Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hipertensi pada kehamilan adalah penyakit yang sudah umum dan


merupakan salah satu dari tiga rangkaian penyakit yang mematikan, selain
perdarahan dan infeksi, dan juga banyak memberikan kontribusi pada morbiditas
dan mortalitas ibu hamil. Pada tahun 2001, menurut National Center for Health
Statistics, hipertensi gestasional telah diidentifikasi pada 150.000 wanita, atau
3,7% kehamilan. Selain itu, Berg dan kawan-kawan (2003) melaporkan bahwa
hampir 16% dari 3.201 kematian yang berhubungan dengan kehamilan di
Amerika Serikat dari tahun 1991 - 1997 adalah akibat dari komplikasi-komplikasi
hipertensi yang berhubungan dengan kehamila.

Meskipun telah dilakukan penelitian yang intensif selama beberapa


dekade,hipertensi yang dapat menyebabkan atau
memperburuk kehamilan tetap menjadi masalah yang belum terpecahkan. Secara
umum, preeklamsi merupakan suatu hipertensi yang disertai dengan proteinuria
yang terjadi pada kehamilan. Penyakit ini umumnya timbul setelah minggu ke-20
usia kehamilan dan paling sering terjadi pada primigravida. Jika timbul pada
multigravida biasanya ada faktor predisposisi seperti kehamilan ganda, diabetes
mellitus, obesitas, umur lebih dari 35 tahun dan sebab lainnya.

Morbiditas janin dari seorang wanita penderita hipertensi dalam kehamilan


berhubungan secara langsung terhadap penurunan aliran darah efektif pada
sirkulasi uteroplasental, juga karena terjadi persalinan kurang bulan pada kasus-
kasus berat. Kematian janin diakibatkan hipoksia akut, karena sebab sekunder
terhadap solusio plasenta atau vasospasme dan diawali dengan pertumbuhan janin
terhambat (IUGR). Di negara berkembang, sekitar 25% mortalitas perinatal
diakibatkan kelainan hipertensi dalam kehamilan. Mortalitas maternal diakibatkan
adanya hipertensi berat, kejang grand mal, dan kerusakan end organ lainnya

1
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Preeklamsi

A. Pengertian

Pre-eklampsia dalam kehamilan adalah apabila dijumpai tekanan darah


140/90 mmHg setelah kehamilan 20 minggu (akhir triwulan kedua sampai
triwulan ketiga) atau bisa lebih awal terjadi.

Pre-eklampsia adalah salah satu kasus gangguan kehamilan yang bisa menjadi
penyebab kematian ibu. Kelainan ini terjadi selama masa kehamilan, persalinan,
dan masa nifas yang akan berdampak pada ibu dan bayi.

Hipertensi (tekanan darah tinggi) di dalam kehamilan terbagi atas pre-


eklampsia ringan, preklampsia berat, eklampsia, serta superimposed hipertensi
(ibu hamil yang sebelum kehamilannya sudah memiliki hipertensi dan hipertensi
berlanjut selama kehamilan). Tanda dan gejala yang terjadi serta tatalaksana yang
dilakukan masing-masing penyakit di atas tidak sama.

B. Etiologi Preeklampsia

Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Secara
teoritik urutan urutan gejala yang timbul pada preeklamsi ialah edema, hipertensi,
dan terakhir proteinuri. Sehingga bila gejala-gejala ini timbul tidak dalam urutan
diatas dapat dianggap bukan preeklamsi.

Dari gejala tersebut timbur hipertensi dan proteinuria merupakan gejala yang
paling penting. Namun, penderita serinhkali tidak merasakan perubahan ini. Bila
penderita sudah mengeluh adanya gangguan nyeri kepala, gangguan penglihatan
atau nyeri epigastrium, maka penyakit ini sudah cukup lanjut.

2
C. Faktor Risiko Preeklamsia

a) Kehamilan pertama
b) Riwayat keluarga dengan pre-eklampsia atau eklampsia
c) Pre-eklampsia pada kehamilan sebelumnya
d) Ibu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
e) Wanita dengan gangguan fungsi organ (diabetes, penyakit ginjal,
migraine, dan tekanan darah tinggi)
f) Kehamilan kembar

D. Gambaran Klinis Preeklampsia

a) Gejala subjektif

Pada preeklampsia didapatkan sakit kepala di daerah frontal, skotoma,


diplopia, penglihatan kabur, nyeri di daerah epigastrium, mual atau muntah-
muntah. Gejala-gejala ini sering ditemukan pada preeklampsia yang meningkat
dan merupakan petunjuk bahwa eklampsia akan timbul. Tekanan darah pun akan
meningkat lebih tinggi, edema dan proteinuria bertambah meningkat.

b) Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik yang dapat ditemukan meliputi; peningkatan tekanan


sistolik 30mmHg dan diastolik 15 mmHg atau tekanan darah meningkat lebih dari
140/90mmHg. Tekanan darah pada preeklampsia berat meningkat lebih dari
160/110 mmHg dan disertai kerusakan beberapa organ. Selain itu kita juga akan
menemukan takikardia, takipnu, edema paru, perubahan kesadaran, hipertensi
ensefalopati, hiperefleksia, pendarahan otak.

E. Patofisiologi Preeklampsia

Pada preeklampsia yang berat dan eklampsia dapat terjadi perburukan


patologis pada sejumlah organ dan sistem yang kemungkinan diakibatkan oleh
vasospasme dan iskemia. Wanita dengan hipertensi pada kehamilan dapat

3
mengalami peningkatan respon terhadap berbagai substansi endogen (seperti
prostaglandin, tromboxan) yang dapat menyebabkan vasospasme dan agregasi
platelet. Penumpukan trombus dan pendarahan dapat mempengaruhi sistem saraf
pusat yang ditandai dengan sakit kepala dan defisit saraf lokal dan kejang.
Nekrosis ginjal dapat menyebabkan penurunan laju filtrasi glomerulus dan
proteinuria. Kerusakan hepar dari nekrosis hepatoseluler menyebabkan nyeri
epigastrium dan peningkatan tes fungsi hati. Manifestasi terhadap kardiovaskuler
meliputi penurunan volume intravaskular, meningkatnya cardiac output dan
peningkatan tahanan pembuluh perifer. Peningkatan hemolisis microangiopati
menyebabkan anemia dan trombositopeni. Infark plasenta dan obstruksi plasenta
menyebabkan pertumbuhan janin terhambat bahkan kematian janin dalam rahim.
Perubahan pada organ-organ:

1) Perubahan kardiovaskuler.

Gangguan fungsi kardiovaskuler yang parah sering terjadi pada preeklampsia


dan eklampsia. Berbagai gangguan tersebut pada dasarnya berkaitan dengan
peningkatan afterload jantung akibat hipertensi, preload jantung yang secara nyata
dipengaruhi oleh berkurangnya secara patologis hipervolemia kehamilan atau
yang secara iatrogenik ditingkatkan oleh larutan onkotik atau kristaloid intravena,
dan aktivasi endotel disertai ekstravasasi ke dalam ruang ektravaskular terutama
paru.

