Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan pada tuhan Yang Maha Esa atas segala
nikmat,karunia dan waktunya sehingga atas seizin-Nya dapat terciptalah makalah
ini.
Dengan adanya makalah ini diharapkan agar bisa menjadi apresiasi agar para
pembaca berminat serta bisa di terapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun
bermasyarakat.

Dan akhirnya kami berharap mudah-mudahan makalah ini dapat menambah


wawasan dunia tentang ilmu ini. Segala kritik dan saran yang membangun untuk
menyelesaikan makalah ini Kami terima dengan senang hati dan lapang dada.

AGUSTUS 2018

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i

KATA PENGANTAR ................................................................................... ii

DAFTAR ISI .................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ................................................................................................ 1

B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 2

C. Tujuan ............................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Pancasila ....................................................................................... 3

B. Pancasila sebagai Nilai-nilai Dasar ................................................................ 3

C. Makna Setiap Nilai Pancasila ......................................................................... 4

D. Pancasila sebagai Sumber Nilai ...................................................................... 6

E. Pengertian Paradigma ..................................................................................... 8

F. Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan .................................................. 9

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ..................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 14


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Istilah paradigma pada mulanya dipakai dalam bidang filsafat ilmu pengetahuan.
Menurut Thomas Kuhn, orang yang pertama kali mengemukakan istilah tersebut menyatakan
bahwa ilmu pada waktu tertentu didominasi oleh suatu paradigma. Paradigma adalah
pandangan mendasar dari para ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan suatu
cabang ilmu pengetahuan.

Dengan demikian, paradigma sebagai alat bantu para illmuwan dalam merumuskan apa
yang harus dipelajari, apa yang harus dijawab, bagaimana seharusnya dalam menjawab dan
aturan-aturan yang bagaimana yang harus dijalankan dalam mengetahui persoalan
tersebut.Suatu paradigma mengandung sudut pandang, kerangka acuan yang harus dijalankan
oleh ilmuwan yang mengikuti paradigma tersebut.

Dengan suatu paradigma atau sudut pandang dan kerangka acuan tertentu, seorang
ilmuwan dapat menjelaskan sekaligus menjawab suatu masalah dalam ilmu pengetahuan.
Istilah paradigma makin lama makin berkembang tidak hanya di bidang ilmu pengetahuan,
tetapi pada bidang lain seperti bidang politik, hukum, sosial dan ekonomi. Paradigma kemudian
berkembang dalam pengertian sebagai kerangka pikir, kerangka bertindak, acuan, orientasi,
sumber, tolok ukur, parameter, arah dan tujuan.

Sesuatu dijadikan paradigma berarti sesuatu itu dijadikan sebagai kerangka, acuan,
tolok ukur, parameter, arah, dan tujuan dari sebuah kegiatan. Dengan demikian, paradigma
menempati posisi tinggi dan penting dalam melaksanakan segala hal dalam kehidupan
manusia.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud Pancasila?
2. Bagaimana Pancasila sebagai nilai-nilai dasar?
3. Apa makna setiap nilai Pancasila?
4. Bagaimana Pancasila sebagai Sumber nilai?
5. Apa yang dimaksud paradigma?
6. Bagaimana Pancasila sebagai paradigma pembangunan?
C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian Pancasila.


2. Untuk mengetahui Pancasila sebagai nilai-nilai dasar.
3. Untuk mengetahui makna setiap nilai Pancasila.
4. Untuk mengetahui Pancasila sebagai sumber nilai.
5. Untuk mengetahui pengertian paradigma.
6. Untuk mengetahui Pancasila sebagai paradigma pembangunan.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pancasila

Pancasila telah menjadi istilah resmi sebagai dasar falsafah negara Republik Indonesia,
baik ditinjau dari sudut bahasa maupun dari sudut sejarah. Hai tersebut dapat dilihat secara
etimologis atau secara teminologi sebagimana penjelasan berikut.

1. Secara Etimologis

Berdasarkan asal kata, Pancasila berasal dari bahasa India, yakni bahasa Sansekerta.
Menurut Muhammad Yamin, Pancasila memiliki dua macam arti, yaitu Panca artinya lima,
syila dengan (i) biasa (pendek) artinya sendi, alas, atau dasar, syila dengan (i) panjang artinya
peraturan tingkah laku yang penting, baik, dan senonoh. Kata sila dalam bahasa Indonesia
menjadi susila artinya tingkah laku baik.

