Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SD

(Model dan Strategi menyimak di SD Kelas Tinggi)

Dosen Pengampu:Putri Hana Pebriani, M.Pd

Disusun Oleh Kelompok 6

RATIH INDRIANI (1686206035)

SELVIANA SASMIATI NUR (1686206042)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PAHLAWAN TUANKU TAMBUSAI

2018
keterampilan menyimak di kelas tinggi (madrasah ibtidaiyah)

Latar Belakang Masalah

Manusia merupakan mahluk individual sekaligus mahluk sosial. Oleh karena itu, manusia harus
bergaul dan berhubungan dengan manusia lain. Sebagai mahluk sosial, manusia sering
memerlukan orang lain untuk memahami apa yang sedang dipikirkan, apa yang dirasakan, dan
apa yang diinginkan, pemahaman terhadap pikiran, kehendak dan perasaan orang lain dapat
dilakukan dengan menyimak.

Banyak pilihan yang menganggap bahwa menyimak merupakan keterampilan yang paling
penting diantara keterampilan-keterampilan lain. Melalui aktivitas ini, siswa memperoleh
kosakata yang gramatika, disamping tentunya pengucapan yang baik. Selanjutnya, Astuti
menyatakan bahwa ” keterampilan menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa
yang sangat penting dipelajari untuk menunjang kemampuan berbahasa yang baik. Kemampuan
menyimak yang baik bisa memperlancar komunikasi karena komunikasi tidak akan berjalan
dengan lancar jika pesan yang sedang diberikan atau diterima tidak dimengerti ”.

Dan pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa keterampilan menyimak sangatlah perlu diberikan
kepada siswa. Dengan menguasai keterampilan menyimak, maka siswa dapat memperoleh
informasi dari bahan simakan. Namun dalam pencapaian harapan tersebut, banyak hambatan
atau kendala dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah pada umumnya. Seperti kenyataan
yang dihadapi bahwasanya kemampuan siswa dalam menyimak, khususnya mengungkapkan
kembali isi berita sangat kurang.

Rumusan Masalah

Apakah hakikat dari menyimak ?

Bagaimana strategi meningkatkat kemampuan menyimak di kelas tinggi?

Bagaimanakah cara penialaian kemampuan menyimak?

Tujuan Penulisan Makalah

Mengetahui hakikat dari menyimak

Mengetahui strategi meningkatkan kemampuan menyimak di kelas tinggi

Mengetahui cara penilaian kemampuan menyimak


BAB II

PEMBAHASAN

Meningkatkan kemampuan menyimak melalui berbicara kreatif

Hakikat menyimak

Dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar manusia melalukan komunikasi langsung atau tatap
muka dengan bahasa lisan. Dalam kegiatan berkomunikasi itu, para peserta komunikasi saling
berganti peranan. Suatu saat menjadi pembecara, pada saat lain menjadi pendengar. Bila pesrta
komunikasi itu dua orang, maka tiap peserta memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi
pembicara dan pendengar scara bergantian. Hal tersebut akan berbeda apabila peserta
komunikasinya bertambah banyak, maka peluang untuk menjadi pembicara makin sedikit, dan
sebaliknya peran pendengar akan semakin banyak. Dengan kata lain dalam peristiwa komunikasi
lisan dengan peserta komunikasi kasi yang makin banyak, kegiatan menyimak makin banyak
dilakukan oleh para pesertanya.

Menurut paul T. Rankin dalam tarigan, dalam kehidupan suatu masyarakat di jumpai porsi
kegiatan menyimak 42%, berbicara 32%, membaca 15% dan menulis 11%. Bahkan bila dihitung
secara cermat, kemungkinan dalam kehipan manusia ini, kesempatan untuk menjadi penyimak
lebih besar dari pada menjadi pembicara.