2) Metabolisme air dan elektrolit

Hemokonsentrasi yang menyerupai preeklampsia dan eklampsia tidak


diketahui penyebabnya. Jumlah air dan natrium dalam tubuh lebih banyak pada
penderita preeklampsia dan eklampsia daripada pada wanita hamil biasa atau
penderita dengan hipertensi kronik. Penderita preeklampsia tidak dapat
mengeluarkan dengan sempurna air dan garam yang diberikan. Hal ini disebabkan
oleh filtrasi glomerulus menurun, sedangkan penyerapan kembali tubulus tidak
berubah. Elektrolit, kristaloid, dan protein tidak menunjukkan perubahan yang

4
nyata pada preeklampsia. Konsentrasi kalium, natrium, dan klorida dalam serum
biasanya dalam batas normal

3) Mata

Dapat dijumpai adanya edema retina dan spasme pembuluh darah. Selain itu
dapat terjadi ablasio retina yang disebabkan oleh edema intra-okuler dan
merupakan salah satu indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan. Gejala lain
yang menunjukan tanda preeklampsia berat yang mengarah pada eklampsia adalah
adanya skotoma, diplopia, dan ambliopia. Hal ini disebabkan oleh adanya
perubahan preedaran darah dalam pusat penglihatan di korteks serebri atau di
dalam retina.

4) Otak

Pada penyakit yang belum berlanjut hanya ditemukan edema dan anemia pada
korteks serebri, pada keadaan yang berlanjut dapat ditemukan perdarahan.

5) Uterus

Aliran darah ke plasenta menurun dan menyebabkan gangguan pada plasenta,


sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen
terjadi gawat janin. Pada preeklampsia dan eklampsia sering terjadi peningkatan
tonus rahim dan kepekaan terhadap rangsangan, sehingga terjadi partus prematur.

6) Paru-paru

Kematian ibu pada preeklampsia dan eklampsia biasanya disebabkan oleh


edema paru yang menimbulkan dekompensasi kordis. Bisa juga karena terjadinya
aspirasi pneumonia, atau abses paru.

F. Penatalaksanaan Preeklampsia

Diagnosis dini, supervisi medikal yang ketat, waktu persalinan merupakan


persyaratan yang mutlak dalam penatalaksanaan preeklamsi. Persalinan
merupakan pengobatan yang utama. Setelah diagnosis ditegakkan,

5
penatalaksanaan selanjutnya harus berdasarkan evaluasi awal terhadap
kesejahteraan ibu dan janin. Berdasarkan hal ini, keputusan dalam
penatalaksanaan dapat ditegakkan, yaitu apakah hospitalisasi, ekspektatif atau
terminasi kehamilan serta harus memperhitungkan beratnya penyakit, keadaan ibu
dan janin, dan usia kehamilan. Tujuan utama pengambilan strategi
penatalaksanaan adalah keselamatan ibu dan kelahiran janin hidup yang tidak
memerlukan perawatan neonatal lebih lanjut dan lama.

Tanda dan gejala:

1. Hipertensi
2. Bengkak
3. Protein dalam urin
4. Kenaikan berat badan
5. Nyeri perut
6. Sakit kepala yang berat beserta mual muntah
7. Perubahan pada refleks
8. Penurunan produksi kencing atau bahkan tidak kencing sama sekali
9. Ada darah di air kencing

Penatalaksanaa pada preeklamsi dibagi berdasarkan beratnya preeklamsi, yaitu :

1. Preeklamsi ringan

Pada preeklamsi ringan, observasi ketat harus dilakukan untuk mengawasi


perjalanan penyakit karena penyakit ini dapat memburuk sewaktu-waktu. Adanya
gejala seperti sakit kepala, nyeri ulu hati, gangguan penglihatan dan proteinuri
meningkatkan risiko terjadinya eklamsi dan solusio plasenta. Pasien-pasien
dengan gejala seperti ini memerlukan observasi ketat yang dilakukan di rumah
sakit. Pasien harus diobservasi tekanan darahnya setiap 4 jam, pemeriksaan
klirens kreatinin dan protein total seminggu 2 kali, tes fungsi hati, asam urat,
elektrolit, dan serum albumin setiap minggu. Pada pasien preeklamsi berat,
pemeriksaan fungsi pembekuan seperti protrombin time, partial tromboplastin
time, fibrinogen, dan hitung trombosit. Perkiraan berat badan janin diperoleh

6
melalui USG saat masuk rumah sakit dan setiap 2 minggu. Perawatan jalan
dipertimbangkan bila ketaatan pasien baik, hipertensi ringan, dan keadaan janin
baik. Penatalaksanaan terhadap ibu meliputi observasi ketat tekanan darah, berat
badan, ekskresi protein pada urin 24 jam, dan hitung trombosit begitu pula
keadaan janin (pemeriksaan denyut jantung janin 2x seminggu).

Sebagai tambahan, ibu harus diberitahu mengenai gejala pemburukan


penyakit, seperti nyeri kepala, nyeri epigastrium, dan gangguan penglihatan. Bila
ada tanda-tanda progresi penyakit, hospitalisasi diperlukan. Pasien yang dirawat
di rumah sakit dibuat senyaman mungkin. Ada persetujuan umum tentang induksi
persalinan pada preeklamsi ringan dan keadaan servik yang matang (skor Bishop
>6) untuk menghindari komplikasi maternal dan janin. Akan tetapi ada pula yang
tidak menganjurkan penatalaksanaan preeklamsi ringan pada kehamilan muda.
Saat ini tidak ada ketentuan mengenai tirah baring, hospitalisasi yang lama,
penggunaan obat anti hipertensi dan profilaksis anti konvulsan. Tirah baring
umumnya direkomendasikan terhadap preeklamsi ringan. Keuntungan dari tirah
baring adalah mengurangi edema, peningkatan pertumbuhan janin, pencegahan ke
arah preeklamsi berat, dan meningkatkanoutcome janin.

Medikasi anti hipertensi tidak diperlukan kecuali tekanan darah melonjak


dan usia kehamilan 30 minggu atau kurang. Pemakaian sedatif dahulu digunakan,
tatapi sekarang tidak dipakai lagi karena mempengaruhi denyut jantung istirahat
janin dan karena salah satunya yaitu fenobarbital mengganggu faktor pembekuan
yang tergantung vitamin K dalam janin. Sebanyak 3 penelitian acak menunjukkan
bahwa tidak ada keuntungan tirah baring baik di rumah maupun di rumah sakit
walaupun tirah baring di rumah menurunkan lamanya waktu di rumah sakit.
Sebuah penelitian menyatakan adanya progresi penyakit ke arah eklamsi dan
persalinan prematur pada pasien yang tirah baring di rumah.

