Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTEK

SISTEM SELULER

MODUL 4
Pengukuran Coverage dan Handoff

Disusun Oleh :
Ali Assegaf
1803422002

PROGRAM STUDI BROADBAND MULTIMEDIA


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2019
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Telekomunikasi adalah sebuah salah satu komponen utama untuk berlangsungnya suatu
pekerjaan maupun sosial yang terjadi hingga hari ini, instrumentasi berupa telepon atau
handphone yang bersifat seluler adalah salah satu sarana agar hal itu dapat berjalan. Seseorang
membutuhkan sebuah komunikasi untuk mendapatkan informasi dari berbagai sektor, maupun
saluran transmisi yang digunakan kebanyakan sudah melalui wireless.
Pentingnya sebuah sistem telekomunikasi menjadikan pemerintah untuk meningkatkan
kualitas jaringan seluler di indonesia, dari daerah urban, hingga sampai daerah sub-urban
dengan letak geografis serta ketinggian tanah yang berbeda - beda. Banyaknya pengguna juga
menjadi hal penting yang harus ditingkatkan, serta layanan yang beragam membuat jaringan
seluler semakin baik. Sampai hari ini, sistem telekomunikasi terus berkembang hingga sampai
saat ini hingga memasuki era 4G LTE (Long Term Evolution). Beberapa dari kita sudah
mengetahui bahwa 4G memiliki frekuensi yang besar sehingga cakupan nya tidak terlalu jauh.
Maka dapat dikatakan bahwa, jika user ingin merasakan performa terbaik dari adanya jaringan
4G di Indonesia, maka pemerintah mengharuskan menyediakan banyaknya BTS (Base
Transceiver Station) yang tersebar, hal itu memiliki tujuan agar telepon seluler dapat selalu
terhubung dengan jaringan 4G walaupun user bergerak dari tempat satu ke tempat yang
lainnya.
Maka dari itu laporan 3 ini akan membahas mengenai pengukuran coverage dan handoff
pada jaringan 4G, sehingga kita dapat melihat sebuah jaringan dapat berpindah dari BTS satu
ke BTS yang lain, hal itu dapat kita katakan sebagai handoff, serta kita dapat melihat besarnya
nilai Rx level yang didapat ketika jaringan 4G sudah mengalami handoff. Pada percobaan kali
ini dilakukan percobaan dengan menggunakan 2 provider, yakni indosat dan juga axis dengan
jaringan 4G LTE, data tersebut dapat diambil dengan melakukan drive test menggunakan
aplikasi G-NET Track, serta daerah mengambilan data berada di BTS BSI Margonda,

1.2. Tujuan
1. Mahasiswa diharapkan dapat memahami proses propagasi sinyal sistem cellular dari
pemancar BTS hingga ke handphone pengguna.
2. Mahasiswa dapat memahami perhitungan link budget sistem cellular.
3. Memahami parameter-parameter penting dalam pengukuran link budget.
BAB II
DASAR TEORI

2.1. 4G (Fourth Generation)


