Anda di halaman 1dari 8

Efektivitas Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L.

) dan Daun Sirih Merah (Piper crocatum)


terhadap Daya Hambat Bakteri Staphylococcus aureus
Indah Juwita Sari, Alif Rifky Febrianto, Ayu Iyuk Yukrimah, Cinddy Febbyanti Putri, Desi
Murniasih, Dina Listiana Andani, Muhamad Arif Prasetyo, Rima Fauziyatun Nisa, Siti Masitoh
Jurusan Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Indah.juwitasari@untirta.ac.id

ABSTRAK
Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri penyebab jerawat. Kandungan
kimia pada daun sirih hijau (Piper betle L.) dan daun sirih merah (Piper crocatum) tergolong sebagai
antibakteri yang diharapkan dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L.) dan
daun sirih merah (Piper crocatum) terhadap daya hambat bakteri Staphylococcus aureus. Daun sirih
hijau (Piper betle L.) dan daun sirih merah (Piper crocatum) diekstraksi menggunakan pelarut etanol
dan diuji efektivitas penghambatannya terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan metode difusi
agar. Hasil penelitian menunjukkan daya hambat ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L.) pada
konsentrasi 50% dan 100% yaitu 0,15 cm dan 0,35 cm, sedangkan daya hambat ekstrak daun sirih
merah (Piper crocatum) pada konsentrasi 50% dan 100% yaitu 0,25 cm dan 0,4 cm. Ekstrak etanol
daun sirih merah (Piper crocatum) memiliki daya hambat bakteri lebih besar terhadap pertumbuhan
bakteri Staphylococcus aureus dibandingkan dengan ekstrak etanol daun sirih hijau (Piper betle L.).

Kata Kunci: Antibiotik, Daun Sirih Hijau (Piper betle L.), Daun Sirih Merah (Piper crocatum),
Staphylococcus aureus.

