Anda di halaman 1dari 15

BAB III

PENURUNAN RESISTENSI INSULIN PADA PASIEN DIABETES

MELITUS TIPE 2 DENGAN TERAPI ROSIGLITAZONE DITINJAU

DARI SEGI ISLAM

III.1. PANDANGAN ISLAM TERHADAP RESISTENSI INSULIN

Resistensi insulin merupakan kondisi fisiologis dimana sel yang awal

mulanya peka terhadap insulin, menjadi tidak peka terhadap insulin (Yang et al,

2014). Proses resistensi insulin ini hampir sering terjadi pada penderita diabetes

melitus tipe 2 (DM tipe 2). Kondisi ini ditunjang dengan adanya faktor risiko yang

lain seperti obesitas, (Newgard et al, 2009) Namun walaupun demikian,

peradangan ini sebenarnya dapat disembuhkan dan tidak bertambah parah bila

pasien segera berobat ketika gejala awal muncul. Islam adalah agama yang

sempurna, bahkan dalam perihal berobat pun Islam menganjurkan setiap umatnya

untuk segera berobat apabila muncul gejala penyakit. Rasulullah SAW bersabda :

‫ال ألونلزلل اْلدداْلء لواْلددلواْلء لولجلعلل للككلل لداْءء لدلواْءء فلتللداْلووواْ لولل‬‫إلدن د‬
‫تللداْلووواْ بللحلراْءم‬
Artinya : "Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat dan menjadikan
bagi setiap penyakit obatnya, maka berobatlah kamu, tapi janganlah berobat
dengan yang haram" (HR. Abu Dawud) (Zuhroni, 2010)

Dalam sebuah hadis disebutkan pula :

33
Artinya : “Usamah bin Syarik berkata : Pada waktu saya berada bersama
Rasulullah SAW, datanglah beberapa orang Badui (pegunungan) lalu mereka
berkata :”Ya Rasulullah, apakah kita mesti berobat?” Maka Beliau menjawab
“Ya wahai hamba Allah, berobatlah kamu, karena Allah tidak menurunkan
penyakit melainkan Dia menurunkan juga obatnya, kecuali satu penyakit”.
Mereka bertanya lagi :”Penyakit apakah itu?” Beliau menjawab : “penyakit
Tua”. (HR. Ahmad) (Az-zahrani, 2005).

Selain itu, salah satu penyebab terlambatnya pasien untuk berobat ke

dokter adalah dengan berkembangnya praktek ilmu pengobatan alternatif yang

menjanjikan kesembuhan dengan biaya yang relatif murah. Itu sebabnya apabila

ada orang yang sakit maka ia lebih memilih untuk pergi ke alternatif daripada

berobat ke dokter. Hal ini bertentangan dengan ajaran Islam yang menganjurkan

untuk setiap orang yang sakit agar berobat pada ahlinya, dalam hal ini orang yang

berkompetensi dan ahli di bidang pengobatan adalah dokter. Allah berfirman :

ِ‫ أْفاَاسأأْلوُا أأْاهأْل ال ذ اكرر رإنِ لكنُتلام لأْ تأْاعلأْلموُأْن‬...


Artinya : "...Maka bertanyalah kamu kepada orang yang ahli jika kamu tidak
mengetahuinya" (QS. An-Nahl [16] : 43)

Ayat di atas diperjelas pula dengan hadis Nabi saw diriwayatkan dari Abu

Hurairah yang artinya : “Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada orang yang

bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya” (HR. Bukhari).

Dengan adanya hadis di atas maka apabila ada orang sakit yang berobat

pada orang yang bukan ahlinya (bukan dokter) dikhawatirkan karena tidak ahli,

orang itu tidak dapat mengobati si pasien sehingga penyakitnya terlambat diobati

34
dan menjadi semakin parah sehingga bisa berakibat fatal bagi pasien, inilah

kehancuran yang akan dialami pasien seperti yang dimaksud pada hadis di atas.