Teknologi 4G (juga dikenal sebagai Beyond 3G) adalah istilah dalam teknologi
komunikasi yang digunakan untuk menjelaskan evolusi berikutnya dalam dunia komunikasi
nirkabel. Menurut kelompok kerja 4G (4G working groups), infrastruktur dan terminal yang
digunakan 4G akan mempunyai hampir semua standar yang telah diterapkan dari 2G sampai
3G. Sistem 4G juga akan bertindak sebagai platform terbuka di mana inovasi yang baru dapat
berkembang.
Teknologi 4G akan mampu untuk menyediakan Internet Protocol (IP) yang komperhensif
di mana suara, data dan streamed multimedia dapat diberikan kepada para pengguna “kapan
saja, di mana saja”, dan pada kecepatan transmisi data yang lebih tinggi dibanding generasi
yang sebelumnya. Banyak perusahaan sudah mendefinisikan sendiri arti mengenai 4G untuk
menyatakan bahwa mereka telah memiliki 4G, seperti percobaan peluncuran WiMAX, bahkan
ada pula perusahaan lain yang mengatakan sudah membuat sistem prototipe yang disebut 4G.
Walaupun mungkin beberapa teknologi yang didemonstrasikan sekarang ini dapat menjadi
bagian dari 4G, sampai standar 4G telah didefinisikan, mustahil untuk perusahaan apapun
sekarang ini dalam menyediakan kepastian solusi nirkabel yang bisa disebut jaringan seluler
4G yang tepat sesuai dengan standar internasional untuk 4G.
4G adalah singkatan dari istilah dalam bahasa Inggris: fourth-generation technology.
Istilah ini umumnya digunakan mengacu kepada pengembangan teknologi telepon seluler. 4G
merupakan pengembangan dari teknologi 3G. Berkaitan dengan teknologi 4G, SIP
adalah protokol inti dalam internet telephony yang merupakan evolusi terkini dari Voice over
Internet Protocol maupun Telephony over Internet Protocol . Teknologi tersebut banyak
di perdebatkan oleh operator, pemerintah dan DPR belakangan ini. Tidak lama lagi internet
telephony akan menjadi tulang punggung utama infrastruktur telekomunikasi. Teknologi
internet telephony memungkinkan pembangun infrastruktur telekomunikasi rakyat secara
swadaya masyarakat (tanpa Bank Dunia, IMF maupun ADB) bahkan mungkin tanpa kontrol
pemerintah sama sekali. Dengan teknologi SIP dalam 4G, nomor telepon PSTN hanyalah
sebagian kecil dari identifikasi telepon. Bagian besarnya akan dilakukan menggunakan URL.

2.2. Kelebihan 4G
Kelebihan lain yang dimiliki oleh teknologi 4G yang menggunakan jaringan LTE ini
adalah dapat menghemat biaya pengeluaran bagi operator yang sudah memiliki jaringan 3G
dan HSDPA, memiliki jaringan yang cukup luas dan layanan data broadband dalam skala besar.
Berkaitan dengan hal yang disebut sebelumnya maka dari sisi pengguna atau konsumen adalah
tarif yang akan lebih ekonomis. Namun layaknya tak ada gading yang tak retak, maka ada
sedikit kekurangan juga pada teknologi LTE, yaitu perlunya lisensi frekuaensi mengingat LTE
berjalan pada frekuensi 2.5 Ghz.

2.3 Frequency Reuse


Frequency Reuse adalah penggunaan ulang sebuah frekuensi pada suatu sel, dimana
frekuensi tersebut sebelumnya sudah digunakan pada satu atau beberapa sel lainnya.
Terbatasnya spektrum frekuensi yang dapat digunakan pada sistem komunikasi bergerak
menyebabkan penggunaan spektrum frekuensi tersebut harus seefisien mungkin. Jarak antara
2 sel yang menggunakan frekuensi yang sama ini harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak
akan mengakibatkan interferensi.

Latar belakang penerapan frequency reuse ini adalah karena adanya keterbatasan
resource frekuensi yang dapat digunakan, sedangkan kebutuhan akan ketersedian coverage area
yang lebih luas terus meningkat. Maka agar coverage area baru dapat diwujudkan, dibuatlah
sel-sel baru dengan menggunakan frekuensi yang sudah pernah digunakan sebelumnya oleh sel
lain. Gambar di bawah ini menunjukan pemetaan geographis penggunaan freukensi pada
beberapa sel, dimana digunakan mekanisme frequency reuse.

Inti dari konsep selular adalah konsep frekuensi reuse. walaupun ada ratusan kanal yang
tersedia, bila setiap frekuensi hanya digunakan oleh satu sel, maka total kapasitas sistem
akan sama dengan total jumlah kanal. Dalam penggunaan kembali kanal frekuensi
diusahakan agar daya pemancar masing masing BS tidak terlalu besar, hal ini untuk
menghindari adanya interferensi akibat pemakaian kanal yang sama Interferensi Co-
Channel).

