Anda di halaman 1dari 13

EFEKTIFITAS TEHNIK RELAKSASI NAFAS DALAM DAN POSISI

TRIPOD TERHADAP LAJU PERNAFASAN PASIEN PPOK


DI RS H. SOEWONDO KENDAL

Ariska Mei Dwi Purwanti *), Mugi Hartoyo**),Wulandari M ***)

*)Alumni Program Studi S.1 Ilmu Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang


**) Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Semarang
***)Dosen Jurusan Keperawatan Universitas Muhammadiyah Semarang

ABSTRAK

PPOK (Penyakit Paru Obstuktif Kronis) adalah penyakit yang ditandai adanya hambatan
aliran pernafasan bersifat reversibel sebagian dan progresif yang berhubungan dengan respon
inflamasi abnormal dari paru terhadap paparan partikel atau gas berbahaya. PPOK memiliki
beberapa tanda salah satunya adalah sesak nafas. Tindakan keperawatan untuk mengatasi
sesak nafas pada pasien PPOK adalah teknik relaksasi nafas dalam dan posisi tripod.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas tehnik relaksasi nafas dalam dan posisi
tripod terhadap laju pernafasan pasien PPOK di RS H. Soewondo Kendal. Desain penelitian
yang digunakan adalah two group pre-post test design. Sample yang diambil sebanyak 22
responden yang dibagi menjadi 2 kelompok dengan intervensi teknik relaksasi nafas dalam
dan posisi tripod. Hasil uji statistik dengan independent t-test diperoleh hasil p value 0,001,
yang berarti ada perbedaan yang signifikan tehnik relaksasi nafas dalam dan posisi tripod
terhadap laju pernafasan pasien PPOK di RS H. Soewondo Kendal. Rekomendasi hasil
penelitian ini agar perawat menerapkan tehnik relaksasi nafas dalam dan posisi tripod pada
pasien PPOK sehingga dapat mengurangi sesak nafas.
Kata kunci : PPOK, sesak nafas, tehnik relaksasi nafas dalam, posisi tripod

ABSTRACT

COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease) is a disease that is indicated by respiratory


rate resistance. It is partly reversible and progressive and related with abnormal
inflammatory response of lungs toward harmful particles or gas. COPD has some signs. One
of them is breathless. Nursing treatments to overcome the breathless of COPD patients are
deep breath relaxation technique and tripod position. The purpose of this research is to
discuss the effectiveness of deep breath relaxation technique and tripod position toward
COPD patients’ respiratory rate at dr.H.Soewondo Hospital, Kendal. A design oftwo group
of pretest and posttest is used in this research. Samples taken in this research are 22
respondents that are divided into two intervention groups for deep breath relaxation
technique and tripod position. Statistical test with the application of independent t-test has
obtained the p value of 0.001, which means there is a significant difference of deep breath
relaxation technique and tripod position toward COPD patients’ respiratory rate at
dr.H.Soewondo Hospital, Kendal. The recommendation of this research is that nurse may
apply deep breath relaxation technique and tripod position on COPD patients to reduce
breathless.

Efektifitas Tehnik Relaksasi Nafas Dalam dan Posisi Tripod ...(arikabozki@yahoo.com) 1