Bertolak dari penjelasan penjelasan tersebut jelaslah betapa pentingnya keterampilan atau
kemampuan menyimak dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu kegiatan menyimak yang efektif,
yaitu kegiatan menyimak yang mampu menyerap informasi atau gagasan yang disajikan dengan
baik perlu ditingkatkan. Kata menyimak dalam bahasa indonesia mimiliki kemiripan arti dengan
mendengar dan mendengarkan. Oleh karena itu, ketiga istilah itu sering dianggap sama sehingga
digunakan secara bergantian.

Mendengar merupakan salah satu kegiatan menangkap suara atau bunyi tanpa direncanakan oleh
yang melakukan kegiatan tersebut. Dalam Kamus Bsar Bahasa Indonesia dapat diartikan
mendengarkan atau menangkap bunyi dengan telinga. Mendengar memiliki unsur makna
mendengar karena orang mendengar menggunakan alat yang sama dengan mendengarkan
sesuatu dengan sungguh-sungguh. Perbedaan terdapat pada tingkat kesadaran seseorang
melakukan kegiatan atau perbuatan itu. Bila kegiatan mendengar dilakukan dengan tidak
sengaja, maka kegiatan mendengarkan dilakukan dengan sengaja atau terencana.

Menyimak memiliki kandungan makna yang lebih spesifik lagi bila dibandingkan dengan kedua
istilah sebelumnya. Namun, sekali lagi menyimak ini sering disamakan begitu saja dengan
mendengarkan, sehingga pada beberapa hal keduanya dapat digunakan secara bergantian. Dalam
kegiatan ini menyimak perlu dibedakan dari mendengarkan. Jadi pada hakikatnya menyimak
dapat di artikan mendengarkan suara atau bunyi yang direncanakan untuk memperoleh suatu
informasi yang diinginkan.

Pada umumnya, kegiatan menyimak tidak dapat dikenakan pada suara seperti letusan mercon,
ketukan pintu, kucing mengeong, deru mesin dan suara sejenisnya. Oleh karena itu, sepertinya
dalam bahasa indonesia kalimat atau tuturan seperti dibawah ini tidak berterima.

Si bajuri sedang menyimak deru mobil bajaj di pinggir jalan.

Pak dokter sedang menyimak batuk pasiennya.

Ayah duduk dipantai menyimak debur ombak.

Kegiatan menyimak dapat dilakukan oleh seseorang dengan bunyi bahasa sasarannya, sedangkan
mendengar dan mendengarkan sasarannya dapat berupa bunyi apa saja. Itulah salah satu ciri khas
dalam kegiatan menyimak. Selain itu kegiatan menyimal dilakukan dengan sengaja, atau
terencana dan ada usaha untuk memahami atau menikmati apa yang disimaknya. Penguasaan
menyimak pada diri seseorang akan menjadi lebih mudah apabila seseorang mengetahui konteks
wacana yang disimaknya.

Dalam meningkatkan kemampuan para siswa sekolah dasar agar tercapai atau berhasil dalam
menyimaknya tergantung pada dua hal, yakni (1) keteladanan guru dan, (2) keikutsertaan
(partisipasi) siswa. Guru harus memberi teladan sebagai penyimak yang baik, dan pembicara
yang efektif. Sebaliknya siswa yang berpartisipasi dalam suatu diskusi harus memiliki informasi
tertentu yang akan disampaikan kepada orang lain.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyimak, salah satu diantaranya adalah
keterlibatan penyimak berinteraksi dengan pembicara. Oleh karena itu, para siswa tidak mungkin
dapat menyelesaikan tugas menyimak dengan baik apabila mereka terganggu dengan
pembicaraan orang lain.