Jarak minumum frekuensi reuse yang diperbolehkan ditentukan oleh beberapa faktor,
yaitu jumlah sel yang melakukan frekuensi reuse, bentuk geografis suatu wilayah, tinggi
antena, dan besarnya daya pemancar pada masing masing base station.

Dalam hal ini jarak minimum frequency reuse dapat dicari dengan rumus pendekatan
teori sel hexsagonal, yaitu :

dimana :

 D = Jarak minimum sel yang menggunakan kanal frekuensi yang sama.


 R = Radius sel, dihitung dari pusat sel ke titik terjauh dalam sel.
 K = Banyaknya sel per kelompok / pola sel / pola frequency reuse.

Pola frequency reuse pada sistem selular diperlihatkan gambar. Pengaturan pola tersebut
harus sebaik mungkin, hal ini untuk menghindari interferensi akibat adanya penggunaan kanal
yang berdekatan (Interferensi Adjacent Channel) dan interferensi co-channel.

Besaran D/K disebut sebagai faktor reduksi kanal dengan frekuensi yang sama. Besaran
tersebut menentukan kualitas transmisi dalam perencanaan sistem selular agar tidak terjadi
interferensi co-channel. Dari persamaan juga terlihat bahwa, jika jarak D semakin besar, maka
jumlah kelompok sel akan bertambah, sehingga interferensi co-channel akan berkurang,
dengan catatan daya pemancar pada BS tidak terlalu besar. Tetapi untuk pita frekuensi yang
sama, jumlah kanal/sel akan berkurang yang berarti kapasitas trafik per sel akan lebih kecil

2.4 Mobilitas
Mobilitas adalah salah satu hal yang penting dari sistem komunikasi selular. Pada hal
yang berkaitan dengan mobilitas diharapkan bahwa panggilan (call) selular yang dilakukan
dimanapun dan kapanpun dalam daerah pelayanan, mampu untuk menjaga call (pembicaraan)
tanpa interupsi pelayanan atau putusnya call sementara dalam keadaan bergerak.
Handover pada jaringan selular diperlukan sistem yang mempunyai kemampuan untuk
pindah ke lingkungan sel lain untuk tetap menjaga kelangsungan komunikasi. Oleh karena itu
jaringan selular harus melakukan proses handover. Handover atau yang biasa juga disebut
handoff merupakan suatu proses pengalihan Radio Base Station (RBS) apabila pengguna
melakukan suatu call (panggilan) dalam keadaan bergerak dari satu sel menuju sel yang lain.
Proses ini terjadi agar pelanggan dapat mengirim atau menerima sinyal dengan baik walaupun
pelanggan sedang dalam keadaan bergerak. Proses handover ini dilakukan pada saat sebuah
Mobile Station (MS) menerima sinyal yang diterima atau dikirim lemah. Terdapat dua kondisi
untuk dilakukannya proses handover, yaitu:
1. Ketika Mobile Station berada pada perbatasan level sel, karena sinyal yang
diterima akan melemah.
2. Pada saat pengguna berada pada lubang kekuatan sinyal (signal strength hole)
yang terdapat dalam suatu sel. Apabila panggilan (call) sudah stabil, maka kanal
set-up sudah tidak digunakan lagi selama waktu panggilan.
Handoff terdiri dari dua jenis, yaitu:
1. Handoff yang berdasarkan pada kuat sinyal.
2. Handoff yang berdasarkan perbandingan carrier terhadap interferensi (carrier to
interference ratio).
2.5 Handoff
Pada komunikasi seluler, istilah handoff merupakan proses transfer suatu ongoing call
atau data session dari suatu kanal yang terhubung dalam satu inti jaringan ke kanal lain. Pada
komunikasi satelit, istilah tersebut diartikan pengalihan tanggung jawab kontrol satelit dari satu
stasiun bumi k stasiun yg lain tanpa kesalahan (loss) atau interupsi layanan. Istilah British
English untuk panggilan seluler adalah handover, yang terminologinya berstandar 3GPP yang
berasal dari teknologi Eropa seperti GSM dan UMTS.

