Anda di halaman 1dari 11

PENGGUNAAN PASIR BESI SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN

DALAM CAMPURAN ASPAL UNTUK MENAIKKAN


STABILITAS

Oleh:
Saman Daniel Pasaribu
24-2013-010

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
JAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas memiliki banyak
sumber daya alam untuk dimanfaatkan. Salah satu diantaranya adalah pasir
besi, pasir yang mengandung bijih besi ini didapatkan dari hasil
penambangan. Pemanfaatan pasir besi hasil penambangan dirasa masih
kurang optimal. Di Indonesia, pemanfaatan pasir besi (selain industri
besi/baja) masih terbatas sebagai bahan tambahan pada pabrik semen, dan
bahan dasar tinta kering. Hal tersebut membuka peluang untuk
mendapatkan pasir besi dalam jumlah yang besar dengan harga yang relatif
terjangkau.
Perkerasan jalan menurut Saodang (2005:1), adalah bagian dari jalur
lalu-lintas yang merupakan penampang struktur dalam kedudukan yang
paling sentral dalam suatu badan jalan. Pembangunan jalan raya sedang
gencar dilakukan di Indonesia. Tetapi seringkali proses pembuatan jalan
raya terbentur beberapa kendala seperti sulitnya proses transportasi material
ke daerah-daerah terpencil, aspal kurang kuat menahan beban kendaraan,
dan mudahnya aspal rusak akibat air yang masuk ke rongga-rongga aspal
(void). Permasalahan diatas akan berdampak pada peningkatan biaya di
sektor-sektor yang kurang tepat, seperti transportasi bahan karena
banyaknya material yang diperlukan dan biaya maintenance terus-menerus
karena rusaknya perkerasan aspal pada lapisan jalan raya.
Meninjau permasalahan diatas, maka muncul ide untuk menggunakan
pasir besi sebagai filler dalam campuran aspal untuk pembuatan jalan raya.
Penggunaan pasir besi yang berukuran 0,0625 – 0,3 mm (lolos saringan no.
50) sebagai filler dalam campuran aspal diharapkan dapat dapat
memperkeras sebuah perkerasan aspal dengan tetap menjaga fungsi pasir
sebagai pengikat antar agregat. Karena kandungan besi pada pasir besi
murni (pasir besi Sukabumi) berkisar antara 30-40%, sedangkan sisanya 60-
70% berupa pasir. Kandungan besi pada aspal akan memperbesar stabilitas
perkerasan (uji alat Marshall). Sedangkan kandungan pasir yang berukuran
lebih kecil akan memperkuat ikatan antar agregat dan mengisi void.
Usaha diatas diharapkan dapat memperkuat aspal pada lapisan
perkerasan jalan raya. Apabila kualitas aspal semakin kuat, maka hal
tersebut akan berdampak pada berkurangnya biaya pembuatan jalan raya.
Volume aspal yang digunakan untuk menahan beban tertentu akan
berkurang. Dengan tebal lapisan yang lebih tipis, jalan tersebut sudah
mampu menahan beban rencana. Hal tersebut juga akan meminimalkan
biaya transportasi material yang lebih sedikit. Volume void yang semakin
kecil diharapkan dapat mengurangi infiltrasi air pada campuran aspal dan
membuatnya semain awet. Selain itu, penambang pasir dapat langsung
menjual hasil tambangnya tanpa perlu mengolahnya terlebih dahulu seperti
untuk digunakan dalam pembuatan besi/baja.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah
meningkatkan mutu stabilitas pada campuran aspal. Mutu dari benda uji
aspal dilihat meliputi indikator kadar pasir besi yaitu 2,5%, 3,5% dan
4,5%. Diharapkan dengan penambahan pasir besi dapat meningkatkan
mutu pada ke tiga indikator benda uji aspal.

1.3 Tujuan dan Manfaat


1. Mengetahui besarnya nilai density, stabilitas, VIM, VMA, VFA, dan
flow dari campuran aspal dengan dan tanpa penambahan pasir besi;
2. Mengetahui perbandingan/korelasi nilai density, stabilitas, VIM, VMA,
VFA, dan flow terhadap perbedaan kadar pasir besi dan tanpa
penambahan pasir besi;
3. Mengetahui kadar pasir besi optimum.
1.4 Ruang Lingkup
Aspal, agregat, dan bahan campuran lainnya memiliki andil besar
terhadap mutu suatu lapisan perkerasan. Ketidaksesuaian aspek-aspek diatas
dapat mengakibatkan kerusakan jalan dalam waktu yang lebih cepat.

