Anda di halaman 1dari 10

KAJIAN KRITIS TERHADAP HASIL-HASIL PENELITIAN

TENTANG PERANAN TVET DAN TEFA DALAM PEMBANGUNAN


SOSIAL, EKONOMI DAN PENDIDIKAN DI SUATU NEGARA
S.Muslim1), E. Ismayati2), N.Kusumawati3), E.Rahmadyanti4), M. A. Hilmi5),
A. Ciptono6), S. Setiyono7), D. Lukmantoro8)
1)
Pendidikan Teknik Elektro/Universitas Negeri Surabaya
email:supari@unesa.ac.id
2)
Pendidikan Teknik Elektro/Universitas Negeri Surabaya
email:Euisheru@gmail.com
3)
Ilmu Kimia/Universitas Negeri Surabaya
email: nitakusumawati99@gmail.com
4)
Teknik Sipil/Universitas Negeri Surabaya
email:erinarahmadyanti@unesa.ac.id
5)
Pendidikan Vokasi/Universiti Tun Hussien Onn Malaysia
email: alfin.hilmi@gmail.com
6)
Pendidikan Vokasi/Universiti Tun Hussien Onn Malaysia
email: argo.ciptono@gmail.com
7)
Pendidikan Vokasi/Universiti Tun Hussien Onn Malaysia
email:kislamet@gmail.com
8)
Pendidikan Vokasi/Universiti Tun Hussien Onn Malaysia
email:dhanu@gmail.com

ABSTRAK. Untuk menunjang peran strategis TVET, ada banyak program yang perlu dilakukan diantaranya
tentang pemanfaatan model pembelajaran teaching factory (TEFA). Pertanyaan: Bagimana arah pendidikan TVET
sesuai dengan kebutuhan industri? Apakah penerapan TVET berkontribusi pada bidang social, pengembangan
ekonomi dan pendidikan suatu negara? Bagaimana dampak TVET di negara-negara berkembang? Apakah yang
dimaksud dengan TEFA? Apakah pengaruh TEFA terhadap kesiapan kerja siswa SMK? Apakah TEFA telah
dilaksanakan dengan baik? Apakah penerapan TEFA mampu memberikan kontribusi terhadap pembangunan
ekonomi dan pendidikan suatu negara? Untuk menjawab sejumlah pertanyaan tersebut perlu dilakukan penelitian
dengan judul “Kajian kritis terhadap hasil-hasil penelitian tentang peranan TVET dan TEFA dalam pembangunan
sosial, ekonomi dan pendidikan di suatu negara”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran TVET
dan TEVA pada pengembangan social, ekonomi dan pendidikan di suatu negara. Penelitian dilakukan dengan
menggunakan metode kajian literatur terhadap sejumlah referensi dan hasil-hasil penelitian yang relevan, dan
diteruskan dengan Focus Group Disscussion (FGD). Penelitian menyimpulkan bahwa: (1) TVET memiliki peran
utama dan kunci pada bidang social, ekonomi dan pendidikan suatu negara; (2) dampak TVET di Nigeria dan
negara-negara berkembang lainnya, pada umumnya belum mengesankan; (3) penerapan TEFA berpengaruh secara
positif dan signifikan terhadap kesiapan kerja siswa SMK; dan (4) penerapan TEFA mampu memberikan kontribusi
terhadap pembangunan sosial, ekonomi dan pendidikan suatu negara.

Kata kunci: TVET, TEVA, Sosial, Ekonomi dan Pendidikan, dan Negara.

PENDAHULUAN sektor ekonomi dan kehidupan sosial. Karena itu


UNEVOC sebagai lembaga pelaksana TVET perlu dipahami sebagai: (1) bagian integral
kebijakan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dari pendidikan umum; (2) sarana mempersiapkan
telah menempatkan peran strategis pendidikan dan bidang kerja dan partisipasi dalam dunia kerja; (3)
pelatihan kejuruan (TVET) terutama untuk negara- media pembelajaran seumur hidup dan persiapan
negara berkembang. UNEVOC telah berusaha sebagai warganegara yang bertanggung jawab; (4)
mewujudkan TVET sebagai pendidikan dan pelatihan pengembangan instrumen untuk mempromosikan
vokasi yang melibatkan pendidikan umum, studi wawasan lingkungan secara berkelanjutan; dan (5)
teknologi dan ilmu-ilmu yang terkait, untuk metode untuk memfasilitasi pengentasan kemiskinan.
memperoleh keterampilan praktis, sikap, dan Pendidikan dan pelatihan kejuruan (TVET) mengacu
pengetahuan yang terkait dengan pekerjaan di semua pada: (1) pendidikan dan pelatihan yang