PENDAHULUAN bahan alami sebagai obat tradisional di


Acne Vulgaris adalah kondisi inflamasi Indonesia akhir-akhir ini meningkat, bahkan
umum pada unit pilosebaseus yang sering beberapa bahan alam telah diproduksi secara
terjadi pada remaja dan dewasa muda. Setiap fabrikasi dalam skala besar. Obat tradisional
orang pernah mengalami penyakit ini sehingga sebagian besar berasal dari tumbuhan. Salah
dianggap sebagai kelainan kulit yang timbul satu tumbuhan yang dikenal luas oleh
secara fisiologis. Penyebab Acne vulgaris masyarakat adalah daun sirih. Daun sirih
sangat banyak (multifaktorial) antara lain merupakan tanaman yang telah terbukti secara
faktor genetik, faktor bangsa ras, faktor ilmiah memiliki aktivitas sebagai antibakteri.
makanan, faktor iklim, faktor kebersihan Daun sirih memiliki berbagai macam
faktor penggunaan kosmetik, faktor kejiwaan jenis, diantaranya yaitu Daun sirih hijau (Piper
atau kelelahan. Penderita biasanya mengeluh betle L.) dan daun sirih merah (Piper
adanya ruam kulit berupa komedo, pustula, crocatum). Hasil penelitian terdahulu
nodus, atau kista dan dapat disertai rasa gatal. menunjukkan bahwa daun sirih hijau
Infeksi dapat disebabkan oleh Staphylococcus mengandung minyak atsiri yang terdiri dari
aureus. betel fenol, kavikol, seskuiterpen,
Staphylococcus aureus merupakan hidroksikavikol, kavibetol, estragol, eugenol,
bakteri gram positif berbentuk bulat atau dankarvakrol. Minyak atsiri dan ekstraknya
lonjong (0,8 sampai 0,9 μ), jenis yang tidak dapat melawan beberapa bakteri gram positif
bergerak, tidak bersimpai, tidak berspora dan dan gram negatif (Candrasari, A., et al, 2012:
tersusun dalam kelompok yang tidak teratur 9). Daun sirih merah mengandung senyawa
seperti buah anggur. Menurut Triana (2014: kimia seperti alkaloid, flavonoid, tanin, dan
992) Staphylococcus aureus adalah bakteri minyak atsiri yang diduga berpotensi sebagai
aerob yang bersifat gram-positif dan daya antimikroba. Menurut Lutviandhitarani,
merupakan salah satu flora normal manusia G., et al (2015: 28) flavon dan flavonoid
pada kulit dan selaput mukosa. merupakan golongan fenol dan mempunyai
Pengobatan Acne vulgaris dapat kemampuan sebagai bahan anti mikroba.
dilakukan dengan cara memberikan obat-obat Dalam penelitian Chandrasari, A., et al
topikal, obat sistemik, bedah kulit atau (2012) tentang uji daya antimikroba ekstrak
kombinasi cara-cara tersebut. Pemanfaatan etanol daun sirih merah terhadap pertumbuhan
Staphylococcus aureus menghasilkan ekstrak fakultatif, tumbuh lebih cepat dan lebih
etanol daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz banyak dalam keadaan aerobik, Suhu optimum
& Pav.) memiliki daya hambat terhadap 35–400C, terutama berasosiasi dengan kulit,
pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan selaput lendir hewan berdarah panas,
ATCC 6538 pada konsentrasi 10%, 20%, 40%, kisaran inangnya luas, dan banyak galur
80%, dan 100%. Oleh karena itu, peneliti ingin merupakan patogen potensial (Pelczar, 2008:
mengetahui efektifitas kemampuan ekstrak 954-955). Staphylococcus aureus dapat
daun sirih hijau dan daun sirih merah dalam menyebabkan pneumonia, meningitis,
menghambat petumbuhan bakteri emfisema, endokarditis, atau sepsis dengan
Staphylococcus aureus. pernanahan pada bagian tubuh tertentu.
Stapylococcus aureus berperan pada banyak
TINJAUAN PUSTAKA infeksi kulit (misalnya akne, pioderma, atau