III.2. PANDANGAN ISLAM TERHADAP KARSINOMA

Karsinoma adalah suatu penyakit keganasan atau kanker dimana

sekelompok sel-sel tubuh mengalami pertumbuhan tidak terkendali sehingga

nampak secara kasat mata sebagai jaringan berlebih di lokasi tertentu pada tubuh.

Karsinoma atau kanker merupakan penyakit menahun yang semakin lama akan

semakin memburuk hingga berujung pada kematian. Sampai saat ini belum

ditemukan obat yang mampu menyembuhkan kanker (Baratawidjaja dan

Rengganis, 2010).

Karena penyakit karsinoma tidak dapat disembuhkan, maka beberapa

pasien kanker akan mengalami depresi, stres, putus asa bahkan menyalahkan

Allah atas nasibnya. Di dalam Islam seseorang dilarang menyalahkan takdir Allah,

karena Allah adalah zat yang maha mengetahui dan maha kuasa, sesungguhnya

Allah menetapkan suatu takdir ada tujuannya yaitu agar manusia tidak tenggelam

dalam kesedihan dan agar manusia tidak sombong dan tidak membanggakan diri.

Allah berfirman :

‫ض أْوُأْل رفيِ أْأنُفلرسلكام رإلل رفيِ ركأْتاَبب‬ ‫صيِأْببة رفيِ االأْار ر‬ ‫ماَ أأْصاَب رمنِ مم ر‬
ْ‫أْ أْ أ‬
َ‫{ لرأْكايِأْل تأْاأأْساوُا أْعأْلى‬22} ‫ذمنِ قأْابرل أْأنِ لنُاب أْأأْرأْهاَ إرلنِ أْذلرأْك أْعأْلىَ الللره أْيِرسيِرر‬
} ‫ب لكلل لماخأْتاَبل فأْلخوُبر‬ ‫أْماَ أْفاَتأْلكام أْوُأْل تأْافأْرلحوُا برأْماَ آأْتاَلكام أْوُالللهل أْل ليِرح م‬
{23

35
Artinya : “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada
dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum
Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita
terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira
terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap
orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al-Hadiid [57] : 22-23)

Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa segala penderitaan, musibah, nikmat

dan kebahagiaan semuanya sudah ditentukan oleh Allah sejak dahulu, sehingga

apabila ada seseorang yang menyalahkan Allah atas takdir yang dialaminya, maka

orang itu bukanlah orang yang beriman. Rasulullah SAW bersabda : "Tidaklah

beriman seorang hamba hingga ia beriman terhadap takdir yang baik atau yang

buruk, hingga ia mengetahui bahwa apa saja yang menimpanya tidak akan

meleset, dan apa saja yang meleset darinya tidak akan menimpanya". (HR.

Tirmidzi).

Terkadang pasien kanker merasa jengkel karena penyakitnya tidak

kunjung sembuh sehingga keadaan ini membuat ia berharap mati secepatnya.

Islam melarang seseorang untuk mengharapkan mati, sekalipun penyakit yang

dirasakan amatlah berat. Pada kondisi seperti ini Islam mengajarkan agar pasien

berharap apapun yang terbaik bagi dirinya, baik itu hidup ataupun mati.

Rasulullah bersabda :

: ‫ل يتمنين أحدكم اْلموت لضر أصابه فان كان ل بد فاعل فليقل‬


ْ‫اْللهم أحيني ما كانت اْلحياة خيراْ لى وتوفني اْذاْ كانت اْلوفاة خيرا‬
‫لى‬
Artinya : “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kamu mengharapkan
mati, apabila memang keadaannya telah memaksa, maka katakanlah : “Ya Allah,
berilah kami kehidupan selagi hidup lebih baik bagi kami, dan wafatkanlah kami
selagi mati lebih baik bagi diri kami”.(HR Bukhari dan Muslim)

36
Wasiat Rasulullah ini hendaknya dapat dijadikan pelerai duka bagi pasien

dengan penyakit berat seperti kanker, dan menghimbau pasien agar

penderitaannya diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Diyakini, hal ini akan

menanamkan rasa tenang pada jiwa pasien kanker, di samping meringankan beban

penderitaannya, bahkan merupakan salah satu faktor yang bisa meningkatkan

kualitas hidupnya sehingga meski dalam kondisi sakit, pasien akan tetap

bersemangat dalam menjalani hidupnya.