1
mempersiapkan siswa untuk memperoleh pekerjaan; (4) jumlah alumni yang menjadi pengusaha.
dan (2) pembelajaran yang akan membuat siswa lebih Karenanya penguasaan kompetensi yang mencakup
produktif di bidang ekonomi tertentu. Cukup sejumlah skill dan pengetahuan kerja sebagai
beralasan, kiranya manfaat TVET perlu pengalaman belajar, harus dimanfaatkan secara
didistribusikan secara lebih merata antara pria dan efektif di sekolah, masyarakat dan dunia kerja. Ini
wanita, serta antara daerah pedesaan dan perkotaan. adalah dampak secara nyata dari TVET. Pertanyaan:
Dengan demikian, pendidikan dan pelatihan kejuruan apakah TVET telah berperan strategis seperti
(TVET) memiliki peranan vital pada bidang sosial gambarkan di atas? Jika sudah, apa factor-faktor
dan pengembangan ekonomi suatu bangsa, sebab penunjang keberhasilannya? Jika belum, apa kendala
TVET mampu mengembangkan dan menghasilkan dan factor-faktor penghambatnya?
sumber daya terampil di industri, serta mampu Untuk menunjang peran strategis TVET, ada
berperan dan memfasilitasi program pengentasan banyak program yang perlu dilakukan diantaranya
kemiskinan. tentang pemanfaatan model-model pembelajaran
Peran strategis TVET menurut Sudira yang sesuai dengan karakteristik mata pelajaran di
(2018:3) adalah: (1) melakukan transformasi lingkungan TVET termasuk SMK. Terdapat banyak
pengetahuan, teknologi, seni, skill baru, kultur dan model pembelajaran, diantaranya model
karakter kerja; (2) peningkatan kemampuan dan pembelajaran langsung, problem base learning,
kemauan masyarakat untuk berkontribusi pada cooperative learning, project base learning, teaching
pekerjaan; (3) melatih dan mengembangkan potensi factory dan lain-lain. Pelaksanaan teaching factory
diri dan anak bangsa agar memiliki life skills dan (TEFA) terkait dengan tiga faktor utama yaitu: (1)
skill berkarir secara produktif; (4) mengembangkan pembelajaran yang biasa saja, dipandang tidak cukup;
tanggung jawab diri sebagai warga negara dalam (2) kompetensi siswa diperoleh dari pengalaman
mewujudkan persatuan, kesejahteraan, keadilan praktik secara langsung; dan (3) pembelajaran
social, dan daya saing bangsa; (5) membudayakan berbasis tim yang melibatkan siswa, staf pengajar dan
wajib belajar sepanjang hayat sebagai proses teknisi industri yang akan memperkaya proses
pengembangan kapasitas diri dalam rangka pendidikan dan bermanfaat bagi banyak pihak
penguatan ekonomi, kohesi social, dan martabat (Lamancusa, et al., 2008:7). Prinsip dasar TEFA
bangsa; (6) melakukan konservasi budaya luhur merupakan integrasi pengalaman dunia kerja ke
bangsa dan lingkungan sebagai warisan anak bangsa; dalam kurikulum sekolah, dimana peralatan, bahan
dan (7) meningkatkan kesehatan fisik, mental dan dan staf pengajar dirancang untuk melakukan proses
spiritual. produksi barang/jasa (Lamancusa, et al., 1995:5).
Sejalan dengan peran strategis tersebut, Keuntungan dari kegiatan TEFA dapat menambah
kurikulum dan pembelajaran TVET perlu dirancang sumber pendapatan sekolah untuk kegiatan
agar mampu memberi jaminan bagi setiap lulusan pendidikan. Pembelajaran model TEFA
untuk memasuki dunia kerja dan karirnya menghadirkan dunia industri secara nyata di
berkembang di masa depan. Keberhasilan TVET lingkungan sekolah, untuk menyiapkan lulusan yang
diukur dari empat aspek (Sudira, 2018:6) yang siap kerja sebagaimana yang dilukiskan Rentzos, et
mencakup: (1) tingkat keterserapan lulusan di dunia al., (2014) seperti tampak pada Gambar 1.a yang
kerja: (2) tingkat kepuasan alumni setelah lulus; (3) dilengkapi dengan jadwal seperti tampak pada
tingkat kepuasan pengguna atas kinerja alumni; dan Gambar 1.b di bawah ini.

a) b)

Gambar 1: Konsep dan Jadwal Kegiatan TeachingFactory


(Sumber:Rentzos L.A, et al., 2014)

2
Dalam TEFA, terdapat interaksi antara guru, Planning and Control Center merupakan devisi yang
teknisi industri, dan para siswa yang belajar dengan bertugas sebagai perencana produksi dan control
menggunakan alat-alat, instrumen, prosedur dan cara mutu. Devisi CAD Laboratories, adalah devisi yang
kerja di industri secara nyata, dalam kegiatan melaksanakan pengujian tentang hasil perencanaan
memproduksi barang/jasa yang layak jual atas dari Devisi Production Planning and Control Center,
standar-standar produk industri. Untuk memperoleh sehingga pengembangan produk barang/jasa yang
hasil belajar secara optimal bagi para siswa, serta dirancang dan dikembangkan, mutunya selalu
produk barang/jasa sesuai dengan standar industri, terkontrol dengan baik. Sedangkan Devisi Rapid
kegiatan TEFA dapat dilakukan dengan jadwal Prototyping Manufacturing Facilities, adalah Devisi
pembelajaran seperti tampak pada Gambar 1.b di yang bertugas membuat prototype produk barang dan
atas. atau jasa yang telah dirangcang-kembangkan oleh
Sementara Alptekin, et al. (2001), Devisi Production Planning and Control Center, serta
menggambarkan TEFA seperti tampak pada telah teruji secara baik dan layak oleh Devisi CAD
Gambar 2, dimana dalam TEFA of Cal Poly, paling Laboratories. Dengan struktur organisasi,
tidak terdapat 5 (lima) Devisi (Alptekin, et al., 2001), pengelolaan, dan penyelenggaraan TEFA tersebut,
yaitu: (1) Industrial Parners; (2) Production Planning diharapkan TEFA of Cal Poly, dapat berjalan,
and Control Center; (3) CAD Laboratories; (4) Rapid berfungsi dan bermanfaat sebagai tempat belajar bagi
Prototyping Manufacturing Facilities; dan (5) para siswa, sesuai dengan kurikulum yang ada,
mahasiswa. TEFA of Cal Poly, memiliki banyak sekaligus dapat menghasilkan produk barang/jasa
dukungan dari industri sehingga pelaksanaan TEFA yang layak jual dengan standar industri barang/jasa
dapat berjalan secara optimum. Devisi Production pada umumnya.

