LBMN LBMT
Parameter N
Beton Min. Maks. Mean S. Deviasi Min. Maks. Mean S. Deviasi Min. Maks. Mean S. Deviasi
VIM (%) 3 5,49 5,91 5,63 0,25 6,30 6,38 6,36 0,05 4,67 4,78 4,81 0,13
VMA (%) 3 14,19 14,58 14,32 0,22 14,74 14,81 14,79 0,04 13,13 14,22 13,25 0,12
VFA (%) 3 61,34 59,44 60,71 1,10 56,90 56,90 57,01 0,19 63,13 65,08 63,72 0,66
25%
Stability (kg) 3 815,32 828,06 823,23 6,91 892,70 916,27 904,81 11,80 1005,35 1019,15 1013,48 7,22
Flow (mm) 3 3,40 3,80 3,60 0,20 3,60 3,80 3,73 0,12 3,00 4,60 3,80 0,80
MQ (kg/mm) 3 217,91 243,03 228,68 12,77 238,28 247,97 242,36 4,98 218,55 218,55 266,70 60,34
VIM (%) 3 5,05 5,31 5,16 0,13 5,06 5,74 5,37 0,35 4,78 5,05 4,93 0,14
VMA (%) 3 14,19 14,27 14,30 0,12 14,19 14,81 14,48 0,31 14,22 14,46 14,35 0,12
VFA (%) 3 63,21 64,41 63,88 0,61 61,25 64,38 62,94 1,58 65,08 66,37 65,65 0,66
50%
Stability (kg) 3 867,19 879,95 874,77 6,71 945,70 958,48 950,62 6,88 1028,63 1043,53 1038,56 8,60
Universitas Kristen Krida Wacana 96

Flow (mm) 3 3,40 4,00 3,67 0,31 3,60 4,00 3,87 0,23 3,80 4,00 3,90 0,10
MQ (kg/mm) 3 219,29 255,06 238,57 18,37 236,92 262,69 245,85 14,17 260,88 270,69 266,30 5,01
VIM (%) 3 4,80 5,05 4,94 0,13 4,44 5,22 4,76 0,41 4,87 5,05 4,96 0,09
VMA (%) 3 14,35 14,58 14,48 0,12 14,04 14,74 14,32 0,37 14,30 14,46 14,38 0,08
VFA (%) 3 65,35 66,58 65,89 0,63 64,57 68,36 66,80 1,98 65,10 65,94 65,51 0,42
75%
Stability (kg) 3 956,46 977,83 966,81 10,70 958,48 981,97 969,21 1188 1102,48 1116,34 1107,10 8,00
Flow (mm) 3 3,60 4,00 3,77 0,21 3,80 4,00 3,93 0,12 3,80 4,00 3,93 0,12
MQ (kg/mm) 3 244,46 265,68 256,68 11,17 239,62 258,41 246,41 10,28 275,62 293,77 281,47 10,48
VIM (%) 3 5,06 5,31 5,14 0,15 4,83 5,26 4,98 0,25 5,40 5,83 5,60 0,21
VMA (%) 3 14,19 14,43 14,27 0,13 14,58 14,97 14,71 0,22 14,00 14,38 14,18 0,19
VFA (%) 3 63,18 64,38 63,98 0,69 64,84 66,86 66,18 1,16 59,49 61,41 60,50 0,97
100%
Stability (kg) 3 930,96 942,72 934,88 6,79 1026,45 1032,98 1030,65 3,64 1142,92 1169,55 1160,26 15,03
Flow (mm) 3 4,00 4,10 4,03 0,06 3,80 4,00 3,93 0,12 3,90 4,00 3,97 0,06
MQ (kg/mm) 3 227,06 235,68 231,79 4,38 256,61 271,84 262,03 8,39 292,08 293,06 292,50 0,50
Universitas Kristen Krida Wacana 96
4.1.2 Analisis Perbandingan

Setelah diperoleh hasil pengujian campuran aspal dengan variasi limbah beton dan

didapatkan setiap nilai parameter Marshall. Nilai parameter tersebut kemudian

dibandingkan terhadap aspal normal (KAO), untuk mengetahui seberapa pengaruh

penggunaan limbah beton terhadap campuran aspal dalam bentuk persentase

persen. Dari analisa perbandingan tersebut akan didapat nilai kadar limbah beton

yang paling efisien. Hasil perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar grafik

4.18 - 4.24.