2. Secara Terminologi

Pada 1 Juni 1945, dalam sidang Badan Penyelidik Usaha- Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) perkataan Pancasila (lima asas dasar) digunakan oleh
Presiden Soekarno untuk memberi nama pada lima prinsip dasar negara yang diusulkannya.
Perkataan tersebut dibisikkan oleh temannya seorang ahli bahasa yang duduk disamping
Soekarno, yaitu Muhammad Yamin.

B. Pancasila berisi Nilai-Nilai Dasar

Pancasila berisi seperangkat nilai yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan bulat.
Nilai-nilai itu berasal dari kelima sila Pancasila yang apabila diringkas terdiri atas:

1. Nilai Ketuhanan

2. Nilai Kemanusiaan

3. Nilai Persatuan

4. Nilai Kerakyatan, dan

5. Nilai Keadilan
Nilai-nilai Pancasila termasuk dalam tingkatan nilai dasar yang mendasari nilai
instrumental dan sekaligus mendasari semua aktivitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara. Nilai dasar bersifat fundamental dan tetap.

Diterimanya Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional Indonesia memiliki
konsekuensi logis untuk menjadikan nilai-nilai pancasila sebagai landasan pokok bagi
pengaturan penyelenggaraan bernegara. Hal ini diupayakan dengan menjabarkan nilai
pancasila ke dalam UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk
selanjutnya menjadi pedoman penyelenggaraan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara.

Pancasila dalam jenjang norma hukum berkedudukan sebagai norma dasar atau grundnorm dari
tertib hukum Indonesia. Sebagai norma dasar, pancasila mendasari dan menjadi sumber bagi
pembentukan hukum serta peraturan perundang-undangan di Indonesia. Pancasila menjadi
sumber hukum dasar nasional, yaitu sumber bagi penyusunan peraturan perundang-undangan
nasional.

C. Makna Setiap Nilai Pancasila

1. Makna Ketuhanan Yang Esa

a. Pengakuan dan keyakinan bangsa Indonesia terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa

b. Menciptakan sikap taat menjalankan menurut apa yang diperintahkan melalui ajaran-ajarannya

c. Mengakui dan memberikan kebebasan pada orang lain untuk memeluk agama dan
mengamalkan ajaran agamanya

d. Tidak ada paksaan dan memaksakan agama kepada orang lain

e. Menciptakan pola hidup saling menghargai dan menghormati antar-umat beragama

2. Makna Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

a. Kesadaran sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral dan tuntutan hati nurani

b. Pengakuan dan penghormatan akan hal asasi manusia

c. Mewujudkan kehidupan yang berkeadilan dan berkeadilan

d. Mengembangkan sikap saling mencintai atas dasar kemanusiaan

e. Memunculkan sikap tenggang rasa dan tepo selira dalam hubungan sosial
3. Makna Persatuan Indonesia

a. Mengakui dan menghormati adanya perbedaan dalam masyarakat Indonesia.

b. Menjalin kerja sama yang erat dalam wujud kebersamaan dan kegotong-royongan.

c. Kebulatan tekad bersama untuk mewujudkan persatuan bangsa.

d. Mengutamakan kepentingan bersama di atas pribadi dan golongan

4. Makna Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam


Permusyawaratan Perwakilan

a. Pengakuan bahwa rakyat Indonesia adalah pemegang kedaulatan

b. Mewujudkan demokrasi dalam kehidupan politik, ekonomi, dan sosial

c. Pengambilan keputusan mengutamakan prinsip musyawarah mufakat

d. Menghormati dan menghargai keputusan yang telah dihasilkan bersama

e. Bertanggung jawab melaksanakan keputusan

5. Makna Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

a. Keadilan untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi haknya

b. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama

c. Menyeimbangkan antara hak dan kewajiban

d. Saling bekerja sama untuk mendapatkan keadilan

D. Pancasila sebagai sumber nilai

Pancasila sebagai cita-cita bangsa merupakan cita-cita kenegaraan yang harus


diwujudkan dalam kekuasaan yang melembaga atau terstruktur. Pancasila perlu diamalkan
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pengalaman pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat dilakukan


dengan cara pengalaman secara objektif dan pengalaman secara subjektif.

1. Pengalaman secara objektif, yaitu melaksanakan peraturan perundang-undangan yang


berlandaskan pada pancasila.