Gambar 2: Teaching Factory of Cal Poly


(Sumber: Alptekin, S.E. et al., 2001)

Tujuan dari TEFA (Hadlock, et al, 2008: 1) kesempatan rekruitmen bagi siswa; (7)
adalah: (1) mempraktikkan soft skill dalam meningkatkan kesiapan kerja siswa; (8) menjalin
pembelajaran; (2) belajar dan bekerja dalam tim; (3) kerjasama dengan dunia kerja; (9) melatih siswa
melatih kemampuan komunikasi interpersonal; (4) untuk mebuat keputusan tentang karir yang akan
memperoleh pengalaman secara langsung dan latihan dipilih; (10) kesempatan bagi guru untuk
bekerja. Sedangkan menurut Direktorat Pembinaan membangun “jembatan instruksional” antara kelas
SMK (2015) tujuan TEFA adalah: (1) menyiapkan dan dunia kerja; (11) memperluas wawasan guru
siswa menjadi calon pekerja; (2) menyiapkan siswa tentang instruksional; dan (12) membuat siswa lebih
untuk belajar ke level yang lebih tinggi; (3) giat dalam belajar, untuk meraih prestasi yang lebih
membantu siswa memilih bidang kerja sesuai dengan baik.
kemampuannya; (4) menunjukkan bahwa learning by Indikator-indikator keterlaksanaan TEFA
doing adalah penting bagi tumbuhnya kreatifitas dan menurut Direktorat Pembinaan SMK (2015)
efektivitas pendidikan; (5) menyaksikan keterampilan diantaranya mencakup: (1) proses pembelajaran
yang dibutuhkan dalam dunia kerja; (6) memperluas keterampilan yang dirancang dan dilaksanakan

3
berdasar prosedur dan standar bekerja yang tenaga kerja (yang memenuhi kebutuhan pemberi
sesungguhnya; (2) setting pembelajaran dibuat kerja dan harapan); dan (2) akses untuk trainee,
semirip mungkin dengan situasi kerja nyata; (3) kualitas pengiriman, standarisasi, inklusi soft skill,
berorientasi problem solving; (4) bersifat student dan pendanaan untuk sistem akan lebih aman dan
active learning, belajar mandiri dan bekerjasama; (5) tidak terganggu; dan (3) sistem pendidikan TVET
belajar dengan learning by doing; (6) menekankan dapat diadaptasi dari negara tertentu. Hasil penelitian
pada ketercapaian kompetensi siswa (secara ini memberi petunjuk bahwa manajemen TVET perlu
individual dan klasikal) sesuai standar kerja; (7) memperhatikan akan harapan dan kebutuhan pemberi
mengembangkan soft skill siswa (kecerdasan kerja (dunia kerja/industri), agar: (1) diperoleh
intelektual, emosional, spiritual/sosial); (8) belajar tingkat keterserapan yang tinggi terhadap lulusan
bertanggung jawab di lingkungan dunia kerja, TVET termasuk lulusan SMK; (2) tidak terjadi
berkomunikasi, membangun komitmen dan pemborosan pada sistem pendidikan di TVET karena
kreatifitas; (9) melatih siswa untuk terus belajar & kebutuhan akan tingkat re-training terhadap calon
beradaptasi dengan pengetahuan baru; (10) tenaga kerja berdasar kebutuhan dunia kerja/industri
mengembangkan dan melaksanakan pola menjadi lebih kecil. Hal ini sejalan dengan 16 dalil
pembelajaran berbasis bisnis secara berkelanjutan; Prosser (Prosser, Quigley, & Thomas,1950), dimana:
(11) mengorganisasi dan menyiapkan siswa yang (1) pendidikan kejuruan akan efektif, jika lingkungan
terlibat; (12) memberikan bimbingan/ konsultasi tempat siswa dilatih, merupakan replika lingkungan
kepada siswa secara individu dan team; dan (13) dimana mereka akan bekerja; (2) pendidikan
melaksanakan evaluasi dan perbaikan hasil kejuruan akan efektif, hanya jika tugas-tugas latihan
pembelajaran secara berkelanjutan. Pertanyaan: dilakukan dengan cara, alat dan mesin yang sama
Apakah yang dimaksud dengan TEFA? Apakah seperti yang ditetapkan di tempat kerja; dan (3)
pengaruh TEFA terhadap kesiapan kerja siswa SMK? pendidikan kejuruan akan efektif jika melatih
Apakah TEFA telah dilaksanakan dengan baik? seseorang dalam kebiasaan berpikir dan bekerja,
Apakah penerapan TEFA mampu memberikan seperti yang diperlukan dalam dunia pekerjaan. Pada
kontribusi terhadap pembangunan social, ekonomi sisi yang lain, jika suatu negara belum memiliki
dan pendidikan suatu negara? Untuk menjawab sistem pendidikan TVET yang bagus, bisa
sejumlah pertanyaan tersebut perlu dilakukan mengadopsi sistem pendidikan TVET dari negara
penelitian dengan judul “Kajian kritis terhadap hasil- lain yang lebih maju.
hasil penelitian tentang peranan TVET dan TEFA Selanjutnya seberapa jauh TVET telah
dalam pembangunan social, ekonomi dan pendidikan berdampak pada pembangunan nasional?
di suatu negara. Akhuemonkhan, Raimi & Dada (2014 ) melaporkan
hasil penelitiannya dengan judul “Impact of quality
METODE assurance (QA) on technical vocational education
Penelitian dilakukan dengan menggunakan and training in Nigeria”, yang menemukan bahwa:
kajian literatur terhadap sejumlah referensi dan hasil- (1) dampak TVET di Nigeria belum mengesankan
hasil penelitian yang relevan di negara-negara Eropa, karena QA yang tidak efektif pada semua tingkatan
Amerika Serikat (AS), Afrika dan Asia, terutama di manajemen; (2) TVET akan berdampak pada
Indonesia. Hasil kajian yang diperoleh kemajuan teknis, kelayakan kerja dan pembangunan
dipresentasikan dalam Focus Group Disscussion nasional; (3) ada kebutuhan bagi pembuat kebijakan
(FGD) untuk memperoleh masukan dan kritik dalam untuk fokus pada bidang-bidang penting seperti
rangka menyempurnakan hasil penelitian dimaksud. keuangan, akses/partisipasi, jaminan kualitas dan
relevansi program dengan kebutuhan negara. Hasil
HASIL DAN DISKUSI penelitian ini menunjukkan bahwa QA di lingkungan
Terdapat banyak penelitian yang ingin TVET pada umumnya masih perlu ditingkatkan,
mengungkap tentang TVET, dan TEFA, baik dari terutama di Nigeria atau negara-negara berkembang
aspek perencanaan, pelaksanaan, serta pengaruhnya lainnya, sebab TVET terbukti memberi dampak pada
terhadap kesiapan kerja siswa SMK, peranannya pembangunan nasional negara yang bersangkutan.
dalam membangun pertumbuhan ekonomi, maupun Karena itu, Shirley, Chijioke & Chukwumaijem,
tentang evaluasi pelaksanaan TVET atau TEFA itu (2015) memberi saran melalui penelitian yang
sendiri. Nasir (2012) melakukan penelitian dengan berjudul “Challenges and improvement strategies”,
judul “Strategy to revitalize technical and vocational yang menyimpulkan bahwa: (1) diperlukan
education and training (TVET), management pendanaan TVET yang memadai; (2) pelatihan dan
perspectives” yang menyimpulkan bahwa: (1) pelatihan kembali para guru TVET; (3) penyediaan
manajemen TVET tampaknya lebih sukses dengan fasilitas TVET yang dibutuhkan; (4) pengawasan
mempertimbangkan kriteria relevansi dengan pasar internal dan eksternal yang memadai; (5) kemitraan