Gambar 4.24 Grafik Persentase Nilai VIM

Gambar 4.24 menunjukkan bahwa nilai persen VIM untuk setiap campuran

aspal setelah menggunakan limbah beton cenderung naik-turun (bervariasi). Untuk

limbah beton mutu rendah (LBMR) kadar 25% naik sebesar 15,92%, limbah beton

mutu rendah (LBMR) kadar 50% naik sebesar 6,33%, limbah beton mutu rendah

(LBMR) kadar 75% naik sebesar 1,72%, limbah beton mutu rendah (LBMR) kadar

100% naik sebesar 5,86%. Limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 25% naik

sebesar 30,91%, LBMN 50% naik sebesar 10,55%, limbah beton mutu normal
Universitas Kristen Krida Wacana 97
(LBMN) kadar turun sebesar 1,99%, limbah beton mutu normal (LBMN) kadar

naik sebesar 2,47%. Limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 25% turun sebesar

0,99%, limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 50% naik sebesar 1,49%, limbah

beton mutu tinggi (LBMT) kadar 75% naik sebesar 2,14% dan limbah beton mutu

tinggi (LBMT) kadar 100% naik sebesar 15,33%. Semakin tinggi nilai VIM maka

rongga dalam campuran dalam campuran aspal dan limbah beton akan semakin

besar, sebaliknya semakin rendah nilai VIM maka rongga dalam campuran pada

campuran aspal dan limbah beton akan semakin kecil. Kenaikan nilai rongga dalam

campuran setelah menggunakan limbah beton disebabkan oleh besarnya rongga

dalam limbah beton apabila dibandingkan dengan agregat alami. Hal ini juga

dibuktikan lebih besarnya nilai penyerapan limbah beton dibandingkan agregat

kasar. Nilai rongga dalam campuran (VIM) nantinya akan mempengaruhi keawetan

dalam campuran aspal dengan limbah beton, dimana semakin besar rongga dalam

campuran aspal, perkerasan jalan nantinya tidak kedap terhadap air. Hal tersebut

berpengaruh terhadap kinerja dan umur layanan suatu jalan.

Gambar 4.25 Grafik Persentase Nilai VMA

Universitas Kristen Krida Wacana 98


Gambar 4.25 menunjukkan bahwa nilai persen VIM untuk setiap campuran

aspal setelah menggunakan limbah beton cenderung naik-turun (bervariasi). Untuk

limbah beton mutu rendah (LBMR) kadar 25% turun sebesar 21,30%, limbah beton

mutu rendah (LBMR) kadar 50% turun sebesar 21,45%, limbah beton mutu rendah

(LBMR) kadar 75% turun sebesar 20,43%, limbah beton mutu rendah (LBMR)

kadar 100% turun sebesar 21,58%. Limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 25%

turun sebesar 18,75%, limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 50% turun sebesar

20,45%, limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 75% turun sebesar 21,30%,

limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 100% naik sebesar 19,17%. Limbah

beton mutu tinggi (LBMT) kadar 25% turun sebesar 27,18%, limbah beton mutu

tinggi (LBMT) kadar 50% turun sebesar 20,45%, limbah beton mutu tinggi

(LBMT) kadar 75% turun sebesar 20,98% dan limbah beton mutu tinggi (LBMT)