Jerawat merupakan penyakit kulit yang impetigo) (Jawetz, 2001: 318-319).
sering terjadi pada masa remaja bahkan hingga Pengobatan jerawat biasanya dilakukan
dewasa. Jerawat tersebut ditandai dengan dengan pemberian antibiotik dan bahan-bahan
adanya komedo, papul, pustul, nodus, dan kimia.
kista pada daerah wajah, leher, lengan atas, Antimikroba adalah obat yang
dada, dan punggung. Meskipun tidak digunakan untuk memberantas infeksi mikroba
mengancam jiwa, jerawat dapat pada manusia. Sedangkan antibiotik adalah
mempengaruhi kualitas hidup seseorang senyawa kimia yang dihasilkan oleh
dengan memberikan efek psikologis yang mikroorganisme khususnya dihasilkan oleh
buruk berupa cara seseorang menilai, fungi atau dihasilkan secara sintetik yang
memandang dan menanggapi kondisi dan dapat membunuh atau menghambat
situasi dirinya (Wahdaningsih, et al. 2014: 92). perkembangan bakteri dan organisme lain
Pada kulit yang semula dalam kondisi (Utami, 2012: 79). Antibiotik bisa
normal, sering kali terjadi penumpukan diklasifikasikan berdasarkan mekanisme
kotoran dan sel kulit mati karena kurangnya kerjanya, yaitu:
perawatan dan pemeliharaan, khususnya pada 1. Menghambat sintesis atau merusak dinding
kulit yang memiliki tingkat reproduksi minyak sel bakteri, antara lain beta-laktam
yang tinggi. Sel kulit mati dan kotoran yang (penisilin, sefalosporin, monobaktam,
menumpuk tersebut, kemudian terkena bakteri karbapenem, inhibitor beta-laktamase),
acne, maka timbulah jerawat. Salah satu basitrasin, dan vankomisin.
bakteri yang menyebabkan jerawat adalah 2. Memodifikasi atau menghambat sintesis
Staphylococcus aureus (Garrity, 2004: 158). protein antara lain, aminoglikosid,
Berikut merupakan taksonomi dari kloramfenikol, tetrasiklin, makrolida
Staphylococcus aureus, (eritromisin, azitromisin, klaritromisin),
Kingdom : Bacteria klindamisin, mupirosin, dan spektinomisin.
Filum : Firmicutes 3. Menghambat enzim-enzim esensial dalam
Kelas : Bacilli metabolisme folat antara lain, trimetoprim
Ordo : Bacillales dan sulfonamid.
Famili : Staphylococcaceae 4. Mempengaruhi sintesis atau metabolisme
Genus : Staphylococcus asam nukleat antara lain, kuinolon,
Spesies : Staphylococcus aureus nitrofurantoin (Kemenkes, 2011).
Sifat dan morfologi Staphylococcus Adapun antibiotik yang dapat digunakan
aureus adalah bakteri gram positif. Sel-sel untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang
berbentuk bola, berdiameter 0,5–1,5 µm, mengakibatkan tumbuhnya jerawat adalah
terdapat dalam tunggal dan berpasangan dan daun sirih hijau (Piper betle L.) dan daun sirih
secara khas membelah diri pada lebih dari satu merah (Piper crocatum).
bidang sehingga membentuk gerombolan yang Sirih adalah salah satu tumbuhan yang
tak teratur, non motil, Tidak diketahui adanya berasal dari famili Piperaceae, tumbuh
stadium istirahat (Ninin. 2016: 9). Dinding sel merambat atau menjalar. Tinggi tanaman sirih
mengandung dua komponen utama yaitu bisa mencapai 5-15 m tergantung pertumbuhan
peptidoglikan dan asam teikoat yang berkaitan dan tempat rambatnya (Fuadi, S. 2014: 4).
dengannya, kemoorganotrof, metabolisme Sirih memiliki batang berwarna coklat
dengan respirasi dan fermentatif, anaerob kehijauan, berbentuk bulat, berkerut dan berus
yang merupakan tempat keluarnya akar. mirip tanaman lada. Tinggi tanaman biasanya