PENDAHULUAN
Penyakit Paru Obtruktif Kronis perempuan. Kasus PPOK tertinggi
(PPOK) atau Chronic Obstructive terdapat di perdesaan dibanding perkotaan
Pulmonary Diseases (COPD) adalah dan cenderung lebih tinggi pada
penyakit yang ditandai adanya masyarakat dengan pendidikan rendah
hambatan aliran pernafasan bersifat dan kuintil indeks kepemilikan terbawah.
reversible sebagian dan progresif Prevalensi PPOK di Indonesia sebanyak
yang berhubungan dengan respon 3,7 % per mil. Prevalensi PPOK tertinggi
inflamasi abnormal dari paru terhadap terdapat di Nusa Tenggara Timur
paparan partikel atau gas berbahaya (10,0%), diikuti Sulawesi Tengah (8,0%),
(Global Obstructive Lung Disease, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan
2005)
masing-masing 6,7 % (Riskesdas, 2013).
PPOK merujuk pada beberapa hal yang Di Semarang penderita PPOK semakin
menyebabkan terganggunya pergerakan
meningkat seiring meningkatnya
udara masuk dan keluar paru. Meskipun
beberapa jenis yang paling penting frekuensi kejadian penyakit di
bronchitis obstruktif, emfisema paru, dan masyarakat. Prevalensi penderita PPOK di
asma dapat muncul sebagai penyakit kota Semarang selama tahun 2010 – 2014
tunggal, sebagian besar terjadi adalah sebanyak 10.246 orang. Pada tahun
pertumpangan dalam manifestasi 2010 sebanyak 2.846 orang, tahun 2011
klinisnya (Black & Hawks, 2014, sebanyak 4.249 orang, pada tahun 2012
hlm.399). Berbeda dengan asma, penyakit
sebanyak 1.342 orang, tahun 2013
PPOK menyebabkan obstruksi saluran
pernafasan yang bersifat ireversibel. sebanyak 820 orang, dan tahun 2014
Gejala yang ditimbulkan pada PPOK sebanyak 989 orang. Dari data tersebut
biasanya terjadi bersamaan dengan gejala prevalensi PPOK kembali meningkat pada
primer dari penyebab penyakit ini tahun 2014 (Kemenkes, 2014).
(Tabrani, 2010, hlm.397).
Tanda gejala yang dominan pada
PPOK merupakan penyebab utama penderita PPOK adalah sesak nafas yang
morbiditas dan kematian diseluruh dunia. seringkali dimulai saat aktivitas
(WHO, 2005). prevalensi, morbiditas dan (Muttaqin, 2008, hlm.525). Seringkali
mortalitas terkait dengan PPOK telah gejala PPOK disertai batuk yang mungkin
meningkat dari waktu kewaktu dan lebih produktif menghasilkan sputum. Gejala
tinggi pada pria dibandingkan pada wanita umum bersifat progresif dengan sesak
(WHO, 2012). lebih dari 3 juta orang nafas yang semakin berat dan
meninggal karena PPOK. Salah satu berkurangnya toleransi aktivitas (Jeremy
penyebab PPOK adalah asap tembakau et al., 2007, hlm.325).
(perokok aktif). Perubahan gaya hidup
karena pembangunan ekonomi Manifestasi klinis berupa sesak nafas pada
mempengaruhi peningkatan penggunaan pasien PPOK dapat dikurangi dengan
tembakau di negara-negara diberikan obat-obatan bronkodilator,
berpenghasilan tinggi. Kematian terkait kortikosteroid, antihistamin, steroid,
penyebab PPOK terus meningkat. (WHO, antibiotik, dan ekspektoran (Muttaqin,
2014). 2008,hlm.5

Di Indonesia penderita PPOK meningkat


seiring dengan bertambahnya usia
(Riskesdas, 2013). Penderita PPOK tahun
2013 lebih tinggi pada laki-laki dibanding

2 Efektifitas Tehnik Relaksasi Nafas Dalam dan Posisi Tripod ...(arikabozki@yahoo.com)


khususnya bagi pasien dispnea. Posisi
Selain diberikan obat-obatan tersebut, tripod merupakan penyesuaian dari posisi
latihan keperawatan mandiri bagian tubuh fowler tinggi. Posisi ini memberikan
bawah dan atas juga disarankan (Black & keuntungan lebih banyak. Proses ventilasi
Hawks, 2014, hlm.478) yaitu berupa akan meningkat pada pasien sesak nafas
latihan pernafasan diafragmatik, yang di beri posisi tripod. Posisi ini akan
pemberian posisi tripod, latihan batuk mengurangi obstruksi jalan nafas dan
kencang atau batuk terkontrol (Kozier, membantu peningkatan fungsi paru
2009, hlm.544), olahraga aerobic (Black sehingga oksigen yang berpindah ke
& Hawks, 2014, hlm.480), terapi berhenti kapiler paru akan meningkat dan CO2
merokok juga disarankan untuk yang dikeluarkan oleh alveolus akan
memperlambat progresi penyakit meningkat (Kozeir et al., 2009, hlm.545).
(Tabrani, 2010, hlm.398).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan
Pasien PPOK biasanya mengalami oleh Istiyani (2015) dengan judul
ketakutan pada onset mendadak dari nyeri “Perbedaan posisi tripod dan posisi semi
dada parah dan ketidakmampuan fowler terhadap peningkatan saturasi
bernafas. Kecemasan, rasa gelisah, dan oksigen pada pasien asma diRS. Ario
rasa takut umum ditemui. Kecemasan dan Wirawan Salatiga” yang dilakukan pada
nyeri dapat meningkatkan permintaan 22 responden menunjukkan hasil bahwa
oksigen dan dispnea. Latihan bernafas terdapat perbedaan bermakna terhadap
seperti pernafasan diafragma dan tehnik peningkatan saturasi oksigen sebelum dan
relaksasi nafas dalam dengan setelah pemberian posisi tripod.
mengerucutkan bibir disarankan untuk
Berdasarkan uraian fenomena tersebut,
menciptakan perasaan kontrol diri dan
maka peneliti ingin mengetahui apakah
kemampuan memfasilitasi nafas agar
tehnik relaksasi nafas dalam dan posisi
dapat megurangi kecemasan (Black &
tripod juga efektif untuk pasien PPOK.
Hawks, 2014, hlm.290).
Sehingga dilakukan penelitian tentang
Berdasarkan penelitian yang dilakukan tehnik relaksasi nafas dalam dan posisi
oleh Pailak (2013) dengan judul tripod terhadap laju pernafasan pasien
“Perbedaan pengaruh tehnik relaksasi PPOK.di RS H. Soewondo Kendal.
nafas dalam terhadap tingkat kecemasan
pada pasien pre operasi di RS Telogorejo
Semarang” yang dilakukan pada 30
responden menunjukkan hasil bahwa ada
pengaruh tehnik relaksasi nafas dalam
terhadap penurunan tingkat kecemasan
pada pasien pre operasi di Rumah Sakit
Telogorejo Semarang.