4
publik dan swasta adalah strategi peningkatan untuk implementation on work readiness of vocational high
program TVET yang berkualitas di Nigeria; dan (6) school students in Makassar” yang menyimpulkan
disarankan kepada pemerintah, pemangku bahwa: (1) ada pengaruh yang signifikan antara
kepentingan, pembuat kebijakan dan penyedia TVET kontribusi penerapan program TEFA terhadap
di Nigeria, harus fokus pada praktik terbaik jaminan kesiapan kerja siswa SMK di Makassar dengan
mutu TVET yang telah bekerja di negara-negara di kontribusi sebesar 34,6%; (2) pelaksanaan
seluruh dunia. pembelajaran TEFA di SMK harus optimal untuk
Pada sisi yang lain, terutama terkait atas meningkatkan kesiapan kerja siswa SMK, sehingga
respon guru dan siswa terhadap peranan TVET, tingkat keterserapan lulusan SMK menjadi
Sidek (2007) melaporkan hasil penelitiannya yang meningkat. Hasil penelitian ini memberi petunjuk
berjudul “The role of TVET teachers in school based bahwa tingkat kesiapan kerja siswa SMK dapat
assessment of vocational electives subjects at ditingkatkan melalui pembelajaran model TEFA,
Sekolah Menengah Kebangsaan Dato Onn Batu bahkan penerapan TEFA memberi kontribusi sebesar
Pahat Johor” menyimpulkan bahwa: (1) pendapat 34,6% terhadap tingkat kesiapan kerja. Melalui
guru dan murid terhadap kesesuaian pelaksanaan TEFA: (1) siswa akan belajar sambil bekerja
PBS di sekolah adalah termasuk kategori tinggi; (2) (learning by doing); (2) siswa akan belajar secara
pelaksanaan PBS diperingkat PMR dan SPM adalah kelompok dan berkolaborasi; dan (3) siswa
termasuk kategori sesuai; dan (3) terdapat kepahaman menyaksikan secara langsung akan manfaat bidang
yang tinggi terhadap pelaksanaan PBS di kalangan studi yang dipelajari, yang selanjutnya akan
guru dan murid di Sekolah Menengah Kebangsaan meningkatkan motivasinya untuk belajar. Melalui
Dato Onn Batu Pahat, Johor Malaysia. TEFA pula, para siswa akan belajar sambil bekerja
Sementara penelitian yang ingin mengungkap secara berkelompok, sehingga akan terjadi
tentang model pengelolaan TEFA, diantaranya perkembangan intelektual, keterampilan, etika dan
dilakukan oleh Wijaya (2013) dengan judul “Model social pada diri masing-masing siswa (Sharan, 2012
pengelolaan TEFA sekolah menengah kejuruan”, :228). Belajar di dunia nyata seperti itu, akan
yang menyimpulkan bahwa: (1) model pembelajaran memberi kesempatan kepada para siswa untuk
manajemen pabrik dapat diterapkan dalam mencari dan menggabungkan informasi secara aktif
pembelajaran TEFA; (2) model pembelajaran dari tempat kerja, masyarakat, ataupun ruang kelas,
manajemen pabrik dapat berfungsi sebagai panduan lalu memanfaatkan secara positif, akan menyematkan
bagi manajer TEFA (kepala sekolah, guru, mitra informasi dalam ingatannya (Johnson, 2014:154).
industri); dan (3) model pembelajaran manajemen Belajar sambil bekerja yang menekankan pada
pabrik dapat menghasilkan kontribusi yang tindakan, akan memberi kesempatan kepada otak
konstruktif dalam kemitraan antara sekolah vokasi untuk merasakan dunia luar dengan cara-cara yang
dengan industri. Hasil penelitian ini didukung oleh tidak terhitung (Johnson, 2014: 155), sehingga siswa
temuan Nurtanto, Ramdani, Nurhaji (2017) melalui akan lebih siap terjun ke dunia kerja.
penelitian dengan judul “Pengembangan model Hasil penelitian Dewi & Sudira (2018)
teaching factory di sekolah kejuruan”, yang tersebut di atas sejalan dengan temuan beberapa
menyimpulkan bahwa: (1) manajemen TEFA penelitian yang lain bahwa model TEFA-6M dapat:
meliputi perencanaan, pengorganisasian, (1) meningkatkan kompetensi siswa; (2)
pelaksanaan, dan evaluasi; (2) manajemen TEFA meningkatkan motivasi siswa di dalam belajar; (3)
yang dikembangkan untuk praktek siswa, sebaiknya meningkatkan waktu belajar siswa di tempat kerja;
terintegrasi dengan unit produksi; dan (3) model (4) meningkatkan keterampilan lunak dan keras; dan
TEFA merupakan salah satu solusi untuk (5) meningkatkan rasa tanggung jawab dan etika di
menyiapkan peserta didik agar memiliki kompetensi dalam bekerja. Kerampilan lunak (soft skill) dan
yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Hasil keras, serta belajar etika dan tanggung jawab dalam
penelitian ini memberi petunjuk bahwa pelaksanaan belajar dan bekerja melalui model TEFA-6M, sejalan
TEFA perlu dilakukan melalui tata kelola dengan dengan tujuan pendidikan nasional yang ingin
baik, mencakup pengelola, pelaksana, sarana- menciptakan sumber daya manusia yang cerdas,
prasrana, perencanaan, organisasi pelaksana dan terampil dan berbudi pekerti luhur. Pembelajaran
evaluasi. Tata kelola yang baik akan berdampak seperti itu akan menciptakan sumber daya manusia
positif terhadap keberhasilan penerapan TEFA. yang cerdas sesuai dengan tuntutan hidup di abad 21
Sedangkan seberapa jauh penerapan TEFA yang harus memiliki kemampuan berpikir kritis,
berdampak pada tingkat kesiapan kerja siswa SMK? inovatif, serta memiliki kemampuan berkolaboratif
Dewi & Sudira (2018) melaporkan hasil yang ditunjang oleh kemampuan berkomunikasi.
penelitiannya melalui jurnal dengan judul “The Melalui TEFA, siswa belajar dengan media yang
contribution of teaching factory program tepat, sehingga keterampilannya akan meningkat,