Tanaman ini memili daun berbentuk jantung, mencapai 10 m, tergantung pertumbuhan dan
teksturnya kasar jika diraba dan mengelarkan tempat merambatnya. Batang sirih berkayu
bau yang sedap. Sirih dapat tumbuh subur lunak, beruas-ruas, beralur dan berwarna hijau
didaerah tropis dengan ketinggian 300-1000 m keabu-abuan. Daun tunggal berbentuk seperti
diatas permukaan laut. Terutama diatas tanah jantung hati, permukaan licin, bagian tepi rata
yang banyak mengandung bahan organik dan dan pertulangannya menyirip (Syariefa, 2006:
cukup air. 65). Sirih merah mempunyai bentuk daun yang
Berdasarkan ilmu taksonomi, berikut cukup bervariasi antara daun muda (fase
adalah klasifikasi dari tanaman sirih hijau muda) dan daun pada cabang yang akan
(Piper betle L.) menghasilkan alat reproduksi (fase dewasa).
Kingdom : Plantae Saat muda umumnya mempunyai bentuk daun
Divisi : Magnoliophyta menjantung - membulat telur dan pada fase
Kelas : Magnoliopsida dewasa (siap menghasilkan alat reproduksi)
Ordo : Piperales terjadi perubahan bentuk daun dari membulat
Famili : Piperaceae telur - melonjong. Adapun kedudukan tanaman
Genus : Piper sirih merah menurut Sudewo (2010: 39) dalam
Spesies : Piper betle L. sistemik taksonomi tumbuhan di klasifikasikan
(Aristiana. 2016: 5) sebagai berikut:
Sirih hijau (Piper betle L.) merupakan Kingdom : Plantae
salah satu tanaman obat yang memiliki Divisi : Magnoliophyta
beragam khasiat. Tanaman ini berkhasiat Kelas : Magnoliopsida
sebagai antibakteri, antiviral, antiinflamasi Orde : Piperales
serta mampu mengatasi bau mulut. Menurut Family : Piperaceae
Hariana (2008: 76) daun sirih hijau Genus : Piper
mengandung minyak atsiri sebesar 1 - 4,2 %. Spesies : Piper crocatum
Terdapat pula kandungan alkaloid, flavonoid, Sirih merah mengandung senyawa
fenol dan steroid (Srisadono, 2008: 16). Fenol kimia seperti alkaloid, flavonoid, tanin, dan
alam yang terkandung dalam minyak atsiri minyak atsiri yang diduga berpotensi sebagai
memiliki daya antiseptik 5 kali lebih kuat daya antimikroba (Ebadi, 2002: 397). senyawa
dibandingkan fenol biasa (Bakterisid dan aktif daun sirih merah yang berkhasiat sebagai
Fungisid) tetapi tidak sporasid. Mekanisme antibakteri adalah fenol, flavonoid, alkaloid,
fenol sebagai agen antibakteri berperan saponin dan tanin. Fenol dan deviratnya
sebagai toksin dalam protoplasma, merusak mempunyai daya antibakteri dengan cara
dan menembus dinding serta mengendapkan menurunkan tegangan permukaan sel dan
protein sel bakteri. Komponen utama minyak denaturasi protein. Adanya fenol yang
astari terdiri dari betle phenol dan beberapa merupakan senyawa toksik mengakibatkan
derivatnya diantaranya euganol struktur tiga dimensi protein terganggu dan
allypyrocatechine 26,8- 42,5%, cineol 2,4- terbuka menjadi struktur acak tanpa adanya
4,8%, mehyl euganol 4,2-15,8%, caryophyllen kerusakan pada struktur kerangka kovalen
3-9,8%, hidroksi kavikol, kavikol 7,2-16,7%, (Pasril, 2014: 93).
kabivetol 2,7-6,2%, estragol, ilypryrokatekol
9,6%, karvakol 2,2- 5,6%, alkaloid, flavonoid, METODE PENELITIAN
triterpenoid atau steroid, saponin, terpen, 1. Alat dan Bahan
fenilpropan, terpinen, diastase 0,8-1,8%, dan Alat yang digunakan dalam penelitian
tannin 1-1,3%. Pada konsentrasi 0,1-1% ini antara lain cawan petri, suntikan,
phenol bersifat bakteriostatik, sedangkan pada mikropipet, spreader, penggaris, mortal dan
konsentrasi 1-2% phenol bersifat bakteriosida alu, tabung reaksi, rak tabung reaksi,
