Anda di halaman 1dari 6

TUGAS MATA KULIAH

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR


“LANDMARK DAERAH”

Dwike Lodya Hanum


Oseanografi A
26020215120022

Dosen Pengampu :
Drs. Heryoso Setiyono, Msi
19651010 199103 1 005

DEPARTEMEN OSEANOGRAFI
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2018
Landmark Bukittinggi
1. Jam Gadang
Jam Gadang didirikan oleh Pemerintah Hindia-Belanda atas perintah dari Ratu
Wilhelmina dari Belanda. Jam ini merupakan hadiah bagi sekretaris (controleur) Kota
Bukittinggi (Fort de Kock) yang menjabat saat itu yakni HR Rookmaaker. Konstruksi
bangunan menara jam ini dibangun oleh arsitek asli Minangkabau, Jazid Rajo Mangkuto
Sutan Gigi Ameh. Pembangunannya secara resmi selesai pada tahun 1926 dengan
menghabiskan dana mencapai 3.000 Gulden. Monumen Jam Gadang berdiri setinggi 26
meter di tengah Taman Sabai Nan Aluih, yang dianggap sebagai patokan titik sentral (titik nol)
Kota Bukittinggi. Konstruksinya tidak menggunakan rangka logam dan semen, tetapi
menggunakan campuran batu kapur, putih telur, dan pasir. Putih telur ini, selain sebagai
bahan masakan dan kecantikan, juga dipercaya memiliki kandungan zat perekat yang sangat
kuat.
Mesin jam yang digunakan di dalam monumen ini merupakan barang langka yang hanya
diproduksi dua unit oleh pabrik Vortmann Recklinghausen, Jerman. Unit kedua yang setipe
dengannya hingga kini masih digunakan dalam menara jam legendaris Kota London, Inggris,
yaitu Big Ben. Jam tersebut didatangkan dari Belanda langsung melalui pelabuhan Teluk Bayur.
Satu digunakan pada Jam Gadang, satu lagi digunakan jam besar Big Ben di London, Inggris.
Mesin jam yang diberi nama Brixlion tersebut dibuat oleh perusahaan asal Jerman yang
bernama Vortmann Relinghausen.

2. Great Wall of Koto Gadang


Great Wall of Koto Gadang ini dulunya adalah salah satu dari sekian banyak janjang
1000 (janjang = tangga) . Janjang 1000 ini adalah tangga berjumlah ribuan yang naik turun
disekitaran Ngarai Sianok. Tangga ini digunakan oleh warga sekitar sebagai jalan umum
menuju satu kampung ke kampung yang lain dan jalan menuju Batang Sianok yang berada
di dasar lembah. Pemandangan Ngarai Sianok disekitar Janjang 1000 sebenarnya tidak
kalah bagus dari Taman Panorama ( tempat turis biasanya melihat ngarai sianok),
Great Wall of Koto Gadang ini menghubungkan Kota Bukittinggi disekitaran Goa
Jepang pintu 3 dengan Koto Gadang Kabupaten Agam. tidak ada tiket masuk, cukup bayar
tiket parkir kendaraan saja. Lokasinya sangat cocok buat yang menyukai trekking karena
lokasinya masih alami dengan jalan yang berliku-liku. Trek keseluruhan sekitar 1.5 km
naik turun tangga. Pemandangan Ngarai Sianok dan semilir angin memberi tenaga
tambahan untuk mencapai ujung Jalan. Panjang keseluruhannya kira-kira sepanjang 780
m, lebar jalan 2 m, serta bertembok beton yang bentuknya menyerupai bentuk Tembok
Besar Tiongkok. Kira-kira di pertengahan jalan bertembok ini, terdapat sebuah jambatan
gantung yang sering disebut Jembatan Merah. Dari ujung ke ujung, perjalanan melintasi
tangga dan jalan ini kira-kira memakan waktu 15-30 menit