5
baik bagi siswa yang memiliki tingkat berpikir kreatif kreatif, inovatif, berani mengambil resiko,
tinggi maupun rendah. Muslim (2018.a) menemukan berorientasi pada tindakan, kepemimpinan, bekerja
bahwa ada interaksi yang sangat signifikan antara keras dan memiliki daya saing.
tingkat berpikir kreatif dan media pembelajaran Selanjutnya seberapa jauh penerapan TEFA
siswa, terhadap hasil belajar ranah psikomotor. Hasil mampu memberikan kontribusi terhadap
penelitian ini menunjukkan bahwa media pembangunan ekonomi suatu negara? Menurut survai
pembelajaran berpengaruh penting terhadap hasil IMF (International Monetary Fund) pada bulan April
belajar siswa. Bekerja pada alat pelatihan tahun 2013, bahwa di Eropa saja, produk manufaktur
memungkinkan siswa untuk memperoleh menyumbang lebih dari 28% dari PDB, meskipun
pengetahuan dan keterampilan praktis dan kemudian ketika itu terjadi resesi. Oleh karena itu Manufuture
menggunakan keterampilan itu untuk pemecahan High Level Group and Implementation Support
masalah dan kontrol mesin (Muslim, 2018.b). Group (2006) menyarankan perlunya promosi atas
Apalagi dalam pembelajaran berbasis TEFA, ada keunggulan pendidikan manufaktur (TEFA). Melalui
tugas-tugas kelompok, dimana siswa perlu diskusi. TEFA akan terjadi penggabungan antara dunia
Diskusi kelompok seperti itu, memerlukan sikap akademik dan praktek secara nyata, yang akan
bekerjasama, saling berbagi tugas dan tanggung memacu kemampuan siswa untuk berpikir secara
jawab dalam penyelesaian tugas (Muslim, 2013). kritis. Anggapan masyarakat bahwa berpikir kritis
Kerjasama dapat menghilangkan hambatan mental hanya ada di “mata kuliah filsafat” adalah sesuatu
akibat terbatasnya pengalaman dan cara pandang yang keliru. Perlu dicatat bahwa berpikir kritis bukan
yang sempit (Johnson, 2014, p. 164). sesuatu yang sulit, yang hanya bisa dilakukan oleh
Temuan penelitian Dewi dan Sudira (2018) mereka yang memiliki IQ tinggi dalam kategori
tersebut di atas juga didukung oleh simpulan genius, sebaliknya berpikir kritis merupakan sesuatu
penelitian dari Pradana, dan Yoto (2018), melalui yang dapat dilakukan oleh setiap orang (Johnson,
penelitian yang berjudul “Manajemen pelaksanaan 2014:190), termasuk siswa SMK. Dengan alasan
TEFA dalam rangka mempersiapkan lulusan tersebut, maka kebiasaan berpikir kritis, harus
memasuki dunia kerja siswa SMK Muhammadiyah 7 ditanamkan sejak dini kepada para siswa. Sejalan
Gondanglegi” menemukan bahwa: (1) dari aspek dengan yang dinyatakan Johnson (2014:191), bahwa
persiapan, pelaksanaan, dan kegiatan evaluasi TEFA berlatih bagi pemikir kritis, sama pentingnya seperti
di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi telah berlatih bagi pemain tenis dan musisi, dan hanya
berjalan dengan baik; dan (2) melalui TEFA siswa latihanlah yang membuat keterampilan menjadi suatu
SMK lebih siap terjun ke dunia kerja. Hasil penelitian kebiasaan. Selanjutnya bukti-bukti lain telah
ini, sejalan dengan temuan Indrawati (2017) melalui menunjukkan bahwa “konsep pelatihan modern”,
penelitiannya dengan judul “Peningkatan pencapaian pembelajaran industri (TEFA) dan skema transfer
kualitas lulusan D-3 teknik elektro dengan model pengetahuan, dapat berkontribusi dalam rangka
TEFA” yang menyimpulkan bahwa: (1) penerapan meningkatkan kinerja inovasi manufaktur di Eropa
model TEFA mulai dari standar kompetensi, media, (Chryssolouris, Mavrikios, Mourtzis, 2013). Karena
dosen, siswa, penggunaan dan pemeliharaan proses itu menurut Mavrikios, Papakostas, Mourtzis, &
produksi, pemasaran dan evaluasi, telah terstruktur Chryssolouris (2011) bahwa pendekatan baru (TEFA)
cukup baik; (2) ada kekurangan pada aspek sangat diperlukan dalam rangka: (1) memodernisasi
manajemen, sehingga TEFA kurang mencapai titik proses pembelajaran lebih dekat ke praktik industri;
optimum yang diharapkan; dan (3) meskipun (2) memanfaatkan praktik industri untuk memperoleh
demikian, terdapat peningkatan kualitas lulusan pengetahuan baru; (3) mendukung transisi dari
program D-3 teknik elektro Universitas PGRI Kediri manufaktur berbasis tenaga kerja dan modal, ke arah
secara memuaskan. manufaktur berbasis informasi dan pengetahuan; dan
Agak berbeda dengan beberapa penelitian (4) mengembangkan serta mempertahankan
tentang TEFA yang dijelaskan di atas, pertumbuhan industri yang lebih stabil. Tujuan utama
Wafroturrohmah melakukan penelitian dengan judul TEFA adalah untuk mengintegrasikan kegiatan
“ Upaya peningkatan life skill dan nilai entrepreneur pendidikan, penelitian dan inovasi ke dalam satu
melalui pembelajaran TEFA pada era millineal” inisiatif yang melibatkan industri dan akademisi
yang menyimpulkan bahwa pembelajaran TEFA secara efektif dan efesien. Dalam konteks itu,
yang diintegrasikan dengan model pembelajaran Chryssolouris, Mavrikios, & Mourtzis (2013) lebih
discovery learning, problem based learning, dan menegaskan bahwa konsep pelatihan modern, yang
project based learning, dapat meningkatkan personal berwujud pembelajaran industri (TEFA) dan skema
life skill (personal skill, social skill, academic skill, transfer pengetahuan, memberikan kontribusi dalam
dan vocational skill) yang diwarnai dengan nilai-nilai rangka peningkatan kinerja inovasi manufaktur di
entrepreneur yang mencakup sifat-sifat mandiri, negara-negara kawasan Eropa.