(Carolia, N & Wulan, N. 2016: 141-142). batang pengaduk, gelas ukur, gelas beaker,
Sirih merah secara ilmiah dikenal labu erlenmeyer, tabung eppendorf, bunsen.
dengan nama Piper crocatum yang termasuk Bahan yang digunakan dalam
dalam familia Piperaceae. Nama lokal dari penelitian ini antara lain media NA padat,
sirih merah yaitu sirih merah (Indonesia) bakteri dalam media cair (Staphylococcus
(Mardiana, 2004: 44). Sirih merah merupakan areus), daun sirih hijau (Piper betle L.) dan
tanaman yang tumbuh merambat dan sosoknya daun sirih merah (Piper crocatum), air,
label, kloramfenikol, plastik wrap dan menggunakan jangka sorong dengan
etanol. pengukuran sebanyak 3 kali untuk
tiap lubang.
2. Cara Kerja 6) Replikasi dilakukan sebanyak 2 kali
a. Membuat Ekstrak Etanol Daun Sirih pada setiap pengujian. Nilai diameter
1) Daun sirih hijau (Piper betle L.) zona hambat dari kedua replikasi
ditimbang. tersebut dirata-rata.
2) Daun sirih hijau (Piper betle L.) 7) Nilai diameter zona hambat antar
yang telah ditimbang, ditumbuk bakteri uji dibandingkan.
dengan menggunakan mortar dan
alu. HASIL DAN PEMBAHASAN
3) Etanol 100% dimasukkan kedalam Setelah dilakukan penelitian mengenai
tabung reaksi sebanyak 10 ml. uji antibiotik alami daun sirih hijau dan daun
4) Hasil tumbukan daun sirih hijau sirih merah terhadap pertumbuhan
(Piper betle L.) dimasukkan kedalam Staphylococcus aureus maka diperoleh hasil
tabung reaksi yang berisi etanol dan sebagai berikut:
diaduk. Tabel 1. Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun
5) Larutan tersebut didiamkan selama 2 Sirih Hijau terhadap Bakteri Staphylococcus
hari hingga menguap. aureus
6) Setelah 2 hari, larutan tersebut Diameter
disaring untuk mendapatkan ekstrak Diameter zona hambat
etanol daun sirih hijau (Piper betle zona (cm) pada
L.) 100%. hambat Konsentrasi
7) Kemudian ekstrak etanol daun sirih Replikasi (cm) pada Ekstrak
hijau (Piper betle L.) tersebut kontrol Etanol Daun
diencerkan untuk mendapatkan Sirih Hijau
ekstrak etanol daun sirih hijau (Piper
betle L.) dengan konsentrasi 50%. (-) (+) 50% 100%
8) Kegiatan 1 sampai 7 diulangi pada 0 0.6 0.1
daun sirih merah (Piper crocatum). 1 0.2 cm
cm cm cm
0 0.5 0.2
b. Uji Antibiotik Alami 2 0.3 cm
cm cm cm
1) Media uji NA yang telah didinginkan 0 0.55 0.15 0.35
dalam cawan petri disiapkan. Rata-Rata
cm cm cm cm
2) Suspensi bakteri dituangkan
sebanyak 2 ml kedalam cawan petri
Tabel 2. Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun
yang berisi media NA kemudian
Sirih Merah terhadap Bakteri Staphylococcus
diratakan menggunakan spreader aureus
sampai rata.
Diameter
3) Lubang sumuran dibuat dengan
Diameter zona hambat
menggunakan suntikan dengan
zona (cm) pada
diameter lubang sebesar 5 mm pada
hambat Konsentrasi
media NA padat yang telah
Replikasi (cm) pada Ekstrak
dimasukkan suspensi bakteri,
kontrol Etanol Daun
kemudian diinkubasi pada suhu 37◦C
Sirih Merah
selama 24 jam.
4) Ekstrak etanol daun sirih hijau, daun (-) (+) 50% 100%
sirih merah, dan kloramfenikol
(kontrol positif) masing-masing 0 0.7 0.2
1 0.3 cm
sebanyak 1 ml dimasukkan kedalam cm cm cm
masing-masing lubang, kemudian 0 0.5 0.3
2 0.5 cm
diberi label dan diinkubasi pada suhu cm cm cm
37◦C selama 2 hari. 0 0.6 0.25
Rata-Rata 0.4 cm
5) Diameter zona hambat pada masing- cm cm cm
masing sumuran diukur
Diameter Zona Hambat Bakteri (cm)
0.7