Berbagai faktor kesulitan dalam menyiak antara lain :

Latar belakang pengetahuan

Susunan informasi yang kurang kronologis, kelengkapan dan kejelasan informasi

Pembicaraan didalam teks yang menggunakan kata ganti lebih sulit dipahami daripada
menggunakan kata benda

Sesuatu yang dideskripsikan dalam teks yang disimak itu mengandung hubungan statis ataukah
hubungan dinamis. Yang menunjukan hubungan statis, misalnya bentuk-bentuk aritmatika lebih
sulit daripada yang mengandung hubungan dinamis, misalnya musibah bencana banjir di Aceh.
Peran guru dan murid dalam pembelajaran menyimak

Menyimak merupakan sarana yang utama dalam belajar. Oleh karena itu, kebiasaan menyimak
perlu dikembangkan. Cara yang terbaik untuk mengembangkan siswa sebagai penyimak yang
efektif adalah dengan memberikan teladan. Biasakan menanti dengan sabar suatu pertanyaan
yang disampaikan secara lengkap sebelum guru menjawab pertanyaan siswa. demikan juga para
siswa dibiasakan melakukan hal (menyimak) yang baik sama pentingnya dengan menjadi
pembicara yang efektif.

sesuai dengan perkembangan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa, siswa sekolah
dasar kelas yang ssama tidak harus persis sama. Bagi siswa yang tergolong rendah kemampuan
menyimaknya, setelah menyimak teks yang sama kesempatannya dengan yang disimak oleh
siswa lain, siswa tersebut dapat diberi tugas yang lebih mudah. Pilihan lain, mereka diberi
kesempatan berulang ulang materi yang disajikan materi pembelajran menyimak. Sesudah
menyimak yang pertama mereka diberi tugas menyebutkan jumlah pembicara. Setelah
menyimak yang kedua, mereka diberi tugas untuk mencari kata-kata sukar, atau kata kunci, dan
diminta menyebutkan beberapa kali, sebagian siswa mendengarkan. Kemudian diberi tugas yang
lebih sulit tingkatnya, misalnya diberi sejumlah frasa dan diminta menyebutkan beberapa kali
mendengarkan frasa tersebut yang terakhir dan seterusnya.

Strategi meningkatkat kemampuan menyimak

Ada beberapa strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkat kemampuan menyimak,
beberapa strategi dikemukakan berikut ini :

Guru harus mendiskusikan etiket atau sopan santun dalam menyimak dan perbedaan antara kritik
yang konstruktif dan kritik yang negtif.

Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyimak secara berulang-ulang wacana yang
dijadikan materi pembelajaran menyimak.

Setelah membacakan cerita atau dongeng, guru hendaknya mengadakan diskusi mengenai
bagian-bagian cerita atau dongeng tersebut yang patut dipuji atau yang perlu diperbaiki.

Guru sebaiknya mendaftarkan segi-segi positif dan negatif tersebut di papan tulis atau
menggunakan media lain seperti OHP sehingga setiap anak dapat melihat dan mendengarkan
hal-hal penting yang sedang dilakukan. Pada saat ini guru dapat menekankan kepada siswa untuk
mengajukan pertanyaan dengan cara yang sopan dan guru memberikan dorongan kepada siswa
untuk memperbaiki pertanyaan agar menjadi jelas. Apabila tidak ada anak yang memberikan
komentar terhadap cerita atau dongeng yang dibacakan, guru mungkin dapat menyarankan agar
ereka berperan solah-olah menjadi pengarang cerita atau dongeng yang telah dibacakan oleh
guru.
Berkaitan dengan kegiatan menyimak di kelas tinggi (3-6) sekolah dasar, jenis kegiatan
menyimak harus beragam. Beragam baik dari segi penyajian maupun bahan yang di jadikan
pengangang. Nambiar dan Sarumpeat menggunakan berbagai sumber bacaan dan bahan yang
ajaran lebih berhasil dari pada yang hanya menggunakan satu atau dua bahan.

Dalam kelas yang efektif sebagaimana yang telah di jelakan, guru menberikan penekanan pada
keterampilan menyimak, menyimak merupakan sarana yang utama dalam belajar. Menyimak
begitu penting sebagi kebutuhan belajar maka kebiasaan menyimak perlu di galakkan oleh guru
agar tujuan belajarnya tercapai.