Pengamatan terhadap keadaan janin dilakukan seminggu 2 kali dengan


NST dan USG terhadap volume cairan amnion. Hasil NST non reaktif
memerlukan konfirmasi lebih lanjut dengan profil biofisik dan oksitosin challenge

7
test. Amniosentesis untuk mengetahui rasio lesitin:sfingomielin (L:S ratio) tidak
umum dilakukan karena persalinan awal akibat indikasi ibu, tetapi dapat berguna
untuk mengetahui tingkat kematangan janin. Pemberian kortikosteroid dilakukan
untuk mematangkan paru janin jika persalinan diperkirakan berlangsung 2-7 hari
lagi. Jika terdapat pemburukan penyakit preeklamsi, maka monitor terhadap janin
dilakukan secara berkelanjutan karena adanya bahaya solusio plasenta dan
insufisiensi uteroplasenter.

2. Preeklamsi berat

Tujuan penatalaksanaan pada preeklamsi berat adalah mencegah konvulsi,


mengontrol tekanan darah maternal, dan menentukan persalinan. Persalinan
merupakan terapi definitif jika preeklamsi berat terjadi di atas 36 minggu atau
terdapat tanda paru janin sudah matang atau terjadi bahaya terhadap janin. Jika
terjadi persalinan sebelum usia kehamilan 36 minggu, ibu dikirim ke rumah sakit
besar untuk mendapatkan NICU yang baik.

Pada preeklamsi berat, perjalanan penyakit dapat memburuk dengan


progresif sehingga menyebabkan pemburukan pada ibu dan janin. Oleh karena itu
persalinan segera direkomendasikan tanpa memperhatikan usia kehamilan.
Persalinan segera diindikasikan bila terdapat gejala impending eklamsi, disfungsi
multiorgan, atau gawat janin atau ketika preeklamsi terjadi sesudah usia
kehamilan 34 minggu. Pada kehamilan muda, bagaimana pun juga, penundaan
terminasi kehamilan dengan pengawasan ketat dilakukan untuk meningkatkan
keselamatan neonatal dan menurunkan morbiditas neonatal jangka pendek dan
jangka panjang.

Pada 3 penelitian klinis baru-baru ini, penatalaksanaan secara konservatif pada


wanita dengan preeklamsi berat yang belum aterm dapat menurunkan morbiditas
dan mortalitas neonatal.

Namun, karena hanya 116 wanita yang menjalani terapi konservatif pada
penelitian ini dan karena terapi seperti itu mengundang risiko bagi ibu dan janin,
penatalaksanaan konservatif hanya dikerjakan pada pusat neonatal kelas 3 dan

8
melaksanakan observasi bagi ibu dan janin. Semua wanita dengan usia kehamilan
40 minggu yang menderita preeklamsi ringan harus memulai persalinan. Pada usia
kehamilan 38 minggu, wanita dengan preeklamsi ringan dan keadaan serviks yang
sesuai harus diinduksi. Setiap wanita dengan usia kehamilan 32-34 minggu
dengan preeklamsi berat harus dipertimbangkan persalinan dan janin sebaiknya
diberi kortikosteroid. Pada pasien dengan usia kehamilan 23-32 minggu yang
menderita preeklamsi berat, persalinan dapat ditunda dalam usaha untuk
menurunkan morbiditas dan mortalitas perinatal. Jika usia kehamilan < 23
minggu, pasien harus diinduksi persalinan untuk terminasi kehamilan.

Tujuan obyektif utama penatalaksanaan wanita dengan preeklamsi berat


adalah mencegah terjadinya komplikasi serebral seperti ensefalopati dan
perdarahan. Ibu hamil harus diberikan magnesium sulfat dalam waktu 24 jam
setelah diagnosis dibuat. Tekanan darah dikontrol dengan medikasi dan pemberian
kortikosteroid untuk pematangan paru janin. Batasan terapi biasanya bertumpu
pada tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih tinggi. Beberapa ahli menganjurkan
mulai terapi pada tekanan diastolik 105 mmHg , sedangkan yang lainnya
menggunakan batasan tekanan arteri rata-rata > 125 mmHg.

Tujuan dari terapi adalah menjaga tekanan arteri rata-rata dibawah 126
mmHg (tetapi tidak lebih rendah dari 105 mmHg) dan tekanan diastolik < 105
mmHg (tetapi tidak lebih rendah dari 90 mmHg). Terapi inisial pilihan pada
wanita dengan preeklamsi berat selama peripartum adalah hidralazin secara IV
dosis 5 mg bolus. Dosis tersebut dapat diulangi bila perlu setiap 20 menit sampai
total 20 mg. Bila dengan dosis tersebut hidralazin tidak menghasilkan perbaikan
yang diinginkan, atau jika ibu mengalami efek samping seperti takikardi, sakit
kepala, atau mual, labetalol (20 mg IV) atau nifedipin (10 mg oral) dapat
diberikan. Akan tetapi adanya efek fetal distres terhadap terapi dengan hidralazin,
beberapa peneliti merekomendasikan penggunaan obat lain dalam terapi
preeklamsi berat. Pada 9 penelitian acak yang membandingkan hidralazin dengan
obat lain, hanya satu penelitian yang menyebutkan efek samping dan kegagalan
terapi lebih sering didapatkan pada hidralazin.

9
Pemberian cairan infus dianjurkan ringer laktat sebanyak 60-125 ml
perjam kecuali terdapat kehilangan cairan lewat muntah, diare, diaforesis, atau
kehilangan darah selama persalinan. Oliguri merupakan hal yang biasa terjadi
pada preeklamsi dan eklamsi dikarenakan pembuluh darah maternal mengalami
konstriksi (vasospasme) sehingga pemberian cairan dapat lebih banyak.
Pengontrolan perlu dilakukan secara rasional karena pada wanita eklamsi telah
ada cairan ekstraselular yang banyak yang tidak terbagi dengan benar antara
cairan intravaskular dan ekstravaskular. Infus dengan cairan yang banyak dapat
menambah hebat maldistribusi cairan tersebut sehingga meninggikan risiko
terjadinya edema pulmonal atau edema

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a) Tanda vital yang diukur dalam posisi terbaring atau tidur, diukur 2 kali
dengan interval 6 jam
b) Laboratorium : protein uri dengan kateter atau midstream ( biasanya
meningkat hingga 0,3 gr/lt atau +1 hingga +2 pada skala kualitatif ), kadar
hematokrit menurun, BJ urine meningkat, serum kreatini meningkat, uric
acid biasanya > 7 mg/100 ml
c) Berat badan : peningkatannya lebih dari 1 kg/minggu
d) Tingkat kesadaran ; penurunan GCS sebagai tanda adanya kelainan pada
otak

2.2 Nifas

A. Definisi masa nifas


Masa nifas adalah : 1). dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika
alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas
berlangsung kira-kira 6 minggu (Saifudin, 2002 dan Sarwono, 2002); 2). masa
pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali

10
seperti pra-hamil. Lama fase ini yaitu 6-8 minggu (Mochtar, 1998); 3). Stright
(2007) mengatakan bahwa masa nifas adalah periode setelah 6 minggu atau 40
hari setelah kelahiran, dimulai dari akhir persalinan sampai dengan kembalinya
organ-organ reproduksi ke keadaan sebelum hamil. Masa nifas ini dimulai
beberapa jam sesudah lahirnya placenta dan mencakup 6 minggu berikutnya
(Pusdiknakes-WHO-JHPIEGO, 2003).