0.6

0.5

0.4

0.3 Ekstrak Etanol Daun Sirih Hijau

0.2 Ekstrak Etanol Daun Sirih Merah

0.1

0
50% 100% Kontrol (+) Kontrol (-)

Konsentrasi Ekstrak Etanol Daun Sirih

Gambar 1. Diameter Zona Hambat Bakteri Ekstrak Daun Sirih dan Kontrol

Berdasarkan hasil pengamatan uji dapat menghambat sintesis protein pada tahap
antibiotik alami daun sirih hijau dan daun sirih elongasi dengan cara mencegah pembentukan
merah menunjukan adanya zona hambat ikatan peptida pada ribosom. Kloramfenikol
bakteri pada berbagai konsentrasi dan jenis dapat melumpuhkan sel bakteri tanpa
daun sirih. Pada Tabel 1. Zona Hambat Daun mengganggu sel organisme lain. Salah satu sel
Sirih Hijau terhadap Bakteri Staphylococcus bakteri yang dapat dihambat oleh
aureus dan Tabel 2. Zona Hambat Daun Sirih kloramfenikol yaitu Staphylococcus aureus.
Merah terhadap Bakteri Staphylococcus Menurut Kursia et al. (2016: 73)
aureus menunjukan bahwa ekstrak etanol daun Staphylococcus aureus merupakan salah satu
sirih hijau dan daun sirih merah masing- bakteri yang dapat menimbulkan jerawat.
masing 50% dan 100% dapat digunakan Bakteri Staphylococcus aureus memiliki
sebagai antibiotik alami untuk membunuh bentuk bulat berdiameter 0,7-0,2 µm, tersusun
bakteri Staphylococcus aureus, namun tingkat dalam kelompok yang tidak teratur seperti
efektivitasnya masih kurang dibandingkan buah anggur, fakultatif anaerob, tidak
dengan kloramfenikol yang dijadikan kontrol membentuk spora dan tidak bergerak. Bakteri
positif (+). Efektivitas suatu antibiotik dapat ini tumbuh pada suhu optimum 37°C, tetapi
diukur dengan melihat zona hambat bakteri. membentuk pigmen paling baik pada suhu
Menurut Sumampouw (2010: 188), tingkat kamar (20°C-25°C). Koloni pada pembenihan
efektivitas suatu antibiotik dapat diketahui padat berwarna abu-abu sampai kuning
melalui pengukuran zona hambat bakteri. keemasan, berbentuk bundar, halus, menonjol,
Semakin besar zona hambat bakteri maka akan dan berkilau.
semakin efektif antibiotik yang diuji. Berdasarkan Gambar 1. Diameter
Kloramfenikol sebagai kontrol positif Zona Hambat Bakteri Ekstrak Daun Sirih dan
memiliki tingkat keefektifan yang lebih tinggi Kontrol menunjukan bahwa penurunan
dengan mean (0,55 cm) dibandingkan dengan konsentrasi ekstrak etanol daun sirih
ekstrak daun sirih hijau masing-masing 50% menyebabkan penurunan diameter zona
mean (0,15 cm) dan 100% mean (0,35 cm) hambat bakteri. Hal ini dapat terjadi karena
serta kloramfenikol lebih tinggi dengan mean adanya penurunan kandungan senyawa
(0,6 cm) dari daun sirih merah masing-masing antibakteri pada ekstrak etanol daun sirih. Hal
50% mean (0,25 cm) dan 100% mean (0,4 ini diperkuat dengan pernyataan Damayanti
cm) karena kloramfenikol telah teruji sebagai (2005: 26), semakin meningkatnya konsentrasi
antibiotik yang dapat menghambat maka akan menurunkan jumlah koloni bakteri
pertumbuhan bakteri dengan kuat. Hal ini serta membuat zona hambat bakteri semakin
didukung oleh pendapat Inayatullah (2012: besar. Serta pernyataan Damayanti didukung
100) yang menyatakan bahwa, kloramfenikol oleh pernyataan Rachmawaty (2018: 15) yang
menyatakan, semakin besar konsentrasi maka enzim protease dan dapat membentuk ikatan
jumlah koloni bakteri akan semakin sedikit komplek dengan polisakarida.
dan zona hambat bakteri semakin besar. Hasil Harapini et al. (2013: 3) menyatakan
pengamatan zona hambat pada kontrol positif daya antibakteri minyak atsiri daun sirih merah
(+) memiliki diameter zona hambat 0.55 cm - disebabkan oleh adanya senyawa fenol dan
0.6 cm. turunannya yang dapat mendenaturasi protein
Gambar 1. Diameter Zona Hambat sel bakteri. Menurut Cowan (2014: 571),
Bakteri Ekstrak Daun Sirih dan Kontrol kehadiran fenol yang merupakan senyawa
menunjukan bahwa ekstrak etanol daun sirih toksik mengakibatkan struktur tiga dimensi
merah memiliki tingkat efektivitas yang lebih protein terganggu dan terbuka menjadi struktur
tinggi dibandingkan dengan ekstrak etanol acak tanpa adanya kerusakan pada struktur
daun sirih hijau. Hal ini dibuktikan dengan kerangka kovalen. Hal ini didukung pendapat
nilai diameter zona hambat bakteri pada Candrasari et al. (2012: 14), yang menyatakan
ekstrak etanol daun sirih merah lebih besar bahwa fenol dalam daun sirih merah dapat