kadar 100% naik sebesar 22,09%. Semakin tinggi nilai VMA maka rongga antar

butir dalam campuran aspal dan limbah beton akan semakin besar, sebaliknya

semakin rendah nilai VMA maka rongga antar butir pada campuran aspal dan

limbah beton akan semakin kecil. Kenaikan nilai rongga antar agregat dalam

campuran setelah menggunakan limbah beton disebabkan oleh besarnya rongga

dalam limbah beton apabila dibandingkan dengan agregat alami. Hal ini juga

dibuktikan lebih besarnya nilai penyerapan limbah beton dibandingkan agregat

kasar. Nilai rongga antar butir (VMA) nantinya akan mempengaruhi keawetan

dalam campuran aspal dengan limbah beton, dimana semakin besar rongga antar

butir, perkerasan jalan nantinya tidak kedap terhadap air. Hal tersebut berpengaruh

terhadap kinerja dan umur layanan suatu jalan.

Universitas Kristen Krida Wacana 99


Gambar 4.26 Grafik Persentase Nilai VFA

Gambar 4.26 menunjukkan bahwa nilai persen VFA untuk setiap campuran

aspal setelah menggunakan limbah beton cenderung naik-turun (bervariasi). Untuk

limbah beton mutu rendah (LBMR) kadar 25% turun sebesar 17,23%, limbah beton

mutu rendah (LBMR) kadar 50% turun sebesar 12,91%, limbah beton mutu rendah

(LBMR) kadar 75% turun sebesar 10,17%, limbah beton mutu rendah (LBMR)

kadar 100% turun sebesar 12,78%. Limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 25%

turun sebesar 22,28%, limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 50% turun sebesar

14,20%, limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 75% turun sebesar 8,93%,

limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 100% turun sebesar 9,77%. Limbah

beton mutu tinggi (LBMT) kadar 25% turun sebesar 13,13%, limbah beton mutu

tinggi (LBMT) kadar 50% turun sebesar 10,49%, limbah beton mutu tinggi

(LBMT) 75% turun sebesar 10,69% dan limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar

100% turun sebesar 17,51%. Semakin tinggi nilai VIM maka rongga terisi aspal

dan limbah beton akan semakin besar, sebaliknya semakin rendah nilai VFA maka

rongga terisi aspal pada campuran aspal dan limbah beton akan semakin kecil. Nilai

rongga terisi aspal (VFA) nantinya akan mempengaruhi keawetan dalam campuran
Universitas Kristen Krida Wacana 100
aspal dengan limbah beton, dimana semakin besar rongga terisi aspal, perkerasan

jalan nantinya tidak kedap terhadap air. Hal tersebut berpengaruh terhadap kinerja

dan umur layanan suatu jalan.

Gambar 4.27 Grafik Persentase Nilai Stability

Gambar 4.27 menunjukkan bahwa nilai persen stabilitas untuk setiap

campuran aspal setelah menggunakan limbah beton cenderung naik-turun

(bervariasi). Untuk limbah beton mutu rendah (LBMR) kadar 25% turun sebesar

19,05%, limbah beton mutu rendah (LBMR) kadar 50% turun sebesar 13,98%,

limbah beton mutu rendah (LBMR) kadar 75% turun sebesar 4,93%, limbah beton

mutu rendah (LBMR) kadar 100% turun sebesar 8,07%. Limbah beton mutu normal

(LBMN) kadar 25% turun sebesar 11,03%, Limbah beton mutu normal (LBMN)

kadar 50% turun sebesar 6,52%, Limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 75%

turun sebesar 4,69%, Limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 100% naik sebesar

1,35%. Limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 25% turun sebesar 0,34%, limbah

beton mutu tinggi (LBMT) kadar 50% naik sebesar 2,13%, limbah beton mutu

tinggi (LBMT) kadar 75% naik sebesar 8,87% dan limbah beton mutu tinggi
Universitas Kristen Krida Wacana 101
(LBMT) kadar 100% naik sebesar 14,09%. Dari perbandingan tersebut diketahui

bahwa kadar yang paling efisien adalah nilai kadar 100% limbah beton karena nilai

stabilitasnya merupakan yang paling optimum. Nilai stability limbah beton lebih

tinggi dibandingkan dengan agregat biasa, disebabkan nilai keausan limbah beton

lebih besar. Nilai stabilitas ini nantinya akan mengurangi material sehingga

berdampak terhadap biaya konstruksi perkerasan jalan secara menyeluruh. Dimana

semakin tinggi nilai stabilitas maka ketebalan pada lapisan aspal akan semakin tipis

sehingga material berkurang dan mengurangi biaya konstruksi.