Posisi semi fowler atau fowler tinggi


memungkinkan ekspansi dada yang
maksimum pada pasien tirah baring,

3 Efektifitas Tehnik Relaksasi Nafas Dalam Dan Posisi tripod.... (ariskabozki@yahoo.com)


METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini menggunakan teknik
Penelitian ini menggunakan metode accidental sampling, teknik ini dilakukan
Quasy Eksperiment. Penelitian Quasy untuk mengambil kasus atau responden
Eksperiment adalah suatu rancangan yang kebetulan ada selama satu bulan
penelitian yang digunakan untuk mencari pada bulan April 2016, atau tersedia
hubungan sebab akibat dengan adanya disuatu tempat yang sesuai dengan
keterlibatan penelitian dalam melakukan konteks penelitian. Sampel yang diambil
manipulasi terhadap variabel bebas dari responden atau kasus yang kebetulan
(Setiadi, 2013, hlm.59). Rancangan ada di suatu tempat atau keadaan tertentu
penelitian ini menggunakan two group (Notoadmodjo, 2012, hlm. 125).
pre-post test design. Kelompok subjek
diobservasi sebelum dan sesudah Pada penelitian ini menggunakan uji
dilakukan intervensi (Nursalam, 2008, normalitas saphirowilk karena responden
hlm.170). <50 responden. Hasil uji normalitas pada
data intervensi tehnik relaksasi nafas
Penelitian ini dilakukan di RS H. dalam sebesar 0,025 dan untuk posisi
Soewondo Kendal dengan kelompok tripod sebesar 0,002 hasil uji normalitas
responden yaitu pasien PPOK. Pasien data tersebut <0,05 sehingga data tersebut
akan dibagi menjadi 2 kelompok berdistribusi tidak normal. Maka uji
intervensi berdasarkan waktu masuk. bivariat yang digunakan adalah
Kemudian mengukur Respiratory rate Wilcoxon.untuk menentukan keefektifan
(pretest) sebelum intervensi tehnik tehnik relaksasi nafas dalam dan posisi
relaksasi nafas dalam dan posisi tripod. tripod maka uji univariat yang digunakan
Kemudian diukur kembali respiratory adalan independent t-testdengan hasil p
ratesetelah intervensi (posttest). value 0,001.

Dalam penelitian ini peneliti memakai


populasi terjangkau yang artinya
memenuhi kriteria penelitian dan biasanya
dapat dijangkau oleh peneliti dari
kelompoknya (Nursalam, 2008, hlm.172).
Populasi terjangkau dalam penelitian ini
yaitu semua pasien PPOK di RS H.
Soewondo Kendal yaitu pada tahun 2015
sampai bulan Desember jumlah populasi
sebanyak 82 orang.

Sampel adalah bagian populasi yang akan


diteliti atau sebagian dari karakteristik
yang dimiliki oleh populasi (Hidayat,
2009, hlm.60). Sampel dari penelitian ini
yaitu pasien PPOK di ruang Bougenvile
RS H. Soewondo Kendal yang dirawat
selama bulan April 2016. Pasien akan
terbagi menjadi dua kelompok yaitu
kelompok A dan kelompok B, yang
memenuhi kriteria

4 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Vol... No...


HASIL PENELITIAN
1. Usia
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Pada Pasien
PPOKdi RS H. Soewondo Kendal (n=22)