2. Pengalaman secara subjektif, yaitu menjalankan nilai-nilai pancasila secara pribadi dalam
bersikap dan bertingkah laku pada kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kelima nilai dasar pancasila bersifat fundamental tetap dan abstrak. Oleh karena itu,
perlu dijabarkan dalam bentuk nilai instrumental yang lebih bersifat konkret dan operasional.
Jabaran dari nilai dasar pancasila dituangkan dalam UUD 1945 beserta peraturan perundang-
undangan yang ada di bawahnya. Jadi, dengan menaati dan menjalankan ketentuan-ketentuan
dalam UUD 1945 atau peraturan perundangan-undangan di bawahnya merupakan bentuk
pengalaman pancasila secara objektif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pengalaman secara objektif membutuhkan dukungan kekuasaan negara untuk


menerapkannya. Semoga warga negara atau penyelenggara negara yang berperilaku
menyimpang dari peraturan perundangan-undangan yang berlaku akan mendapatkan sanksi.
Pengalaman secara objektif bersifat memaksa serta adanya sanksi hukum.

Di samping mengamalkan secara objektif, secara subjektif warga negara dan


penyelenggara negara wajib mengamalkan pancasila dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Dalam rangka pengalaman secara subjektif, pancasila menjadi
sumber etika dalam bersikap dan bertingkah laku bagi setipa warga negara dan penyelenggra
negara. Dengan demikian, etika berbangsa dan bernegara bersumber pada nilai-nilai
pancasila. Dalam hubungan dengan hal tersebut, MPR telah mengeluarkan Ketetapan MPR No.
VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. Dalam ketetapan tersebut dinyatakan
bahwa etika kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat merupakan penjabaran nilai-
nilai pancasila sebagai pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku yang merupakan
cerminan dari nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan yang sudah mengakar dalam kehidupan
masyarakat.

Etika Kehidupan Berbangsa, Bernegara, dan Bermasyarakat bertujuan untuk:

1. Memberikan landasan etik moral bagi seluruh komponen bangsa dalam menjalankan
kehidupan kebangsaan dalam berbagai aspek.

2. Menentukan pokok-pokok etika kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

3. Menjadi kerangka acuan dalam mengevaluasi pelaksanaan nilai-nilai etika dan moral dalam
kehidupan berbangsa bernegara dan bermasyarakat.

Etika kehidupan berbangsa meliputi etika sosial dan budaya, etika pemerintahan dan
politik, etika ekonomi dan bisnis, etika penegakan hukum yang berkeadilan, dan etika keilmuan
dan disiplin kehidupan.
Dengan berpedoman pada etika kehidupan berbangsa, penyelenggara negara dan warga
negara dapat bersikap dan berperilaku secara baik berdasarkan nilai-nilai pancasila dalam
kehidupannya. Etika kehidupan berbangsa tidak memiliki sanksi hukum, tetapi semacam kode
etik yaitu pedoman etika berbangsa yang memberikan sanksi moral bagi siapa saja yang
berperilaku menyimpang dari norma-norma etik tersebut.

E. Pengertian Paradigma

Paradigma adalah suatu asumsi-asumsi dasar dan asumsi-asumsi teoritis yang umum
dan suatu kerangka pikir orientasi dasar dari suatu perubahan yang merupakan suatu sumber
hukum,metode,serta penerapan dalam ilmu pengetahuan,sehingga sangat menentukan
sifat,ciri,dan karakter ilmu pengetahuan itu sendiri. Paradigma berarti cara pandang, nilai-nilai,
metode-metode, prinsip dasar, atau cara memecahkan masalah yang dianutr oleh suatu
masayarakat pada masa tertentu.

Istilah paradigma awalnya dipergunakan dan berkembang dalam dunia ilmu


pengetahuan, terutama dalam filsafat ilmu pengetahuan. Selain terminologis, istilah ini
dikembang oleh Thomas S. Khun dalam bukunya yang berjudul The Structure of Scientific
Revolution (1970:49). Paradigma diartikan sebagai asumsi dasar atau asumsi teoritis yang
umum, sehingga paradigma merupakan suatu sumber nilai, hukum, dan metodologi. Sesuai
dengan kedudukannya, paradigma memiliki fungsi yang strategis dalam membangun kerangka
berpikir dan strategi penerapannya, sehingga setiap ilmu pengetahuan memiliki sifat, ciri, dan
karakter yang khas berbeda dengan ilmu pengetahuan lainnya.