Gambar 4.28 Grafik Persentase Nilai Flow

Gambar 4.28 menunjukkan bahwa nilai persen flow untuk setiap campuran

aspal setelah menggunakan limbah beton naik seiring bertambahnya kadar limbah

beton. Hal ini dipengruhi oleh faktor campuran limbah beton ataupun suhu. Untuk

limbah beton mutu rendah (LBMR) kadar 25% turun sebesar 8,09%, limbah beton

mutu rendah (LBMR) kadar 50% turun sebesar 6,38%, limbah beton mutu rendah

(LBMR) kadar 75% turun sebesar 3,83%, limbah beton mutu rendah (LBMR) kadar

100% naik sebesar 2,98%. Limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 25% turun
Universitas Kristen Krida Wacana 102
sebesar 4,68%, Limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 50% turun sebesar

1,28%, Limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 75% naik sebesar 0,43%,

Limbah beton mutu normal (LBMN) kadar naik sebesar 0,43%. limbah beton mutu

tinggi (LBMT) kadar 25% turun sebesar 2,98%, limbah beton mutu tinggi (LBMT)

kadar 50% turun sebesar 0,43%, limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 75% naik

sebesar 0,43% dan limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 100% naik sebesar

1,28%. Nilai kelelehan (flow) pada campuran aspal ini meningkat sedikit

dibandingkan dari campuran aspal normal (KAO), hal ini diproteksi akan

meningkatkan sedikit kelenturan dalam campuran aspal sehingga tidak rentan

terhadap keretakan.

Gambar 4.29 Grafik Persentase Nilai MQ

Gambar 4.29 menunjukkan bahwa nilai persen MQ untuk setiap campuran

aspal setelah menggunakan limbah beton menurun seiring bertambahnya kadar

limbah beton. Pada umumnya nilai MQ merupakan nilai yang sering ditinjau pada

saat pelaksanaan pekerjaan dilapangan. Nilai MQ ini merupakan perbandingan nilai

kekuatan (stability) dan kelelehan (flow) apabila salah satu dari nilai parameter ini

Universitas Kristen Krida Wacana 103


tidak memenuhi persyaratan maka nilai MQ juga pasti tidak memenuhi. Dari

perbandingan kadar limbah beton dengan campuran aspal normal limbah beton

mutu rendah (LBMR) kadar 25% turun sebesar 11,90%, limbah beton mutu rendah

(LBMR) kadar 50% turun sebesar 8,08%, limbah beton mutu rendah (LBMR) kadar

75% turun sebesar 1,11%, limbah beton mutu rendah (LBMR) kadar 100% turun

sebesar 10,70%. Limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 25% turun sebesar

6,63%, limbah beton mutu normal (LBMN) kadar 50% turun sebesar 5,28%, limbah

beton mutu normal (LBMN) kadar 75% turun sebesar 5,07%, limbah beton mutu

normal (LBMN) kadar 100% naik sebesar 0,95%. Limbah beton mutu tinggi

(LBMT) kadar 25% naik sebesar 2,75%, limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar

50% naik sebesar 2,60%, limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 75% naik

sebesar 8,44% dan limbah beton mutu tinggi (LBMT) kadar 100% naik sebesar

12,69%. Dari semua nilai MQ untuk campuran aspal dan limbah beton cenderung

menurun ini nantinya akan mempengaruhi lapisan perkerasan jalan. Semakin

rendah nilai MQ maka lapisan perkerasan akan semakin flexible sebaliknya

semakin tinggi nilai MQ maka kemungkinan akan semakin kaku lapis perkerasan

dan akan rentan terhadap keretakan.

Universitas Kristen Krida Wacana 104