Harap menjadi perhatian bagi orang yang tertimpa sakit berat, janganlah

sekali-kali terlintas dalam pikiran untuk melakukan bunuh diri dengan maksud

ingin melepaskan diri dari penderitaan sakit. Karena Rasulullah SAW telah

bersabda :

‫من قتل نفسه بشيئ فى الدنيا عذب به يوم القيامة‬


Artinya : “Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan menggunakan sesuatu di
dunia, maka kelak di hari kiamat ia akan disiksa dengan barang tersebut” (HR.
Bukhari).

Rasulullah juga membuka harapan hidup bagi orang yang sakit berat

dengan cara melarang mengharapkan mati. Untuk itu, beliau bersabda :

‫ وإما‬,ْ‫ اْما محسنا فلعله اْن يزداْد خيرا‬,‫ل يتمنى اْحدكم اْلموت‬
(‫مسيئا فلعله اْن يستعتب )رواْه اْلبخارى‬
Artinya : “Jangan sekali-kali kamu mengharapkan mati. Apabila ia seorang yang
baik mudah-mudahan kebaikannya akan bertambah, dan apabila ia orang yang
jelek mudah-mudahan ia bertaubat” (HR. Bukhari).

Melalui ayat ini Rasulullah melarang seseorang mengharapkan mati,

karena mungkin saja hidupnya nanti akan menambah kebaikan bagi dirinya. Dan

37
apabila ia seorang yang perangainya jelek, maka mungkin masih ada kesempatan

baginya untuk bertaubat guna menghapuskan keburukan yang ada pada dirinya.

Islam menganjurkan agar seorang mukmin hendaknya selalu

menggantungkan harapannya hanya pada Allah SWT dan tak pernah berputus asa,

karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berputus asa,

bahkan Allah menyamakan orang yang berputus asa dengan orang kafir. Allah

berfirman :

‫أْوُلأْ تأْايِأأْلسوُا رمنِ لراوُرح اللره إرلنُهل لأْ أْيِايِأأْلس رمنِ لراوُرح اللره إرلل االقأْاوُلم‬
ِ‫االأْكاَرفلروُأْن‬
Artinya : “...dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya
tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS. Yusuf
[12] : 87).

Islam menganjurkan setiap mukmin ketika sedang menghadapi maut, agar

ia berbaik sangka terhadap Allah. Dalam hal ini Rasulullah bersabda :

(‫ل يموت أحدكم ال وهو يحسن الظن بال )رواه ابو داود‬
Artinya : “Tak ada salah seorang di antara kamu menemui ajalnya, kecuali ia
harus berbaik sangka terhadap Allah” (HR. Abu Dawud)

Di balik suatu musibah dan penyakit terdapat hikmah yang sangat banyak,

di antaranya yaitu dapat mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari

mengingat Allah agar kembali kepada-Nya. Biasanya seseorang yang dalam

keadaan sehat wal ‘afiat sering tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti

hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan perintah Allah.