Berikut adalah batasan-batasan dalam penelitian ini :


1. Mengetahui besarnya nilai density, stabilitas, VIM, VMA, VFA, dan
flow dari campuran aspal dengan pasir besi kadar 2,5%, 3,5% dan 4,5%;
2. Mengetahui perbandingan/korelasi nilai density, stabilitas, VIM,
VMA,VFA, dan flow terhadap perbedaan kadar pasir besi;
3. Pada pengujian ini, digunakan pasir besi Sukabumi dengan kadar Fe
30-40%.
Besarnya persentase agregat tiap hotbin akan ditentukan setelah
didapatkan nilai parameter-parameter penunjang yang terdapat pada pasir
besi, barulah diketahui berat pasir besi yang akan digunakan dalam
campuran aspal. Sedangkan, volume aspal yang akan dipakai adalah kadar
aspal optimum yang telah didapatkan melalui praktikum. Alat uji Marshall
akan digunakan untuk menentukan stabilitas dan void pada sampel aspal
menggunakan metode Marshall berdasarkan SNI 2006-2489-1991.

1.5 Sistematika Penulisan


Bab 1 Pendahuluan
Bab ini menjelaskan tentang hal yang melatar belakangi penelitian ini
dilakukan, perumusan masalah-masalah yang ada juga hal-hal yang ingin
diketahui, tujuan dan manfaat dari penelitian ini, ruang lingkup atau
batasan-batasan dalam proses penelitian, serta sistematika dalam melakukan
penulisan.

Bab 2 Landasan Teori


Bab ini berisi hasil studi literatur tentang sistem pemeliharaan
bangunan pada umumnya, dan definisi-definisi yang terkait dengan
pemeliharaan gedung. Pengetahuan yang didapatkan dari penjelasan
tersebut akan membantu proses penelitian ini dan mempermudah
pemahaman bagi pembaca tulisan ini.

Bab 3 Metodologi Penelitian


Bab ini menjabarkan langkah-langkah yang dilakukan pada penelitian
ini, disertai dengan penjelasan dan narasi proses tersebut.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Aspal

Aspal merupakan bahan perkerasan yang sering digunakan untuk


permbuatan jalan. Pada suhu ruangan, aspal berbentuk padat dan bersifat
termoplastis. Tetapi apabila aspal dipanaskan hingga temperatur tertentu
aspal akan menjadi cair, dan kembali membeku jika temperatur turun. Aspal
dikenal sebagai material yang bersifat viskos, berwarna hitam atau cokelat,
yang mempunyai daya lekat, bagian utamanya mengandung hidrokarbon
yang dihasilkan dari minyak bumi atau kejadian alami (aspal buton) dan
terlarut dalam karbondisulfida. Aspal yang berasal dari olahan minyak
mentah yang dipisahkan melalui proses distilasi minyak bumi. Proses
penyulingan ini dilakukan hingga suhu 350̊C dibawah tekanan atmosfir
untuk memisahkan fraksi-fraksi ringan seperti bensin, minyak tanah, dan
gas.
Aspal merupakan senyawa yang kompleks, bahan utamanya disusun
oleh hidrokarbon dan atom-atom N, S, dan O dalam jumlah yang relatif
kecil. Unsur-unsur yang terkandung dalam bitumen/aspal antara lain:
Karbon (82-88%), Hidrogen (8-11%), Sulfur (0-6%), Oksigen (0-1,5%),
dan Nitrogen (0-1%). Secara umum, jenis-jenis aspal dapat diklasifikasikan
berdasarkan asal dan proses pembentukannya adalah sebagai berikut: aspal
alamiah, aspal batuan, aspal minyak bumi, aspal emulsi, aspal cair, dan aspal
beton.

2.2 Agregat

Agregat atau batuan adalah formasi kulit bumi yang keras and solid,
yang terdiri dari mineral padat, berupa masa berukuran besar ataupun
berupa fragmen-fragmen (Sukirman, 1995:41). Kebanyakan agregat untuk
konstruksi diperoleh baik dari batu alam ataupun dari batu pecah melalui
proses pemecahan/penghancuran.