Usia Teknik Relaksasi Nafas Posisi Tripod


Dalam
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
(%) (%)
Lansia Awal 3 27,3 4 36,4
(46-55 tahun)
Lansia Akhir 5 45,5 3 27,3
(56-65 tahun)
Manula 3 27,3 4 36,4
(>65 tahun)
Jumlah 11 100,0 11 100,0
Pada tabel 5.2 dapat diketahui bahwa usia Hal ini disebabkan lebih banyak
responden pada kelompok perlakuan ditemukan perokok pada laki-laki
teknik relaksasi nafas dalam sebagian dibandingkan pada wanita. Hasil Susenas
besar lansia akhir (56-65 tahun) sebanyak (Survei Sosial Ekonomi Nasional) tahun
5 responden (45,5%) sedangkan pada 2001 menunjukkan bahwa sebanyak
kelompok perlakuan posisi tripod 62,2% penduduk laki-laki merupakan
sebagian besar usia lansia awal (46-55 perokok dan hanya 1,3% perempuan yang
tahun) dan manula (>65 tahun) dengan merokok. Sebanyak 92,0% dari perokok
jumlah sama, masing-masing sebanyak 4 menyatakan kebiasaannya merokok di
responden (36,4%). dalam rumah, ketika bersama anggota
rumah tangga lainnya, dengan demikian
Menurut Barnes (2005) Beberapa ciri dari sebagian besar anggota rumah tangga
PPOK yaitu : biasanya dialamioleh merupakan perokok pasif.
perokok berat, gejala muncul pada usia
>40-an, gejala semakin lamasemakin Menurut hasil penelitian Shinta (2007) di
bertambah buruk, gejala memburuk pada RSU Dr. Soetomo Surabaya pada tahun
musim hujan/dingin, dan tidak ada 2006 menunjukkan bahwa dari 46
hubungannya dengan alergi. penderita yang paling banyak adalah
penderita pada kelompok umur lebih dari
Menurut hasil penelitian Setiyanto dkk. 60 tahun sebesar 39 penderita (84,8%),
(2008) di ruang rawat inap RS. dan penderita yang merokok sebanyak 29
Persahabatan Jakarta selama April 2005 penderita dengan proporsi 63,0%.
sampai April 2007 menunjukkan bahwa Menurut hasil penelitian Manik (2004)
dari 120 pasien, usia termuda adalah 40 dalam Rahmatika (2009) di RS. Haji
tahun dan tertua adalah 81 tahun. Dilihat Medan pada tahun2000-2002
dari riwayat merokok, hampir semua menunjukkan bahwa dari 132 penderita
pasien adalah bekas perokok yaitu 109 yang paling banyak adalah proporsi
penderita dengan proporsi sebesar penderita pada kelompok umur lebih dari
90,83%. Kebanyakan pasien PPOK adalah 55 tahun sebanyak 121 penderita
laki-laki. (91,67%).

5 Efektifitas Tehnik Relaksasi Nafas Dalam Dan Posisi tripod.... (ariskabozki@yahoo.com)


2. Jenis Kelamin
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Pada Pasien PPOKdi RS H. Soewondo Kendal (n=22)

Jenis Kelamin Teknik Relaksasi Nafas Posisi Tripod


Dalam
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
(%) (%)
Laki-laki 7 63,6 5 45,5
Perempuan 4 36,4 6 54,5
Jumlah 11 100,0 11 100,0

Hasil penelitian menjelaskan tertinggi pada kelompok usia 60 tahun


menunjukkan bahwa jenis kelamin (57,6%) dengan proporsi laki-laki 43,2%
responden pada kelompok perlakuan dan perempuan 14,4%.
teknik relaksasi nafas dalam sebagian
besar laki-laki sebanyak 7 responden Kebanyakan pasien PPOK adalah laki-
(63,6%) sedangkan pada kelompok laki. Hal ini disebabkan lebih banyak
perlakuan posisi tripod sebagian besar ditemukan perokok pada laki-laki
perempuan sebanyak 6 responden dibandingkan pada wanita. Hasil Susenas
(54,5%).menunjukkan bahwa jenis (Survei Sosial Ekonomi Nasional) tahun
kelamin responden pada kelompok 2001 menunjukkan bahwa sebanyak
perlakuan teknik relaksasi nafas dalam 62,2% penduduk laki-laki merupakan
sebagian besar laki-laki sebanyak 7 perokok dan hanya 1,3% perempuan yang
responden (63,6%) sedangkan pada merokok. Sebanyak 92,0% dari perokok
kelompok perlakuan posisi tripod menyatakan kebiasaannya merokok di
sebagian besar perempuan sebanyak 6 dalam rumah, ketika bersama anggota
responden (54,5%). rumah tangga lainnya, dengan demikian
sebagian besar anggota rumah tangga
Hal ini sejalan dengan penelitian merupakan perokok pasif.
penelitian Rahmatika (2009) di RSUD
Aceh Tamiang dari bulan Januari sampai
Mei 2009, proporsi usia pasien PPOK