6
Masih tentang seberapa jauh penerapan TEFA penelitian yang berjudul “Efektivitas pelaksanaan
akan mampu memberikan kontribusi terhadap TEFA siswa SMK di Solo Technopark Surakarta”
pembangunan ekonomi suatu negara? Terdapat menemukan bahwa terdapat beberapa aspek kekuatan
beberapa peneliti yang melaporkan hal tersebut. pelaksanaan TEFA yaitu dari aspek proses
Paling tidak pada dekade terakhir, konsep TEFA perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan dan evaluasi
telah mendapatkan perhatian penting, terutama di serta kegiatan dokumentasi yang telah dikelola
Amerika Serikat, yang menghasilkan sejumlah dengan baik. Sedangkan kelemahan pelaksanaan
kegiatan percontohan pendidikan dan atau bisnis TEFA diantaranya adalah dari aspek keterlambatan
(Rentoz, 2014). Proyek industri yang berlangsung di dalam produksi barang/jasa, karena kurangnya
TEFA, memberikan siswa pengalaman belajar yang fasilitas dan jumlah instruktur yang baru terisi
terintegrasi ke dalam pengaturan kontekstual, di sebanyak 50% dari yang seharusnya. Berbeda dengan
mana penekanan belajar diberikan kepada temuan Lestari (2014) dan Fajaryati (2012) yang
kompetensi dan aplikasi yang efektif. Menurut menyimpulkan bahwa dari segi kegiatan
Wagner (2012), sebagian besar aplikasi paradigma pembelajaran, dan pelaksanaan TEFA telah berjalan
pembelajaran industri yang dilaporkan, dengan baik, sedangkan kegiatan proses produksi,
mensimulasikan fitur kunci dari lingkungan industri belum lancar seperti yang diharapkan. Karenanya
dalam pengaturan akademik, dengan menggunakan Fajaryati (2012) menyarankan beberapa hal: (1) perlu
peralatan model-model produksi. Perlu dicatat bahwa terus dilakukan sosialisasi tentang pembelajaran
terdapat beberapa penelitian yang mengungkapkan TEFA, baik di lingkungan sekolah, orang tua,
hubungan antara kualitas pendidikan dan maupun masyarakat; (2) sosialisasi pembelajaran
pertumbuhan ekonomi. Menyoroti terhadap fakta, TEFA di lingkungan pendidikan, industri, dan
bahwa sumber daya manusia adalah kunci dari masyarakat sehingga pelaksanaan TEFA mendapat
pertumbuhan ekonomi (Rentoz, 2014), dan menurut dukungan luas dari berbagai pihak; (3) perlu
Tether et al. (2005), bahwa kinerja pada tes prestasi dilakukan evaluasi dan perbaikan pembelajaran
siswa internasional memiliki dampak yang kuat pada TEFA secara periodik; (4) perlu peningkatan
pertumbuhan ekonomi, dan karena itu kurangnya kemampuan dalam melakukan riset pasar bagi para
keterampilan akan memiliki efek negatif pada kinerja guru dan pengelola TEFA; (5) perlu peningkatan
inovasi (Rentoz, 2014). strategi pemasaran bagi para guru dan pengelola
Selanjutnya seberapa jauh model TEFA telah TEFA; (6) perlunya pengembangan jaringan pasar
dilaksanakan dengan baik? Lucyana, Tunas, Sunaryo dan distribusi produk TEFA; dan (7) perlu
(2017) melaporkan hasil penelitiannya dengan judul peningkatan promosi hasil TEFA di kalangan
“Evaluation of teaching factory at industrial masyarakat luas secara berkelanjutan.
vocational high school of industrial education and
training center ministry of industry” yang dilakukan SIMPULAN DAN SARAN
dengan motode CIPP menemukan bahwa: (1) Dari pembahasan hasil-hasil penelitian seperti
evaluasi kebutuhan program TEFA berada dalam dipaparkan di atas, diperoleh temuan penelitian
kategori "baik"; (2) evaluasi persiapan program sebagai berikut: (1) pendidikan teknologi dan
TEFA berada dalam kategori "benar"; (3) penilaian kejuruan (TVET), telah diarahkan untuk menyiapkan
dari implementasi program TEFA berada dalam peserta didik terjun ke dunia kerja dengan desain
kategori "baik"; (4) evaluasi hasil dan manfaat pendidikan kejuruan yang menekankan pada
program TEFA berada dalam posisi "memuaskan"; penguasaan kompetensi yang sesuai dengan
dan (5) hasil dan keuntungan dari program TEFA kebutuhan dunia industri; (2) TVET memiliki peran
hanya bermanfaat bagi siswa, tetapi belum dirasakan utama dan kunci pada bidang sosial dan
oleh pemangku kepentingan dunia bisnis dan dunia pengembangan ekonomi suatu negara; (3) TVET
industri pada umumnya. Hasil penelitian ini berdampak pada kemajuan teknis, kelayakan kerja
mengingatkan kepada pelaksana program TEFA, dan pembangunan ekonomi nasional seperti
bahwa perlu dilakukan perbaikan manajemen TEFA, keuangan, akses/partisipasi, jaminan kualitas dan
agar pelaksanaan TEFA tidak hanya bermanfaat bagi relevansi program dengan kebutuhan negara; (4)
siswa, tetapi juga bermanfaat bagi dunia industri pada dampak TVET di Nigeria belum mengesankan
umumnya. Suatu upaya untuk memelihara karena quality assurance (QA) yang belum berjalan
kemanfaatan TEFA terhadap kedua belah pihak, akan secara efektif pada semua tingkatan manajemen; (5)
menjamin keberlangsungan penerapan TEFA secara TEFA merupakan suatu gabungan dari pendekatan
lebih baik. pembelajaran yang berbasis kompetensi dan
Masih terdapat beberapa studi tentang produksi, dimana proses pembelajaran praktik yang
pelaksanaan TEFA, baik yang menyangkut kelebihan dilakukan menyerupai proses praktik di dunia kerja
maupun kekurangannya. Lestari (2014) lewat yang sesungguhnya dengan mengadakan kegiatan