Berdasarkan ukurannya, agregat digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu:


a. Hotbin 1
Hotbin 1 adalah agregat kasar berukuran 4,75 - 9,5 mm (lolos saringan 1/2”
dan tertahan saringan No. 4).
b. Hotbin 2
Hotbin 2 adalah agregat kasar berukuran 2,36 – 4,75 mm (lolos saringan
3/8” dan tertahan saringan No. 8).
c. Hotbin 3
Hotbin 3 adalah agregat kasar berukuran 1,18 – 4,75 mm (lolos saringan No.
4 dan tertahan saringan No. 16).
d. Hotbin 4
Hotbin 4 adalah agregat kasar berukuran lebih kecil dari 1,18 mm (lolos
saringan No. 16).

2.3 Pasir Besi

Secara umum pasir besi terdiri atas mineral logam yang bercampur
dengan butiran-butiran dari mineral non-logam seperti kuarsa, kalsit,
ampibol, piroksen, biotit, dan tourmalin. Mineral non-logam tersebut terdiri
dari magnetit, titaniferous magnetit, ilmenit, limonit, dan hematit.
Titaniferous magnetit adalah bagian yang cukup penting merupakan salah
satu bentuk turunan dari magnetit dan ilmenit. Mineral bijih pasir besi
terutama berasal dari batuan basaltik dan andestik vulkanik. Kegunaan pasir
besi ini selain untuk industri logam besi juga telah banyak dimanfaatkan
pada industri semen.
Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, pasir besi adalah bijih
laterit dengan kandungan pokok berupa mineral oksida besi. Bijih laterit
tersebutlah yang mengandung mineral oksida besi. Beberapa mineral oksida
logam lain yang terkandung dalam pasir besi adalah vanadium, titanium,
dan kromium.
Pasir yang mengandung bijih besi ini adalah bahan galian yang
mengandung mineral besi, yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan
besi logam atau baja. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh pasir besi agar
dapat diolah menjadi besi adalah kandungan besinya harus lebih dari 51,5%.
Salah satu penambangan pasir besi di Indonesia terdapat di Cipatujah,
Kabupaten Tasikmalaya. Kandungan besi yang terdapat pada pasir besi di
kawasan tersebut berkisar antara 30-40%.

3.4 Rongga/Voids

Pada perkerasan jalan raya berupa aspal (flexible pavement) adanya


deformasi vertikal akibat beban lalu lintas diperbolehkan. Lapisan-lapisan
perkerasannya meneruskan perkerasannya bersifat memikul dan
menyebarkan beban lalu lintas ke tanah dasar (Wignall, 2008:77). Adanya
gradasi campuran agregat dengan ukuran berbeda-beda memungkinkan
distribusi beban tersalurkan secara merata menuju tanah. Tetapi rongga/void
berlebih pada perkerasan jalan raya dapat menyebabkan kurang meratanya
distribusi beban antar agregat menuju lapisan perkerasan dibawahnya.
Berikut adalah beberapa jenis rongga/voids yang ada pada perkerasan jalan
raya

a. Voids in Mix
Void in Mix (VIM), adalah volume rongga diantara partikel agregat yang
diselimuti aspal dalam campuran yang telah dipadatkan, yang dinyatakan
dalam (%) terhadap volume total campuran.

b. Voids in Mineral Aggregates


Void in Mineral Aggregates (VMA), adalah volume pori di antara partikel
agregat dalam campuran yang telah dipadatkan, termasuk pori yang terisi
oleh aspal, yang dinyatakan dalam (%) terhadap volume total campuran.
c. Voids Filled with Aggregate
Void Filled with Aggregate (VFA), adalah volume pori di antara partikel-
partikel agregat yang terisi agregat dalam campuran padat, yang dinyatakan
dalam (%) terhadap volume total campuran.
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Diagram Alir Penelitian

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian


Agar suatu penelitian dapat berjalan dengan baik, diperlukan adanya
prosedur atau langkah-langkah yang tepat saat melakukan penelitian. Urutan
langkah-langkah itu disebut metodologi penelitian. Metodologi penelitian adalah
suatu proses untuk memperoleh pemecahan suatu masalah, yang didalamnya
terdapat berbagai cara yang digunakan oleh peneliti untuk menyelesaikan
penelitiannya seperti pembuatan benda uji, pengujian benda uji, dokumentasi, dan
lain-lain.

3.2 Studi Literatur