B. Perubahan fisiologis dan psikologis pada masa nifas


Pada masa ini terjadi perubahan- perubahan fisiologi, yaitu : perubahan
fisik, involusi uterus dan pengeluaran lochea, laktasi/ pengeluaran air susu ibu,
perubahan sistim tubuh lainnya, dan perubahan psikis (Saifuddin, 2000). Terdapat
tiga proses penting pada masa nifas, yaitu : involusi, haemokonsentrasi dan proses
laktasi atau menyusui.

1. Perubahan Fisiologis
Dijumpai kejadian penting pada masa nifas, yaitu :
(a). Rahim (uterus),
Rahim adalah organ tubuh yang spesifik dan aneh, bisa mengecil dan membesar
dengan menambah dan mengurangi jumlah selnya. Uterus yang berbobot 60 gram
sebelum kehamilan secara perlahan-lahan bertambah besarnya hingga 1 kg selama
masa kehamilan, dan setelah persalinan, akan kembali pada keadaan sebelum
hamil. Ketika bayi dilahirkan maka fundus uteri setinggi pusat dengan berat uterus
1000 gram, pada akhir kala tiga persalinan tinggi fundus uteri (TFU) teraba 2 jari
di bawah pusat dengan berat uterus 750 gram, 1 minggu post partum TFU teraba
pertengahan pusat simpisis dengan berat uterus 500 gram, 2 minggu post partum
TFU tidak teraba diatas simpisis dengan berat uterus 50 gram, 6 minggu post
partum TFU bertambah kecil dengan berat uterus 50 gram (Harnawatiaj, 2007).
(b). Lochea

11
Lochea adalah : (a). cairan yang keluar dari liang atau lubang senggama
setelah bayi lahir (Krisna, 2007); (b). sekret luka yang berasal dari luka dalam
uterus terutama luka plasenta dan keluar melalui vagina; (c). Sekret yang berasal
dari cavum uteri dan vagina dalam masa nifas (Harnawatiaj, 2007).
Mula- mula cairan berwarna merah, kemudian berubah menjadi merah tua
atau merah coklat, cairan ini dapat mengandung bekuan darah kecil. Selama dua
jam pertama setelah lahir, jumlah cairan yang keluar dari uterus tidak boleh lebih
dari jumlah maksimal yang keluar selama menstruasi. Setelah waktu tersebut,
aliran locheayang keluar harus semakin berkurang (Bobak, 2005). Adapun jenis-
jenis locheaberdasarkan urutan keluarnya adalah :
(a). Lochea rubra (cruenta), terutama mengandung darah segar (seperti
darah haid) dan debris desidua serta debristrofoblastik (verniks kaseosa, lanugo,
dan mekonium atau feses janin). Hal ini menunjukkan bahwa darah nifas
berpotensi mengandung banyak kuman. Aliran menyembur, menjadi merah muda
atau coklat setelah 1- 2 hari;
(b). Lochea sanguinolenta/serosa, terdiri dari darah lama (old blood),
serum, leukosit, dan debris jaringan, berwarna kuning berisi darah dan lendir yang
terjadi sekitar hari ke-3 sampai hari ke-7. Setelah 10 hari bayi lahir, warna cairan
ini menjadi kuning sampai putih;
(c). Lochea serosa, berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi terjadi
pada hari ke 7 sampai 14 masa nifas;
(d). Lochea alba, mengandung leukosit, desidua, sel epitel, mukus, serum,
dan bakteri yang keluar setelah 2 minggu masa nifas. Lochea alba, bisa bertahan
selama dua sampai enam minggu setelah bayi lahir (Bobak, 2005). Jika cairan
yang keluar seperti nanah dan berbau busuk maka hal ini merupakan tanda-tanda
infeksi disebut lochea purulenta dan bila pengeluaran lochea tidak lancar
disebut lochiostasis.
(c). Serviks
Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Serviks menjadi lunak
segera setelah ibu melahirkan. Delapan belas jam setelah bersalin, serviks
memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat dan kembali ke bentuk semula.

12
Serviks setinggi segmen bawah uterus tetap edematosa, tipis, dan rapuh selama
beberapa hari setelah ibu melahirkan. Ectoservix (bagian serviks yang menonjol
ke vagina) terlihat memar dan ada sedikit laserasi kecil, kondisi ini merupakan
tempat yang baik untuk perkembangan infeksi.
(d). Vagina dan Perineum
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat
besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah
proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3
minggu vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil. Estrogen pada
masa nifas yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan
hilangnya rugae. Vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara
bertahap ke ukuran sebelum hamil, enam sampai delapan minggu setelah bayi
lahir. Rugae akan kembali terlihat pada sekitar minggu ke empat, walaupun tidak
akan semenonjol pada ibu yang nullipara. normal dan menstruasi dimulai
kembali.
Haemorrhoid (varises anus) umumnya terlihat. Ibu sering mengalami
gejala seperti rasa gatal, tidak nyaman dan perdarahan berwarna merah terang
pada waktu defekator. Ukuran haemorrhoid biasanya mengecil beberapa minggu
setelah bayi lahir.
(e). Sistim Endokrin
Selama periode nifas, terjadi perubahan hormon yang sangat besar,
pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan signifikan hormon- hormon yang
diproduksi oleh organ tersebut. Penurunan hormon human placental lactogen
(hPL), estrogen, dan kortisol, serta placental enzyme
insulinase membalik efek diabetogenikkehamilan, sehingga kadar gula darah
menurun secara bermakna pada masa nifas. Kadar progesteron dan estrogen
menurun secara mencolok setelah plasenta lahir, kadar terendahnya dicapai
setelah satu minggu masa nifas. Penurunan kadar estrogen berkaitan dengan
pembengkakan payudara dan diuresis cairan ekstraseluler berlebih yang
terakumulasi selama masa hamil. Pada ibu yang tidak menyusui kadar estrogen
mulai meningkat pada minggu kedua setelah melahirkan dan lebih tinggi dari ibu