Istilah paradigma semakin lama semakin berkembang dan biasa dipergunakan dalam
berbagai bidang kehidupan dan ilmu pengetahuan. Misalnya, politik, hukum, ekonomi, budaya,
dan bidang-bidang ilmu lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari, paradigma berkembang
menjadi terminology yang mengandung pengertian sebagai sumber nilai, kerangka piker,
orientasi dasar, sumber asas, tolal ukur, parameter, serta arah dan tujuan dari suatu
perkembangan, perubahan, dan proses dalam bidang tertentu, termasuk dalam pembangunan,
gerakan reformasi maupun dalam proses pendidikan. Dengan demikian, paradigma menempati
posisi dan fungsi yang strategis dalam setiap proses kegiatan, termasuk kegiatan pembangunan.
F. Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan

Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka mencapai masyarakat adil yang


bermakmuran dan makmur yang berkeadilan. Pembangunan nasional merupakan perwujudan
nyata dalam meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia sesuai dengan nilai-nilai
dasar yang diyakini kebenarannya, dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa tujuan
negara adalah “Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” Tujuan pertama
merupakan manifestasi dari negara hukum formal. Adapun tujuan kedua dan ketiga merupakan
manifestasi dari pengertian negara hukum materiil, yang secara keseluruhan sebagai
menifestasi tujuan khusus atau nasional. Sementara itu, tujuan yang terakhir merupakan
perwujudan dari kesadaran bahwa negara kita hidup di tengah-tengah pergaulan masyarakat
internasional.

Secara filosofis, pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional mengandung


konsekuensi yang sangat mendasar. Artinya, setiap pelaksanaan pembangunan nasional harus
didasarkan pada nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila pancasila dikembalikan atas dasar
ontologism manusia, baik sebagai makhluk individu maupun sosial. Oleh karena itu, baik
buruknya pelaksanaan pancasila harus dikembalikan pada kondisi objektif manusia Indonesia.

Apabila nilai-nilai dasar yang terkandung dalam pancasila sudah dapat diterima oleh
manusia Indonesia (rasional maupun empiris) maka kita harus konsekuen untuk
melaksanakannya. Bahkan, kita harus menjadikan pancasila sebagai pedoman dan tolak ukur
dalam setiap aktivitas bangsa Indonesia. Dengan kata lain, pancasila harus menjadi paradigma
perilaku manusia Indonesia, termasuk dalam melaksanakan pembangunan nasionalnya.

Berkaitan dengan kenyataan di atas dan kondisi objektif bahwa pancasila merupakan
dasar negara, dan negara adalah organisasi (persekutuan hidup) manusia maka tidak berlebihan
apabila pancasila menjadi tolak ukur atau parameter dalam setiap perilaku manusia Indonesia.
Oleh karena itu, pembangunan nasional harus dikembalikan pada hakikat manusia yang
monopluralis.
Berdasarkan kodratnya, manusia monopluralis memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. terdiri atas jiwa dan raga

2. sebagai makhluk individu dan sosial, serta

3. sebagai pribadi dan makhluk Allah

Dengan demikian, pembangunan nasional harus dilaksanakan atas dasar hakikat


monopluralis. Pendek kata, baik buruknya dan berhasilnya tidaknya pembangunan nasional
harus diukur dari nilai-nilai pancasila sebagai kristalisasi hakikat manusia monopluralis.

Sebagai konsekuensi dari pemikiran di atas, pembangunan nasional sebagai upaya


meningkatkan harkat dan martabat manusia harus meliputi aspek jiwa yang mencakup akal,
rasa, dan kehendak serta raga (jasmani) yang mencakup pribadi, sosial, dan aspek ketuhanan
yang terkristalisasi dalam nilai-nilai pancasila. Dengan demikian, pancasila dapat
dipergunakan sebagai tolak ukur atau paradigma pembangunan nasional di berbagai bidang,
seperti politik dan hukum, ekonomi, hankam, sosial budaya, pendidikan, ilmu pengetahuan dan
teknologi, serta kehidupan agama.

Adapun pokok-pokok pancasila sebagai paradigma pembangunan adalah sebagai


berikut.