Oleh karena itu, jika Allah mengujinya dengan suatu penyakit atau musibah,

38
seseorang barulah merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di

hadapan Allah. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia

kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri. Allah berfirman :

‫ضلراء لأْأْعللهلام‬ ْ‫أْوُلأْقأْاد أأْارأْسلأْنُاَ إرأْلىَ ألأْمبم ذمنِ قأْابلر أ‬


‫ك فأْأأْأْخاذأْنُاَلهام رباَالأْباأأْساَء أْوُال ل‬
ِ‫ضلرلعوُأْن‬ ْ‫أْيِتأْ أ‬
Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-
umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan)
kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan
tunduk merendahkan diri” (QS. al-An’am [6] : 42).

Selain itu suatu cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah

kepada hamba-Nya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala jika

mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan” (HR. Tirmidzi).

Allah juga akan menghapuskan dosa-dosa orang yang diuji dengan penyakit dan

musibah. Rasulullah bersabda : “Tidak ada yang menimpa seorang muslim

kepenatan, sakit yang berkesinambungan (kronis), kebimbangan, kesedihan,

penderitaan, kesusahan, sampai pun duri yang ia tertusuk karenanya, kecuali

dengan itu Allah menghapus dosanya” (HR. Al Bukhari).

Dengan demikian, Islam berpartisipasi dalam penanggulangan pasien

kanker yaitu dengan cara meningkatkan kualitas hidupnya dan memberikan

ketenangan bagi jiwanya melalui ajaran-ajaran spiritual. Fungsi ini dalam

kedokteran dikenal sebagai perawatan paliatif (paliatif care).

III.3. PANDANGAN ISLAM TERHADAP SKISTOSOMIASIS

HAEMATOBIUM

39
Skistosomiasis haematobium adalah penyakit infeksi menular yang

disebabkan oleh cacing Schistosoma haematobium. Penyakit skistosomiasis

haematobium apabila tidak segera diobati akan menyebabkan peradangan

granulomatosa kronis yang semakin lama akan semakin memburuk hingga sampai

menimbulkan karsinoma atau kanker pada kandung kemih seperti yang telah

dijelaskan sebelumnya (Tanaka et al, 2011).

Pasien skistosomiasis haematobium akan mengeluarkan telur cacing

melalui urinnya. Telur ini membutuhkan air agar dapat menetas dan membutuhkan

keong air untuk berkembang menjadi bentuk infektif yang siap menginfeksi

manusia. Sehingga apabila ada orang yang masuk ke dalam sungai yang

mengandung bentuk infektif maka orang ini akan terinfeksi juga (CDC, 2011).

Islam tidak secara eksplisit menjelaskan cara infeksi skistosomiasis

haematobium, namun karena Islam adalah agama yang mencintai kebersihan,

beberapa upaya perilaku hidup bersih sudah diajarkan Islam sejak dahulu. Melalui

upaya tersebut, Islam turut memberikan perannya dalam menekan penyebaran

penyakit infeksi menular salah satunya skistosomiasis haematobium. Upaya-

upaya yang diajarkan Islam antara lain :

 Larangan membuang kotoran manusia (urin/tinja) di air yang

mengalir maupun di air yang tergenang


 Larangan untuk memanfaatkan air yang telah tercemar kotoran

manusia.
 Upaya penyuluhan kesehatan di daerah-daerah endemik

skistosomiasis haematobium
 Anjuran mengkonsumsi makanan/minuman yang halal dan baik

bagi kesehatan

40
Selain itu terkait dengan penyakit-penyakit yang sifatnya endemik, Islam

memiliki cara tersendiri untuk menekan penyebarannya yaitu dengan sistem

karantina (Zuhroni, 2010).

Telah diketahui bahwa telur S.haematobium memerlukan air untuk dapat

menetas dan menginfeksi manusia, maka terkait hal ini Rasulullah SAW melarang

setiap manusia untuk membuang kotoran (urin/tinja) di sumber air, baik yang

menggenang maupun air yang mengalir dan melarang manusia untuk

memanfaatkan air yang telah tercemar kotoran manusia untuk berbagai keperluan

sehari-hari. Rasulullah bersabda :

Artinya : “Janganlah sekali-kali seseorang di antara kalian, kencing di tempat

pemandian, lalu mandi di dalamnya” (HR. Abu Hurairah).