(0,4 cm) dibandingkan dengan ekstrak etanol mendenaturasi ikatan protein pada membran
daun sirih hijau (0,35 cm). Hal ini karena daun sel sehingga membran sel lisis dan fenol dapat
sirih merah mengandung senyawa kimia menembus ke dalam inti sel. Masuknya fenol
seperti alkaloid, senyawa polifenolat, ke dalam inti sel inilah yang menyebabkan
flavonoid, tanin, dan minyak atsiri. Sudewo bakteri tidak berkembang.
(2010: 38) menyatakan bahwa daya antibakteri Daun sirih hijau memiliki efektivitas
daun ini disebabkan oleh adanya senyawa yang lebih rendah dibandingkan dengan daun
alkaloid, flaavonoid, tanin, dan minyak atsiri. sirih merah karena daun ini mengandung
Alkaloid adalah zat aktif dari tanaman yang minyak atsiri yang terdiri dari betelfenol,
berfungsi sebagai obat dan aktivator kuat bagi kavikol, seskuiterpen, hidroksikavikol,
sel imun yang dapat menghancurkan bakteri, kavibetol, estragol, eugenol, dan karvakrol.
virus, jamur, dan sel kanker (Olivia et al., Daun ini tidak mengandung senyawa (Sudewo,
2004: 49). Alkaloid mempunyai aktivitas 2010: 37).
antimikroba dengan menghambat DNA, RNA Menurut Harapini et al. (2013: 6)
polimerase, dan respirasi sel serta berperan perbedaan dipengaruhi oleh perbedaan kadar
dalam interkalasi DNA (Aniszewki, 2007: 18). eugenol yang nyata dalam minyak atsiri dari
Menurut Wiryowidagdo (2008: daun sirih merah (10,1129%) dan daun sirih
250)senyawaflavonoid dilaporkan berperan hijau (3,7187%). Eugenol masih merupakan
sebagai antibakteri. Selain itu, flavonoid juga turunan senyawa flavanoid yang bersifat
dilaporkan berperan sebagai antivirus, antiseptik sehingga pada konsentrasi yang
antibakteri, antiradang, dan antialergi. Sebagai kecil ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L.).
antibakteri, flavonoid mempunyai senyawa
genestein yang berfungsi menghambat KESIMPULAN
pembelahan atau proliferasi sel. Senyawa ini Ekstrak etanol daun sirih merah (Piper
mengikat protein mikrotubulus dalam sel dan crocatum) memiliki daya hambat bakteri lebih
mengganggu fungsi mitosis gelendong besar terhadap pertumbuhan bakteri
sehingga menimbulkan penghambatan Staphylococcus aureus dibandingkan dengan
pertumbuhan bakteri. Flavonoid menunjukkan ekstrak etanol daun sirih hijau (Piper betle L.),
toksisitas rendah pada mamalia sehingga namun lebih kecil dibandingkan dengan
beberapa flavonoid digunakan sebagai obat kloramfenikol yang digunakan sebagai kontrol
bagi manusia (Siswandono & Soekardjo, 2010: positif (+). Daya hambat bakteri menunjukan
115). tingkat efektivitas suatu antibiotik semakin
Tanin juga diduga mempunyai besar daya hambatnya maka akan semakin
efektivitas dalam menghambat pertumbuhan efektif dalam menghambat bakteri.
bakteri. Menurut Nuraini (2007: 274),
kemampuan tanin sebagai bahan antimikroba DAFTAR PUSTAKA
disebabkan karena tanin akan berikatan Aniszewki, T. 2007. Alkaloid Secrets of Life.
dengan dinding sel bakteri, sehingga akan Amsterdam, Elsevier: iv + 150 hlm.
menginaktifkan kemampuan menempel Aristiana. 2016. Adsorpsi Metilen Biru
bakteri, menghambat pertumbuhan, aktivitas Dengan Menggunakan Arang Aktif
Formulasi Tablet Hisap Ekstrak Inayatullah, S. 2012. Efek Ekstrak Daun Sirih
Daun Sirih Hijau (Piper Betle, L) Hijau (Piper betle L.) terhadap
Dengan Variasi Kadar Polivinil Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus
Pirolidon (Pvp) Sebagai Bahan aureus. Skripsi UIN Syarif
Pengikat. Hidayatullah: v + 145 hlm.
https://dspace.uii.ac.id/bitstream/ha Jawetz. 2001. Mikrobiologi Kedokteran.
ndle/123456789/1473/05. Edisi ke-20 (Alih bahasa : Nugroho &
2%20bab%202.pdf?sequence=8&is R. F. Maulany). Penerbit Buku
Allowed=y . 5-16 hlm. Diakses pada Kedokteran EGC, Jakarta: 425 hlm.
Kemenkes RI, 2011. Promosi kesehatan di
19 Mei 2018 pk. 22.00 WIB. daerah bermasalah kesehatan panduan
Candrasari, A., M. A. Romas., M. Hasbi., &
bagi petugas kesehatan di puskesmas,
O. R. Astuti. 2012. Uji Daya Antimikroba
Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan
Ekstrak Etanol Daun Sirih Merah (Piper
Kemenkes Republik Indonesia.
crocatum Ruiz & Pav.) Terhadap
http://www.depkes.go.id
Pertumbuhan Staphylococcus aureus
/resources/download/promosikesehatan/p
ATCC 6538, Eshericia coli ATCC 11229