6 Efektifitas Tehnik Relaksasi Nafas Dalam Dan Posisi tripod.... (ariskabozki@yahoo.com)


3. Perbedaan laju pernafasan sebelum dan sesudah pemberian tehnik relaksasi nafas dalam
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Perbedaan laju pernafasan sebelum dan sesudah
pemberian teknik relaksasi nafas dalam pada pasien PPOK
RSUD Dr. H. Soewondo Kendal(n=11)
Laju Sebelum Sesudah
Pernafasan Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
(%) (%)
Sesak Nafas 0 0,0 5 45,5
Ringan (21-
25x/mnt)
Sesak Nafas 11 100,0 6 54,5
Sedang (26-
30x/mnt)
Jumlah 11 100,0 11 100,0
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Sesuai dengan teori menutrut Black dan
laju pernafasan responden sebelum Hawks (2014, hlm.290) yang menyatakan
diberikan perlakuan teknik relaksasi nafas bahwa pasien PPOK biasanya mengalami
dalam semua responden mengalami sesak ketakutan pada onset mendadak dari nyeri
nafas sedang (100%). Laju pernafasan dada parah dan ketidakmampuan
responden sesudah diberikan perlakuan bernafas. Kecemasan, rasa gelisah, dan
teknik relaksasi nafas dalam yang
mengalami sesak nafas sedang sebanyak 6 rasa takut umum ditemui. Kecemasan dan
responden (54,5%) dan yang mengalami nyeri dapat meningkatkan permintaan
sesak nafas ringan sebanyak 5 responden oksigen dan dispnea. Latihan bernafas
(45,5%). Ada perbedaan yang bermakna seperti pernafasan diafragma dan tehnik
laju pernafasan sebelum dan sesudah relaksasi nafas dalam dengan
pemberian teknik relaksasi nafas dalam mengerucutkan bibir disarankan untuk
pada pasien PPOK di ruang Flamboyan menciptakan perasaan kontrol diri dan
dan Cempaka RSUD Dr. H. Soewondo kemampuan memfasilitasi nafas agar
Kendal dengan nilai p =0,025. Hal ini dapat mengurangi kecemasan. Selain itu
menunjukkan bahwa terjadi penurunan melakukan tehnik nafas dalam juga dapat
laju pernafasan sesudah diberikan teknik meningkatkan volume paru sehingga
pernafasan nafas dalam. meningkatkan udara melalui jalan nafas
yang sempit, meningkatkan ekspansi paru,
Hasil penelitian didukung oleh penelitian dan membantu menggerakkan sekresi
yang dilakukan Pailak (2013) dengan pada saat ekspirasi.
judul “Perbedaan pengaruh tehnik
relaksasi nafas dalam terhadap tingkat Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
kecemasan pada pasien pre operasi di RS ada perbedaan laju pernafasan sebelum
Telogorejo Semarang” yang dilakukan dan sesudah pemberian teknik relaksasi
pada 30 responden menunjukkan hasil nafas dalam pada pasien PPOK dan terjadi
bahwa ada pengaruh tehnik relaksasi penurunan laju pernafasan sesudah
nafas dalam terhadap penurunan tingkat diberikan teknik pernafasan nafas dalam.
kecemasan pada pasien pre operasi di
Rumah Sakit Telogorejo Semarang
dengan nilai p = 0,001.

7 Efektifitas Tehnik Relaksasi Nafas Dalam Dan Posisi tripod.... (ariskabozki@yahoo.com)


4. Perbedaan laju pernafasan sebelum dan sesudah pemberian posisi tripod
Tabel 4
Distribusi Frekuensi Perbedaan laju pernafasan sebelum dan sesudah
pemberian perlakuan posisi tripod pada pasien PPOKdiRS Dr. H. Soewondo
Kendal(n=11)
Laju Sebelum Sesudah
Pernafasan Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
(%) (%)
Sesak Nafas 0 0,0 10 90,9
Ringan (21-
25x/mnt)
Sesak Nafas 11 100,0 1 9,1
Sedang (26-
30x/mnt)
Jumlah 11 100,0 11 100,0
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Dalam penelitian ini sesak nafas
laju pernafasan responden sebelum diklasifikasikan sebagai berikut: 15-20
diberikan perlakuan posisi tripod semua x/menit (normal), 21-25 x/menit (sesak
responden mengalami sesak nafas sedang nafas ringan), 26-30 x/menit (sesak nafas
(100%) dan sesudah diberikan perlakuan sedang), >30 x/menit (sesak nafas berat).
posisi tripod yang mengalami sesak nafas
sedang menurun menjadi 1 responden Sesuai dengan teori menurut menurut
(9,1%) dan yang mengalami sesak nafas Kozeir dan Erb (2009, hlm.544) bahwa
ringan sebanyak 10 responden (90,9%). pemberian posisi tripod pada pasien yang
Hal ini menunjukkan bahwa terjadi mengalami gangguan respirasi bermanfaat
penurunan laju pernafasan setelah untuk mengurangi tekanan pada
diberikan posisi tripod pada pasien PPOK diafragma, memungkinkan ekspansi paru
diruang Flamboyan dan Cempaka RSUD lebih besar, dan membantu
Dr. H. Soewondo Kendal dengan nilai p = pengembangan dada. Penurunan laju
0,002. Hal ini menunujukkan bahwa pernafasan sesudah melakukan posisi
terjadi penurunan laju pernafasan sesudah tripod terjadi karena posisi tripod ini
diberikan posisi tripod. membantu mengurangi obstruksi jalan
nafas dan membantu peningkatan fungsi
Hasil Penelitian didukung oleh penelitian paru. Sehingga oksigen yang berpindah ke
yang dilakukan oleh Istiyani (2015) kapiler paru akan meningkat dan CO2
dengan judul “Perbedaan posisi tripod dan yang dikeluarkan oleh alveolus akan
posisi semi fowler terhadap peningkatan meningkat.
saturasi oksigen pada pasien asma di RS.
Ario Wirawan Salatiga” yang dilakukan Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
pada 22 responden menunjukkan hasil ada perbedaan laju pernafasan sebelum
bahwa terdapat perbedaan bermakna dan sesudah pemberian posisi tripod pada
terhadap peningkatan saturasi oksigen pasien PPOK dan terjadi penurunan laju
sebelum dan setelah pemberian posisi pernafasan setelah diberikan posisi tripod.
tripod dengan nilai p =0,000. .