Menyusun Bahan Pembelajaran Kemampuan Berbahasan Lisan

Sesuai dengan kompetensi dasar pembelajaran kemampuan kebahasaan lisan untuk menyimak,
kegiatan dapat didapat di padukan dengan kegiatan menulis, berbicara dan membaca. Sebagai
contoh di angkat dari model pembelajaran kelas 5 semester 3.

Langkah pertamamenentukan kompetensi dasar, misalnya mengapresiasikan sastra melalui


kegiatan mendengarkan hasil sastra. Selanjutnya dapat dilihat pada materi pokok yang yaitu
pembacaan cerpen anak-anak. Langkah berikut lihat indikator pencapian hasil belajar.
Berdasarkan indikator tersebut dapat ditunjukan selama proses pembelajaran. misalnya, perilaku
kegiatan mendengar, menjawab pertanyaan, menceritakan kembali, dan membicarakan atau
mendiskusikan cerita yang telah didengar. Kegiatan tersebut melandasi untuk penyusunan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai.

Pada tahap persiapan pembelajaran ini, guru hendaknya menyiapkan materi pembelajaran.
pemilihan bahan ini mungkin biasa berupa cerita rakyat harus sesuai dengan tujuan yang akan
dicapai, tingkat kemampuan siswa, serta sesuai dengan fokus pembelajaran menyimak, maka
cerita rakyat tersebut dapat digunakan untuk kegiatan menyimak. Dengan demikian, bahan
tersebut sesuai dengan tema, subtema, dan gagasan yang ingin di kembangkan.

Cerita rakyat berikut dapat dikembangkan sebagai bahan pembelajaran yang sesuai dengan
tujuan diatas.

Kisah Aji Saka

Pada suatu hari datanglah seorang laki-laki kesuatu desa yang masih berada di wilayah
kekuasaan Medang Kumolan. Laki-laki itu tinggi besar, pakaian serba putih, dan kepalanya
berbalut surban putih. Ia memperkenalkan dirinya bernama Aji Saka.

Pada saati itu seorang janda bernama Dadapan Sari sedang menagis di halaman rumahnya dan
tidak satu orang mengiraukannya seakan telah biasa melihat peristiwa seperti itu, Aji Saka
kemudian menghampiri wanita tua itu dan bertanya, “ Apa yang membuatmu menangis bibi” .
wanita tua itu terkejut dan bertanya, “Apakah engkau algojo yang diutus oleh raja dewata
cengkar untung menangkapku ?”. aji saka tersenyum dan berkata, “ bukan bibi, aku hanya
pendatang baru di desa ini, namaku Aji Saka. Bibi itu masih belum percaya sepenuhnya karna
dia ditetapkan dijadikan korban oleh kepala desanya untuk memenuhi perintah raja.

Sambil mengusap air mata, perempuan itu berkata “ tuan tidak ada seorangpun yang dapat
menolongkon karna, sebab leherku akan di penggal oleh algojo. Aji saja kemudian bertanya,
“apa salahmu bibi hingga engkau ingin di penggal ?”. dadapan sari menengok kenan dan kiri
memastikan tidak ada seorangpun yang mendengar sambil berbisik kepada Aji saka “ baginda
senang memakan daging manusia”. Aji saka terkejut matanya terbelalak.

Aji saka memutuskan untuk menggantikan dadapan sari, dan tak lama kemudian algojo datang
untuk menjemput dadapan sari. Tanpa berfikir panjang algojo menerima pertukaran karna raja
pasti sangat senang sebab badan aji saka sangat gemuk dan memiliki daging yang banyak.

Di hadapan sang prabu aji saka mengemukakan keinginannya yang terakhir sebelum
kematiannya, ia menginginkan tanah selebar ikan kepala yang melilit dikepalanya, tanpa berfikir
panjang Prabu Dewata Cengkar mengabulkan permintaan aji saja, tapi ternyata seketika itu ikat
kepala aji saja menjadi letur. Setiap kali kain itu ditarik, kain itu semakin panjang dan lebar
hingga menutupi wilayah kerajaan.