Untuk menjelaskan klasifikasi di atas mengenai inter-cell dan intra-cell handoff, dapat
pula dibagi menjadi hard dan soft handoff:
1. Hard handoff adalah suatu metode dimana kanal pada sel sumber dilepaskan dan setelah
itu baru menyambung dengan sel tujuan. Sehingga koneksi dengan sel sumber terputus
sebelum menyambung dengan sel target – untuk alasan tersebut hard handoff juga
dikenal dengan sebutan “break-before-make”. Hard handoff dimaksudkan untuk
meminimalkan gangguan panggilan secara instan. Suatu hard handoff dilakukan oleh
jaringan selama panggilan berlangsung.

2. Soft handoff adalah suatu metode dimana kanal pada sel sumber tetap tersambung
dengan user sementara secara paralel juga menghubungi kanal pada sel target. Pada
kasus ini, sambungan ke target harus berhasil dahulu sebelum memutus sambungan
dengan sel sumber, karena itulah soft handoff juga disebut “make-before-break”.
Interval selama terjadinya dua sambungan dilakukan secara paralel bisa saja singkat
maupun substansial (tergantung kondisi yang memungkinkan). Karena alasan inilah
soft handoff dapat dilakukan dengan koneksi lebih dari satu sel, misalnya koneksi
dengan tiga sel, empat atau lebih, semua dapat dilakukan oleh telepon dalam satu
waktu. Ketika panggilan dalam keadaan soft handoff, sinyal yang terbaik dari semua
penggunaan kanal dapat dimanfaatkan untuk panggilan pada saat itu atau semua sinyal
dikombinasikan agar dapat menghasilkan duplikat sinyal yang lebih baik. Kemudian
yang lebih menguntungkan adalah, ketika kedua performa dikombinasikan pada
downlink (forward link) dan uplink (reverse link) maka handoff tersebut menjadi lebih
halus (softer). Softer handoff dapat dilakukan apabila sel yang mengalami handoff
berada dalam satu situs sel.

Kegunaan dari hard handoff adalah apabila terjadi suatu keadaan dimana suatu
panggilan hanya menggunakan satu kanal. Hard handoff dilakukan secara singkat dan
seringkali tidak dirasakan oleh pengguna. Pada sistem analog bisa saja terdengar seperti bunyi
“klik” atau “beep” yang sangat singkat, sedangkan pada sistem digital hal ini hampir tidak
terasa. Keuntungan lain dari hard handoff adalah perangkat telepon tidak memerlukan
kemampuan untuk menerima dua atau lebih kanal secara paralel, sehingga lebih murah dan
sederhana. Namun hal ini juga memiliki kekurangan, yaitu tingkat keberhasilan yang rendah
dimana kerap kali terjadi panggilan putus atau terganggu. Teknologi yang mendukung hard
handoff biasanya memiliki prosedur atau tata cara untuk menstabilkan koneksi dari sel sumber
apabila koneksi ke sel target tidak dapat dilakukan (gagal). Namun sayangnya proses stabilisasi
ulang ulang ini tak selalu berhasil (pada beberapa kasus panggilan akan terputus) dan bahkan
memungkinkan pula prosedur tersebut justru mengakibatkan putusnya sambungan.
Sementara itu, keunggulan dari soft handoff adalah, sambungan pada sel sumber hanya
akan terputus ketika sudah tersambung dengan sel target sehingga kemungkinan putusnya
panggilan lebih rendah. Namun, keunggulan yang lebih besar adalah pemeliharaan kanal yang
secara simultan pada banyak sel dan panggilan hanya bisa gagal apabila kanal terinterferensi
atau mengalami pemudaran (fade) pada waktu yang bersamaan. Fading dan interferensi pada
kanal yang berbeda tidak saling berhubungan, sehingga kemungkinan terjadi dalam waktu yang
bersamaan dalam kanal sangatlah kecil. Sehingga kehandalan koneksi meningkat apabila
panggilan menggunakan soft handoff. Karena pada suatu jaringan seluler, mayoritas handoff
terjadi pada tempat-tempat yang tidak terlingkupi dengan baik, dimana panggilan (secara
frekuentif) menjadi tidak dapat diandalkan ketika kanal mengalami interferensi atau fading,
soft handoff membawa peningkatan yang signifikan untuk peningkatan kehandalan dari sel
dengan tidak menggabungkan interferensi dan fading dalam satu kanal. Namun keunggulan ini
berdampak pada makin kompleksnya perangkat keras dalam telepon, yang harus dapat
digunakan untuk memproses beberapa kanal secara paralel. Harga lain yang harus dibayar
adalah beberapa kanal dalam jaringan harus disediakan untuk satu panggilan. Hal ini
mengurangi jumlah kanal yang bebas sehingga mengurangi kapasitas jaringan. Dengan
menyesuaikan durasi selama handoff dan ukuran dari area yang ditangani, teknisi jaringan
dapat menyeimbangkan manfaat dari kehandalan panggilan ekstra untuk melawan harga
(konsekuensi) dari pengurangan kapasitas.
BAB III
PEMBAHASAN