8 Efektifitas Tehnik Relaksasi Nafas Dalam Dan Posisi tripod.... (ariskabozki@yahoo.com)


5. Efektifitas tehnik relaksasi nafas dalam dan posisi tripod terhadap laju pernafasan
pasien PPOK
Tabel 5
Efektivitas tehnik nafas dalam dan posisi tripod terhadap laju pernafasan
pasien PPOKdi RSUD Dr. H. Soewondo Kendal(n=11)
Variabel N Mean Standar Z p
Rank Deviasi value
Nafas 11 15,95 1,104
Laju
Dalam -3,274 0,001
pernafasan 7,05 1,214
Tripod 11
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada yang bekerja pada otot tersebut
perbedaan sebelum dan sesudah diberikan mempermudah iga terangkat keluar
tehnik relaksasi nafas dalam dengan nilai sehingga semakin memperbesar rongga
p =0,025 dan ada perbedaan sebelum dan toraks dalam dimensi anteroposterior.
sesudah diberikan posisi tripod dengan Rongga toraks yang membesar
nilai p =0,002. Sehingga dapat menyebabkan tekanan di dalam rongga
disimpulkan bahwa ada perbedaan toraks mengembang dan memaksa paru
bermakna sesudah pemberian posisi untuk mengembang, dengan demikian
tripod. tekanan intraalveolus akan menurun.
Penurunan tekanan intraalveolus lebih
Hasil penelitian ini didukung oleh rendah dari tekanan atmosfir
penelitian yang dilakukan Khasanah menyebabkan udara mengalir masuk ke
(2013) dengan judul “Efektifitas posisi dalam pleura. Proses tersebut menujukan
condong kedepan (CKD) dan purse lips bahwa dengan posisi CKD mempermudah
breathing (PLB) terhadap peningkatan pasien PPOK yang mengalami obstruktif
saturasi oksigen pasien PPOK” yang jalan nafas melakukan inspirasi tanpa
dilakukan pada 25 responden banyak mengeluarkan energi
menunjukkan hasil bahwa ada pengaruh
posisi condong kedepan terhadap PLB adalah suatu latihan bernafas yang
penurunan saturasi oksigen dengan nilai terdiri dari dua mekanisme yaitu inspirasi
p= 0,002. secara kuat dan dalam serta ekspirasi aktif
dan panjang. Proses ekspirasi secara
Posisi CKD akan meningkatkan otot normal merupakan proses mengeluarkan
diafragma dan otot interkosta eksternal nafas tanpa menggunakan energi.
pada posisi kurang lebih 45 derajat. Otot Bernafas PLB melibatkan proses ekspirasi
diafragma merupakan otot utama inspirasi secara paksa. Ekspirasi secara paksa
dan otot interkosta eksternal juga tentunya akan meningkatkan kekuatan
merupakan otot inspirasi. Otot diafragma kontraksi otot intraabdomen sehingga
yang berada pada posisi 45 derajat tekanan intraabdomen pun meningkat
menyebabkan gaya grafitasi bumi bekerja melebihi pada saat ekspirasi pasif.
cukup adekuat pada otot utama inspirasi Tekanan intrabdomen yang meningkat
tersebut dibandingkan posisi duduk atau lebih kuat lagi tentunya akan
setengah duduk. Gaya grafitasi bumi yang meningkatkan pula pergerakan diafragma
bekerja pada otot diafragma memudahkan ke atas membuat rongga torak semakin
otot tersebut berkontraksi bergerak ke mengecil. Rongga toraks yang semakin
bawah memperbesar volume rongga mengecil ini menyebabkan tekanan
toraks dengan menambah panjang intraalveolus semakin meningkat sehinga
vertikalnya. Begitu juga dengan otot melebihi tekanan udara atmosfir. Kondisi
interkosta eksternal, gaya grafitasi bumi