Setelah beberapa lama kain itu ditarik, sampailah di unujng pantai selatan. Gusti Prabu yang
keheran-heranan mulai sadar akan tipu daya Aji Saka. Namun, sebelum ia menyadari
sepenuhnya Aji Saka telah melecutkan kain itu hingga terdamparlah Prabu Dewata Cengkar
ketengah lautan. Konon berubahlah tubuh sang Prabu menjadi buaya putih di laut selatan.

Langkah selanjutnya adalah merencenakan kegiatan pembelajaran. kegiatan ini lebih baik
dimulai dengan kegiatan menyimak. Kemudian apa yang dilakukan setelah menyimak ?. untuk
menyusun langkah-langkah pembelajaran guru harus memperhatikan tujuan pembelajran, dalam
hal ini apa yang telah di jadikan indikator pembelajaran. teknik apa yang dilakukan dalam
pembelajaran harus dipandu oleh tujuan atau indikator yang akan dicapai dalam pembelajaran
tersebut.

Langkah akhir dari kegiatan ini adalah merencanakan evaluasi pembelajaran. evaluasi disusun
bedasarkan tujuan atau indikator yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut. Evaluasinya
dapat berupa tes perbuatan, tes lisan atau tes tertulis.
Jenis-Jenis Menyimak

Adapun jenis-jenis menyimak dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

Menyimak ekstensif (extensive listening)

Menyimak intensif (intensive listening)

Menyimak sosial (social listening)

Menyimak sekunder (secondary listening)

Menyimak estetik (aesthetic listening)

Menyimak kritis (critical listening)

Menyimak konsentratif (consentrative listening)

Menyimak kreatif (Creative listening)

Menyimak introgatif (introgative litening)

Menyimak penyelidikan (exploratory listening)

Menyimak pasif (passive listening)

Menyimak selektif (selective listening)

Untuk lebih jelasnya mengenai jenis-jenis menyimak sebagai dikemukakan di atas, dapat
diuraikan sebagai berikut:

Menyimak ekstensif (extensive listening)

Menyimak ekstensif adalah sejenis kegiatan menyimak yang berhubungan dengan hal-hal lebih
umum dan lebih bebas terhadap sesuatu bahasa, tidak perlu di bawah bimbingan langsung
seorang guru.

Penggunaan yang paling mendasar ialah untuk menyajikan kembali bahan yang telah diketahui
dalam suatu lingkungan baru dengan cara yang baru. Sealain itu, dapat pula murid dibiarkan
mendengar butir-butir kosakata dan struktur-struktur yang baru bagi murid yang terdapat dalam
arus bahasa yang ada dalam kapasitasnya untuk menanganinya.

Pada umumnya, sumber yang paling baik untuk menyimak ekstensif adalah rekaman yang dibuat
guru sendiri, misalnya rekaman yang bersumber dari siaran radio, televisi, dan sebagainya.

Menyimak intensif (intensive listening)


Menyimak intensif adalah menyimak yang diarahkan pada suatu yang jauh lebih diawasi,
dikontrol, terhadap suatu hal tertentu. Dalam hal ini harus diadakan suatu pembagian penting
yaitu diarahkan pada butir-butir bahasa sebagai bagian dari program pengajaran bahasa atau pada
pemahaman serta pengertian umum. Jelas bahwa dalam kasus yang kedua ini maka bahasa secara
umum sudah diketahui oleh para murid.

Menyimak sosial (social listening)

Menyimak sosial atau menyimak konversasional (conversational listening) ataupun menyimak


sopan (courtens listening) biasanya berlangsung dalam situasi-situasi sosial tempat orang
mengobrol mengenai hal-hal yang mrenarik perhatian semua orang dan saling mendengarkan
satu sama lain untuk membuat respons-repons yang pantas, mengikuti detail-detail yang
menarik, dan memerhatikan perhatian yang wajar terhadap apa-apa yang dikemukakan,
dikatakan oleh seorang rekan.