anduanpromkes-dbk.pdf. Diakses pada 19
dan Candida albicansATCC 10231
Mei 2018 pk. 21.45 WIB.
Secara In Vitro. Biomedika 4 (1) : 9--16.
Kursia, S., S. Julianri., Lebang., B. Taebe., A.
Carolia, N & Wulan, N. 2016. Potensi Ekstrak
L. Burhan., W. O. R. Rahim &
Daun Sirih Hijau (Piper betle L.) Sebaga
Nursamsiar. 2016. Uji Aktivitas
Alternatif Terapi Acne vulgaris. Majority
Antibakteri Ekstrak Etilasetat Daun Sirih
5 (1): 140--145.
Hijau (Piper betle L.) terhadap Bakteri
Cowan, M. 2014. Plant Product as
Staphylococcus epidermidis. IJPST 3 (2):
Antimicrobial Agents. Journal
72--77.
Microbiology Rev 12 (4): 564--582.
Lutviandhitarani, G., D. W. Harjanti & F.
Damayanti, R.M. 2005. Khasiat dan Manfaat
Wahyono. 2015. Green Antibiotic Daun
Daun Sirih Hijau : Obat Mujarab dari
Sirih (Piper betle) Sebagai Pengganti
Masa ke Masa. AgroMedia Pustaka,
Antibiotik Komersial untuk Penanganan
Jakarta : iv + 125 hlm.
Mastitis. Agripet 15 (1) : 28--32 hlm.
Ebadi, 2002. Pharmacodynamic Basic of
Mardiana, L. 2004. Pencegahan dan
Herbal Medicine: Alkaloids: Manuka and
Pengobatan dengan Tanaman Obat.
Fungal Diseases: Flavonoids. CRC press,
Penebar Swadaya, Jakarta: 88 hlm.
New York: pp. 179-84, 189-92, 393-403.
Ninin, H. D. 2016. Uji Efektivitas Eksrak
Fuadi, s. 2014. Efektivitas Ekstrak Daun Metanol Klika Anak Dara terhadap
Sirih Hijau (Piper betle L.) Terhadap bakteri penyebab jerawat. Farmasi
Pertumbuhan Bakteri Staphylacoccus Jurusan Farmasi pada Fakultas
pyogenes In Vitro. Skripsi. Pendidikan Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN
dokter FKIK UIN Syarif Hidayatullah, Alauddin Makassar. xiii: + 68 hlm.
Jakarta: xv + 27 hlm. Nuraini, A. D. 2007. Ekstraksi Komponen
Garrity, G. M. 2004. Taxonomic Outline of Antibakteri dan Antioksidan dari Biji
The Procaryotes Bergey's Manual of Teratai (Nymphaea pubescens Willd).
Systemic Bacteriologi, 2th Edition. United Jurnal Teknologi Lingkungan 10 (30):
States of America. Springer, New York 271--276.
Berlin Hendelberg: 198 hlm. Olivia, F., S. Alam & I. Hadibroto. 2004.
Harapini, M., A. Agusta., R. D. Rahayu. 2013. Seluk Beluk Food Suplemen. Jakarta,
Analisis Komponen Kimia Minyak Gramedia: v + 175 hlm.
Atsiri Dari Dua Macam Sirih (Daun Pasril, Y. 2014. Daya Antibakteri Ekstrak
Merah dan Hijau). Simposium Nasional Daun Sirih Merah (Piper
I Tumbuhan Obat dan Aromatika: 1--10. Crocatum) terhadap Bakteri
Hariana, A. H. 2008. Tumbuhan Obat dan Enterococcus Faecalis sebagai
Khasiatnya Seri 3. PT. Penebar Bahan Medikamen Saluran Akar
Swadaya, Jakarta. dengan Metode Dilusi. IDJ 3 (1):
88-95.
Pelczar. 2008. Dasar-dasar Mikrobiologi. Fakultas Kedokteran, Universitas
Universitas Indonesia. Press, Diponegoro: 1--20 hlm.
Jakarta: iii + 989 hlm. Sudewo, B. 2010. Basmi Penyakit dengan
Rachmawaty, F., M. M. Akhmad, S. H. Sirih Merah. Biomedika 5 (1): 37--47.
Pranacipta., Z. Nabila & A. Sumampouw, O. 2010. Uji In Vitro Aktivitas
Muhammad. 2018. Optimasi Ekstrak Antibakteri dari Daun Sirih. Biomedik 2
Etanol Daun Sirih Merah (Piper (3): 187--193.
Crocatum) sebagai Antibakteri terhadap Syariefa, E. 2006. Resep sirih Wulung untuk
Bakteri Staphylococcus aureus.Jurnal Putih Merona Hingga Kanker Ganas.
Kedokteran dan Kesehatan 18 (1): 13-- Majalah Trubus 3 (3): 12--88.
19. Triana, D. 2014. Frekuensi β-Lactamase Hasil
Setyawan, et al. 2017. Efek PEG 400 dan Staphylococcus aureus Secara Iodometri
di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas
Mentol pada Formulasi Patch
Kedokteran Universitas Andalas. Jurnal
Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L.) Gradien 10 (2) : 992--995.
Terhadap Pelepasan Senyawa Wahdaningsih, et al. 2014. Uji Aktivitas
Polifenol. Jurnal Farmasi Udayana Antibakteri Fraksi n-Heksan Kulit Buah
5 (2): 2--11 hlm. Naga Merah (Hylocereus polyrhizus
Siswandono & B. Soekardjo. 2010. Kimia Britton & Rose) Terhadap Bakteri
Medicinal. UNAIR Press, Surabaya: v + Staphylococcus aureus ATCC 25923,
250 hlm. Trad. Med. J 19 (2) ISSN: 1410-5918: 89
Srisadono. 2008. Skrining Awal Ekstrak --94.
Etanol Daun Sirih (Piper betle Linn) Wiryowidagdo, S. 2008. Kimia dan
Sebagai Antikanker dengan Metode Brine Farmakologi Bahan Alam. EGC, Jakarta:
Shrimp Lathaly Test (BLT). Karya Ilmiah vii + 310 hlm.