13
yang menyusui pada masa nifas hari ke- 17. Waktu dimulainya ovulasi dan
menstruasi juga berbeda- beda pada ibu nifas yang satu dengan yang lainnya. Hal
ini dapat dipengaruhi oleh keputusan ibu untuk menyusui bayinya atau tidak.
(f). Abdomen
Apabila ibu berdiri di hari pertama setelah melahirkan, abdomennya akan
menonjol dan ibu tampak seolah- olah masih hamil. Dalam dua minggu setelah
melahirkan, dinding abdomen ibu akan rileks dan diperlukan sekitar enam minggu
untuk dinding abdomennya kembali pada keadaan sebelum hamil. Kulit
memperoleh kembali elastisitasnya, tetapi sejumlah kecil striae menetap.
Pengembalian tonus otot bergantung pada kondisi tonus sebelum hamil, senam
nifas, dan jumlah jaringan lemak.
(g). Sistim Urinarius
Perubahan hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang tinggi) turut
menyebabkan pengingkatan fungsi ginjal, sedangkan penurunan kadar steroid
setelah ibu melahirkan sebagian menjelaskan sebab penurunan fungsi ginjal
selama nifas. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah ibu
melahirkan. Diperlukan kira- kira dua sampai delapan minggu supaya hipotonia
pada kehamilan dan dilatasi ureter serta pelvis ginjal kembali ke keadaan sebelum
hamil. Pada sebagian kecil ibu, dilatasi traktus urinarius bisa menetap selama tiga
bulan.
Dalam 12 jam setelah bersalin, ibu mulai membuang kelebihan cairan
yang tertimbun di jaringan selama ia hamil. Salah satu mekanisme untuk
mengurangi cairan yang teretensi selama masa hamil ialah diaforesis luas,
terutama pada malam hari, selama dua sampai tiga hari pertama setelah
melahirkan. Diuresis pada masa nifas, disebabkan oleh penurunan kadar estrogen,
hilangnya peningkatan tekanan vena pada tungkai bawah, dan hilangnya
peningkatan volume darah akibat kehamilan, merupakan mekanisme lain tubuh
untuk mengatasi kelebihan cairan. Kehilangan cairan melalui keringat dan
peningkatan jumlah urine menyebabkan penurunan berat badan sekitar 2,5 kg
selama masa nifas. Pengeluran kelebihan cairan yang tertimbun selama hamil

14
kadang- kadang disebut kebalikan metabolisme air pada masa hamil (reversal of
the water metabolism of pregnancy). (Bobak, 2005).
(h). Sistim Gastro Intestinal
Ibu biasanya merasakan lapar setelah bersalin, oleh karena itu ibu boleh
mengkonsumsi makanan ringan.
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap
selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anestesia
bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal.
Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari
setelah ibu melahirkan. Hal ini dapat disebabkan karena menurunnya tonus otot
usus selama proses persalinan dan pada awal masa nifas. Ibu seringkali sudah
menduga nyeri saat defekasi akibat nyeri yang dirasakannya pada perineum akibat
episiotomi, laserasi atau haemorrhoid. Kebiasaan BAB yang teratur perlu dicapai
kembali setelah tonus usus kembali ke normal.
(i). Payudara
Konsentrasi hormon yang menstimulasi perkembangan payudara ibu
selama hamil (estrogen dan progesteron, human chorionik
gonadotropin, prolaktin, kortisol, dan insulin) menurun dengan cepat setelah bayi
lahir. Waktu yang dibutuhkan hormon- hormon ini untuk kembali ke kadar
sebelum hamil sebagian ditentukan oleh sikap ibu dalam memutuskan apakah ibu
akan menyusui bayinya atau tidak. Bagi ibu yang tidak menyusui biasanya
payudara teraba nodular (pada ibu yang tidak hamil teraba granular). Nodularitas
bersifat bilateral dan difus. ASI yang dihasilkan dalam 24 jam meningkat sejalan
dengan waktu : minggu pertama (6 sampai 10 ons); 1- 4 minggu (20 ons); setelah
4 minggu (30 ons) (Stright, 2005).
Payudara teregang (bengkak), keras, nyeri bila ditekan, dan hangat jika
diraba (kongesti pembuluh darah menimbulkan rasa hangat). Distensi payudara
terutama disebabkan oleh kongesti sementara vena dan pembuluh limfatik, bukan
akibat penimbunan air susu. Air susu dapat dikeluarkan dari puting. Jaringan
payudara di axilla (tail of spence) dan jaringan payudara atau puting tambahan
juga bisa terlibat.

15
(j). Sistim Kardiovaskuler
Setelah terjadi diuresis yang mencolok akibat penurunan kadar estrogen,
volume darah kembali kepada keadaan tidak hamil. Jumlah sel darah merah dan
hemoglobin kembali normal pada hari ke-5. Meskipun kadar estrogen mengalami
oenurunan yang sangat besar selama masa nifas, namun kadarnya masih tetap
lebih tinggi dari pada normal. Plasma darah tidak begitu mengandung cairan dan
dengan demikian daya koagulasi meningkat. Pembekuan darah harus dicegah
dengan penanganan yang cermat dan penekanan pada ambulasi dini (Harnawatiaj,
2007).
(k). Sistim Neurologi
Perubahan neurologis selama puerperium merupakan adaptasi neurologis
yang terjadi saat ibu hamil dan disebabkan trauma yang dialami ibu saat bersalin
dan melahirkan.
(l). Sistim Musculo-Scletal
Adaptasi sistim musculoscletal ibu yang terjadi selama masa hamil
berlangsung secara terbalik pada masa nifas. Adaptasi ini mencakup hal- hal yang
membantu relaksasi dan hipermobilitas sendi dan perubahan pusat berat ibu akibat
pembesaran uterus. Stabilisasi sendi lengkap pada minggu keenam sampai ke-8
setelah ibu melahirkan. Akan tetapi, walaupun semua sendi lain kembali ke
keadaan normal sebelum hamil, kaki ibu tidak mengalami perubahan setelah
melahirkan. Ibu yang baru menjadi ibu akan memerlukan sepatu yang ukurannya
lebih besar.
(m). Sistim Integumen
Chloasma yang muncul pada masa hamil biasanya menghilang saat
kehamilan berakhir. Hiperpigmentasi di areola dan linea nigra tidak menghilang
seluruhnya setelah bayi lahir. Pada beberapa ibu, pigmentasi pada daerah tersebut
akan menetap. Kulit yang meregang pada payudara, abdomen, paha, dan panggul
mungkin memudar, tetapi tidak hilang seluruhnya. Kelainan pembuluh darah
seperti spider angioma (nevi), eritema palmar, dan epulis biasanya berkurang
sebagai respons terhadap penurunan kadar estrogen setelah kehamilan berakhir.
Pada beberapa ibu spider nevi menetap. Rambut halus tumbuh dengan lebat pada