1. Pancasila sebagai paradigma dalam pembangunan politik dan hukum meliputi:

a. pengembangan sistem politik negara yang menghargai harkat dan martabat manusia sebagai
subjek atau pelaku,

b. pengembangan sistem politik yang demokratis, berkedaulatan rakyat, dan terbuka,

c. sistem politik yang didasarkan pada nilai-nilai moral bukan sekedar kekuasaan,

d. pengambilan keputusan politik secara musyawarah mufakat, dan

e. politik dan hukum yang didasarkan atas moral ketuhanan, kemanusiaan, persatuan,
kerakyatan, dan keadilan.

2. Pancasila sebagai paradigma dalam pembangunan ekonomi meliputi:

a. dasar moralitas ketuhanan dan kemanusiaan menjadi kerangka landasan pembangunan


ekonomi,

b. megembangkan sistem ekonomi yang berperikemanusiaan,

c. mengembangkan sistem ekonomi Indonesia yang bercorak kekeluargaan,


d. ekonomi yang menghindarkan diri dari segala bentuk monopoli dan persaingan bebas, dan
ekonnomi yang bertujuan keadilan dan kesejahteraan bersama.

3. Pancasila sebagai paradigma dalam pembangunan sosial budaya meliputi:

a. pembangunan sosial budaya dilaksanakan demi terwujudnya masyarakat yang demokratis,


aman, tenteram, dan damai,

b. pembangunan sosial budaya yang mengahargai kemajemukan masyarakat Indonesia,

c. terbuka terhadap nilai-nilai luar yang positif untuk membangun masyarakat Indonesia yang
modern, dan

d. memelihara nilai-nilai yang telah lama hidup dan relevan bagi kemajuan masyarakat.

4. Pancasila sebagai paradigma dalam pembangunan pertahanan keamanan meliputi:

a. Pertahanan dan keamanan negara merupakan hak dan kewajiban setiap warga negara

b. Mengembangkan sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta, dan

c. Mengembangkan prinsip hidup berdampingan secara damai dengan bangsa lain.

5. Pancasila sebagai paradigma dalam pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi meliputi:

a. pengembangan iptek diarahkan untuk mencapai kebahagian lahir batin, memenuhi kebutuhan
materiil dan spiritual,

b. pengembangan iptek mempertimbangkan aspek estetik dan moral,

c. pengembangan iptek pada hakikatnya tidak boleh bebas nilai, tetapi terikat pada nilai-nilai
yang berlaku di masyarakat,

d. pembangunan iptek mempertimbangkan akal, rasa dan kehendak

e. pembangunan iptek bukan untuk kesombongan melainkan untuk peningkatan kualitas, harkat,
dan martabat manusia

6. Pancasila sebagai paradigma dalam pembangunan agama meliputi:

a. pengembangan kehidupan beragama adalah dengan terciptanya kehidupan sosial yang saling
menghargai dan menghormati

b. memberikan kebebasan dalam rangka memeluk dan mengamalkan ajaran agama

c. tidak memaksakan keyakinan agama kepada orang lain.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pancasila berisi seperangkat nilai yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan bulat.
Nilai-nilai Pancasila termasuk dalam tingkatan nilai dasar yang mendasari nilai instrumental
dan sekaligus mendasari semua aktivitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Nilai dasar bersifat fundamental dan tetap.

Kelima nilai dasar pancasila bersifat fundamental tetap dan abstrak. Oleh karena itu,
perlu dijabarkan dalam bentuk nilai instrumental yang lebih bersifat konkret dan operasional.
Jabaran dari nilai dasar pancasila dituangkan dalam UUD 1945 beserta peraturan perundang-
undangan yang ada di bawahnya.

Secara filosofis, pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional mengandung


konsekuensi yang sangat mendasar. Artinya, setiap pelaksanaan pembangunan nasional harus
didasarkan pada nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila pancasila dikembalikan atas dasar
ontologism manusia, baik sebagai makhluk individu maupun sosial. Oleh karena itu, baik
buruknya pelaksanaan pancasila harus dikembalikan pada kondisi objektif manusia Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

http://avhat.blogspot.com/2011/11/makalah-ppkn-pancasil-sebagai-paradigma.html

http://fhacink.blogspot.com/2011/10/makalah-panca-sila-sebagai-paradikma.html
MAKALAH PPKN
PANCASILA SEBAGAI SUMBER
DAN PARADIGMA PEMBANGUNAN

Disusun Oleh :
1. Ayu Zeni Septiani
2. Nitha Purnamasari
3. Novi Andesta
4. Winda Aryani