Pengukuran coverage dan handoff dilakukan dengan melakukan drive test menggunakan
device dengan aplikasi G-Net Track di daerah BSI Margonda dengan menggunakan dua
provider yang berbeda yakni Indosat dan juga Axis dengan jaringan 4G LTE.

3.1. Pengukuran coverage & Handoff


Dengan menggunakan aplikasi G-Net Track, melihat pengukuran coverage dan juga
handoff memiliki cara yang berbeda, namun dengan melakukan drive test maka hasil
tersebut dapat kita dapat secara bersamaan. Pada G-Net Track akan diambil data yang
terdapat pada slide Cell, Map, dan juga Drive. Cell memiliki fungsi untuk menampilkan
detail handoff yang terjadi, jarak site, eNb, type, da juga provider yang digunakan. Map
berfungsi untuk melihat hasil dari drive test, dapat dilihat juga trace serta coverage kuat
sinyal saat drive test pada site tersebut. Begitu juga drive berfungi unutk menampilkan
detail site yang masih tersambung ke arah user, berikut adalah hasil dari kedua operator
yang telah diukur:
3.1.1 Indosat Ooredoo
BSI Margonda

(a) (b) (c)


Gambar 3.1.1.1 hasil sebelum handoff Indosat; (a) Cell; (b) Map; (c) Drive
Pada gambar 3.1.1.1 menujukkan bahwa handoff belum terjadi karna pada hasil tersebut
dikatakan adalah nilai Rx level terkecil untuk mendapatkan kuat sinyal di site BSI Margonda
yakni sebesar -85, serta nilai eNb yang masih sesuai dengan site yakni 3508 dengan site
BSI_MARGONDA_ME3, jauh coverage dari provider indosat sebelum terjadi handoff juga
dapat dilihat pada gambar Map yang sudah dicapture di aplikasi G-Net Track. berikut adalah
hasil setelah terjadi handoff:

(a) (b) (c)


Gambar 3.1.1.2 Hasil setelah handoff Indosat; (a) Cell; (b) Map; (c) Drive
Pada Gambar 3.1.1.2 membuktikan bahwa pada provider Indosat dengan menggunakan
jaringan 4G LTE mengalami handoff pada coverage yang dapat dilihat pada map, dengan nilai
Rx level yang didapat sebesar -78, serta jaringan site yang sudah berpindah yakni menuju
MARGONDA_SM_3 dengan data eNb: 1316. Hal ini dapat dikatakan sudah mengalami
handoff karena telepon seluler sudah mendapatkan Rx level terbaik dibandingkan Rx level di
site sebelumnya.
3.1.2 Axis
BSI Margonda

(a) (b) (c)