Selain itu, Rasulullah bersabda :

Artinya : “Takutlah tiga tempat yang dilaknat, yaitu buang kotoran pada sumber
air yang mengalir, di jalan dan tempat berteduh”. (HR. Abu Dawud dan Ibnu
Majjah) (Al-Qahthani, 2006).

Sumber air yang mengalir salah satunya adalah sungai, itu berarti kita

dilarang membuang urin/tinja ke dalam sungai, karena di sepanjang sungai

tersebut tentunya akan banyak sekali orang yang memanfaatkanya untuk

keperluan hidup sehari-hari. Jika pasien membuang kotorannya di sungai,

kemudian telur menetas dan menjadi bentuk infektif maka S.haematobium siap

menginfeksi siapapun yang ada di sungai tersebut. Di sinilah penderita dapat

41
menzalimi orang lain dengan cara menularkan penyakit skistosomiasis

haematobium, padahal Rasulullah SAW melarang kita untuk mencelakai orang

lain. Rasulullah bersabda :

‫ضلي اك لعونهك ألدن‬‫لعون أللبي لسلعويءد سوعكد وبلن لسلنالن اْولكخودلريِ لر ل‬


‫ضلراْلر‬‫ضلرلر لولل ل‬ ‫ لل ل‬: ‫صدلى ا عليه وسلدلم لقالل‬ ‫لركسوولل ال ل‬
Artinya : “Dari Abu Sa’id, Sa’ad bin Sinan Al Khudri r.a, sesungguhnya
Rasulullah SAW bersabda : Janganlah melakukan kerusakan (mudharat) pada
diri sendiri dan pada orang lain“ (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).

Selain itu, membuang urin/tinja di sungai termasuk perbuatan tercela

karena dapat merusak keindahan ekosistem sungai dan Allah sangat membenci

orang-orang yang berbuat kerusakan di alam lingkungan. Allah berfirman :

ِ‫ب االلمافرسرديِأْن‬
‫ض رإلنِ الللهأْ أْل ليِرح م‬
‫وُأْل تأْابرغ االفأْأْساَأْد رفيِ االأْار ر‬
ْ‫أ‬
Artinya : “Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qashas [28]
: 77)

Telah diketahui bahwa Skistosomiasis haematobium banyak terjadi di

daerah endemik, oleh karena itu Islam memiliki cara tersendiri dalam memandang

konsep pencegahan skistosomiasis haematobium yaitu melalui sistem karantina.

Rasulullah SAW bersabda :

‫ض لوألونتكوم بللها‬
‫ِ لوإللذاْ لوقللع بلأ لور ء‬،‫ض فللل تلوقلدكمواْ لعللويله‬
‫إللذاْ لسلموعتكوم بلله بلأ لور ء‬
(‫فللل تلوخكركجواْ فللراْراْء لمونهك )رواه البخارى‬
Artinya : "Jika kalian mendengar wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah
kalian memasukinya. Tetapi jika wabah itu terjadi di tempat kalian berada, maka
janganlah kalian meninggalkan tempat itu" (HR. Bukhari Muslim).

42
Dengan demikian, Islam mengajarkan bahwa semua orang yang berada di

daerah yang endemik skistosomiasis haematobium agar tidak meninggalkan

negara tersebut, dan turis juga dicegah untuk masuk. Tujuannya agar tidak terjadi

penyebaran skistosomiasis haematobium ke daerah lainnya di luar daerah endemik

tersebut. Allah mengancam orang yang pergi dari daerah itu sama seperti orang

yang lari dari peperangan di jalan Allah dan bagi orang-orang sehat yang tetap

tinggal di daerah itu, Allah memberikan ganjaran berupa pahala yang sama seperti

pahala seorang yang mati syahid, karena apa yang dilakukannya adalah untuk

mencegah penyebaran penyakit sehingga sama seperti berjuang di jalan Allah.

Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang melarikan diri dari tempat wabah

adalah seperti orang yang melarikan diri dari pertempuran di jalan Allah. Dan

barangsiapa yang sabar dan tetap di tempatnya, maka dia akan diberi pahala

dengan pahala seorang yang mati di jalan Allah".

Selain itu bagi orang yang berisiko tinggi terinfeksi S.haematobium

disarankan agar mengkonsumsi obat profilaksis yang dapat memberantas larva

cacing di dalam tubuh sehingga mencegah timbulnya penyakit (Gray et al, 2011).

Di dalam Islam Allah SWT mengajarkan setiap muslim untuk berperilaku “amr

ma’ruf nahi munkar” maksudnya yaitu melakukan hal-hal yang mendatangkan

kebaikan dan mencegah segala bentuk keburukan. Allah berfirman :

ِ‫ك لهلم االلمافلرلحوُأْن‬


ْ‫ف أْوُأْيِانُهأْاوُأْنِ أْعرنِ االلمنُأْكرر أْوُألاوُلأْـَئر أ‬
‫وُيِاأمروُنِ رباَالمعروُ ر‬...
‫أْ أْ ل ل أْ أْ ا ل‬
Artinya : “...menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.
Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran [3] : 104)

43
Pengertian “kebaikan” dan “keburukan” amatlah luas. Menjaga kesehatan

termasuk salah satu contoh kebaikan dan mencegah timbulnya penyakit termasuk

dalam mencegah keburukan. Maka sesuai ayat di atas, Islam lebih mengutamakan

pencegahan daripada pengobatan penyakit, itu artinya mengkonsumsi obat

profilaksis sebagai bentuk upaya pencegahan penyakit dianjurkan oleh Islam.

Dalam dunia kedokteran, upaya ini disebut specific protection.

Berbagai upaya pencegahan yang sudah disebutkan di atas, akan lebih

efektif apabila disampaikan pada masyarakat dalam bentuk penyuluhan kesehatan.

Rasulullah menganjurkan umatnya agar mampu menyampaikan penyuluhan yang

bermanfaat bagi masyarakat dengan tujuan untuk kebaikan dan untuk mencegah

kemunkaran. Rasulullah bersabda :

Artinya : “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Selain itu, Allah berfirman :

‫وُالتأْلكنِ ذمنُلكم أللمةر يِادعوُنِ رإأْلىَ االأْخايِرر وُيِاأمروُنِ رباَالمعروُ ر‬


ِ‫ف أْوُأْيِانُهأْاوُأْن‬ ‫أْ أْ ل ل أْ أْ ا ل‬ ْ‫أْ ل أ‬ ‫ا‬ ْ‫أ‬
ِ‫ك لهلم االلمافلرلحوُأْن‬
ْ‫أْعرنِ االلمنُأْكرر أْوُألاوُلأْـَئر أ‬
Artinya : “Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang
munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran [3] : 104)

Tujuan dari penyuluhan ini adalah agar masyarakat yang tinggal di daerah

endemik dapat berperilaku hidup sehat dan mampu meningkatkan sanitasi

lingkungannya sehingga dapat menekan angka kejadian penyakit dan membatasi

44
penyebaran infeksi. Hal ini sesuai dengan maksud “menyuruh pada kebaikan dan

mencegah kemunkaran” pada ayat di atas.

III.4. PANDANGAN ISLAM TERHADAP INFLAMASI

GRANULOMATOSA KRONIS SEBAGAI PREDISPOSISI

KARSINOMA PADA SKISTOSOMIASIS HAEMATOBIUM

Pada pasien skistosomiasis haematobium, adanya peradangan granuloma

di kandung kemihnya sering tidak menimbulkan gejala apapun sehingga pasien

menganggap dirinya sehat dan tidak perlu ke dokter. Pada beberapa penderita,

gejala bisa ringan saja atau bahkan tidak terasa gejala sampai terjadi karsinoma.