9 Efektifitas Tehnik Relaksasi Nafas Dalam Dan Posisi tripod.... (ariskabozki@yahoo.com)


tersebut akan menyebabkan udara 6. Ada perbedaan yang bermakna
mengalir keluar dari paru ke atmosfir. laju pernafasan sebelum dan
Ekspirasi yang dipaksa pada bernafas PLB sesudah pemberian posisi tripod
juga akan menyebabkan obstruksi jalan pada pasien PPOK di ruang
nafas dihilangkan sehinga resistensi Bougenvile RSUD Dr. H.
pernafasan menurun. Penurunan Soewondo Kendal dengan nilai p
=0,002
resistensi pernafasan akan memperlancar
7. Terdapat perbedaan efektifitas
udara yang dihembuskan dan atau
sebelum dan sesudah diberikan
dihirup.
tehnik relaksasi nafas dalam dan
Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa posisi tripod terhadap laju
ada perbedaan sebelum dan sesudah pernafasan dengan p value 0,001.
diberikan posisi tripod. Penurunan laju
pernafasan sesudah diberikan perlakuan SARAN
teknik relaksasi nafas dalam dan posisi 1. Bagi rumah sakit
tripod, lebih banyak terjadi penurunan laju Hasil penelitian dapat dijadikan
nafas sesudah pemberian posisi tripod masukan dalam menentukan
sehingga dapat dikatakan posisi tripod kebijakan dan dasar penyusunan
lebih efektif dalam menurunkan laju standar operasional prosedur
pernafasan. (SOP) dalam menurunkan laju
pernafaan pada pasien PPOK dan
KESIMPULAN dapat diaplikasikan sebagai salah
1. Sebelum diberikan perlakuan teknik satu alternatif tindakan
relaksasi nafas dalam semua keperawatan mandiri untuk
responden mengalami sesak nafas menurunkan laju pernafasan pada
sedang (100%) pasien PPOK.
2. Sesudah diberikan perlakuan teknik 2. Bagi Perawat
relaksasi nafas dalam yang Hasil penelitian ini dapat
mengalami sesak nafas sedang dijadikan masukan dan bahan
sebanyak 6 responden (54,5%) dan informasi bagi perawat untuk
yang mengalami sesak nafas ringan meningkatkan pengetahuan
sebanyak 5 responden (45,5%). tentang efektifitas tehnik nafas
3. Ada perbedaan yang bermakna laju dalam dan posisi tripod terhadap
pernafasan sebelum dan sesudah laju pernafasan pada pasien
pemberian teknik relaksasi nafas PPOK, serta sebagai masukan
dalam pada pasien PPOK di ruang dalam pemilihan intervensi
Bougenvile RSUD Dr. H. Soewondo keperawatan.
Kendal dengan nilai p =0,025 3. Bagi institusi pendidikan
4. Sebelum diberikan perlakuan posisi Hasil penelitian disarankan dapat
tripod semua responden mengalami digunakan sebagai bahan
sesak nafas sedang (100,0%) . referensi di perpustakaan dan
5. Sesudah diberikan perlakuan posisi bahan informasi terutama
tripod yang mengalami sesak nafas mengenai efektifitas tehnik nafas
sedang sebanyak 1 responden (9,1%) dalam dan posisi tripod terhadap
dan yang mengalami sesak nafas laju pernafasan pada pasien
ringan sebanyak 10 responden PPOK.
(90,9%).

10 Efektifitas Tehnik Relaksasi Nafas Dalam Dan Posisi tripod.... (ariskabozki@yahoo.com)


4. Bagi peneliti selanjutnya Hidayat, A. (2008). Riset
Hasil penelitian ini disarankan dapat keperawatan dan tehnik
dijadikan sebagai bahan acuan dan penulisan ilmiah.Jakarta :
masukan untuk penelitian selanjutnya Salemba Medika
dengan menggunakan variabel yang
berbeda, menambah jumlah sampel Istiyani, D. (2015). Perbedaan
dan mempertimbangkan faktor yang PosisiTripod danPosisi Semi
mempengaruhi penurunan laju Fowler Terhadap
pernafasan agar hasilnya dapat Peningkatan Saturasi
digeneralisasikan dibeberapa rumah Oksigen Pada Pasien Asma
sakit di Jawa Tengah. di RS. Ario Wirawan
Salatiga. Stikes telogorejo

Effendy, Asih. (2005).