16
waktu hamil biasanya akan menghilang setelah ibu melahirkan, tetapi rambut
kasar yang timbul sewaktu hamil biasanya akan menetap. Konsistensi dan
kekuatan kuku akan kembali pada keadaan sebelum hamil.Diaforesis ialah
perubahan yang sangat jelas terlihat pada sistim integumen.
2. Perubahan Psikologis
Selain mengalami perubahan- perubahan fisiologi, ibu nifas juga
mengalami perubahan psikologis, meliputi ;
a). Periode masa nifas merupakan waktu untuk terjadi stres, terutama ibu
primipara;
b). Fungsi yang mempengaruhi untuk sukses dan lancarnya masa transisi
menjadi orang tua;
c). Respon dan support dari kelurga dan teman dekat; d). Riwayat
pengalaman hamil dan melahirkan yang lalu;
e). Harapan atau keinginan dan aspirasi ibu saat hamil dan melahirkan.
Periode ini diekspresikan oleh Reva rubin yang terjadi 3 tahap yaitu :
(1). Fase taking- in, atau tahap ketergantungan terjadi pada hari pertama
sampai kedua masa nifas, perhatian ibu terhadap kebutuhan dirinya, pasif dan
tergantung. Ibu tidak menginginkan kontak dengan bayinya bukan berarti
tidak memperhatikan, ibu lebih mengingat pengalaman melahirkan dan
persalinan yang di alami, kebutuhan tidur meningkat, nafsu makan
meningkat. Dalam fase ini yang diperlukan ibu adalah informasi tentang
bayinya, bukan cara merawat bayinya;
(2). Fase taking- hold, fase ini berlangsung kira- kira 10 hari. Ibu berusaha
mandiri dan berinisiatif, perhatian terhadap dirinya mengatasi tubuhnya,
misalnya kelancaran miksi dan defekasi, melakukan aktifitas duduk, jalan,
belajar tentang perawatan diri dan bayinya, timbul kurang percaya diri
sehingga mudah mengatakan tidak mampu melakukan perawatan. Pada saat
ini sangat dibutuhkan sistim pendukung terutama bagi ibu muda atau
primipara karena pada fase ini seiring dengan terjadinya post partum blues;
(3). Fase letting- go, atau saling ketergantungan. Dimulai pada minggu ke-5-
6 setelah persalinan. Di alami setelah ibu tiba dirumah secara penuh

17
merupakan pengaturan bersama keluarga, ibu menerima tanggung jawab
sebagai ibu dan ibu menyadari atau merasa kebutuhan bayi yang sangat
tergantung dari kesehatan sebagai ibu. Tubuh ibu telah sembuh, secara fisik
ibu mampu menerima tanggung jawab normal dan tidak lagi menerima peran
sakit. Kegiatan seksualnya telah dilakukan kembali (Harnawatiaj, 2007).

2.3 Konsep Asuhan Keperawatan


A. PENGKAJIAN

1. Umur biasanya sering terjadi pada primi gravida , < 20 tahun atau > 35
tahun
2. Riwayat kesehatan ibu sekarang : terjadi peningkatan tensi, oedema,
pusing, nyeri epigastrium, mual muntah, penglihatan kabur
3. Riwayat kesehatan ibu sebelumnya : penyakit ginjal, anemia, vaskuler
esensial, hipertensi kronik, DM
4. Riwayat kehamilan : riwayat kehamilan ganda, mola hidatidosa,
hidramnion serta riwayat kehamilan dengan pre eklamsia atau eklamsia
sebelumnya
5. Pola nutrisi : jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok
maupun selingan
6. Psiko sosial spiritual : Emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan
kecemasan, oleh karenanya perlu kesiapan moril untuk menghadapi
resikonya

B. PEMERIKSAAN FISIK
a) Inspeksi : edema yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam
b) Palpasi : untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi edema
c) Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress
d) Perkusi : untuk mengetahui refleks patella sebagai syarat pemberian SM (
jika refleks + )

18
C. DIAGNOSA

Aktual :

a) Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan kontraksi uterus dan


pembukaan jalan lahir
b) Gangguan psikologis ( cemas ) berhubungan dengan koping yang tidak
efektif terhadap proses persalinan
c) Gangguan rasa nyaman (Nyeri) berhubungan dengan diskontinuitas
jariangan.

Resiko :

a) Resiko tinggi terjadinya kejang pada ibu berhubungan dengan penurunan


fungsi organ ( vasospasme dan peningkatan tekanan darah )
b) Resiko tinggi terjadinya foetal distress pada janin berhubungan dengan
perubahan pada plasenta

INTERVENSI DX aktual 1

Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan kontraksi uterus dan


pembukaan jalan lahir

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan perawatan ibu mengerti penyebab nyeri dan dapat
mengantisipasi rasa nyerinya

Kriteria Hasil :

a) Ibu mengerti penyebab nyerinya


b) Ibu mampu beradaptasi terhadap nyerinya

Intervensi :

1. Kaji tingkat intensitas nyeri pasien

19
R/. Ambang nyeri setiap orang berbeda ,dengan demikian akan dapat
menentukan tindakan perawatan yang sesuai dengan respon pasien terhadap
nyerinya

2. Jelaskan penyebab nyerinya

R/. Ibu dapat memahami penyebab nyerinya sehingga bisa kooperatif

3. Ajarkan ibu mengantisipasi nyeri dengan nafas dalam bila HIS timbul

R/. Dengan nafas dalam otot-otot dapat berelaksasi , terjadi vasodilatasi


pembuluh darah, expansi paru optimal sehingga kebutuhan 02 pada jaringan
terpenuhi

4. Bantu ibu dengan mengusap/massage pada bagian yang nyeri

R/. untuk mengalihkan perhatian pasien

INTERVENSI DX aktual 2

Gangguan psikologis ( cemas ) berhubungan dengan koping yang tidak efektif


terhadap proses persalinan

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan perawatan kecemasan ibu berkurang atau hilang

Kriteria Hasil :

a) Ibu tampak tenang


b) Ibu kooperatif terhadap tindakan perawatan
c) Ibu dapat menerima kondisi yang dialami sekarang.

Intervensi:

1. Kaji tingkat kecemasan ibu

20
R/. Tingkat kecemasan ringan dan sedang bisa ditoleransi dengan
pemberian pengertian sedangkan yang berat diperlukan tindakan medikamentosa

2. Jelaskan mekanisme proses persalinan

R/. Pengetahuan terhadap proses persalinan diharapkan dapat mengurangi


emosional ibu yang maladaptif

3. gali dan tingkatkan mekanisme koping ibu yang efektif

R/. Kecemasan akan dapat teratasi jika mekanisme koping yang dimiliki
ibu efektif

4. Beri support system pada ibu

R/. ibu dapat mempunyai motivasi untuk menghadapi keadaan yang


sekarang secara lapang dada asehingga dapat membawa ketenangan hati

INTERVENSI DX aktual 3

Gangguan rasa nyaman (Nyeri) b.d diskontinuitas jariangan.