3. Jenjang 40
Janjang 40 atau Janjang Ampek Puluah adalah jenjang atau leretan anak tangga yang
menghubungkan Pasar Atas dengan Pasar Bawah dan Pasar Banto di Kota Bukittinggi,
Sumatera Barat, Indonesia. Secara administratif, Jenjang 40 berada di Kelurahan
Benteng Pasar Atas, Kecamatan Guguk Panjang. Sebenarnya Janjang 40 memiliki lebih
dari 40 anak tangga yang terbagi dalam beberapa bagian. Jumlah anak tangga
keseluruhan dari anak tangga paling bawah di trotoar Jalan Pemuda, Bukittinggi sampai
ke anak tangga paling atas adalah 100 anak tangga. Namun, pada bagian teratas anak
tangga yang ada berukuran lebih kecil dan curam. Angka 40 adalah jumlah anak tangga
yang terdapat pada bagian paling atas ini.
Janjang 40 dibangun pada tahun 1908 sewaktu Louis Constant Westenenk menjabat
sebagai Asisten Residen Agam.[1] Pada waktu itu, pemerintah Hindia Belanda
menghubungkan setiap pasar di Bukittinggi dengan janjang (bahasa Indonesia: jenjang
atau anak tangga) untuk penataan pasar. Beberapa jenjang lainnya di antaranya Janjang
Gudang, Janjang Kampuang Cino, dan jenjang di Pasa Lereng yang bersambung dengan
Janjang Gantuang. Janjang Gantuang merupakan jembatan penyebrangan yang pertama
di Indonesia
4. Jembatan Limpapeh
Jembatan Limpapeh Bukittinggi merupakan sebuah jembatan gantung yang melintas
di atas Jl. Ahmad Yani Bukittinggi, menghubungkan kawasan Benteng Fort de Kock dan
Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Jembatan yang aslinya dibuat lebih dari 20
tahun silam ini ditopang di bagian tengahnya oleh bangunan beton beratap gonjong khas
Minangkabau, serta oleh empat kabel baja tempat bergelantungnya kawat-kawat kuat
yang memegangi jembatan.
Oleh sebab persis di bagian tengahnya ditopang struktur bangunan dengan empat kaki
itulah maka bentang jembatan gantung ini tidaklah terlalu lebar, dan karenanya stabil,
membuat orang yang lewat dengan berjalan kaki di atasnya tidak merasakan adanya
kegamangan. Namun keberadaan penopang itu juga membuat jalan di bawahnya menjadi
terkesan sempit saat dilewati kendaraan, sekalipun jalannya dibuat searah.
Jembatan Limpapeh memiliki panjang sekitar 90 meter dan lebar 3,8 meter, dengan
kawat-kawat baja besar dan kuat yang memegangi batang jembatan, dilengkapi pelat-
pelat alumunium pada permukaan jembatan yang saat masih terlihat baru dan rapi.
Berjalan melewati Jembatan Limpapeh ini sangat nyaman dan menyenangkan dengan
hanya terasa sedikit getaran dan ayunan.

5. Taman Monumen Bung Hatta


Bukittinggi, kabupaten dengan cuaca yang sejuk, sangat pas bagi para perantau yang
ingin pulang kampung dan hidup tenang di sana. Kota kelahiran bapak proklamator,
Muhammad Hatta, menjadi kota penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan
Indonesia. Kota tersebut juga pernah menjadi ibukota Republik Indonesia meski hanya
sementara. Sosok Bung Hatta, sapaan akrab sang proklamator itu, sangat menginspirasi
generasi bangsa ini. Ia seorang yang sangat bersahaja, bahkan beliau sampai bernazar
tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Akhirnya Indonesia memperoleh
kemerdekaan dan beliau menikah dengan Ibu Rahmi di usia 43 tahun. Ia seorang yang
sangat disiplin, sederhana dan tipe lelaki setia.
Guna menghargai jasa Bung Hatta, pemerintah daerah Bukittinggi membuatkan
sebuah taman yang diberi nama Taman Monumen Bung Hatta. Letaknya di samping
Istana Bung Hatta.
6. Benteng Fort de Kock
Fort de Kock adalah benteng peninggalan Belanda yang berdiri di Kota Bukittinggi ,
Sumatera Barat, Indonesia. Benteng ini didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun 1825
pada masa Hendrik Merkus de Kock sewaktu menjadi komandan Der Troepen dan Wakil
Gubernur Jenderal Hindia Belanda, karena itulah benteng ini terkenal dengan nama
Benteng Fort De Kock. Benteng yang terletak di atas Bukit Jirek ini digunakan oleh
Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama
sejak meletusnya Perang Paderi pada tahun 1821-1837. Di sekitar benteng masih terdapat
meriam-meriam kuno periode abad ke 19. Pada tahun-tahun selanjutnya, di sekitar
benteng ini tumbuh sebuah kota yang juga bernama Fort de Kock, kini Bukittinggi.
DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Janjang_40.

https://www.aroengbinang.com/2017/11/jembatan-limpapeh-bukittinggi.html.

http://puan.co/2017/05/berwisata-sejarah-di-taman-monumen-bung-hatta-bukittinggi/

https://id.wikipedia.org/wiki/Benteng_Fort_de_Kock

https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/jam-gadang-monumen-kebanggaan-
kota-bukittinggi.

https://jalanblog.wordpress.com/2014/09/28/the-great-wall-of-koto-gadang/