7
produksi barang atau jasa di lingkungan sekolah; (6) dosen program studi S-2 pendidikan teknologi dan
terdapat pengaruh yang signifikan atas penerapan kejuruan Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya,
program TEFA terhadap kesiapan kerja siswa SMK, serta para mahasiswa yang telah terlibat aktif dalam
dimana penerapan TEFA memberi kontribusi sebesar penelitian ini, sehingga penelitian dapat diselesaikan
34,6% terhadap kesiapan kerja; (7) penerapan TEFA dengan baik, disampaikan banyak terima kasih.
mampu memberikan kontribusi terhadap
pembangunan ekonomi suatu negara, dimana pada REFERENSI
bulan April tahun 2013, di Eropa saja produk Akhuemonkhan, I., Raimi, L. & Dada, J.O (2014 ).
manufaktur menyumbang lebih dari 28% dari PDB, Impact of quality assurance on
meskipun ketika itu terjadi resesi; dan (8) secara technical vocational education
umum pelaksanaan TEFA, berada pada kategori and training in nigeria. Afro
benar, baik dan memuaskan. Asian Journal of Social Sciences
Untuk meningkatkan kinerja TVET dan TEFA Volume 5, No. 5.2 Quarter II
yang lebih baik, disarankan hal-hal sebagai berikut: 2014 ISSN: 2229 – 5313.
(1) pembelajaran TEFA perlu diintegrasikan dengan
model pembelajaran discovery learning, problem Alam, N. (2015). The role of technical vocational
based learning, dan project based learning, dalam education and training in human
rangka meningkatkan personal life skill yang development: Pakistan as a
mencakup personal skill, social skill, academic skill, reference point. European
dan vocational skill yang diwarnai dengan nilai-nilai Scientific Journal April 2015
entrepreneur dengan sifat-sifat mandiri, kreatif, edition Vol.11, No.10 ISSN:
inovatif, berani mengambil resiko, yang berorientasi 1857 –7881 (Print), e -ISSN
pada tindakan, kepemimpinan, kerja keras dan daya 1857- 7431.
saing; (2) secara umum quality assurance (QA) di
lingkungan TVET masih perlu ditingkatkan, terutama Alptekin, S.E., et al. (2001). Teaching factory
di Nigeria atau negara-negara berkembang lainnya, Proceedings of the 2001
sebab TVET terbukti memberi dampak pada American Society for Engineering
pembangunan nasional negara yang bersangkutan; (3) Education Annual Conference
dalam rangka peningkatan peran strategis TVET, and Exposition, Cal Poly, San
diperlukan kerjasama antara pendidikan kejuruan dan Luis Obispo. Diambil pada
stakeholder yang relevan, untuk menciptakan tanggal 20 Agustus 2016 dari
pendidikan yang berkualitas termasuk melalui http://digitalcommons.
teaching factory menjadi sesuatu hal yang penting; calpoly.edu.
(4) diperlukan pendanaan TVET yang lebih memadai
agar: (a) pelatihan dan pelatihan kembali para guru Chryssolouris, G., Mavrikios, D., Mourtzis, D.
TVET dapat dilakukan dengan lebih baik; (b) (2013). Manufacturing Systems:
penyediaan fasilitas TVET agar program-program Skills & Competencies for the
TVET dapat berjalan dengan lancar; dan (c) Future”, Procedia CIRP, Keynote
kemitraan antara negeri dengan swasta, adalah paper of the 46th CIRP
strategi penting dalam rangka peningkatan program Conference on Manufacturing
TVET. Saran yang kelima, perlu dilakukan perbaikan Systems 2013:7:17-24.
manajemen TEFA, agar pelaksanaan TEFA tidak
hanya bermanfaat bagi siswa, tetapi juga bermanfaat Direktorat Pembinaan SMK-Departemen Pendidikan
bagi dunia industri pada umumnya, dimana upaya Nasional (2009). Roadmap
memelihara kemanfaatan TEFA terhadap kedua belah pengembangan SMK 2010-2014.
pihak, akan menjamin keberlangsungan TEFA secara Jakarta: Departemen Pendidikan
lebih baik. Nasional.