Tujuan :

a) Nyeri berkurang/hilang

21
BAB III

TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN
Nama : Ny. M
Umur : 26 tahun
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Indonesia
Bahasa : Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Puri A blok C No.2
Tanggal, Jam masuk RS : Rabu, 27 April 2016
No. Register : 90100
HPHT/Usia kehamilan : 10 Juli 2015\ 39 minggu
Taksiran Partus/TP : 27 April 2016
Status obstetrikus : P2 A0
Diagnosa Medis : P1A0, Post Partum hari pertama dengan
preeklamsi ringan
Tanggal pengkajian, jam : Kamis, 28 April 2016
BB/TB : BB: 50Kg TB: 165Cm

Data Umum persalinan


Waktu, tempat
BB/PB Kondisi bayi Komplikasi Umur
No dan tipe
bayi baru lahir nifas sekarang
persalian
Rabu, 27 April Perempuan, Preeklamsi- 26 tahun
2016 BB:2900 BB: 2900 Kg, ringan
RSUD Kab. Kg PB: 51 Cm,

22
Tangerang PB:51 Cm Baik, Apgar
Normal/ score 7/8,
Spontan Anus (+),
meco (+)

B. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG


1. Alasan masuk rumah sakit
Ketuban pecah dari rumah
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan masih merasa mules pada perutnya

C. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA

Genogram

23
Keterangan :
 Merah muda : perempuan
 Biru : laki laki
 Hitam : penderita

1. Penyakit yang pernah diderita


Ibu tidak pernah menderita penyakit yang menular

D. RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERNAH


1. Prenatal: Klien mengatakan selama hamil mual muntah berlebih
2. Riwayat persalinan sebelumnya: tidak ada
3. Riwayat persalinan sekarang: Spontan
4. Riwayat penggunaan KB/ Kontrasepsi: Pil KB
5. Rencana penggunaan KB/ Kontrasepsi: Pil KB
E. PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan Umum:
a. Keadaan Umum: Baik
b. Kesadaran: Compos mentis (E:4 M:6 V:5)=15
c. Penampilan: Rapi, bersih
d. Tanda-tanda vital: TD: 130/90 mmHg, N: 80X/menit, S: 36,5 c,
Rr:20x/menit
e. Pemeriksaan kepala : tidak ada lesi, bersih, bentuk simetris
f. Pemeriksaan mata : konjunctiva un anemis, sklera un ikterik
g. Pemeriksaan hidung : bersih, tidak ada sekret, tidak ada polip
h. Pemeriksaan telinga : bersih, tidak ada serumen, simetris
i. Pemeriksaan mulut : bersih, tidak ada stomatitis, tidak ada caries
j. Pemeriksaan leher : tidak ada pembesaram kelenjar tiroid, limpe,
vena jugularis
k. Pemeriksaan jantung paru : tidak ada nafas tambahan

24
2. Pemeriksaan ekstremitas atas 5 5
a. Kekuatan otot : baik
b. Kemampuan bergerak: baik
c. Edema: Tidak ada
d. Terpasang alat invasif: Terpasang infus
3. Pemeriksaan dan payudara
Inspeksi
a. Keadaan dada dan payudara : payudara simetris
b. Puting susu : menonjol, pengeluaran : colostrum dan ASI
c. Areola : warna coklat
Palpasi
a. Keadaan payudara : payudara sedikit keras
b. Puting susu : menonjol
c. Areola : bersih

Auskultasi dada

Keluhan : tidak ada

4. Pemeriksaan abdomen
a. Inspeksi
 Kebersihan dan pigmentasi : terdapat linea
nigra
 Bentuk : menonjol
 Kondisi luka ( letak ukuran, keadaan )tidak ada
 Keluhan tidak ada
b. Auskultasi : bising usus 5 kali/menit
c. Palpasi
 Penurunan tinggi fundus uteri ( TFU) 2 jari dibawah
pusat
 Diastasis rectus abdominalis
 Kontraksi uterus baik, keras

25
 Posisi uterus normal
 Kondisi kandung kemih kosong
 Keluhan :
5. Pemeriksaan perineum
a. Lokea
 Jenis/hari ke : rubra hari kedua
 Jumlah : 500 cc
 Warna : merah
 Konsistensi cair dan sedikit menggumpal
 Bau : khas, tidak berbaun busuk
 Frekuensi penggantian pembalut 4 jam sekali
 Keluhan : tidak ada
b. Perineum
 Keadaan : utuh
 Tanda REEDA : tidak ada
 Kebersihan : bersih
 Hemoroid : tidak ada
 Keluhan :
c. Perdarahan postpartum
 Jumlah : 600 ml
 Lama : 24 jam
 Karakteristik :
 Keluhan : tidak ada
 Tindakan :

6. Pemeriksaan ekstremitas bawah


 Kekuatan otot : baik
 Kemampuan bergerak : baik
 Edema : tidak ada 5 5
 Tanda homan : -

26
 Varises : tidak ada varises pada lipatan paha
 Keluhan : tidak ada
F. ADL
1. Nutrisi
 Diet/ makanan : diet rendah garam
 Nafsu makan : baik, dapat menghabiskan 1 porsi
 Mual muntah : tidak ada
 Cairan : 1,5 liter/hari
 Keluhan : tidak ada
2. Eliminasi
 BAB : 3 kali sehari
 BAK : 5 kali sehari
 Keluhan : tidak ada
3. Kebersihan diri
 Mandi : melakukan sendiri
 Keramas : melakukan sendiri
 Kebersihan mulut : melakukan sendiri
 Kebersihan kuku : melakukan sendiri
 Ganti pakaian : melakukan sendiri
4. Istirahat- tidur
 Pola tidur : teratur
 Waktu : 6-8 jam
 Kesulitan : tidak ada
5. Keadaan mental : tidak ada kelainan
6. Aktivitas di RS : bersosialisasi, berbaring
7. Penyesuaian dengan bayi
8. Data psikososial :taking in / taking hold/letting go dan tandanya:
ibu dapat menerima anaknya
9. Kebutuhan pendidikan kesehatan :
Pengetahuan tentang diit preeklamsi

27
G. DATA TAMBAHAN
1. Data penunjang ( tanggal, hasil )
2. Data laboratorium ( tanggal dan hasil )
Jenis Hasil Nilai normal
Protein serum 9 g/dl 6,7-8,7 g/dl
Protein nuria 15 mg/dl 10 mg/dl
Hemoglobin 11 gr/dl 12-16 gr/dl
hematokrit 36 % 37-45 %

3. Obat obatan ( oral, parenteral, supositoria dan hasil )


- Asam mefenamat ( oral ) 3x1
- Nifedipin (oral) 3x1
- Amoxicilin (oral) 3x1 5mg

KASUS:

Ny. M dirawat di Rumah Sakit kab. Tangerang di ruang Aster dengan keluhan
klien mengatakan lemas, klien mengatakan perutnya masih terasa mules, klien
mengatakan tidak tahu tentang preeklamsi. TTV, T/D: 130/90 mmHg, S: 36,5˚, N:
80x/ menit, Rr: 20x/ menit. Pada pemeriksaan laboratorium Protein serum 9 g/dl,
Protein nuria 15 mg/dl, Hemoglobin 11 gr/dl, Hematokrit 36 % . Klien
mendapatkan terapi (Asam Mefenamat 3x1 mg, Nefedipin 3x1 5mg) dengan
status obstetrikus P2 A0

A. Analisa Data

Data Penunjang Masalah Keperawatan Etiologi


DS:

28
-Klien mengatakan lemas
-Klien mengatakan
perutnya masih terasa
mules Gangguan rasa nyaman Kontraksi Uterus
(Nyeri)
DO:
-Tinggi Fundus Uteri 2
jari dibawah pusat
-TTV
TD: 130/90 mmHg
S: 36,5˚C
N: 80x/ menit
Rr: 20x/ menit
DS:
-Klien mengatakan lemas
DO:
-TTV Gangguan perfusi Gangguan pertukaran
TD: 130/90 mmHg jaringan serebral
S: 36,5˚C
N: 80x/ menit
Rr: 20x/ menit
DS:
-Klien mengatakan tidak
tahu tentang preeklamsi
DO: Kurangnya pengetahuan Ketidaktahuan klien
-TTV tentang tanda dan gejala
TD: 130/90 mmHg preeklamsi
S: 36.5˚C
N: 80x/ menit
Rr: 20/ menit

29
B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman ( Nyeri) berhubungan dengan kontraksi uterus
ditandai dengan:
DS:
-Klien mengatakan lemas
-Klien mengatakan perutnya masih terasa mules
DO: - Tinggi Fundus Uteri 2 jari dibawah pusat
TTV
TD: 130/90 mmHg, S: 36,5˚C, N: 80x/ menit, Rr: 20x/ menit
2. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan gangguan
pertukaran ditandai dengan:
DS:
-Klien mengatakan lemas
DO:- TTV
TD: 130/90 mmHg, S: 36, 5˚C, N: 80x/ menit, Rr: 20x/ menit
3. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan klien
tentang tanda dan gejala preeklamsi ditandai dengan:
DS:
-Klien mengatakan tidak tahu tentang preeklamsi
DO:-TTV
TD: 130/90 mmHg, S: 36,5˚C, N: 80x/ menit, Rr: 20x/ menit

C. Intervensi

DX. Keperawatan NOC NIC


1). Gangguan rasa Setelah dilakukan Mandiri:
nyaman (Nyeri) tindakan keperawatan -Kaji TTV
berhubungan dengan selama 3x24 jam, -Lakukan observasi
kontraksi uterus gangguan rasa nyam ( involusi Uteri

30
ditandai dengan: Nyeri) Berhubungan
DS: dengan kontraksi uterus Kolaborasi:
-Klien mengatakan dapat teratasi dengan -Berikan terapi obat
lemas KH:
-Klien mengatakan -TTV dalam rentang
perutnya masih terasa normal
lemas -Klien sudah tidak
DO: merasakan mules pada
-Tinggi Fundus Uteri 2 perutnya
jari dibawah pusat -Klien sudah tidak
-TTV lemas
TD: 130/90 mmHg
S: 36,5˚C
N: 80x/ menit
Rr: 20x/ menit
2). Gangguan perfusi Setelah dilakukan Mandiri:
jaringan serebral tindakan keperawatan -Kaji TTV
berhubunagn dengan selama 3x24 jam -Lakukan observasi
gangguan pertukaran Gangguan perfusi reaksi pada reaktivitas
ditandai dengan: jaringan serebral pupil, Tingkat
DS: berhubungan dengan kesadaran
-Klien mengatakan gangguan pertukaran
lemas dapat teratasi dengan Kolaborasi:
DO:TTV KH: -Berikan terapi obat
TD: 130/90 mmHg -TTV dalam rentang
S: 36,5˚C normal
N: 80x/ menit -Klien mengatakan
Rr: 20x/ menit sudah tidak lemas
3). Kurangnya Setelah dilakukan Mandiri:
pengetahuan tindakan keperawatan -Lakukan penyuluhan

31
berhubungan dengan selama 3x24 jam tentang tanda dan
ketidaktahuan klien kurangnya pengetahuan gejala preeklamsi
tentang tanda dan berhubungan dengan
gejala preeklamsi ketidaktahuan klien
ditandai dengan: tentang tanda dan
DS: gejala preeklamsi dapat
-Klien mengatakan teratasi dengan KH:
tidak tahu tentang -Klien mengetahui
preeklamsi tanda dan gejala
DO: TTV preeklamsi
TD: 130/90 mmHg
S: 36,5˚C
N: 80x/ menit
Rr: 20x/ menit

D. Implementasi

Tanggal/jam No. Tindakan Keperawatan paraf


DX
30/4/2016 1. -Mengkaji TTV
09.00 Hasil: TD: 130/90mmHg , S: 37,5˚C , N: 78x/ menit
Rr: 20x/ menit
-Melakukan observasi involusi uteri
Hasil: Bayi baru lahir Tinggi fundus uteri setinggi pusat,
berat uterus 100gr
-Memberikan terapi obat
Hasil: Asam mefenamat 3x1 (500 mg)

32
30/4/ 2016 2. -Mengkaji TTV
09.00 Hasil: TD: 130/90mmHg ,S: 37,5˚C , N: 78x/ menit
Rr: 20x/ menit
-Melakukan observasi pada reaktivitas pupil dan tingkat
kesadaran
Hasil: -reaksi pupil baik
-Tingkat kesadaran Compos mentis
-Memberikan terapi obat
Hasil: Nefedipin 3x1 (5 mg)
30/4/ 21016 3. -Melakukan penyuluhan tentang pencegahan preeklamsi
09.00 Hasil: Klien mengetahui tanda dan gejala preeklamsi

E. Evaluasi

Tanggal/jam Evaluasi Paraf


30/4/2016 S: Klien mengatakan perutnya terasa sakit
09.30 O: TTV
TD: 130/90 mmHg , N: 78x/ menit
S: 37,5˚C , Rr: 20x/ menit
A: Masalah belum teratasi
P: Tindakan dilanjutkan
a) Melakukan terapi meregangkan otot-otot
b) Melanjutkan terapi pemberian obat (
amoxcilin 3x1 5mg)
30/4/2016 S: Klien mengatakan sudah tidak merasa lemas

33
09.30 O:TTV
TD: 130/90 mmHg ,N: 78x/ menit
S: 37,5˚C , Rr: 20x/ menit
A: Masalah teratasi
P: Tindakan dihentikan
30/4/2016 S: Klien mengatakan sudah tahu tentang tanda dan
09.30 gejala preeklamsi
O:Klien memahami tentang tanda dan gejala
preeklamsi
A: Masalah teratasi
P: Tindakan dihentikan

34
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Hipertensi pada kehamilan adalah penyakit yang sudah umum dan
merupakan salah satu dari tiga rangkaian penyakit yang mematikan, selain
perdarahan dan infeksi, dan juga banyak memberikan kontribusi pada
morbiditas dan mortalitas ibu hamil. Pada tahun 2001, menurut National
Center for Health Statistics, hipertensi gestasional telah diidentifikasi pada
150.000 wanita, atau 3,7% kehamilan.

4.2 Saran
Seluruh mahasiswa keperawatan pemahamannya bertambah
terhadap post partum dengan preeklamsi sehingga dapat dikembangkan
dalam tatanan layanan keperawatan.
Diharapkan perawat

35
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, marylinn. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal/ Bayi.


Jakarta:EGC

36