Dengan perkataan lain dapat dikemukakan bahwa menyimak sosial paling sedikit mencakup dua
hal, yaitu perkataan menyimak secara sopan santun dengan penuh perhatian percakapan atau
konversasi dalam situasi-situasi sosial dengan suatu maksud. Dan kedua mengerti serta
memahami peranan-peranan pembicara dan menyimak dalam proses komunikasi tersebut.

Menyimak sekunder (secondary listening)

Menyimak sekunder adalah sejenis kegiatan menyimak secara kebetulan dan secara ekstensif
(casual listening dan extensive listening) misalnya, menyimak pada musik yang mengirimi
tarian-tarian rakyat terdengar secara sayup-sayup sementara kita menulis surat pada teman di
rumah atau menikmati musik sementara ikut berpartisipasi dalam kegiatan tertentu di sekolah
seperti menulis, pekerjaan tangan dengan tanah liat, membuat sketsa dan latihan menulis dengan
tulisan tangan.

Menyimak estetik (aesthetic listening)

Menyimak estetik yang juga disebut menyimak apresiatif (apreciational listening) adalah fase
terakhir dari kegiatan menyimak secara kebetulan dan termasuk ke dalam menyimak ekstensif,
mencakup dua hal yaitu pertama menyimak musik, puisi, membaca bersama, atau drama yang
terdengar pada radio atau rekaman-rekaman. Kedua menikmati cerita-cerita, puisi, teka-teki, dan
lakon-lakon yang diceritakan oleh guru atau murid-murid.

Menyimak kritis (critical listening)

Menyimak kritis adalah sejenis kegiatan menyimak yang di dalamnya sudah terlihat kurangnya
atau tiadanya keaslian ataupun kehadiran prasangka serta ketidaktelitian yang akan diamati.
Murid-murid perlu banyak belajar mendengarkan, menyimak secara kritis untuk memperoleh
kebenaran.
Menyimak konsentratif (consentrative listening)

Menyimak konsentratif sering juga disebut study-type listening atau menyimak yang merupakan
jenis telaah. Kegiatan-kegiatan tercakup dalam menyimak konsentratif antara lain: menyimak
untuk mengikuti petunjuk-petunjuk serta menyimak urutan-urutan ide, fakta-fakta penting, dan
sebab akibat.

Menyimak kreatif (Creative listening)

Menyimak kreatif adalah jenis menyimak yang mengakibatkan dalam pembentukan atau
rekonstruksi seorang anak secara imaginatif kesenangan-kesenangan akan bunyi, visual atau
penglihatan, gerakan, serta perasaan-perasaan kinestetik yang disarankan oleh apa-apa
didengarnya.

Menyimak introgatif (introgative litening)

Menyimak introgatif adalah sejenis menyimak intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi
dan seleksi, pemusatan perhatian dan pemilihan, karena si penyimak harus mengajukan
pertanyaan-pertanyaan. Dalam kegiatan menyimak interogatif ini si penyimak mempersempit
serta mengarahkan perhatiannya pada pemerolehan informasi atau mengenai jalur khusus.

Menyimak penyelidikan (exploratory listening)

Menyimak penyelidikan adalah sejenis menyimak intensif dengan maksud dan yang agak lebih
singkat. Dalam kegiatan menyimak seperti ini si penyimak menyiagakan perhatiannya untuk
menemukan hal-hal baru yang menarik perhatian dan informasi tambahan mengenai suatu topik
atau suatu pergunjingan yang menarik.