DAFTRA PUSTAKA Keperawatan Medical
Bararah, T & Jauhar, M., Bedah: klien dengan
(2013).Asuhan Keperawatan gangguan system
panduan Lengkap Menjadi pernafasan. Jakarta: EGC
Perawat Professional.
Jakarta: Prestasi Pustakarya Jane, W. (2008).System Respirasi
Edisi Kedua. Jakarta:
Black, M & Hawks, H., Erlangga
(2014).Keperawatan Medical
Bedah. Jakarta: Salemba Jona. (2013). Perbedaan
Medika Efektifitas TehnikRelaksasi
Nafas Dalam dan Terapi
Bull, E & Price, D. (2005). Simple Music Klasik Terhadap
Guide Asma.Jakarta : Nyeri Pada Pasien Fraktur
Erlangga Dengan Nyeri Sedang di
RSUD Dr. H. Soewondo
Departemen Kesehatan. (2013). Kendal. Stikes Telogorejo
Profil Kesehatan Riskesdas
2013, Kozier, B & Erb, G .(2009). Buku
www.depkes.go.id/resources/ Ajar Praktik Keperawatan
download/.../Hasil%20Riskes Klinis, Edisi 5.Penerbit Buku
das%202013.pdf, diperoleh Kedokteran. Jakarta: EGC
tanggal 10 desember 2015
Kushariyadi & Setyoadi. (2011).
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa TerapiModalitas
tengah .(2014). Profil Keperawatan Pada Klien
Kesehatan Kota Semarang Psikogeriatrik. Jakarta:
2014.www.dinkesjatengprov. Salemba Medika
go.id diperoleh tanggal 5
januari 2016
Muttaqin, A. (2008). Mordalitas
Asuhan Keperawatan Klien
Djojodibroto, D. (2013). Dengan Gangguan System
Respirologi. Jakarta: Penerbit Persyarafan. Jakarta:
buku kedokteran EGC Salemba Medika
Notoadmodjo, S. Keperawatan.Jogjakarta :
(2010).Metodologi Penelitian Graha Ilmu
Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta Soemantri, I. (2009). Asuhan
keperawatan pada klien
Nursalam (2008).Konsep dan dengan gangguan system
Penerapan Metodologi pernafasan edisi 2. Jakarta:
Penelitian Ilmu Salemba Medika
Keperawatan.Jakarta :
Salemba Medika . (2008). Keperawatan
medical bedah: asuhan
. (2013). Konsep dan keperawatan pada pasien
penerapan metodologi dengan gangguan system
Penelitian Ilmu pernafasan. Jakarta: Salemba
Keperawatan. Jakarta: Medika
Salemba Medika
Khasanah, S. (2013). Efektifitas
Pailak.(2013). Perbedaan posisi condong ke depan dan
pengaruh tehnik relaksasi purse lips breathing
nafas dalam terhadap tingkat terhadap penurunan saturasi
kecemasan pada pasien pre oksigen.
operasi di RS Telogorejo http://jki.ui.ac.id/index.php/j
Semarang. Stikes Telogorejo ki/article/view file/97/98.
Diperoleh tanggal 28 mei
Ramos, et al. 2009.Influence of 2016
pursed-lip breathing on heart
rate variability and Tabrani, R. (2010). Ilmu penyakit
cardiorespiratory paru. Jakarta: Trans Info
parameters in subjects with Media
chronic obstructive
pulmonary disease (COPD). Widowati, R (2010) efektivitas
Rev Bras Fisioter, São Pursed-Lip Breathing
Carlos. v. 13, n. 4, p. 288-93 Exercise Terhadap Frekuensi
Serangan Pasien PPOK.
Rekam Medis. (2015). Rumah (Skripsi Universitas Sebelas
Sakit H. Soewondo Kendal Maret Surakarta)

Ritianingsih, N. (2011). World Health


Peningkatan fungsi ventilasi Organization.(2005). profil
paru pada klien dengan kesehatan dunia
penyakit PPOK dengan 2005.http://www.who.int/res
posisi high fowler dan posisi earch/en/2005.pdf, diperoleh
orthopneic.http://jki.ui.ac.id/i tanggal 28 november 2015
ndex.php/jki/article/viewFile/
54/54. di peroleh pada World Health
tanggal 12 desember 2015 Organization.(2012). Profil
kesehatan dunia 2012.
Setiadi, (2013).Konsep dan http://www.who.int/research/
Penulisan Riset en/2012.pdf, diperoleh
tanggal 20 Desember 2015
en/2014.pdf, diperoleh
tanggal 3 januari 2016

World Health
Organization.(2014). Profil
kesehatan dunia 2012.
http://www.who.int/research/