Gambar 3.1.2.1 Hasil sebelum handoff Axis; (a) Cell; (b) Map; (c) Drive
Pada Gambar 3.1.2.1 menujukkan bahwa handoff belum terjadi karna pada hasil
tersebut dikatakan adalah nilai Rx level terkecil untuk mendapatkan kuat sinyal di site BSI
Margonda yakni sebesar -73, serta nilai eNb yang masih sesuai dengan site yakni 3508 dengan
site BSI_MARGONDA_ME3, jauh coverage dari provider Axis sebelum terjadi handoff juga
dapat dilihat pada gambar Map yang sudah dicapture di aplikasi G-Net Track. berikut adalah
hasil setelah terjadi handoff:
(a) (b) (c)
Gambar 3.1.2.2 Hasil setelah handoff Axis; (a) Cell; (b) Map; (c) Drive
Pada Gambar 3.1.2.2 membuktikan bahwa pada provider Axis dengan menggunakan
jaringan 4G LTE mengalami juga handoff pada coverage yang dapat dilihat pada map, dengan
nilai Rx level yang didapat sebesar -83, serta jaringan site yang sudah berpindah yakni menuju
MARGONDA_SM_3 dengan data eNb: 1316. Hal ini dapat dikatakan sudah mengalami
handoff karena kemungkinan besar Rx level pada site BSI Margonda didapat lebih dari -83,
sehingga handoff terjadi tepat setelah Rx level didapat sebesar -83

3.2 Analisa
Pada percobaan yang telah dilakukan yakni membandingkan hasil handoff serta
mengukur coverage pada kedua provider yaitu Indosat dan juga Axis, telah didapat data bahwa
kedua provider tersebut sama – sama mengalami handoff pada rentang Rx level -90 sampai -
70. Pada percobaan pengukuran dengan menggunakan provider Indosat, telah terjadi handoff
pada saat jarak user sudah cukup jauh serta Rx level yang didapat sebesar -85 dan setelah terjadi
handoff didapat Rx level sebesar -78, hal tersebut dapat terjadi agar jaringan 4G LTE yang
terdapat pada Indosat tetap stabil, sehingga antara daerah site BSI Margonda dan juga site
Margonda dengan menggunakan provider Indosat nilai Rx level terkecil untuk jaringan 4G
LTE paling kecil sebesar -85, jika seandainya coverage user sudah jauh dari site terkait, maka
telepon seluler akan secara otomatis mencari nilai Rx level terbaik disekitar user tersebut.
Begitupun juga sama dengan provider Axis, namun perbedaan nya terlihat pada nilai max dari
Rx level yang didapat, provider Axis akan terjadi handoff jika nilai Rx level nya sebesar -73,
dan setelah handoff didapat Rx level sebesar-83, hal ini terjadi kemungkinan adanya gangguan
jaringan pada Axis sehingga nilai max terjadinya nya handoff akan membuat Rx level menjadi
lebih kecil, hal ini juga terjadi dikarenakan pada saat drive test untuk jaringan Axis tidak di
capture sesuai dengan nilai max terjadi handoff. untuk kedua provider yakni Indosat dan juga
Axis akan terjadi handoff dengan tujuan untuk mencarikan nilai Rx level terbaik sehingga user
dapat selalu terhubung dengan baik pada jaringan 4G LTE, perbedaan nya pada coverage
Indosat yang lebih jauh dibanding dengan Axis, dan proses terjadinya handoff yang lebih
sedikit untuk Indosat dibanding Axis.
BAB 4
SIMPULAN

Simpulan yang dapatkan pada pengukuran modul 4 coverage dan handoff sinyal 4G diarea BSI
Margonda untuk 2 operator Indosat Ooredoo dan Axis didapatkan, yaitu:
1. Rx Level yang didapat saat terjadinya handoff untuk masing-masing 2 operator hampir
sama yaitu rentan antara -90 s/d -70.
2. Jangkauan (coverage) yang didapat didaerah BSI Margonda untuk sinyal 4G LTE akan
lebih stabil dan baik Indosat jika dibandingkan dengan Axis
3. Handoff akan sering terjadi pada provider Axis dibandingkan Indosat, hal itu
dikarenakan kecilnya Rx level serta pendeknya coverage pada provider Axis untuk
melakukan perpindahan site.