Menyimak pasif (passive listening)

Menyimak pasif adalah penyerapan suatu bahasa tanpa upaya sadar yang biasa menandai upaya-
upaya kita saat belajar dengan teliti, belajar tergesa-gesa, menghapal luar kepala, berlatih serta
menguasai sesuatu bahasa. Salah satu contoh menyimak pasif adalah penduduk pribumi yang
tidak bersekolah lancar berbahasa asing. Hal ini dimungkinkan karena mereka hidup langsung di
daerah bahasa tersebut beberapa lama dan memberikan kesempatan yang cukup bagi otak
mereka menyimak bahasa itu.

Menyimak selektif (selective listening)

Menyimak selektif berhubungan erat dengan menyimak pasif. Betapapun efektifnya menyimak
pasif itu tetapi biasanya tidak dianggap sebagai kegiatan yang memuaskan. Oleh karena itu
menyimak sangat dibutuhkan. Namun demikian, menyimak selektif hendaknya tidak
menggantikan menyimak pasif, tetapi justru melengkapinya. Penyimak harus memanfaatkan
kedua teknik tersebut. Dengan demikian, berarti mengimbangi isolasi kultural kita dari
masyarakat bahasa asing itu dan tendensi kita untuk menginterpretasikan.
Upaya Meningkatkan Kemampuan Murid Menyimak dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di
Sekolah Dasar

Untuk meningkatkan kemampuan menyimak pada murid sekolah sekolah dasar, ada beberapa
teknik yang perlu ditempuh (Tarigan, 1993: 61) yaitu:

Teknik loci (Locy System)

Teknik penggabunga

Teknik Fonetik

Teknik pengelompokan kategorial

Teknik Pemenggalan

Konsentrasi

Untuk lebih jelasnya mengenai teknik-teknik tersebut, maka dapat dilihat pada uraian sebagai
berikut:

Teknik loci (Loci System)

Salah satu teknik mengingat yang paling tradisional adalah teknik loci. Teknik ini pada dasarnya
memberikan cara mengingat pesan dengan memvisualisasikan dalam benak kita materi yang
harus diingat.Teknik ini dilakukan dengan, mempelajari urutan informasi dengan informasi lain
yang serupa, dengan mempelajari lokasi-lokasi yang ada di sekitar kita dan mencocokkan hal-hal
yang akan diingat dengan lokasi-lokasi tersebut.

Teknik penggabungan

Teknik yang ke dua adalah teknik penggabungan (link system), teknik ini memberikan gagasan
tentang cara mengingat,yaitu dengan menghubungkan (menggabungkan) pesan pertama yang
akan diingat dengan pesan ke dua, ke tiga, dan seterusnya. Pesan berantai itu dihubungkan pula
dengan imaji-imaji tertentu yang perlu anda visualkan secara jelas dalam pikiran. Untuk
mencegah terjadinya kelupaan pada pesan pertama (pesan yang akan dimata-rantaikan), anda pun
perlu menghubungkan pesan pertama tersebut dengan lokasi yang akan mengingatkan anda

pada item tadi.

Teknik Fonetik

Sistem lain yang lebih kompleks tetapi cukup efektif adalah teknik fonetik atau phonetic system.
Teknik ini melibatkan penggabungan angka-angka, bunyi-bunyi fonetis, dan kata-kata yang
mewakili bilangan-bilangan tadi serta bunyi-bunyi, dengan pesan yang akan diingat.
Teknik pengelompokan kategorial

Pengelompokan kategorial, yakni suatu teknik pengorganisasian yang dapat digunakan secara
sistemtis untuk memodifikasikan informasi baru dengan cara memberikan struktur baru pada
informasi-informasi tadi.

Teknik Pemenggalan

Teknik ini memberikan cara mengingat pesan dengan cara memenggal pesan-pesan yang
panjang.contohnya, Apabilah mendengar orang menyebutkan nomor telepon, misalnya 6651814,
maka agar mudah mengingatnya kita memenggal, kelompok angka itu menjadi 665-18-14, atau
66-51-814 dan sebagainya.