Sejalan dengan hal tersebut, Islam menganjurkan kita untuk melakukan deteksi

dini penyakit (early diagnosis) dan menyegerakan berobat apabila muncul gejala

awal (prompt treatment) (Zuhroni, 2010).

Artinya : “Berobatlah kalian! sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu


penyakit melainkan Dia juga menurunkan obatnya. Ia diketahui oleh orang yang
mengetahui dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahui” (HR. Ahmad)
(Zuhroni, 2010).

Secara tersirat hadis ini memberi petunjuk agar kita mencari tahu penyakit

yang sedang dialami melalui deteksi dini agar bisa segera diobati. Deteksi dini

dapat dilakukan pada semua orang, namun sangat dianjurkan untuk dilakukan

pada orang-orang yang ada di daerah endemik S.haematobium. Bagi orang yang

sehat atau nampak sehat, deteksi dini bermanfaat untuk menapis adanya

45
kemungkinan infeksi cacing atau membuktikan ada atau tidaknya peradangan

granuloma di kandung kemih. Sedangkan untuk orang yang sudah terinfeksi,

deteksi dini bermanfaat untuk mencari kemungkinan ada atau tidaknya sel-sel

kanker di kandung kemihnya. Tujuan deteksi adalah untuk menyegerakan berobat,

hal ini seusia dengan anjuran Islam.

Selain itu, bagi pasien yang sudah terinfeksi namun tidak berusaha untuk

mencari tahu penyakitnya disamakan seperti melakukan kerusakan pada dirinya

sendiri, perilaku tersebut bertentangan dengan ajaran Rasulullah. Rasul bersabda :

‫ضلرلر لولل ل‬
‫ضلراْلر‬ ‫لل ل‬
Artinya : “Janganlah berbuat kerusakan pada diri sendiri dan jangan berbuat
kerusakan pada orang lain” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).

Ketika suatu karsinoma sudah terjadi, maka semakin lama orang itu akan

semakin lemah, baik lemah fisiknya, jiwanya maupun imannya. Allah memang

menyukai semua umatnya baik yang kuat maupun yang lemah namun Allah lebih

menyukai umatnya yang kuat daripada umat yang lemah. Rasul bersabda :

‫المؤمن القوي خير وأحب إلى ا من المؤمن الضعيف‬


Artinya : “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan sangat dicintai Allah
daripada mukmin yang lemah” (HR. Muslim, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Al-
Dailami, dan Ibnu ‘Abd al-Barr dari Abi Hurairah).

Kuat dalam maksud di sini adalah kuat fisiknya, kuat mentalnya dan kuat

imannya. Alasan Allah lebih mencintai umat yang kuat adalah karena mereka akan

mampu beribadah lebih baik, menjalankan dakwah dengan jangkauan yang lebih

luas, serta lebih mampu dalam membela Islam dan umatnya dari serangan musuh.

Itu sebabnya Islam sangat mengupayakan untuk mencegah suatu penyakit

46
daripada mengobatinya, termasuk juga dalam hal ini adalah mencegah

skistosomiasis haematobium.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Islam secara tidak langsung

turut berpartisipasi dalam menekan angka kesakitan dan mencegah penyebaran

penyakit menular seperti skistosomiasis haematobium. Upaya Islam dalam

mencegah skistosomiasis haematobium sesuai dengan perjalanan penyakitnya

yaitu mulai dari seseorang itu sehat sampai terinfeksi, kemudian penyakitnya

berlangsung kronis dan timbul peradangan granuloma hingga akhirnya terjadi

karsinoma. Ini berarti Islam memandang perjalanan penyakit skistosomiasis

haematobium melalui upaya pencegahannya, baik dalam penularan maupun

perburukan penyakit.

47