UCAPAN TERIMA KASIH Dewi, S.S., Sudira, P. (2018). The Contribution of


Atas bantuan dari berbagai pihak, penelitian ini teaching factory program
dapat diselesaikan. Untuk itu dalam kesempatan implementation on work
yang berharga ini disampaikan terima kasih kepada readiness of vocational high
Rektor Universitas Negeri Surabaya yang telah school students in Makassar.
memberikan kesempatan di mana penelitian ini dapat Journal of Educational Science
dilakukan dengan lancar sesuai dengan jadwal waktu and Technology, Volume 4
yang telah direncanakan. Demikian juga, kepada para Number 2, August 2018, page

8
126-131p-ISSN:2460-1497 and e- Manufuture High Level Group and Implementation
ISSN: 2477-3840. DOI: http://dx. Support Group. ManuFuture
doi.org/10. 26858/est.v4i2.6434. Platform - Strategic Research
Agenda, Assuring the future of
Hadlock, H., Wells, S., Hall, J., et al. [2008]. From manufacturing in Europe 2006.
Practice to Entrepreneurship:
Rethinking the Learning Factory Mavrikios, D., Papakostas, N., Mourtzis, D.,
Approach. Proceedings of The Chryssolouris, G. (2011). On
2008 IAJC-IJME International industrial learning & training for
Conference, ISBN 978-1-60643- the factories of the future: A
379-9. conceptual, cognitive &
technology framework, Journal of
IMF (International Monetary Fund), World Intelligent Manufacturing, Special
Economic Outlook – Hopes, Issue on Engineering Education
Realities, Risks, World Economic 2011;24/3:473-485.
and Financial Survey, April 2013,
URL: http://www.imf.org/ exter- Muslim, S. (2013). Tes Kinerja (performace test)
nal/pubs/ft/weo/2013/01/pdf/text. dalam bidang pendidikan
pdf. teknologi dan kejuruan, makalah
disampaikan pada seminar teknik
Indrawati, E.M. (2017). Peningkatan pencapaian elektro dan pendidikan teknik
kualitas lulusan D-3 Teknik elektro, Desember, 2013.
Elektro dengan model teaching
factory. Jurnal Penjaminan Muslim, S., et al. (2018.a). Influence of learning
Mutu, Universitas PGRI Kediri media based on adobe flash
28 Pebruari 2017, p-43-52. professional to psychomotor
domain learning outcomes on plc
Johnson, E. B. (2014). CTL-Contextual teaching & courses viewed from level of
learning. Bandung: Kaifa. creative thinking student. Jurnal
Pendidikan Vokasi Volume 8, No
Lamancusa, John S., et al. (1995). The learning 3, November (267-276) Online:
factory: a new approach to ISSN 2088-2866 (print); ISSN
integrating design and 2476-9401 (online) http:// journal.
manufacturing into enginering uny.ac.id/index.php/jpv.
curricula. ASEE Proceedings,
Anaheim, California, 2262. Muslim, S., et al. (2018.b). Development Module
(Lab Report) As a Media of
…………………………… (2008). The learning Learning in Vocational Education
factory, industry-partnered active Viewed by Gender. ICVEE IOP
learning. Journal of engineering Publishing IOP Conf. Series:
Education. Materials Science and
Engineering 336 (2018) 012035
Lucyana, Tunas, B., Sunaryo, W. (2017). Evaluation doi:10.1088/1757-899X/336/1/ 01
of teaching program at industrial 2035
vocational high school of
industrial education and training Nasir, S.B. (2012). Strategy to revitalize technical
center ministry of industry. and vocational education and
International Journal of training (TVET):management
Innovative Research in Science, perspectives. Global journal of
Engineering and Technology (A management and business
High Impact Factor & UGC research Volume 12 Issue 23
Approved Journal). Website: Version 1.0, Year 2012 Type:
www. ijirset.com. Vol. 6, Issue 9, Double Blind Peer Reviewed
September 2017. Doi:10.15680/ International Research Journal.
IJIRSET.2017.0609 001. Publisher: Global Journals Inc.

9
(USA) Online ISSN: 2249-4588 Shirley, A.C., Chijioke, O.P. & Chukwumaijem, O.B.
& Print ISSN: 0975-5853. (2015). Challenges and
Improvement Strategies. Journal
Nurtanto, M., Ramdani, S.D., Nurhaji, S. (2017). of Education and Learning; Vol.
“Pengembangan model teaching 4, No. 1; 2015 ISSN 1927-5250,
factory di Sekolah Kejuruan”. E-ISSN 1927-5269. Published by
Prosiding Seminar Nasional Canadian Center of Science and
Pendidikan FKIP-UNTIRTA Education Towards Quality
2017 ISBN 978-602-19411-2- Technical Vocational Education
6.447. and Training (TVET)
Programmes in Nigeria.
Pradana, D.H.E., dan Yoto, S. (2018). Manajemen
pelaksanaan teaching factory Wagner, U., AlGeddawy, T., ElMaraghy, H., Müller,
dalam mempersiapkan lulusan E. (2012). The State-of-the-art
memasuki dunia kerja siswa SMK and prospects of learning
Muhamadiyah 7 Gondanglegi. factories. Procedia CIRP 2012,
Jupedasmen, Volume 4, Nomor 1, 3:109-114
April 2018, p. 97.
Wafroturrohmah (2018). Upaya peningkatan life skill
Prosser, Charles A., & Quigley, Thomas H. (1950). dan nilai entrepreneur melalui
Vocational Education in pembelajaran teaching factory
Democracy. Chicago: American pada era millineal. Seminar
Technical Society. Nasional Pendidikan 2018.
Universitas Muhammadiyah
Rentzos L.A, et al. (2014). Integrating manufacturing Surakarta, p.122-131
education with industrial practice
using Tefa paradigm: A Wijaya, M. B. R (2013). Model pengelolaan teaching
construction equipment factory di Sekolah Menengah
application. proceedings of the Kejuruan. Jurnal Penelitian
47th CIRP conference on Pendidikan, Vol. 30, nomor 2
manufacturing systems, volume tahun 2013.
17 (2014), pp. 189 – 194

Sharan, S. (2012. The handbook of cooperative


learning: Inovasi pembelajaran
untuk memacu keberhasilan siswa
di kelas. Diterjemahkan oleh Sigit
Prawoto. Yogyakarta: Familia
(Grup Relasi Inti Media).

10