Konsentrasi

Berkonsentrasi pada pesan yang dikirimkan oleh pembicara merupakan kesulitan utama yang
dihadapi oleh pendengar. Karena seringnya berkomonikasi dalam rentang waktu yang terlalu
lama, sehingga keadaan seperti ini menuntutnya untuk membagi-bagi energi untuk
memperhatikan antara berbagai ragam rangsang dan tidak merespon pada satu rangsang saja.

Pendengar akan lebih bertanggung jawab dan meningkatkan konsentrasinya dengan melatih
perilaku sebagai berikut:

Jujur terhadap penutur apabila ia mempunyai kesulitan dalam menangkap pesan yang
disampaikan

Membuat pertanyaan-pertanyaan pribadi agar lebih memperhatikan

Melatih kebiasaan menuliskan pendapat orang lain pada saat penutur terlibat pembicaraan
dengan pendengar lain

Mendengar dengan tujuan untuk berbagai pesan antara satu penutur dengan penutur lain.

Tes Menyimak

Menyimak dapat diartikan sebagai kemampuan memahami pesan yang disampaikan melalui
ujaran (bahasa lisan). Ada tiga faktor yang mempengaruhi kemampuan menyimak, yaitu (1)
faktor linguistik, (2) faktor konteks, dan (3) faktor diri pendengar. Apa beberapa model tes yang
digunakan untuk mengukur kemampuan menyimak. Vallete mengemukakan ada beberapa teknik
pengetesan kemampuan menyimak, yaitu : (1) berupa perintah/petunjuk yang menghendaki
perbuatan sebagai jawabannya, (2) pertanyaan atau nyataan yang diikuti dengan butir soal
pilihan ganda, (3) dialog atau percakapn atau percakapan dengan dikuti soal pilihan ganda,
Carroll mengemukakan dua teknik pengetesan kemampuan menyimak, yaitu testi diminta
menunggu panggilan telepon, tugasnya adalah memahami pesan yang disampaikan melalui
telpon, dan kombinasi menyimak dengan diagram, tabel, dan rangkaian gambar.
Pemilihan terhadap teknik tes yang akan digunakan dapat dilakukan dengan mendasarkan diri
pada tujuan bahan, dan testi serta pada keempat hal yang di kemukakan Carroll.

BAB III

KESIMPULAN

Menyimak memiliki kandungan makna yang lebih spesifik lagi bila dibandingkan mendengarka,
bila dalam mendengarkan kegiatan dilakukan tanpa sadar orang seseorang tetapi dalam
menyimak kegiatan dilakukan dengan sengaja. Jadi pada hakikatnya menyimak dapat di artikan
mendengarkan suara atau bunyi yang direncanakan untuk memperoleh suatu informasi yang
diinginkan.

Ada beberapa strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkat ketomampuan menyimak,
beberapa strategi dikemukakan berikut ini : Guru harus mendiskusikan etiket atau sopan santun
dalam menyimak dan perbedaan antara kritik yang konstruktif dan kritik yang negtif,
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyimak secara berulang-ulang wacana yang
dijadikan materi pembelajaran menyimak, setelah membacakan cerita atau dongeng, guru
hendaknya mengadakan diskusi mengenai bagian-bagian cerita atau dongeng tersebut yang patut
dipuji atau yang perlu diperbaiki.

Vallete mengemukakan ada beberapa teknik pengetesan kemampuan menyimak, yaitu : (1)
berupa perintah/petunjuk yang menghendaki perbuatan sebagai jawabannya, (2) pertanyaan atau
nyataan yang diikuti dengan butir soal pilihan ganda, (3) dialog atau percakapn atau percakapan
dengan dikuti soal pilihan ganda, Carroll mengemukakan dua teknik pengetesan kemampuan
menyimak, yaitu testi diminta menungg panggilan telepon, tugasnya adalah memahami pesan
yang disampaikan melalui telpon, dan kombinasi menyimak dengan diagram, tabel, dan
rangkaian gambar.